Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Epilepsi merupakan masalah kesehatan yang sering menyebabkan berbagai

masalah medis, sosial, psikososial dan ekonomi. Insiden penyakit ini di seluruh dunia
mencapai 44 kasus per 100 ribu penduduk per tahun, dimana setiap tahun ditemukan
sekitar 125 ribu kasus baru. Di Asia, prevalensi epilepsi per 1000 populasi adalah: 3,5 di
Singapura, 1,7 di Jepang, 2,47 di India, 4,7 di Cina, 9,85 di Pakistan dan 9,0 di Srilangka.
Menurut Sjahrir (2000), jika di Indonesia diperkirakan prevalensi epilepsi per 1000
populasi adalah 5 orang, maka penderita epilepsi mencapai 1 juta orang 1. Angka Insiden
paling tinggi pada umur 20 tahun pertama, 75% pasien, epilepsy terjadi sebelum umur 18
th menurun sampai umur 50 tahun dan meningkat lagi pada lansia.
Di Indonesia, epilepsi dikenal sebagai ayan atau sawan. Banyak masyarakat
masih mempunyai pandangan yang keliru (stigma) dan beranggapan bahwa epilepsi
bukanlah penyakit tapi karena masuknya roh jahat, kesurupan, guna-guna atau suatu
kutukan. Mereka juga takut memberi pertolongan karena beranggapan epilepsi dapat
menular melalui air liur.
Stigma dan mitos yang berkembang di masyarakat membuat orang dengan epilepsi
di kucilkan oleh lingkungan, banyak keluarga dari orang dengan epilepsi yang menutupnutupi keadaan, sehingga membuat penanganan epilepsi menjadi tidak optimal. Padahal
epilepsi bukan termasuk penyakti menular, bukan penyakit jiwa, bukan penyakit yang
diakibatkan ilmu klenik dan bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Pengobatan
epilepsi sendiri juga menjadi masalah, disebabkan lamanya pengobatan dan berbagai
aspek lainnya. Prinsip umum pengobatan epilepsi adalah untuk membebaskan penderita
dari kejang dengan tidak menimbulkan efek samping klinis yang nyata dengan tujuan
utama memperbaiki kualitas hidup penderita epilepsi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 TATALAKSANA
Tujuan pokok terapi epilepsi ialah membebaskan penderita dari bangkitan
epilepsi, tanpa mengganggu fungsi normal susunan saraf pusat agar penderita dapat
menjalani kehidupannya tanpa gangguan. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan
beberapa upaya, antara lain menghentikan bangkitan, mengurangi frekuensi bangkitan,
mencegah timbulnya efek samping, menurunkan angka kesakitan dan kematian, mencegah
timbulnya efek sampan OAE. Prinsip terapi epilepsy :
1. Pemilihan obat disesuaikan dengan keadaan klinis, efek samping, interaksi antar- obat
anti epilepsy (OAE) dan harga obat. OAE mulai diberikan bila diagnosis epilepsy
telah dipastikan (confirmed) atau bila terjadi dua kali bangkitan dalam selang waktu
yang tidak lama (maksimal satu tahun), setelah pasien dan atau keluarganya menerima
penjelasan tentang tujan pengobatan dan kemungkinan efek samping OAE yang akan
timbul.
2. Strategi pengobatan dimulai dengan monoterapi OAE lini pertama sesuai dosis
kemudian ditingkatkan dosisnya hingga bangkitan teratasi atau diperoleh hasil yang
optimal dan konsentrasi plasma OAE pada kadar yang maksimal. Jika bangkitan
masih tidak teratasi maka perlu ditambahkan OAE kedua, bila OAE telah mencapai
kadar terapi maka OAE pertama diturunkan bertahap (tappering off). Penambahan
obat ketiga baru dilakukan bila telah ternukti bangkitan tidak dapat diatasi dengan
penggunaan dosis maksimal kedua OAE pertama.
3. Edukasi. Beritahukan pada keluarga dan pasien bahwa penggunaan OAE jangka lama
tidak akan menimbulkan perlambatan mental permanen (meskipun penyebab dasar
kejang dapat menimbulkan demikian) dan pencegahan kejang untuk 1-2 tahun dapat
menurunkan kemungkinan bangkitan berulang. Perubahan obat atau dosis harus
sepengetahuan dokter.
4. Follow up. Pasien diperiksa secara berkala dan awasi adanya toksisitas OAE.
Pemeriksaan darah dan uji fungsi hati harus dilakukan secara periodic pada beberapa
OAE. Penting juga dilakukan evaluasi ulang ulang fungsi neurologis secara rutin.

