Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia
dan banyak negara di seluruh dunia. UNAIDS, badan WHO yang mengurusi
masalah AIDS, memperkirakan jumlah ODHA di seluruh dunia pada
Desember 2004 adalah 35,9-44,3 juta orang. Saat ini tidak ada negara yang
terbebas dariHIV/AIDS. HIV/AIDS menyebabkan berbagai krisis secara
pembangunan negara, krisis ekonomi, pendidikan dan juga krisis
kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS menyebabkan multidimensi.
Sebagai krisis kesehatan, AIDS memerlukan layanan pengobatan dan
perawatan untuk individu yang terinfeksi HIV.(1)
Hasil-hasil penelitian dalam bidang infeksi HIV memberi harapan
dalam bidang pencegahan dan terapi. Berbagai upaya pencegahan yang sdah
dikenal seperti perilau sehat, penggunaan

kondom, serta pencegahan

pemakaian jarum suntik bersama tetap merupakan upaya yang penting,


namun pemberian obat anti retroviral (ARV) ternyata mampu menurunkan
resiko penularan secara nyata. Berdasarkan hasil-hasil penelitian ini, WHO
menetapkan pencapaian pada tahun 2015 yaitu menurunkan infeksi baru
HIV pada laki-laki dan perempuan muda sebesar 50%, menurunkan infeksi
baru HIV pada bayi dan anak sebesar 90%, dan menurunkan angka
kematian terkait HIV sebesar 50%. Bahkan para pakar pada bidang penyakit
ini optimis dalam waktu yang tidak terlalu lama, infeksi HIV yang semula
amat menakutkan akan dapat dikendalikan sudah tentu optimisme ini
diharapkan juga akan mewarnai upaya penanganan HIV di Indonesia.(1)
Menurut WHO Penyakit HIV terus menjadi masalah kesehatan yang
serius untuk bagian dunia, lebih dari 39 juta jiwa sejauh ini. Pada tahun
2013 1,5 juta orang meninggal karena penyakit HIV global. Ada sekitar 35
juta orang hidup dengan HIV pada akhir tahun 2013. Sub saharaAfrika
adalah wilayah yang paling terkena dampak, dengan 24,7 juta orang yang

hidup dengan HIV, Afrika menyumbang hampir 70 % dari total infeksi HIV
baru. Sekitar 12,9 juta orang yang hidup dengan HIV menerima terapi
antiretroviral(ART) secara global, yang 11,7 juta orang menerima ART di
negara berpenghasilan rendah dan menengah.(1)
Laporan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan
sebanyak 278 rumah sakit rujukan ODHA tentang penetapan jumlah rumah
sakit bagi orang dengan HIV. Dari laporan situasi perkembangan HIV dan
AIDS di indonesia sampai dengan september 2011 tercatat jumlah odha
yang mendapatkan terapi ARV sebanyak 22.843 dari 33 provinsi dan 300
kab/kota, dengan rasio laki-laki dan perempuan 3:1, dan presentasi tertinggi
pada kelompok usia 21-29 tahun.(2)
Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang
mengandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual
maupun heteroseksual, jarum suntik pada penggunaan narkotika, transfusi
komponen darah dari ibu terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya. Oleh
karena itu kelompok resiko tinggi terhadap HIV/AIDS misalnya pengguna
narkotika, pekerja seks komersial dan narapidana.(3)
Fakta yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa peningkatan
infeksi HIV semakin nyata pada pengguna narkotika, pada kebanyakan
kelompok usia muda dan produktif. Serta adanya pengaruh teman sebaya
tampaknya lebih menonjol.(3)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
AIDS(Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai
kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunya sistem
kekebalan tubuh akibat infeksi virus HIV yang termasuk famili retroviridae.
AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.(1)
2.2 Epidemologi
Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang
mengandung virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual
maupun heteroseksual, jarum suntik pada pengguna narkotika, tranfusi
komponen darah dan dari ibu yang terinfeksi kebayi yang dilahirkannya. (1)
Sejak 1985 sampai tahun 1996 kasus AIDS masih sangat jarang
ditemukan diindonesia. Sebagian besar ODHA pada periode itu berasal dari
kelompok homoseksual. Kemudian jumlah kasus HIV/AIDS menjadi
meningkat dari sejak pertengahan 1999mulai terlihat peningkatan tajam
yang terutama disebabkan akibat penularan melalui narkotika suntik.(1)
Infeksi virus HIV, merupakan masalah global tidak hanya didunia,
namun juga di indonesia. UNAIDS, badan WHO yang mengurus masalah
AIDS, memperkirakan jumlahnya diseluruh dunia pada desember 2004
adalah 35,9-44,3 juta orang. Sekitar 50.000 orang terinfeksi HIV setiap
tahun, Pada tahun 2010, ada sekitar 47.500 infeksi HIV baru di Amerika
Serikat. Prevalensi nasional dilaporkan sekitar 0,24%. (1)
Laporan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menetapkan
sebanyak 278 rumah sakit rujukan odha tentang penetapan jumlah rumah
sakit bagi orang dengan HIV. Dari laporan situasi perkembangan
HIV&AIDS di indonesia sampai dengan september 2011 tercatat jumlah
odha yang mendapatkan terapi ARV sebanyak 22.843 dari 33 provinsi dan
300 kab/kota, dengan rasio laki-laki dan perempuan 3:1, dan presentasi
tertinggi pada kelompok usia 21-29 tahun.(2)
2.3 Etiologi
Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) disebabkan oleh
Human Immunodeficiency Virus yang merupakan virus RNA dari familli
Retrovirus dan subfamilli lentiviridae. Dikenal ada dua serotipe HIV yaitu

