Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KIMIA FISIKA-II

Nama/NIM
: Hesty Tyastanti/652003009
Kelompok
: A/II
Tgl. Praktikum : 1 Februari 2005
JUDUL

: Pengukuran Tetapan Pangionan Metil Merah secara Spektrofotometer

TUJUAN
1. Agar praktikan dapat menentukan spektrum absorbansi dari HMR dan MR - .
2. Agar praktikan dapat menguji Hukum Lambert-Beer.
3. Agar praktikan dapat menentukan tetapan pengionan Metil Merah.
4. Agar praktikan dapat menggunakan alat spektrofotometer dan Ph-meter.
PENDAHULUAN
Metil merah merupakan indikator (suatu zat yang berubah warna pada saat mulainya reaksi atau
berakhirnya suatu reaksi dan dapat menunjukkan tingkat keasaman atau kebasaan dari suatu larutan) asam-basa.
Dalam suasana asam (HMR) akan berwarna merah sedangkan pada suasana basa (MR -) akan berwarna kuning.
Reaksi ionisasi metil merah dapat dinyatakan dengan persamaan:
O=C

O=C

O-

CH3

O-

CH3
N

N=N

H +

CH3

N=N

CH3
H

HMR (aq) H+ (aq) + MR- (aq)


[ H ][ MR ]
Dengan tetapan pengioanan: Ka =
(1)
[ HMR]
[ MR ]
Dan persamaan ini dapat diubah menjadi: pKa = pH log
(2)
[ HMR ]
Harga pKa dan harga Ka dapat dihitung dari pengukuran perbandingan [MR -] / [HMR] sebagai fungsi pH.
Kedua bentuk metil merah ini mempunyai absorpsi (perbandingan intensitas cahaya masuk dengan
intensitas cahaya yang diteruskan yang sering juga disebut rapatan optik atau daya serap) yang kuat dalam daerah
cahaya tampak, maka perbandingan [MR -] / [HMR] dapat ditentukan secara spektrofotometri. Untuk pengukuran ini
akan digunakan larutan dalam suatu kuvet dan kemudian absorpsitivitas (A) dari larutan tersebut akan diukur
dengan spektrofotometer.
Untuk mengetahui pada panjang gelombang berapa yang digunakan untuk pengukuran, maka akan
ditentukan terlebih dahulu spektrum absorpsi metil meras dalam suasana asam maupun basa. Pada suasana yang
sangat asam metil merah dapat dianggap hanya terdapat dalam bentuk HMR. Spektrum absorpsi HMR (=I)
mempunyai puncak pada panjang gelombang 1 dengan absorpsi molar 1,I. Dalam suasana basa, metil merah dapat
dianggap terdapat dalam bentuk MR - (=II) mempunyai puncak pada panjang gelombang 2 dengan absorpsi molar
2,II .Pengukuran akan dilakukan pada panjang gelombang 1 dan 2. Pada 1 HMR mengabsorpsi banyak dan MRhanya sedikit. Pada 2 absorpsi MR- kuat dan absorpsi HMR lemah.
Secara umum dapat ditulis untuk absorptivitas (A) dari zat terlarut (Lambert-Beer):
A= bC
(3)
Dimana:
A = absorbansi
= absorptivitas molar
b = tetapan kuvet yang dipakai
C = konsentrasi
Untuk campuran dua zat berlaku:
A = 1,I b C1 + 2,II b C2
(4)
Persamaan (3) dan (4) hanya berlaku pada syarat tertentu. Karena itu, akan diteliti berlakunya persamaan (3) dengan
mengukur A pada berbagai konsentrasi metil merah baik dalam suasana asam maupun basa pada 1 dan 2.

