Anda di halaman 1dari 21

HAKEKAT MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas


Mata Kuliah : Pengantar Pendidikan
Dosen Pembimbing : Elli Kusumawati, M.Pd

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3 :
A1C115053

M.NOOR

A1C115044

AVIKA AGUSTINA UTAYA

A1C115052

INDANA ZULVA

A1C115049

ELMA FITRIANA

A1C115061

PUTRI CAHYANINGSIH

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2015

HAKEKAT MANUSIA DAN PERKEMBANGANNYA


Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah : Pengantar Pendidikan
Dosen Pembimbing : Elli Kusumawati, M.Pd

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3 :
A1C115053

M.NOOR

A1C115044

AVIKA AGUSTINA UTAYA

A1C115052

INDANA ZULVA

A1C115049

ELMA FITRIANA

A1C115061

PUTRI CAHYANINGSIH

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
2015

Daftar Isi
BAB I ...................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang .......................................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan ...................................................................................................... 1
D. Manfaat Penulisan .................................................................................................... 2
BAB II ..................................................................................................................... 3
A. SIFAT HAKEKAT MANUSIA ............................................................................. 3
a.

Wujud Sifat Hakekat Manusia ................................................................. 3

b.

Dimensi Dimensi Hakekat Manusia ...................................................... 7

B. HUBUNGAN HAKEKAT MANUSIA DAN HAM DENGAN


PENDIDIKAN ........................................................................................................ 11
C. PENGEMBANGAN DIMENSI HAKEKAT MANUSIA ............................... 14
D. KARAKTERISTIK SOSOK MANUSIA INDONESIA .................................. 15
BAB III ................................................................................................................. 17
KESIMPULAN .............................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka
bumi ini. Ia selain memiliki ciri-ciri fisik yang khas juga dilengkapi dengan
intelegensi dan daya nalar yang tinggi sehingga menjadikan ia mampu berpikir,
berbuat, dan bertindak ke arah perkembangannya sebagai manusia yang utuh.
Kemampuan itulah yang tak dimiliki oleh makhluk Tuhan ainnya seperti binatang
dan tumbuh-tumbuhan. Dalam kaitannya dengan perkembangan individu manusia
dapat tumbuh dan berkembang melalui suatu proses, yaitu proses alami menuju
kedewasaan, bak yang sifatnya kedewsaan fisik jasmani mupun kedewasaan
psikis rohani. Oleh sebab itu, untuk menuju kea rah perkembangan manusia yang
optimal sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya, manusia
memerlukan pendidikan sebagai suatu proses dan usaha sadar untuk lebih
memanusiakan manusia.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah
sebagai berikut :
a. Apakah pengertian dari sifat hakikat manusia?
b. Bagaimana hubungan hakekat manusia dan HAM dengan pendidikan?
c. Bagaimana pengembangan dimensi hakekat manusia ?
d. Bagaimana karakteristik sosok manusia Indonesia ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Untuk mengetahui pengertian dari sifat hakikat manusia.
b. Untuk mengetahui wujud dari sifat hakikat manusia,
2. Tujuan Khusus
a. Untuk pemenuhan nilai pada semester ganjil.

D. Manfaat Penulisan
1.

Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan sumbangan


pengetahuan

bagi

siswa,

mahasiswa

maupun

pembaca

lainnya

mengenaihakikat manusia.
2.

Penulisan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai buku panduan


dalam pembelajaran terutama pelajaran pengantar pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN
A. SIFAT HAKEKAT MANUSIA
Sifat hakekat manusia dapat diartikan sebagai ciri-ciri karakteristik, yang
secara prinsipil membedakan manusia dari hewan. Meskipun antara manusia
dengan hewan banyak kemiripan terutama jika dilihat dari segi biologisnya
Disebut sifat hakekat manusia karena secara hakiki sifat tersebut hanya dimiliki
oleh manusia dan tidak terdapat pada hewan. Karena manusia mempunyai hati
yang halus dan dua pasukannya. Pertama, pasukan yang tampak yang meliputi
tangan, kaki, mata dan seluruh anggota tubuh, yang mengabdi dan tunduk kepada
perintah hati. Inilah yang disebut pengetahuan. Kedua, pasukan yang mempunyai
dasar yang lebih halus seperti syaraf dan otak. Inilah yang disebut kemauan.
Pengetahuan dan kemauan inilah yang membedakan antara manusia dengan
binatang.
a.

