Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I
PENDAHULUAN
Luka

bakar

adalah

suatu

bentuk

kerusakan

atau

kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber


panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Luka
bakar merupakan suatu jenis trauma dengan morbiditas dan
mortalitas tinggi1. Hal ini disebabkan karena pada luka bakar
terdapat keadaan sebagai berikut :
1. terdapat kuman dengan patogenitas tinggi
2. terdapat banyak jaringan mati
3. mengeluarkan banyak air, serum dan darah
4. terbuka untuk waktu yang lama (mudah terinfeksi dan terkena
trauma)
5. memerlukan jaringan untuk menutup.

Luka bakar yang lebih luas dan dalam memerlukan


perawatan lebih intensif dibandingkan luka bakar yang hanya
sedikit dan superfisial.2
Di Indonesia, luka bakar masih merupakan problem yang
berat.

Perawatan

memerlukan

dan

ketekunan,

rehabilitasinya
biaya

mahal,

masih
tenaga

sukar

dan

terlatih

dan

terampil. Oleh karena itu, penanganan luka bakar lebih tepat


dikelola oleh suatu tim trauma yang terdiri dari spesialis bedah
(bedah anak, bedah plastik, bedah thoraks, bedah umum),

intensifis, spesialis penyakit dalam, ahli gizi, rehabilitasi medik,


psikiatri, dan psikologi.1
1.1 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana anatomi Kulit?
2. Apa definisi luka bakar?
3. Bagaimana etiologi, dan patofisiologi luka bakar?
4. Bagaimana penilaian derajat luka bakar?
5. Bagaimana penatalaksanaan luka bakar?
6. Apa saja komplikasi luka bakar?
7. Bagaimana prognosis luka bakar?
1.2 TUJUAN
1. Mengetahui dan memahami anatomi kulit.
2. Mengetahui dan memahami definisi luka bakar.
3. Mengetahui dan memahami etiologi, dan patofisiologi luka bakar.
4. Mengetahui dan memahami penilaian derajat luka bakar.
5. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan luka bakar.
6. Mengetahui dan memahami komplikasi luka bakar.
7. Mengetahui dan memahami prognosis luka bakar.
1.3 MANFAAT
Meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan penulis tentang luka
bakar dalam rangka proses pembelajaran kepaniteraan klinik bagian ilmu
bedah agar dapat menjadi pedoman dalam pembelajaran selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI DAN HISTOLOGI KULIT


Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan
mempunyai peranan dalam homeostasis. Kulit merupakan organ
terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar
16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan
luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi
mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan
jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis,
labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan
kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung,
bahu dan bokong. Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis
yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan
lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam
yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang
merupakan suatu lapisan jaringan ikat.3,4
2.1.1 EPIDERMIS
Epidermis
avaskuler.

Terdiri

adalah
dari

lapisan
epitel

luar

kulit

berlapis

yang

gepeng

tipis

dan

bertanduk,

mengandung sel melanosit, Langerhans dan Merkel. Tebal


epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling

tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya


sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap
4-6 minggu. Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel,
sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel,
pigmentasi

(melanosit)

dan

pengenalan

alergen

(sel

Langerhans). Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan


yang paling atas sampai yang terdalam) :
1.

Stratum Korneum : Terdiri dari sel keratinosit yang bisa


mengelupas dan berganti.

2.

Stratum
terdapat

Lusidum :

pada

kulit

Berupa
tebal

garis
telapak

translusen, biasanya
kaki

dan

telapak

tangan. Tidak tampak pada kulit tipis.


3.

Stratum Granulosum : Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal


gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh
granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin
yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel
Langerhans.

4.

Stratum Spinosum : Terdapat berkas-berkas filament yang


dinamakan

tonofibril,

dianggap

filamen-filamen

tersebut

memegang peranan penting untuk mempertahankan kohesi


sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada
tempat

yang

terus

mengalami

gesekan

dan

tekanan

mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril.

Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan


Malfigi. Terdapat sel Langerhans.
5.

Stratum Basale (Stratum Germinativum) : Terdapat aktifitas


mitosis

yang

pembaharuan

hebat
sel

dan

bertanggung

epidermis

secara

jawab

konstan.

dalam

Epidermis

diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal


ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu lapis
sel yang mengandung melanosit.

3,4

2.1.2 DERMIS
Terdiri atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan
menghubungkannya

dengan

jaringan

subkutis.

Tebalnya

bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki sekitar 3 mm.


Dermis terdiri dari dua lapisan :

Lapisan papiler; tipis : mengandung jaringan ikat


jarang.

Lapisan retikuler; tebal : terdiri dari jaringan ikat padat.