Kemudian 4 kurva kalibrasi dapat digambarkan. Untuk mengukur seteliti mungkin, sebaliknya absorptivitas dipilih
antara 0,2 0,7. Dari kurva dapat mencari konsentrasi H+ untuk menentukan nilai Ka.
Jika dalam keadaan kesetimbangan fraksi y dari metil merah adalah dalam bentuk HMR, nilai konsentrasi
dalam persamaan (2) menjadi:
CI = p
dan
CII = p (1-)
Karena perbandingan [MR ] / [HMR] = (1-)/ harus dihitung saja, tidak perlu untuk tahu nilai dari
konsentrasi. Perbandingan itu dapat dihitung dengan A = I b p + II b p(1-)
(6)
Untuk panjang gelombang 1 nilai untuk I b p dapat dibaca langsung dari kurva kalibrasi untuk HMR (=a 1,I)
dan nilai untuk II b p dapat dibaca dari kurva kalibrasi untuk MR - (=a1,II). Jika dimasukkan ke persamaan (6)
menghasilkan: A = aI + aII (1-)
(7)
Dari nilai ini y dapat dihitung, kemudian perbandingan [MR -] / [HMR] dan dengan menggunakan nilai
untuk H+, nilai untuk Ka dapat dihitung. Dan semua pengukuran akan diulangi pada pengukuran panjang gelombang
2.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan Peralatan:
1. larutan metil merah dan larutan standart metil merah
2. 250 ml lar. HCl 0,01 M
3. 250 ml lar. NaOH 0,1 M
4. 100 ml lar. NaOAc 0,04 M
5. 100 ml lar. HOAc 0,02 M
6. beaker glass dan labu ukur 50 ml, 100 ml dan 250 ml.
7. pH-meter
8. spektrofotometer (spektronic-20)
Metode:

A.
1.

2.

1.
2.
3.
4.
5.

1.
2.
3.

Penentuan spektrum absorbsi dari HMR dan MRSpektrum HMR


a) Dipipetkan 5 ml larutan S ke dalam labu ukur 50 ml
b) Diencerkan hingga tepat 50 ml dengan HCl 0,01 M
c) Dicatat warna dari larutan HMR(aq)
d) Absorbansinya diukur dengan spektrofotometer
e) Absorptivitas HMR diukur pada 1
Spektrum MRa) Dipipetkan 5 ml larutan S ke dalam labu ukur 50 ml
b) Diencerkan hingga tepat 50 ml dengan NaOH 0,01 M
c) Dicatat warna dari larutan MR-(aq)
d) Absorbansinya diukur dengan spektrofotometer
e) Absorptivitas MR- diukur pada 2
Pengujian hukum Lambert-Beer
Dipipetkan ke dalam 4 buah labu ukur 50 ml masing-masing 5 ml, 4 ml, 2.5 ml, dan 1 ml larutan S.
Diencerkan dengan penambahan HCl 0,01 M sampai garis tera.
Diukur absorptivitas pada 1 (sesuai dengan pengukuran pada percobaan A.1.) untuk masingmasing larutan.
Langkah a-c diulangi dengan mengganti HCl dengan NaOH 0,01 M
Diukur absorptivitas pada 2 (sesuai dengan pengukuran pada percobaan A.2.) untuk masing-masing
larutan.
Penentuan tetapan pengionan metil merah
Didasarkan pada hasil pada percobaan B, akan ditentukan konsentrasi metil merah sedemikian rupa
sehingga untuk semua pengukuran: Hukum Lambert-Beer berlaku dan absorptivitas antara 0,2 0,7
Dihitung berapa ml larutan S (=q ml) harus dipipetkan ke dalam labu ukur 50 ml sehingga konsentrasi
ini kira-kira tercapai.
Dipipetkan ke dalam 4 labu ukur 50 ml, larutan S q ml dan 12,5 ml NaOAc (digunakan pipet untuk
mengambil larutan NaOAc).

4.

Ke dalam masing-masing labu ukur dimasukkan 25 ml HOAc 0,02 M kemudian ditambahkan aquadest
sampai garis tera.
5.
Dicatat warna dari masing-masing larutan.
6.
Dari ke-4 larutan tadi diukur: absorptivitas pada 1 dan 2 serta pH (digunakan pH meter).
HASIL
A.

