Anda di halaman 1dari 42

PILEK

PAGI
Skenario 1
PBL B-11

Pilek Pagi Hari


Seorang laki-laki, umur 20 tahun , selalu bersinbersiin di pagi hari., keluar ingus encer, gatal di
hidung dan mata. Keluhan juga timbul bila udara
berdebu. Keluhan seperti ini sudah diderita sejak usia
14 tahun. Dalam keluarga tidak ada yang menderita
penyakit serupa, kecuali penyakit asma pada ayah
pasien. Pasien rajin solat tahajud, sehingga dia
bertanya apakah ada hubungan memasukan air ke
hidung di malam hari dengan keluhannya ini? Pasien
menanyakan ke dokter mengapa bisa terjadi
demikian, dan apakah berbahaya apabila menderita
keluhan ini dalam jangka waktu yang lama.

Kata Sulit
Asma : radang kronis saluran nafas
yang menybabkan peningkatan
hiperresponsif saluran nafas
Ingus : mucus atau secret yang
keluar dari hidung
Bersin : keluarnya udara semiotonom
dari hidung dan mulut

Pertanyaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mengapa gejala terjadi pada pagi hari ?


Mengapa bias terjadi bersin-bersin?
Apa penyebab gatal pada hidung ?
Apa hubungan bersin-bersin dengan memasukan
air ke dalam hidung ?
Mengapa ingus yang keluar encer ?
Apakah ada hubungan penyakit asma pada ayah
pasien?
Apa yang terjadi bila dibiarkan dalam jangka
waktu yang panjang ?
Apa diagnosis dari scenario ini?

Jawaban
1. karena pada pagi hari suhu dingin atau rendah,
pasien di scenario kemungkinan alergi terhadap
suhu dingin.
2. reflek bersin timbul karena cilia terpapar allergen.
Pada scenario ini alergennya adalah debu
3. karena adanya histamine.
4. karena pasien kemungkinan alergi suhu dingin.
5. karena etiologi dari scenario ini adalah non-infeksi.
6. ada, alergi dapat menurun secara genetic.
7. ika tidak ditangani dapat menimbulkan polip.
8. rhinitis Alergi

Hipotesis
Udara dingin dan debu dapat
mengakibatkan terjadinya alergi pada
hidung yang disebut rhinitis alergi.
Gejala dapat berupa bersin bersin,
ingus encer dan bening, dan gatal di
hidung dan mata. Apabila tidak di
terapi dapat menimbulkan polip yang
pada akhirnya dapat menyebabkan
sinusitis.

1. Memahami dan Menjelaskan


Saluran Pernafasan Atas
1.1 Anatomi Makroskopik
1.2 Anatomi Mikroskopik (Histologi)

1.1 Anatomi Makroskopik


Saluran
pernafasan atas
terdiri dari
hidung faring
laring.

HIDUNG

Arteri Ethmoidalis Anterior, Arteri Ethmoidalis


posterior, Arteri Sphenopalatina Plexus Kiesselbach

Faring

Laring

1.2 Mikroskopik (Histologi)

Sel Epitel Respirasi bertingkat


toraks, bersilia, dengan sel goblet

Epitel Olfaktori
Penghidu

2. Memahami dan menjelaskan


fisiologi pernafasan
Secara Anatomi:
Pada waktu inspirasi udara masuk melalui kedua nares anterior
vestibulum nasi cavum nasi lalu udara akan keluar dari cavum
nasi menuju nares posterior (choanae) masuk ke
nasopharynx,masuk ke oropharynx (epiglottis membuka aditus
laryngis) daerah larynx trakea.masuk ke bronchus primer
bronchus sekunder bronchiolus segmentalis (tersier)
bronchiolus terminalis melalui bronchiolus respiratorius
masuk ke organ paru ductus alveolaris alveoli.pada saat di
alveoli terjadi pertukaran CO2 (yang dibawa A.pulmonalis)lalu keluar
paru dan O2 masuk kedalam vena pulmonalis.lalu masuk ke atrium
sinistra ventrikel sinistra dipompakan melalui aorta ascendens
masuk sirkulasi sistemik oksigen (O2) di distribusikan keseluruh
sel dan jaringan seluruh tubuh melalui respirasi internal,selanjutnya
CO2 kembali ke jantung kanan melalui kapiler / vena dipompakan
ke paru dan dengan ekspirasi CO2 keluar bebas.