Wujud Sifat Hakekat Manusia


Adapun beberapa wujud sifat hakekat manusia yang tidak dimiliki oleh

hewan dimana wujud sifat hakekat manusia ini dikemukakan oleh paham
eksistensialisme dengan maksud sebagai masukan dan membenahi konsep
pendidikan adalah sebagai berikut:
1.

Kemampuan Menyadari Diri


Kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia ini
merupakan kunci perbedaan manusia dengan hewan. Berkat adanya
kemampuan menyadari diri yang dimiliki oleh manusia ini, maka
manusia menyadari bahwa dirinya memiliki ciri khas atau karakteristik
diri. Hal ini menyebabkan manusia dapat membedakan dirinya dan
membuat jarak dengan orang lain dan lingkungan di sekitarnya.
Kemampuan membuat jarak dengan lingkungannya dearah ganda, yaitu
ke arah luar dan ke arah dalam. Di dalam proses pendidikan,
kecenderungan dua arah tersebut perlu dikembangkan secara seimbang.

Pengembangan ke arah luar merupakan pembinaan aspek sosialitas,


sedangkan pengembangan ke arah dalam berarti pembinaan aspek
individualitas manusia.
2.

Kemampuan Bereksistensi
Kemampuan bereksistensi adalah kemampuan menerobos dan
mengatasi

batas-batas

yang

membelenggu

dirinya.

Kemampuan

menerobos ini bukan saja yang berkaitan dengan ruang, melainkan juga
dengan waktu.
Kemampuan bereksistensi perlu dibina melalui pendidikan. Peserta
didik diajar agar belajar dari pengalamannya, mengantisipasi keadaan
dan peristiwa, belajar melihat prospek masa depan dari sesuatu serta
mengembangkan imajinasi kreatifnya sejak masa kanak-kanak.
3.

Kata Hati (Conscience of Man)


Kata hati juga sering disebut dengan istilah hati nurani, lubuk
hati, suara hati, pelita hati dan sebagainya. Kata hati adalah kemampuan
membuat keputusan tentang yang baik atau buruk dan yang bena atau
salah bagi manusia sebagai manusia.
Dalam kaitannya dengan moral (perbuatan), kata hati merupakan
petunjuk bagi moral/perbuatan). Untuk melihat alternatif mana yang
terbaik perlu didukung oleh kecerdasan akal budi. Orang yang memiliki
kecerdasan akal budi disebut tajam kata hatinya. Kata hati yang tumpul
agar menjadi kata hati yang tajam harus ada usaha melalui pendidikan
kata hati yaitu dengan melatih akal kecerdasan dan kepekaan emosi.
Tujuannya agar orang memiliki keberanian berbuat yang didasari oleh
kata hati yang tajam, sehingga mampu menganalisis serta membedakan
mana yang baik atau benar dan buruk atau salah bagi manusia sebagai
manusia.

4.

Moral
Moral merupakan suatu perbuatan yang disertai dengan kata hati.
Dengan kata lain, moral adalah perbuatan itu sendiri. Kadangkala antara
moral dan hati masih terdapat jarak. Artinya, seseorang yang telah
memiliki kata hati yang tajam belum tentu perbuatannya itu merupakan
realisasi dari kata hatinya sendiri. moral yang sinkron dengan kata hati
yang tajam adalah moral yang benar-benar baik bagi manusia.
Sebaliknya, moral yang yang tidak sinkron dengan kata hati yang tajam
disebut dengan moral yang buruk sehingga orang yang melakukan moral
yang buruk ini disebut orang yang tak bermoral. Moral disebut juga
dengan etika. Jadi, moral itu adalah nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena
itu, pendidikan sangatlah perlu dalam menumbuh kembangkan moral,
etika dan etiket pada peserta didik.

5.