Serabut-serabut kolagen menebal dan sintesa kolagen


berkurang dengan bertambahnya usia. Serabut elastin jumlahnya
terus meningkat dan menebal, kandungan elastin kulit manusia
meningkat kira-kira 5 kali dari fetus sampai dewasa. Pada usia
lanjut kolagen saling bersilangan dalam jumlah besar dan
serabut elastin berkurang. Hal ini menyebabkan kulit terjadi
kehilangan

kelemasannya

dan

tampak

mempunyai

banyak

keriput. Dermis mempunyai banyak jaringan pembuluh darah.

Dermis juga mengandung beberapa derivat epidermis yaitu


folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Kualitas
kulit tergantung banyak tidaknya derivat epidermis di dalam
dermis. Fungsi Dermis:struktur penunjang, mechanical strength,
suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi .

3,4

2.1.3 SUBKUTIS
Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang
terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang
menghubungkan

kulit

secara

longgar

dengan

jaringan

di

bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah


di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang
suplai darah ke dermis untuk regenerasi.

Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar,


isolasi panas, cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan
mechanical shock absorber .3,4

Gambar 2.1 Struktur Anatomi Kulit


2.2 DEFINISI
Luka bakar adalah luka yang terjadi akibat sentuhan
permukaan tubuh dengan benda-benda yang menghasilkan
panas (api secara langsung maupun tidak langsung, pajanan
suhu tinggi dari matahari, listrik, maupun bahan kimia, air, dll)
atau zat-zat yang bersifat membakar (asam kuat, basa kuat).1,5
2.3 ETIOLOGI
Beberapa penyebab luka bakar adalah sebagai berikut:1,2
Luka bakar karena kobaran api.
Luka bakar karena cairan panas.
Luka bakar karena bahan kimia (yang bersifat asam atau
basa kuat).
Luka bakar karena listrik dan petir.
Luka bakar karena kontak lainnya.
2.4 PATOGENESIS

Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan


kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan
permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada di dalamnya ikut
rusak

sehingga

dapat

terjadi

anemia.

Meningkatnya

permeabilitas menyebabkan oedem dan menimbulkan bula yang


banyak elektrolit. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume
cairan

intravaskuler.

menyebabkan

Kerusakan

kehilangan

cairan

kulit

akibat

akibat

luka

penguapan

bakar
yang

berlebihan, masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka


bakar derajat dua dan pengeluaran cairan dari keropeng luka
bakar derajat tiga.1
Bila

luas

luka

bakar

kurang

dari

20%,

biasanya

mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya, tetapi


bila lebih dari 20% akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala
yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil,
dan

cepat,

berkurrang.

tekanan

darah

Pembengkakkan

menurun,
terjadi

dan

produksi

pelan-pelan,

urin

maksimal

terjadi setelah delapan jam.1,2,5,6


Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka
terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas
karena gas, asap, atau uap panas yang terhisap. Oedem laring
yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas
dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara serak dan
dahak bewarna gelap akibat jelaga.

Dapat juga keracunan gas CO dan gas beracun lainnya.


Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat
sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda
keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual dan
muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bisa lebih dari
60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat meninggal. Setelah
12 24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan mobilisasi
serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. Ini
di tandai dengan meningkatnya diuresis.2,6

10

2.5 PENILAIAN DERAJAT LUKA BAKAR1,2,3


A. Luka bakar derajat 1

mengenai epidermis

paling sering diakibatkan oleh paparn sinar ultraviolet yang


lama atau paparan panas singkat

tidak dipertimbangkan dalam perhitungan LPPT, karena


tidak bermakna secara fisiologis

kulit tampak berwarna merah muda atau sedikit merah,


kering, dan tanpa lepuh

akan sembuh dalam 2-3 hari.

Pengobatan simtomatik : kompres dingin guna meringkan


nyeri

B. Luka bakar derajat 2


Luka bakar yang melibatkan epidermis dan dermis dikenal
sebagai luka bakar ketebalan parsial, atau derajat dua, yang
selanjutnya dibagi lagi menjadi 3 subtipe :
1. Parsial
Berwarna merah dan basah, pembentukan bula yang
khas,

dan

kepekaan

nyeri

yang

hebat

terhadap

11

rangsang. Luka ini timbul setelah kontak dalam waktu


singkat dengan cairan panas, sengatan listrik atau
jilatan api. Luka ini akan sembuh spontan dalam waktu
2 minggu setelah cedera.
2. Dalam
Adalah luka yang sembuh dalam waktu lebih dari 3
minggu

penyembuhan

yang

lama

ini

seringkali

menyebabkan pembutkan jaringan parut. Luka ini dapat


tibul akibat terendam dalam cairan yang panas, dan
jilatan api. Luka ini khas berwarna merah cerah atau
kuning keputihan, permukaannya sedikit basah dan
menunjukkan berkurangnya sensasi tusukan jarum. Jika
penyembuhan

optimal

tidak

tercapai

dengan

penatalaksanaan luka konvensional, maka hasil yang


lebih baik dapat dilakukan cangkok kulit ketebalan
parsial.

