Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masalah lingkungan hidup, bukan masalah yang baru, tetapi sudah ada sejak manusia
hidup di muka bumi. Keberadaan manusia di bumi merupakan faktor penyebab terjadinya
masalah lingkungan hidup. Pertumbuhan penduduk yang besar mengakibatkan meningkatnya
masalah terhadap lingkungan hidup. Diusulkan, salah satu upaya untuk mengatasi masalah
terhadap lingkungan hidup adalah dengan cara memberikan pengetahuan tentang lingkungan
hidup kepada siswa sejak pendidikan dasar.
Dalam khazanah ilmu pengetahuan, pengertian tentang lingkungan hidup disebut dengan
ekologi yang berarti ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup
dengan lingkungan.
Permasalahan lingkungan hidup mendapat perhatian yang besar dihampir semua negara di
dunia dalam dasawarsa 1970 an. Ini terjadi setelah diadakan Konperensi PBB tentang
Lingkungan Hidup di Stockholm pada tahun 1972. Terdapat kesan bahwa masalah
lingkungan hidup adalah suatu hal yang baru. Namun sebenarnya, permasalahan itu telah ada
sejak manusia ada di bumi. Oleh sebab itu faktor yang sangat penting dalam permasalahan
lingkungan hidup adalah besarnya populasi manusia. Pertumbuhan populasi manusia yang
cepat, menyebabkan kebutuhan akan pangan, bahan bakar, tempat pemukiman, dan lain
kebutuhan serta limbah domestik juga bertambah dengan cepat. Pertumbuhan populasi
manusia telah mengakibatkan perubahan yang besar dalam lingkungan hidup. Permasalahan
lingkungan hidup menjadi besar karena kemajuan teknologi. Akan tetapi yang harus diingat
bahwa teknologi bukan saja dapat merusak lingkungan, melainkan diperlukan juga untuk
mengatasi masalah lingkungan hidup. Contoh: Mesin mobil yang tidak menggunakan bahan
bakar fosil (bensin), tetapi menggunakan gas Ingat: Langit Biru.
Pertumbuhan populasi manusia menyebabkan timbulnya permasalahan lingkungan,
seperti: kerusakan hutan, pencemaran, erosi, dan lain-lain; karena manusia selalu berinteraksi
(inter-related) dengan makhluk hidup lainnya dan benda mati dalam lingkungan. Ini
dilakukan

manusia

untuk

dapat

memenuhi

kebutuhan

hidupnya,

dalam

upaya

mempertahankan jenis dan keturunannya. Pemenuhan kebutuhan manusia dapat terpenuhi


karena adanya pemanfaatan lingkungan yang berbentuk pengelolaan lingkungan hidup.
Melalui pengelolaan lingkungan hidup, terjadi hubungan timbal balik antara lingkungan
1

biofisik dengan lingkungan sosial. Ini berarti sudah berkaitan dengan konsep ekologi,
terutama tentang konsep hubungan timbal balik (inter-related) antara lingkungan biofisik
dengan lingkungan sosial. Dengan demikian apabila membicarakan lingkungan hidup, maka
konsep ekologi akan selalu terkait, sehingga permasalahan lingkungan hidup adalah
permasalahan ekologi.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Bagaimanakah ekologi itu?
1.2.2 Bagaimakah lingkungan hidup yang sebenarnya?
1.2.3 Bagaimanakah pengelolaan lingkungan hidup?
1.2.4 Bagaimankan hubungan antara ekologi dan lingkungan hidup?
1.3 TUJUAN
1.3.1 Untuk memahami tentang ekologi.
1.3.2 Untuk memahami lingkungan hidup yang ada di sekitar manusia.
1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami pengelolaan lingkungan hidup.
1.3.4 Untuk mengetahui dan memahami tentang hubungan antara ekolgi dan lingkungan
hidup.
1.4 MANFAAT
1.4.1 Bagi penulis, pemahaman tentang ekologi dan lingkungan hidup diharapkan dapat
meningkatkan kesadaran tentang kehidupan yang ada disekitar kita sehingga tercipta
1.4.2

sikap peduli terhadap konsept ekologi dan penerapannya dalam lingkungan hidup.
Bagi pembaca, diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberikan ilmu dan
pemahaman tentang bagaimana ekologi dan lingkungan hidup itu, sehingga dapat pula
memberikan kontribusinya terhadap peningkatan mutu lingkungan hidup, dan
mempertahankan serta melestrarikan lingkungan hidup untuk kehidupan masa kini,
dan bagi kehidupan penerus.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 EKOLOGI
2

2.1.1 Pengertian Ekologi


Inti permasalahan ekologi adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan
lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungan hidupnya disebut ekologi. Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst
Haeckel, seorang ahli biologi bangsa Jerman, dalam pertengahan dasawarsa 1860-an. Ekologi
berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan logos yang berarti ilmu/telaah.
Oleh karena itu ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup. Dengan
demikian ekologi biasanya diartinya sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Berdasarkan arti harfiah dari asal katanya ekologi dan ekonomi sama. Ekologi (Oikos dan
logos) sedang ekonomi (Oikos dan nomos) sehingga kedua ilmu itu banyak persamaannya.
Namun dalam ekologi, mata uang yang dipakai dalam transaksi bukan rupiah atau dolar,
melainkan materi, energi, dan informasi. Arus materi, energi, dan informasi dalam suatu
komunitas atau beberapa komunitas mendapat perhatian utama dalam ekologi, seperti uang
dalam ekonomi. Oleh karena itu transaksi dalam ekologi berbentuk materi, energi, dan
informasi.
Pengelolaan lingkungan bersifat antroposentris, yaitu melihat permasalahannya dari sudut
kepentingan manusia. Walalupun tumbuhan, hewan, dan unsur tak hidup diperhatikan, namun
perhatikan itu secara eksplisit atau implisit dihubungankan dengan kepentingan manusia.
2.1.2 Konsep Dasar Ekologi
Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa pengelolaan lingkungan hidup bersifat
Antroposentris, artinya perhatian utama dihubungkan dengan kepentingan manusia.
Kelangsungan hidup suatu jenis tumbuhan atau hewan, dikaitkan dengan peranan tumbuhan
atau hewan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, baik material (bahan makanan)
dan non-material (keindahan dan nilai ilmiah). Dengan demikian kelangsungan hidup
manusia dalam lingkungan hidup sangat ditentukan oleh tumbuhan, hewan, dan unsur tak
hidup.
Menurut Odum (1979) dalam bukunya Fundamentals of Ecology, lingkungan hidup
didasarkan beberapa konsep ekologi dasar, seperti konsep: biotik, abiotik, ekosistem,
produktivitas, biomasa, hukum thermodinamika I dan II, siklus biogeokimiawi dan konsep
faktor pembatas. Dalam komunitas ada konsep biodiversitas, pada populasi ada konsep

