Anda di halaman 1dari 17

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tromboflebitis adalah peradangan dan pembekuan dalam pembuluh
darah. Tromboflebitis berarti bahwa gumpalan darah telah terbentuk dalam vena
dekat dengan kulit. Mungkin juga ada infeksi pada pembuluh darah.
Tromboflebitis biasanya terdapat di vena kaki atau lengan. Tromboflebitis paling
sering mempengaruhi vena superfisial di kaki, tetapi dapat juga mempengaruhi
vena superfisial di paha. Sering kali, tromboflebitis terjadi pada orang dengan
varises, namun kebanyakan orang dengan varises tidak mengembangkan
tromboflebitis, (Afrian, 2011).
Tromboflebitis melibatkan reaksi inflamasi akut yang menyebabkan
trombus untuk tetap pada dinding pembuluh darah dan mengurangi kemungkinan
thrombus hilang. Tidak seperti dalam vena, vena superfisial tidak memiliki otototot sekitarnya untuk menekan dan mengusir trombus. Karena ini, tromboflebitis
superfisialis jarang menyebabkan emboli. Tromboflebitis yang berulang kali
terjadi di vena yang normal disebut bermigrasi radang pembuluh darah atau
migrasi tromboflebitis. Ini mungkin menunjukkan kelainan yang mendasari serius,
seperti kanker dari organ internal, (Afrian, 2011).
Tromboflebitis adalah invasi/perluasan mikroorganisme patogen yang
mengikuti aliran darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya. Tromboflebitis
didahului dengan trombosis, dapat terjadi pada kehamilan tetapi lebih sering
ditemukan pada masa nifas. Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau
masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa
ini membutuhkan waktu sekitar 6 minggu. Dari definisi lain menyebutkan, Masa
nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kirakira 6 minggu (Wiknjosastro, 2005).

Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat


genitalia dalam masa nifas. Salah satu infeksi pada masa nifas adalah
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai
pembentukan pembekuan darah. Tromboflebitis cenderung terjadi pada periode
pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat
peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah disebabkan oleh
tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan, dan aktifitas pada periode
tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah pada
ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).

BAB 2. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Tromboflebitis


Trombophlebitis adalah Kelainan pada masa nifas yaitu masa setelah
melahirkan dimana terjadi sumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh
adanya darah yang membeku (Prawirrohardjo, 2009).
Tromboflebitis adalah invasi/perluasan mikroorganisme patogen yang
mengikuti aliran darah disepanjang vena dan cabang-cabangnya. Tromboflebitis
didahului dengan trombosis, dapat terjadi pada kehamilan tetapi lebih sering
ditemukan pada masa nifas.
Tromboflebitis merupakan inflamasi permukaan pembuluh darah disertai
pembentukan pembekuan darah. Tomboflebitis cenderung terjadi pada periode
pasca partum pada saat kemampuan penggumpalan darah meningkat akibat
peningkatan fibrinogen, dilatasi vena ekstremitas bagian bawah yang disebabkan
oleh tekanan kepala janin kerena kehamilan dan persalinan dan aktifitas pada
periode tersebut yang menyebabkan penimbunan, statis dan membekukan darah
pada ekstremitas bagian bawah (Adele Pillitteri, 2007).
Menurut DepKes RI (1990), tromboflebitis adalah suatu peradangan pada
vena. Istilah trombosis vena lebih sering diartikan sebagai suatu keadaan
penggumpalan darah yang terbentuk di dalam pembuluh darah, sedangkan
tromboflebitis diartikan sebagai inflamasi yang menyertai terhadap adanya suatu
penjendalan. Plebotrombosis adalah trombus yang merupakan faktor yang
mempermudah terjadinya inflamasi.
Tromboflebitis adalah peradangan dinding vena dan biasanya disertai
pembentukan bekuan darah (thrombus). Ketika pertama kali terjadi bekuan pada
vena akibat statis atau hiperkoagulabilitas, tanpa disertai peradangan maka proses
ini dinamakan flebotrombosis, (Smeltzer, 2002).

