Anda di halaman 1dari 54

MAKALAH MANAJEMEN FARMASI KOMUNITAS

STUDI KELAYAKAN

DISUSUN OLEH:
Kelompok 8 Kelas A

Kelompok 7 Kelas B

Carmelita Dissa Wardhani

1406525016

Aldi Putra Madya

1406524833

Elda Yulia Mamora Siregar

1406525180

Budi Utami Wibawani

1406525003

Gadis Meilia Paramita

1406525275

Dessy Dian Septysari

1406525110

Hafifah Frawita

1406525281

Inayatun Ilaahiyah

1406598831

Idam Titis Permana

1406525306

Jordan Ricky Tanuwijaya

1406525350

Jodi Tiara Rahmania

1406525344

Ratna Choirunnisa

1406525672

Marianne Wiguna

1406525436

Sani Zakkia Alawiyah

1406525823

Widya Dwi Aryati

1406525994

Widyo Budilaksono

1406526006

Dita Tri Mahliga

1406598781

PROGRAM PROFESI APOTEKER 80


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2014

BAB I
PENDAHULUAN
Apotek

adalah

komoditasnya

atau

suatu

jenis

barang

bisnis

yang

eceran

(retail)

diperdagangkan

terdiri

yang
dari

perbekalan kefarmasian, yang meliputiobat dan bahan obat, serta


perbekalan kesehatan. Apotek juga merupakan tempat tertentu,
tempat

dilakukan

perbekalan
masyarakat.

pekerjaan

kefarmasian

farmasi,

perbekalan

Apotek

mempunyai

dan

kesehatan
dua

penyaluran

lainnya

fungsi

yaitu

kepada

pelayanan

kesehatan dan bisnis.


Apotek adalah bisnis, sedangkan profesi apoteker sebagai
penanggungjawabnya adalah bentuk pelayanan kesehatan. Cara
untuk mewujudkan sinergi yang baik dari segi bisnis dan pelayanan
salah satunya adalah dengan membentuk apotek sebagai tempat
yang nyaman, leluasa, serta ramah dengan pasien atau customer.
Ramah, leluasa, dan nyaman ini adalah sebuah personifikasi dari
tata

letak,

pencahayaan,

serta

tata

ruang

apotek

sehingga

pengunjung,yang bisa saja bukan pasien atau customer, melainkan


pengantar atau keluarga, menjadi betah dan merasa diterima
dengan baik.
Perusahaan

yang

baik

harus

senantiasa

memperhatikan

manajemen perusahaannya untuk mengimbangi perkembangan


dunia bisnis yang semakin kompetitif. Perusahaan memerlukan
sistem

manajemen

yang

didesain

sesuai

dengan

tuntutan

lingkungan usahanya, karena dengan begitu perusahaan akan


mampu bersaing dan berkembang dengan baik
Era globalisasi memungkinkan customer bebas memilih apotek
mana yang mampu memberikan pelayanan yang memuaskan,

profesional dengan harga bersaing, sehingga strategi dan kinerja


apotek pun harus berorientasi pada keinginan customer tersebut.
Diterapkannya pengukuran kinerja dengan menggunakan perspektif
keuangan dan customer diharapkan mampu menjawab tuntutan
dan tantangan zaman.
Evaluasi

kinerja

apotek

dengan

menggunakan

perspektif

customer dan keuangan merupakan suatu kerangka kinerja baru


yang mewakili penilaian non keuangan dan keuangan. Ukuran
financial untuk melihat kinerja perusahaan di masa lalu sedangkan
untuk mendorong kinerja dimasa depan salah satunya digunakan
ukuran customer. Ukuran financial tradisional hanya menjelaskan
berbagai peristiwa masa lalu dan tidak memadai untuk menuntun
dan

mengevaluasi

perjalanan

yang

harus

dilalui

perusahaan

informasi dalam menciptakan nilai masa depan melalui investasi


yang ditanamkan pada customer.

BAB II
ISI
2.1

Pengertian Studi Kelayakan Apotek


Studi kelayakan apotek adalah suatu istilah yang menjelaskan tentang metode

penjajagan suatu apotek mengenai kemungkinan layak atau tidaknya atau untung atau
tidak untuk dilaksanakan. Tingkat keberhasilan suatu proyek ditentukan oleh dua
faktor, yaitu:

Faktor Internal
Faktor yang menggambarkan kemampuan sumber daya internal seperti
kecakapan manajemen, kualitas pelayanan, jenis dan keragaman produk
yang dijual, serta kualitas karyawan.

Faktor Eksternal
Faktor yang menggambarkan lingkungan eksternal yang tidak dapat
dipastikan atau tidak dapat dikendalikan, seperti pertumbuhan pasar, jumlah
peasaing, jumlah pemasok dan perubahan peraturan. Sebalinya sebuah
apotek yang pendiriannya dipaksakan, meskipun menurut studi kelayakan
tidak layak dilaksanakan, bukannya peluang yang diperoeh, tetapi resiko
kerugian yang diperoleh.

Tata cara membuat studi kelayakan pendirian sebuah apotek meliputi seluruh
aspek seperti aspek manajemen, pasar, teknis dan keuangan. Adapun pihak-pihak
yang memiliki kepentingan dalam studi kelayakan yaitu:

Pengusaha
Untuk dapat mengetahui apakah gagasan usahanya layak dilaksanakan atau
tida, karena dengan adanya studi kelayakan pengusaha dapat mengambil
peluang atau dapat menghindari resiko kerugian.

Kreditor
Untuk dapat mengkaji apakah proyek tersebut pantas diberikan kredit atau
tidak. Meskipun ada faktor lain yang dijadian pertimbangan, seperti besarnya
nilai jaminan, bonfiditas pengusahanya dan tingkat hubungan kedua belah
pihak.

Investor
Untuk dapat menganalisis apakah menanamkan modal pada proyek tersebut
dapat memberikan keuntungan atau tidak.

2.2

Tujuan
Tujuan dari studi kelayakan adalah:
1) Bagaimana cara membuat studi kelayakan pendirian sebuah apotek.
2) Aspek-aspek apa saja yang menjadi penilaian dalam studi kelayakan
pendirian sebuah apotek.
3) Kapan suatu studi kelayakan pendirian sebuah apotek dapat dikatakan layak
atau tidak layak untuk dilaksanakan.
4) Bagaimana cara membuat analisis break even point dalam studi kelayakan
pendirian sebuah apotek.

2.3

Tahapan Studi Kelayakan

2.3.1

Penemuan Suatu Gagasan


Gagasan adalah sebuah pemikiran terhadap sesuatu yang ingin sekali
untuk dilaksanakan. Gagasa biasa muncul dari pemikiran seseorang dalam

suatu organisasi yang mempunyai keinginan untuk melakukan seusatu.


Gagasan yang baik untuk didiskusikan dan dianalisis haruslah memenuhi
kriteria sebagai berikut:

Sesuai dengan visi dan misi organisasi

Dapat menguntungkan organisasi

Sesuai dengan kemampuan sumber daya yang dimiliki organnisasi

Tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku

Aman untuk jangka panjang.

S esu ai d e ng an
sum b er da y a

Keu ntu ng an >


Re siko

G ag asan

Se sua i d e ngan
visi d an m isi

M eng u ntu ng kan

S esua i d en ga n
p era tu ran

Gambar 1. Kriteria sebuah gagasan yang baik.


2.3.2

Penelitian Data Lapangan


Setelah gagasan dianalisis dan memberikan perspektif yang baik di masa
yang akan datang, maka gagasan tersebut disetujui untuk ditindaklanjuti
dengan penelitian di lapangan, data yang dibutuhkan antara lain:

Data ilmiah: melalui analisa data-data bisnis mengenai kondisi


lingkungan eksternal yang ada di sekitar lokasi yang ditetapkan seperti:

Nilai strategis suatu lokasi


Data kelas konsumen
Peraturan yang berlaku di wilayah/ daerah tersebut
Tingkat persaingan atau jumlah apotek yang sudah ada saat ini

Data non ilmiah


Data yang diperoleh melalui intusi setelah melihat kondisi dan situasi
nlokasi di lingkungan sekitarnya.