C. Luka bakar derajat 3


Luka bakar derajat 3 atau luka bakar ketebalan penuh
biasanyanya dapat mudah dikenali. Luka ini diakibatkan oleh
sengatan listrik tegangan tinggi, paparan terhadap zat kimia
yang pekat, kontak yang lama dengan benda yang panas atau
jilatan api. Dapat terlihat berwarna putih seperti mutiara, atau
seperti kertas perkamen, dan melalui jaringan yang mati dapat

12

terlihat vena yang mengalami trombosis dan dikenali sebagai


skar. Tanda khas luka ini yaitu keirng dan mati rasa, dan luka ini
bersifat kaku, dan apabila terjadi melingkar pada dada atau
ekstremitas mungkin memerlukan nekrotomi.
Perbedaan pada anak-anak, luka bakar derajat 3 pada
anak-anak secara khas berwarna merah pekat dan sangat jarang
berwarna putih atau seperti perkamen. Karena warnanya inilah
maka pada awalnya luka ini sering kali digolongkan sebagai luka
bakar derajat dua baru setelah 4-5 hari luka-luka ini akan tampak
jelas, berupa luka bakar ketebalan penuh yang klasik.

13

Gambar 2.2 Derajat Luka Bakar


2.6 PENILAIAN PASIEN LUKA BAKAR
2.6.1 Anamnesis
Yang

diperlukan

untuk

penatalaksanaan

awal

adalah

tanggal, jam, dan lokasi geografis dari cedera. Dan pengobatan


resusitasi apa yang telah dilakukan pada tempat kejadian jika
pasien ditemukan dalam keadaan henti jatung. Penyakit kronis
yang sudah ada sebelumnya, misalnya seperti diabetes melitus,
penyakit

paru

kronis,

penyakit

serebrovaskular

memperburuk prognosis dan perlu dicatat.

dan

AIDS,

2.6.2 Penentuan Derajat Luka


Luasnya daerah permukaan tubuh total yang terbakar
menentukan kebutuhan cairan, dosis obat dan prognosis. Ukuran
luka bakar dapat ditentukan dengan mempergunakan wallace
rule

of

nine.

Luasnya

cedera

lebih

penting

dibandingkan

dalamnya luka dalam penentuan perawatan pada hari-hari


pertama dirawat. Kedalama luka menjadi hal berikutnya yang
diperhatikan,
prosedur
panjang.

yaitu

saat

pembedahan

eveluasi
dan

pasien

perawatan

untuk

melakukan

rehabilitasi

jangka

14

Gambar 2.3 Wallace rule of nine


2.6.3 Kriteria Berat Ringan luka bakar
Kriteria berat ringannya luka bakar menurut American Burn
Association yakni :2,3,5
a. Luka Bakar Ringan.
- Luka bakar derajat II <15 %
- Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak
- Luka bakar derajat III < 2 %
b. Luka bakar sedang
- Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa
- Luka bakar derajat II 10 20% pada anak anak
- Luka bakar derajat III < 10 %
c. Luka bakar berat

15

- Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang


dewasa
- Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak
anak.
- Luka bakar derajat III 10 % atau lebih
-Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata,
kaki dan genitalia/perineum.
- Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai
trauma lain.
2.7 PEMERIKSAAN FISIK DAN PENUNJANG
2.7.1 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pada pasien luka bakar harus dinilai
berdasarkan advanced trauma life support dari american college
of surgeons. Penyebab ketidakstabilan yang paling dini yang
timbul pada pasien luka bakar adalh cedera inhalasi yang berat,
yang menimbulkan kerusakan jalan nafas atas dan obstruksi,
atau keracunan monoksida yang mendekati letal. Pengamatan
pertama sesuai dengan a-b-c-d-e. pada pengamatan kedua dapat
dideteksi adanya cedera-cedera lain yang mnyertai. Perubahan
status neurologik dapat menunjukkan adanya cedera kepala
tertutup.

2.7.2 Pemeriksaan Laboratorium

16

Hitung darah lengkap, elektrolit dan profil biokimia


standar perlu diperoleh segera setelah pasien tiba di fasilitas
perawatan. Konsentrasi gas darah dan karboksihemoglobin perlu
segera diukur oleh karena pemberian oksigen dapat menutupi
keparahan keracunan karbon monoksida yang dialami penderita.
Jika ada trauma lain yang menyertai mungkin perlu dilakukan
foto rontgen.1

Lab darah

Hitung jenis

Kimia darah

Analisa gas darah dengan carboxyhemoglobin

Analisis urin

Creatinin Phosphokinase dan myoglobin urin (Luka


bakar akibat listrik)

Pemeriksaan factor pembekuan darah (BT, CT)

Radiologi

Foto

thoraks

untuk

mengetahui

apakah

ada

kerusakan akibat luka bakar inhalasi atau adanya


trauma dan indikasi pemasangan intubasi

CT scan : mengetahui adanya trauma

Tes lain : dengan fiberoptic bronchoscopy untuk pasien


dengan luka bakar inhalasi.