Jadi dapat disimpulkan bahwa tromboflebitis adalah peradangan pada


pembuluh darah vena yang disertai dengan pembentukan bekuan darah
(thrombus) yang dapat terjadi pada wanita hamil namun lebih sering terjadi pada
masa nifas.
2.2 Epidemiologi
Kejadian tromboflebitis selama kehamilan kejadiannya relatif rendah, risiko
terjadinya tromboflebitis vena kaki atau pelvis meningkat setelah kehamilan atau
operasi.
Insiden tromboflebitis superfisial sekitar 1 dalam 600 pasien-pasien
antepartum dan 1 dalam 95 bagi pasien-pasien postpartum. Insiden tromboflebitis
profunda berkisar 1 dalam 1900 pasien antepartum dan 1 dalam 700 pasien
postpartum. Faktor-faktor yang mempermudah trombosis vena (tromboflebitis)
antar lain stasis (perlambatan aliran darah),luka pada dinding pembuluh darah
(iritasi lokal dan infeksi),dan perubahan fisika atau kimia pada konstituen darah.
2.3 Klasifikasi
Menurut Saifuddin (2002) tromboflebitis diklasifikasikan menjadi 2 yaitu:
2.3.1

Pelvio Tromboflebitis
Pelvio tromboflebitis yang paling sering meradang mengenai vena-vena

didinding uterus dan ligamentum latu yaitu vena ovarika, karena mengalirkan
darah dan luka bekas plasenta didaerah fundus uteri. Penjalaran tromboflebitis
pada vena ovarika kiri ialah kevena renalis dan dari vena ovarika kanan kevena
kava inferior. Biasanya terjadi sekitar hari ke-14 atau ke-15 pasca partum.
Trombosis yang terjadi setelah peradangan bermaksud untuk menghalangi
penjalaran mikroorganisme. Dengan proses ini, infeksi dapat sembuh tetapi jika
daya tahan tubuh kurang, trombus dapat menjadi nanah. Bagian-bagian kecil
trombus terlepas dan terjadilah emboli atau sepsis dan karena embolus ini
mengandung nanah disebut juga pyaemia. Embolus ini biasanya tersangkut pada
paru, ginjal dan katup jantung. Pada paru dapat menimbulkan infark.
2.3.2 Tromboflebitis femoralis

Tromboflebitis femoralis yaitu suatu tromboflebitis yang mengenai vena


safena magna atau vena femoralis. Hal ini disebabkan oleh adanya trombosis atau
embosis yang disebabkan karena adanya perubahan atau kerusakan pada intima
pembuluh darah, perubahan pada susunan darah, laju peredaran darah, atau karena
pengaruh infeksi atau venaseksi. Tromboflebitis femoralis mengenai vena-vena
pada tungkai, misalnya vena vemarolis, vena poplitea dan vena safena. Sering
terjadi sekitar hari ke-10 pasca partum. Hal ini terjadi karena aliran darah lambat
didaerah lipatan paha karena vena tersebut tertekan oleh liginguinale juga karena
dalam masa nifas kadar fibrinogen meninggi
2.4 Etiologi
Menurut Adele Pillitteri (2007), etiologi tromboflebitis adalah:
1. Perluasan infeksi endometrium
Invasi/perluasan mikroorganisme patogen yang mengikuti aliran darah
disepanjang vena dan cabang-cabangnya, sehingga dapat menyebabkan
perluasan mikroorganisme ke endometrium dan menyebabkan infeksi pada
endometrium.
2. Mempunyai varises pada vena
Pada vena yang sebelumnya terdapat venaektasia atau varises, maka
terdapatnya turbulensi darah pada kantong-kantong vena di sekitar klep
(katup) vena merangsang terjadinya thrombosis primer tanpa disertai
reaksi radang primer, yang kemudian karena faktor lokal, daerah yang ada
trombusnya tersebut mendapat radang. Menipisnya dinding vena karena
adanya varises sebelumnya, mempercepat proses keradangan. Dalam
keadaan ini, maka dua factor utama : kelainan dinding vena dan
melambatnya aliran darah, menjadi sebab penting dari terjadinya
tromboplebitis.
3. Obesitas
Pada penderita obesitas ini berkaitan dengan aliran darah yang lambat
serta kemungkinan terjadi varises pada penderita obesitas yang menjadi
salah satu penyebab dari tromboflebitis,sehinga pada obesitas pula
kemungkinan terjadi tromboflebitis.
4. Pernah mengalami tromboflebitis

Seseorang dengan riwayat tromboflebitis merupakan faktor yang


mengakibatkan

terulangnya

kembali

kejadian

tromboflebitis,karena

perlukaan yang ditimbulkan dari tromboflebitis itu sendiri.