350
375
400
425
450
475
500
525
550
575
600

Penentuan spektrum absorbsi dari HMR dan MRHMR


MR
HMR
0.097
0.502
490
2.000
0.071
0.824
495
2.000
0.137
1.000
500
2.000
0.367
0.959
505
2.301
510
0.886
0.769

515
1.523
0.420

520
2.000
0.137

2.000
0.056
525
2.301
1.197
0.036
0.268
0.041
0.071
0.027

B.

Pengujian hukum Lambert-Beer

390
395
400
405
410
415

1
0.456
1.155
2.000

Bahan Uji
a. 1 ml S + 49 ml HCl 0,01M
2,5 ml S + 49 ml HCl 0,01M
4 ml S + 49 ml HCl 0,01M
b. 5 ml S + 49 ml HCl 0,01M
c. 1 ml S + 49 ml NaOH 0,01M
2,5 ml S + 49 ml NaOH 0,01M
4 ml S + 49 ml NaOH 0,01M
d. 5 ml S + 49 ml NaOH 0,01M

MR1.000
1.000
1.000
1.000
1.022
1.000

0.190
0.481
0.769
1.220

Penentuan tetapan pengionan metil merah

C.

1 ml S + 12,5 ml NaOAc
+ 25 ml HOAc + aquadest
+ 12,5 ml HOAc + aquadest
+ 5 ml HOAc + aquadest
+ 2,5 ml HOAc + aquadest

1
0.337
0.240
0.143
0.086

2
0.102
0.125
0.155
0.161

pH
4.3
4.5
4.8
5.1

warna
Merah jambu tua
Merah jambu muda
Jingga
Orange

JAWAB PERTANYAAN
1.
Percobaan A
a. Grafik spektrum absorpsi HMR dan MR- (percobaan A):
Spektrum absorpsi HMR dan MR
2.5
2
1.5

HMR

MR

0.5
0
0

100

200

300

400

500

600

700

b. Menentukan nilai 1 dan 2 :


1 ditunjukkan oleh nilai absorptivitas dari HMR yang bernilai paling tinggi: 515 nM
2 ditunjukkan oleh nilai absorptivitas dari MR- yang bernilai paling tinggi: 410 nM
c. Absorbansi lebih baik jika diukur pada panjang gelombang dengan nilai absorptivitas yang maksimal
karena pada metode spektrometri, cahaya yang diabsorpsi oleh larutan terdiri dari panjang gelombang
yang berbeda-beda sehingga nilai absorptivitas yang tercatat merupakan gabungan secara umum dari
nilai-nilai tersebut. Maka dengan menggunakan panjang gelombang tertinggi, ketidak-pastian
pengukuran dapat diperkecil. Selain itu perubahan absorpsi di sekitar 1 dan 2 cukup kecil yang dapat
dilihat pada tabel Hasil percobaan A.
2.

Percobaan B
a. Kurva kalibrasi (percobaan B):

A (nM)

Kurva Kalibrasi
2.5
2
1.5
1
0.5
0

HMR
MR

vol. S (ml)

b.

Periksa apakah Hukum Lambert-Beer berlaku pada jangkauan konsentrasi metil merah yang
dipakai: Hukum Lambert-Beer berlaku jika grafik yang dibentuk dari absorbansi (A/nM) terhadap
konsentrasi berbentuk garis linier. Dan dari grafik dapat dilihat bahwa kenaikan konsentrasi metil merah
sebanding dengan kenaikan absorpsi sehingga grafik yang terbentuk berupa garis linier. Jadi dapat
dikatakan bahwa Hukum Lambert-Beer berlaku pada kenaikan absorbansi terhadap berbagai kenaikan
konsentrasi metil merah. Namun pada HMR terjadi penyimpangan pada vol. S = 5 ml yaitu A = nM
sehingga grafik pada nilai ini tidak dapat digambar namun nilainya dapat diabaikan karena absorptivitas
yang mencul telah ada yang mencapai 0,2 0,7.

3.