HIV -1 dan HIV-2 secara morfologis HIV-1 berbentuk bulat yang terdiri dari
bagian inti (core) dan selubung (envelope). Molekul RNA dikelilingi oleh
suatu kapsid berlapis dua dan suatu membran selubung yang mengandung
protein.komponen membran luar tersusun dari dua lapis lipid dan terdapat
glikoprotein spesifik yang menyerupai jarum yang terdiri dari gp120, yang
mampu berinteraksi dengan CD4 serta reseptor CXCR4 dan CCR5 yang
terdapat pada sel target, dan gp41 yang mendorong terjadinya fusi membran
HIV dengan membran sel target. Bagian inti HIV tersusun dari rangkaian
protein matrik p17, rangkaian nukleokapsid dari protein p24, protein inti
terdiridari genom RNA dan enzim reverse transcriptase yang dapat
mengubah RNA menjadi DNA pada proses replikasi.(3)
2.4 Patogenesis
Limfosit CD4+ merupakan target utama infeksi HIV karena virus
mempunyai afinitas terhadap molekul permukaan CD4+. CD4+berfungsi
mengkoordinasikan sejumlah fungsi imunologis yang penting. Hilangnya
fungsi tersebut menyebabkan gangguan imun progresif.(1)
Kejadian infeksi HIV primer dapat dipelajari pada model infeksi
akut Simian Imunodeficiency Virus (SIV).SIV dapat menginfeksi limfosit
CD4+ dan monosit pada mukosa vagina dibawa oleh antigen presenting
cells kekelenjar getah bening regional. Pada model ini virus dideteksi pada
kelenjar getah bening dalam 5 hari setelah inokulasi. Sel individual di
kelenjar getah bening yang mengekspresikan SIV dapat diteksi dengan
hibridisasi in situ dalm 7 sampai 14 hari setelah inokulasi. Viremia SIV
dapat dideteksi 7- 21 hari setelah infeksi. Puncak jumlah sel yang
mengekspresikan SIV dikelenjar getah bening berhubungan dengan puncak
antigenemia p26 SIV. Jumlah sel yang mengekspresikan virus di jaringan
limfoid kemudian menurun secara cepat dan dihubungkan sementara dengan
pembentukan reson imun spesifik. Koinsiden dengan menghilangnya
viremia adalah peningkatan sel CD8. Walaupun demikian tidak dapat
dikatakan bahwa respon bahwa respon sel limfosit CD8+ menyebabkan
kontrol optimal terhadap replikasi HIV. replikasi HIV pada keadaan steady
state beberapa bulan setelah infeksi. Kondisi ini bertahan relatif stabil
4

selama beberapa tahun, namun lamanya sangat bervariasi. Faktor yang


mempengaruhi tingkat replikasi virus tersebut, dengan demikian juga
perjalanan kekebalan tubuh pejamu, adalah heterogineitas kapasitas
replikatif virus dan heterogenitas intrinsik pejamu. (1)
Antibodi muncul disirkulasi dalam beberapa minggu setelah
infeksi, namun secara umum dapat dideteksi pertama kali setelah replikasi
virus telah menurun sampai ke level steady state. Walaupun antibodi ini
umumnya memiliki aktifitas netralisasi yang kuat melawan infeksi virus,
namun ternyata tidak mematikan virus. Virus dapat menghindari dari
netralisasi oleh antibodi dengan melakukan adaptasi pada amplopnya,
termasuk

kemampuannya

mengubah

situs

glikosilasinya,

akibatnya

konfigurasi 3 dimensinya berubah sehingga netralisasi yang diperantarai


antibodi tidak dapat terjadi.(1)
2.5 Patofisiologi
Dalam tubuh ODHA, partikel virus bergabung dengan DNA sel
pasien, sehingga satu kali orang terinfeksi HIV, seumur hidup ia akan
terinfeksi. Dari semua orang yang terkena infeksi HIV, sebagian
berkembang masuk tahap AIDS pada 3 tahun pertama, 50% berkembang
menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun, dan sesudah 13 tahun hampir semua
orang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS, dan kemudian meninggal.
Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang kronis,
sesuai dengan perusakan sistem kekebalan tubuh yang juga bertahap.(1)
Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala
tertentu. Sebagian memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut,
3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala yang terjadi adalah demam, nyeri
menelan, pembengkakan kelenjar getah bening, ruam, diare atau batuk.
Setelah infeksi akut, dimulai infeksi HIV asimptomatik (tanpa gejala). Masa
tanpa gejala ini berlangsung selama 8-10 tahun. Tetapi ada sekelompok
orang yang perjalanan penyakitnya amat cepat, dapat hanya sekitar 2 tahun
dan ada pula yang perjalanannya lambat(non progresif). (1)
Seiring dengan makin memburuknya kekebalan tubuh, odha mulai
menampakkan gejala-gejala akibat infeksi opurtunistik seperti berat badan
5

menurun, demam lama, rasa lemah, pembesaran kelenjar getah bening,


diare, tuberkulosis, infeksi jamur, herpes dan lain- lain.(1)
Tanpa pengobatan ARV, walaupun selama beberapa tahun tidak
menunjukkan gejala, secara bertahap sistem kekebalan tubuh orang yang
terinfeksi HIV akan memburuk, dan akhirnya menunjukkan gejala klinik
akan makin berat, pasien masuk tahap AIDS. jadi yang disebut laten secara
klinik (tanpa gejala) sebetulnya bukan laten ditinaju dari sudut penyakit
HIV. Manifestasi dari awal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh adalah
kerusakan mikro arsitektur folikel kelenjar getah bening dan infeksi HIV
yang luas di jaringan limfoid, yang dapat dilihat dengan pemeriksaan
hibridisasi in situ. Sebagian besar replikasi HIV terjadi dikelnjar getah
bening, bukan diperedaran darah tepi.(1)
Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat, klinis tidak
menunjukkan gejala pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi, 10
partikel setiap hari. Replikasi yang cepat ini disertai dengan mutasi HIV dan
seleksi, muncul HIV yang resisten. Bersamaan dengan replikasi HIV, terjadi
kehancuran limfosit CD4+ sekitar 109 sel stiap hari.(1)
Perjalanan penyakit lebih progresif pada pengguna narkotika. Lebih
dari 80% penggunaan narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Infeksi pada
katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai pada odha pengguna
narkotika dan biasanya tidak ditemukan pada odha yang tertular dengan cara
lain. Lamanya penggunaan jarum suntik berbanding lurus dengan infeksi
pneumonia dan tuberkulosis. Makin lama seseorang menggunakan narkotika
suntikan, makin mudah ia terkena pneumonia dan tuberkulosis . infeksi
secara bersamaan ini akan menimbulakn efek yang buruk. Infeksi oleh
penyakit lain akan menyebabkan reaktivitas virus didalam limfosit T.
Akibatnya perjalanan penyakitnya biasanya lebih progresif.(1)
2.6 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis HIV dibagi menjadi empat stadium yaitu:(4)
Stadium I:
1. Asimtomatik
2. Limfadenopati generalisata persisten
6

