Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Sinusitis adalah suatu peradangan pada sinus yang terjadi oleh karena infeksi virus,
bakteri dan jamur atau karena reaksi alergi yang berkepanjangan pada sebagian atau seluruh
mukoperiosteum dari sinus paranasalis. Kata sinusitis berasal dari bahasa Latin, sinusitis dimana
istilah sinus sendiri berati cekungan dan itis adalah akhiran yang berarti radang. Jadi, sinusitis
adalah radang pada sinus.1, 2,3
Insiden tertinggi terjadinya sinusitis adalah disebabkan oleh peradangan kronis dari
hidung yang merupakan alat pernafasan bagian atas. Penyakit infeksi masih merupakan penyakit
utama di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA)
merupakan jenis penyakit infeksi di Indonesia yang banyak diderita oleh masyarakat. Hasil
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1997 menunjukkan bahwa prevalensi ISPA
untuk usia 0-4 tahun 47,1 %, usia 5-15 tahun 29,5 % dan dewasa 23,8 %; lebih dari 50%
penyebabnya adalah virus. Bila infeksi terjadi pada beberapa sinus disebut multisinusitis,
sedangkan bila mengenai semua sinus paranasal disebut dengan pansinusitis.1,4
Sesuai anatomi sinus yang terkena, dapat dibagi menjadi sinusitis maksilaris, sinusitis
ethmoidalis, sinusitis frontalis dan sinusitis sfenoidalis. Sinusitis sfenoidalis adalah jenis sinusitis
yang paling jarang diantara semua kasus sinusitis paranasal. Sinusitis tidak hanya menginvasi
rongga hidung dan ruangan-ruangan dalam tulang wajah atau muka disekitar hidung, tetapi
sinusitis dalam tahap akut sekalipun dapat pula menjalar hingga ke telinga.1,3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Sinus Paranasal


Sinus paranasal adalah hasil pneumatisasi tulang- tulang kepala sehingga membentuk
rongga di dalam tulang. Secara normal, rongga ini diisi udara. Semua sinus mempunyai ostium
ke rongga hidung yang dilapisi invaginasi mukosa rongga hidung yang dimulai dari fetus. Sinus
paranasal adalah salah satu organ manusia yang paling sulit dideskripsikan karena variasi bentuk
yang berbeda pada masing individu. Secara embriologik perkembangan sinus mulai dari usia 3-4
bulan kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal yang baru muncul pada usia 8-10 tahun, mencapai
maksimal 15-18 tahun.1,2
Ada delapan atau empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila (kanan dan kiri)antrum highmore, sinus frontal (kanan dan kiri), sinus etmoid (anterior dan posterior) dan sinus
sfenoid (kanan dan kiri). Secara klinis sinus paranasal dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
kelompok anterior dan posterior. Kelompok anterior terdiri dari sinus frontal, sinus maksila, dan
sel anterior sinus etmoid. Kelompok posterior terdiri dari sel-sel posterior sinus etmoid dan sinus
sfenoid.2,3
2.1.1 Sinus Sfenoid
Sinus sfenoid merupakan rongga yang terletak di dasar tengkorak, tidak berhubungan
dengan dunia luar sehingga jarang terkena infeksi.Sinus ini terletak dalam os sfenoid di belakang
sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid dibentuk di dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin
dan tidak berkembang hingga usia 3 tahun. Sinus mencapai ukuran penuh pada usia 18 tahun
dengan volume sekitar 7,5 ml (23 x 20 x 17 mm).1,3
Sinus sfenoid berjumlah sepasang dipisahkan oleh tulang tipis yang letaknya jarang di
tengah sehingga ukuran masing- masing sinus dapat berbeda. Dilapisi oleh epitel kubus bersilia.
Masing- masing sfenoid berhubungan dengan meatus superior melalui celah kecil menuju ke
resesus sfenoidalis. Ukurannya 0,5 4 mm dengan letak + 20 mm diatas planum sinus sfenoid.2,3