carrying capacity, pada spesies ada konsep distribusi dan interaksi serta konsep suksesi dan
klimaks.
1. Tingkatan Organisasi Makhluk Hidup.
Makhluk hidup (organisme) memiliki tingkat organisasi dari tingkat yang paling
sederhana sampai ke tingkat organisasi yang paling kompleks. Tingkatan organisasi tersebut
terlihat sebagai deretan biologi yang disebut spektrum biologi. Adapun spektrum biologi yang
dimaksud yaitu: protoplasma (zat hidup dalam sel); sel (satuan dasar suatu organisme);
jaringan (kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi sama); organ (alat tubuh, bagian
dari organisme), sistem organ (kerjasama antara struktur dan fungsional yang harmonis);
organisme (makhluk hidup, jasad hidup); populasi (kelompok organisme yang sejenis yang
hidup dan berbiak pada suatu daerah tertentu); komunitas (semua populasi dari berbagai jenis
yang menempati suatu daerah tertentu); ekosistem; dan biosfer (lapisan bumi tempat
ekosistem beroperasi).
2. Ekosistem.
Suatu konsep sentral dalam ekologi adalah ekosistem (sistem ekologi yang terbentuk oleh
hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya). Oleh karena itu
ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan
yang saling mempengaruhi.
Berdasarkan pengertian di atas, suatu sistem terdiri dari komponen-komponen yang
bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Keteraturan ekosistem menunjukkan, ekosistem
tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan itu tidaklah bersifat statis,
melainkan dinamis. Ia selalu berubah-ubah. Kadang-kadang perubahan itu besar, kadangkadang kecil. Perubahan itu dapat terjadi secara alamiah, maupun sebagai akibat perbuatan
manusia.
Manusia dapat membuat batas ekosistem yang kecil atau besar. Suatu akuarium misalnya,
dapatlah dianggap sebagai suatu ekosistem. Sebuah hutan yang luasnya beberapa puluh ribu
hektar merupakan juga suatu ekosistem. Demikian pula seluruh bumi ini dapat dianggap
sebagai ekosistem yang besar. Dalam hal akuarium, ekosistem itu terdiri atas ikan, tumbuhan
air, dan plankton yang terapung dan melayang air, mineral, dan oksigen yang terlarut dalam
air sebagai komponen tak hidup. Kita lihat adanya keteraturan dalam ekosistem akuarium itu.
Berdasarkan pernyataan diaatas maka ekosistem terbentuk oleh komponen hidup (biotik)
dan tak hidup (abiotik) yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan
4

itu terjadi karena adanya arus materi dan energi, yang terkendali oleh arus informasi antara
komponen dalam ekosistem. Masing-masing komponen mempunyai fungsi (relung). Selama
masing-masing komponen tetap melakukan fungsinya dan bekerjasama dengan baik,
keteraturan ekosistem tetap terjaga.
Apabila kita hanya melihat fungsinya, suatu ekosistem terdiri atas dua komponen:
a) Komponen autotrofik: organisme yang mampu menyediakan atau mensintesis
makanannya sendiri berupa bahan organik dan bahan-bahan anorganik dengan
bantuan energi matahari atau klorofil. Oleh karena itu, semua organisme yang
mengandung klorofil disebut organisme autotrofik.
b) Komponen heterotrofik: organisme yang mampu memanfaatkan bahanbahan organik
sebagai bahan makanannya. Bahan makanan itu disintesis dan disediakan oleh
organisme lain.
Apabila dilihat dari segi penyusunannya, maka dapat dibedakan menjadi empat
komponen yaitu:
a. Bahan tak hidup (abiotik, non hayati): komponen fisik dan kimia, misalnya: tanah, air,
matahari, dan lain-lain. Komponen ini merupakan medium (substrat) untuk
berlangsungnya kehidupan.
b. Produsen: organisme autotrofik (tumbuhan hijau).
c. Konsumen: organisme heterotrofik, misalnya: manusia, hewan yang makan organisme
lainnya.
d. Pengurai (perombak atau dekomposer): organisme heterotrofik yang mengurai bahan
organik yang berasal dari organisme mati.
3. Habitat dan Relung
Habitat dan relung, dua istilah tentang kehidupan organisme. Habitat adalah tempat hidup
suatu organisme. Habitat suatu organisme dapat juga disebut alamat. Relung (niche atau
nicia) adalah profesi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem
tertentu, sebagai akibat adaptasi struktural, tanggal fisiologis serta perilaku spesifik
organisme itu.
Semua makhluk mempunyai tempat hidup. Tempat hidup itu disebut habitat. Misalnya,
habitat ikan emas ialah perairan tawar dan habitat ikan hiu ialah perairan asin di laut. Habitat
dalam batas tertentu sesuai dengan persyaratan hidup itu disebut titik minimum dan batas atas
disebut titik maksimum. Antara dua ksiaran itu terdapat titik optimum. Ketiga titik itu, yaitu
minimum, maksimum dan optimum, disebut titik kardinal. Apabila sifat habitat berubah
5