Tanggung Jawab
Tanggung jawab merupakan sifat dari manusia dimana memiliki
kesediaaan untuk menanggung segenap akibat dari perbuatan yang
menuntut jawab. Tanggung Jawab mempunyai hubungan erat dengan
kata hati dan moral. Kata hati memberi pedoman, moral melakukan, dan
tanggung jawab merupakan kesediaan menerima konsekuensi dari
perbuatan. Dengan demikian, tanggung jawab dapat diartikan sebagai
keberanian untuk menentukan bahwa sesuatu perbuatan sesuai dengan
tuntutan kodrat manusia. Dengan demikian, terlihat betapa pentingnya
pendidikan

moral

diberikan

pada

peserta

didik

dalam

menumbuhkembangkan rasa tanggung jawab pada setiap peserta didik.

6.

Rasa kebebasan
Rasa kebebasan adalah tidak merasa terikat oleh sesuatu tetapi
sesuai dengan tuntutan kodrat manusia. Artinya bebas berbuat apa saja
sepanjang tidak bertentangan dengan tuntutan kodrat manusia. Jadi
kebebasan atau kemerdekaan dalam arti yang sebenarnya memang
berlangsung dalam keterikatan. Orang hanya mungkin merasakan adanya
kebebasan batin apabila ikatan-ikatan yang ada telah menyatu dengan
dirinya, dan menjiwai segenap perbuatannya. Implikasi pedagogisnya
adalah mengusahakan agar peserta didik dibiasakan menginternalisasikan
nilai-nilai, aturan-aturan ke dalam dirinya, sehingga dirasakan sebagai
miliknya. Dengan demikian aturan-aturan itu tidak lagi dirasakan sebagai
sesuatu yang merintangi gerak hidupnya.

7.

Kewajiban dan Hak


Kewajiban dan hak adalah dua macam gejala yang timbul karena
manusia itu sebagai makhluk sosial, yang satu ada hanya karena adanya
yang lain. Tidak ada hak tanpa kewajiban. Kewajiban ada karena ada
pihak lain yang harus dipenuhi haknya. Kewajiban adalah suatu
keniscayaan pada diri manusia, artinya seseorang yang tidak mau
melaksanakan kewajiban berarti mengingkari kemanusiaannya sebagai
makhluk sosial.
Realisasi hak dan kewajiban bersifat relatif, disesuaikan dengan
situasi dan kondisinya. Hak yang secara asasi dimiliki oleh setiap insan
serta sesuai dengan tuntutan kodrat manusia disebut hak asasi manusia.
Pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban bertalian erat dengan soal
keadilan. Hak asasi manusia harus diartikan sebagai cita-cita, aspirasiaspirasi atau harapan-harapan yang berfungsi untuk memberi arah pada
segenap usaha menciptakan keadilan.

8.

Menghayati kebahagiaan
Puncak

dari

sifat

hakekat

manusia

adalah

menghayati

kebahagiaan. Menghayati kebahagiaan berarti memadukan antara


pengalaman yang menyenangkan dengan yang pahit melalui sebuah
proses, di mana hasil yang didapat adalah kesediaan menerima apa
adanya. Jadi, kebahagiaan itu muncul ketika kejadian atau pun
pengalaman sudah dipadukan di dalam hati dan kita mampu
menerimanya dengan apa adanya tanpa harus menuntut sedikit pun.

b. Dimensi Dimensi Hakekat Manusia


1.

Manusia sebagai makhluk individu


Setiap manusia itu unik (Tirtarahardja dan Sulo, 2005: 17),
maksud unik disini adalah bahwa manusia itu berbeda-beda setiap
individunya. Bukti dari penyataan itu bisa kita lihat dalam kehidupan
sehari-hari seperti ketertarikan, kecenderungan, dan perhatian suatu
individu terhadap suatu hal akan bebeda. Oleh karena itu setiap individu
bisa saja bahkan berkemungkinn besar memiliki aspek kehendak,
perasaan,

respon,

pemikiran,

pendapat,

cita-cita,

kemampuan,

kecenderungan, semangat, dan daya tahan yang berbeda.