2.3.3

Evaluasi Data Lapangan


Evaluasi data di lapangan dapat dilakukan dengan cara:

Memperhatikan beberapa faktor yang berpengaruh, yang terdiri dari:


Data di sekitar lokasi (faktor eksternal)
Faktor eksternal meliputi kelas konsumen yang akan dilayani,
jumlah konsumen dan pendapatan per kapita per tahun, peraturan
tentang pegembangan tata kota di lokasi yang dipilih, jarak lokasi
yang dipilih dengan supplier, serta kondisi keamanan di sekitar
lokasi yang ditetapkan
Data kemampuan sumber daya yang dimiliki (faktor internal)
meliputi kemampuan keuangan, tenaga kerja, ketersediaan barang
dagangan dan manajemen.

Membuat usulan proyek


Usulan proyek terdiri dari pendahuluan yang meliputi latar
belakang dan tujuan.
Anlisis teknis, meliputi kenutuhan tenaga apoteker dan asisten
apoteker, kebutuhan biaya untuk sarana apotek, kebutuhan untuk
sarana transportasi, kebutuhan biaya untuk pembuatan surat izin,

dan kebutuhan biaya untuk persediaan barang, kebutuhan jumlah


departemen/kelas terapi, jumlah kategori dan merek serta jumlah
SKU dari setiap mereknya harus disesuaikan dengan target pasar
yang dipilih, agar tidak mubadzir.
Analisis pasar, meliputi bentuk pasar yang ada saat ini, prospek
potensi pasar dimasa yang akan datang, tingkat persaingan, tingkat
keamanan dan target konsumen yang menjadi sasaran.
Analisis Manajemen, meliputi bentuk usaha apotek, funsi kegiatan
yang akan dikerjakan, jumlah dan kualifikasi kebutuhan tenaga
kerja, program kerja yang menjadi prioritas dalam mencapai sasaran
di tahun pertama, dan pembagian kerja untuk setiap karyawan.
Analisis keuangan, meliputi jumlah biaya investasi dan modal kerja
yang dibutuhkan dan digunakan untuk keperluan pendirian apotek.
Sumber pendanaan dapat diperoleh seperti dari bank atau dari
lembaga lain atau modal sendiri dan perbandingan tingkat efisiensi
dari bank, lembaga lain atau modal sendiri.
Aliran kas untuk mengetahui gambaran rencana aliran kas selama
periode investasi serta upaya yang harus dilakukan untuk menjaga
aliran kas.
2.3.4

Rencana Pelaksanaan
Setelah usulan proyek disetujui, kemudian menetapkan waktu yang
berupa waktu dan anggaran biaya pelaksanaan untuk memulai pekerjaan
prioritas, dilakukan rencana pelaksanaan yang meliputi:

Menediakan dana biaya investasi dan modal kerja

Mengurus izin usaha apotek

Membangun atau merehabilitasi gedung

Merekrut karyawan

Menyiapkan barang dagangan dan sarana perlengkapan apotek

2.3.5

Memulai operasional

Pelaksanaan
Untuk melaksanakan pekerjaan harus ada format yang berisi tentang:

Jadwal pelaksanaan setiap jenis pekerjaan

Mencatat setiap penyimpangan yang terjadi

Membuat evaluasi dan solusi penyelesaiannya

2.4 Aspek Penilaian Studi Kelayakan


2.4.1

Aspek Manajemen
Penilaian meliputi rencana dalam aspek manajemen adalah:
a. Strategi Manajemen
Strategi yang akan digunakan untuk mengubah kondisi yang ada saat
ini (current condition) menjadi kondisi di saat yang akan (future
condition) datang dalam suatu periode waktu tertentu. Strategi Manajemen
mengenai visi atau mengenai cita-cita, yang akan dicapai oleh pendiri atau
pemiliknya, misi adalah beban tugas utamanya, strategi merupakan siasat
untuk mencapai tujuan, program kerja yaitu cara-cara untuk memperoleh
sasaran dan standar prosedur operasional (SPO) adalah tata cara (langkahlangkah) melaksanakan suatu kegiatan dan berlaku sebagai peraturan.
b. Bentuk dan Tata Letak Bangunan
Hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan tata letak bangunan ialah:
1. Bentuk bangunan sebaiknya dapat menggambarkan:
Identitas perusahaan untuk membentuk opini konsumen
Nuansanya (physical evident) baik interior ataupun eksterior sesuai
dengan target konsumen yang akan dilayani
Kemudahan untuk dikembangkan
2. Sistem tata letak (lay out) dapat memberikan :
Kemudahan dalam melakukan pengawasan dan pengendalian
mutasi barang.

Kemudahan bagi konsumen untuk memperolehnya (untuk produk

OTC).
3. Estetika, rapih,teratur dan tersusun dengan baik.
4. Kesesuaian dengan peraturan yang berlaku dan sifat barang, karena
dalam pengelolaan sediaan farmasi di apotek telah diatur oleh undangundang dan adanya sifat obat yang mudah terpengaruh oleh berbagai
macam keadaan.
c. Jenis Produk Yang Akan Dijual
Terkait penilaian terhadap analisis produk yang akan dijual berkaitan
dengan:
Target konsumen, bila target konsumennya yang menengah-atas, maka

barang yang dijual juga barang menengah-atas.


Jumlah dan jenis (lini, item) produk kebutuhan konsumen, umumnya
konsumennya yang menengah-atas meminta perhatian yang lebih dari
penjual. Oleh sebab itu lini dan jumlah itemnya terpenuhi agar
kelengkapannya terjaga

2.4.2

Aspek Pasar
Bentuk pasar merupakan suatu penilaian aspek pasar dapat digunakan
untuk memberikan gambaran mengenai bentuk pasar, Apotek yang ada
disekitar lokasi yang dipilih, menilai Situasi pasar saat ini? . Potensi pasar
dinilai sejumlah pembeli suatu wilayah yang memiliki uang dan keinginan
untuk membelanjakannya(dikuantumkan dalam suatu mata uang) dengan
perhitungan:
Q=n P
Dimana:
Q =Potensi pasar
n = Jumlah Pembeli
P = Harga rata-rata barang
Target pasar adalah jenis konsumen tertentu yang akan dilayani atau
yang akan menjadi sasaran pemasaran.Dalam suatu studi kelayakan,
pemilihan target pasar akan mempengaruhi penyiapan pemilihan produk,

10

pemilihan lokasi apotek, disain interior dan exterior gedung performans


karyawan dan kualitas pelayanan.
2.4.3

Aspek Teknis
1.
Lokasi dan Lingkungan Sekitar Apotek
Pertimbangan aspek teknis berdasarkan lokasi dan lingkungan yaitu
terkait pemilihan lokasi usaha akan dibuka yang strategis, yang disebut
dengan lokasi yang strategis adalah dekat dengan konsumen, dekat dengan
supplier prospek pasar besar, mudah dikembangkan, aman dan nyaman.
Jarak lokasi dengan supplier
Relatif dekat dan mudah dicapai. Dengan adanya supplier yang dekat
dengan tempat bisnis, maka biaya pengiriman barang akan berkurang,
sehingga pengeluaran apotek untuk jasa penyediaan barang dari supplier
dapat dikurangi dan lebih efektif. Hal ini berlaku untuk apotek yang
memiliki lokasi jauh dari pusat kota, untuk apotek di pusat kota hal ini
tidak terlalu berpengaruh karena relatif dekat dengan supplier.
Jarak lokasi dengan domisili konsumen
Relatif dekat dan mudah dicapai dengan berbagai macam jenis alat
transportasi.
Bentuk serta luas lahan dan bangunan
Mudah untuk mengembangkan usaha, seperti membuka klinik atau lab
Kenyamanan dan keamanan
Daerah sekitar apotek bersih, tidak macet dan sempit serta tingkat
kriminalitas rendah. Dengan demikian, konsumen merasa aman dan
nyaman untuk berkunjung ke apotek.
Prospek pertumbuhan pasar

11

Prospek pertumbuhan pasar relative cepat dan besar yaitu data jumlah
konsumen dan daya beli (income per kapita) relatif tinggi.

2.