Gambar 2.1 Letak Sinus Sfenoid terhadap Organ Sekitar


Batas- batas sinus sfenoid berdekatan dengan otak; di sebelah superior sinus sfenoid
berbatasan dengan fosa serebri media, kiasma optikum dan kelenjar hipofisa, di sebelah posterior
berbatasan dengan pons, di sebelahlateral dengan sinus kavernosus, a. karotis interna, fissura
orbitalis posterior dan beberapa saraf kranial, di sebelah inferior dengan atap nasofaring. Dari
variasi anatomis kadang ada tulang yang tidak terbentuk sehingga mukosa sinus sfenoid dapat
berhubungan dengan struktur sekitar.1,3

Gambar 2.2 Sinus Paranasalis


3

2.2 Fisiologi Sinus Paranasal


Sampai saat ini berlum ada persesuaian pendapat mengenai fisiologi sinus paranasal. Namun
tidak jarang, sinus paranasal dianggap tidak mempunyai fungsi karena tumbuh seiring
pertumbuhan tulang tengkorak. Namunada beberapa teori fungsi sinus paranasal yang
dikemukakan antara lain:1
1.

Sebagai pengatur kondisi udara (air conditioning)


Sinus berfungsi sebagai ruang tambahan untuk memanaskan dan mengatur kelembaban udara
inspirasi. Keberatan terhadap teori ini ialah ternyata tidak didapati pertukaran udara yang
definitif antara sinus dan rongga hidung. Volume pertukaran udara dalam ventilasi sinus
kurang lebih 1/1000 volume sinus pada tiap kali bernafas, sehingga dibutuhkan beberapa jam
untuk pertukaran udara total dalam sinus. Lagipula mukosa sinus tidak mempunyai
vaskularisasi dan kelenjar yang sebanyak mukosa hidung.

2.

Sebagai penahan suhu (thermal insulators)


Sinus paranasal berfungsi sebagai buffer (penahan) panas , melindungi orbita dan fosa serebri
dari suhu rongga hidung yang berubah-ubah. Akan tetapi kenyataannya, sinus-sinus yang
besar tidak terletak di antara hidung dan organ-organ yang dilindungi.

3.

Membantu keseimbangan kepala


Sinus membantu keseimbangan kepala karena mengurangi berat tulang muka. Akan tetapi
bila udara dalam sinus diganti dengan tulang hanya akan memberikan pertambahan berat
sebesar 1% dari berat kepala, sehingga teori ini dianggap tidak bermakna.

4.

Membantu resonansi suara


Sinus mungkin berfungsi sebagai rongga untuk resonansi suara dan mempengaruhi kualitas
suara. Akan tetapi ada yang berpendapat , posisi sinus dan ostiumnya tidak memungkinkan
sinus berfungsi sebagai resonator yang efektif. Tidak ada korelasi antara resonansi suara dan
besarnya sinus pada hewan-hewan tingkat rendah.

5.

Sebagai peredam perubahan tekanan udara


Fungsi ini berjalan bila ada perubahan tekanan yang besar dan mendadak, misalnya pada
waktu bersin atau membuang ingus.

6.

Membantu produksi mukus.


Mukus yang dihasilkan oleh sinus paranasal memang jumlahnya kecil dibandingkan dengan
mukus dari rongga hidung, namun efektif untuk membersihkan partikel yang turut masuk
dengan udara inspirasi karena mukus ini keluar dari meatus medius, tempat yang paling
strategis.

2.3 Definisi
Sinusitis Sfenoidalis dapat didefinisikan sebagai peradangan pada sinus sfenoid yang
terjadi oleh karena infeksi bakteri, virus, dan jamur pada sebagian atau seluruh
mukoperiosteum.1,4
Sinusitis ethmoidalis menyatakan bahwa tempat terjadinya sinusitis di sinus sfenoidalis.
Sinusitis ini lebih lazim menjadi bagian dari pansinusitis.2
Seperti halnya sinusitis pada jenis lainnya, rhinosinusitis dibagi menurut onset klinisnya
menjadi; akut, subakut dan kronik. Menurut Konsensus Internasional tahun 2004 rinosinusitis
akut dengan batas sampai 4 minggu, sub akut bila terjadi antara 4 minggu sampai 3 bulan atau 12
minggu dan kronik bila lebih dari 3 bulan atau 12 minggu. Sementara itu, rhinosinuitis akut
berulang ditegakan ketika 2-4 episode terjadi dalam setahun dengan jarak 8 minggu diantara
episodenya.1,5