Secara Fisiologis:
Inspirasi merupakan proses aktif ,akan terjadi kontraksi otot
otot ,inspirasi akan meningkatkan volume intratorakal,tekanan
intrapleura di bagian basis paru akan turun dari normal sekitar
-2,5 mm Hg (relatif terhadap tekanan atmosfer) pada awal
inspirasi menjadi 6 mm Hg.jaringan paru semangkin tegang,
tekanan di dalam saluran udara menjadi sedikit lebih negatif
dan udara mengalir kedalam paru.pada akhir inspirasi daya
rekoil paru mulai menarik dinding dada kembali ke kedudukan
ekspirasi ,sampai tercapai keseimbangan kembali antara daya
rekoil jaringan paru dan dinding dada.tekanan didalam saluran
udara menjadi sedikit positif dan udara mengalir meninggalkan
paru, selama pernapasan tenang,ekspirasi merupakan proses
pasif yang tidak memerlukan kontraksi otot untuk menurunkan
volume inratorakal, namun pada awal ekspirasi masih terdapat
kontraksi ringan otot inspirasi, kontraksi ini berfungsi sebagai
peredam daya rekoil paru dan memperlambat ekspirasi

3. Memahami dan Menjelaskan


Rhinitis
3.1 Definisi Rhinitis
3.2 Etiologi Rhinitis
3.3 Klasifikasi Rhinitis
3.4 Patofisiologi Rhinitis
3.5 Manifestasi Rhinitis
3.6 Diagnosis dan Diagnosis Banding Rhinitis
3.7 Komplikasi Rhinitis
3.8 Tatalaksana Rhinitis
3.9 Pencegahan Rhinitis
3.10 Prognosis Rhinitis

3.1 Definisi
Rhinitis

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang


disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi
yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan
alergen yang samaserta dilepaskannya suatu
mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan
dengan alergen spesifik tersebut (von Pirquet,
1986). Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its
Impact on Asthma,2001), rinitis alergi adalah
kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin,
rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa
hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

3.2 Etiologi
Rhinitis

Alergen serbuk sari, debu, bulu


hewan, spora jamur, kotoran
serangga, dll
Obat-obatan
Hormon
Faktor fisik suhu (cuaca), asap
rokok, lembab

3.3 Klasifikasi
Rhinitis

a. Rhinitis Seasonal (hay fever) : alergi yang terjadi


karena menghirup alergen yang terdapat secara
musiman, seperti serbuk sari bunga
b. Rhinitis Perrenial : alergi yang terjadi tanpa tergantung
musim, hampir sepanjang hari dalam setahun, misalnya
alergi, debu, bulu binatang, jamur, dan lain-lain. Dan
umumnya menyebabkan gejala kronis yang lebih ringan.
Alergennya umumnya diperoleh dari dalam rumah
c. Rhinitis Occupational : alergi sebagai akibat paparan
alergen tempat kerja, misalnya paparan terhadap agen
dengan bobot molekul tinggi, agen berbobot molekul
rendah atau zat-zat iritan, melalui mekanisme imunologi
yang tidak begitu diketahui

3.4 Patofisiologi
Rhinitis

3.5 Manifestasi Klinik Rhinitis

Bersin
Gatal: Hidung, mata, telinga, mata, langit-langit
rhinorrhea
postnasal drip
Kemacetan
anosmia
sakit kepala
sakit telinga
Tearing
Mata merah
pembengkakan
Kelelahan
Mengantuk
Malaise

3.6 Diagnosis dan


Diagnosis Banding
Anamnesis Rhinitis
Rhinitis alergi dapat ditegakan apabila
2 atau lebih gejala seperti bersinbersin lebih 5 kali setiap serangan,
hidung dan mata gatal, ingus encer
lebih dari satu jam, hidung tersumbat
dan mata merah serta berair maka
dinyatakan positif.