Bentuk Badan Usaha Apotek


Bentuk badan usaha yang dapat menjadi pilihan untuk apotek adalah

koperasi dan persero. Keuntungan bentuk badan usaha koperasi adalah dapat
memperoleh kemudahan dalam mengurus izin usaha. Namun, bentuk badan
usaha koperasi kurang menjadi perhatian bagi konsumen, investor, dan
kreditor tertentu. Hal ini berlaku sebaliknya untuk badan usaha dalam bentuk
persero. Badan usaha persero lebih mendapat perhatian dari kalangan
konsumen, investor, dan kreditor tertentu, tetapi biaya dalam mengurus izin
pembuatan badan usaha relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan
koperasi. Untuk usaha apotek mandiri, biasanya tidak memerlukan izin
pembuatan badan usaha yang rumit dan modal yang banyak.
3.

Struktur Organisasi Apotek


Struktur organisasi dibuat sesuai denga tujuan yaitu berdasarkan

jumlah dan jenis pekerjaan, fungsi-tugas dan wewenang-tanggung jawab


setiap pekerjaan, persyaratan jabatan pada setiap jenis pekerjaan dan hirearki
dalam pengambilan keputusan.
Tujuan membuat struktur organisasi untuk memberi gambaran
mengenai :

Jumlah jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan

Fungsi-tugas dan wewenang-tanggung jawab setiap pekerjaan

Persyaratan jabatan pada setiap jenis pekerjaan

Hiriarki dalam pengambilan keputusan

12

Dalam membuat struktur organisasi, besar-kecilnya bagan dan jumlah


pegawai yang dibutuhkan tergantung pada :

Jenis dan volume pekerjaan


Jika jumlah volume pekerjaan banyak, maka struktur diperbesar. Namun
jika volume pekerjaan sedikit, maka struktur dirampingkan agar lebih
efisien

Penempatan pegawai yang sesuai


Penempatan pegawai harus sesuai dengan persyaratan jabatannya yang
telah ditetapkan, hal ini dikenal dengan istilah the right man on the right
place.

2.4.4

Aspek Keuangan
Berdasarkan kegunaannya, dana dibagi menjadi dua yaitu dana untuk
kebutuhan membeli aktiva tetap (tanah, bangunan, peralatan apotek dan sistim
informasi) serta dana untuk kebutuhan modal kerja, untuk aktiva lancar (kas,
rekening di bank, membeli barang dagangan). Pertimbangan pemilihan
sumber dana ialah dipilih berdasarkan biaya yg paling efisien, masa tenggang
hingga payback periode lebih lama, adapun pilihan sumber dana ialah modal
pemilik perusahaan, bank, investor, dan lembaga non-bank/leasing.
Metode analisis keuangan antara lain:
a. Metode analisis payback period (PP)
Analisis payback period adalah pengukuran periode yang
diperlukan dalam menutup kembali biaya investasi (initial cash
investmen) dengan menggunakan aliran kas (laba bersih) yang akan
diterima.
Payback period=

JUMLAH NILAI INVESTASI


x 1 tahun
JUMLAH KAS MASUK PERTAHUN

Kelemahan dari metode payback perod ialah nilai jumlah kas


yang diterima, nilainya tidak disekarangkan sehingga nilainya tidak

13

sama dengan nilai uang investasi yang dikeluarkan pada saat ini.
Indikator yang digunakan pada analisis payback period ialah:
PP yang diperoleh waktunya kurang dari nilai maksimal PP

yang ditetapkan, maka proyek layak dilaksanakan.


PP yang diperoleh waktunya lebih dari lama dari maksimal PP

yang ditetapkan, maka proyek tidak layak dilaksanakan.


PP yang diperoleh waktunya sama dengan maksimal PP yang
ditetapkan, maka proyek boleh dilaksanakan atau boleh tidak.

b. Metode analisis return on investment (ROI)


Metode analisis return on investment

(ROI) adalah

pengukuran besaran tingkat return (%) yang akan diperoleh selama


periode investasi dengan cara membandingkan jumlah nilai laba bersih
pertahun dengan nilai investasi.
ROI=

Nilail aba bersih


100
Nilai investasi

Kelemahan dari metode ini adalah jumlah laba yang akan


diterima, nilainya tidak disekarangkan sehingga nilainya tidak sama
dengan nilai uang investasi yang dikeluarkan pada saat ini.
Indikator yang digunakan dalam metode ini ialah:
ROI yang diperoleh nilainya lebih dari bunga pinjaman, maka

proyek layak dilaksanakan.


ROI yang diperoleh kurang dari nilai bunga pinjaman, maka

proyek tidak layak dilaksanakan.


ROI yang diperoleh sama dengan nilai bunga pinjaman, maka
proyek boleh dilaksanakan dan boleh tidak dilaksanakan.

Jika nilai ROI lebih kecil atau sama dengan bunga pinjaman, maka
perlu dilakukan pengecekan kembali apakah ada modal yang
terlalu besar atau investasi yang kurang tepat.
c. Metode analisis net present value (NPV)

14

Metode analisis net present value (NPV) adalah analisis untuk


mengetahui nilai arus kas yang akan diterima selama periode investasi
(NPV2) apakah lebih besar atau justru lebih kecil dibandingkan nilai
investasi yang dikeluarkan pada saat ini (NPV1).
=NPV 2NPV 1

Indikator dalam analisis NPV adalah


Jika menggunakan df yang sama dengan bunga pinjaman hasil

adalah + maka proyek layak dilaksanakan.


Jika menggunakan df yang sama dengan bunga pinjaman hasil

adalah maka proyek tidak layak dilaksanakan.


Jika menggunakan df yang sama dengan bunga pinjaman hasil
adalah 0 maka proyek boleh dilaksanakan/boleh juga tidak.

d. Analisis internal rate of return (IRR)


Analisis internal rate of return (IRR) adalah pengukuran
besaran diskon faktor (tingkat suku bunga) yang diperoleh dengan cara
mensekarangkan (presentase) aliran kas yang akan diterima selama
periode investasi. Nilai IRR harus harus lebih besar dari tingkat suku
bunga pasar, karna investasi mempunyai banyak resiko, seperti
kebakaran, bencana alam, huru-hara, premanisme, inflasi dan
sebagainya.
Metode yang digunakan untuk mencari nilai IRR adalah
metode trial and error. Langkah dalam melakukan metode tersebut
adalah :
1. Menghitung nilai sekarang (NPV2) arus kas yang akan
diterima selama periode investasi dengan diskon faktor (df1)
sama dengan suku bunga pinjaman NPV2 - NPV1 (nilai
investasi yang dikeluarkan sekarang).

15

2. Bila dengan diskon faktor (df1) yang sama dengan suku bunga
pinjaman, hasil 1-nya - maka trial yang kedua dihentikan dan
proyek tidak layak.
3. Bila dengan diskon faktor (df1) yang sama dengan suku bunga
pinjaman, hasil 1-nya (+) maka NPV2-nya dihitung kembali
dengan diskon faktor yg lebih besar (df2) sampai memperoleh
nilai 2 yang paling mendekati 0.
4. Bila dengan menggunakan diskon faktor yang > suku bunga ke
n kali, memperoleh hasil 2 nya yang paling mendekati 0
diskon faktor (df2) yang paling maksimal.
5. Bila angka diskon faktor diperbesar lagi 2 akan negatif
6. Kemudian mencari IRR dengan rumus :
(1)

IRR (df 1)
x (df 2 df 1)
1 2

Besaran IRR:

e.

Metode Analisis Break Even Point (BEP)


Break even point adalah keadaan apotek atau usaha berada
pada posisi tidak memperoleh keuntungan dan kerugian (penghasilan
sama dengan total biaya). BEP dapat digunakan untuk menentukan dan
mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen

16

pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta


mendapatkan keuntungan/profit.

Manfaat dari analisis BEP antara lain:

Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar


perusahaan tidak mengalami kerugian.

Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh


keuntungan tertentu.

Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya


dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.
Aspek-aspek dalam analisis BEP antara lain:

Total Pendapatan
Total Revenue (TR) atau total pendapatan adalah jumlah
penjualan yang diperoleh dari hasil kali harga (P price)
dengan umlah unit barang (Q quantity)
Rumus TR TR = P x Q

Variable cost (VC) yaitu biaya yang berubah-ubah sesuai


dengan perubahan jumlah (volume) penjualan. Jika penjualan
naik, maka biaya ini juga akan naik atau sebaliknya. Contoh
:biaya pembelian barang dagangan dan bahan baku.