Perbandingan hasil pengukuran pH dengan hasil perhitungan:


1 ml S + 12,5 ml NaOAc
pH (pengukuran)
pH (perhitungan)
+ 25 ml HOAc + aquadest
4.3
4.76
+ 12,5 ml HOAc + aquadest
4.5
5.06
+ 5 ml HOAc + aquadest
4.8
5.46
+ 2,5 ml HOAc + aquadest
5.1
5.76
Jika dilihat dari perbandingan di atas, maka hasil pengukuran pH berbeda cukup jauh dengan perhitungan
pH. Hal ini disebabkan oleh:

Pembuatan larutan S yang tidak tepat konsentrasinya karena larutan persediaan metil
merah yang dibuat oleh asisten ternyata tidak tertutup rapat sehingga etanol menguap sehingga pelarut
yang ada (etanol) hilang dan konsentrasi metil merah bertambah.

Pembuatan larutan yang akan diuji kurang teliti pada saat pengenceran

pH meter yang digunakan tidak bekerja dengan baik sehingga hasil pengukuran jauh
menyimpang dari hasil perhitungan

Penggunaan pH meter yang tidak tepat, misalnya: setelah dikalibrasi dengan aquadest
tidak dikeringkan terlebih dahulu tetapi langsung dicelupkan ke larutan yang diuji.

4.

Percobaan C

Hasil percobaan C pada 1, dihitung nilai pKa sebagai fungsi pH dan mencatat
hasil perhitungan dalam tabel yang sudah dibuat serta beri contoh perhitungan yang lengkap untuk satu
larutan:
pKa
1 ml S + 12,5 ml NaOAc
pH
1
2
1
2
+ 25 ml HOAc + aquadest
0.337
0.102
4.3
4.39
+ 12,5 ml HOAc + aquadest
0.240
0.125
4.5
3.86
+ 5 ml HOAc + aquadest
0.143
0.155
4.8
+ 2,5 ml HOAc + aquadest
0.086
0.161
5.1
Contoh perhitungan:
A = a1,1 . y + a1,11 . (1-y)
0.337 = 0.456 . y + 0.190 . (1-y)
0.337 = 0.456y + 0.190 0.190y
0.266y = 0.147
y = 0.5526
[ MR ]
pKa = pH log
[ HMR]
[0.4474]
= 4.3 log
[0.5526]
= 4.39
c.
Grafik pKa sebagai fungsi pH: hanya ada 2 nilai pKa yang dapat dihitung sehingga
grafik hanya terdiri dari 2 nilai pKa.
b.

pKa

Grafik pKa sebagai fungsi pH


4.5
4.4
4.3
4.2
4.1
4
3.9
3.8
4.25

4.3
4.5

4.3

4.35

4.4

4.45

4.5

4.55

pH

Hasil percobaan C pada 2, dihitung nilai pKa sebagai fungsi pH dan mencatat
hasil perhitungan dalam tabel yang sudah dibuat serta beri contoh perhitungan yang lengkap untuk satu
larutan:
A = a1,1 . y + a1,11 . (1-y)
0.102 = 0.456 . y + 0.190 . (1-y)
0.102 = 0.456y + 0.190 0.190y
0.266y = - 0.088
y = - 0.3308
pKa
Karena nilai y yang dihitung ternyata bernilai negatif sehingga nilai pKa tidak dapat dihitung.
Grafik pKa sebagai fungsi pH: karena nilai y yang dihitung bernilai negatif sehingga nilai pKa tidak dapat
dihitung. Karena itu grafik juga tidak dapat digambar.
d.

5.

Berdasarkan grafik pada no. 4:

a. Pada penentuan nilai Ka ada kemungkinan terjadi kesalahan sistematis yang dapat dari nilai pKa
yang tidak dapat ditentukan nilainya karena y bernilai negatif pada 1 pada pengukuran ke-3 dan ke4 serta pada 2 untuk seluruh pengukuran. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesalahan
pada percobaan ini adalah:

Membuat sendiri larutan persediaan sehingga etanol yang digunakan sebagai pelarut tidak
sempat menguap dan membuat larutan semakin pekat.

Mengulangi percobaan C dengan mengganti larutan persediaan dari metil merah.