5. Berusia 30 tahun lebih dan pada saat persalinan berada pada posisi
litotomi untuk waktu yang lama. Pada proses persalinan tekanan pada arah
bawah lebih tinggi sehingga mengakibatkan terjadinya tromboflebitis
6. Trauma
Beberapa sebab khusus karena rangsangan langsung pada vena dapat
menimbulkan keadaan ini. Umumnya pemberian infus (di lengan atau di
tungkai) dalam jangka waktu lebih dari 2 hari pada tempat yang sama atau
pemberian obat yang iritan secara intra vena.
7. Adanya malignitas (karsinoma) yang terjadi pada salah satu segmen vena.
Tumor-tumor intra abdominal, umumnya yang memberikan hambatan
aliran vena dari ekstremitas bawah, hingga terjadi rangsangan pada
segmen vena tungkai.
8. Memiliki insidens tinggi untuk mengalami tromboflebitis dalam keluarga.
Kelainan jantung yang secara hemodinamik menyebabkan kelainan pula
pada system aliran vena
2.5 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala secara umum menurut Afrian (2011) yaitu:
Penderita-penderita umumnya mengeluh spontan terjadinya nyeri di
daerah vena (nyeri yang terlokalisasi), yang nyeri tekan, kulit di sekitarnya
kemerahan (timbul dengan cepat diatas vena) dan terasa hangat sampai panas.
Juga dinyatakan adanya oedema atau pembengkakan agak luas, nyeri terjadi bila
menggerakkan lengan, juga pada gerakan-gerakan otot tertentu. Pada perabaan,
selain nyeri tekan, diraba pula pengerasan dari jalur vena tersebut, pada tempattempat dimana terdapat katup vena, kadang-kadang diraba fluktuasi, sebagai tanda
adanya hambatan aliran vena dan menggembungnya vena di daerah katup.
Fluktuasi ini dapat pula terjadi karena pembentukan abses. Febris dapat terjadi
pada penderita-penderita ini, tetapi biasanya pada orang dewasa hanya dirasakan
sebagai malaise.
Secara Khusus:
2.5.1

Pelvio Tromboflebitis

1. Nyeri yang terdapat pada perut bagian bawah dan atau perut bagian
samping, timbul pada hari ke-2-3 masa nifas.
2. Penderita tampak sakit berat dengan gambaran karakteristik sebagai
berikut:
a. Mengigil berulang kali, menggigil inisial terjadi sangat berat (3040 menit) dengan interval hanya beberapa jam saja dan kadangkadang 3 hari pada waktu menggigil penderita hampir tidak panas.
b. Suhu badan naik turun secara tajam (360C menjadi 400C) yang
diikuti penurunan suhu dalam 1 jam (biasanya subfebris seperti
pada endometritis.
c. Penyakit dapat langsung selama 1-3 bulan
d. Cenderung terbentuk pus, yang menjalar kemana-mana, terutama
ke paru-paru
3. Gambaran darah
a. Terdapat leukositosis (meskipun setelah endotoksin menyebar ke
sirkulasi, dapat segera terjadi leukopenia)
b. Untuk membuat kultur darah, darah diambil pada saat tepat
sebelum mulainya menggigil, kultur darah sangat sukar dibuat
2.5.2

karena bakterinya adalah anaerob.


Tromboflebitis femoralis
1. Keadaan umum tetap baik, suhu badan subfebris selama 7-10 hari,
kemudian suhu mendadak naik kira-kira pada hari ke-10-20 yang
disertai dengan menggigil dan nyeri sekali.
2. Pada salah satu kaki yang terkena, memberikan tanda-tanda sebagai
berikut:
a. Kaki sedikit dalam keadaan fleksi dan rotasi keluar serta sukar
bergerak, lebih panas dibandingkan dengan kaki lainnya.
b. Seluruh bagian dari salah satu vena pada kaki terasa tegang dan
keras pada paha bagian atas
c. Nyeri hebat pada lipat paha dan daerah paha
d. Reflektorik akan terjadi spasmus arteria sehingga kaki menjadi
bengkak, tegang, putih, nyeri, dan dingin dan pulsasi menurun.
e. Edema kadang-kadang terjadi sebelum atau sesudah nyeri dan
pada umumnya terdapat pada paha bagian atas, teatapi lebih
sering dimulai dari jari-jari kaki dan pergelangan kaki kemudian
meluas dari bawah ke atas.
f. Nyeri pada betis, yang terjadi spontan atau dengan memijat betis.