Fixed cost (FC) yaitu biaya yang secara total akan tetap,
walaupun terjadi perubahan pada volume penjualan atau
jumlah produksi. Contoh: gaji pegawai, biaya listrik, telpon.
Jumlah antara variable cost dan fix cost akan diperoleh Total
cost (TC):
TC = VC + FC

17

Keuntungan (Profit) adalah sisa pendapatan dari total penjualan


bersih (TR) setelah dikurangi dengan total biaya (TC).
Rumus Profit Laba = TR TC
Analisis menggunakan beberapa asumsi yaitu:

Biaya yang digunakan dipisah menjadi biaya tetap dan biaya


variabel.

Biaya tetap dianggap konstan sampai batas tertentu

Jumlah yang diproduksi = jumlah yang dijual

Biaya variable berubah proporsional dengan perubahan volume


penjualan.

Harga jual tidak berubah.


Penentuan BEP dilakukan dengan beberapa metode yang

antara lain:

Berdasarkan jumlah barang yang diproduksi (unit)

FC
BEP =
Keterangan
FC = biaya tetap (Fixed Cost)
VC = biaya variabel per unit (Variable Cost)
P = Harga jual per unit (Price)
Contoh :
Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar 300.000.
Biaya variabel per unit 40. Harga jual per unit 100. Kapasitas
produksi maksimal 10.000. Hitunglah BEP (Q)!

300.000
BEP = ----------------------------= 5000 unit

18

Berdasarkan harga penjualannya

FC
BEP =
Keterangan :
Sales (S) atau volume penjualan = P x Q
Total Variable Cost (TVC)

= VC x Q

Contoh dari soal yang sama diatas

Sales (S) atau volume penjualan = P x Q = 100 x 10.000 =


1.000.000

Total Variable Cost (TVC)

= VC x Q = 40 x 10.000

= 400.000

300.000
BEP = ----------------------------= 500.000
Margin of safety merupakan angka yang menunjukkan jarak
antara penjualan yang direncanakan atau budget sales dengan
penjualan break even. Margin of safety (MOS) dapat digunakan untuk
menentukan seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan
tidak menderita kerugian.

Budget sales - BEP


MOS =
----------------------------- x

19

20

2.1 Analisis Studi Kelayakan :


Tujuan analisis: untuk mengetahui apakah suatu investasi apotek layak atau
tidak.

21

Contoh Kasus Studi Kelayakan I

STUDI KELAYAKAN APOTEK


MERUYUNG
Oleh Kelompok 8
Kelas A:
Carmelita Dissa Wardhani

1406525016

Elda Yulia Mamora Siregar

1406525180

Gadis Meilia Paramita

1406525275

Hafifah Frawita

1406525281

Idam Titis Permana

1406525306

Jodi Tiara Rahmania

1406525344

Marianne Wiguna

1406525436

Widya Dwi Aryati

1406525994

Dita Tri Mahliga

1406598781

22

Latar Belakang
Apotek merupakan salah satu tempat pengabdian profesi apoteker yang
diharapkan dapat memiliki keseimbangan antara aspek sosial dan aspek bisnis.
Aspek sosial yaitu memberikan pelayanan kesehatan degan cara menyediakan
obat yang dibutuhkan masyarakat, memberikan informasi, dan monitoring
pengobatan. Sedangkan, aspek bisnis bertujuan untuk memperoleh keuntungan.
Melihat persaingan bisnis apotek yang ketat maka kami mencoba mencari cara
agar bisnis apotek kami dapat menarik bagi masyarakat untuk menjadi pelanggan
tetap apotek kami. Salah satunya dengan cara mendirikan apotek dengan
persediaan obat yang lengkap dan memberikan pelayanan pemesanan via online
serta jasa antar obat ke rumah konsumen.
Tujuan
Apotek Meruyung didirikan dengan tujuan sebagai berikut:
a. Sebagai sarana bagi apoteker untuk memberikan pelayanan kesehatan
b. Menyediakan kebutuhan obat dan perbekalan farmasi lainnya sesuai dengan
kebutuhan masyarakat
c. Memberikan pelayanan informasi kesehatan sehingga dapat meningkatkan
pemahaman masyarakat tentang penggunaan obat secara tepat dan rasional
Visi
Visi Apotek Meruyung adalah:
a. Menjadi apotek pilihan utama bagi masyarakat di sekitar apotek dalam
pemenuhan kebutuhan kesehatan.
b. Memiliki pelayanan kefarmasian

yang

berkualitas,

terpercaya,

dan

memuaskan konsumen.
Misi
Misi dari Apotek Meruyung adalah:
a. Menyediakan obat-obatan yang memenuhi persyaratan izin edar (syarat
efikasi, mutu, dan keamanan)
b. Memberikan pelayanan kefarmasian yang tepat, cepat, dan informatif dengan
mengutamakan kepuasan konsumen

23

c. Menyediakan personil jasa antar obat


d. Mengevaluasi kinerja apotek secara rutin
Strategi
Pencapaian visi dari Apotek Meruyung ditunjang dengan strategi yang antara
lain:
a.
b.
c.
d.
e.

f.
g.
h.
i.
j.
k.

Memiliki persediaan obat yang lengkap


Melakukan promosi lewat media sosial dan internet
Menyediakan jasa konseling
Melakukan monitoring pasien dengan telepon, terutama untuk penyakit kronis
Menyediakan fasilitas yang nyaman, yaitu
- Ruang tunggu yang dilengkapi AC
- Menyediakan fasilitas TV
- Tempat duduk yang nyaman
- Koran dan majalah kesehatan
- Tempat parkir yang luas
Ruangan yang bersih dan pencahayaan yang baik
Bekerja sama dengan praktek dokter
Menerima pelayanan pemesanan via online
Memberikan jasa pelayanan antar obat
Merancang SOP (standar operating procedure) dan standar organisasi kerja
Memberlakukan sistem reward and punishment bagi karyawan apotek

Lokasi
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk usaha
baru, antara lain ialah denah lokasi terkait dengan posisi lokasi usaha yang strategis,
data pendukung meliputi kepadatan penduduk, tingkat sosial ekonomi, fasilitas
pelayanan kesehatan, dan jumlah pesaing. Selain itu, perlu dilakukan pula survey
terhadap data atau alamat apotek kompetitor, data klinik dokter, dan data jumlah
penduduk.
Apotek ini dinamakan Apotek Meruyung disesuaikan dengan nama jalan letak
apotek. Hal ini bertujuan agar membuat apotek lebih dikenal karena terdengar
familiar. Selain itu, penggunaan nama jalan akan mempermudah masyarakat untuk
mengingat letak apotek karena telah mengenal daerah setempat. Lokasi yang dipilih,
Jalan Raya Meruyung, merupakan kawasan padar penduduk dan jalan alternatif
Jakarta-Depok.

24

Gambar 2.1. Denah lokasi tempat usaha yang akan ditempati beralamat di
Jalan Raya Meruyung 34, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Depok .

Data Pendukung
Kepadatan Penduduk
Jalan Raya Meruyung berada di Kecamatan Limo dengan luas 11,91 km 2
dengan jumlah penduduk 116.250 dan kepadatan 5.878. Kecamatan Limo merupakan
5 kecamatan terpadat di Depok. Apotek berada di kawasan padat penduduk yang
dekat

dengan sekolah, perumahan, perbankan dan perkantoran, pertokoan, dan

tempat wisata.

25

Berikut merupakan tabel data jumlah penduduk berdasarkan Data


Kependudukan Puskesmas Kesehatan Grogol Depok tahun 2008.