17

2.8 EFEK LUKA BAKAR2


2.8.1 Efek lokal

Kerusakan jaringan
Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan
sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat
terjadi anemia. Luka bakar menyebabkan rupturnya sel atau
nekrosis sel. Sel yang di perifer masih dapat hidup tapi
sebagian ada yang rusak. Akibat rusaknya mikrosirkulasi
perifer lapisan kolagen akan berubah bentuk dan rusak.
Pembuluh

kapiler

pembuluh

ini

antibiotik.,

yang

membawa
permeabilitas

mengakibatkan

kebocoran

mengalami
sistem

pertahanan

kapiler
cairan

trombosis,

padahal

tubuh

akan

atau

meningkat

intravaskuler

sehingga

terjadi oedem. Luka bakar derajat tiga yang dibiarkan sembuh


sendiri

akan

mengalami

kontraktur. Bila

ini

terjadi

di

persendian, fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.

Inflamasi
Reakasi infalamasi yang paling awal terlihat adalah
erythema, yang disebabkan karena respon neurovaskular
mengakbibatkan vasodilatasi pembuluh darah. Makin berat
kerusakan jaringan, respon inflamasi yang muncul akan makin
lama

bertahan.

Makrofag

akan

menghasilkan

mediator

18

inflamasi seperti cytokine dan sel fagosit nekrotik. Netrofil dan


limfosit akan menghalangi terjadinya infeksi.

Infeksi
Luka

bakar

merupakan

media

yang

baik

untuk

pertumbuhan mikroorganisme, biasanya akan menyebabkan


infeksi dalam 24-48 jam. Dalam kondisi yang lebih berat akan
muncul bakteriemi atau septikemi yang kemudian akan tejadi
penyebaran

infeksi

ke

tempat

yang

lain.

Bakteriemi

merupakan penyebab kematian tersering pada luka bakar


mulai dari 24 jam pertama sampai pada luka bakar yang sudah
sembuh.

Streptococcus

memproduksi

enzym

-hemolitikus
protease

yang

dan

pseudomonas

dapat

mencegah

penempelan dari skin graft. Infeksi ringan dan noninvasif


ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan nanah
yang banyak. Infeksi yang invasive ditandai dengan keropeng
yang mula-mula kering dengan perubahan jaringan di tepi
keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik, akibatnya
luka bakar yang mula-mula derajat dua menjadi derajat tiga.
Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada pembuluh kapiler
di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis.
2.8.2 Efek regional

Sirkulasi
Jika terdapat oedem yang luas, maka akan terjadi
pembengkakkan, aliran

darah

dari

extremitas

dapat

19

mengalami obstruksi. Sirkulasi untuk otot tangan intrinsic


dapat terganggu akibat oedem, dapat terjadi nekrosis yang
lama

kelamaan

interstitial

dalam

menjadi

kontraktur.

Akumulasi

tangan

menyebabkan

jaringan

cairan
kolagen

menggembung maksimal sehinggga terbentuk posisi claw


( metacarpalphalangeal extensi, dan proximal interphalangeal
flexi ). Dapat juga terjadi muscle compartement syndrome
yang mengenai otot flexor dan extensor extremitas bagian
atas maupun bawah.

2.8.3 Efek sistemik

Kehilangan cairan
Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan
menimbulkan

bula

yang

menyebabkan

berkurangnya

banyak

elektrolit.

volume

cairan

Hal

itu

intravaskuler.

Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan


cairan akibat penguapan yang berlebihan, masuknya cairan ke
bula yang terbentuk pada luka bakar derajat dua dan
pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat tiga.
Bila

luas

luka

bakar

kurang

dari

20%,

biasanya

mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya,


tetapi bila lebih dari 20% akan terjadi syok hipovolemik
dengan gejala yang khas, seperti gelisah, pucat, dingin,

20

berkeringat, nadi kecil, dan cepat, tekanan darah menurun,


dan produksi urin berkurrang. Pembengkakan terjadi pelanpelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.

Multiple organ failure dan Sepsis


Kegagalan progresif dari ginjal dan hepar di akibatkan
karena

kehilangan

cairan,

toxemia

karena

infeksi,

sepsis. Ganguan sirkulasi ke ginjal menyebabkan iskemia ginjal


( tubulus) berlanjut dengan Akut Tubular Necrosis yang
akhirnya terjadi gagal ginjal (ARF). Gangguan sirkulasi perifer
meneybabkan iskemia otot-otot dengan dampak pemecahan
glikoprotein yang meningkatkan produksi Nitric Oxide (NO). NO
ini diketau berperan sebagai modulator sepsis. Ganguan
sirkulasi ke kulit dan system integum menyebabkan gangauan
system

imun

karena

penurunan

penurunan fungsi barier kulit.

produksi

limfosit

dan

Luka bakar inhalasi


Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka
terjadi di wajah, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas
karena gas, asap, atau uap panas ayang terrisap. Udem laring
yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan
napas dengan gejala sesak napas, takipnea, stridor, suara
serak dan dahak bewarna gelap akibat jelaga.
Dapat juga keracunan gas CO dan gas beracun
lainnya. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan

21

kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mngeikat oksigen.