2.6 Patofisiologi
Pada tromboflebitis terjadi pembentukan trombus yang merupakan akibat
dari stasis vena sehingga mmenyebabkan gangguan koagulabilitas darah atau
kerusakan pembuluh maupun endotelial. Stasis vena sering dialami oleh orangorang imobil maupun yang istirahat di tempat tidur dengan gerakan otot yang
tidak memadai untuk mendorong aliran darah. Statis vena juga mudah terjadi pada
orang yang berdiri terlalu lama, duduk dengan lutut dan paha ditekuk, berpakaian
ketat, obesitas, tumor maupun wanita hamil. Stasis aliran darah vena terjadi ketika
aliran darah melambat misalnya pada istirahat lama (imobilisasi) seperti yang
telah disebutkan sebelumnya

sehingga dapat berpengaruh pada pompa vena

perifer, meningkatkan stagnasi dan penggumpalan darah pada ekstremitas


sehingga ektremitas mengalami edema.Hiperkoagulabilitas darah yang menyertai
trauma, kelahiran dan myocardial infret juga mempermudah terjadinya
pembentukan trombus.
Pembentukan trombus dimulai dengan melekatnya trombosit-trombosit
pada permukaan endotel pembuluh darah. Darah yang mengalir menyebabkan
makin banyak trombosit tertimbun. Oleh karena sifat trombosit ini, trombosis
dapat saling melekat sehingga terbentuk massa yang menonjol ke dalam lumen.
Faktor yang sangat berperan terhadap timbulnya suatu trombosis vena
adalah statis aliran darah dan hiperkoagulasi.
1. Statis Vena
Aliran darah pada vena cendrung lambat, bahkan dapat terjadi statis terutama
pada daerah-daerah yang mengalami immobilisasi dalam waktu yang cukup lama.
Statis vena merupakan predis posisi untuk terjadinya trombosis lokal karena dapat
menimbulkan gangguan mekanisme pembersih terhadap aktifitas faktor
pembekuan darah sehingga memudahkan terbentuknya trombin.
2. Kerusakan pembuluh darah
Kerusakan pembuluh darah dapat berperan pada pembentukan trombosis
vena, melalui :
a. Trauma langsung yang mengakibatkan faktor pembekuan.

b. Aktifitasi sel endotel oleh cytokines yang dilepaskan sebagai akibat


kerusakan jaringan dan proses peradangan.
Permukaan vena yang menghadap ke lumen dilapisi oleh sel endotel.
Endotel yang utuh bersifat non-trombo genetik karena sel endotel menghasilkan
beberapa substansi seperti prostaglandin, proteoglikan, aktifator plasminogen dan
trombo-modulin, yang dapat mencegah terbentuknya trombin. Apabila endotel
mengalami kerusakan, maka jaringan sub endotel akan terpapar. Keadaan ini akan
menyebabkan sistem pembekuan darah di aktifkan dan trombosir akan melekat
pada jaringan sub endotel terutama serat kolagen, membran basalis dan mikrofibril. Trombosit yang melekat ini akan melepaskan adenosin difosfat dan
tromboksan yang akan merangsang trombosit lain yang masih beredar untuk
berubah bentuk dan saling melekat. Kerusakan sel endotel sendiri juga akan
mengaktifkan sistem pembekuan darah.
3. Perubahan daya beku darah
Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan dalam sistem pembekuan
darah dan sistem fibrinolisis. Kecendrungan terjadinya trombosis, apabila aktifitas
pembekuan darah meningkat atau aktifitas fibrinolisis menurun.
Trombosis vena banyak terjadi pada kasus-kasus dengan aktifitas pembekuan
darah meningkat, seperti pada hiper koagulasi, defisiensi Anti trombin III,
defisiensi protein C, defisiensi protein S dan kelainan plasminogen.
2.7 Komplikasi dan Prognosi
2.7.1 Komplikasi
Menurut fatmawati (2013) komplikasi yang dapat terjadi adalah
sebagai berikut:
a. Tromboflebitis pelvica
Komplikasi potensial dari tromboflebitis pelvica antara lain adalah:
1. Emboli paru septik
Pada tromboflebitis trombus berjalan melalui pembuluh darah ke
paru-paru sampai akhirnya berhenti dan menyumbat pembuluh
darah kecil di paru-paru yang tidak memungkinkan lagi untuk
dilalui. Trombus tersebut akan menghalangi aliran darah ke

