Anda di halaman 1dari 28

BLOK RESPIRASI

WRAP UP KELOMPOK B 11

Ketua

: Zulfikar Caesar N

(1102014294)

Sekretaris

: Rista Triana K

(1102014228)

Anggota

Arisya Hanifah N

(1102011045)

Nidaul Hasanah

(1102012192)

Muhamad Rezha C

(1102014163)

Sella Pratiwi

(1102014240)

Rezkina Azizah P

(1102014225)

Santi Noor A

(1102014237)

Nurhayati

(1102014201)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016

SKENARIO

NYERI SENDI
Seorang laki-laki, umur 20 tahun , selalu bersin-bersiin di pagi hari., keluar
ingus encer, gatal di hidung dan mata. Keluhan juga timbul bila udara berdebu.
Keluhan seperti ini sudah diderita sejak usia 14 tahun. Dalam keluarga tidak ada yang
menderita penyakit serupa, kecuali penyakit asma pada ayah pasien. Pasien rajin solat
tahajud, sehingga dia bertanya apakah ada hubungan memasukan air ke hidung di
malam hari dengan keluhannya ini? Pasien menanyakan ke dokter mengapa bisa
terjadi demikian, dan apakah berbahaya apabila menderita keluhan ini dalam jangka
waktu yang lama.
IDENTIFIKASI KATA SULIT
1. Asma : radang kronis saluran nafas yang menybabkan peningkatan
hiperresponsif saluran nafas
2. Ingus : mucus atau secret yang keluar dari hidung
3. Bersin : keluarnya udara semiotonom dari hidung dan mulut
Pertanyaan dan jawaban
1. Mengapa gejala terjadi pada pagi hari ?
Jawab: karena pada pagi hari suhu dingin atau rendah, pasien di scenario
kemungkinan alergi terhadap suhu dingin.
2. Mengapa bias terjadi bersin-bersin?
Jawab : reflek bersin timbul karena cilia terpapar allergen. Pada scenario ini
alergennya adalah debu.
3. Apa penyebab gatal pada hidung ?
Jawab : karena adanya histamine.
4. Apa hubungan bersin-bersin dengan memasukan air ke dalam hidung ?
Jawab : karena pasien kemungkinan alergi suhu dingin.
5. Mengapa ingus yang keluar encer ?
Jawab : karena etiologi dari scenario ini adalah non-infeksi.
6. Apakah ada hubungan penyakit asma pada ayah pasien?
Jawab : ada, alergi dapat menurun secara genetic.
7. Apa yang terjadi bila dibiarkan dalam jangka waktu yang panjang ?
Jawab : jika tidak ditangani dapat menimbulkan polip.
8. Apa diagnosis dari scenario ini?
Jawab : rhinitis Alergi

HIPOTESA
Udara dingin dan debu dapat mengakibatkan terjadinya alergi pada hidung
yang disebut rhinitis alergi. Gejala dapat berupa bersin bersin, ingus encer dan
1

bening, dan gatal di hidung dan mata. Apabila tidak di terapi dapat menimbulkan
polip yang pada akhirnya dapat menyebabkan sinusitis.

SASARAN BELAJAR
LO. I Memahami dan menjelaskan Anatomi Saluran Pernafasan Atas
I.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopis Anatomi Saluran Pernafasan
Atas
I.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopis Anatomi Saluran Pernafasan
Atas
LO.II. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi pernafasan
LO.III. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis alergi
III.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Rhinitis alergi
III.2. Memahami dan Menjelaskan Etiologi Rhinitis alergi
III.3. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Rhinitis alergi
III.4. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Rhinitis alergi
III.5. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Rhinitis alergi
III.6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Rhinitis alergi
III.7. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Banding Rhinitis alergi
III.8. Memahami dan Menjelaskan komplikasi Rhinitis alergi
III.9. Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Rhinitis alergi
III.10. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Rhinitis alergi
III.11. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Rhinitis alergi
LO.IV. Memahami dan Menjelaskan Menjaga saluran nafas dalam islam

LO. I Memahami dan menjelaskan Anatomi Saluran Pernafasan Atas


I.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopis Anatomi Saluran Pernafasan
Atas
Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama:
Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus,
bronkiolus dan bronkiolus terminalis.
Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, saccus
alveolaris dan alveolus.

A. HIDUNG

Mempunyai 2 buah nares anterior = aperture nasalis anterior = lubang hidung


= nostril

Vestibulum nasi adalah bagian depan rongga hidung, tempat muara nares
anterior. Pada mucusa hidung, terdapat silia yang kasar untuk penyaring
udara

Rangka hidung terdiri dari bagian luar dibentuk oleh tulang-tulang : os nasal,
processus frontalis os maxillaris

Bagian dalam rongga hidung yang berbentuk terowongan disebut dengan


cavum nasi (mulai dari nares anterior sampai ke nares posterior, yang dikenal
dengan choanae)

Cavum nasi (rongga hidung) mempunyai : dasar, atap, dinding lateral dan
medial
4

Dasar = dibentuk oleh processus palatinus os maxilla dan lamina horizontal


os palatinus
Atap = dibentuk oleh os frontale dan os nasal, bagian tengah oleh lamina
cribrosa os ethmoidalis
Dinding = bagian lateral oleh tonjolan tulang conchae nasalis (superior,
media, inferior). Diantaranya ada saluran yang dinamakan meatus nasalis
(superior, media, inferior)

Sekat Antara kedua rongga hidung dibatasi oleh dinding yang berasal dari
tulang dan mucusa disebut septum nasi, yang dibentuk oleh tulang-tulang :
cartilage septi nasi, os vomer, lamina perpendicularis os ethmoidalis

Persarafan hidung
a. Persarafan sensorik dan sekremotorik hidung :
1. Bagian depan dan atas cavum nasi mendapat persarafan sensoris dari
N.nasalis, N.ethmoidalis anterior semuanya cabang N.opthalmicus
(N.V1)
2. Bagian bawah belakang termasuk mucusa conchae nasalis depan
dipersarafi oleh rami nasalis posterior (cabang dari
N.maxillaris/N.V2)
3. Daerah nasopharynx dan conchae nasalis belakang mendapat
persarafan sensorik dari cabang ganglion pterygolapatinum
b. Nervus olfactorius (N.I)

Perdarahan hidung
a. Berasal dari a.carotis interna dan a. carotis externa
b. A. carotis interna mempercabangkan arteria opthalmica, selanjutnya
bercabang lagi menjadi :
1. Arteria ethmoidalis anterior dengan cabang-cabang : a.nasalis
externa, lateralis, a.septalis anterior
2. Arteria athmoidalis posterior, selanjutnya bercabang lagi menjadi
a.nasalis posterios, a. nasalis posterior, lateral dan septal, a.palatinus
majus
c. A.carotis externa mempercabangkan dari a.maxillaris ke
A.spenopalatinum
d. Ketika pembuluh darah diatas pada mukosa hidungmembentuk anyaman
kapiler pembuluh darah yang dinamakan plexis kisselbach (mudah pecah
oleh trauma/infeksi sehingga sering menjadi sumber epitaxis (perdarahan
hidung terutama pada anak

B. SINUS PARANASALIS

Adalah sinus-sinus atau rongga-rongga yang berhubungan dengan cavum


nasi. Ada 4 macam, yaitu :
5

i.