Pembuatan larutan dilakukan dengan teliti dan dengan volume yang tepat sehingga
kesalahan dapat diperbaiki.
b. Nilai Ka yang dapat ditentukan:

pKa = 4.39 Ka = log -1 (-pKa)


Ka = 4.07 . 10-5

pKa = 3.86 Ka = log -1 (-pKa)


Ka = 1.38 . 10-4
-5
-4
-5
Ka = (4.07 . 10 + 1.38 . 10 ) = 8.94 . 10
c. Perkiraan nilai ketidakpastian dalam nilai Ka:
Ka1 = 4.07 . 10-5 - 8.94 . 10-5 = 4.87 . 10-5
Ka2 = 1.38 . 10-4 - 8.94 . 10-5 = 4.86 . 10-5
Ka = 4.865 . 10-5
Ka = (8.94 . 10-5 4.865 . 10-5)
% ketidak-pastian =
6.

4.865 . 10 -5
100% = 54.42 %
8.94 . 10 -5

Hubungan spektrum HMR dan MR- yang ditemukan dengan warna larutan yang diamati:
HMR berwarna kuning pada 1 = 515 nM
MR- berwarna merah pada 2 = 410 nM
(nM)
Warna
Warna Komplementer
435 480
Biru
Kuning
490 500
Biru kehijauan
Merah
500 560
Hijau
Merah ungu
580 595
Kuning
Biru
610 750
Merah
Biru kehijauan
Larutan dapat menyerap jika menerima cahaya dan akan memantulkan kembali tersebut dari
spektrum cahaya yang tampak. Adanya halangan gelombang yang dipancarkan menyebabkan yang
diterima oleh mata akan berbeda dengan yang dipantulkan oleh larutan. Warna yang berbeda ini disebut
sebagai warna komplementer.
Dari percobaan ini, dapat dilihat bahwa warna yang diterima oleh mata pada 1 = 515 nM
merupakan warna merah dan pada 2 = 410 merupakan warna kuning, sehingga dapat disimpulkan bahwa
warna yang dipantulkan merupakan warna komplementer.

PEMBAHASAN
Percobaan A. Penentuan Spektrum Absorbansi dari HMR dan MRPada percobaan ini akan ditentukan nilai absorbansi maksimum dari 2 larutan asam dan basa. Pada suasana
asam, metil merah memberi warna merah sedangkan pada suasana basa metil merah memberi warna kuning.
Pada penentuan nilai 1 dari HMR, terjadi kesalahan yang ditunjukkan dengan adanya dua nilai maksimum
yaitu pada = 500 dan = 525 sehingga harus dilakukan pengukuran ulang dan dari pengukuran ulang tersebut
ditemukan nilai maksimum pada = 515 yang nilainya tidak berhingga. Munculnya nilai tak berhingga
kemungkinan besar disebabkan kesalahan pembuatan larutan persediaan metil merah yang terlalu pekat karena
metanol yang ditambahkan untuk membuat larutan persediaan menguap sehingga metil merah yang tertinggal
terlalu pekat. Sehingga menyebabkan hasil pengukuran yang tidak baik. Nilai pada = 515 dipilih sebagai nilai
maksimum karena setelah pengukuran ulang dari = 490 sampai = 525 (nilai absorbansi menurun), nilai tak

