Anda di halaman 1dari 18

Kista Atheroma

Andy Santoso Hioe


112014144

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida


Wacana/
SMF Ilmu Bedah RS Rajawali Bandung
2015

Anatomi dan Fisiologi


Integumen

Definisi

Kista
Suatu bentukan yang kurang lebih bulat dengan
dinding tipis, berisi cairan atau bahan setengah
cair.

Kista Atheroma
Kista yang terbentuk akibat sumbatan pada
muara kelenjar sebasea.

de Jong W, Sjamsuhidajat R. Buku


ajar ilmu bedah

Etiologi

Adanya penyumbatan pada unit


pilosebasea.

Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al. editors. Fitzpatrick's


dermatology in general medicine. 7th ed. USA: The McGraw-Hill
Companies, Inc. 2008. p. 1063-4

Epidemiologi

Sering ditemukan pada usia dewasa.

Tempat predileksi:
Bagian tubuh yang berambut terutama di kepala,
wajah (terutama di belakang telinga), leher,
punggung dan daerah genital.

Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al. editors. Fitzpatrick's


dermatology in general medicine. 7th ed. USA: The McGraw-Hill
Companies, Inc. 2008. p. 1063-4

Patologi
Material keratin tersusun berlapis
Terdapat lapisan granulasi
Debris berkeratin, eosinofilik, letak sentral, dapat mencetus reaksi benda
asing.
Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al. editors. Fitzpatrick's
dermatology in general medicine. 7th ed. USA: The McGraw-Hill
Companies, Inc. 2008. p. 1063-4

Manifestasi Klinis

Nodul dengan punctum di tengah, mobile,


letak di dermis atau subkutan, berfluktuasi.

Bintik pada puncak penonjolan kista pada


kulit (punctum) muara kelenjar yang
tersumbat. Berisi debris yang kental
berwarna kuning.

Tumbuh dengan lambat, asimtomatik, dapat


terjadi ruptur.
Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al. editors. Fitzpatrick's
dermatology in general medicine. 7th ed. USA: The McGraw-Hill
Companies, Inc. 2008. p. 1063-4

Kista Atheroma

Penatalaksanaan

Eksisi
Tindakan pengangkatan struktur apapun dari tubuh,
dimana hal ini membutuhkan pengangkatan
sejumlah struktur sehat dari sekelilingnya
(Removal of any structure from the body, when
such removal necessitates a certain amount of
separation from surrounding parts)

Ekstirpasi
Pengangkatan total dari organ atau jaringan yang
tumbuh dengan pembedahan.
(The total removal of a growth, organ or tissue by
surgery)
Marcovitch H. editor. Black's medical dictionary. 41st ed. London: A&C
Black Publishers Limited. 2005. p. 254-6

Teknik Eksisi

Peralatan untuk anestesi:


Tempatkan peralatan berikut pada kain yang
menutupi meja Mayo:

Sarung tangan dan masker non steril


Pen penanda-kulit
Kasa 1 inci 4 x 4 yang diberi larutan povidon-iodin
Kasa 1 inci 4 x 4
Spuit 10-mL, yang diisi dengan lidokain 2% dengan
epinefrin dengan jarum 30-G

Zuber TJ. Fusiform excision. Am Fam Physician


[Internet]. 2003;67(7):153944, 15478, 1550.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12722855

Bagian steril untuk prosedur:


Tempatkan peralatan berikut pada kain steril yang
menutupi meja Mayo:

Sarung tangan steril


Duk bolong
Plester steril untuk memfiksasi duk bolong dengan kulit
Tiga klem Mosquito
Pisau no. 15
Needle holder untuk hecting
Gunting jaringan atau gunting Mayo
Gunting Iris
Pinset Adson bergigi
Kasa steril 2 inci ukuran 4x4
Peralatan hecting
Zuber TJ. Fusiform excision. Am Fam Physician
[Internet]. 2003;67(7):153944, 15478, 1550.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12722855

Teknik eksisi
1.