Tingkat Sosial Ekonomi


Kecamatan Limo memiliki angka harapan hidup mencapai 73,06 tahun.
Kelurahan Meruyung dikategorikan baik secara sosial-ekonomi berdasarkan Data
Kesehatan Penduduk Puskesmas Grogol Depok tahun 2008. Tingkat pendidikan
sekitar juga cukup baik. Berdasarkan sumber yang sama, Kelurahan Meruyung
memiliki persentasi lulusan perguruan tinggi yang lebih besar dibandingkan
kelurahan lainnya. Sehingga, diperkirakan kesadaran akan kesehatan juga cukup
tinggi. Namun, kesadaran akan kesehatan ini tidak didukung dengan ketersediaan dan
keterjangkauan fasilitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

26

Pelayanan Kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan paling banyak terdapat di Kelurahan Grogol
dibandingkan Kelurahan Meruyung. Fasilitas pelayanan kesehatan yang berada di
sekitar lokasi tempat usaha sangat beragam, antara lain Rumah Sakit, Klinik Bidan,
Puskesmas, Apotek, dan Toko Obat.
Tabel 2.1. Daftar Apotek dan Toko Obat
No

Nama

Alamat

27

Apotek Fahira

Jalan Krukut Raya Depok No. 21 (6,2 km)

Apotek Lafinia Farma

Jalan Grogol Raya No. 80 C Depok (4,4 km)

Toko Obat
Cendrawasih
Toko Obat Sumber
Sehat

Jalan Meruyung Raya No. 489 Limo (100 m)

Jalan Pramuka Raya No. 80 Grogol Depok (5,4


km)

Rumah sakit yang berada pada radius kurang dari 10 km dari lokasi, ialah
RSIA As-syifa Kec. Limo, RSUD Depok Kec. Sawangan, RS Puri Cinere di Kec.
Cinere. Fasilitasn pelayanan dasar yang berada disekitar lokasi tempat usaha, antara
lain Puskesmas Grogol, Posyandu Meruyung, dan Klinik Bidan Bertha di Jalan Raya
Meruyung. Sedangkan, fasilitas pelayanan kefarmasian baik resep maupun non-resep
di area yang sama, yaitu Apotek Fahira di Kel. Krukut, Apotek Lafinia Farma Kel.
Grogol, Apotek Syifa Farma Kelurahan Meruyung, Toko Obat Cendrawasih Kel.
Meruyung, dan Toko Obat Sumber Sehat Kel. Grogol.
Tabel 2.2. Daftar Institusi Pelayanan Kesehatan
N
o

Nama

Alamat

RSIA Asy-Syifa

Jalan Cinere 9, Rangkapan Jaya Baru, Pancoran Mas (1,5


km)

RSUD Depok

Jalan Muhtar Sawangan, Depok (3,8 km)

RS Puri Cinere

Jalan Maribaya Blok F2 Pangkalan Jati, Cinere (7,7 km)

Puskesmas
Grogol
Posyandu
Meruyung
Klinik Bidan
Bertha

Jalan Raya Grogol RT. 01/01 Kel.Grogol, Kec. Limo (4,2


km)

4
5
6

RW 09 Kelurahan Meruyung, Depok


Jalan Meruyung, Kec. Limo, Depok

Tabel 2.3. Daftar Dokter RSUD Depok


No

POLI

NAMA DOKTER

JUMLAH

28

DOKTER

Gigi & Bedah Mulut

2
3

Psikiatri
Mata
Kebidanan &
Kandungan

4
5

Penyakit Dalam

Bedah Umum dan


Digestif

Anestesi

Saraf

Anak

10

THT

11
12

Paru
Radiologi

Drg. Sigit Supartono, Sp.BM


Drg. Darmawati
dr. Diana Papayungan, Sp. KJ
dr.Lieska Meyrita, Sp.M
dr.Bagus Tri Raharjo, Sp.OG
dr.Padmawati, Sp.OG
dr.Kaharudin Alamsyah, Sp.PD
dr.Desi Fitriani, Sp.Pd
dr.Henru Kisdianto, Sp.B

2
1
1
2
2
1

dr.Amelia Martira, Sp.An


dr.Ujang Supriyadi S, Sp.An
dr.Agus Supriatna, MSI,MED,
Sp.S
dr. Harry Mulya, Sp.A
dr. Siswanto M, Sp.A
dr. Diapari Nasution, Sp.A
dr. Indra J, Sp.A
dr.Caroline R. Sihombing, Sp.
THT
dr. Fitriyah Sherly, Sp.P
dr. Martin, Sp.Rad

2
1
4
1
1
1

Tabel 2.4. Daftar Dokter RS Asy-Syifa


No

POLI

JUMLAH DOKTER

Umum

10

Spesialis Anak

Spesialis Bedah

Spesialis Anastesi

Spesialis Obsgin

Spesialis Penyakit Dalam

Spesialis Radiologi

Dokter gigi

Jumlah Pesaing dan Keterjangkauan

29

Berdasarkan studi terhadap pelayanan kesehatan pada radius 5 km dari apotek,


Terdapat 2 apotek yang juga memberikan pelayanan obat resep dan 2 toko obat yang
memberikan pelayanan obat non-resep.
Lokasi usaha berada di tepi jalan raya yang digunakan sebagai jalan alternatif
jakartadepok, terdapat berbagai angkutan umum dari dua arah dengan intensitas lalu
lalang kendaraan yang cukup tinggi
Potensi Pasar dan Pemasaran
Potensi Pasar
Potensi pasar dari Apotek Meruyung cukup menjanjikan, dilihat dari letaknya
yang strategis yaitu di tepi jalan raya yang merupakan jalan alternatif Jakarta-Depok.
Jalan ini memliki intensitas lalu lalang kendaraan yang tinggi. Selain itu jalan ini juga
dilalui oleh berbagai angkutan umum. Lokasi dari Apotek Meruyung berada di
kawasan padat penduduk, dekat dengan sekolah, perumahan, perbankan dan
perkantoran, pertokoan, tempat wisata, serta Masjid Kubah Emas. Kekuatan lain dari
Apotek Meruyung adalah Apotek ini menerima jasa on-line yang siap diantar. Selain
itu di Apotek Meruyung, Apoteker siap memberikan layanan dan konsultasi seputar
obat selama apotek buka. Akan tetapi, Apotek Meruyung memiliki kelemahan yaitu
belum dikenal masyarakat sehingga belum memiliki pelanggan tetap. Peluang Apotek
Meruyung cukup menjanjikan dilihat dari tingkat pendidikan penduduk sekitar yang
cukup baik, sehingga diperkirakan kesadaran akan kesehatan juga cukup tinggi.
Selain itu, jumlah dokter yang membuka praktek di sekitar lokasi apotek cukup
banyak sehingga diharapkan pasien yang datang ke apotek juga banyak.
Pangsa Pasar
Pesaing dari Apotek Meruyung adalah 2 apotek dan 2 toko obat sehingga
pangsa pasar dari Apotek Meruyung cukup menjanjikan. Target resep yang diperoleh
adalah 45 resep per hari.
Pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM)

30

Sumber daya manusia merupakan aspek yang terpenting selain modal dan
peralatan. Tanpa adanya SDM yang memadahi, suatu usaha tidak akan dapat
terciptakan dan berjalan dengan seharusnya. Jumlah karyawan yang dibutuhkan
dalam perencanaan pembuatan Apotek ini adalah sebanyak lima orang yang terdiri
dari 1 orang Apoteker Pengelolah Apotek (APA), 1 orang Apoteker Pendamping, 2
orang Aisten Apoteker (AA), 1 orang petugas kasir, 1 orang petugas administrasi, dan
1 orang pembantu umum.
Adapun struktur organisasi yang akan dibentuk dapat dilihat pada bagan
dibawah ini.

A
P
p
e
o
t
tu
e
g
k
a
e
s
r
Gambar 2.2. Struktur organisasi Apotek

Pertimbangan perekrutan karyawan didasarkan pada jam kerja, volume kerja,


dan dana yang tersedia. Adapun hal tersebut dapat dirincikan sebagai berikut:
a.

Jam Kerja
Jam kerja di apotek dimulai dari pukul 07.0021.00, dibagi menjasi 2 shift
(masingmasing 7 jam), yaitu jam 07.0014.00 dan jam 14.0021.00. Hari minggu
dan hari libur apotek tutup.

b.