sampai di laur titik minimum atau maksimum, makhluk itu akan mati atau harus pindah ke
tempat lain. Apabila perubahan lambat, misalnya terjadi selama beberapa genarasi, makhluk
itu umumnya dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru di laur batas semula.
4. Adaptasi
Mahkluk hidup dalam batas tertentu mempunyai kelenturan. Kelenturan ini
memungkinkan makhluk itu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Penyesuaian
diri itu secara umum disebut adaptasi. Kemampuan adaptasi mempunyai nilai untuk
kelangsungan hidup. Makin besar kemampuan adaptasi, makin besar kementakan
kelangsungan hidup suatu jenis. Dengan kemampuan adaptasi besar, suatu jenis dapat
menempati habitat yagn beraneka. Adaptasi dapat terjadi dengan beberapa cara. Adaptasi
dapat melalui proses fisiologi. Misalnya,orang yang hidup di daerah yang tercemar oleh
limbah domestik, dalam tumbuhnya berkembang kekebalan terhadap infeksi muntah berak.
Adaptasi morfologi, yaitu bentuk tubuh, dapat juga terjadi. Misalnya, orang Eskimo yang
hidup di daerah arktik yang dingin mempunyai bentuk tubuh yang pendek dan kekar. Bentuk
yang demikian mempunyai nisbah luas permukaan tubuh terhadap volume tubuh yang kecil.
5. Evolusi
Berkaitan erat dengan adaptasi ialah evolusi. Evolusi ialah perubahan sifat jenis secara
pelan-pelan. Perubahan itu bersifat terarah dan sifat yagn berubah itu dapat diturunkan.
Evolusi menghasilakn jenis baru. Evolusi sifatnya takterbalikkan. Menurut teori Darwin
mekanisme utama dalam evolusi ialah seleksi alamiah. Dalam ekosistem yang ada
manusianya, seleksi terjadi juga oleh tindakan manusia.
6. Materi
Tubuh kita, hewan, tumbuhan, batu dan lain sebagainya tersusun oleh materi. Materi itu
terdiri dari unsur kimia, seperti Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), dan
Fosfor. Jumlah unsur alamiah terdiri atas 89 unsur. Disamping itu, terdapat unsur yang
dibentuk dalam laboratorium, antara lain Californium (Cf), Einsteineum (Es), Fermium (Fm),
dan Lawrencium (Lw). Materi yang dibutuhkan untuk menyusun tubuh manusia, yang
didapatkan dari makanan yang dikonsumsi oleh manusia itu sendiri. Materi dalam makanan
itu dapat berbentuk karbohidrat, lemak, protein, dan lain-lain.
7. Energi
6

Energi diperlukan untuk melakukan kerja. Dengan kata lain, tanpa energi makhluk hidup
tidak dapat melakukan kerja. Berjalan kaki dan menimba air adalah contoh kerja.
Membangun dan memelihara rumah juga merupakan kerja. Energi tidak dapat kita lihat.
Yang terlihat ialah efek energi tersebut. Misalnya, kita menggunakan energi untuk mendorong
sebuah benda. Energi yang terpakai tidak nampak. Yang nampak ialah benda itu telah
berpindah tempat. Demikian pula bensin mengandung energi. Tetapi energinya itu sendiri
tidak nampak. Adanya energi dalam bensin itu dapat terlihat waktu bensi itu dibar dalam
mesin dan mesin itu menggerakkan kendaraan.
Dalam kehidupan ini, manusia menggunakan tiga jenis energi, yaitu energi yang berasal
dari matahari, panas bumi dan energi nuklir yang berasal dari reaksi nuklir dalam reaktor
atom. Hingga sekarang energi yang terbanyak digunakan ialah energi matahari, terutama
yang ditambat oleh tumbuhan hijau. Penambatan energi matahari itu terjadi dalam proses
fotosintesis.
8. Informasi
Informasi dapatlah diartikan sebagai suatu hal yang memberikan pengetahuan. Informasi
dapat berbentuk benda fisik, warna, suhu, kelakuan, dan lain sebagainya. Misalnya, warna
hijau dan bentuk tertentu memberikan informasi kepada kita tentang adanya tumbuhan. Raut
muka dan kelakuan orang memberikan informasi kepada kita apakah orang itu sedang
bersedih hati atau bergembira. Kandungan informasi suatu pesan dapat dihitung secara
matematis. Kandungan informasi itu menunjukkan banyaknya pengetahuan tambahan yang
dapat kita dapatkan dari pesan tersebut. Makin banyak pengetahuan tambahan yang dapat kita
dapatkan dari pesan itu, main tinggi kandungan informasinya, dan sebaliknya.
9. Hukum Thermodinamika.
Hukum thermodinamika adalah hukum alam tentang energi. Ada dua hukum
thermodinamika yaitu:
a) Hukum Thermodinamika I: energi dapat diubah dari suatu bentuk energi menjadi
bentuk energi lain, tetapi energi tidak pernah dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan. Contoh: energi matahari diubah menjadi energi panas atau energi
potensial dalam bentuk makanan. Jumlah energi dalam alam semesta adalah konstan.
Artinya jumlah energi tidak dapat bertambah atau berkurang.
b) Hukum Thermodinamika II: setiap terjadi perubahan bentuk energi, pasti terjadi
degradasi energi dari bentuk energi yang terpusat menjadi energi yang terpencar.
7

Contoh: benda panas pasti menyebarkan panas (energi) ke lingkungan sekitar yang
lebih rendah suhunya. Energi yang tidak seluruhnya dapat dipakai untuk melakukan
kerja. Contoh: 10 ton kalori untuk memutar mesin, hasil kerja mesin itu kurang dari
10 ton kalori. Bagian energi yang dapat dipakai untuk melakukan kerja disebut
entropi. Lawan dari entropi adalah negentropi (entropi negatif atau pengurangan
entropi). Contoh: fotosintesis mempunyai efek negentropi. Dengan kata lain, hukum
termodinamika II menyatakan energi yang ada itu tidak seluruhnya dapat dipakai
untuk melakukan kerja, sehingga waktu menggunakan energi untuk melakukan kerja,
tidak mungkin mencapai efisiensi 100%.
10. Siklus Biogeokimiawi
Biogeokimiawi merupakan proses biologi, geologi, dan kimia. Siklus biogeokimiawi
berkaitan dengan materi. Tubuh manusia, hewan, dan tumbuhan, dan lain-lain tersusun oleh
materi. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, materi terdiri dari unsur kimia,
seperti: karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen (N), dan fosfor (P). Materi yang
dibutuhkan untuk menyusun tubuh manusia didapat dari makanan. Bersamaan dengan materi,
dari makanan dapat juga diperoleh energi.
Di alam terjadi proses makan memakan. Tumbuhan hijau dimakan ulat. Ulat dimakan
burung prenjak dan burung prenjak dimakan ular. Proses makan memakan disebut rantai
makanan, karena terdiri atas banyak rantai. Rantai makanan itu bercabang-cabang merupakan
jaring-jaring, sehingga disebut jaring-jaring makanan. Materi mengalir dari mata rantai
makanan yang satu ke mata rantai yang lain. Apabila makhluk mati, tidak berarti aliran materi
terhenti, melainkan makhluk yang mati menjadi makanan makhluk lainnya. Materi tak habishabisnya, mengalir dari tubuh yang satu ke tubuh makhluk yang lain dan dari dunia hidup ke
dunia tak hidup serta kembali ke dunia hidup. Daur materi seperti itu disebut daur
biogeokimiawi.