Eksisi disiapkan dengan menggambar pola eksisi


dengan perbandingan panjang:lebar = 3:1,
diorientasikan segaris dengan bagian kulit yang paling
sedikit regangannya.

2.

Kulit dibersihkan dengan povidon-iodin, dan dianestesi


dengan lidokain 2% dengan epinefrin. Epinefrin dapat
membantu hemostasis.

3.

Setelah dianestesi, sarung tangan steril dapat


digunakan, kulit dapat dibersihkan kembali dengan
povidon-iodin, dan duk bolong dapat diletakan pada
daerah yang akan dieksisi.
Zuber TJ. Fusiform excision. Am Fam Physician
[Internet]. 2003;67(7):153944, 15478, 1550.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12722855

4.

Insisi dibuat dengan menggunakan pisau no. 15,


dipegang secara vertikal pada kulit. Pisau digoreskan
secara halus dan kontinu. Kasa dapat digunakan
untuk membersihkan lapangan eksisi dari darah.

5.

Skalpel diarahkan paralel terhadap permukaan kulit


untuk mengangkat kista. Kista diangkat dengan
pinset Adson bergigi.

6.

Lokasi perdarahan pada dasar luka dapat dikontrol


dengan menggunakan klem mosquito atau jahitan
ligasi.
Zuber TJ. Fusiform excision. Am Fam Physician
[Internet]. 2003;67(7):153944, 15478, 1550.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12722855

Jahitan dalam interrupted digunakan untuk


menghindari dead space pada dasar luka,
mengurangi tegangan pada jahitan kulit. nakan.
Biasanya digunakan benang polyglactin (3-0, 4-0,
5-0, 6-0)

Tepi kulit dijahit menggunakan benang nilon (3-0


s/d 6-0)

Setelah dijahit, luka perlu dibersihkan dari darah


residual. Gunakan salep antibiotik, dan balut luka.
Zuber TJ. Fusiform excision. Am Fam Physician
[Internet]. 2003;67(7):153944, 15478, 1550.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12722855

Zuber TJ. Fusiform excision. Am Fam Physician


[Internet]. 2003;67(7):153944, 15478, 1550.
Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12722855

Teknik Ekstirpasi
1.
2.
3.

4.

5.

6.
7.

Bersihkan daerah operasi (daerah kulit di atas kista)


Lakukan anestesi local (blok/infiltrasi) pada daerah operasi
Eksisi kulit di atas kista berbentuk bulat telur (elips) runcing
dengan arah sesuai garis lipatan kulit. Panjang dibuat lebih
dari ukuran benjolan yang teraba dan lebar kulit yang di eksisi
garis tengah kista tersebut.
Gunakan gunting tumpul untuk melepaskan jaringan subkutan
yang meliputi kista, pisahkan seluruh dinding kista dari kulit.
Usahakan kista tidak pecah agar dapat diangkat kista secara
in-toto. Bila kista telah pecah keluarkan isi kista dan dinding
kista. Jepit dinding kista dengan klem dan gunting untuk
memisahkannya dengan jaringan kulit.
Jahit rongga bekas kista dengan jahitan subkutaneus.
Jahit dan tutup luka operasi.
Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita selekta
kedokteran. ed 4, jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius. 2014. h. 192

Komplikasi

Infeksi sekunder
Bakteri aerob
S. aureus, Streptococcus grup A, E. coli

Bakteri anaerob
Peptostreptococcus spp, Bacteroides spp

Perubahan menjadi maligna langka, tetapi


dapat berhubungan dengan carcinoma
integumen (basal cell carcinoma, squamous
cell carcinoma, dll)
Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, et al. editors. Fitzpatrick's
dermatology in general medicine. 7th ed. USA: The McGraw-Hill
Companies, Inc. 2008. p. 1063-4