5. Penanganan jangka panjang. Teruskan pengobatan OAE sampai pasien bebas bangkitan
sekurang-kurangnya 1-2 tahun.
II.2 PENGGOLONGAN OBAT-OBAT ANTI EPILEPSI
1. Hidantoin
a. Fenitoin
Fenitoin merupakan obat pilihan pertama untuk kejang umum,
kejang tonik-klonik, dan pencegahan kejang pada pasien trauma
kepala/bedah saraf. Fenitoin memiliki range terapetik sempit sehingga pada
beberapa pasien dibutuhkan pengukuran kadar obat dalam darah.
Mekanisme aksi fenitoin adalah dengan menghambat kanal sodium (Na +)
yang mengakibatkan influk (pemasukan) ion Na+ kedalam membran sel
berkurang. dan menghambat terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi
terus-menerus pada neuron. Dosis awal penggunaan fenitoin 5 mg/kg/hari
dan dosis pemeliharaan 20 mg/kg/hari tiap 6 jam. Efek samping yang
sering terjadi pada penggunaan fenitoin adalah depresi pada SSP, sehingga
mengakibatkan lemah, kelelahan, gangguan penglihatan (penglihatan
berganda), disfungsi korteks dan mengantuk. Pemberian fenitoin dosis
tinggi

dapat

menyebabkan

gangguan

keseimbangan

tubuh

dan nystagmus.Salah satu efek samping kronis yang mungkin terjadi


adalahgingival hyperplasia (pembesaran pada gusi). Menjaga kebersihan
rongga mulut dapat mengurangi resiko gingival hyperplasia.

2. Barbiturat
a. Fenobarbital
Merupakan obat yang efektif untuk kejang parsial dan kejang tonikklonik. Efikasi, toksisitas yang rendah, serta harga yang murah menjadikan

fenobarbital obat yang penting utnuk tipe-tipe epilepsi ini. Namun, efek
sedasinya serta kecenderungannya menimbulkan gangguan perilaku pada
anak-anak telah mengurangi penggunaannya sebagai obat utama. Aksi
utama fenobarbital terletak pada kemampuannya untuk menurunkan
konduktan Na dan K. Fenobarbital menurunkan influks kalsium dan
mempunyai efek langsung terhadap reseptor GABA (aktivasi reseptor
barbiturat akan meningkatkan durasi pembukaan reseptor GABAA dan
meningkatkan konduktan post-sinap klorida). Selain itu, fenobarbital juga
menekan