Dengan penampilan klinis derajat 1:asimtomatik dan aktifitas normal


Stadium II :
1. Penurunan berat badan <10%
2. Manifestasi mukokutaneus minor (dermatitis seboroik, prurigo, infeksi
jamur pada kuku, ulserasi pada mulut berulang , cheilitis angularis)
3. Herpes zoster, dalam 5 tahun terakhir
4. Infeksi Saluran nafas atas berulang (misalnya: sinusitis bakterial)
Dengan atau penampilan klinis derajat 2: simtomatik, aktivitas normal.
Stadium III
1. Penurunan berat badan >10%
2. Diare kronik dengan penyebab yang tidak jelas >1 bulan
3. Demam tanpa penyebab yang jelas (intermittent atau menetap),
>1 bulan
4. Kandidiasis oral
5. Tuberkulosis paru, dalam 1 tahun terakhir
6. Terinfeksi bakteri berat (pneumonia, piomiositis)
Dengan atau penampilan klinis derajat 3: berbaring di tempat tidur , <50%
sehari dalam satu bulan terakhir.
Stadium IV
1. HIV wasting syndrome
2. Pneumonia pneumokistik karinii
3. Infeksi toksoplasmosis di otak
4. Diare karena cryptosporidosis > 1 bulan
5. Mengalami infeksi sitomegalovirus
6. Infeksi herpes simpleks maupun mukokutaneus, >1 bulan.
7. Infeksi mikosis(histoplamosis, coccidomycosis)
8. Kandidiasis esofagus, trakea, bronkus, maupun paru
9. Infeksi mikobakteriosisatypical
10. Sepsis
11. Tuberkulosis ekstrapulmonar
12. Limfoma maligna
13. Sarkoma kaposi
14. Ensefalopati HIV
Dengan penampilan klinis derajat 4: berada ditempat tidur,>50% setiap hari
dalam bulan- bulan terakhir.
Manifestasi klinis infeksi HIV merupakan spektrum yang berkisar dari
sindrom akut yang berkaitan dengan infeksi primer lalu keadaan
7

asimtomatik yang berkepanjang sampai penyakit lanjut.Penyakit HIV secara


empiris dapat dibagi berdasarkan derajat imunosupresi menjadi stadium dini
(jumlah sel T CD4 + lebih besar daripada 500 per mikroliter ), stadium
pertengahan(jumlah sel T CD4+ antara 200- 500 per mikroliter), dan
stadium lanjut (jumlah sel T CD4+ kurang dari 200 per mikroliter).
2.7 Diagnosa
Diagnosis

ditegakkakan

berdasarkan

manifestasi

klinis

dan

pemeriksaan laboratorium. Untuk menentukan adanya infeksi sebelum


menjadi AIDS tidak mudah karena individu yang terpapar masih
asimtomatik, yang secara klinis tentunya tidak mudah dikenali. Diagnosis
pasti ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium.(1)
a. Pemeriksaan Antigen p24
Salah satu cara pemeriksaan terhadap virus HIV untuk mendiagnosis
HIV adalah pemeriksaan antigen p24 yang ditemukan pada serum,
plasma, dan cairan serebro spinal. Kadarnya meningkat saat awal infeksi
dan beberapa saat sebelum penderita memasuki stadium AIDS.
Pemeriksaan ini sensitivitasnya 99% pada penderita yang baru terinfeksi ,
antigen p24 dapat positif hingga 45 hari setelah infeksi, sehingga
pemeriksaan antigen p24 hanya dianjurkan sebagai pemeriksaan
tambahan pada penderita resiko tertinggi penularan HIV dengan hasil
pemeriksaan serologis negatif, dan tidak dilanjutkan sebagai pemeriksaan
awal yang berdiri sendiri. Antigen p 24 juga bisa digunakkan pada bayi
yang lahir dari ibu HIV positif.(1)
b. Kultur HIV
HIV dapat dikultur dari cairan plasma, seum, peripheral blood
mononuclear cells(PBMCs), cairan serebrospinal, saliva,semen, lendir
serviks, serta ASO. Kultur HIV biasanya tumbuh tumbuh dalam 21
hari. Saat ini kultur ini digantikaan oleh pemeriksaan HV-RNA yang
lebih mudah, murah dan sensitif.(1)
c. HIV-RNA

Sejumlah HIV-RNA atau sering disebut juga viral loaddaalah


pemeriksaan yang menggunakan teknologi PCR untuk mengetahui
jumlah HIV dalam darah. Pemeriksaam ini merupakan pemeriksaan
yang penting untuk mengetahui dinamika HIV dalam tubuh.
Pemeriksaan HIV RNA sangat berguna untuk diagnosis HIV pada
keadaan pemeriksaan serologi yang belum mengeluarkan hasi atau
pemeriksaan serologi yang memberikan hasil indeterminate. HIV
RNA dapat positif pada 11 hari setelah terinfeksi HIV sehingga
menurunkan masa jendela pada skrining donor darah. Selain untuk
diagnostik HIV RNA juga merupakan alat penting dalam monitoring
pengobatan ARV saat ini.hasil negatif semu dapat ditemukan karena
penggunaan plasma heparin, variasi genomik HIV . hal positif semu
dapat juga terjadi terutama akibat kontaminasi bahan pemeriksaan.(1)
d. Pemeriksaan Antibodi
Pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV
secara umum diklasifikasikan sebagai pemeriksaan penapisan
(skrining) dan pemeriksaan konfirmasi. Metode penapisan yang paling
banyak digunakan ELISA(Enzym Linked Immunosorbent Assay). (1)
Selain ELISA,metode lain untuk pemeriksaan serologi lain yang dapat
digunakan adalah pemeriksaan sederhana yang tidak membutuhkan alat
seperti aglutinasi, imunofiltrasi, imunokromatografi dan uji celup(dipstick).
Hasil positif pada metode ini diindikasikan dengan timbulnya bintik atau
garis yang berwarna atau ditemukan pola aglutinasi. Pemeriksaan ini dapat
dikerjakan kurang dari 20 menit, sehingga sering kali disebut uji sederahana
(simple/rapid).(1)
Sampai saat ini, pemeriksaan konfirmasi yang paling sering digunakan
adalah pemeriksaan western blot(wb). Sayangnya, pemeriksaan ini
membutuhkan biaya yang besar dan sering kali memberikan hasil
meragukan. Berbagai penelitian menemukan bahawa kombinasi metode
ELISA dan uji cepat memberikan hasil yang setara dengan metode western
blot (WB)dengan biaya yang lebih rendah. WHO dan UNAIDS
merekomendasikan penggunaan kombinasi ELISA dan atau uji cepat untuk
9