11. Produktivitas.
Setiap ekosistem atau komunitas, atau bagian-bagian lain memiliki produktivitas dasar
atau disebut produktivitas primer. Pengertian produktivitas primer adalah kecepatan
penyimpanan energi potensial oleh organisme produsen melalui proses fotosintesis dan

kemosintesis (pemanfaatan hasil sintesis) dalam bentuk bahan-bahan organik dapat


digunakan sebagai bahan pangan.
Dalam konsep produktivitas, faktor satuan waktu sangat penting, karena sistem kehidupan
adalah proses yang berjalan secara sinambung. Selain waktu, faktor ruang merupakan faktor
penting yang menentukan produktivitas suatu ekosistem. Contoh: produktivitas hutan tropis
alam di Semenanjung Malaya lebih tinggi daripada hutan iklim sedang di Inggris. Di Malaya
hutan tumbuh sepanjang tahun tanpa waktu istirahat, sesuai dengan iklim tropis. Di Inggris,
hutan hanya pada musim semi dan musim panas (5 bulan).
12. Populasi dan Komunitas
Populasi yang hidup pada suatu habitat dalam lingkungan, dapat memenuhi kebutuhannya
karena lingkungan mempunyai kemampuan untuk mendukung kelangsungan hidupnya.
Kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan populasi disebut daya dukung
(carrying capacity). Daya dukung lingkungan tersebut merupakan sumber daya alam
lingkungan. Kemampuan lingkungan mempunyai batas, sehingga apabila keadaan lingkungan
berubah maka daya dukung lingkungan juga berubah. Hal ini karena daya dukung lingkungan
dipengaruhi oleh faktor pembatas, seperti: cuaca, iklim, pembakaran, banjir, gempa, dan
kegiatan manusia. Manusia mampu memodifikasi komunitas alami dan mengubah daya
dukungnya. Akibatnya nilai daya dukung naik dengan menambah komponen lingkungan
yang menjadi faktor pembatas. Contoh: pemupukan lahan pertanian.
2.1.3 Pembelajaran Ekologi
Makhluk hidup dari berbagai jenis yang hidup secara alami di suatu tempat membentuk
kumpulan yang di dalamnya setiap individu menemukan lingkungan yang dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya. Kelompok yang hidup secara bersama telah menyesuaikan diri dan
menghuni suatu tempat alami disebut komunitas. Karakteristik komunitas pada suatu
lingkungan adalah keanekaragaman. Makin beranekaragam komponen biotik (biodiversitas),
maka makin tinggi keanekaragaman. Sebaliknya makin kurang beranekaragaman maka
dikatakan keanekaragaman rendah. Contoh:

Keaneragaman rendah; terdapat pada komunitas dengan lingkungan ekstrim,


misalnya: gurun, tanah kering, tanah tandus, pegunungan tinggi.

Keaneragaman tinggi sering disebut diversity is stability. Daerah yang mempunyai


keanekaragaman tinggi adalah hutan tropika (di kawasan tropika jarang sekali terjadi
komunitas alami dirajai oleh hanya satu jenis).
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat diamati dan seringkali

perubahan itu berupa pergantian komunitas lain. Contoh: sebuah kebun jagung yang
ditinggalkan setelah panen dan tidak ditanami lagi. Di situ akan bermunculan berbagai jenis
gulma yang membentuk komunitas. Apabila lahan itu dibiarkan cukup lama, maka dalam
komunitas tersebut akan terjadi pergantian komposisi jenis yang mengisi lahan tersebut.
Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah secara teratur
disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam
komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem
yang disebut klimaks. Apabila suatu komunitas telah mencapai klimaks, maka berarti tercapai
homeostatis (keseimbangan).
Proses suksesi dapat dibedakan menjadi suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi
primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya
komunitas asal tersebut secara menyeluruh (total), sehingga di tempat komunitas asal itu
terbentuk habitat baru atau subtrat baru. Pada habitat baru ini tidak ada lagi organisme yang
membentuk komunitas asal yang tertinggal. Contoh: letusan G. Krakatau pada tahun 1883,
tanah longsor, endapan lumpur, dan lain-lain. Pada subtrat yang baru ini akan berkembang
suatu komunitas yang baru pula. Proses pergantian komunitas lama secara total dengan
komunitas baru disebut suksesi primer.
Suksesi sekunder terjadi jika suatu komunitas atau ekosistem alami terganggu, baik secara
alami maupun buatan (misalnya akibat kegiatan manusia). Gangguan yang terjadi tidak
merusak komunitas secara total, sehingga subtrat lama dan kehidupan masih ada. Subtrat
inilah yang menjadi tumbuhan pelopor untuk membentuk komunitas yang terganggu tersebut.
Proses pembentukan komunitas yang berasal dari subtrat asal disebut suksesi
sekunder.
2.1.4 Lingkup Ekologi
Ekologi merupakan cabang biologi, dan merupakan bagian dasar dari biologi. Ruang
lingkup ekologi meliputi populasi, komunitas, ekosistein, hingga biosfer. Studi-studi ekologi
dikelompokkan ke dalam autekologi dan sinekologi.

10

Ekologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan


ekologi tak lepas dari perkembangan ilmu yang lain. Misalnya, berkembangnya ilmu
komputer sangat membantu perkembangan ekologi. Penggunaan model-model matematika
dalam ekologi misalnya, tidak lepas dari perkembangan matematika dan ilmu kornputer.
Maraknya bencana lingkungan hidup selama ini tak dapat dipisahkan dari ketiadaan
strategi Pemerintah dalam pengelolaan pembangunan berkelanjutan. Fakta ini mengakibatkan
bencana lingkungan yang kian parah.
Tidak adanya upaya pemerintah untuk memecah kebuntuan akibat mandeknya penanganan
kasus-kasus lingkungan, seperti kasus pencemaran Teluk Buyat, Kasus Import Limbah B-3,
kasus PT FI di Papua, kasus pencemaran sumber air minum di hampir semua Sungai sumber
mata air di Jawa, kasus perusakan dan kebakaran hutan sampai pada kasus Sampah di
beberapa kota Metropolitan semakin nyata terbukti.
Fakta bencana lingkungan, terlihat dari besarnya peluang krisis energi, buruknya
pengelolaan tata ruang, terjadinya bencana alam, rusaknya hutan indonesia serta sekelumit
masalah peracunan lingkungan lainnya yang tidak pernah terselesaikan.
Krisis energi saat ini telah mengancam masyarakat yang lemah secara ekonomi, untuk
mendapatkan akses energi yang layak, hal ini terbukti dengan semakin mahalnya harga Bahan
Bakar Minyak (BBM) dan listrik akhir-akhir ini. Kebijaksanaan penggunaan Batubara yang
dicanangkan pemerintah pada akhir-akhir ini nyata juga tidak didasari oleh hasil kajian
kondisi sosial masyarakat dan ekologi, justru melahirkan kebingungan dan potensi
pencemaran dan perusakan lingkungan dimasa mendatang. Fakta lain, soal deforestasi hutan
yang tidak kunjung dapat teratasi, mengisyaratkan gagalnya penanganan pemerintah terhadap
aktivitas yang merusak hutan baik illegal logging maupun konversi hutan dan lahan.
Terbitnya kebijakan pro lingkungan selama ini nyatanya harus berbenturan dengan
kebijakan yang justru memfasilitasi proses ekploitasi lingkungan. Sebut saja, kebijakan
pemberantasan Illegal Logging ternyata dibenturkan dengan kebijaksanaan perijinan tambang
di hutan lindung, serta kebijaksanaan pengembangan wilayah perbatasan.
Salah satu permasalahan kebijaksanaan yang belum dikedepankan oleh pemerintah selama
ini adalah bahwa dalam penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan, Pemerintah tidak