Volume pekerjaan

31

Diperkirakan jumlah pasien setiap hari sebanya 45 pasien. Setiap pasien


membutuhkan waktu pelayanan selama 20 menit. Sehingga waktu untuk 45 pasien
adalah (20 x 45 = 660 menit) 660 menit atau 11 jam.
Pengelolaan Perbekalan Farmasi dalam Apotek
Alat dan perbekalan farmasi yang diperlukan dalam apotek ini terdiri dari
bangunan, perbekalan farmasi dan perlengkapan farmasi. Bangunan apotek yang
digunakan adalah bangunan dengan luas 10x5 meter yang dimana status tanah dan
bangunan adalah sewa. Beralamatkan di Jl. Meruyung Raya No. 34, Kelurahan
Meruyung, Kecamatan Limo, kota Depok. Bangunan dilengkapi dengan sumber air
sumber penerangan, alat pemadam kebakaran, ventilasi, sanitasi, papan nama APA,
Billboard nama Apotek.
Perbekalan farmasi yang terdapat pada aporek diantarnya adalah Obat Keras
(Obat dengan resep dan OWA), Obat Bebas (OTC) dan bebas terbatas, alat kesehatan
(masker, pembalut, termometer, sarung tangan, alkes steril, perbekalan rumah
sakit), perlengakapan bayi (susu, popok).
Perlengkapan farmasi terdiri dari alat kerja dan perlengkapan administrasi dan
pedoman. Adapun perincian alat-alat tersebut dalap dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 2.5. Perbekalan Farmasi: Alat Kerja

Alat pengolahan/
peracikan
Batang pengaduk
Cawan penguap
Corong
Gelas ukur
Gelas piala
Kompor/pemanas
Labu Erlenmeyer
Mortir dan stamper
Penangas air
Panci
Rak tempat
pengering

Wadah dan tempat


penyimpanan
Wadah:

Pot/ botol berbagai


ukuran

Kertas perkamen

Klip dan kantong


plastik

Etiket (putih dan


biru

Tempat Pnyimpanan:
Lemari/rak obat
Lemari narkotika

Sarana Penunjang

Rak
kaca/etalase
Meja kerja
Kursi di
ruang kerja dan
kursi tunggu
Komputer 1
unit
WiFi
Mesin kasir
Telfon dan
fax

32

Meja racik
Spatel logam;
tanduk; gelas; dan
porselen.
Termometer skala
100oC
Timbangan (mg/g)
digital

Lemari
psikotropika
Lemari bahan
berbahaya
Lemari pendingin

Televisi 27
inch
AC
Peralatan
kebersihan

Tabel 2.6. Perlengkapan Farmasi: Administrasi dan Buku Pedoman

Perlengkapan Administrasi
Blanko surat pesanan
Blanko faktur penjualan
Blanko nota penjualan
Buku catatan pembelian
Buku catatan penjualan
Buku catatan keuangan
Buku catatan pemesanan
narkotika dan spikotropika
Blanko laporan narkotika dan
psikotropika
Buku catatan racun dan bahan
berbahaya
Buku catatan penyerahan resep
Kartu stok obat
Alat-alat tulis (ATK) dan kertas
Kwitansi.

Buku pedoman
Farmakope IV 1995 (wajib)
Kumpulan peraturan / UU
(wajib)
MIMS, ISO
Farmakolog dan terapi

2.4.11. Analisis Keuangan


1. Modal
a. Perlengkapan Apotek

: Rp 35.000.000,00

b. Sewa tempat

: Rp 150.000.000,00

c. Biaya perizinan

: Rp

d. Modal operasional

: Rp 50.000.000,00

Jumlah

2.000.000,00

Rp 237.000.000,00

33

2. Rencana anggaran pendapatan dan belanja (biaya rutin) tahun ke 1


a. Biaya Gaji per bulan ke-1
APA
Apoteker Pendamping
Asisten apoteker (2) @ Rp 1.750.000,00
Pembantu umum
Kasir
Gaji pertahun termasuk THR (1 x gaji)

Rp 3.000.000,00
Rp 2.500.000,00
Rp 3.500.000,00
Rp 1.000.000,00
Rp 1.500.000,00
Rp 149.500.000,00

b. Biaya lain-lain
Biaya pemeliharaan gedung dan peralatan Rp
Listrik,air, telepon,keamanan, dan bensin
Jumlah
Total biaya lain-lain per tahun
Total Biaya Rutin
Biaya gaji
Biaya lain-lain
Total Biaya Rutin

Total investasi
Modal
Total Biaya Rutin
Total

250.000,00

Rp 1.250.000,00
Rp 1.500.000,00
Rp 18.000.000,00
Rp 149.500.000,00
Rp 18.000.000,00
Rp 167.500.000,00

Rp 237.000.000,00
Rp 167.500.000,00
Rp 404.500.000,00

c. Perhitungan BEP tahun ke-1


Omset tahun ke-1
Pada tahun pertama resep yang masuk 45 lembar per hari dengan perkiraan
harga ratarata Rp 100.000,00/lembar resep.
Penjualan obat resep dan OWA (keuntungan 30 %)
45 lembar x 26 hari x 12 bulan x Rp 100.000,00 Rp 1.404.000.000,00
Penjualan obat bebas (keuntungan 10%)
26 hari x 12 bulan x Rp 500.000,00
Rp 156.000.000,00
Jumlah
Rp 1.560.000.000,00
d. Pengeluaran rutin tahun ke-1
Pembelian obat resep dan OWA
70% x Rp 1.404.000.000,00
Pembelian obat bebas
90% x Rp 156.000.000,00
Pengeluaran rutin tahun ke1

Rp

982.800.000,00

Rp
Rp

140.400.000,00
167.500.000,00

34

JUMLAH

Rp 1.290.700.000,00

Indeks penjualan resep


100 % + 30% = 1,3
Indeks penjualan OTC
100 % + 10 % = 1,1
Pemasukan
Resep (indeks penjualan 1,3)

Rp 1.404.000.000, - (90%)

OTC (indeks penjualan 1,1)

Rp

156.000.000, - (10%)

Total Indeks Penjualan


90 % x 1,3

= 1,17

10% x 1,1

= 0,11
1,28

Laba kotor
0,28 x 100 %

= 21,88 % x 1.560.000.000

1,28
= 341.328.000
Laba bersih

= Laba kotor total biaya rutin


= 341.328.000 167.500.000
= 173.828.000

Perhitungan BEP tahun ke-1


FC

BEP

167.500 .000
1
1
1 , 28

35

BEP

= Rp 765.714.285,-/tahun

Laba kotor

= 21, 88% x Rp 765.714.285,= Rp 167.538.285,-

Pendapatan resep per tahun hingga perhari


= 90 % x 765.714.285
= Rp 689.142.896 /th
= Rp 57.428.571 / bulan
= Rp 2.208.791 / hari

Jumlah lembar resep yang harus dijual / hari


= Rp 2.208.791
Rp 100.000 (harga resep rata-rata/hari)
= 22 resep

Penilaian analisis keuangan untuk kelayakan apotek


a). Payback Periode :
Pinjaman bank 5 tahun, bunga 15% per tahun
Payback Peri ode=

Payback periode=

Jumlah nilai investasi


x 1 tahun
Jumlah kas yang masuk per tahun

Rp 404.500 .000
=2,33 tahun
Rp 173.828 .000

Kesimpulan :
Payback Periode yang diperoleh waktunya < dari maksimum payback
periode yang ditetapkan, maka proyek dikatakan layak dilaksanakan.
b). Return on Investment (ROI)
Nilai Laba Bersih
ROI=
x 100
Nilai investasi
ROI =

Rp173.828 .000
x 100 =42,97
Rp 404.500.000

36

Kesimpulan: ROI yang diperoleh > dari bunga pinjaman, maka proyek
dikatakan layak dilaksanakan.

37

Contoh Kasus Studi Kelayakan II

STUDI KELAYAKAN
APOTEK FIONA
Oleh Kelompok 7
Kelas B:
Aldi Putra Madya

1406524833

Budi Utami Wibawani

1406525003

Dessy Dian Septysari

1406525110

Inayatun Ilaahiyah

1406598831

Jordan Ricky Tanuwijaya

1406525350

Ratna Choirunnisa

1406525672

Sani Zakkia Alawiyah

1406525823

Widyo Budilaksono

1406526006

38

Apotek Fiona
1. Aspek Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi sangat penting dalam penilaian studi kelayakan usaha
mendirikan apotek. Lokasi yang dipilih hendaklah strategis, mudah dijangkau oleh
masyarakat, dekat dengan konsumen, dan dekat dengan sarana pendukung lainnya.
Dalam analisa studi kelayakan yang penulis lakukan, penulis mengabil contoh Apotek
Fiona yang ada di Jalan H. Asmawi, Kelurahan Beji, Beji, Kota Depok, Jawa Barat.
Berikut dasar pemilihan lokasi Apotek Fiona yang penulis pelajari:
a. Dekat dengan rumah sakit, bidan, kompleks perumahan, dan perumahan
penduduk
b. Dekat dengan Sekolah Menengah Farmasi (SMF)
c. Berada di area sentra ekonomi Jalan Raya Kukusan (ruas Jalan Nusantara
d.
e.
f.
g.