pemeriksaan antibodi terhadap HIV dibandingkan kombinasi ELISA dan


WB. Hasil pengujain beberapa uji cepat dibandingkan ELISA dan WB,
menumakan bahwa banyak uji cepat sudah memiliki sensitifitas dan
spesifitas yang baik.(1)
Seseorang dinyatakan terinfeksi HIV apabila dengan pemeriksaan
laboratorium terbukti terinfeksi HIV, baik dengan metode pemeriksaan
antibodi atau pemeriksaan untuk mendeteksi adanya virus dalam tubuh.
Diagnosis AIDS untuk kepentingan survailens ditegakkan apabila terdapat
infeksi opurtunistik (contoh:CMV, ensefalopati HIV, herpes simpleks,
histoplasmosis, kandidiasis, limfoma burkitz, kanker serviks, septikemia,
sarkoma kaposi, toksopasmosis wasting syndrome, dll) atau limfosit CD4+
kurang dari 350 sel/ mm3.(1)
2.8 Penatalaksanaan dan Pengobatan
Terapi pasien infeksi HIV memerlukan tidak hanya pengetahuan yang
menyeluruh tentang proses penyakit tetapi juga kemampuan menangani
masalah penyakit kronik yang mengancam nyawa. Terapi Antiretrovirus
(ARV) spesifik dan terapi profilaksis antimikroba merupakan tindakan
penting untuk memperpanjang/ memperbaiki kualitas hidup namun
konseling pendidikan pasien juga sangat penting sebagai bagian dari
perawatan secara optimal. Pasien harus dididik mengenai infeksi
penyakitnya , disertai diskusi seks mengenai dan tukar menukar jarum
intravena (suntik). Pengobatan suportif juga diberikan pada penderita
ODHA yaitu makanan yang mempunyai nilai gizi yang lebih baik dan
pengobatan pendukung seperti dukungan psikososial dan agama serta tidur
yang cukup dan menjaga kebersihan.(3)
Terapi Antiretroviral
Pemberian ARV tidak serta merta segera diberikan begitu saja pada
pasien yang dicurigai tetapi perlu menempuh langkah- langkah yang arif
dan bijaksana serta mempertimbangkan berbagai faktor : sanggupkah pasien
mengkonsumsi obat dalam waktu yang tidak terbatas, kemampuan membeli
obat dalam jangka waktu yang lama, rasa kurang nyaman dalam

10

mengkonsumsi obat, pasien kebanyakan menginginkan penyakitny tidak


diketahui oranglain, potensi resistensi obat, efek samping yang tidak ringan,
serta saat yang tepat untuk memulai terapi. (4)
Obat ARV yang beredar di indonesia
Nama

Nama generik

dagang
Duviral

Golonga

Sediaan

Dosis(per

Tablet,

hari)
2x1 tablet

n
kandungan:
zidovudin 300
mg, lamivudin

Stavir

Stavudin (d4T)

NRTI

zerit

150 mg
Kapsul: 30 mg, >60 kg:2x 40
40 mg

mg
<60 kg:2x 30

Hiviral

Lamivudin(3TC)

NRTI

3TC

mg
Tablet 150 mg 2x 150 mg
larutan.

Viramune Nevirapin (NVP)

NRTI

Oral <50

10 mg/ml

kg:2mg/kg,

Tablet 200 mg

2x/hr
1x 200

mg

selama

14

Neviral

hari,
dilanjutkan
Retovir

Zidovudin(ZDV,

Adovi

AZT)

NRTI

Kapsul 100 mg

atau 2x 250

Avirzid
Videx

2X200 mg
2x 300 mg
mg

Didanosin(ddi)

NRTI

(dosis

alternatif)
Tablet kunyah: >60 kg:
100 mg

2x

200 mg atau
1x400mg
<60

kg:

2x

125 mg, atau


1x 250 mg.
11

Stocrin

Efavirenz (EFV, NNRTI

Kapsul 200 mg

1x 600 mg,

Nelvex

EFZ)
Nelfinavir(NFV)

Tablet 250 mg

malam
2x 1250 mg

PI

Viracept

Keterangan: NsRTI:nucleoside reverse transcriptase inhinitor


NNRTI: non- nucleoside reverse transcriptase inhibitor
PI : protease inhibitor(1)
Kombinasi obst ARV untuk terapi inisial
Kolom a
Kolom b
Lamivudin+ zidovudin
Evafirenz
Lamivudin+ didanosin
Lamivudin+stavudin
Lamivudin+ zidovudin
Nevirapin
Lamivudin+ stavudin
Lamivudin+ didanosin
Lamivudin+ zidovudin
Nelfinavir
Lamivudin+ stavudin
Lamivudin+didanosin
*
Tidak dianjurkan pada wanita hamil trimester pertama atau wanita yang
berpotensi tinggi untuk hamil.(1)
Saat ini regimen pengobatan ARV yang dianjurkan WHO dalah
kombinasi dari 3 obat ARV. Terdapat beberapa regimen yang dapat
dipergunakan dengan keunggulan dan kerugiannya masing- masing.
Kombinasi obat antiretroviral lini pertam yang umumnya digunakan di
Indonesia

dalah

kombinasi

zidovudin(ZDV)/

lamivudin

(3TC),

Nevirapin(NVP), Stavudin(d4T), dan Efavirenz (EFV). Penggunaan d4T


(stavudin) dalam waktu tidak terlalu lam karena efek samping jangka
panjang yaitu lipodisatropi dan efek metabolik. Pada pengobatan ARV lini 2
digunakan Tenofovir, lopi/ Ritonavior. Efek samping tenofovir yaitu
gangguan fungsi ginjal, osteoporosis sedangkan efek samping PI adalah
gangguan metabolik.(1)
Obat-obat golongan protease inhibitor (PI) seperti lopinavir/ ritonavir,
atazanavir, sequinavir, fosamprenavir, darunavir memiliki barier genetik

12

yang tinggi terhadap resistensi. Obat golongan lain memiliki barier yang
rendah, kebanyakan pasien yang mendapatkan pls- terkait HAART (Highly
Active Anti Retroviral Therapy) yang mengalami kegagalan virologis
biasanya memiliki strain virus HIV yng masih sensitif , kecuali bila
digunakan jangka panjang. Obat golongan lain biasanya menjadi resisten
dalam waktu yang lebih singkat ketika terdapat kegagalan virologis.(1)
Jenis obat ARV lini pertama
Terapi lini pertama harus berisi 2NRTI+1NNRTI,dengan pilihan:
-

AZT + 3TC + NVP


AZT + 3T+ EFV
TDF + 3TC (atau FTC) + NVP
TDF + 3TC(Atau FTC) + EFV

Pemerintah akan mengurangi penggunaan (phasing out) stavudin (d4T)


sebagai panduan lini pertama karena pertimbangan toksisitasnya.(2)
2.9 Prognosis
Oleh karena berbagai faktor ikut berpengaruh tergadap progresivitas
infeksi HIV& AIDS yang hingga kini masih sulit dibendung serta berbagai
hambatan pada antiretroviral yang diperberat oleh adanya wasting syndrome
maka prognosa pada umumnya kurang baik.(4)

13

BAB III
KESIMPULAN
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai
kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunya sistem kekebalan
tubuh akibat infeksi virus HIV yang termasuk famili retroviridae. AIDS
merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. Istilah pasien AIDS tidak dianjurkan dan
istilah ODHA (orang dengan HIV/AIDS) lebih dianjurkan agar pasien AIDS
diperlakukan lebih manusiawi.
Penularan HIV/AIDS terjadi akibat melalui cairan tubuh yang mengandung
virus HIV yaitu melalui hubungan seksual, baik homoseksual maupun
heteroseksual, jarum suntik pada penggunaan narkotika, transfusi komponen
darah dari ibu terinfeksi HIV ke bayi yang dilahirkannya. Oleh karena itu
kelompok resiko tinggi terhadap HIV/AIDS misalnya pengguna narkotika,
pekerja seks komersial dan narapidana.
HIV adalah penyakit yang suisah untuk disembuhkan, adapun obat anti
retroviral yang diberikan itu gunanya hanya menghambat pertumbuhan dan
perkembangan virus pada tubuh manusia.