11

memiliki dan menerapkan asas-asas umum kebijakan lingkungan (General Principles of


Environmental Policy) yang secara umum telah dipergunakan di negara-negara yang
memiliki komitmen tinggi dalam pelaksanaan pembangunan berkelanjutan.

2.2 LINGKUNGAN HIDUP


2.2.1 Pengertian Lingkungan Hidup
Manusia hidup di bumi ini tidaklah sendirian, melainkan bersama makhluk lain, yaitu
tumbuhan, hewan dan jasad renik. Makhluk hidup yang lain itu bukanlah sekedar kawan
hidup yang hidup bersama secara netral atau pasif terhadap manusia, melainkan hidup
manusia itu terkait erat pada mereka. Tanpa mereka manusia tidaklah dapat hidup.
Sebaliknya, seandainya tidak ada manusia, tumbuhan, hewan, dan jasad renik akan dapat
melangsungkan kehidupannya, seperti terlihat dari sejarah bumi sebelum ada manusia.
Manusia bersama tumbuhan, hewan dan jasad renik menempati suatu ruang tertentu.
Kecuali makhluk hidup, dalam ruang itu terdapat juga benda tak hidup. Ruang yang ditempati
suatu makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup hidup di dalamnya disebut
lingkungan hidup makhluk hidup. Secara khusus tidak hanya berbicara lingkungan hidup
manusia, tetapi dapat juga kita berbicara tentang lingkungan hidup. Untuk selanjutnya,
lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia kecuali apabila ada keterangan lain.
Sifat lingkungan hidup ditentukan oleh bermacam-macam faktor. Pertama, oleh jenis dan
jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup. Kedua, hubungan atau interaksi antara
unsur dalam lingkungan hidup itu. Ketiga, kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup.
Keempat, faktor non-materil suhu, cahaya dan kebisingan. Hubungan antara manusia dengan
lingkungan hidupnya adalah sirkuler. Kegiatannya, apakah sekedar bernafas ataupun
membendung sungai, sedikit atau banyak akan merubah lingkungannya. Perubahan pada
lingkungan itu pada gilirannya akan mempengaruhi manusia.
2.2.2

Mutu Lingkungan Hidup

Pengertian tentang mutu lingkungan hidup sangatlah penting, karena ia merupakan dasar
dan pedoman untuk mencapai tujuan pengelolaan lingkungan. Perbincangan tentang

12

lingkungan pada dasarnya adalah perbincangan tentang mutu lingkungan. Mutu lingkungan
hanyalah dikaitkan dengan masalah lingkungan, misalnya pencemaran, erosi, dan banjir.
Tidaklah mutlak untuk menentukan apa yang dimaksud dengan mutu lingkungan, oleh
karena persepsi orang terhadap mutu lingkungan berbeda-beda. Dengan singkat dapatlah
dikatakan mutu lingkungan yang baik membuat orang kerasan hidup dalam lingkungan
tersebut. Perasaan kerasan itu disebabkan karena orang mendapat rezeki yang cukup, iklim,
dan faktor alamiah lainnya yang sesuai dan masyarakat yang cocok pula. Perasaan kerasan
sangatlah subjektif. Akan tetapi, perasaan kerasan tidaklah sama dengan senang. Kerasan
menunjukkan ia ingin tinggal tetap di tempat tersebut. Selain itu, kerasan bukanlah karena
satu atau dua faktor saja yang terpenuhi dalam satu lingkungan, melainkan adanya integrasi
faktor-faktor secara optimum. Oleh karena itu, pengelolaan lingkungan bersifat holistik, yaitu
memandang keseluruhannya sebagai suatu kesatuan.
Berdasarkan uraian singkat di atas, maka mutu lingkungan hidup dapatlah diartikan
sebagai kondisi lingkungan dalam hubungannya dengan mutu hidup. Makin tinggi derajat
mutu hidup dalam suatu lingkungan tertentu, makin tinggi pula derajat mutu lingkungan
tersebut dan sebaliknya. Karena mutu hidup tergantung dari derajat pemenuhan kebutuhan
dasar, mutu lingkungan dapatlah diartikan sebagai derajat pemenuhan kebutuhan dasar dalam
kondisi lingkungan tersebut. Makin tinggi derajat pemenuhan kebutuhan dasar itu, makin
tinggi pula mutu lingkungan dan sebaliknya.
2.2.3

Lingkungan Hidup Sebagai Sumber Daya


Dengan mengaitkan mutu lingkungan dengan derajat pemenuhan kebutuhan dasar,

berarti lingkungan itu merupakan sumber daya. Dari lingkungan itu, manusia mendapatkan
unsur-unsur yang diperlukan untuk produksi dan konsumsi. Sebagian dari sumber daya nitu
dimiliki oleh perorangan dan badan tertentu, misalnya lahan dan sepetak hutan. Sebagian lgi
sumber daya itu merupakan milik umum, misalnya udara; sungai; pantai; laut dan ikat laut.
Air adalah faktor lain yang diperlukan untuk berproduksi. Misalnya pada pertanian,
peternakan, perikanan, bahkan pabrik juga memerlukan air pada proses produksinya. Selain
itu, udara dan air juga merupakan unsur lingkungan yang dikonsumsi.
Dipihak lain, sumber daya mempunyai daya regenerasi dan asimilasi yang terbatas,
selama eksplotasi atau permintaaan pelayanan ada di bawah batas daya regenarasu atau
asimilasi. Akan tetapi, apabila batas itu dilampaui, sumber daya itu akan mengalami
13

kerusakan dan fungsi sumber daya itu sebagai faktor produksi dan konsumsi atau saran
perlayanan akan mengalami gangguan. Oleh karena itu, untuk menghindari penggunaan yang
tidak rasional itu diperlukan campur tangan pemerintah dalam pengelolaan sumber daya itu.
Sebagaimana yang terdapat dalam UUD 1945, pasal 33, ayat 3 yang mewajibkan agar bumi,
air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan
untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
2.2.4