Tanda keracuna ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual
dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila
lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita dapat
meninggal.

Komplikasi sistemik
Stress atau beban faali yang terjadi pada penderita luka
bakar berat dapat menimbulkan tukak di mukosa lambung
atau duodenum dengan gejala yang sama dengan tukak
peptic. Kelainan ini disebut tukak Curling. Yang khawatirkan
pada tukak curling ini adalah penyulit perdarahan yang tampil
sebagai hematemesis dan atau melena.
Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme
sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. Protein dalam
tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan
infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga
memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang diperlukan pada
fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot
skelet. Oleh karena itu penderita menjadi sangat kurus, otot
mengecil dan berat badan menurun.

2.9 PERTOLONGAN PERTAMA PADA PASIEN DENGAN LUKA


BAKAR1,2,7

Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh,


misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang

22

terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api yang

menyala
Singkirkan

baju,

perhiasan

dan

benda-benda

lain

yang

membuat efek Torniket, karena jaringan yang terkena luka

bakar akan segera menjadi oedem


Setelah sumber panas dihilangkan rendam daerah luka bakar
dalam air atau menyiramnya dengan air mengalir selama
sekurang-kurangnya lima belas menit. Proses koagulasi protein
sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus
setelah api dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas.
Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang
terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam
pertama sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil.
Akan tetapi cara ini tidak dapat dipakai untuk luka bakar yang
lebih luas karena bahaya terjadinya hipotermi. Es tidak

seharusnya diberikan langsung pada luka bakar apapun.


Evaluasi awal

Penangan pertama pasien luka bakar ialah menghentikan


kontak dengan sumber panas misalnya dengan menyelimuti atau
menutup bagian yang terbakar atau menjatuhkan diri dan
berguling agar bagian pakaian yang terkena tidak meluas.
Penanganan selanjutnya ialah sama dengan penanganan pasien
trauma pada umumnya yaitu primary survey dilanjutkan dengan
secondary survey[2,3,8].
1) Primary survey

23

Prioritas

pertama

ialah

mempertahankan

agar

airway,

breathing dan circulation dalam kondisi stabil[2,3,8].


Airway.
Adanya riwayat terkurung api atau terdapat tanda-tanda
trauma jalan nafas, memerlukan pemeriksaan jalan nafas
dan tindakan pemasangan jalan nafas definitive. Trauma
bakar faring menyebabkan edema hebat jalan nafas bagian
atas,

karenanya

memerlukan

pembebasan

jalan

nafas

segera. Pada pasien dengan oedem laring dapat dilakukan


pemasangan pipa endotrakea ataupun trakeostomi. Bila
didapatkan gejala terbakarnya jalan nafas maka diberikan
udara lembab dan oksigen[2,3,8,9].
Breathing.
Penanganan awalnya didasarkan atas tanda dan gejala yang
timbul akibat trauma, sebagai berikut[2,3,8,9]:
Trauma bakar langsung, menyebabkan edema dan / atau

obstruksi jalan nafas bagian atas.


Inhalasi hasil pembakaran (partikel karbon) dan asap
beracun menyebabkan tracheobronkhitis kimiawi, edema,

dan pneumonia.
Keracunan karbon monoksida.
Luka bakar derajat III yang mengenai dinding dada
anterior dan lateral dapat menyebabkan terbatasnya
pergerakan

dinding

dada,

meskipun

tidak

meliputi

keseluruhan dinding dada, perlu dilakukan eskarotomi.


Circulation.
Selain itu, dilakukan resusitasi cairan untuk mengatasi syok
yang umumnya terjadi pada pasien luka bakar. Tekanan
darah sering kali sulit diukur dan hasilnya kurang dapat

