Anda di halaman 1dari 3

Pendahuluan

Kloning adalah proses pembentukan satu atau sejumlah individu, tanaman, atau
hewan yang mempunyai susunan genetik yang sama. Dalam bidang kedokteran sudah lazim
dilakukan kloning sel-sel dan jaringan kanker pada hewan percobaan dan pada manusia untuk
tujuan penelitian. Bidang kedokteran molekuler banyak membutuhkan kloning sel dan
jaringan manusia untuk mengetahui seluk beluk penyakit, terutama penyakit genetik. Kloning
dalam bioindustri baik pada tumbuh-tumbuhan maupun pada hewan telah dimanfaatkan
untuk kesejahteraan manusia (Hanafiah & Amir, 2008). Sebenarnya terbentuknya kloning
merupakan hal yang biasa terjadi pada tanaman, hewan, dan manusia. Pada manusia, dengan
probabilitas satu dari 75 kehamilan, satu zigot dapat berkembang menjadi kembar identik
yang mempunyai susunan gen yang sama. Jadi sebenarnya kembar identik adalah klon yang
terjadi secara alamiah (Byrne & Gurdon, 2002).
Proses kloning buatan dapat dilakukan melalui metode pemisahan embrio (embryo
splitting) atau transfer nukleus (nuclear transfer) (Byrne & Gurdon, 2002). Metode
pemisahan embrio merupakan pemisahan embrio pada tahap perkembangan awal menjadi
dua bagian atau lebih. Tahap pertama ialah zigot dipacu untuk membelah secara in vitro di
dalam cawan petri atau tabung menjadi 2,4,8,16 atau sampai 32 sel. Kemudian dengan
menggunakan enzim protease, zona pelusida yang membungkus ke-16 atau ke-32 sel tadi
dihancurkan, sehingga sel-selnya satu sama lain terlepas. Kemudian tiap sel dimasukkan ke
dalam cawan petri dan dibungkus kembali oleh zona pelusida. Setelah itu tiap sel akan
membelah dan berkembang membentuk blastosit, dan dapat ditransfer ke dalam uterus induk
yang siap menerima implantasi blastosit. Blastosit akan mengalami proses perkembangan
berikutnya di dalam uterus induk (Suhana, 2002). Proses ini mirip dengan proses
pembentukan kembar monozigot yang identik secara genetis.
Pemisahan embrio buatan telah sukses dilakukan pada berbagai mamalia, yaitu domba
oleh Willadsen pada 1981, sapi oleh Willadsen pada 1989, tikus oleh Agrawal dan Polge pada
1989, dan monyet oleh Chan et al. pada tahun 1993. Pada tahun 2000, the American Society
for Reproductive Medicine men-deklarasikan kloning manusia melalui pemisahan embrio
adalah prosedur etis untuk meningkatkan jumlah blastosit manusia yang dapat digunakan
pada prosedur penanganan infertilitas. Walaupun demikian, pemisahan embrio hanya dapat
memproduksi klon dalam jumlah yang terbatas karena frekuensi pembelahan embrio muda
terbatas dan prosedur ini tidak dapat digunakan untuk memproduksi klon dari sel-sel orang
dewasa (Byrne & Gurdon, 2002).