glutamate

excitability

dan

meningkatkan

postsynaptic

GABAergic inhibition. Dosis awal penggunaan fenobarbital 1-3 mg/kg/hari


dan dosis pemeliharaan 10-20 mg/kg 1kali sehari. Efek samping SSP
merupakan hal yang umum terjadi pada penggunaan fenobarbital. Efek
samping lain yang mungkin terjadi adalah kelelahan, mengantuk, sedasi,
dan depresi. Penggunaan fenobarbital pada anak-anak dapat menyebabkan
hiperaktivitas. Fenobarbital juga dapat menyebabkan kemerahan kulit,
dan Stevens-Johnson syndrome .
3. Deoksibarbiturat
a. Primidon
Digunakan untuk terapi kejang parsial dan kejang tonik-klonik.
Primidon mempunyai efek penurunan pada neuron eksitatori. Efek anti
kejang primidon hampir sama dengan fenobarbital, namun kurang poten.
Didalam tubuh primidon dirubah menjadi metabolit aktif yaitu fenobarbital
danfeniletilmalonamid (PEMA). PEMA dapat meningkatkan aktifitas
fenobarbital. Dosis primidon 100-125 mg 3 kali sehari. Efek samping yang
sering terjadi antara lain adalah pusing, mengantuk, kehilangan
keseimbangan, perubahan perilaku, kemerahan dikulit, dan impotensi.
4. Iminostilben
a. Karbamazepin
4

Secara

kimia

merupakan

golongan

antidepresan

trisiklik.

Karbamazepin digunakan sebagai pilihan pertama pada terapi kejang


parsial dan tonik-klonik. Karbamazepin menghambat kanal Na+, yang
mengakibatkan influk (pemasukan) ion Na+ kedalam membran sel
berkurang dan menghambat terjadinya potensial aksi oleh depolarisasi
terus-menerus pada neuron. Dosis pada anak dengan usia kurang dari 6
tahun 10-20 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 6-12 tahun dosis awal 200 mg 2
kali sehari dan dosis pemeliharaan 400-800 mg. Sedangkan pada anak usia
lebih dari 12 tahun dan dewasa 400 mg 2 kali sehari. Efek samping yang
sering terjadi pada penggunaan karbamazepin adalah gangguan penglihatan
(penglihatan berganda), pusing, lemah, mengantuk, mual, goyah (tidak
dapat berdiri tegak) danHyponatremia. Resiko terjadinya efek samping
tersebut akanmeningkat seiring dengan peningkatan usia
b. Okskarbazepin
Merupakan analog keto karbamazepin. Okskarbazepin merupakan
prodrug yang didalam tubuh akan segera dirubah menjadi bentuk aktifnya,
yaitu suatu turunan10-monohidroksi dan dieliminasi melalui ekskresi
ginjal. Okskarbazepin digunakan untuk pengobatan kejang parsial.
Mekanisme

aksi

okskarbazepin

mirip

dengan

mekanisme

kerja

karbamazepin. Dosis penggunaan okskarbazepin pada anak usia 4-16 tahun


8-10mg/kg 2 kali sehari sedangkan pada dewasa, 300 mg 2 kali sehari.
Efek samping penggunaan okskarbazepin adalah pusing, mual, muntah,
sakit kepala, diare, konstipasi, dispepsia, ketidak seimbangan tubuh, dan
kecemasan. Okskarbazepin memiliki efek samping lebih ringan dibanding
dengan fenitoin, asam valproat, dan karbamazepin. Okskarbazepin dapat
menginduksi enzim CYP450
5. Suksimit
a. Etosuksimid