24

dipercaya. Pengukuran produksi urine tiap jam merupakan


alat monitor yang baik untuk menilai volume sirkulasi darah,
sehingga perlu dilakukan pemasangan kateter urin untuk
mengukur produksi urine. Pemberian cairan cukup untuk
dapat mempertahankan produksi urine 1,0 mL/KgBB/jam
pada anak-anak dengan berat badan 30 Kg, dan 0,5-1,0
mL/KgBB/jam pada orang dewasa[2,3,8,9].
2) Secondary survey[2,3,8]
Lakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan

karena

mekanisme luka bakar memungkinkan pasien mengalami


trauma lainnya seperti cedera abdomen, cedera tulang
belakang, dan sebagainya.
Anamnesis dengan lengkap riwayat trauma
Menentukan derajat dan luas luka bakar.
Penanganan lainnya dapat dilakukan seperti pemasangan
kateter urin, selang NGT, pencucian luka, pemberian obatobatan seperti analgetik, antibiotik, anti tetanus. Selain itu
dapat dilakukan eskarektomi dan fasiotomi dilakukan sesuai
indikasi.
2.10 RESUSITASI CAIRAN2,3,8
2.10.1 BAXTER formula
Hari Pertama :
Dewasa : Ringer Laktat 4 cc x berat badan x % luas luka bakar per 24 jam
Anak : Ringer Laktat: Dextran = 17 : 3
2 cc x berat badan x % luas luka ditambah kebutuhan faali.
Kebutuhan faali :
< 1 Tahun : berat badan x 100 cc

25

1 3 Tahun : berat badan x 75 cc


3 5 Tahun : berat badan x 50 cc
jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama.
diberikan 16 jam berikutnya.
Hari kedua
Dewasa : hari I
Anak : diberi sesuai kebutuhan faali
2.10.2 Rumus EVANS
Menurut Evans - Cairan yang dibutuhkan :
1. RL / NaCl = luas combustio % X BB/ Kg X 1 cc
2. Plasma = luas combustio % X BB / Kg X 1 cc
3. Pengganti yang hilang karena penguapan D5 2000 cc
Hari I

8 jam X
16 jam X

Hari II hari I
Hari ke III hari ke I
2.11 PENGGANTIAN DARAH
Luka bakar pada kulit menyebabkan terjadinya kehilangan
sejumlah sel darah merah sesuai dengan ukuran dan kedalaman
luka bakar. Sebagai tambahan terhadap suatu kehancuran yang
segera pada sel darah merah yang bersirkulasi melalui kapiler
yang

terluka,

terdapat

kehancuran

sebagian

sel

yang

mengurangi waktu paruh dari sel darah merah yang tersisa.


Karena plasma predominan hilang pada 48 jam pertama setelah

26

terjadinya luka bakar, tetapi relative polisitemia terjadi pertama


kali. Oleh sebab itu, pemberian sel darah merah dalam 48 jam
pertama tidak dianjurkan, kecuali terdapat kehilangan darah
yang banyak dari tempat luka. Setelah proses eksisi luka bakar
dimulai, pemberian darah biasanya diperlukan

2.12 PERAWATAN LUKA BAKAR


Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan
resusitasi

cairan

dilakukan

perawatan

luka.

Perawatan

tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka. Tujuan dari


semua perawatan luka bakar agar luka segera sembuh rasa sakit
yang minimal.
Setelah luka dibersihkan dan di debridement, luka ditutup.
Penutupan luka ini memiliki beberapa fungsi: pertama dengan
penutupan luka akan melindungi luka dari kerusakan epitel dan
meminimalkan timbulnya koloni bakteri atau jamur. Kedua, luka
harus benar-benar tertutup untuk mencegah evaporasi pasien
tidak hipotermi. Ketiga, penutupan luka diusahakan semaksimal
mungkin

agar pasien

merasa

nyaman dan meminimalkan

timbulnya rasa sakit


Pilihan penutupan luka sesuai dengan derajat luka bakar.

Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan


sedikit hilangnya barier pertahanan kulit. Luka seperti ini
tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian salep
antibiotik

untuk

mengurangi

rasa

sakit

dan

27

melembabkan

kulit. Bila

perlu

dapat

diberi

NSAID

(Ibuprofen, Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakit


dan pembengkakan

Luka bakar derajat II (superfisial ), perlu perawatan luka


setiap harinya, pertama-tama luka diolesi dengan salep
antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan
dibalut lagi dengan perban elastik. Pilihan lain luka dapat
ditutup dengan penutup luka sementara yang terbuat
dari bahan alami (Xenograft (pig skin) atau Allograft
(homograft, cadaver skin) ) atau bahan sintetis (opsite,
biobrane, transcyte, integra)

Luka derajat II ( dalam ) dan luka derajat III, perlu


dilakukan eksisi awal dan cangkok kulit (early exicision
and grafting )

2.13 NUTRISI1,8
Penderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas
yang berbeda dari orang normal karena umumnya penderita luka
bakar

mengalami

keadaan

hipermetabolik.

Kondisi

yang

berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik


yang ada adalah:

Umur, jenis kelamin, status gizi penderita, luas permukaan


tubuh, massa bebas lemak.

Riwayat penyakit sebelumnya seperti DM, penyakit hepar


berat, penyakit ginjal dan lain-lain.

28

Luas dan derajat luka bakar

Suhu

dan

kelembaban

ruangan

memepngaruhi

kehilangan panas melalui evaporasi)

Aktivitas fisik dan fisioterapi

Penggantian balutan

Rasa sakit dan kecemasan

Penggunaan obat-obat tertentu dan pembedahan.