Sinus sphenoidalis (2 buah) : mengeluarkan sekresinya melalu recessus


sphenoethmoidalis keluar pada meatus superior

ii.

Sinus frontalis : ke meatus media

iii.

Sinus ethmoidalis : ke meatus superior dan media

iv.

Sinus Maxillaris : ke meatus media, berbentuk pyramid terapat dalam


corpus maxillare di belakang pipi (os zygomaticum), dasar sinus
berhubungan dengan akar gigi premolar dan molar

Sinus-sinus di atas dilapisi oleh mucoperiosteum dan terisi udara yang


berfungsi sebagai resonator suara dan sekresi sinus dialirkan pada cavum
nasi dan bila aliran tersumbat maka sinus berisi cairan dapat merubah
kualitas suara

Pada sudut mata medial terdapat hubungan hidung dan mata melalui ductus
nasolacrimalis tempat keluarnya air mata ke hidung melalui meatus inferior

Pada nasofaring terdapat hubungan hidung dengan rongga telinga melalui


OPTA

C. NASOPHARYNX

Adalah daerah yang terletak di belakang choanae / nares posterior dapat


dicari dengan memakai Rhinoscopy posterior :

i.

Tonsilla pharyngealis terletak di bagian atas

ii.

Bagian ujung belakang conchae nasalis

iii.

Torus tubarius daerah yang menonjol osteum pharyngeum tuba

iv.

Osteum pharyngeum tuba auditiva (lubang yang menghubungkan hidung


dengan bagian dalam telinga)

D. LARYNX

Adalah organ yang berperan sebagai sphincter pelindung pada system


respirasi dan berperan dalam pembentukan suara. Terletak setinggi vertebrae
cervicalis 4,5 dan 6, di bawah lidah dan tulang os hyoid (batas dagu dan
leher), dibagian depan terdapat otot-otot dan bagian lateral ditutupi kelenjar
tiroid. Daerah ini dimulai dari aditus larynges sampai batas bawah cartilage
cricoid

Rangka larynx dibentuk oleh : tulang (1 buah os hyoid) dan cartilage (1buah
thyroid, 2buah arytenoid, 1buah epiglottis) yang dihubungkan oleh
membrane dan ligamentum serta digerakkan oleh otot-otot larynx

Pada arytenoid di bagian ujung terdapat tulang rawan kecil yaitu, cartilage
corniculata dan cuneiforme (Sepasang), cricoid (1buah) bentuk cincin bagian
terbawah dari larynx

Larynx merupakan ruang yang berbentuk rongga disebut dengan cavitas


larynges. Pada bagian atas disebut sebagai pintu larynx yang dikenal dengan
aditus larynges dan bagian bawah lebih kecil dan terbentuk oleh cartilage
cricoid yang berbentuk lingkaran

Cavitas larynges terbagi dalam 3 bagian :

I.

Vestibulum larynges : dari aditus sampai plica vestibularis

II.

Daerah tengah : dari plica vestibularis sampai setinggi vocalis

III.

Daerah bawah : dari plica vocalis sampai ke pnggir bawah cartilage


cricoid

Fossa piriformis adlaah recessus yang terdapat di Antara kedua sisi lipatan
dan aditus larynges, yang dibatasi oleh plica aryepiglotica di medial dan
cartilage tiroid sebelah lateral

Sinus laringis (ventriculus laringis) adalah ruang yang terdapat di Antara


plica vestibularis dan plica vocalis

Os hyoid (1buah)
a. Terbentuk dari jaringan tulang
b. Mempunyai 2 cornu (cornu majus dan minus)
7

c. Dapat diraba pada batas Antara leher atas dengan pertengahan dagu
d. Berfungsi tempat perlekatan otot mulut dan cartilage thyroid

Cartilage thyroid (1buah)


a. Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolah yang dikenal dengan
prominens larynges
b. Melekat ke atas dengan os hyoid dan ke bawah dengan cartilage cricoid,
ke belakang dengan arytenoid
c. Jaringan ikatnya adalah membrane thyrohyoid
d. Mempunyai cornu superior dan inferior
e. Pendarahan dari a.thyroidea superior dan inferior

Cartilage arytenoid (2buah)


a. Terletak posterior dari lamina cartilage thyroid dan diatas cartilage
cricoid
b. Mempunyai bentuk seperti burung penguin, ada cartilage corniculata dan
cuneiforme
c. Kedua arythenoid dihubungkan oleh m.arythenoideus transversus

Epiglottis
a. Tulang rawan berbentuk sendok, yang terletak di bawah radix lingue
b. Tangkainya melekat pada cartilage thyroid di Antara kedua cartilage
arythenoid
c. Berfungsi membuka dan menutup aditus larynges
d. Mempunyai lipatan plica epiglotica mediana dan lateralis, lekukkan di
sisi kiri dan kanan disebut sebagai vallecula
e. Berhubungan dengan cartilage arythenoid melalui m.aryeoiglotica
f. Pada waktu biasa epiglottis terbuka, tetapi pada waktu menelan epiglottis
menutup aditis larynges supaya makanan tidak masuk ke larynx

Cartilago cricoid
a. Batas bawah cartilage thyroid (daerah larynx)
b. Berhubungan dengan thyroid dengan ligamentum cricothyroid dan
m.cricothyroid medial lateral
c. Batas bawah adalah cincin pertama trachea
d. Berhubungan dengan cartilage arythenoid dengan m.cricoarytenoideus
posterior dan lateralis

I.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopis Anatomi Saluran Pernafasan


Atas

Ket: epitel respirasi

Rongga hidung
Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada
vestibulum di sekitar nares terdapat kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu
hidung). Epitel di dalam vestibulum merupakan epitel respirasi
sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang
dibagi dua oleh septum nasi pada garis medial, terdapat konka
(superior, media, inferior) pada masing-masing dinding lateralnya.
Konka media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan
konka superior ditutupi oleh epitel olfaktorius yang khusus untuk
fungsi menghidu/membaui. Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas sel
penyokong/sel sustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar dengan
dendrit yang melebar di permukaan epitel olfaktorius dan bersilia,
berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang bersinaps dengan
neuron olfaktorius otak), sel basal (berbentuk piramid) dan kelenjar
Bowman pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret
yang membersihkan silia sel olfaktorius sehingga memudahkan akses
neuron

untuk membaui zat-zat. Adanya

vibrisa, konka dan

vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udara


yang masuk mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan
sebelum masuk lebih jauh.