14

DAFTAR PUSTAKA
1. Aru, Sudoyo. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid VI. 5th.Ed. Jakarta : Interna
Publishing , 2014. 887-894p
2. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral pada Orang Dewasa
dan Remaja . Jakarta : Kementrian Kesehatan RI , 2012
3. Harrison. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 4 . 13rd . Ed. Jakarta :
EGC, 2000.1753-1776p
4. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga . Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam .
Surabaya :Airlangga University Press ,2007 .323-330p

15

BAB IV
LAPORAN KASUS
No. Reg. RS : 97.01.29
ANAMNESIS PRIBADI
Nama : Tumini
Umur : 47 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Perkawinan : Menikah
Pekerjaan : Tamat SLTP
Agama : Islam
Alamat : JL Blok B Lingkungan 05 Medan.
ANAMNESIS PENYAKIT
Keluhan utama : gatal-gatal di seluruh tubuh
Telaah :
-

Hal ini dialami OS sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit di sertai
bintik-bintik merah di seluruh tubuh dan wajah kemerahan. Riwayat gatalgatal pada seluruh badan dikarenakan makan obat-obatan dan makanan (-).
Pasien saat ini sedang dalam pengobatan minum OAT paket 2 FDC dari
puskesmas (1 hari minum 3 tablet) 2 bulan ini, di karenakan di
diagnosa TB paru dari rumah sakit di Belawan. Riwayat Batuk (+) sejak 2
bulan yang lalu dengan batuk berdahak (+), riwayat batuk darah (-) ,
riwayat bangun tengah malam dikarenakan batuk (+) keringat malam
(+) sejak 3 bulan ini. Demam (+) sejak 1 bulan yang lalu yang
bersifat naik turun, demam turun dengan obat penurun panas. BAK teh
pekat (+), mual (-), muntah (-),sakit kepala (-), penurunan BB (+)
> 10 kg dalam 1 bulan ini, BAB mencret (-), bercak putih di
lidah (+) di alami os sejak 1 bulan ini. Riwayat
berhubungan sex berganti pasangan di sangkal. Riwayat
transfusi darah di sangkal, tato (-), riwayat penggunaan
narkoba suntik disangkal. Suami os bekerja sebagai
petugas kebersihan di pasar Belawan. Riwayat suami os

16

sakit seperti saat ini (-) Keluarga os tidak ada yang


memiliki penyakit yang serupa. Os merupakan rujukan dari
rumah sakit luar.
ANAMNESIS UMUM ORGAN :
Jantung
:-

Sesak napas

:-

Angina Pectoris

:-

Edema
palpitasi
Lain-lain
:+

::-

Saluran Pernapasan
Batuk-batuk
Asma, bronkitis : Dahak
:+
Lain-lain : Saluran Percernaan
Nafsu Makan
: biasa
Penurunan BB
:+
Keluhan Menelan : Keluhan Defekasi:
Keluhan Perut
:Lain-lain
:Saluran Urogenital
Sakit Buang air Kecil
:Buang air kecil
tersendat

:Mengandung Batu
Urin :kuning

jernih
Haid
:Sendi dan Tulang Sakit pinggang
Keterbatasan Gerak: Keluhan Persendian
:Endokrin
Haus/polidipsi
:Poliuri
Suara: Polifagi
:Saraf Pusat
Sakit Kepala
:Darah & pembuluh
Pucat
:darah
Petechiae

17

:-

Keadaan

Lain-lain
:-

:-

:-

Lain-lain

:-

Gugup

:-

Perubahan

Lain-lain
::Hoyong
Lain-lain
::perdarahan

:-

Purpura
Lain-lain

::-

Sirkulasi Perifer

Claudicatio
Intermitten

:-

Lain-lain

:-

ANAMNESIS FAMILI :
PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK
STATUS PRESENT :
Keadaan umum
Keadaan Penyakit
Sensorium : Compos Mentis Pancaran wajah : Lemah
Tekanan darah: 110/70 mmHg
Sikap Paksa
:Nadi
: 80 x/i, reguler, Reflek fisiologis : +
t/v : cukup
Reflek patologis : Pernafasan : 20 x/i
Temperatur : 36,0 (axila)
Anemia
(-)
ikterus
(-)
Sianosis
(-)
Edema
(+)
Turgor Kulit : Baik
Keadaan Gizi :
BB
BW = TB100
40
155100

(-)

Dispnu
(-)

Purpura

TB : 155
cm

x 100%

x 100% = 72,72%BB : 40 kg
IMT = 16.6 kg/m2

(underweight)

KEPALA
Mata

: konjungtiva palp. Inf. Pucat (-/-) sklera ikterik (-/-) edema


palpebra (-/-) Pupil isokor ki=ka, reflex cahaya direk (+)/ indirek
(+), kesan = normal

Telinga : dalam batas normal


Hidung : dalam batas normal
Mulut : Oral Candiasis (+)

18

Gigi geligi

: dalam batas normal

Tonsil/faring : dalam batas normal

LEHER
Struma tidak membesar, pembesaran kelenjar limfa (-)
Posisi trakea : medial, TVJ : R-2 cm H2O
Kaku kuduk : (-) lain-lain : (-)

THORAK
Thoraks Depan :
-

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Simetris Fusiformis
: Stem Fremitus kanan > kiri, kesan kanan menguat
: Sonor pada lapangan paru kiri, redup pada lapangan paru

kanan atas
Auskultasi : Suara Pernapasan
Suara Tambahan

:Bronkial
:Ronkhi (+) pada lapangan paru
kanan atas

Jantung :
Batas Jantung Relatif : Atas: ICR III sinistra
Kanan: linea parasternalis dextra
Kiri