Dalam pembentukan karakter/pribadi suatu individu terdapat
aspek-aspek yang terbagi menjadi dua, yaitu aspek internal dan aspek
eksternal. Aspek internal biasanya dikaitkan dengan hereditas.
Hereditas adalah pewarisan watak ke keturunan baik secara biologis
melalui gen (DNA) atau secara social melalui gelar atau status sosial.
Sedangkan aspek eksternal biasanya dikaitkan dengan lingkungan.
Lingkungan di sini meerupakan segala aspek yang berasal dari luar,
antara lain:
1) Kematangan intelektual
2) Kemampuan berkomunikasi
3) Pengalaman
4) Kepribadian
5) Ketertarikan atau minat

Dari kedua aspek tersebut bila kita ambil contoh, misalnya ada
dua orang anak dengan latar belakang

yang berbeda namun

kemampuannya dalam bermain piano sama hebatnya. Salah satu anak


itu tidak memiliki latar belakang keluarga yang dapat memainkan
piano, maka kita dapat berpikiran bahwa si anak mendapat pengaruh
aspek eksternal. Sedangkan anak yang satunya memiliki ayah yang juga
mahir dalam memainkan piano, disini kita dapat melihat dari aspek
internal bahwa si anak mendapat bakat dari ayahnya, namun dapat pula
dilihat dari aspek eksternal yaitu minat, sehingga si anak yang pada
awalnya tidak bisa bermain piano tapi memiliki kemauan diajari oleh si
ayah untuk bermain piano. Selain contoh itu, banyak pula kita jumpai
seorang anak yang mana kedua orang tuanya mahir bermain alat musik,
namun si anak tidak memiliki sedikitpun ketertarikan terhadap
musik.Sebenarnya akan sangat sulit bagi kita untuk dapat mangatakan
aspek manakah yang lebih berperan dalam membentuk suatu individu.
Sehingga dapat kita lihat bahwa kedua aspek tersebut berhubungan
sangan kompleks dan melengkapi saru sama lain.
2.

Manusia Sebagai Makhluk Sosial


Manusisa memiliki kemampuan sosial berupa kesadaran sosial
dan pengelolaan sosial yang terus mengalami perubahan-perubahan
sejalan

bertambahnya

usia

dan

berkembangnya

kedewasaan.

Kemampuan sosial ini menentukan bagaimana manusia mengelola


hubungan dangan individu lain maupun kelompok. Sedangkan
kesadaran sosial merupakan kemampuan merasakan emosi orang lain,
memahami sudut pandang mereka, dan berminat untuk aktif pada
kekhawatiran mereka. Sementara itu, pengelolaan sosial merupakan
kemampuan

manusia

dalam

membimbing,

memengaruhi,

dan

menggembangkan orang lain, serta mengelola konflik, membangun


ikatan, dan bererjasama/kerja kelompok.

3.

Manusia sebagai makhluk susila dan bermoral


Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan lebih
tinggi. Akan tetapi dalam kehidupan bermasyarakat orang tidak cukup
hanya berbuat yang pantas jika di dalam yang pantas atau sopan itu
misalnya terkandung kejahatan terselubung. Dimensi kesusilaan disebut
juga keputusan yang lebih tinggi. Kesusilaan mencakup etika dan etiket.
Etika adalah (persoalan kebaikan ) sedangkan etiket adalah (persoalan
kepantasan dan kesopanan ). Pada hakekatnya manusia memiliki
kemampuan

untuk

mengambil

keputusan

susila,

serta

melaksanakannya. Sehingga dikatakan manusia itu makhluk susila.


Persoalan kesusilaan selalu berhubungan erat dengan nilai-nilai
kehidupan. Susila berkembang sehingga memiliki perluasan arti
menjadi kebaikan yang lebih sempurna.
Manusia dengan kemampuan akalnya memungkinkan untuk
menentukan sesuatu manakah yang baik dan manakah yang buruk,
manakah yang pantas dan manakah yang tidak pantas. Dengan
pertimbangan nilai-nilai budaya yang dijunjungnya memungkinkan
manusia untuk berbuat dan bertindak secara susila. Dari Jarkara
mengartikan manusia susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai,
menghayati, dan melaksanakan nilai tersebut dalam perbuatan. Nilainilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena
mengandung

makna

kebaikan,

keluhuran,

kemulian

dan

sebagainya,sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam


hidup. Pendidikan kesusilaan berarti menanamkan kesadaran dan
kesediaan melakukan kewajiban disamping hak pada peserta didik.