Ket: epitel olfaktori

Sinus paranasalis
Terdiri atas sinus frontalis, sinus maksilaris, sinus ethmoidales dan
sinus sphenoid, semuanya berhubungan langsung dengan rongga
hidung. Sinus-sinus tersebut dilapisi oleh epitel respirasi yang lebih
tipis dan mengandung sel goblet yang lebih sedikit serta lamina propria
yang mengandung sedikit kelenjar kecil penghasil mukus yang
menyatu dengan periosteum. Aktivitas silia mendorong mukus ke

rongga hidung.
Faring
Nasofaring dilapisi oleh epitel respirasi pada bagian yang berkontak
dengan palatum mole, sedangkan orofaring dilapisi epitel tipe

skuamosa/gepeng.
Laring
Laring merupakan bagian yang menghubungkan faring dengan trakea.
Pada lamina propria laring terdapat tulang rawan hialin dan elastin
yang berfungsi sebagai katup yang mencegah masuknya makanan dan
sebagai alat penghasil suara pada fungsi fonasi. Epiglotis merupakan
juluran dari tepian laring, meluas ke faring dan memiliki permukaan
lingual dan laringeal. Bagian lingual dan apikal epiglotis ditutupi oleh
epitel gepeng berlapis, sedangkan permukaan laringeal ditutupi oleh
epitel respirasi bertingkat bersilindris bersilia. Di bawah epitel terdapat
kelenjar campuran mukosa dan serosa.
Di bawah epiglotis, mukosanya membentuk dua lipatan yang meluas
ke dalam lumen laring: pasangan lipatan atas membentuk pita suara
palsu (plika vestibularis) yang terdiri dari epitel respirasi dan kelenjar
10

serosa, serta di lipatan bawah membentuk pita suara sejati yang terdiri
dari epitel berlapis gepeng, ligamentum vokalis (serat elastin) dan
muskulus vokalis (otot rangka). Otot muskulus vokalis akan membantu
terbentuknya suara dengan frekuensi yang berbeda-beda.

LO.II. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi pernafasan


Proses pernapasan dibagi menjadi 2,yaitu:
1 Pernapasan luar (eksternal)
Dimana terjadi penyerapan O2 dan pengeluaran CO2 dari tubuh secara
keseluruhan.
2

Pernapasan dalam (internal)


Akan terjadi penggunaan O2 dan pembentukan CO2 oleh sel-sel serta pertukaran
gas antara sel-sel tubuh dengan media cair sekitarnya.

Fungsi pernapasan
Mengeluarkan air dan panas dari tubuh
Proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dalam paru
Meningkatkan aliran balik vena
Mengeluarkan dan memodifikasikan prostaglandin
A Mekanisme pernapasan berdasarkan anatomi
Pada waktu inspirasi udara masuk melalui kedua nares anterior vestibulum
nasi cavum nasi lalu udara akan keluar dari cavum nasi menuju nares posterior
(choanae) masuk ke nasopharynx,masuk ke oropharynx (epiglottis membuka
aditus laryngis) daerah larynx trakea.masuk ke bronchus primer bronchus
sekunder bronchiolus segmentalis (tersier) bronchiolus terminalis melalui
bronchiolus respiratorius masuk ke organ paru ductus alveolaris alveoli.pada
saat di alveoli terjadi pertukaran CO2 (yang dibawa A.pulmonalis)lalu keluar paru dan
O2 masuk kedalam vena pulmonalis.lalu masuk ke atrium sinistra ventrikel sinistra
dipompakan melalui aorta ascendens masuk sirkulasi sistemik oksigen (O2)
di distribusikan keseluruh sel dan jaringan seluruh tubuh melalui respirasi
internal,selanjutnya CO2 kembali ke jantung kanan melalui kapiler / vena
dipompakan ke paru dan dengan ekspirasi CO2 keluar bebas.
B Mekanisme pernapasan berdasarkan fisiologinya
Inspirasi merupakan proses aktif ,akan terjadi kontraksi otot otot ,inspirasi
akan meningkatkan volume intratorakal,tekanan intrapleura di bagian basis paru akan
turun dari normal sekitar -2,5 mm Hg (relatif terhadap tekanan atmosfer) pada awal
inspirasi menjadi 6 mm Hg.jaringan paru semangkin tegang ,tekanan di dalam
saluran udara menjadi sedikit lebih negatif dan udara mengalir kedalam paru.pada
akhir inspirasi daya rekoil paru mulai menarik dinding dada kembali ke kedudukan
ekspirasi ,sampai tercapai keseimbangan kembali antara daya rekoil jaringan paru dan
11

dinding dada.tekanan didalam saluran udara menjadi sedikit positif dan udara
mengalir meninggalkan paru,selama pernapasan tenang,ekspirasi merupakan proses
pasif yang tidak memerlukan kontraksi otot untuk menurunkan volume
inratorakal,namun pada awal ekspirasi masih terdapat kontraksi ringan otot
inspirasi,kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya rekoil paru dan memperlambat
ekspirasi.
C Menjelaskan mekanisme / proses batuk dan bersin
Batuk diawali dengan inspirasi dalam dan diikuti oleh ekspirasi kuat melawan glotis
yang tertutup,hal ini meningkatkan tekanan intrapleura mencapai 100 mm Hg /
lebih,glotis terbuka secara tiba-tiba mengakibatkan ledakan aliran udara ke luar
dengan kecepatan mencapai 965 km(600 mil) / jam.bersin merupakan hal yang serupa
dengan glotis yang terus terbuka ,kedua reflex ini membantu pengeluaran iritan dan
menjaga saluran udara tetap bersin.
LO.III. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis alergi
III.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Rhinitis alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi
pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang
samaserta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan
alergen spesifik tersebut (von Pirquet, 1986). Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis
and its Impact on Asthma,2001), rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan
gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar
alergen yang diperantarai oleh IgE.