Dalam menentukan kebutuhan kalori basal pasien yang

paling ideal adalah dengan mengukur kebutuhan kalori secara


langsung menggunakan indirek kalorimetri karena alat ini telah
memperhitungkan beberapa faktor seperti BB, jenis kelamin, luas
luka bakar, luas permukan tubuh dan adanya infeksi. Untuk
menghitung kebutuhan kalori total harus ditambahkan faktor
stress sebesar 20-30%. Tapi alat ini jarang tersedia di rumah
sakit.
Perhitungan kebutuhan kalori pada penderita luka bakar
perlu perhatian khusus karena kurangnya asupan kalori akan
berakibat penyembuhan luka yang lama dan juga meningkatkan
resiko morbiditas dan mortalitas. Disisi lain, kelebihan asupan
kalori dapat menyebabkan hiperglikemi, perlemakan hati.
Penatalaksanaan nutrisi pada luka bakar dapat dilakukan
dengan beberapa metode yaitu : oral, enteral dan parenteral.

29

Untuk menentukan waktu dimualinya pemberian nutrisi


dini pada penderita luka bakar, masih sangat bervariasi, dimulai
sejak 4 jam pascatrauma sampai dengan 48 jam pascatrauma.
2.13 EARLY EXICISION AND GRAFTING (E&G)8
Dengan metode ini eschar di angkat secara operatif dan
kemudian luka ditutup dengan cangkok kulit (autograft atau
allograft ), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelupas
dengan sendirinya. E&G dilakukan 3-7 hari setelah terjadi luka,
pada umumnya tiap harinya dilakukan eksisi 20% dari luka bakar
kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya. Tapi ada juga ahli
bedah yang sekaligus melakukan eksisi pada seluruh luka bakar,
tapi cara ini memiliki resiko yang lebih besar yaitu : dapat terjadi
hipotermi, atau terjadi perdarahan masive akibat eksisi.
Metode ini mempunyai beberapa keuntungan dengan penutupan
luka dini, mencegah terjadinya infeksi pada luka bila dibiarkan
terlalu lama, mempersingkat durasi sakit dan lama perawatan di
rumah sakit, memperingan biaya perawatan di rumah sakit,
mencegah komplikasi seperti sepsis dan mengurangi angka
mortalitas. Beberapa penelitian membandingkan teknik E&G
dengan teknik konvensional, hasilnya tidak ada perbedaan dalam
hal kosmetik atau fungsi organ, bahkan lebih baik hasilnya bila
dilakukan pada luka bakar yang terdapat pada muka, tangan dan
kaki.

30

Pada luka bakar yang luas (>80% TBSA), akan timbul kesulitan
mendapatkan donor kulit. Untuk itu telah dikembangkan metode
baru yaitu dengan kultur keratinocyte. Keratinocyte didapat
dengan cara biopsi kulit dari kulit pasien sendiri. Tapi kerugian
dari metode ini adalah membuthkan waktu yang cukup lama (2-3
minggu) sampai kulit (autograft) yang baru tumbuh dan sering
timbul luka parut. Metode ini juga sangat mahal
2.14 ANTIMIKROBA1
Dengan

terjadinya

luka

mengakibatkan

hilangnya

barier

pertahanan kulit sehingga memudahkan timbulnya koloni bakteri


atau jamur pada luka. Bila jumlah kuman sudah mencapai
105 organisme jaringan, kuman tersebut dapat menembus ke
dalam jaringan yang lebih dalam kemudian menginvasi ke
pembuluh darah dan mengakibatkan infeksi sistemik yang dapat
menyebabkan kematian. Pemberian antimikroba ini dapat secara
topikal atau sistemik. Pemberian secara topikal dapat dalam
bentuk salep atau cairan untuk merendam. Contoh antibiotik
yang sering dipakai :
Salep : Silver sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate,
Povidone-iodine, Bacitracin (biasanya untuk luka bakar grade I),
Neomycin, Polymiyxin B, Nysatatin, mupirocin , Mebo.

2.15 KONTROL RASA SAKIT1

31

Rasa sakit merupakan masalah yang signifikan untuk


pasien yang

mengalami

luka

bakar

untuk

melalui

masa

pengobatan. Pada luka bakar yang mengenai jaringan epidermis


akan menghasilkan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman.
Dengan tidak terdapatnya jaringan epidermis (jaringan pelindung
kulit), ujung saraf bebas akan lebih mudah tersensitasi oleh
rangsangan. Pada luka bakar derajat II yang dirasakan paling
nyeri, sedangkan luka bakar derajat III atau IV yang lebih dalam,
sudah tidak dirasakan nyeri atau hanya sedikit sekali. Saat timbul
rasa nyeri terjadi peningkatan katekolamin yang mengakibatkan
peningkatan

denyut

nadi,

tekanan

darah

dan

respirasi,

penurunan saturasi oksigen, tangan menjadi berkeringat, flush


pada wajah dan dilatasi pupil.
Pasien akan mengalami nyeri terutama saat ganti balut,
prosedur operasi, atau saat terapi rehabilitasi. Dalam kontrol rasa
sakit digunakan terapi farmakologi dan non farmakologi. Terapi
farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan
NSAID. Preparat anestesi seperti ketamin, N2O (nitrous oxide)
digunakan pada prosedur yang dirasakan sangat sakit seperti
saat ganti balut. Dapat juga digunakan obat psikotropik sepeti
anxiolitik,

tranquilizer

benzodiazepin

dan

dbersama

anti

depresan.