Metode lain untuk proses kloning adalah dengan cara transfer nukleus sel somatik.
Materi nukleus dihilangkan dari telur, kemudian nukleus sel somatis disisipkan ke dalam telur
tersebut melalui mikroinjeksi atau elektrofusi. Zigot yang terbentuk mempunyai potensi
untuk membelah menjadi blastosit yang apabila diimplantasikan ke dalam uterus induk
pengganti (surrogate mother) akan berkembang menjadi anak yang identik secara genetis
dengan donor nukleus (Wargesetia, 2002).
Kloning dengan metode transfer nukleus dilakukan pertama kali pada amfibi di tahun
1950-an. Transfer nukleus berhasil dilakukan pada mamalia pada tahun 1970-an oleh
Bromhall dan tahun 1980-an oleh Willadsen. Kelahiran domba klon Dolly yang merupakan
hasil transfer nukleus sel domba dewasa dipublikasikan di majalah Nature pada tahun 1997.
Publikasi kesuksesan Wilmut et al. yang membuat Dolly diikuti oleh para ilmuwan lainnya,
yaitu Cibelli et al. yang mem-publikasikan keberhasilan mereka mengklon sapi pada tahun
1998, Wakayama mempublikasikan pembuatan klon tikus pada tahun yang sama, Baguisi et
al. mengklon kambing pada tahun 1999 dan pada tahun 2000 Betthauser et al., Onishi et al.,
Polejaeva et al. mempublikasikan keberhasilan mereka mengklon babi. Keberhasilankeberhasilan itu menunjukkan bahwa transfer nukleus kemungkinan besar dapat dilakukan
pada semua mamalia, termasuk manusia. Kloning manusia digunakan untuk dua tujuan yang
berbeda, yaitu untuk reproduksi dan terapi (Byrne & Gurdon, 2002).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan reproduksi kloning menimbulkan kontroversi,
terutama yang bersangkutan dengan kloning manusia. Kloning manusia diidentifikasi
menimbulkan beberapa masalah, baik masalah etika dan moral, masalah ilmiah, serta masalah
sosial (Pratimaratri, 1998). Berbagai kalangan, baik pemerintah, kelompok masyarakat,
ilmuwan, maupun agamawan telah memberi pernyataan bahwa cloning pada manusia adalah
tidak etis dan bertentangan dengan harkat martabat manusia (Pratimaratri, 1998). Dalam
forum internasional, cloning masih menjadi sesuatu yang diperdebatkan. Sebagian ilmuwan
berpendapat bahwa kloning memberikan banyak manfaat, namun ilmuwan yang lain
menyatakan bahwa kloning lebih banyak mendatangkan kerugian daripada manfaat (Aman,
2007).
Dari sudut pandang sosiologis, kloning manusia dikhawatirkan akan mengancam
pranata sosial yang telah dibangun oleh umat manusia sejak keberadaannya dimuka bumi.
Kloning secara tidak langsung juga berimbas negatif terhadap pranata sosial dan interaksi
sosial yang selama ini diyakini sebagai basis kerukunan dan kedamaian antar sesama
manusia. Sementara dari sudut pandang ekonomi, kloning dapat juga memudarkan etika
bisnis yang berwajah humanis. Saat ini, kegiatan bisnis penelitian yang terkait dengan

kloning semakin gencar dilakukan seperti pembuatan domba Dolly. Bila proyek kloning
manusia ini berhasil tidak dapat dihindarkan terjadinya transaksi bisnis manusia kloning.
Perdagangan kloning manusia seperti ini, tentu saja telah meletakkan martabat manusia setara
dengan hewan dan tumbuhan. Dari sudut gender, kloning juga mendatangkan efek negatif
bagi posisi perempuan. Penerapan kloning manusia tetap saja mendeskriditkan harkat dan
martabat manusia. Terakhir dari sudut agama, penerapan kloning tidak disinggung secara
eksplisit dan spesifik, namun berbagai agama dengan jelas menentang kloning pada manusia
(Aman, 2007).
Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kloning adalah
prestasi besar pada akhir abad yang lalu sehingga sampai saat ini menjadi topik pembicaraan
baik dalam tulisan maupun pertemuan baik dalam maupun luar negeri. Untuk membahas
kloning, maka berbagai sudut pandang dari berbagai disiplin ilmu digunakan seperti sudut
moral, hukum, agama, psikologi, medis, biologi, bahkan sampai sudut pandang ekonomi. Hal
ini mengindikasikan bahwa betapa kloning memiliki dampak yang sangat besar bagi masa
depan peradaban manusia. Keberhasilan yang spektakuler pada binatang, tidak menutup
kemungkinan diikuti dengan tahap berikutnya yakni kloning pada manusia. Jika hal itu terjadi
dalam bentuk yang masif, maka dapat dibayangkan terjadinya perubahan sosial yang besar
karena lahirnya makhluk baru yang bisa jadi memiliki karakteristik lebih baik atau bahkan
lebih buruk (Aman, 2007).