III.2. Memahami dan Menjelaskan Etiologi Rhinitis alergi


a. Rinitis Alergi
Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang
secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara
jelas memiliki peran penting. Pada 20 30 % semua populasi dan pada 10 15 %
anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali
lebih besar atau mencapai 50 %. Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu
alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun
yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi.

Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama
udara pernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur,
serbuk sari, dan lain-lain.

b. Rinitis Nonalergi
12

1. Rinitis vasomotor
Keseimbangn vasomotor ini dipengaruhi berbagai hal :
a) Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis, seperti:
ergotamin, klorpromazin, obat antihipertensi, dan obat vasokontriktor lokal.
b) Faktor fisik, seperti iritasi asap rokok, udara dingin, kelembapan udara yang
tinggi, dan bau yang merangsang
c) Faktor endokrin, seperti : kehamilan, pubertas, dan hipotiroidisme
d) Faktor psikis, seperti : cemas dan tegang ( kapita selekta)

2. Rinitis Medikamentosa
Rinitis Medikamentosa merupakan akibat pemakaian vasokonstriktor topical (obat
tetes hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang menetap. Dapat dikatakan hal ini disebabkan
oleh pemakaian obat yang berlebihan (Drug Abuse).

3. Rinitis Atrofi
Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh
kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang sering Klebsiella ozanae, kemudian
stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin A,
sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin berhubungan
dengan trauma atau terapi radiasi.

III.3. Memahami dan Menjelaskan klasifikasi Rhinitis alergi


a.
Rhinitis Seasonal (hay fever) : alergi yang terjadi karena menghirup alergen
yang terdapat secara musiman, seperti serbuk sari bunga
b.
Rhinitis Perrenial : alergi yang terjadi tanpa tergantung musim, hampir
sepanjang hari dalam setahun, misalnya alergi, debu, bulu binatang, jamur, dan lainlain. Dan umumnya menyebabkan gejala kronis yang lebih ringan. Alergennya
umumnya diperoleh dari dalam rumah
c.
Rhinitis Occupational : alergi sebagai akibat paparan alergen tempat kerja,
misalnya paparan terhadap agen dengan bobot molekul tinggi, agen berbobot molekul
rendah atau zat-zat iritan, melalui mekanisme imunologi yang tidak begitu diketahui
III.4. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Rhinitis alergi
Rhinitis alergi melibatkan radang selaput lendir hidung, mata, tabung
eustachius, telinga tengah, sinus, dan faring. Hidung selalu terlibat, dan organ-organ
lain yang terpengaruh pada individu tertentu. Radang selaput lendir ditandai dengan
13

interaksi yang kompleks dari mediator inflamasi tetapi akhirnya dipicu oleh
imunoglobulin E respon (IgE)-dimediasi ke protein ekstrinsik.
Kecenderungan untuk mengembangkan alergi, atau IgE-mediated, reaksi
terhadap alergen ekstrinsik (protein yang dapat menyebabkan reaksi alergi) memiliki
komponen genetik. Pada individu yang rentan, pajanan terhadap protein asing tertentu
menyebabkan sensitisasi alergi, yang ditandai oleh produksi IgE spesifik diarahkan
terhadap protein ini. Ini khusus mantel IgE permukaan sel mast, yang hadir dalam
mukosa hidung. Ketika protein tertentu (misalnya, butiran serbuk sari tertentu) yang
dihirup ke dalam hidung, dapat mengikat IgE pada sel mast, menyebabkan
pembebasan segera dan tertunda dari sejumlah mediator.
Para mediator yang segera dirilis termasuk histamin, tryptase, chymase,
kinins, dan heparin. Sel-sel mast cepat mensintesis mediator lain, termasuk leukotrien
dan prostaglandin D2. Mediator ini, melalui berbagai interaksi , akhirnya mengarah
pada gejala Rhinorrhea (yaitu, hidung tersumbat, bersin, gatal, kemerahan, merobek,
bengkak, tekanan telinga, postnasal drip). Kelenjar mukosa distimulasi, menyebabkan
peningkatan sekresi. Permeabilitas pembuluh darah meningkat, menyebabkan
eksudasi plasma. Vasodilatasi terjadi, menyebabkan kemacetan dan tekanan. Saraf
sensorik distimulasi, menyebabkan bersin dan gatal-gatal. Semua peristiwa ini dapat
terjadi dalam hitungan menit, maka, reaksi ini disebut awal, atau langsung, fase
reaksi. Lebih dari 4-8 jam, mediator ini, melalui interaksi yang rumit dari peristiwa,
mengarah pada perekrutan sel inflamasi lain untuk mukosa, seperti neutrofil,
eosinofil, limfosit, dan makrofag. Ini hasil dalam peradangan lanjutan, disebut respon
fase akhir. Gejala-gejala respon akhir-fase yang mirip dengan fase awal, tetapi kurang
bersin dan gatal-gatal dan kemacetan lebih dan produksi lendir cenderung terjadi.
Tahap akhir dapat bertahan selama berjam-jam atau berhari-hari. Efek sistemik,
termasuk kelelahan, mengantuk, dan malaise, dapat terjadi dari respon inflamasi.
Gejala ini sering menyebabkan gangguan kualitas hidup.

14

III.5. Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Rhinitis alergi


a. Bersin
b. Gatal: Hidung, mata, telinga, mata, langit-langit
c. rhinorrhea
d. postnasal drip
e. Kemacetan
f. anosmia
g. sakit kepala
h. sakit telinga
i. Tearing
j. Mata merah
k. pembengkakan
l. Kelelahan
m. Mengantuk
n. Malaise
III.6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Rhinitis alergi
Anamnesis
Rhinitis alergi dapat ditegakan apabila 2 atau lebih gejala seperti bersin-bersin lebih 5
kali setiap serangan, hidung dan mata gatal, ingus encer lebih dari satu jam, hidung
tersumbat dan mata merah serta berair maka dinyatakan positif.
Pemeriksaan Fisik
Pada muka di dapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic shiner serta allergic crease
yaitu berupa garis melintang pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Dengan
rinoskopi ditemukan permukaan hidung basah, berwarna pucat atau livid dengan
chonca edema dengan sekret yang encer dan banyak. Polip hidung dapat memperberat
gejala hidung tersumbat. Dapat pula ditemukan konjungtivitis bilateral atau penyakit
yang berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media.
3.