10

4.

Manusia sebagai makhluk religious


Pada hakekatnya manusia adalah makhluk religius. Beragama
merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang
lemah sehingga memerlukan tempat bertopang, agama menjadi
sandaran vertikal manusia. dan Manusia adalah mahluk religius yang
dianugerahi ajaran-ajaran yg dipercayainya yang didapatkan melalui
bimbingan nabi demi kesehatan dan keselamatannya. Manusia sebagai
mahluk beragama mempunyai kemampuan menghayati pengalaman diri
dan dunianya menurut agama masing-masing. Pemahaman agama
diperoleh melalui pelajaran agama, sembahyang, doa-doa maupun
meditasi, komitmen aktif dan praktekritual.
Jauh dekatnya hubungan ditandai dengan tinggi rendahnya
keimanan dan ketaqwaan manusia yang bersangkutan. Di dalam
masyarakat Pancasila, meskipun agama dan kepercayaan yang
dianutnya berbeda-beda, diupayakan terciptanya kehidupan beragama
yang mencerminkan adanya saling pengertian, menghargai, kedamaian,
ketentraman, & persahabatan.

11

B. HUBUNGAN HAKEKAT MANUSIA DAN HAM DENGAN


PENDIDIKAN
Hak asasi manusia pada hakekatnya merupakan hak dasar yang patut
dimiliki pribadi manusia secara kodrati. Hak asasi manusia tersebut terutama
meliputi hak hidup, hak kemerdekaan dan hak kebebasan dan hak memiliki
sesuatu. Hingga dewasa ini hak asasi manusia meliputi berbagai bidang, yaitu :
1. Hak asasi pribadi meliputi:
- Hak kemerdekaan,
- Hak memeluk agama dan beribadah sesuai keyakinan,
- Hak mengemukakan pendapat,
- Hak kebebasan berorganisasi.
2. Hak asasi ekonomi meliputi :
- Hak memiliki sesuatu,
- Hak membeli dan menjual sesuatu,
- Hak mengadakan perjanjian atau kontrak,
- Hak memilih pekerjaan.
3. Hak asasi persamaan hukum (mendapat pengayoman dan perlakuan sama
dalam keadilan).
4. Hak asasi politik, hak sebagai warga negara yang sederajat.
5. Hak asasi sosial dan kebudayaan meliputi, hak kebebasan mendapat
pengajaran atau hak pendidikan serta hak mengembangkan kebudayaan.
6. Hak asasi perlakuan yang sama dalam tata cara peradilan dan
perlindungan hukum meliputi hak perlakuan yang wajar dan adil dalam
penggeledahan.

12

Di Indonesia, prihal hak asasi manusia tertera dalam Undang-Undang


Dasar 1945, yang tercantum pada :
1. Pembukaan UUD 1945 alenia keempat melindungi segenap bangsa
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan kadilan sosial
2. Pasal 27 ayat 2 Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
3. Pasal 29 ayat 2 Negara menjamin kemerdekaan tiap penduduk untuk
memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut
agamanya dan kepercayaanya itu.
Dengan demikian ada hubungan antara hak asasi manusia (khususnya hak
memperoleh pendidikan) dengan upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat
manusia itu sendiri, baik bersifak material (hak asasi ekonomi, hak asasi memiliki
sesuatu, hak membeli dan menjual sesuatu, hak memilih pekerjaan) maupun
nonmaterial (hak asasi pribadi, hak asasi politik, hak asasi sosial dan kebudayaan,
hak mendapat perlakuan yang sama di depan hukum).
a. Pendidikan Sebagai Hak Asasi Manusia
Hak memperoleh pengajaran dan pendidikan merupakan salah satu
hak asasi yang patut diperoleh oleh manusia. Di Indonesia, secara yuridis
formal perolehan hak asasi manusia di bidang layanan pendidikan telah
termuat dalam UUD 1945, UU No. 2 tahun 1989 tentang sisitem
pendidikan, dan GBHN 1993. Berikut dokumen mengenai pendidikan
sebagai hak asasi segenap bangsa Indonesia, yaitu :
1. Pembukaan UUD 1945, alenia keempat melindungi segenap
bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa
2. Pasal 31 ayat 1 UUD 1945 Tiap warga negara berhak mendapatkan
pengajaran.
3. BGHN 1993
4. UUSPN No. 2 tahun 1989,(BAB III pasal 5, 6, 8, BAB V pasal 13).