2.4 Etiologi
S. aureus adalah penyebab utama sinusitis sphenoidalis. Secara keseluruhan bakteri ini
menyebabkan 10% kasus rhinosinusitis, MRSA masih dijumpai pada sejumlah kasus kecil.5

Studi respiratory tract di Amerika Serikta tahun 1998 menunjukan 12,3% strp.
pneumonia menunjukan angka resistan intermediate terhadap penisilin semntara 37,4%
menunjukan resistan total. Selain itu antibiotik klindamisin, TMP-SMX dan doksisiklin juga
ditemukan resisten pada 12,3% yang resistan secara intermediate terhadap penisilin.5
Penyebab jamur lebih jarang dijumpai namun bukan berarti tidak pernah. Walaupun
kasus pada sinus paranasal dijumpai aspergilus dan candida yang biasanya terjadi ikutan
terhadap traktus respiratorius bawah, dikenal dengan istilah sindrom sinobronkial. Baru- baru ini
hasil studi di Hungaria tahun 2013 menemukan kasus sinus sfenoidalis yang disebabkan oleh
trichoderma longibacterium, merupakan jamur yang acap ditemukan di tanah lembab dan
perabot rumah tangga yang terbuat dari bahan kayu.1,5

2.5 Epidemiologi
Secara global, sinusitis sfenoidalis adalah jumlah yang paling sedikit daripada jenis
sinusitis lainnya. Presentase sinus paranasal antara lain; sinusitis maksilaris 75%, sinusitis
ethmoidalis 15%, sinusitis frontalis 8% dan sinusitis sfenoidalis 2%. 1,5
Di Amerika Serikat, sinusitis menyerang 1 dari 7 orang dewasa, dengan lebih dari 30 juta
individu yang didiagnosis tiap tahunnya. Individu dengan riwayat alergi atau asma berisiko
tinggi terjadinya rhinosinusitis. Prevalensi sinusitis tertinggi pada usia dewasa 18-75 tahun dan
kemudian anak- anak berusia 15 tahun. Pada anak-anak berusia 5-10 tahun. Infeksi saluran
pernafasan dihubungkan dengan sinusitis akut. Sinusitis sfenoidalis jarang pada anak-anak
berusia kurang dari 1 tahun karena sinus belum berkembang dengan baik sebelum usia tersebut.
Wanita dewasa lebih sering terkena sinusitis daripada pria dengan perbandiangan 2:1. 5
Di RSUP.H.Adam Malik Medan jumlah penderita rinosinusitis dari bulan Januari 2006
Desember 2008 adalah 1967 orang. Penelitian Nasution A.T tahun 2007 di RSUP H. Adam
Malik Medan didapatkan 30 penderita rinosinusitis kronik yang terdiri dari 18 (60 %) perempuan
dan 12 (40 %) laki-laki. Setelah dilakukan pemeriksaan kultur jamur dari sekret sinus didapatkan
15 penderita rinosinusitis kronik dengan hasil kultur jamur positif. Penderita terdiri dari 6 lakilaki (40,1%) dan 9 perempuan (59,9%).
6