Pemeriksaan Penunjang

a.

In vitro

Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat. Demikian pula
pemeriksaanIgE total ( prist-paper radio imunosorbent test ) sering kali menunjukkan
nilai normal, kecualibila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit,
misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Lebih
bermakna adalah dengan RAST ( Radio Immuno Sorbent Test ) atau ELISA ( Enzyme
15

Linked Immuno Sorbent Assay Test ).Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak
dapat memastikan diagnosis, tetap bergunasebagai pemeriksaan pelengkap.
Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkankemungkinan alergi
inhalan. Jika basofil (5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan,sedangkan jika
ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri (Irawati, 2002).

b.

In vivo

Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit, uji intrakutan
atauintradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration /SET). SET
dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai
konsentrasi yang bertingkatkepekatannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab
juga derajat alergi serta dosisinisial untuk desensitisasi dapat diketahui (Sumarman,
2000). Untuk alergi makanan, uji kulitseperti tersebut diatas kurang dapat diandalkan.
Diagnosis biasanya ditegakkan dengan dieteliminasi dan provokasi (Challenge Test
). Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuhdalam waktu lima hari. Karena itu
pada Challenge Test , makanan yang dicurigai diberikanpada pasien setelah
berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada dieteliminasi, jenis
makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketikagejala
menghilang denganmeniadakan suatu jenis makanan

c.

Uji kulit cukit (Skin Prick Test)

Tes ini mudah dilakukan untuk mengetahui jenis alergen penyebab alergi.
Pemeriksaan ini dapat ditoleransi oleh sebagian penderita termasuk anak-anak. Tes ini
mempunyai sensitifitas dan spesifisitas tinggi terhadap hasil pemeriksaan IgE spesifik.
Akan lebih ideal jika bisa dilakukan Intradermal Test atau Skin End Point Titration
Test bila fasilitas tersedia.

d.

IgE serum total.

Kadar meningkat hanya didapati pada 60% penderita rinitis alergi dan 75% penderita
asma. Kadar IgE normal tidak menyingkirkan rinitis alergi. Kadar dapat meningkat
pada infeksi parasit, penyakit kulit dan menurun pada imunodefisiensi. Pemeriksaan
ini masih dipakai sebagai pemeriksaan penyaring tetapi tidak untuk diagnostik.

e.

IgE serum spesifik.

Pemeriksaan ini dilakukan apabila pemeriksaan penunjang diagnosis rinitis alergi


seperti tes kulit cukit selalu menghasilkan hasil negatif tapi dengan gejala klinis yang
positif. Sejak ditemukan teknik RAST (Radioallergosorbent test) pada tahun 1967,
teknik pemeriksaan IgE serum spesifik disempurnakan dan komputerisasi sehingga
pemeriksaan menjadi lebih efektif dan sensitif tanpa kehilangan spesifisitasnya,
16

seperti Phadebas RAST, Modified RAST, Pharmacia CAP system dan lain-lain.
Waktu pemeriksaan lebih singkat dari 2-3 hari menjadi kurang dari 3 jam saja.

f.

Pemeriksaan sitologis atau histologis,

Bila diperlukan untuk menindaklanjuti respon terhadap terapi atau melihat perubahan
morfologik dari mukosa hidung.

g.

Tes provokasi hidung (Nasal Challenge Test).

Dilakukan bila ada keraguan dan kesulitan dalam mendiagnosis rinitis alergi, dimana
riwayat rinitis alergi positif, tetapi hasil tes alergi selalu negatif.

h.

Foto polos sinus paranasal/CT Scan/MRi.

Dilakukan bila ada indikasi keterlibatan sinus paranasal, seperti adakah komplikasi
rinosinusitis, menilai respon terhadap terapi dan jika direncanakan tindakan operasi.
III.7. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Banding Rhinitis alergi
Rhinitis Vasomotor : suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi,
alergi, eosinofilia, perubahan hormonal dan pajanan obat.
Rhinitis Medikamentosa : suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal
vasomotor yang diakibatkan oleh pemakaian vasokonstriktor topikal dalam waktu
lama dan berlebihan sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap.
Rhinitis Simpleks : penyakit yang diakibatkan oleh virus. Biasanya adalah rhinovirus.
Sangat menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan atau
menurunnya daya tahan tubuh.
Rhinitis Hipertrofi :Hipertrofi chonca karena proses inflamasi kronis yang disebabkan
oleh bakteri primer atau sekunder.
Rhinitis Atrofi : Infeksi hidung kronik yang ditandai adanya atrofi progresif pada
mukosa dan tulang chonca.
III.8. Memahami dan Menjelaskan komplikasi Rhinitis alergi
Polip Hidung : Inspisited mucous gland, akumulasi sel-sel inflamasi yang banyak,
hiperplasia epitel, hiperplasia sel goblet, dan metaplasia skuamosa.
Otitis media : terutama pada anak-anak
Sinusitis paranasal : Inflamasi mukosa satu atau lebih sinus paranasal akibat edema
ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan sumbatan ostia
sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal tersebut
17

menyuburkan pertumbuhan bakteri aerob yang akan menyebabkan rusaknya fungsi


barier epitel.
III.9. Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Rhinitis alergi
NON FARMAKO
Pengelolaan rhinitis alergi terdiri dari 3 kategori utama dari pengobatan, (1) langkahlangkah pengendalian lingkungan dan menghindari alergen, (2) manajemen
farmakologis, dan (3) imunoterapi.
1. Langkah-langkah Pengendalian Lingkungan dan Menghindari Alergen
i.
Menghindari pencetus (alergen). Amati benda-benda apa yang menjadi
pencetus(debu, serbuk sari, bulu binatang, dll)
ii.
Jika perlu, pastikan dengan skin test
iii.
Jaga kebersihan rumah, jendela ditutup, hindari kegiatan berkebun. Jika
harus berkebun, gunakan masker wajah
2. Menggunakan obat untuk mengurangi gejala
i.
Antihistamin
ii.
Dekongestan
iii.
Kortikosteroid nasal
iv. Sodium kromolin
v. Ipratropium bromida
vi.
Leukotriene antagonis
3. Imunoterapi
Imunoterapi dengan alergen spesifik digunakan bila upaya penghindaran alergen dan
terapi medikamentosa gagal dalam mengatasi gejala klinis rinitis alergi. Terdapat
beberapa cara pemberian imunoterapi seperti injeksi subkutan, pernasal, sub lingual,
oral dan lokal. Pemberian imunoterapi dengan menggunakan ekstrak alergen standar
selama 3 tahun, terbukti memiliki efek preventif pada anak penderita asma yang
disertai seasonal rhinoconjunctivitis mencapai 7 tahun setelah imunoterapi dihentikan

FARMAKO
1. ANTIHISTAMIN
Suatu zat atau obat untuk menekan reaksi histamin sebagai faktor alergen bagi
tubuh. Mekanisme :
i.
Menahan aktifitas sel mast untuk tidak mengalami degranulasi
ii.
Terdapat 2 blocker : AH1 dan AH2
Antihistamin 1
i.
Farmakodinamik :
Antagonis kompetitif pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam
otot polos. Selain itu AH1 bermanfaat untuk mengobati reaksi hipersensitivitas
atau keadaan lain yang disertai pengelepasan histamin endogen berlebihan.
ii.