13

Hakekat pembangunan di bidang pendidikan adalah :


1. Mencerdaskan kehidupan bangsa;
2. Meningkatkan kualitas manusia Indonesia;
3. Mengembangkan kemampuan potensi bangsa;
4. Meningkatkan mutu kehidupan dan harkat serta martabat bangsa;
5. Mewujudkan tujuan nasional yaitu masyarakat yang ideall dan makmur
berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

14

C. PENGEMBANGAN DIMENSI HAKEKAT MANUSIA


Manusia lahir telah dikaruniai dimensi hakekat manusia tetapi masih
dalam bentuk potensi, belum teraktualisasi. Maka dari itu, dengan sendirinya
pengembangan hakekat manusia tersebut menjadi tugas pendidikan. Hanya
dengan pendidikanlah dimensi hakekat manusia bisa diubah dari bentuk potensi
menjadi bentuk sebenarnya yang menjadikan manusia lebih manusiawi.
Sehubungan dengan proses pendidikan tersebut, ada dua kemungkinan yang
terjadi, yaitu:
a.

Pengembangan yang Utuh


Tingkat

keutuhan

perkembangan

dimensi

hakekat

manusia

ditentukan oleh dua faktor, yaitu kualitas dimensi hakekat manusia itu
sendiri secara potensial dan kualitas pendidikan yang disediakan untuk
memberikan pelayanan atas perkembangannya.
Pengembangan yang utuh dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu
wujud dimensi dan arahnya. Keutuhan terjadi antara aspek jasmani dan
rohani, antara dimensi keindividualan, kesosialan, kesusilaan, dan
keberagama, antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Keutuhan akan
tercipta jika dimensi-dimensinya mendapat layanan yang baik dan
seimbang, dengan tidak mengabaikan salah satunya.
b. Pengembangan yang Tidak Utuh
Pengembangan yang tidak utuh terhadap dimensi hakekat manusia
akan terjadi di dalam proses pengembangan jika ada unsur dimensi hakekat
manusia yang terabaikan untuk ditangani, misalnya dimensi kesosialan
didominasi oleh pengembangan dimensi keindividualan ataupun domain
afektif didominasi oleh engembangan domain kognitif. Demikian pula
secara vertikalada domain tingkah laku yang terabaikan penanganannya.
Pengembangan yang tidak utuh berakibat terbentuknya kepribadian yang
pincang dan tidak mantap. Pengembangan semacam ini merupakan yang
patologis.

15

D. KARAKTERISTIK SOSOK MANUSIA INDONESIA


Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan memepunyai peranan yang
sangat penting untuk menjamin perkembanagn dan kelangsungan hidup bangsa
yang bersangkutan.
UU No 20 tahun 2003 Pasal 3 menyebutkan, Pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Deskripsi di atas, mengilustrasikan kearah mana sosok masyarakat
Indonesia seutuhnya yang akan dibentuk sebagai sumber daya manusia Indonesia
yang siap untuk dipartisipasikan dalam pembangunan bangsa. Bila dirujuk dari
UU No 20 tahun 2003 Pasal 3, Karakteristik manusia Indonesia seutuhnya,
berdasarkan pandangan hidup Pancasila terdiri dari :
1. Karakteristik Manusia Indonesia yang Berkualitas antara lain :

Beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa,

Berbudi pekerti luhur,

Berkepribadian,

Memiliki ilmu pengetahuan,

Maju,

Tangguh,

Cerdas.

2. Karakteristik Manusia Indonesia yang antara lain :

Beretos kerja,

Professional,

Bertanggung jawab,

Produktif,

Sehat rohani dan jasmani,

Berjiwa partiotik,

Meningkatkan kebangsaan dan kesetiakawanan sosial,

16

Berorientasi ke masa depan.