Kebutuhan Dasar

Kebutuhan dasar dapat dibagi secara hirarkis berturut-turut dari atas ke bawah dalam tiga
golongan, yaitu:
a) Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati.
Untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup secara hayati, manusia haruslah
mendapatkan air, udara dan pangan dalam kuantitas dan mutu tertentu. Kebutuhan dasar ini
bersifat mutlak. Kecuali ia harus terlindung dari serangan organisme berbahaya, yaitu hewan
buas, patogen, parasit, dan vektor penyakit. Juga harus dapat mempunyai keturunan untuk
menjaga kelangsungan hidup jenisnya.
b) Kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup manusiawi.
Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia tidak cukup sekedar hidup secara
hayati, melainkan karena kebudayaannya ia harus hidup secara manusiawi. Kebututuhan
dasar untuk hidup yang manusiawi sebagian bersifat materil dan sebagian lagi non-materil.
Oleh karena itu, perlindungan hukum adil merupakan kebutuhan dasar manusia dapat hidup
secara manusiawi. Kebutuhan dasar berikutnya adalah pendidikan, pakaian, rumah, dan
energi, serta lapangan pekerjaan.
c) Kebutuhan dasar untuk memilih
Kemampuan memilih merupakan sifat hakiki makhluk untuk dapat mempertahankan
kelangsungan hidupnya, baik pada tumbuhan, hewan, maupun manusia. Pada manusia
kemampuan memilih berkembang melampaui tujuan untuk mempertahankan kelangsungan
hidup hayatinya, yaitu juga merupakan ekspresi kebudayaan. Keanekaan yang besar
menunjukkan kesempatan untuk dapat memilih merupakan hal yang yang esensial dapam
kehidupan mansuia. Dengan kata lain, ia merupakan kebutuhan dasar, terutama untuk
kelangsungan hidupnya yang manusiawi.
14

Kesempatan memilih itu meliputi pula keputusan menetukan nasib sendiri, keluarganya,
dan masyarakatnya. Selain itu, kesempatan memilih dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara
lain Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang serta faktor sosial bdaya dan ekonomi.
2.2.5

Jenis-Jenis Lingkungan

Ada 3 jenis lingkungan (Darsono, 1995:17) yaitu :


1. Lingkungan fisik (physical environment), yaitu segala sesuatu yang ada disekitar kita
yang berwujud benda mati seperti gedung, jembatan, candi, dan lain-lain.
2. Lingkungan Biologi (biological environment), yaitu segala sesuatu yang berada
disekitar kita yang berujud benda hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan lainlain.
3. Lingkungan social (social environtment), yaitu manusia-manusia lain yang berada di
sekitar kita.
Menurut penjelasan UU nomor 4 tahun 1982 tentang pokok-pokok pengelolaan
lingkungan hidup, lingkungan hidup dibedakan menjadi 4 :
1. Lingkungan Alam Hayati
2. Lingkungan Alam Non Hayati
3. Lingkungan Buatan
4. Lingkungan Sosial
2.2.6

Manfaat dan Risiko Lingkungan

Faktor lingkungan sebagian membantu dan sebagian lagi merintangi kita untuk
mendapatkan kebutuhan dasar kita. Faktor yang membantu untuk mendapatkan kebutuhan
dasar itu merupakan manfaat lingkungan dan yang merintangi merupakan risiko lingkungan.
Gambar umum sebagian manfaat dan risiko lingkungan di Indonesia.
Sumber manfaat dan

Manfaat yang dapat di

risiko lingkungan
dapat
Iklim:
Baik untuk pertumbuhan
Suhu dan kelembaban
banyak
tumbuhan
dan
tinggi sepanjang tahun;
hewan sepanjang tahun;
curah hujan tinggi di
tidak perlu investasi besar
sebagian besar tempat;
untuk rumah dan pakaian
angin lemah; penyinaran
khusus; persediaan air cukup
matahari tinggi.
15

Risiko yang dihadapi


Pertumbuhan yang cepat
hama, vektor penyakit dan
patogen,

risiko

kejang

panas, banjir dan erosi,


pendangkalan

danau,

sungai, waduk dan saluran

Gunung berapi

disebagian besar tempat.


irigasi.
Penyuburan tanah; sumber Letusan yang merusak dan
daya energi, pemandangan kematian
yang

indah;

pembentukan
Gempa bumi

air

ternak

panas; manusia; banjir lahar hujan.

hujan

dan

penyimpanan air.
Sumberdaya energi?

Merusak dan menyebabkan


kematian

Flora dan fauna

dan

manusia.
Sumberdaya hayatii dan gen Banyak

ternak
hama,

dan
vektor

yang kaya; pemandangan penyakit dan patogen.


yang

mengasyikkan

menarik;
Penduduk

objek

dan
ilmu

pengetahuan yang akya.


Sumberdaya manusia.

Penyusutan

sumberdaya;

pencemaran oleh
Pembangunan

Antara

lain

domestik.
perbaikan Penyusutan

sanitiasi,berkurangnya
vektor

penyakit

limbah

sumberdaya;

pencernaan oleh

industri

dan dan transpor.

bertambah air pengairan.