2.6 Patofisiologi
Pada dasarnya patofisiologi Sinusitis Sfenoidalis terkait tiga faktor yaitu, patensi ostium,
klirens mukosiliar (mucociliary clearance) dan viskositas mukos. Gangguan salah satu faktor
atau kombinasi faktor-faktor tersebut merubah fisiologi sinus dan menimbulkan rhinosinusitis.
Kegagalan transport mukus dan menurunnya ventilasi sinus merupakan faktor utama
berkembangnya rinosinusitis kronik.1,2,5,6
Sinusitis ini berawal dari adanya sumbatan akibat oedem. Sumbatan menyebabkan
gangguan drainase dan ventilasi sinus sehingga silia menjadi kurang aktif dan lendir yang
diproduksi oleh mukosa sinus menjadi lebih kental. Sumbatan yang berlangsung terus-menerus
akan mengakibatkan terjadinya hipoksia dan retensi lendir yang merupakan media yang baik
bagi bakteri anaerob untuk berkembang biak. Selain itu, bakteri juga memproduksi toksin yang
akan merusak silia sehingga terjadi hipertrofi mukosa dan memperberat sumbatan.1,2
Selain itu, sekresi dapat juga semakin kental sehingga sulit dikeluarkan dan terjadi
retensi. Isi dari mukos ini mukoglikoprotein, imunoglobulin dan sel inflamasi. Dimana terdiri
dari 2 lapisan yang lebih encer di bagian dasarnya sedangkan lebih kental dibagian luarnya.5

2.7 Gejala Klinis


Sinusitis sfenoid sulit ditegakan karena letak anatomisnya yang berada di dalam. Biasanya timbul
berhubungan dengan sinusitis etmoid. Dari penelitian oleh ortholaryngologist di India tahun 2007
dijumpai 72 kasus sinusitis sfenoidalis dimana 79% menunjukan gejala akut, 15% menunjukan gejala
kronik, 6% ditemukan secara tidak sengaja melalui foto radiologi. 2,9
Gejala Sinusitis Sfenoidalis :
1

Sakit kepala difus


Sakit kepala timbul akibat sumbatan ostium dan adanya kongesti. Sakit kepala ini bersifat unilateral
dan meluas ke sisi lainnya. Dan akan bertambah sakit jika kepala ditundukan kedepan. Pada sinusitis
kronis, nyeri dan sakit kepala mungkin tidak ada. nyeri kepala mengarah ke verteks. 2,3,11
7

Post Nasal Discharge (PND)


Adanya pus dalam rongga hidung seharusnya sudah memunculkan kecurigaan terhadap adanya
peradangan pada sinus. Pada sinus sfenoidalis PND dapat dijumpai pada rinoskopia posterior.3,6

Nyeri/ rasa tekan pada wajah


Nyeri biasanya sesuai dengan derah yang terkena. Pada sinusitis sfenoidalis nyeri terasa jauh di dalam
dan disebarkan ke perifer, pada daerah temporal, retroorbital, oksipital dan frontal. Sebenarnya
peradangan sinus paranasalis lainnya mungkin menyebabkan nyeri didaerah frontalis. Nyeri tekan
akan timbul di daerah yang sama jika dilakukan penekanan di daerah ethmoid anterior. Pola
penjalaran nyeri ini adalah khas untuk sinusitis sfenoidalis. 3,6,7,11

Hidung tersumbat

Kelainan penciuman (hiposmia/anosmia)


Gangguan ini diakibatkan sumbatan di fissura olfaktorius di daerah konka media. Sehingga jarang
dijumpai pada sinusitis sfenoidalis.3,9

Gejala lainnya :
1

Demam, halitosis

Pada anak ; batuk, iritabilitas


Hal ini jarang terjadi pada sinusitis sfenoid dan lebih mungkin sinusitis ethmoid posterior.3

Sakit gigi
Umumnya keluhan ini dikeluhkan sinusitis maksilaris.3,4,6

Sakit telinga / nyeri tekan pada telinga / rasa penuh pada telinga.
Keluhan ini lebih umum dikeluhkan pada sinusitis sfenoidalis. 6

Dari diagnosis diatas, untuk sinusitis sfenoidalis adalah khas secara klinis diperoleh informasi
berupa sakit kepala difus yang dapat menjalar dengan disertasi rinorea posterior berdasarkan keluhan

pasien atau dikonfirmasi dengan hasil temuan rinoskopi posterior. Pada sinusitis sfenoidalis mungkin
membutuhkan bantuan penunjang radiologik karena sulit didiganosa karena posisi anatomisnya. 10,11