Digunakan pada terapi kejang absens. Kanal kalsium merupakan


target dari beberapa obat antiepilepsi. Etosuksimid menghambat pada kanal
Ca2+ tipe T. Talamus berperan dalam pembentukan ritme sentakan yang
diperantarai oleh ion Ca2+ tipe T pada kejang absens, sehingga
penghambatan pada kanal tersebut akan mengurangi sentakan pada kejang
absens. Dosis etosuksimid pada anak usia 3-6 tahun 250 mg/hari untuk
dosis awal dan 20 mg/kg/hari untuk dosis pemeliharaan. Sedangkan dosis
pada anak dengan usia lebih dari 6 tahun dan dewasa 500 mg/hari. Efek
samping penggunaan etosuksimid adalah mual dan muntah, efek samping
penggunaan etosuksimid yang lain adalah ketidakseimbangan tubuh,
mengantuk, gangguan pencernaan, goyah (tidak dapat berdiri tegak),
pusing dan cegukan.
6. Asam Valproat
Asam valproat merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang parsial,
kejang absens, kejang mioklonik, dan kejang tonik-klonik. Asam valproat dapat
meningkatkan GABA dengan menghambat degradasi nya atau mengaktivasi
sintesis GABA. Asam valproat juga berpotensi terhadap respon GABA post
sinaptik yang langsung menstabilkan membran serta mempengaruhi kanal kalium.
Dosis penggunaan asam valproat 10-15 mg/kg/hari. Efek samping yang sering
terjadi adalah gangguan pencernaan (>20%), termasuk mual, muntah, anorexia,
dan peningkatan berat badan. Efek samping lain yang mungkin ditimbulkan adalah
pusing, gangguan keseimbangan tubuh, tremor, dan kebotakan. Asam valproat
mempunyai efek gangguan kognitif yang ringan. Efek samping yang berat dari
penggunaan asam valproat adalah hepatotoksik. Hyperammonemia (gangguan
metabolisme yang ditandai dengan peningkatan kadar amonia dalam darah)
umumnya terjadi 50%, tetapi tidak sampai menyebabkan kerusakan hati.
Interaksi valproat dengan obat antiepilepsi lain merupakan salah satu
masalah terkait penggunaannya pada pasien epilepsi. Penggunaan fenitoin dan
6

valproat secara bersamaan dapat meningkatkan kadar fenobarbital dan dapat


memperparah efek sedasi yang dihasilkan. Valproat sendiri juga dapat
menghambat metabolisme lamotrigin, fenitoin, dan karbamazepin. Obat yang
dapat menginduksi enzim dapat meningkatkan metabolisme valproat. Hampir 1/3
pasien mengalami efek samping obat walaupun hanya kurang dari 5% saja yang
menghentikan penggunaan obat terkait efek samping tersebut.
7. Benzodiazepin
a. Benzodiazepin
Digunakan dalam terapi kejang. Benzodiazepin merupakan agonis
GABAA, sehingga aktivasi reseptor benzodiazepin akan meningkatkan
frekuensi pembukaan reseptor GABAA. Dosis benzodiazepin untuk anak
usia 2-5 tahun 0,5 mg/kg, anak usia 6-11 tahun 0,3 mg/kg, anak usia 12
tahun atau lebih 0,2 mg/kg, dan dewasa 4-40 mg/hari. Efek samping yang
mungkin terjadi pada penggunaan benzodiazepin adalah cemas, kehilangan
kesadaran, pusing, depresi, mengantuk, kemerahan dikulit, konstipasi, dan
mual.
b. Diazepam
Indikasi: status

epileptikus,

konvulsi

akibat

keracunan,

Peringatan: penyakit pernapasan, kelemahan otot/miastenia gravis, riwayat


ketergantungan obat, kelainan kepribadian yang jelas, hamil, menyusui.
Hatihati

pada

pemberian

intravena.

Kontraindikasi

pada

depresi

pernapasan, insufisiensi pulmoner akut, status fobi/obsesi, psikosis kronik,


porfiria. Efek Samping yang dapat timbul mengantuk, pandangan kabur,
bingung, ataksia (terutama pada LANSIA), amnesia, ketergantungan.
Kadang nyeri kepala, vertigo, hipotensi, gangguan salivasi & saluran cerna,
ruam, perubahan libido, retensi urin. Dosis: injeksi intravena. 10-20 mg,
kecepatan 0,5 mL (2,5 mg) per 30 detik. Ulang bila perlu setelah 30-60
menit. Mungkin dilanjutkan dengan infus intravena sampai maksimal 3
mg/kg bb dalam 24 jam ANAK: 200-300 mcg/kg bb atau 1 mg/tahun umur.