Jalan H. Asmawi Jalan K. H. M. Usman)


Dilalui trayek angkutan perkotaan D04 (trayek Terminal Depok Kukusan)
Akses mudah karena dekat dengan persimpangan jalan
Aman, karena dekat dengan Polsek Beji
Dekat dengan SPBU Pertamina

Berikut denah dari lokasi Apotek Fiona:

39

Gambar 2. Denah Lokasi Apotek Fiona


Dari denah yang ada, tampak bahwa Apotek Fiona berada di daerah bisnis daerah
Kukusan Raya. Apotek Fiona dekat dengan usaha-usaha lainnya (rumah makan
padang, binatu, bengkel sepeda motor, dan pertokoan), sehingga lokasi yang terpilih
dapat dikatakan daerah one stop shopping atau satu tempat untuk memenuhi
berbagai kebutuhan belanja karena beberapa jenis usaha berbeda berada dalam lokasi
yang berdekatan. Lokasi Apotek Fiona juga dekat dengan konsumen karena berada
dekat dengan kompleks perumahan dan perumahan penduduk.
2. Analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, and Thread)
Analisa SWOT (strength, weakness, opportunities, and thread atau kekuatan,
kelemahan, kesempatan, dan hambatan) juga merupakan komponen penting dalam
studi kelayakan pendirian uaha apotek. Dari analisa SWOT, kita bisa mengetahui sisi
positif dan sisi negatif yang menjadi pertimbangan dalam memilih lokasi apotek.
2.1 Strength (Kekuatan)
Aspek kekuatan dari lokasi yang penulis antara lain:

40

Terletak di Jalan H. Asmawi yang ramai dan tepat di daerah perdagangan


Kukusan Raya/Beji
Lokasi dilewati angkutan umum
Dekat dengan Rumah Sakit Grha Permata Bunda, praktik dokter
perorangan praktik dokter bersama, bidan, SMK Farmasi, dan perumahan
penduduk
Apoteker selalu tersedia selama jam operasional
Aman karena dekat dengan Polsek Beji
2.2 Weakness (Kelemahan)
Aspek kelemahan dari lokasi yang penulis pilih antara lain:
a. Jalan raya di depan apotek sempit (lebar 4 meter)
b. Merupakan apotek swasta yang berdiri sendiri
c. Merupakan apotek baru, belum dikenal oleh masyarakat, dan belum
mempunyai langganan yang loyal
d. Jalan sering padat merayap pada pagi (7.00-10.00) dan sore hari (17.0019.00)
2.3 Opportunities (Kesempatan)
Aspek kesempatan dari lokasi yang penulis pilih antara lain:
a. Jumlah Penduduk, terutama daerah Kelurahan Kukusan dan Kelurahan
Beji (sekitar lokasi apotek), cukup padat, sehingga menjadi sumber
pelanggan apotek yang potensial
b. Penduduk dengan

latar

belakang sosial yang

beragam,

sangat

memungkinkan untuk menjadi pelanggan


c. Penduduk golongan geriatri cukup banyak
d. Berada di lokasi perdagangan (dekat bengkel, pertokoan, SPBU, warung,
dan rumah makan)

41

e. Terdapat praktik dokter perorangan, praktik dokter bersama, dan bidan di


dekat apotek
Untuk informasi dokter dan bidan yang membuka praktik di sekitar Apotek Fiona
dapat dilihat dalam daftar berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

drg. Prisa
dr. Andre Arieska
drg. E. R. Savitrie
dr. Rifki Hasbiandra
dr. M. Saifullah Yusuf
dr. Liling Budiman
dr. Zulkarnain Prakoso
Bidan: Masniari S., Amd. Keb

Untuk informasi mengenai sarana pendukung usaha Apotek Fiona antara lain:
a. RS. Grha Permata Bunda (Jl. K. H. M. Usman, Kukusan, Beji, Depok)
b. SMK Farmasi Harapan Massa (Komplek Depok Indah II, Beji, Depok)
c. Gabungan Praktik Dokter Shafa Marwa (Jalan H. Asmawi)
2.4. Thread (Hambatan)
Aspek ancaman yang penulis perhitungkan antara lain apotek yang telah ada
lebih dahulu, toko alat kesehatan, dan toko herbal. Toko alat kesehatan penulis
masukkan ke dalam hambatan karena dengan adanya toko alat kesehatan maka
masyarakat akan lebih tertarik membeli alat-alat kesehatan ke toko alat kesehatan
dibandingkan dengan apotek. Toko herbal juga dimasukkan ke dalam aspek
hambatan karena dengan keberadaan toko herbal dapat mengalihkan keinginan
masyarakat untuk berobat dengan obat-obatan herbal. Berikut daftar apotek, toko
alat kesehatan, dan toko herbal yang ada di sepanjang Jalan Kukusan Raya
beserta kondisinya masing-masing:
a. Apotek K-24: Apotek franchise, ada 2 apotek K-24 di sepanjang kukusan
raya, fasilitas lengkap, obat yang tersedia sangat lengkap dan buka selama 24
jam, tetapi tidak menyediakan obat generik sehingga tidak terlalu ramai
konsumennya

42

b. Apotek Kimia Farma: Apotek franchise, sudah terkenal, ada praktik dokter
bersama, buka sampai jam 22.00, dan juga menyediakan obat generik
c. Apotek Shafa Marwa: Parkir luas, tetapi usahanya mulai meredup karena
ragam obat yang dijual sangat terbtas sehingga bisa diabaikan sebagai
kompetitor yang berpengaruh
d. Apotek Beji: Parkir luas, apoteker selalu tersedia, lokasi tepat di lampu merah
(menyulitkan mobil untuk parkir), usahanya mulai meredup, bangunan lusuh,
sering terkena macet
e. Apotek Roxy: Apotek Franchise, terkesan wah, ada praktik dokter bersama
f. Toko Alat Kesehatan Dwinika: Alat kesehatan yang tersedia cukup lengkap
dan harganya rasional. Lokasinya tepat di tikungan pintu masuk Perumnas
Depok dan parkir kendaraan terbatas sehingga menyulitkan pelanggan yang
datang menggunakan mobil
g. Apotek Nusantara Jaya: Berada di dalam Komplek Depok Indah, dilayani
langsung oleh apoteker. Apotek ini lebih banyak menjual obat generik, resep
yang dilayani sedikit, item OTC (over the counter) terbatas, tidak terlalu
ramai, dan parkir sempit sekali (hanya cukup untuk 4 sepeda motor)
h. Toko-toko Herbal (Toko Herbal Baitusy Syifa Azhar dan Pondok
Herbal): Dapat mengubah pikiran masyarakat sekitar untuk beralih
menggunakan obat herbal
3. Survei Pasar
Setelah melakukan analisa SWOT, penulis melakukan survei ke beberapa apotek
yang ada di sepanjang Jalan Kukusan Raya. Hanya beberapa apotek saja yang mau
memberikan informasi kepada penulis (Apotek Nusantara Jaya, Apotek Sofa Marwa,
dan Apotek Kimia Farma). Oleh karena itu, informasi yang penulis dapatkan tidak
terlalu banyak. Berikut informasi yang penulis peroleh dari survei yang dilakukan:

43

a. Rata-rata tiap apotek yang disurvey mendapatkan 25 resep dengan nominal


Rp 70.000,00 setiap hari
b. Obat resep yang ditebus pada umumnya adalah obat generik (70%)
c. Penjualan obat OTC (over the counter) di wilayah ini dapat dikatakan tinggi
d. Transaksi obat di apotek paling banyak adalah saat jam pulang kantor (di atas
pukul 16.00)

Gambar 3. Penulis Melakukan Survei di Apotek Nusantara Jaya

44

Gambar 4. Penulis Melakukan Survei di Apotek dan Praktik Dokter Bersama


Sofa Marwa

Gambar 5. Penulis Ketika Melakukan Survei di Apotek K-24 (Kiri) dan Apotek
Kimia Farma (Kanan)
4. Pengelolaan Sumber Daya Manusia