Pemeriksaan Fisik
Pada muka di dapatkan garis DennieMorgan dan allergic shiner serta allergic
crease yaitu berupa garis melintang pada
dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Dengan
rinoskopi ditemukan permukaan hidung
basah, berwarna pucat atau livid dengan
chonca edema dengan sekret yang encer
dan banyak. Polip hidung dapat
memperberat gejala hidung tersumbat. Dapat
pula ditemukan konjungtivitis bilateral atau
penyakit yang berhubungan lainnya seperti
sinusitis dan otitis media.

Pemeriksaan Penunjang
In vitro
In vivo
Skin Prick Test
IgE Serum total
IgE serum spesifik
Sitologi
Nasal Challenge Test
CT Scan/MRI/Foto Polos Paranasal

Diagnosis
Banding

Rhinitis Vasomotor : suatu keadaan idiopatik yang


didiagnosis tanpa adanya infeksi, alergi, eosinofilia,
perubahan hormonal dan pajanan obat.
Rhinitis Medikamentosa : suatu kelainan hidung berupa
gangguan respon normal vasomotor yang diakibatkan oleh
pemakaian vasokonstriktor topikal dalam waktu lama dan
berlebihan sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang
menetap.
Rhinitis Simpleks : penyakit yang diakibatkan oleh virus.
Biasanya adalah rhinovirus. Sangat menular dan gejala
dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan atau
menurunnya daya tahan tubuh.
Rhinitis Hipertrofi :Hipertrofi chonca karena proses
inflamasi kronis yang disebabkan oleh bakteri primer atau
sekunder.

3.7 Komplikasi
Rhinitis

Polip Hidung : Inspisited mucous gland, akumulasi


sel-sel inflamasi yang banyak, hiperplasia epitel,
hiperplasia sel goblet, dan metaplasia skuamosa.
Otitis media : terutama pada anak-anak
Sinusitis paranasal : Inflamasi mukosa satu atau
lebih sinus paranasal akibat edema ostia sinus oleh
proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan
sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan
oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus. Hal
tersebut menyuburkan pertumbuhan bakteri aerob
yang akan menyebabkan rusaknya fungsi barier
epitel.

3.8 Tatalaksana
Rhinitis

Non Farmakologi
Pengelolaan rhinitis alergi terdiri dari 3 kategori utama
dari pengobatan, (1) langkah-langkah pengendalian
lingkungan dan menghindari alergen, (2) manajemen
farmakologis, dan (3) imunoterapi.
Langkah-langkah Pengendalian Lingkungan dan
Menghindari Alergen
Menghindari pencetus (alergen). Amati benda-benda
apa yang menjadi pencetus(debu, serbuk sari, bulu
binatang, dll)
Jika perlu, pastikan dengan skin test
Jaga kebersihan rumah, jendela ditutup, hindari
kegiatan berkebun. Jika harus berkebun, gunakan
masker wajah

Farmakologi
1. Anti Histamin menekan reaksi
histamin, menahan aktivitas sel mast
untuk bergranulasi
Reseptor Histamin: H1 & H2

Farmakodinamik Antagonis kompetitif pada


pembuluh darah, bronkus dan bermacammacam otot polos. Selain itu AH1 bermanfaat
untuk mengobati reaksi hipersensitivitas atau
keadaan lain yang disertai pengelepasan
histamin endogen berlebihan.