Farmakokinetik :
Setelah pemberian oral atau parenteral, AH1 diabsorpsi secara baik. Kadar
tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan
kulit kadarnya lebih rendah. Tempat utama biotransformasi AH1 adalah hati.
18

iii.

Penggolongan AH1
a. AH generasi 1

Contoh : etanolamin,Etilenedamin,Piperazin ,Alkilamin ,Derivat fenotiazin

Keterangan : sedasi ringan-berat, antimietik dan komposisi obat flu,


antimotion sickness

Indikasi AH1 berguna untuk penyakit : Alergi, Mabuk perjalanan, Anastesi


lokal, Untuk asma berbagai profilaksis
Efek samping

Vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, insomnia, tremor, mulut kering,


disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat, lemah pada tangan.
b. Antihistamin golongan 1 lini pertama

Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan


secara peroral.

Bersifat lipofilik, dapat menembus sawar darah otak, mempunyai efek pada
SSP dan plasenta.

Kolinergik

Sedatif : Oral (difenhidramin, klorfeniramin, prometasin, siproheptadin) dan


Topikal (Azelastin)

Antagonis Reseptor H2 (AH2)


Contoh : simetidin dan ranitidine
Farmakodinamik : Menghambat reseptor H2 secara selektif dan reversibel.
Perangsangan reseptor H2 akan merangsang sekresi asam lambung, sehingga pada
pemberian simetidin atau ranitidin sekresi asam lambung dihambat.
Farmakokinetik
a) Bioavibilitas oral simetidin sekitar 70%, sama dengan setelah pemberian
intravena atau intramuskular. Ikatan absorpsi simetidin diperlambat oleh
makanan, sehingga simetidin diberikan segera setelah makan.
b) Bioavibilitas ranitidin yang diberikan secara oral sekitar 50% dan meningkat
pada pasien penyakit hati.
Indikasi : efektif untuk mengatasi gejala tukak duodenum.
Efek samping : pusing, mual, malaise, libido turun, disfungsi seksual.

2. DEKONGESTAN
Dekongestan nasal adalah alfa agonis yang banyak digunakan pada pasien
rinitis alergika atau rinitis vasomotor dan pada pasien ISPA dengan rinitis akut. Obat
ini menyebabkan venokonstriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor alfa 1
sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demikian mengurangi
penyumbatan hidung.
Obat golongan ini disebut obat adrenergik atau obat simptomimetik, karena
obat ini merangsang saraf simpatis. Kerja obat ini digolongkan 7 jenis :
19

1. Perangsangan organ perifer : otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa, misal :
vasokontriksi mukosa hidung sehingga menghilangkan pembengkakan mukosa
pada konka.
2. Penghambatan organ perifer : otot polos usus dan bronkus, misal : bronkodilatasi.
3. Perangsangan jantung : peningkatan denyut jantung dan kekuatan kontraksi.
4. Perangsangan Sistem Saraf Pusat : perangsangan pernapasan dan aktivitas
psikomotor.
5. Efek metabolik : peningkatan glikogenolisis dan lipolisis.
6. Efe endokrin : modulasi sekresi insulin, renin, dan hormon hipofisis.
7. Efek prasipnatik : peningkatan pelepasan neurotransmiter.
A. Obat Dekongestan Oral
i.
Efedrin
Adalah alkaloid yang terdapat dalam tumbuhan efedra. Efektif pada
pemberian oral, masa kerja panjang, efek sentralnya kuat. Bekerja pada
reseptor alfa, beta 1 dan beta 2.
Efek kardiovaskular : tekanan sistolik dan diastolik meningkat, tekanan nadi
membesar. Terjadi peningkatan tekanan darah karena vasokontriksi dan
stimulasi jantung. Terjadi bronkorelaksasi yang relatif lama.
Efek sentral : insomnia, sering terjadi pada pengobatan kronik yanf dapat
diatasi dengan pemberian sedatif.
Dosis.
Dewasa
: 60 mg/4-6 jam
Anak-anak 6-12 tahun
: 30 mg/4-6 jam
Anak-anak 2-5 tahun
: 15 mg/4-6 jam
ii.
Fenilpropanolamin
Dekongestan nasal yang efektif pada pemberian oral. Selain
menimbulkan konstriksi pembuluh darah mukosa hidung, juga menimbulkan
konstriksi pembuluh darah lain sehingga dapat meningkatkan tekanan darah
dan menimbulkan stimulasi jantung.
Efek farmakodinamiknya menyerupai efedrin tapi kurang
menimbulkan efek SSP. Harus digunakan sangat hati-hati pada pasien
hipertensi dan pada pria dengan hipertrofi prostat. Kombinasi obat ini dengan
penghambat MAO adalah kontraindikasi. Obat ini jika digunakan dalam
dosis besar (>75 mg/hari) pada orang yang obesitas akan meningkatkan
kejadian stroke, sehingga hanya boleh digunakan dalam dosis maksimal 75
mg/hari sebagai dekongestan.
Dosis.
Dewasa
: 25 mg/4 jam
Anak-anak 6-12 tahun
: 12,5 mg/4 jam
Anak-anak 2-5 tahun : 6,25 mg/4 jam
iii.

Fenilefrin
Adalah agonis selektif reseptor alfa 1 dan hanya sedikit mempengaruhi
reseptor beta. Hanya sedikit mempengaruhi jantung secara langsung dan
tidak merelaksasi bronkus. Menyebabkan konstriksi pembuluh darah kulit
dan daerah splanknikus sehingga menaikkan tekanan darah.