2.2.4 Kelestarian Keseimbangan Lingkungan


Sering kita mendengar anjuran atau membaca agar kita jangan menggangu keseimbangan
lingkungan atau agar kita melestarikan keseimbangan lingkungan. Keseimbangan lingkungan
sering pula disebut keseimbangan ekologi. Juga dianjurkan agar melestarikan keserasian
lingkungan. Anjuran untuk melestarikan keseimbangan lingkungan harus pula dipertanyakan.
Dalam Bab I telah diuraikan lingkungan selalu berubah. Iklim berubah, permukaan laut
berubah, kepulauan berubah, flora dan fauna berubah. Kepulauan Indonesia dahulu sekali
terdiri atas dua blok daratan, yaitu di barat tanah Sunda yang merupakan bagian benua Asia
dan di Timur tanah Sahul yang bersastu dengan benua Australia. Pembangunan pada
hakekatnya adalah pengubahan lingkungan, yaitu mengurangi risiko lingkungan atau dan
memperbesar manfaat lingkungan. Sejak berabad tahun yang lalu nenek moyang kita telah
mengubah hutan menjadi daerah pemukiman dan pertanian.
16

2.3 PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


2.3.1 Daya Dukung Lingkungan dan Rantai Makanan
Lingkungan tidak dapat mendukung jumlah kehidupan yang tanpa batas. Kemampuan
lingkungan untuk mendukung kehidupan yang ada di dalamnya disebut daya dukung
lingkungan.
Dunia tidak akan mampu menyangga jumlah manusia yang tanpa batas. Apabila daya
dukung lingkungan itu terlampaui maka manusia akan mengalami berbagai kesulitan.
Ekosistem berfungsi karena adanya aliran energy dan materi. Saling pengaruh dan
mempengaruhi antara energy dan daur materi di dalam ekosistem akan menghasilkan
homeostatis yang mantap.
Dialam terjadi aliran eneri dalam bentuk rantai makanan, jarring makanan dan
produktifitas energy. Aliran energy itu berlangsung dari satu organism ke organism lain atau
dari satu tingkat makanan ke tingkat makanan yang lain yang membentuk rantai energy atau
rantai makanan.
Tumbuhan herbivora karnivora kecil karnivora yang lebih besar.dst.
Pada rantai makanan, organism dalam ekosistem dikumpulkan menjadi beberapa
kelompok, yang masing-masing mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber dari
sumber energy yang masuk ekosistem. Tumbuhan yang dapat membentuk bahan organic dari
mineral dan energy matahari dengan proses fotosintesa, merupakan komponen produsen
dalam ekosistem.
Organisme yang menggunakan bahan orgaik yang telah dibentuk oleh produsen
merupakan komponen konsumen dalam ekosistem.

2.3.2 Daya Dukung Lingkungan Berkelanjutan


Pembangunan mempunyai tujuan jangka panjang dalam arti kita tidak hanya membangun
untuk kita, generasi yang sekarang, melainkan juga untuk anak cucu kita, genarasi yang akan
datang. Dalam hubungan ini patutlah kiranya untuk kita renungkan konsep bahwa bumi pada
umumnya dan tanah air Indonesia pada khususnya, bukanlah milik kita, melainkan anak cucu
kita. Daya dukung berkelanjutan ditentukan oleh banyak faktor, baik faktor biofisik maupun
sosial-budaya-ekonomi. Kedua kelompok faktor ini saling mempengaruhi. Faktor biofisik
17

penting yang menentukan daya dukung berkelanjutan ialah proses ekologi yang merupakan
sistem pendukung kehidupan dan keanekaan jenis yang merupakan sumber daya gen.

2.3.3 Asas Pengelolaan Lingkungan


Beberapa asas umum kebijaksanaan pengelolaan lingkungan tersebut antara lain adalah:
1) Asas penanggulangan pada sumbernya (abattement at the source),
2) asas penerapan sarana praktis yang terbaik, atau sarana teknis yang terbaik,
3) prinsip pencemar membayar (polluter pays principle),
4) prinsip cegat tangkal (stand still principle) dan
5) prinsip perbedaan regional.
Artinya, kebijaksanaan pemerintah dalam penanganan permasalahan lingkungan saat ini
masih dipandang secara parsial dan tidak didasari hasil kajian yang komprehensif. Dua
masalah penting yang mengakibatkan bencana lingkungan terbesar adalah masalah dinamika
dan tekanan kependudukan, yang berimplikasi pada semakin beratnya tekanan atau beban
lingkungan. Kondisi ini diperparah dengan kebijaksanaan pembangunan yang bias kota yang
kemudian mengakibatkan terjadinya perusakan tata ruang, pencemaran lingkungan akibat
industri, penyempitan lahan pertanian serta koversi hutan yang tak terkendali.
Tekanan atau beban lingkungan yang cukup besar tersebut sangat berkaitan dengan
perencanaan tata ruang yang konsisten berbasis pada daya dukung lingkungan, pertumbuhan
industri yang tidak ramah lingkungan sehingga mengakibatkan pencemaran, kekumuhan
lingkungan yang diakibatkan oleh pemusatan jumlah penduduk melebihi daya dukung
lingkungan, dan tekanan terhadap hutan dari aktivitas illegal logging dan konversi lahan dan
hutan untuk pertambangan, perkebunan, dan industri.
Dalam rangka hari lingkungan hidup, 5 Juni 2006, Indonesian Center for Environmental
Law (ICEL) menuntut adanya perbaikan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam
dengan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mendasarkan pada penerapan asas-asas
umum kebijaksanaan lingkungan yakni (1) asas penanggulangan pada sumbernya
18

(abattement at the source) antara lain dengan mengembangkan kebijakan pengelolaan


sampah di tingkat rumah tangga dan tingkat sumber sampah lainnya, kebijakan sistem
pengawasan industri, kebijakan konservasi dan penyeimbangan supply demand dalam
pengelolaan hutan, mencabut kebijakan perijinan tambang dikawasan hutan, mencabut
kebijaksanaan alih fungsi hutan untuk perkebunan di kawasan perbatasan

serta

kebijaksanaan pengembangan industri berbasis pertanian ekologis 2) asas penerapan sarana


praktis yang terbaik, atau sarana teknis yang terbaik, antara lain melalui pengembangan
kebijaksanaan industri bersih, kebijaksanan insentif bagi pengadaan alat pengelolah limbah,
kebijaksanaan pengelolaan lingkungan industri kecil (3)prinsip pencemar membayar
(polluter pays principle) melalui pengembangan kebijaksanaan pemberian insen tif pajak
pemasukan alat pengelolah limbah bagi industri yang taat lingkungan,insentif lain bagi
pengembangan industri yang melakukan daur ulang (reused, recycling) (4) prinsip cegat
tangkal (stand still principle) dengan melakukan pengembangan sistem pengawasan import
B-3, kebijaksanaan pengelolaan hutan dan DAS berbasis masyarakat dan (5) prinsip
perbedaan regional dengan mengembangkan kebijaksanaan insentif berupa subsidi dari
wilayah pemanfaat (hilir) kepada wilayah pengelolah (hulu), secara konsisten, partisipatif dan
berbasis pada keadilan lingkungan (eco justice).
2.3.4 Lingkungan Hidup Indonesia
Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang
masing-masing sebagai ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang masing-masing sebagi
subsistem yang meliputi aspek social budaya, ekonomi dan fisik dengan corak ragam yang
berbeda antara subsistem yang satu dengan subsiostem yang lain dan dengan daya dukung
yang berbeda. Sumber daya alam dan budaya merupakan modal dasar pembangunan menurut
GBHN bangsa Indonesia menghendaki hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan,
dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Dengan demikian perlu adanya
usaha agar hubungan manusia Indonesia dengan lingkungan semakin serasi. Sebagai modal
dasar, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu harus
diupayakan agar kerusakan lingkungan sekecil mungkin.
Pentingnya persolan lingkungan hidup untuk segera ditangani secara khusus ditandai
dengan adanya komitmen pemerintah yaitu dengan dibentuknya lembaga kependudukan dan
lingkungan hidup. Mengingat bahwa bangsa Indonesia dewasa ini sedang melaksanakan
pembangunan disegala bidang, maka yang harus menjadi perhatian adalah bahwa
pembangunan itu tidak boleh mengorbankan lngkungan.