Farmakokinetik Setelah pemberian


oral atau parenteral, AH1 diabsorpsi
secara baik. Kadar tertinggi terdapat
pada paru-paru sedangkan pada limpa,
ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya
lebih rendah. Tempat utama
biotransformasi AH1 adalah hati.

Penggolongan AH1
AH generasi 1
Contoh : etanolamin,Etilenedamin,Piperazin ,Alkilamin ,Derivat fenotiazin
Keterangan : sedasi ringan-berat, antimietik dan komposisi obat flu,
antimotion sickness
Indikasi AH1 berguna untuk penyakit : Alergi, Mabuk perjalanan, Anastesi
lokal, Untuk asma berbagai profilaksis
Efek samping
Vertigo, tinitus, lelah, penat, inkoordinasi, insomnia, tremor, mulut kering,
disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat, lemah pada tangan.

Antihistamin golongan 1 lini pertama


Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan
dekongestan secara peroral.
Bersifat lipofilik, dapat menembus sawar darah otak, mempunyai efek
pada SSP dan plasenta.
Kolinergik
Sedatif : Oral (difenhidramin, klorfeniramin, prometasin, siproheptadin)
dan Topikal (Azelastin)

2. Dekongestan
Dekongestan nasal adalah alfa
agonis yang banyak digunakan pada
pasien rinitis alergika atau rinitis
vasomotor dan pada pasien ISPA
dengan rinitis akut. Obat ini
menyebabkan venokonstriksi dalam
mukosa hidung melalui reseptor alfa 1
sehingga mengurangi volume mukosa
dan dengan demikian mengurangi
penyumbatan hidung.

Obat golongan ini disebut obat adrenergik atau obat


simptomimetik, karena obat ini merangsang saraf simpatis.
Kerja obat ini digolongkan 7 jenis :
1. Perangsangan organ perifer : otot polos pembuluh
darah kulit dan mukosa, misal : vasokontriksi mukosa
hidung sehingga menghilangkan pembengkakan mukosa
pada konka.
2. Penghambatan organ perifer : otot polos usus dan
bronkus, misal : bronkodilatasi.
3. Perangsangan jantung : peningkatan denyut jantung
dan kekuatan kontraksi.
4. Perangsangan Sistem Saraf Pusat : perangsangan
pernapasan dan aktivitas psikomotor.
5. Efek metabolik : peningkatan glikogenolisis dan
lipolisis.
6. Efe endokrin : modulasi sekresi insulin, renin, dan
hormon hipofisis.
7. Efek prasipnatik : peningkatan pelepasan
neurotransmiter.

Contoh Obat Oral


1. Efedrin
2. Fenilpropanolamin
3. Fenilefrin
Contoh Obat Topikal:
4. Derivat imidazolin (nafazolin,
tetrahidrozolin, oksimetazolin

Kortikosteroid Inhalasi
Pemberian kortikosteroid secara inhalasi
memiliki keuntungan yaitu diberikan dalam
dosis kecil secara langsung ke saluran
pernafasan (efek lokal), sehingga tidak
menimbulkan efek samping sistemik yang
serius. Biasanya, jika penggunaan secara
inhalasi tidak mencukupi barulah
kortikosteroid diberikan secara oral, atau
diberikan bersama dengan obat lain
(kombinasi, misalnya dengan bronkodilator)

Nama generik

Nama dagang di Bentuk


Indonesia
Sediaan
Beclomethasone Becloment
Inhalasi
dipropionate
(beclomethasone
aerosol
dipropionate 200g/
dosis)
Budesonide
Pulmicort
Inhalasi
(budesonide
aerosolSerbuk
inhalasi
100 g, 200 g, 400
g / dosis)

Fluticasone

Flixotide (flutikason Inhalasi


propionate50 g , aerosol
125 g /dosis)