REKTAL: DEWASA/ANAK lebih dari 3 th: 10 mg; ANAK 13 th dan


LANSIA: 5 mg ulang setelah 5 menit bila perlu.
8. Obat anti epilepsi lain
a. Gabapentin
Merupakan obat pilihan kedua untuk penanganan parsial epilepsi
walaupun kegunaan utamanya adalah untuk pengobatan nyeri neuropati.
Uji double-blind dengan kontrol plasebo pada penderita seizure parsial
yang sulit diobati menunjukkan bahwa penambahan gabapentin pada obat
antiseizure lain leibh unggul dari pada plasebo. Penurunan nilai median
seizure yang diinduksi oleh gabapentin sekitar 27% dibandingkan dengan
12% pada plasebo. Penelitian double-blind monoterapi gabapentin (900
atau 1800 mg/hari) mengungkapkan bahwa efikasi gabapentin mirip
dengan

efikasi

karbamazepin

(600

mg/hari).

Gabapentin

dapat

meningkatkan pelepasan GABA nonvesikel melalui mekanisme yang


belum diketahui. Gabapentin mengikat protein pada membran korteks
saluran Ca2+ tipe L. Namun gabapentin tidak mempengaruhi arus Ca 2+ pada
saluran Ca2+ tipe T, N, atau L. Gabapentin tidak selalu mengurangi
perangsangan potensial aksi berulang terus-menerus. Dosis gabapentin
untuk anak usia 3-4 tahun 40 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 5-12 tahun 2535 mg/kg 3 kali sehari, anak usia 12 tahun atau lebih dan dewasa 300 mg 3
kali sehari. Efek samping yang sering dilaporkan adalah pusing, kelelahan,
mengantuk, dan ketidakseimbangan tubuh. Perilaku yang agresif umumnya
terjadi pada anak-anak. Beberapa pasien yang menggunakan gabapentin
mengalami peningkatan berat badan.
b. Lamotrigin
Merupakan obat antiepilepsi generasi baru dengan spektrum luas
yang memiliki efikasi pada parsial dan epilepsi umum. Lamotrigin tidak
menginduksi atau menghambat metabolisme obat anti epilepsi lain.
Mekanisme aksi utama lamotrigin adalah blokade kanal Na, menghambat

aktivasi arus Ca2+ serta memblok pelepasan eksitasi neurotransmiter asam


amino seperti glutamat dan aspartat. Dosis lamotrigin 25-50 mg/hari.
Penggunaan lamotrigin umumnya dapat ditoleransi pada pasien anak,
dewasa, maupun pada pasien geriatri. Efek samping yang sering dilaporkan
adalah gangguan penglihatan (penglihatan berganda), sakit kepala, pusing,
dan goyah (tidak dapat berdiri tegak). Lamotrigin dapat menyebabkan
kemerahan

kulit

terutama

pada

penggunaan

awal

terapi

3-4

minggu. Stevens-Johnson syndrome juga dilaporkan setelah menggunakan


lamotrigin
c. Levetiracetam
Mudah larut dalam air dan merupakan derifatpyrrolidone ((S)ethyl-2-oxo-pyrrolidine acetamide). Levetirasetam digunakan dalam terapi
kejang parsial, kejang absens, kejang mioklonik, kejang tonik-klonik.
Mekanisme levetirasetam dalam mengobati epilepsi belum diketahui.
Namun pada suatu studi penelitian disimpulkan levetirasetam dapat
menghambat kanal Ca2+ tipe N

dan mengikat protein sinaptik yang

menyebabkan penurunan eksitatori (atau meningkatkan inhibitori). Proses


pengikatan levetiracetam dengan protein sinaptik belum diketahui. Dosis
levetirasetam 500-1000 mg 2 kali sehari. Efek samping yang umum terjadi
adalah sedasi, gangguan perilaku, dan efek pada SSP. Gangguan perilaku
seperti

agitasi,

dan

depresi

juga

dilaporkan

akibat

penggunaan

levetirasetam.
d. Topiramat
Digunakan tunggal atau tambahan pada terapi kejang parsial,
kejang mioklonik, dan kejang tonik-klonik. Topiramat mengobati kejang
dengan menghambat kanal sodium (Na+), meningkatkan aktivitas GABAA,
antagonis reseptor glutamat AMPA/kainate, dan menghambat karbonat
anhidrase yang lemah. Dosis topiramat 25-50 mg 2 kali sehari. Efek
samping utama yang mungkin terjadi adalah gangguan keseimbangan
tubuh,