B. Obat Dekongestan Topikal


Derivat imidazolin (nafazolin, tetrahidrozolin, oksimetazolin, dan
xilometazolin).
Dalam bentuk spray atau inhalan. Terutama untuk rinitis akut, karena tempat
kerjanya lebih selektif. Tapi jika digunakan secara berlebihan akan menimbulkan
penyumbatan berlebihan disebut rebound congestion. Bila terlalu banyak
terabsorpsi dapat menimbulkan depresi Sistem Saraf Pusat dengan akibatkoma
20

dan penurunan suhu tubuh yang hebat, terutama pada bayi. Maka tidak boleh
diberikan pada bayi dan anak kecil.

3. KORTIKOSTEROID INHALASI
Kortikosteroid terdapat dalam beberapa bentuk sediaan antara lain oral, parenteral,
dan inhalasi. Ditemukannya kortikosteroid yang larut lemak (lipid-soluble) seperti
beclomethasone, budesonide, flunisolide, fluticasone, and triamcinolone,
memungkinkan untuk mengantarkan kortikosteroid ini ke saluran pernafasan dengan
absorbsi sistemik yang minim. Pemberian kortikosteroid secara inhalasi memiliki
keuntungan yaitu diberikan dalam dosis kecil secara langsung ke saluran pernafasan
(efek lokal), sehingga tidak menimbulkan efek samping sistemik yang serius.
Biasanya, jika penggunaan secara inhalasi tidak mencukupi barulah kortikosteroid
diberikan secara oral, atau diberikan bersama dengan obat lain (kombinasi, misalnya
dengan bronkodilator). Kortikosteroid inhalasi tidak dapat menyembuhkan asma.
Pada kebanyakan pasien, asma akan kembali kambuh beberapa minggu setelah
berhenti menggunakan kortikosteroid inhalasi, walaupun pasien telah menggunakan
kortikosteroid inhalasi dengan dosis tinggi selama 2 tahun atau lebih. Kortikosteroid
inhalasi tunggal juga tidak efektif untuk pertolongan pertama pada serangan akut yang
parah.
Berikut ini contoh kortikosteroid inhalasi yang tersedia di Indonesia antara lain:
Nama generik

Nama dagang diBentuk SediaanDosis dan Aturan


Indonesia
pakai
Beclomethasone Becloment
Inhalasi aerosolInhalasi
aerosol:
dipropionate
(beclomethasone
200g , 2 kali
dipropionate 200g/
seharianak: 50-100
dosis)
g 2 kali sehari
Budesonide
Pulmicort
Inhalasi
Inhalasi
aerosol:
(budesonide
aerosolSerbuk 200 g, 2 kali
inhalasi
sehariSerbuk
inhalasi: 200-1600
100 g, 200 g, 400
g / hari dalam
g / dosis)
dosis terbagianak:
200-800 g/ hari
dalam dosis terbagi
Fluticasone
Flixotide (flutikasonInhalasi aerosolDewasa dan anak >
propionate50 g ,
16 tahun: 100-250
125 g /dosis)
g,
2
kali
sehariAnak
4-16
tahun; 50-100 g, 2
kali sehari

21

Dosis untuk masing-masing individu pasien dapat berbeda, sehingga harus


dikonsultasikan lebih lanjut dengan dokter, dan jangan menghentikan penggunaan
kortikosteroid secara langsung, harus secara bertahap dengan pengurangan dosis.

MEKANISME AKSI
Kortikosteroid bekerja dengan memblok enzim fosfolipase-A2, sehingga
menghambat pembentukan mediator peradangan seperti prostaglandin dan
leukotrien. Selain itu berfungsi mengurangi sekresi mukus dan menghambat
proses peradangan. Kortikosteroid tidak dapat merelaksasi otot polos jalan nafas
secara langsung tetapi dengan jalan mengurangi reaktifitas otot polos disekitar
saluran nafas, meningkatkan sirkulasi jalan nafas, dan mengurangi frekuensi
keparahan asma jika digunakan secara teratur.

INDIKASI
Kortikosteroid inhalasi secara teratur digunakan untuk mengontrol dan mencegah
gejala asma.

KONTRAINDIKASI
Kontraindikasi bagi pasien yang hipersensitifitas terhadap kortikosteroid.

EFEK SAMPING
Efek samping kortikosteroid berkisar dari rendah, parah, sampai mematikan.
Hal ini tergantung dari rute, dosis, dan frekuensi pemberiannya. Efek samping
pada pemberian kortikosteroid oral lebih besar daripada pemberian inhalasi. Pada
pemberian secara oral dapat menimbulkan katarak, osteoporosis, menghambat
pertumbuhan, berefek pada susunan saraf pusat dan gangguan mental, serta
meningkatkan resiko terkena infeksi. Kortikosteroid inhalasi secara umum lebih
aman, karena efek samping yang timbul seringkali bersifat lokal seperti
candidiasis (infeksi karena jamur candida) di sekitar mulut, dysphonia (kesulitan
berbicara), sakit tenggorokan, iritasi tenggorokan, dan batuk. Efek samping ini
dapat dihindari dengan berkumur setelah menggunakan sediaan inhalasi. Efek
samping sistemik dapat terjadi pada penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis
tinggi yaitu pertumbuhan yang terhambat pada anak-anak, osteoporosis, dan
karatak.

RESIKO KHUSUS
Pada anak-anak, penggunaan kortikosteroid inhalasi dosis tinggi menunjukkan
pertumbuhan anak yang sedikit lambat, namun asma sendiri juga dapat menunda
pubertas, dan tidak ada bukti bahwa kortikosteriod inhalasi dapat mempengaruhi
tinggi badan orang dewasa.
22

Hindari penggunaan kortikosteroid pada ibu hamil, karena bersifat teratogenik.

III.10. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Rhinitis alergi


Rhinitis dapat dicegah dengan menghindari pemicu yang dapat menyebabkan
timbulnya gejala rhinitis, contohnya menghindari lingkungan yang berpolusi atau
terpapar asap rokok. Alergen seperti tungau debu sulit untuk dilihat dan bisa
berkembang biak bahkan di rumah yang sangat bersih, itu sebabnya sulit untuk
menghindarinya. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk
membantu menghindari alergen yang paling umum.

Tungau debu rumah


Tungau debu rumah adalah serangga mikroskopis yang berkembang biak di debu
rumah tangga dan merupakan salah satu penyebab utama alergi. Berikut ini adalah
beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membatasi jumlah tungau yang ada di dalam
rumah.