Dosis dan Aturan


pakai
Inhalasi aerosol:
200g , 2 kali
seharianak: 50-100
g 2 kali sehari
Inhalasi aerosol:
200 g, 2 kali
sehariSerbuk
inhalasi: 200-1600
g / hari dalam
dosis terbagianak:
200-800 g/ hari
dalam
dosis
terbagi
Dewasa dan anak
> 16 tahun: 100250 g, 2 kali
sehariAnak 4-16
tahun; 50-100 g,
2 kali sehari

Kortikosteroid bekerja dengan memblok


enzim fosfolipase-A2, sehingga menghambat
pembentukan mediator peradangan seperti
prostaglandin dan leukotrien. Selain itu
berfungsi mengurangi sekresi mukus dan
menghambat proses peradangan.
Kortikosteroid tidak dapat merelaksasi otot
polos jalan nafas secara langsung tetapi
dengan jalan mengurangi reaktifitas otot
polos disekitar saluran nafas, meningkatkan
sirkulasi jalan nafas, dan mengurangi
frekuensi keparahan asma jika digunakan
secara teratur.

3.9
Pencegahan
Rhinitis

Menghindari makanan dan obat-obatan yang


dapat menimbulkan alergi
Jangan biarkan hewan berbulu masuk ke
dalam rumah, jika alergi bulu hewan
Bersihkan debu dengan penyedot debu dan
lap basah, minimal 2-3 kali dala satu minggu
Guakan pembersi udara elektris untuk
mebuang debu ruma
Tutup perabotan berbahan kain dengan
lapisan yang bisa dicuci
Larang rokok dan pengguanaan produk yang
beraoma di rumah

3.10 Prognosis
Rhinitis

Banyak gejala ritis alergi dapat dengan


mudah diobati. Pada beberapa kasus
khusunya pada anak-anak.
Kemungkinan seseorang mendapatkan
alergi seiring dengan penurunan
sistem imun.

Menjelaskan Menjaga
Saluran Nafas Dalam
Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan
Islam
membenci menguap. Karenanya apabila salah
seorang dari kalian bersin lalu dia memuji Allah,
maka kewajiban atas setiap muslim yang
mendengarnya untuk mentasymitnya
(mengucapkan yarhamukallah). Adapun
menguap, maka dia tidaklah datang kecuali dari
setan. Karenanya hendaklah menahan menguap
semampunya. Jika dia sampai mengucapkan
haaah, maka setan akan menertawainya. (HR.
Bukhari no. 6223 dan Muslim no. 2994)

Bila salah seorang dari kalian


menguap maka hendaklah dia
menahan mulutnya dengan
tangannya karena sesungguhnya
setan akan masuk. (HR. Muslim no.
2995)
Apabila Nabi shallallahu alaihi wa
sallam bersin, beliau menutup
wajahnya dengan tangan atau
kainnya sambil merendahkan
suaranya. (HR. Abu Daud no. 5029,
At-Tirmizi no. 2745, dan dinyatakan
shahih oleh Al-Albani dalam Shahih

Daftar Pustaka

Baratawidjaja, Kamen G, Iris Rengganis (2010). Imunologi


Dasar. Edisi 9. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI
El-Bantanie, Muhammad Syafiie (2010). Dahsyatnya Terapi
Wudhu. Jakarta :
Gramedia Pustaka Utama
Hardjodisastro, Daldiyono (2006). Menuju Seni Ilmu
Kedokteran : Bagaimana Dokter
Berpikir, Bekerja, dan Menampilkan Diri. Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama
Herawati, Sri, Rukmini, Sri (2000). Buku Ajar Ilmu Penyakit
Telinga Hidung
Tenggorok : Untuk Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi.
Jakarta : EGC
Kumala, Poppy [et.al] (1998). Kamus Saku Kedokteran
Dorland. Edisi 25. Jakarta : EGC
Leeson CR, Leeson TS, Paparo AA (1996). Buku Ajar Histologi.
Edisi 5. Jakarta : EGC
Raden, Inmar (2011). Anatomi Kedokteran Sistem
Kardiovaskular dan Sistem Respiratorius.