: ICR V, LMCS

Jantung : HR : 80x/menit, reguler, M1>M2 ,A2>A1 ,P2>P1 ,A2>P2


Thoraks belakang :
-

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Simetris fusiformis
: Stem Fremitus kanan > kiri, kesan kanan menguat
: Sonor pada lapangan paru kiri, redup pada lapangan paru

kanan atas
Auskultasi : Suara Pernapasan
Suara Tambahan

:Bronkial
:Ronkhi (+) pada lapangan paru
kanan atas

19

ABDOMEN
-

Inspeksi
Palpasi

: Simetris
: Soepel, turgor kulit kembali cepat,
Hepar/Lien/renal tidak teraba.
Perkusi
: Timpani
Auskultasi : Peristaltik (+) normal, turgor kulit kembali cepat

GENITALIA LUAR

:-

PEMERIKSAAN COLOK DUBUR (RT)


Perineum

: TDP

Spinchter Ani

: TDP

Lumen

: TDP

Mukosa

: TDP

Sarung Tangan: TDP


ANGGOTA GERAK ATAS
Deformitas sendi

:-

Lokasi

:-

Jari Tubuh

:-

Tremor Ujung Jari

:-

Telapak Tangan Sembab

:-

Sianosis

:-

Eritema Palmaris

:-

Lain lain

:-

ANGGOTA GERAK BAWAH


Kiri

kanan

Edema

Arteri Femoralis

20

Arteri Tibialis Posterior

Arteri Dorsalis Pedis

Refleks KPR

Refleks APR

Refleks Fisiologis

Refleks Patologis

Lain lain

PEMERIKSAAN LABORATORIUM RUTIN


DARAH
Hb
: 12,8 g%
Eritrosit : 4,71 x
106/mm3
Leukosit : 3,6 x 103
mm3
Trombosit: 200 x 103
mm3
Ht
: 39,70 %
Hitung Jenis :
Eosinofil :- %
Basofil : -%
Neutrofil : 52,30 %
Limfosit : 44,0%
Monosit :- %

KEMIH
Warna
: Kuning
Kekeruhan : Keruh
Protein
: +1
Reduksi
:Bilirubin
:Urobilinogen : +
Sedimen
Eritrosit
: 0/lpb
Leukosit
: 3-5/lpb
Silinder
: granula 24/lpb
Epitel
:-

TINJA
Warna
: TDP
Konsistensi : TDP
Eritrosit
: TDP
Leukosit
: TDP
Amoeba/kista: TDP
Telur Cacing
Ascaris
: TDP
Ankylostoma: TDP
T. trichiura : TDP
Kremi
: TDP

RESUME
ANAMNESIS

Keluhan utama : gatal-gatal di seluruh tubuh


- Telaah : Hal ini dialami OS sejak 2 bulan
sebelum masuk rumah sakit di sertai bintikbintik merah di seluruh tubuh dan wajah
kemerahan. Pasien saat ini sedang dalam
pengobatan minum OAT paket 2 FDC dari
puskesmas (1 hari minum 3 tablet) 2
bulan ini, di karenakan didiagnosa TB paru
dari rumah sakit di Belawan. Riwayat Batuk

21

(+) sejak 2 bulan yang lalu dengan batuk


berdahak (+),riwayat bangun tengah malam
dikarenakan batuk (+). Demam (+) sejak 1
bulan yang lalu yang bersifat naik turun,
demam turun dengan obat penurun panas.
BAK teh pekat (+), keringat malam (+)
sejak 3 bulan ini, penurunan BB (+)
> 10 kg dalam 1 bulan ini, bercak
putih di lidah (+) di alami os sejak 1
bulan ini. Suami os bekerja sebagai
petugas
kebersihan
di
pasar
Belawan. Os merupakan rujukan dari
rumah sakit luar.
STATUS PRESENT

PEMERIKSAAN FISIK

LABORATORIUM RUTIN

Keadaan Umum : Sedang


Keadaan Penyakit : Buruk
Keadaan Gizi
: Underweight
THORAX DEPAN
Inspeksi
Pergerakan
: sama kiri dan kanan
Palpasi
Fremitus suara
: Stem Fremitus kanan >kiri,
kesan kanan menguat
Auskultasi Paru
Suara Pernafasan :Bronkial
Suara Tambahan : Ronkhi
(+) pada lapangan paru
kanan atas
THORAX BELAKANG
Inspeksi
Pergerakan
: sama kiri dan kanan
Palpasi
Fremitus suara
: Stem Fremitus kanan >kiri,
kesan kanan menguat
Auskultasi Paru
Suara Pernafasan :Bronkial
Suara Tambahan : Ronkhi
(+) pada lapangan paru
kanan atas
Darah
Hb : 12,8 g/dl

22

Kemih
Warna

: kuning

Eritrosit : 4,71 x 106/L Protein


: +1
Leukosit : 3.600/L
Reduksi
:Bilirubin
:Urobilinogen : Sedimen
Eritrosit
: 0 /lpb
Leukosit
: 2-3 /lpb
Silinder
:Epitel
: 1-3 /lpb
Albumin : 2,40 g/dl
LDH : 823,90 U/L
Uric acid : 17,30 mg/dl
HIV kualitatif : (+)
Glukosa Adrandom : 172,00 mg/dl
Chlorida : 110,00 mmol/L
DIAGNOSA BANDING

Hiv std IV + Pnemoni dd TB paru


Dd Mikosis paru
+ TB paru dalam pengobatan + OC + Puritik popular
erupsion + hiper Urisemia

DIAGNOSA SEMENTARA

Hiv std IV + Pnemoni dd TB paru


Dd Mikosis paru
+ TB paru dalam pengobatan + OC + Puritik popular
erupsion + hiper Urisemia
Aktivitas : Bed rest
Diet
: Diet MB TKTP
Tindakan Suportif : IVFD NaCL 0.9% 20gtt/i mikro

PENATALAKSANAAN

Medikamentosa
- Drips fluconazole 200 mg/12jam
- Inj. Ranitidine 50mg/12jam/IV
- Tab Allopurinol 1x300 mg
- Tab Cetirizine 2x1
- Nystatin Drops 3x CII
- Zalf Inerson 3xSuc (ext dan tubuh)
3salep/hari
- Zalf Hidrocortison 2,5 mg (wajah)
- Soft Uderm 2xSuc

Rencana Penjajakan Diagnostik / Tindakan Lanjutan

23

1.
2.
3.
4.
5.
6.