Bersihkan dengan cara mencuci atau menggunakan alat penyedot debu,


barang-barang seperti tirai, bantal, kain pelapis furnitur, dan boneka anak secara rutin.

Jangan mengelap permukaan barang dengan kain lap kering karena bisa
menyebarkan alergen, tapi gunakanlah kain lap bersih yang lembap untuk
membersihkan debu.

Gunakan selimut yang terbuat dari bahan akrilik dan bantal yang berbahan
sintetis.

Sebaiknya hindari penggunaan karpet untuk melapisi lantai, pilihlah bahan


vinil keras atau kayu.

Gunakan kerai gulung yang mudah untuk dibersihkan.

Fokuskan mengendalikan tungau debu di kamar tidur dan ruang tamu karena lebih
sering menghabiskan waktu di area tersebut.

Spora kapang
Spora kapang merupakan alergen yang dilepaskan oleh kapang yang tumbuh di luar
maupun di dalam rumah saat suhu meningkat secara tiba-tiba pada lingkungan yang
lembap.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah spora kapang, yaitu:

23


Jangan memasukkan pakaian terlalu padat atau pakaian yang lembap ke lemari
pakaian dan jangan menjemur pakaian di dalam ruangan tertutup.

Gunakan penyedot yang mengisap udara keluar dan buka jendela tapi pintu
harus selalu ditutup saat masak atau mandi agar udara yang lembap tidak menyebar ke
seluruh ruangan di dalam rumah.

Atasi masalah pengembunan dan kelembapan di dalam rumah.

Pastikan rumah memiliki ventilasi yang baik dan selalu menjaga rumah dalam
kondisi kering.

Hewan peliharaan
Reaksi alergi dapat terjadi jika Anda memiliki hewan peliharaan atau mengunjungi
rumah yang memiliki hewan peliharaan. Hal ini terjadi karena terpapar kelupasan
kulit mati hewan, kotoran dan urine kering, bukan karena bulu hewan peliharaan.

Sebaiknya tidak memelihara hewan peliharaan jika memiliki risiko terkena alergi. Di
bawah ini ada beberapa petunjuk yang mungkin bisa membantu mengatasinya.

Mandikan hewan peliharaan secara rutin, setidaknya dua pekan sekali.

Cuci semua perabotan yang lembut dan seprai yang telah dinaiki hewan
peliharaan.

Batasi hewan peliharaan di ruangan yang tidak memiliki karpet di dalamnya


atau sebisa mungkin jagalah agar tetap berada di luar ruangan.

Rawat dan sikat hewan peliharaan, seperti anjing atau kucing, secara rutin di
luar ruangan.

Jangan biarkan kamar tidur dimasuki oleh hewan peliharaan.

Minta teman atau kerabat untuk tidak menyedot debu atau menyapu rumah
pada hari itu jika mengunjungi rumah mereka yang memiliki hewan peliharaan karena
hal itu akan membuat alergen terbang ke udara. Untuk meredakan gejala, minumlah
antihistamin satu jam sebelum memasuki rumah yang memiliki hewan peliharaan.
III.11. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Rhinitis alergi
Prognosis baik jika penderita tidak terpajan dengan alergen dan belum
terjadi komplikasi serta tidak memiliki predisposisi seperti asma dan riwayat
keluarga.

24

LO.IV. Memahami dan Menjelaskan Menjaga saluran nafas dalam islam


Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau
bersabda,


Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Karenanya apabila


salah seorang dari kalian bersin lalu dia memuji Allah, maka kewajiban atas setiap
muslim yang mendengarnya untuk mentasymitnya (mengucapkan yarhamukallah).
Adapun menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari setan. Karenanya hendaklah
menahan menguap semampunya. Jika dia sampai mengucapkan haaah, maka setan
akan menertawainya. (HR. Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)
Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,

Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya
dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk. (HR. Muslim no. 2995)
Imam Ibnu Hajar berkata, Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan
benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu.
Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan
tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap
terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal
ini karena banyaknya makan. Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah,
sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fathul Baari, 10/607)
Hadits yang Membahas Mengenai Bersin
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau
bersabda,


Ababila salah seorang dari kalian bersin, hendaknya dia mengucapkan,


alhamdulillah sedangkan saudaranya atau temannya hendaklah mengucapkan,
yarhamukallah

(Semoga

Allah

merahmatimu).

Jika

saudaranya

berkata

yarhamukallah maka hendaknya dia berkata, yahdikumullah wa yushlih baalakum


25

(Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki hatimu). (HR. Bukhari no.
6224 dan Muslim no. 5033)
Dari Abu Musa Al-Asyari radhiallahu anhu, beliau berkata bahwa beliau mendengar
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Bila salah seorang dari kalian bersin lalu memuji Allah maka tasymitlah dia. Tapi
bila dia tidak memuji Allah, maka jangan kamu tasymit dia. (HR. Muslim no. 2992).
Tasymit adalah mengucapkan yarhamukallah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata:

Apabila Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersin, beliau menutup wajahnya dengan
tangan atau kainnya sambil merendahkan suaranya. (HR. Abu Daud no. 5029, AtTirmizi no. 2745, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami no.
4755)
Masya Allah, Sungguh luar biasa ajaran yang disampaikan oleh Nabi shallallahu
alaihi wa sallam mengenai adab ketika bersin dan menguap. Amalkanlah adab bersin
dan menguap sesuai hadits di atas agar memperoleh barokah.

DAFTAR PUSTAKA
Baratawidjaja, Kamen G, Iris Rengganis (2010). Imunologi Dasar. Edisi 9. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI
El-Bantanie, Muhammad Syafiie (2010). Dahsyatnya Terapi Wudhu. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama
Hardjodisastro, Daldiyono (2006). Menuju Seni Ilmu Kedokteran : Bagaimana Dokter
Berpikir, Bekerja, dan Menampilkan Diri. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Herawati, Sri, Rukmini, Sri (2000). Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung
Tenggorok : Untuk Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi. Jakarta : EGC
Kumala, Poppy [et.al] (1998). Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 25. Jakarta :
EGC

26

Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA (1996). Buku Ajar Histologi. Edisi 5. Jakarta :
EGC
Raden, Inmar (2011). Anatomi Kedokteran Sistem Kardiovaskular dan Sistem
Respiratorius.
Jakarta : Balai Penerbit FKUY
Sherwood, Lauralee (2001). Fisiologi Manusia : Dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta :
EGC
Seopardi, Efiaty Arsyad, Iskandar, Nurbaiti, Bashiruddin, [et.al] (2007). Buku Ajar
Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi 6. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI

27