berhingga ditemukan pada 3 dan = 515 adalah panjang gelombang di tengah yang dapat diambil dan akan
digunakan pada pengukuran untuk percobaan B.
Sedangkan untuk pengukuran MR- tidak ditemukan nilai absorpbansiyang tidak berhingga, namun setelah
pengukuran ulang, ditemukan bahwa pada = 410 ditemukan nilai absorbansi maksimum sehingga ini yang akan
digunakan pada percobaan B selanjutnya.
Percobaan B. Pengujian Hukum Lambert-Beer
Pada percobaan ini, akan dibuktikan tentang penggunaan hukum Lambert-Beer untuk mencari nilai pKa
kemudian nilai Ka. Nilai 1 dan 2 yang dipakai berasal dari percobaan A yaitu nilai A maksimum.
Menurut hukum Lambert-Beer daerah absopsi berkisar pada 0,2 0,7 namun hasil percobaan ditemukan
adanya nilai absorpsi yang mencapai tak berhingga Sedangkan nilai lainnya juga tidak berada pada kisaran 0,2
0,7. Hal ini disebabkan kesalahan pembuatan larutan seperti pada percobaan A, etanol yang menguap membuat
larutan persediaan semakin pekat.
Sedangkan melalui percobaan B ini, akan ditentukan volume larutan S yang digunakan untuk penentuan
tetapan pengionan metil merah pada percobaan C. Sebenarnya dari 1 ditemukan nilai absorpsi antara 0,2 0,7 pada
volume 1 ml lar. S dan pada 2 ditemukan nilai absorpsi antara 0,2 0,7 pada volume 2,5 ml lar. S. Namun yang
dipilih untuk volume lar. S pada percobaan C adalah volume 1 ml karena nilai absopsinya memiliki selisih paling
kecil.
Dari hasil grafik yang telah dibuat, dapat dilihat bahwa sebenarnya hasil pengukuran sudah cukup baik,
yang ditunjukkan dengan grafik yang telah mendekati linier.
Percobaan C. Penentuan Tetapan Pengionan Metil Merah
Percobaan ini dilakukan untuk mengukur pH dan melihat warna larutan sehingga kita dapat melihat apa
yang dimaksud dengan warna komplementer.
Pada pengukuran ini, juga ditentukan nilai dari pKa kemudian nilai Ka. Namun karena nilai y yang dihitung
kebanyakn bernilai negatif, sehingga nilai pKa dan Ka tidak dapat ditentukan dan menunjukkan bahwa hasil
percobaan untuk percobaan C tidak baik. pH yang diukur berbeda cukup jauh dengan pH yang dihitung.
Penggunaan pH meter yang tidak teliti dapat menyebabkan kesalahan pengukuran terutama pada saat kalibasi
dengan aquadest yang pH tidak tepat =7 dan dapat mempengaruhi konsentrasi larutan yang diukur. Dan pH larutan
menjadi tidak tepat.
Kesalahan-kesalahan di atas mulai dari percobaan A C, sebagian besar disebabkan:
a.
Kesalahan pembuatan larutan persediaan metil merah. Etanol yang menguap menyebabkan
larutan menjadi sangat pekat yang ditunjukkan dari warna larutan S yang sangat tua.
b.
Kuvet yang digunakan kurang bersih, sehingga ada yang menghalangi lewatnya cahaya
melalui larutan dan mempengaruhi nilai-nilai pengukuran.
c.
Kalibrasi spektrofotometer yang tidak tepat, misalnya setelah mengganti , jarum tidak
tepat pada angka 100 atau saat kalibrasi dengan aquadest, jarum tidak tepat menunjuk pada angka nol.
KESIMPULAN
1.
Spektrum absorpsi HMR dan MR- adalah pada 1 = 515 nM dan 2 = 410 nM.
2.
Hukum Lambert-Beer berlaku karena grafik yang dihasilkan telah mendekati
linier.
3.
Tetapan pengionan Metil Merah dapat ditentukan dengan spektrofotometer
dengan menggunakan masimum pada kalibrasi.
4.
Penggunaan Spektrofotometer: harus dikalibrasi setiap kali penggantian larutan
dan harus dikalibrasi pada saat penggantian nilai panjang gelombang.
5.
Sedangkan penggunaan pH meter, harus dikalibrasi pada awalnya saja dan

sebelum digunakan untuk mengukur pH larutan selanjutnya, besi pada pH meter harus dicuci dengan
aquadest terlebih dahulu.
DAFTAR PUSTAKA
Pudjatmaka A. H, 2003, Kamus Kimia, Jakarta: Balai Pustaka

Smith Henk, 2001, Petunjuk Praktikum Kimia Fisika II, Lutiyono, UKSW
LAMPIRAN
1. Laporan sementara
2. Tugas Awal