2.8 Diagnosis
Diagnosis Sinusitis Sfenoidalis ditegakan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis dapat diperoleh keluhan utama berupa sakit kepala di
verteks dan menjalar hingga difus atau ke daerah oksipital dan retroorbital yang paling sering,
temporal sehingga seperti keluhan telinga dan frontalis. 2,3,10,11
Pada inspeksi, tidak akan ditemukan kelainan karena posisi sinus sfenoid yang berada di
dalam. Pada palpasi, pasien dapat mengeluhkan rasa nyeri tekan di daerah epikantus medial yang
dapat mengecohkan dengan sinusitis etmoidalis. Rinoskopi posterior dapat dijumpai PND berasal
dari atas pinggir koana. Rhinoskopi anterior dan transiluminasi tidak akan memberi informasi
apapun1,6,7

Gambar 2.3 Radiologi Posisi Lateral

Gambar 2.4 Radiologi Posisi Waters


9

Gambar 2.5 Radiologi Posisi Basal

Gambar 2.6 CT Scan Sinusitis Sfenoidalis

Pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan radiologik dan sinoskopi dapat dilakukan


pada rumah sakit yang memiliki fasilitas tersebut. Pemeriksaan radiologik yang dapat diminta
untuk menegakan diagnosa sinusitis sfenoidalis adalah foto posisi lateral dan waters atau
submentovertex (posisi basal) untuk mendapatkan pencitraan sinus sfenoid yang jelas. Sehingga
memberikan gambaran berupa air fluid level. Sedangkan radiologi yang mutakhir seperti CT
Scan merupakan gold standart, dapat memberikan gambaran yang detail namun mahal sehingga
hanya digunakan untuk sinusitis kronik dan sebagai panduan operator saat melakukan operasi
sinus. Adapun gambaran yang dapat ditemukan pada ct-scan berupa mukosa yang menebal,
peselubungan yang homogen atau tidak homogen. Sinuskopi dapat digunakan untuk diganostik
dan prosedur terapi sebagai sfenoidektomi. Pemeriksaan tomografi komputer dan MRI hanya
dilakukan jika ada kecurigaan komplikasi orbita dan intrakranial.1,12
10

Gambar 2.6 Gambar sinuskopi yang menunjukan 6 minggu paska sfenoidektomi


Selain pemeriksaan radiologik, pemeriksaan penunjang lainnya dapat dilakukan seperti
pemeriksaan patologi anatomi mungkin diperlukan untuk keperluan kultur dan tes resistensi guna
memberikan antibiotik yang tepat.1

2.9 Terapi
Tujuan terapi adalah mempercepat penyembuhan, mencegah komplikasi dan perubahan
menjadi kronik. Prinsip pengobatan adalah membuka sumbatan dan ventilasi sinus pulih secara
alami. Penggunaan obat meliputi obat anti alergi dan dekongestan, obat mukolitik untuk
mengencerkan sekret, obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri, dan obat antibiotik. Antibiotik
yang diberikan biasanya adalah golongan penisilin seperti amoksilin, diberikan selama 10-14
hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Jika dalam 48-72 jam tidak memberiksan perbaikan
dapat diberikan amoksisilin dengan asam klavulanat. Eritromisin, TMP-SMX, klaritromisin,
ampisilin, sefuroksim dan sefaklor adalah antibiotik lainnya yang telah teruji klinis.7
Bedah

sinus

endoskopi

fungsional (BSEF) merupakan tehnik terbaik untuk

penatalaksanaan rinosinusitis kronik sampai dengan saat ini. BSEF lebih konservatif dengan
morbiditas yang rendah apabila dibandingkan dengan tehnik operasi yang lain. Tehnik bedah ini
pertama kali diperkenalkan oleh Messerklinger dan dipopulerkan oleh Stamberger di Eropa dan
11