19

2.4 EKOLOGI LINGKUNGAN HIDUP


2.4.1 PEMANFAATAN ENERGI
Menurut Otto Soemarwoto, kita harus terus-menerus melakukan kerja, Tubuh harus kita
pelihara. Kita harus berjalan, mencangkul, mengangkut barang, memasak makanan kita
menggerakkan mesin kita, Karena itu kita harus mendapatkan energi dengan terus menerus
dalam jumlah yang mencukupi. Manakala catu energy terganggu dan tidak dan tidak
mencukupi akan menderitalah kita. Dalam jangka panjangnya kekurangan energy itu akan
mengancam kelangsungan hidup kita. Ena kelangsungan hidup itu tertopang pada energy Kita
selalu berusaha untuk menfapatkan energy dengan cukup. Setiap sistem berusaha untuk
memaksimumkan arus energy ke dalam sistemnya sendiri. Untuk keperluan ini sebagian
energy yang akan dipergunakan untuk mengembangkan kemamapuan untuk mengusasi
inforemasi. Dalam dunia modern informasi itu berbentuk ilmu pengetahuaan. Informasi ini
akan bekerja sebagai umpan balik untuk memperbesar arus energy ke sistemnya. semakin
besar kemamapuan suatu system untuk menguasai informasi makin kuat sumpan balik itu dan
makin besar arus energy ke sistemnya. bersamaan dengan itu arus materipun akan makin
besar.
Di dunia barat untuk menguasai informasi yaitu ilmu dan teknologi Untuk memperbesar
arus energi ke dalam sistemnya telah dimulai lebih dari 2000 tahaun yang lalu. Kincir air
pertama mungkin telah dibuat di Jerman pada akhir abad ke 2 sebelum masehi. Kapasitasnya
kira-kira 0,5 tenaga kuda (HP: Horse power) Pada akhir abad ke 1 sebelum masehi para
insinyur Romawi telah mampu membuat kincir dengan kapasitas 3 HP. Kemudian mereka
mampu untuk membuat sebuah pabrik dengan kincir angin untuk memproduksi tepung
gandum untuk 80.ooo penduduk jumlahkincir air bertambah terus di Eropa Misalnya di
sungai Robec, sebuah anak sungai Siene di Prancis, dalam abad ke 10 terdapat 2 buah kincir
air 4 buah dalam abad ke 11 dan 10 buah pada ke 13. Di salah satu bagian Inggris yang
berpenenduduki kira kira 1.400.000 orang dalam akhir ke 111 tercatat 5.624 kincir air kirakira sebuah kincir air per 50 kepala keluarga.
Energi air tidak saja didapatkan dari arus sungai tetap juga dari arus air pasang laut, Kincir
air pasang laut telah dibuat di Prancis dalam abad ke 12. Dalam abad ke 12 kincir air telah
dibangun di Eropa dalam abad ke13 di Ypres telah terdapat 120 kincir angin Perkembangan
pemanafaatan energy di eropa yang telah dinilali sangat awal menimbulkan pertanyaan
20

mengapa di Indonesia tidak terjadi perkembangan serupa. Di Indonesia tinggi dan


topografinya bergunung, sehingga potensi energy sangat besar, tetapi yang berkembang
hanyalah kincir air kecil-kecilan saja. Jumlahnya pun sangat sedikit. Tampaknya kita lebih
berminat untuk menikmati hasil teknologi dan kurang menguasai teknologinya itu sendiri.
Hal ini nampak dari gejala kita sangat cepat menggunakan hasil teknologi modern misalnya
kaset video, televise, computer, tetapi sang lamban untuk menguasai teknologinya
pembuatannya. Paling-paling kita merakitnya Bahakan untuk barang barang yang tidak
memerlukan teknologi tinggi dan digunakan untuk kebanyakan orang misalnya sepeda dan
kompor minyak tanah yang bermutu tinggi, teknologinya tidak kita kuasai. Kompor minyak
tanah kita impor dari Jepang.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Hubungan timbal balik antara manusia dengan makhluk hidup lainnya dan unsur tak
hidup, telah menyebabkan manusia dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun aktivitas
21

yang dilakukan manusia dalam lingkungan hidup, telah menyebabkan timbulnya kerusakan
lingkungan atau permasalahan lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan hidup pada hakikatnya merupakan permasalahan ekologi. Hal ini
karena ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk
hidup dengan lingkungan. Unsur penting yang harus diperhatikan dalam lingkungan adalah
materi, energi, dan informasi. Ketiga unsur itu dapat ikut mempengaruhi keanekaragaman
dalam komunitas dan dapat menjadi faktor pembatas dalam populasi. Apabila ketiga unsur itu
terganggu (berubah) maka lingkungan juga akan berubah, berarti siklus biogeokimiapun
berubah.
Berdasarkan uraian di atas, walaupun pengelolaan lingkungan bersifat antroposentris,
tetapi dalam pengelolaan lingkungan tetap harus memperhatikan komponen-komponen
lingkungan hidup. Berbagai komponen itu dipelajari sebagai konsep-konsep dasar ekologi.
Dengan demikian ekologi merupakan salah satu komponen dalam sistem pengelolaan
lingkungan hidup yang harus ditinjau bersama komponen lainnya.

3.2 SARAN
Setelah kita mengetahui dampak lingkungan yang ternyata sangat berbahaya bagi
lingkungan dan kesehatan orang-orang yang berada di daerah yang tercemar, maka di
harapkan kita semua dapat mampu menjaga kelangsungan hidup ekosistem dengan tidak
merusak lingkungan yang berada di sekitar kita. Manfaatkanlah lingkungan se-efisien
mungkin agar kelestarian alam tetap terjaga.

22