opioid

dapat

ketergantungan dan mengurangi efek dari opioid.


2.16 ESCHAROTOMY1,8

Penggunaan
menyebabkan

32

Luka bakar grade III yang melingkar pada ekstremitas


dapat menyebabkan iskemik distal yang progresif, terutama
apabila terjadi edema saat resusitasi cairan, dan saat adanya
pengerutan keropeng. Iskemi dapat menyebabkan gangguan
vaskuler pada jari-jari tangan dan kaki. Tanda dini iskemi adalah
nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai baal pada ujungujung distal. Juga luka bakar menyeluruh pada bagian thorax
atau abdomen dapat menyebabkan gangguan respirasi, dan hal
ini dapat dihilangkan dengan escharotomy. Dilakukan insisi
memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas
2.17 PERMASALAHAN PASCA LUKA BAKAR2,8
Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah
jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat.
Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan menyebabkan
kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik yang buruk
sekali

sehingga

diperlukan

juga

ahli

ilmu

jiwa

untuk

mengembalikan kepercayaan diri.


Permasalahan-permasalahan

yang

ditakuti

pada

luka

bakar:

Infeksi dan sepsis

Oliguria dan anuria

Oedem paru

ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome )

Anemia

Kontraktur

Kematian
2.18 PROGNOSIS

33

Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka


bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya
komplikasi

seperti

infeksi,

dan

kecepatan

pengobatan

medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa


adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam
10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar
mayor membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan
membentuk jaringan parut. Jaringan parut akan membatasi
gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan
diperlukan untuk membuang jaringan parut.

34

BAB III
KESIMPULAN

Luka

bakar

adalah

suatu

bentuk

kerusakan

atau

kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber


panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi.
Luka bakar dapat disebabkan oleh api, luka bakar kontak
(terkena rokok, solder atau alat-alat memasak), air panas, uap
panas, gas panas, listrik, semburan panas dan ter.
Pemeriksaan penunjang mencakup pemeriksaan darah,
radiologi, tes dengan fiberoptic bronchoscopy terutama untuk
luka bakar inhalasi.
Penanganan luka bakar dapat secara konservatif seperti
resusitasi cairan, penggantian darah, perawatan luka bakar,
pemberian antimikroba serta analgetik, perbaikan nutrisi sampai
tindakan pembedahan seperti Early Exicision and Grafting (E&G),
Escharotomy.

35

Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka


bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya
komplikasi

seperti

infeksi

dan

kecepatan

pengobatan

medikamentosa.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dewi, Yulia Ratna Sintia. 2012. Luka Bakar: Konsep
Umum Dan Investigasi Berbasis Klinis Luka Antemortem
Dan

Postmortem.

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Udayana. Denpasar.
2. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S. 2007. Ilmu Penyakit
Kulit Dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
3. Junqueira LC, Carneiro J. 2007. Histologi Dasar: Teks
Dan Atlas. Edisi 10. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.
4. Sjamsuhidajat R, de Jong W. 2009. Buku Ajar Ilmu
Bedah, Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
5. Brusselaers et.al, 2010. Severe Burn Injury in Europe: a
systematic review of the incidency, etiology, morbidity
and morality. Department of General Internal Medicine,

36

Infectious Diseases and

Psychosomatic Medicine,

Ghent University Hospital, De Pintelaan 185, Ghent


9000, Belgium.
6. Othman et.al, 2010. Epidemiology of burn injuries in the
east mediterranian region : a systematic review. School
of

Community

Health

Sciences,

University

of

Nottingham, Nottingham, UK.


7. Azhari, nefrianita. 2012. Hubungan Body Image Dengan
Mekanisme Koping Yang Digunakan Penderita Luka
Bakar Yang Dirawat Di Ruang Khusus Luka Bakar
Bangsal

Bedah

RSUP

M.Djamil

Padang.

Fakultas

Kedokteran Universitas Padang.


8. Gupta A.K. et.al. 2011. A Clinico EidemiologicStudy of
892 Patients with Burn Injuries at a Tertiary Care
Hospital in unjab India. Journalof Emergencies, Trauma
and Shock. Vol.4 pp 7-11