45

Sumber daya manusia yang ada di apotek yang baru mendirikan usaha tentu
sangat terbatas. Oleh karena itu, pemanfaatan tenaga pekerja yang ada di apotek harus
dimaksimalkan mengingat pemasukan apotek yang masih terbatas dan efisiensi
apotek harus sangat diperhatikan agar pengeluaran apotek dapat ditekan. Penulis
memberikan contoh alokasi pekerja di Apotek Fiona yang awalnya hanya
beranggotakan tiga orang (apoteker, asisten apoteker, dan kasir). Berikut struktur
organisasi Apotek Fiona saat awal didirikan:

Apoteker Penanggungjawab Apotek

Asisten Apoteker

Kasir

Gambar 6. Struktur Organisasi Pekerja di Apotek Fiona Saat Awal Didirikan


Pembagian kerja di apotek didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:
a. jam kerja :08.3021.30, dibagi menjasi 2 shift (masingmasing 8 jam), yaitu
jam 08.3014.30 dan jam 14.3021.30 (hari minggu dan hari libur tutup)
b. volume pekerjaan di apotek dalam melayani resep rata-rata setiap hari
sebanyak 25 resep. Setiap resep memerlukan waktu sekitar 20 menit. Maka
waktu untuk 20 pasien resep : 20 x 25 = 500 menit = 8 jam 20 menit (8,33
jam)
c. Dana yang tersedia sangat terbatas, sehingga pengeluaran apotek harus
seefisien mungkin
d. Pekerjaan lainnya (menyapu, mengepel, merapikan ruangan, dan sebagainya)
dijalankan dengan sistem piket
e. Sumber daya manusia merupakan aset terbesar dari apotek itu sendiri.

46

5. Perhitungan Studi Kelayakan Pendirian Apotek


1. Modal
Modal Tetap
Sarana fisik : Tanah dan bangunan dengan luas bangunan 4 x 10 m (1 lantai)
Harga : Rp 150.000.000,- biaya kontrak selama 5 tahun
Sarana penunjang
Rak kaca etalase kecil

: Rp 3.000.000,-

Rak kaca etalase besar

: Rp 4.000.000,

Meja kerja

: Rp

500.000,-

Meja racik

: Rp

300.000,-

Lemari narkotik

: Rp

500.000,-

Wastafel

: Rp

150.000,-

Komputer 1 unit

: Rp 3.000.000,-

Mesin kasir

: Rp 1.000.000,-

Peralatan administrasi

: Rp

Televisi 14 inch

: Rp 1.000.000,-

Telepon

: Rp

Peralatan meracik

: Rp 2.500.000,-

Kulkas

: Rp 1.500.000,-

Dispenser

: Rp

250.000,-

Kipas angin

: Rp

200.000,-

buku wajib farmasi

: Rp

500.000,-

TOTAL

: Rp20.000.000,-

500.000,500.000,-

Plang nama apotek +

47

Modal kerja
Barang dagangan

: Rp 50.000.000,

(obat-obatan dan barang-barang lain)


TOTAL

: Rp 50.000.000,-

2. Biaya Tetap (Fixed Cost)

Biaya Personalia per tahun


Biaya & Jumlah

APA

Asisten Apoteker

Kasir

Jumlah

Upah / bulan

3.000.000

2.000.000

700.000

Upah / tahun

36.000.000

24.000.000

8.400.000

THR

3.000.000

2.000.000

700.000

TOTAL BIAYA

39.000.000

26.000.000

9.800.000

Total biaya personalia per tahun

Biaya pengelolaan per tahun

: Rp. 74.800.000,-

Biaya listrik, air dan telepon

: Rp 5.000.000,-

PBB

: Rp

Lain-lain

: Rp 1.800.000,-

TOTAL

: Rp 7.200.000,-

400.000,-

Biaya tetap

Pengeluaran gaji pegawai

Biaya pengelolaan pertahun


7.200.000,-

: Rp 74.800.000,:

Rp

48

TOTAL BIAYA TETAP

: Rp 82.000.000,-

3. Total Modal Investasi


Total Modal Investasi = modal tetap + sarana penunjang + modal kerja + fixed
cost
= 150.000.000 + 20.000.000 + 50.000.000 + 82.000.000
= Rp 302.000.000,4. Perolehan Omset per Tahun
a. Penjualan

Resep

Jumlah resep /hari

Jumlah resep /bulan

: 650 lembar

Jumlah resep /tahun

: 7800 lembar

Harga rata-rata resep

: Rp. 70.000,-

Jumlah Penjualan /tahun

: Rp. 546.000.000

Persentase Penjualan

: 64 %

: 25 lembar

Obat OTC

Harga penjulan /hari

Rp.

Harga penjulan /bulan

Rp.

Harga penjulan /tahun

Rp.

Persentase penjualan

: 36 %

1.000.000,
26.000.000,
312.000.000,

TOTAL PENJUALAN

b. Keuntungan yang diinginkan

Dari penjualan resep

= 30 %

: Rp. 858.000.000,-

49

Dari penjualan OTC

Penjualan resep

: 100% + 30% = 130% (1,30)

Penjualan OTC

: 100% + 20% = 120% (1,20)

= 20 %

c. Indeks Penjualan

Indeks Penjualan Resep = Total Penjualan Resep


Total Penjualan
=

546.000.000
858.000.000

Indeks Penjualan OTC

x 1,3

0,83
= Total Penjualan OTC
Total Penjualan

=
=

312.000.000
858.000.000

x 1,2

0,44

Indeks Penjualan = 0,83 + 0,44 = 1,27


5. Laba Rugi
Indeks Penjualan

: 1,27

Indeks Laba Total

: 1,27 1 = 0,27

Laba kotor

: 0,27 x 100%
1,27
: 21,26 %
: 21,26 % x Rp 858.000.000,: Rp. 182.409.453

Biaya Tetap

: Rp. 82.000.000 Rp. 100.409.453

Pajak 10%

x 1,3

: Rp. 10.040.945-

Laba Netto (Laba bersih) : Rp.90.368.508,-

x 1,2

50

6. Pay Back Periode (PP)

Total investasi x1 tahun


= Rp 302.000.000,- x 1 tahun
Rp 90.368.508,= 3,34 tahun atau 3 tahun 4 bulan
7. Return on Investment (ROI) (% untuk 1 tahun)

Laba

netto

x100%
= Rp. 90.368.508,-x 100%
Rp 302.000.000,= 29,92%
8. Perhitungan BEP
1
x Fix Cost
Variable
Cost
BEP = [1
]
Total Revenue

1
x Rp82.000 .000,
[ 1( 1/1,27 ) ]

= Rp. 384.976.525,-

51

-Dari Laba kotor = 21,26 %Rp. 384.976.525


= Rp. 81.846.009 ~ Rp. 82.000.000 (+/- biaya tetap)
-Dari penjualan resep = 64% x Rp. 384.976.525,= Rp. 246.384.976/tahun
= Rp. 20.532.080/bulan
= Rp. 789.695,4/hari (26 hari kerja)
1

Rp 70.000,

resep = Rp. 70.000 Rp789.695,4, x 1 resep = 11,28 ~ 12 resep/hari

Jadi, BEP terjadi pada jumlah penjualan sebanyak 12 resep per hari

52

BAB III
PENUTUP
Studi

kelayakan

apotek

merupakan

metode

penjajakan

gagasan suatu proyek mengenai kemungkinan layak atau tidaknya


untuk dilaksanakan. Studi ini dilakukan agar apoteker pengelola
apotek

dapat

menentukan

alokasi

sumber

daya

(resources)

perusahaan sebaik mungkin ke dalam setiap kegiatan usaha yang


akan dijalankan dalam apotek untuk mendapatan output yang
maksimal dan mengukur tingkat keuntungan sumber yang akan
digunakan dalam menjalankan usaha apotek. Hasil studi kelayakan
pada prinsipnya dapat digunakan untuk merintis usaha baru
maupun dalam mengembangkan usaha yang sudah ada.
Suatu usaha apotek yang dinyatakan layak dalam studi
kelayakan belum tentu berhasil, karena keberhasilan apotek akan
dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal apotek. Namun,
apotek yang dalam studi kelayakan dinyatakan tidak layak, maka
akan mengalami risiko rugi yang sangat besar sehingga sangat
riskan bila dijalankan.

53

DAFTAR ACUAN
Umar, M. (2011). Manajemen Apotek Praktis. Jakarta : Wira Putra Kencana. Hal :
196-199