Kennedy di Amerika dengan sebutan functional endoscopik sinus surgery (FESS). Konsep dari
teknik BSEF adalah didasari pada perubahan yang reversibel pada fungsi mukosiliar dan patologi
mukosa dengan cara memperbaiki patologi penyakit sinusitis kronis.1
Cara pemeriksaan ini dengan mempergunakan endoskop, tanpa melakukan insis dikulit
muka. Endoskop dimasukkan ke dalam rongga hidung. Karena endoskop dihubungkap dengan
monitor, maka dokter cukup melihat monitor. Dengan bantuan endoskop dapat dibersihkan
daerah muara sinus seperti daerah meatus media untuk sinus maksila, sinus etmoid anterior dan
frontal. Endoskop juga dapat dimasukkan ke dalam sinus etmoid anterior dan posterior untuk
membuka sel-sel etmoid dan kemudian dapat diteruskan ke dalam sinus sfenoid yang terletak
dibelakang sinus etmoid. 16

2.10 Komplikasi
Komplikasi menurun dengan adanya antibiotik. Berikut adalah komplikasi yang dapat
timbul akibat dari sinusitis sfenoidalis antara lain:
1

Osteomielitis os. Sfenoid

Merupakan kasus yang jarang seringkali tidak terdiagnosis sampai timbul komplikasi yang berat
dan fatal. Pemeriksaan roentgen yang teliti sangat penting.3
2

Trombosis sinus kavernosus

Merupakan kelanjutan dari osteomielitis sehingga bateri masuk melalui saluran vena kedalam
sinus

kavernosus

dimana

selanjutnya

terbentuk

suatu

tromboflebitis

septik.

Secara

patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari oftalmoplegia, kemosis konjunctiva,


gangguan penglihatan yang berat, kelemahan pasien dan tanda-tanda meningitis oleh karena
letak sinus kavernusus yang berdekatan dengan saraf kranial II, III, IV dan VI, serta berdekatan
juga dengan otak.3

12

Gambar 2.7 Posisi sinus sinus sfenoidal dengan sinus kavernosus


3

Komplikasi intrakranial

Merupakan akibat invasi bakteri yang masuk ke bagian yang lebih dalam, mengingen dan
jaringan di dalam kranium. Meningitis akut merupakan infeksi terberat setelah trombosis sinus
kavernosus. Pada keadaan yang lebih berat, abses dura terjadi, yaitu kumpulan pus diantara dura
dan tabula interna kranium. Proses ini timbul lambat sehingga pasien mungkin hanya mengeluh
nyeri kepala dan sebelum pus yang terkumpul mampu menimbulkan tekanan intrakranial yang
memadai. Selanjutnya, abses otak biasanya terjadi melalui tromboflebitis yang meluas secara
langsung.

13

BAB III
KESIMPULAN

Sinusitis sfenoidalis adalah peradangan pada salah satu atau lebih mukosa sinus
paranasal, yang terjadi di sinus sfenoidalis yang lazim menjadi bagian dari pansinusitis. Dapat
terjadi secara akut, subakut dan kronik bergantung onsetnya. Bakteri adalah penyebab utama
terjadinya sinusitis sfenoidalis. Sinusitis ini jarang pada anak-anak berusia kurang dari 1 tahun
karena sinus belum berkembang dengan baik sebelum usia tersebut. Wanita dewasa lebih sering
terkena sinusitis.
Dari anamnesis dapat diperoleh keluhan utama berupa sakit kepala di verteks dan menjalar
hingga difus atau ke daerah oksipital dan retroorbital yang paling sering, temporal sehingga seperti
keluhan telinga dan frontalis.Pada palpasi, pasien dapat mengeluhkan rasa nyeri tekan di daerah
epikantus medial yang dapat mengecohkan dengan sinusitis etmoidalis. Rinoskopi posterior dapat
dijumpai PND berasal dari atas pinggir koana. Pada sinusitis sfenoidalis mungkin membutuhkan
bantuan penunjang radiologik karena sulit didiganosa karena posisi anatomisnya.