CD4
LDH
Elisa 3 metode CD 4
HbsAg anti HCV
BTA sputum DS 3X
Foto thorax

7. Urinalisa
8. Feses rutin
9. Konsul kulit
10. Konsul PAI
11. Konsul VCT

24

Follow up tanggal 30 Juli 2015


S

Batuk (+),

Sens

: Compos mentis

Bintik

TD

: 80/40 mmHg

kemerahan

Pols

seluruh tubuh

RR

: 20x/mnt,

(+)

Temp

: 36,7 C

A
Terapi
- Tirah baring

- Hiv std IV
- Pnemoni dd TB paru - Diet MB TKTP

110x/ mnt, reguler, t/v: cukup

dd Mikosis paru
- TB paru dalam
pengobatan
- OC

Pemeriksaan Fisik:
- Wajah
- Mata
- T/H
- Mulut
- Leher

- Puritik popular

: Eritema (+)
: conj palpebra inf pucat (-/-), ikterik (-/-),
: Dalam batas normal
: Oral Candidiasis(+)
: TVJ R-2 cm H2O, pembengkakan KGB(-), trakea

erupsion
- hiper Urisemia

- Inj. Ranitidin 50 mg/12


jam/ IV
- Drip Fluconazole 200
ml/ 12 jam
- Tab. Citirizine 2x1

- OAT di teruskan

paru kanan atas


Suara Tambahan

gtt/i macro

- Allopurinol 1x300 mg

: Simetris fusiformis, Multiple papul eritema


: Stem fremitus kanan>kiri kesan kanan menguat,
: Sonor pada lapangan paru kiri, redup pada lapangan

Auskultasi : Suara Pernapasan

- IVFD NaCL 0,9 % 20

- Nistatin drops 3x

medial
- Thorax
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

:Bronkial
:Ronkhi (+) pada lapangan
paru kanan atas

- Abdomen
25

Diagnostik
- LDH
- Cek feses rutin
- Urinalisa
- Susul hasil Ro
Thorax PA
- Cek elisa 3 metode,
CD4
- kemih
- Konsul Kulit,
PTI,PAI,VCT

Inspeksi

: Simetris , Multiple papul eritema (+)

Palpasi

: Soepel,Hepar/Lien/renal tidak teraba.

Perkusi

: timpani,

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


- Extremitas
Superior
Inferior

: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)


: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)

Pemeriksaan laboratorium 29/07/2015


Darah Rutin
WBC

: 3600 //l

RBC

: 4,71 .106 / l

HGB

: 12,8 gr/dl

PLT

: 200.000/ l

Imunologi
HbsAg kualitatif : Negatif
Anti HCV

: Negatif

Kimia klinik
SGOT

: 755 u/l
26

SGPT

: 691 u/l

Alkaline phosp : 286 u/l


Total billirubin : 2,76 mg/dl
Direct billirubin : 2,40 mg/dl
Albumin

: 3,39 gr/dl

Ureum

: 50 mg/dl

Creatinin

: 0,62 mg/dl

Uric acid

: 10,3 mg/dl

Glukosa adr

: 172 mg/dl

Natrium

: 139 mmol/l

Kalium

: 5,3 mmol/l

Chloride

: 110 mmol/l

Pemeriksaan Immunologi 30/07/2015


HIV kualitatif : Positif
Elisa 3 metode :
-Standard diagnostic =reactif
-Oncoprobe =reactive
-intek =reactive

27

Follow up tanggal 31 Juli 2015


Batuk (+),

Sens

: Compos mentis

Bintik

TD

: 100/70 mmHg

kemerahan

Pols

seluruh tubuh

RR

: 20x/mnt,

(+)

Temp

: 36,1 C

- Hiv std IV
- Tirah baring
- Pnemoni dd TB paru - Diet MB TKTP

84x/ mnt, reguler, t/v: cukup

dd Mikosis paru
- TB paru dalam
pengobatan
- OC

Pemeriksaan Fisik:
- Wajah
- Mata
- T/H
- Mulut
- Leher

- Puritik popular

: Eritema (+)
: Conj palpebra inf pucat (-/-), ikterik (-/-),
: Dalam batas normal
: Oral Candidiasis (+)
: TVJ R-2 cm H2O, pembengkakan KGB(-), trakea

erupsion
- hiper Urisemia

gtt/i macro
- Inj. Ranitidin 50 mg/12
jam/ IV
- Drip Fluconazole 200
ml/ 12 jam
- Tab. Citirizine 2x1
- Nistatin drops 3x
- Allopurinol 1x300 mg

medial
- Thorax
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

- IVFD NaCL 0,9 % 20

- Zalf inerson 3x suc


- Zalf hidrocortoson

: Simetris fusiformis, Multiple papul eritema


: Stem fremitus kanan>kiri kesan kanan menguat,
: Sonor pada lapangan paru kiri, redup pada lapangan
paru kanan atas

Auskultasi : Suara Pernapasan


Suara Tambahan

2,5%
- Soft u derm 2 x suc
- OAT diteruskan

:Bronkial
:Ronkhi (+) pada lapangan
paru kanan atas
28

Konsul PTI,PAI
kemih
Urinalisa
CD4

- Abdomen
Inspeksi

: Simetris , Multiple papul eritema (+)

Palpasi

: Soepel,Hepar/Lien/renal tidak teraba.

Perkusi

: timpani,

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


- Extremitas
Superior : edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
Inferior
: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
Hasil Laboratorium (31 Juli 2015)
Urin Rutin
Warna
: Kuning
Kekeruhan : Keruh
Protein
: +1
Reduksi
:Bilirubin
:Urobilinogen : +
Sedimen
Eritrosit
: 0/lpb
Leukosit
: 3-5/lpb
Silinder
: granula 2-4/lpb
Epitel
:-

Follow up tanggal 1 Agustus 2015


29

Bintik

Sens

: Compos mentis

kemerahan

TD

: 90/50 mmHg

seluruh tubuh

Pols

(+)

RR

: 20x/mnt,

Badan lemas (+)

Temp

: 36,6 C

- Hiv std IV
- Tirah baring
- Pnemoni dd TB paru - Diet MB TKTP

90x/ mnt, reguler, t/v: cukup

dd Mikosis paru
- TB paru dalam
pengobatan
- OC

Pemeriksaan Fisik:
- Wajah
- Mata
- T/H
- Mulut
- Leher

- Puritik popular

: Eritema (+)
: Conj palpebra inf pucat (-/-), ikterik (-/-),
: Dalam batas normal
: Oral Candidiasis(+)
: TVJ R-2 cm H2O, pembengkakan KGB(-), trakea

erupsion
- Hiperurisemia

jam/ IV
- Drip Fluconazole 200
ml/ 12 jam
- Tab. Citirizine 2x1

- Zalf inerson 3x suc


- Zalf hidrocortoson

: Simetris fusiformis, Multiple papul eritema


: Stem fremitus kanan>kiri kesan kanan menguat,
: Sonor pada lapangan paru kiri, redup pada lapangan

