Anda di halaman 1dari 15

Prosedur rujukan, konsultasi,

profesionalisme dan interaksi


interpersonal dalam rujukan
dan konsultasi, termasuk
masalah konflik
Dr. Indra Z, Sp.THT-KL
Program Studi Pendidikan Dokter
Universitas Malikussaleh

UU RI No. 44 tentang RS:


Pasal 29:
Setiap RS wajib melaksanakan sistem
rujukan
Pasal 42:
1. Pelimpahan tugas dan tanggung jawab
baik scr vertikal /horizontal masalah
penyakit
2. Wajib merujuk pasien diluar
kemampuan RS

Rujukan/referal:
Pengiriman pasien dengan alasan
@ kompetensi
@ fasilitas
@ permintaan pasien
Rujukan:
# Horizontal
# Vertikal

Seorang dokter wajib menawarkan


kepada pasiennya untuk dirujuk atau
dikonsultasikan kepada dokter lain diluar
kompetensinya kecuali:
1. Kondisi pasien tidak memungkinkan utk
dirujuk
2. Keberadaan dokter atau sarana
kesehatan yg lbh tepat sulit dijangkau
atau didatangkan
3. Atas kehendak pasien
(UU No. 29/2004 Pasal 51 huruf b)

Pada pasien rawat jalan:


Dokter yg menerima rujukan setelah
memberi advis, tindakan/terapi,
mengembalikan kepada dokter
yang merujuk atau dapat
melakukan tindakan/perawatan
lanjutan atas persetujuan dokter
yang merujuk.

Pada pasien rawat inap:


Advis
Rawat bersama
Alih rawat

Pasien berhak memilih dokter


rujukan
Dalam rawat bersama harus
ditetapkan dokter penanggung jawab
utama.

Kerja sama dalam Tim:


a. Menunjuk ketua tim sbg penanggung jawab
b. Tdk boleh mengubah akuntibilitas pribadi
c. Menghargai kompetensi dan kontribusi anggota
tim
d. Memelihara hub profesional dgn pasien
e. Berkomunikasi scr efektif dg didlm/diluar tim
f. Memastikan px & anggota tim siapa yg
bertanggung jwb utk setiap aspek pelayanan
g. Berpartisipasi dlm review, audit dan kinerja tim
h. Menghadapi masalah kinerja dlm pelaksanaan
kerja tim dilakukan secara terbuka dan sportif

Hubungan Interpersonal:
Dokter harus memperlakukan teman
sejawat tanpa membedakan jenis kelamin,
ras, kecacatan, agama/kepercayaan, usia,
status sosial atau perbedaan kompetensi
yang dapat merugikan hubungan
profesional antar sejawat.
Seorang dokter tidak dibenarkan
mengkritik teman sejawat melalui
pasien yang mengakibatkan turunnya
kredibilitas sejawat tersebut. Selain itu
tidak dibenarkan seorang dokter
memberi komentar tentang suatu kasus,
bila tidak pernah memeriksa atau
merawat secara langsung.

Dokter yang merawat teman sejawat


selayaknya mengindahkan etika
kedokteran
Bila terdapat kekhawatiran yang serius
akan hasil kerja atau perilaku
seseorang sejawat, maka tindakan
pencegahan harus dilakukan segera
untuk menyelidiki kekhawatiran
tersebut. Pastikan apakah
kekhawatiran tersebut beralasan atau
tidak. Setiap dokter harus
senantiasa
mendahulukan
keselamatan pasien.

Pendegelasian wewenang kepada


perawat, mahasiswa kedokteran,
peserta program kedokteran, PPDS
atau dokter pengganti dlm hal
pengobatan atau perawatan atas
nama dokter yg merawat, harus
disesuaikan dengan kompetensi
dalam melaksanakan prosedur dan
pemberian terapi sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Dokter yang
mendelegasikan tetap menjadi
penananggung jawab atas
penanganan pasien secara
keseluruhan.

Masalah konflik kepentingan


Seorang dokter tidak boleh menerima
rujukan atau hadiah yang mungkin
berpengaruh atau mempengaruhi
penilaiannya.
Seorang dokter tidak boleh memberi
bujukan dalam bentuk apapun kepada
rekan kerja.
Seorang dokter harus bertindak atas
kepentingan pasien ketika menulis resep
dan mengatur/menetapkan asuhan medis

Seorang dokter atau keluarganya


yang memiliki saham, investasi
atau aspek-aspek komersial lain
pada rumah sakit, sarana
pelayanan kedokteran,
kefarmasian atau laboratorium
klinik tidak boleh mempengaruhi
dokter dalam penulisan resep
dan penetuan pemeriksaan
penunjang.

Seorang dokter tidak boleh


merekomendasi pada pasien
tentang pemeriksaan, terapi atau
melakukan rujukan, yang tidak
bermanfaat bagi pasien.

Seorang dokter tidak boleh


mengiklankan/kemampuan pelayanan
atau kelebihan
kemampuan/pelayanan yg dimiliki,
baik secara lisan ataupun tulisan,
yang tidak benar atau
menyesatkan

Dokter tidak boleh mengakhiri


hubungan dengan pasien
apabila pasien mengeluh
tentang pelayanan kedokteran
yang diberikan. Termasuk
apabila pasien mengeluh
tentang tagihan pembiayaan
jasa layanan atau terapi yang
diberikan. Hubungan
profesional dokter pasien
dapat berakhir apabila pasien
melakukan kekerasan.

TERIMA KASIH