sulit

berkonsentrasi,

sulit

mengingat,

pusing,

kelelahan, paresthesias (rasa tidak enak atau abnormal). Topiramat dapat


menyebabkan asidosis metabolik sehingga terjadi anorexia dan penurunan
berat badan.
e. Tiagabin
Digunakan untuk terapi kejang parsial pada dewasa dan anak 16
tahun. Tiagabin meningkatkan aktivitas GABA, antagonis neuron atau
menghambat reuptake GABA. Dosis tiagabin 4 mg 1-2 kali sehari. Efek
samping yang sering terjadi adalah pusing, asthenia (kekurangan atau
kehilangan energi), kecemasan, tremor, diare dan depresi. Penggunaan
tiagabin bersamaan dengan makanan dapat mengurangi efek samping SSP
f. Felbamat
Bukan merupakan pilihan pertama untuk terapi kejang, felbamat
hanya digunakan bila terapi sebelumnya tidak efektif dan pasien epilepsi
berat yang mempunyai resiko anemia aplastik. Mekanisme aksi felbamat
menghambat kerja NMDA dan meningkatkan respon GABA. Dosis
felbamat untuk anak usia lebih dari 14 tahun dan dewasa 1200 mg 3-4 kali
sehari. Efek samping yang sering dilaporkan terkait dengan penggunaan
felbamat adalah anorexia, mual, muntah, gangguan tidur, sakit kepala dan
penurunan berat badan.Anorexia dan penurunan berat badan umumnya
terjadi pada anak-anak dan pasien dengan konsumsi kalori yang rendah.
Resiko terjadinya anemia aplastik akan meningkat pada wanita yang
mempunyai riwayat penyakit cytopenia.
g. Zonisamid
Merupakan suatu turunan sulfonamid yang digunakan sebagai
terapi tambahan kejang parsial pada anak lebih dari 16 tahun dan dewasa.
Mekanisme aksi zonisamid adalah dengan menghambat kanal kalsium
(Ca2+) tipe T. Dosis zonisamid 100 mg 2 kali sehari. Efek samping yang
umum terjadi adalah mengantuk, pusing, anorexia, sakit kepala, mual, dan
agitasi. Di United Stated 26% pasien mengalami gejala batu ginjal

10

Tabel Pemilihan OAE berdasarkan jenis bangkitan epilepsy

11

OAE LAIN YANG


DAPAT
DIPERTIMBANG
KAN
Clonazepam
Phenobarbital
Phenytoin
acetazolamid

OAE YANG
SEBAIKNYA
DIHINDARI

OAE LINI
PERTAMA

OAE LINI
KEDUA

Sodium valproat
Lamotrigine
Topiramate
carbamazepine
Sodium valproat
Lamotrigine

Clobazam
Levetiracetam
oxcarbazepine
Clobazam
Topiramate

Carbamazepine
Oxcarbazepine

Bangkitan mioklonik

Sodium valproat
Lamotrigine

Carbamazepine
Gabapentin
Oxcarbazepine

Bangkitan tonik

Sodium valproat
Lamotrigine

Bangkitan atonik

Sodium valproat
Lamotrigine

Bangkitan fokal
dengan atau tanpa
umum sekunder

Carbamazepin
Oxcarbazepine
Sodium valproat
Topiramate
lamotrigine

Clobazam
Topiramate
Levetiracetam
Lamotrigine
piracetam
Clobazam
Levetiracetam
Topiramate
Clobazam
Levetiracetam
Topiramate
Clobazam
Gabapentin
Levetiracetam
Phenytoin
tiagabine