Pancasila sebagai kepribadiaan bangsa Indonesia merupakan kerangka
acuan mendasar dalam menetapkan tujuan pendidikan nasional . mengkaji konsep
pancasila sebagai dasar Negara serta rumusan TPN di atas, secara tersirat ada tiga
hal yang cukup mendasar sebagai karakteristik sosok manusia Indonesia , yaitu
berkaitan dengan tiga hal : moral,ilmu,dan amal. Oleh sebab itu pancasila sebagai
falsafah bangsa yang mewarnai garapan pendidikan nasional dan dasar bagi
pembentukan manusia Indonesia seutuhnya , sepatutnya dilihat dari 4 dimensi ,
yaitu:
1. Dimensi intelektual, yaitu sosok manusia Indonesia yang memiliki
pandangan,

wawasan

ilmu

pengetahuan,

terampil

dalam

mengomunikasikan pengetahuan, dan kemampuan memecahkan masalah


yang dihadapi , serta tidak terapriori terhadap pengetahuan rang lain.
2. Dimensi sosial, yaitu sosok manusia Indonesia yang memiliki hubungan
antar manusia, hubungan manusia dengan lingkungannya,menegtahui hak
dan kewajiban sebagai warga Negara.
3. Dimensi personal, yaitu sosok manusia Indonesia yang memiliki
pertumbuhan fisik dan kesehatan( kualitas fisik ), stabilitas emosional,
kesehatan mental .
4. Dimensi produktivitas, yaitu sosok manusia Indonesia yang memiliki
kesanggupan memilih keahlian atau pekerjaan yang sesuai dengan
kemampuannya,kemampuannya

untuk

mempertinggi

keterampilan

,mampu menepatkan diri sebgai konsumen dan produsen yang baik,kreatif


dan berkarya.

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sifat hakikat manusia dan segenap dimensinya hanya dimiliki oleh
manusia dan tidak terdapat pada hewan. Ciri-ciri yang khas tersebut membedakan
secara mendasar dunia hewan dan dunia manusia. Adanya sifat hakikat tersebut
memberikan tempat kedudukan pada manusia sedemikian rupa sehingga
derajatnya lebih tinggi daripada hewan. Salah satu sifat hakikat yang istimewa
adalah adanya kemampuan menghayati kebahagiaan pada manusia. Semua
hakikat manusia dapat dan harus ditumbuhkembangkan melalui pendidikan.
Berkat pendidikan maka sifat hakikat manusia dapat ditumbuhkembangkan secara
selaras dan berimbang sehingga menjadi manusia yang utuh.

17

DAFTAR PUSTAKA
Abdulrahmat. (2010). Pengantar Pendidikan. Bandung: MQS Publishing.
BUKU MATERI POKOK MKDK 4301/3 SKS/MODUL 1-9.
Dewa, A. (2014, Juli 31). Blogger. Retrieved September 13 22:19, 2015, from
Belajar Matematika Asik:
http://suksesseluruhtest.blogspot.co.id/2014/07/pengertian-dan-wujud-sifathakikat.html
Gandi, D. I. (n.d.). Google Sites. Retrieved September 13 05:30, 2015, from
Dimensi-Dimensi Hakikat Manusia:
https://sites.google.com/site/deryindragandi/dimensi-dimensi-hakikat-manusia
Muttaqin, M. M. (2014, Januari 25). Blogger. Retrieved September 13 21:48,
2015, from Articel and Aplikasi iftah: http://iftahalmuttaqin.blogspot.co.id/2014/01/pengantar-ilmu-pendidikan-hakikat.html
NI, R. (2014, Maret 05). Blogger. Retrieved September 13 21:35, 2015, from
RINI: https://rini0594.blogspot.co.id/2014/03/manusia-sebagai-makhluk-individudan.html?m=1
Sulo, P. D. (2012). Pengantar Pendidikan (edisi revisi). Jakarta: PT Rinekacipta.
Triwiyanto, T. (2014). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksana.
Wahyudin, H. D. (2004). Pengantar Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka.
Wikipedia. (n.d.). Retrieved September 13 21:02, 2015, from Hereditas:
https://id.m.wikipidia.org/wiki/Heredias
Zuway. (2012, Oktober 13). Blogger. Retrieved September 14 09:04, 2015, from
Blog Pribadi Zuway: http://zuwaily.blogspot.co.id/2012/10/sifat-hakikatmanusia.html#.Vfb_QhFViko