Penggunaan obat meliputi obat anti alergi dan dekongestan, obat mukolitik untuk
mengencerkan sekret, obat analgetik untuk mengurangi rasa nyeri, dan obat antibiotik. Bedah
sinus endoskopi fungsional (BSEF) merupakan tehnik terbaik untuk penatalaksanaan
rinosinusitis kronik sampai dengan saat ini. BSEF lebih konservatif dengan morbiditas yang
rendah apabila dibandingkan dengan tehnik operasi yang lain.
Komplikasi yang dapat timbul akibat dari sinusitis sfenoidalis antara lain osteomielitis os.
Sfenoid, trombosis sinus kavernosus, komplikasi intrakranial dan merupakan salingkait satu
sama lain.

14

DAFTAR PUSTAKA

1. Soetjipo D. Mangunkusumo E. Sinus Paranasal. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga


Hidung Tenggorok Kepala Leher. Jakarta: FK UI; 2007. Hal. 145-153.
2. Hilger PA. Penyakit Sinus Paranasal. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta: EGC;
1997. Hal.241-260.
3. Ballenger MS, John Jacob. Penyakit Telinga Hidung, Tenggorokan, Kepala dan Leher.
Jakarta: Biraupa Aksara; 2010. Hal. 232-281.
4. Ludman H. Petunjuk Pneting pada Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Jakarta:
Hipokrates: 1992. Hal. 62-65.
5. Itzhak Brook. Acute Sinusitis [Internet]. 2013 [diakses 05 Desember 2015]. Diakses dari:
http://emedicine.medscape.com/article/232670-overview#a0156
6. Pracy R, Siegler J. Pelajaran Ringksasn Telinga Hidung dan Tenggorokan. Jak

aarta:

Binarupa Aksara; 2007. Hal. 81-99.


7. Mansjoer A, dkk. Sinusitis Paranasal. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta; Media
Aesculapius FK UI; 2001. Hal. 102-104.
8. Gilony D, Talmi YP, Bedrin L, Ben-Shosan Y, Kronenberg J. The Clinical Behaviour of
Isolated Sphenoid Sinusitis [internet]. 2007 [diakses 05 Desember 2015]. Diakses dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17418260
9. Molnr-Gbor E, Dczi I, Hatvani L, Vgvlgyi C, Kredics L. Isolated sinusitis
sphenoidalis caused by Trichoderma longibrachiatum in an immunocompetent patient
with headache [internet]. 2013 [diakses 05 Desember 2015]. Diakses dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23657526
10. Broek PVD. Debruyne F, Feenstram Marres HAM. Buku Saku Ilmu Kesehatan
Tenggorok Hidung dan Telinga. Jakarta: EGC; 2009. Hal. 113-115

15

11. Bhaya MH. Goldsmith AJ. Nyeri Kepala dan Wajah. Ilmu THT Esensial. Jakarta: EGC;
2011. Hal. 221-223
12. Keith d. Carter , junhee lee and jeffrey a. Nerad. Plain Roentgenographic Evaluation of
Orbital Disease [internet]. 2000 [diakses 05 Desember 2015]. Diakses dari:
http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v2/v2c023.html
13. Blackwell Publishing. Resident and Fellow Section. Morris Levin, MD, Section Editor.
[diakses

10

Desember

2015].

Diakses

dari:

http://www.americanheadachesociety.org/assets/1/7/March_2007.pdf
14. Pirkko Ruoppi, MD; Juha Sepp, MD; Matti Pukkila, MD; Juhani Nuutinen, MD , Arch
Otolaryngol Head Neck Surg. 2000;126(6):777-781. [diakses 10 Desember 2015].
Diakses dari:
a. http://archotol.jamanetwork.com/article.aspx?articleid=404830
15. J Natl Med Assoc. 1991 Jan; 83(1): 8586. Sphenoid sinusitis. R. A. Hill, L. N. Johnson,
and
R.
Parnes
[diakses
10
Desember
2015].
Diakses
dari:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2627011/pdf/jnma00879-0105.pdf
16. Bestari J. Budiman, Yurni Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas/ RS.M.Djamil Padang. [diakses 10 Desember 2015]. Diakses dari:
http://repository.unand.ac.id/18117/1/BSEF%20DENGSN%20TEKNIK
%20HIPOTENSI-%20Yurni.pdf

16