JENIS
Bangkitan umum
tonik klonik
Bangkitan lena

OBAT

carbamazepine
Phenytoin
Sodium valproat
Phenobarbital

Phenobarbital
Phenytoin

Carbamazepine
Oxcarbazepine

Phenobarbital
Asetazolamid

Carbamazepine
Oxacrabzepine
Phenytoin

Clonazepam
Phenobarbital
acetazolamide

DOSIS
AWAL
(mg/hari)

DOSIS
MAINTENANCE

FREKUENSI

WAKTU
PARUH
PLASMA
(jam)

400-600
200-300
500-1000
50-100

400-1600
200-400
500-2500
50-200

2-3x
1-2 x
2-3 x
1x

15-35
10-80
12-18
50-170

12

WAKTU
TERCAPAINYA
STEADY STATE
(hari)
2-7
3-15
2-4

Clonazepam
Clobazam
Oxcarbazepine
Levetiracetam
Topiramate
Gabapentin
Lamotrigine

1
10
600-900
1000-2000
100
Tabel
. Dosis
900-1800
50-100

4
10-30
600-3000
1000-3000
100-400
Obat 900-3600
Anti Epilepsi
20-200

1 atau 2 x
2-3 x
2-3x
2x
2x
untuk
2-3Dewasa
x
1-2 x

20-60
10-30
8-15
6-8
20-30
5-7
15-35

2-10
2-6
2
2-5
2
2-6

Tabel. Efek samping obat anti epilepsy


OBAT
Carbamazepine
Phenytoin
Sodium valproat
Phenobarbital
Clonazepam
Levetiracetam
Gabapentin
Lamotrigine
Clobazam
Oxcarbazepine
Topiramate

EFEK SAMPING
Diplopia, dizziness, nyeri kepala, mual, mengantuk, neutropenia,
hiponatremia, ruam morbliform, SJS, hepatotoksik, teratogenik
Nistagmus, ataksia, mual, muntah, hipertrofi gusi, depresi, mengantuk,
anemia megaloblastik, SJS, hepatotoksik, teratogenik.
Tremor, berat badan bertambah, dyspepsia, mual, muntah, kebotakan,
teratogenik
Kelelahan, depresi, insomnia, irritability
Kelelahan, sedasi, mengantuk, dizziness, agresi, hiperkinesia, ruam,
tombositopenia
Somnolen, asthenia, ataksia, penurunan ringan jumlah sel darah merah,
Hb dan Ht.
Somnolen, kelelahan, ataksia, dizziness, gangguan saluran cerna
Ruam, dizziness, tremor, ataksia, diplopia, nyeri kepala, gangguan
saluran cerna
Sedasi, dizziness, irritability, depresi, dysinhibition
Dizziness, diplopia, ataksia, nyeri kepala, kelemahan, ruam,
hiponatermia
Gangguan kognitif, tremor,dizziness, ataksia, nyeri kepala, kelelahan,
gangguan saluran cerna, batu ginjal

Tabel. Hubungan antara mekanisme epileptogenik dan mekanisme kerja OAE


MEKANISME TERJADINYA
EPILEPSY

13

MEKANISME KERJA OAE

GABA

Penurunan GABA di dalam microgyric


cortex
Penurunan ikatan reseptor benzodiasepin di
dalam nucleus talamus medial (epilepsi
lobus temporal mesial)
Penurunan kepadatan reseptor
benzodiazepin pada daerah CA1
(hippocampal sclerosis)
Penurunan level GABA dan aktivitas GAD
(epileptic foci)
Auto antibody GAD (stiff man syndrome)

Meningkatkan fungsi GABA pool (vigabatrin,


tiagabine)
Menambah inhibisi GABA-ergik (
benzodiazepine)
Efek agonis GABA (phenobarbital)
(lebih lemah) kemampuan GABA- ergic
(Phenobarbital, gabapentin, topiramate,
valproat zionizamid)

Glutamat

Upregulasi dari hipocampal inotropic


glutamate receptor (epilepsy lobus
temporal)
Anti gluR3 antibodies (Rasmussen
encephalitis)
peningkatan level glutamat plasma (absent
seizure)

inhibisi pelepasan glutamat (lamotrigine)


blokade glisine pada reseptor NMDA
(felbamate)