Auskultasi : Suara Pernapasan


Suara Tambahan

2,5%
- Soft u derm 2 x suc
- OAT diteruskan

:Bronkial
:Ronkhi (+) pada lapangan
paru kanan atas

Palpasi

- Inj. Ranitidin 50 mg/12

- Allopurinol 1x300 mg

paru kanan atas

- Abdomen
Inspeksi

gtt/i macro

- Nistatin drops 3x

medial
- Thorax
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

- IVFD NaCL 0,9 % 20

: Simetris , Multiple papul eritema (+)


: Soepel,Hepar/Lien/renal tidak teraba.
30

- Konsul PTI,PAI
- Urinalisa dan Feses
rutin
- CD4
- Albumin

Perkusi

: timpani,

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


- Extremitas
Superior : edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
Inferior
: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
Hasil Laboratorium (01 Agustus 2015)
Albumin : 2,40

Follow up tanggal 2 Agustus2015


Bintik

Sens

: Compos mentis

kemerahan

TD

: 120/60 mmHg

seluruh tubuh

Pols

(+)

RR

: 22x/mnt,

Badan lemas (+)

Temp

: 37,8 C

- Hiv std IV
- Tirah baring
- Pnemoni dd TB paru - Diet MB TKTP

84x/ mnt, reguler, t/v: cukup

dd Mikosis paru
- TB paru dalam
pengobatan
- OC

Pemeriksaan Fisik:
- Wajah
- Mata
- T/H
- Mulut
- Leher

- Puritik popular

: Eritema (+)
: Conj palpebra inf pucat (-/-), ikterik (-/-),
: Dalam batas normal
: Oral Candidiasis(+)
: TVJ R-2 cm H2O, pembengkakan KGB(-), trakea

erupsion
- hiper Urisemia

- IVFD NaCL 0,9 % 20


gtt/i macro
- Inj. Ranitidin 50 mg/12
jam/ IV
- Drip Fluconazole 200
ml/ 12 jam
- Tab. Citirizine 2x1
- Nistatin drops 3x
- Allopurinol 1x300 mg

medial

- Zalf inerson 3x suc

- Thorax

- Zalf hidrocortoson
31

- Konsul PTI,PAI
- Feses rutin
- CD4

Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Simetris fusiformis, Multiple papul eritema


: Stem fremitus kanan>kiri kesan kanan menguat,
: Sonor pada lapangan paru kiri, redup pada lapangan

2,5%
- Soft u derm 2 x suc
- OAT diteruskan

paru kanan atas


Auskultasi : Suara Pernapasan

:Bronkial

Suara Tambahan

:Ronkhi (+) pada lapangan


paru kanan atas

- Abdomen
Inspeksi

: Simetris , Multiple papul eritema (+)

Palpasi

: Soepel,Hepar/Lien/renal tidak teraba.

Perkusi

: timpani,

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


- Extremitas
Superior : edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
Inferior
: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
- Follow up tanggal 3 Agustus 2015

Bintik

Sens

: Compos mentis

kemerahan

TD

: 90/50 mmHg

seluruh tubuh

Pols

berkurang(+)

RR

: 20x/mnt,

Badan lemas (+)

Temp

: 36,5 C

- Hiv std IV
- Tirah baring
- Pnemoni dd TB paru - Diet MB TKTP

88x/ mnt, reguler, t/v: cukup

dd Mikosis paru
- TB paru dalam
pengobatan
- OC
32

- IVFD NaCL 0,9 % 20


gtt/i macro
- Inj. Ranitidin 50 mg/12
jam/ IV

Konsul PTI,PAI
Feses rutin
CD4
Koreksi albumin

Pemeriksaan Fisik:
- Wajah
- Mata
- T/H
- Mulut
- Leher

- Puritik popular

: Eritema (+)
: Conj palpebra inf pucat (-/-), ikterik (+/+),
: Dalam batas normal
: Oral Candidiasis(+)
: TVJ R-2 cm H2O, pembengkakan KGB(-), trakea

erupsion
- hiper Urisemia

- Zalf inerson 3x suc


- Zalf hidrocortoson
2,5%
- Soft u derm 2 x suc
- OAT diteruskan

Suara Tambahan : : Simetris , Multiple papul eritema (+)


: Soepel,Hepar/Lien/renal tidak teraba.

Perkusi

: timpani,

- Tab. Citirizine 2x1


- Allopurinol 1x300 mg

- Thorax
Inspeksi : Simetris fusiformis, Multiple papul eritema
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri kesan normal,
Perkusi
: Sonor pada kedua lapangan paru.
Auskultasi :Suara Pernafasan : Vesikuler melemah

Palpasi

ml/ 12 jam
- Nistatin drops 3x

medial

- Abdomen
Inspeksi

- Drip Fluconazole 200

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


- Extremitas
Superior : edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
Inferior
: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)
- Follow up tanggal 4 Agustus 2015

33

Sens

: Compos mentis

TD

: 90/50 mmHg

Pols

RR

: 20x/mnt,

Temp

: 36,5 C

- Hiv std IV
- Tirah baring
- Pnemoni dd TB paru - Diet MB TKTP

88x/ mnt, reguler, t/v: cukup

dd Mikosis paru
- TB paru dalam
pengobatan
- OC

Pemeriksaan Fisik:
- Wajah
- Mata
- T/H
- Mulut
- Leher

- Puritik popular

: Eritema (+)
: Conj palpebra inf pucat (-/-), ikterik (-/-),
: Dalam batas normal
: Oral Candidiasis(+)
: TVJ R-2 cm H2O, pembengkakan KGB(-), trakea

erupsion
- hiper Urisemia

- Inj. Ranitidin 50 mg/12


jam/ IV
- Drip Fluconazole 200
ml/ 12 jam
- Tab. Citirizine 2x1
- Allopurinol 1x300 mg
- Zalf inerson 3x suc

- Thorax
Inspeksi : Simetris fusiformis, Multiple papul eritema
Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri kesan normal,
Perkusi
: Sonor pada kedua lapangan paru.
Auskultasi :Suara Pernafasan :

- Zalf hidrocortoson
2,5%
- Soft u derm 2 x suc
- OAT di teruskan

Suara Tambahan : : Simetris , Multiple papul eritema (+)

Palpasi : Soepel, Hepar/Lien/renal tidak teraba.


Perkusi

gtt/i macro

- Nistatin drops 3x

medial

- Abdomen
Inspeksi

- IVFD NaCL 0,9 % 20

: timpani,

Auskultasi : Peristaltik (+) normal


- Extremitas
34

Superior
Inferior

: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)


: edema (-/-),Multiple papul eritema (+)

Hasil Laboratorium (4 Agustus 2015)


CD4 = 551

35