Na

mutaasi pada voltage gate Na channel


(epilepsy with febrile seizure)

menurunkan voltage gate Na seketika


(carbamazepine, felbamate, lamotrigine,
oxcarbazepine , phenitoin valproid acid,
topiramate, zonisamide)

mutasi pada Voltage- Gated K channel


(benign familial neonatal convultion)
penurunan Ach- mediated Ca flux

mengurangi T-type Ca secara cepat


(ethosuzimide, valproat)

Ca

Peningkatan exitabilitas membran

Menurunkan exitability membran

Penghentian pengobatan. Dilakukan secara bertahap. Jika penghentian pengobatan


tiba-tiba, pasien harus dalam pengawasan ketat karena dapat mencetuskan bangkitan atau
bahkan status epileptikus. Jika bangkitan timbul selama atau sesudah penghentian
spengobatan, OAE harus diberikan lagi sekurang-kurangnya 1-2 tahun. Syarat umum
untuk menghentikan pemberian OAE :

14

a. Penghentian OAE dapat didiskusikan denga pasien atau keluarganya setelah bebas
dari bangkitan selama minimal 2 tahun.
b. Gambaran EEG normal
c. Dilakukan secara bertahap, pada umumnya 25% dari dosis semula setiap bulan
dalam jangka waktu 3-6 bulan.
d. Penghentian dimulai dari satu OAE yang bukan utama.
Kekambuhan setelah penghentian OAE akan lebih besar kemungkinannya pada
keadaan sebagai berikut :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Usia tua
Epilepsy simptomatik
Gambaran EEG abnormal
Semakin lama adanya bangkitan sebelum dapat dikendalikan
Penggunaan OAE lebih dari Satu
masih mendapatkan satu atau lebih bangkitan setelah memulai terapi
Mendapat terapi 10 tahun atau lebih

Kemungkinan kambuh lebih kecil pada pasien yang telah bebas dari bangkitan selama
3-5 tahun atau lebih dari 5 tahun. Bila bangkitan timbul kembali maka gunakan dosis
efektif terakhir (sebelum pengurangan dosis OAE) kemudian dievaluasi kembali.

Sedangkan kegagalan terapi dapat terjadi akibat beberapa factor berikut :


1. Klasifikasi tidak tepat
2. Gagal menemukan etiologi
3. OAE tidak sesuai
4. Tidak menghindari faktor pencetus
5. Tidak teratur minum obat
6. Epilepsi sukar diatasi (intractable epilepsy) misalnya spasme infantil

15

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Kelompok studi epilepsy Perhimpunan dokter spesialis saraf Indonesia. Pedoman


tatalaksana epilepsy. Edisi ke-2. Jakarta: PERDOSSI;2007. Hal 1-31
2. Frida M. Pengaruh pemakaian obat antiepilepsi jangka panjang terhadap densitas
tulang dan kadar alkali fosfatase pada penderita epilepsi yang berobat di poliklinik
saraf Rs. Dr. M. Djamil padang. Padang. 2009.
3. Harsono. Epilepsi. Edisi ke-2. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 2007. Hal
78-205.
4. Ginsberg L. Epilepsi dalam Lecture notes neurologi. Jakarta: Erlangga;2007. Hal 7987.
5. Dewanto G, Suwono W, Turana Y dan Riyanto B. Panduan praktis diagnosis dan tata
laksana penyakit saraf. Jakarta: EGC ; 2009. Hal 73-101.
6. Sunaryo U. Diagnosis epilepsy. Probolinggo: Bagian Neurologi FK UWK Surabaya
RSUD DR.Moh.Saleh. 2006.

17

7. Mardjono M dan Sidharta P. Neurologi klinis dasar. Jakarta: Dian Rakyat; 2008. Hal
439-50.

18