10

bagian paru yang tersumbat, yang akhirnya akan menyebabkan


infark karena bagian tersebut tidak mendapat pasokan oksigen
2. Septikemia
Suatu keadaan ketika terdapat multiplikasi bakteri dalam darah.
Istilah lain untuk septikemia adalah biood poisoning atau
keracunan darah atau bakterimia dengan sepsis. Septikemia
merupakan suatu kondisi infeksi serius yang mengancam jiwa dan
cepat memburuk
b. Tromboflebitis femoralis
Komplikasi potensial dari tromboflebitis femoralis yang paling
serius adalah emboli paru yaitu suatu keadaan dimana terjadinya
obstruksi sebagian atau total pada sirkulasi arteri pulmonalis atau
cabang-cabangnya akibat tersangkutnya emboli trombus atau emboli
yang lain. Trombus tersebut bisa berasaldari vena di bagian tubuh
yang lain, seperti misalnya tungkai, lengan, pinggul, atau jantung.
Trombus tersebut berjalan melalui pembuluh darah ke paru-paru
sampai akhirnya berhenti dan menyumbat pembuluh darah kecil di
paru-paru yang tidak memungkinkan lagi untuk dilalui. Trombus
tersebut akan menghalangi aliran darah ke bagian paru yang
tersumbat, yang akhirnya akan menyebabkan infark karena bagian
2.7.2

tersebut tidak mendapat pasokan oksigen


Prognosis
Yang dapat diketahui dalam membuat prognosis pada klien dengan
tromboflebitis ialah dengan menghitung denyut nadi, jika denyut nadi
dibawah 100 maka prognosisnya dapat dikatakan baik namun sebaliknya
jika denyut nadi diatas 130 dan disertai suhu tinggi maka prognosisnya
dapat dikatakan kurang baik. Demam yang kontinyu dapat

lebih

memperburuk prognosis daripada demam yang remittens. Demam


menggigil yang berulang-ulang, insomnia dan ikterus, yang merupakan
tanda-tanda kurang baik. Kadar Hb yang rendah dan jumlah leukosit yang
rendah atau sangat tinggi juga dapat memperburuk prognosis.
2.8 Penatalaksanaan

11

2.8.1

Pelvio tromboflebitis
1. Lakukan pencegahan terhadap endometritis dan tromboflebitis dengan
menggunakan teknik aseptik yang baik
2. Rawat inap : penderita tirah baring untuk pemantauan gejala penyakit
dan mencegah terjadinya emboli pulmonum
3. Terapi medik: pemberian antibiotika, heparin terdapat tanda-tanda
atau dugaan adanya emboli pulmonum
4. Terapi operatif : pengikatan vena kava inferior dan vena ovarika jika
emboli septik terus berlangsung sampai mencapai paru-paru;
meskipun sedang dilakukan hipernisasi, siapkan untuk menjalani

2.8.2

pembedahan (syaifudin,2002).
Tromboflebitis femoralis
1. Terapi medik dengan pemberian analgesik dan antibiotik.
2. Anjurkan ambulasi dini untuk meningkatkan sirkulasi

pada

ekstremitas bawah dan menurunkan kemungkinan pembentukan


pembekuan darah.
3. Pastikan klien untuk tidak berada pada posisi litotomi dan
menggantung kaki lebih dari 1 jam, dan pastikan untuk memberikan
alas pada penyokong kaki guna mencegah adanya tekanan yang kuat
pada betis.
4. Sediakan stocking pendukung kepada klien pasca patrum yang
memiliki varises vena untuk meningkatkan sirkulasi vena dan
membantu mencegah kondisi stasis.
5. Instruksikan kepada klien untuk memakai stocking pendukung
sebelum bangun pagi dan melepaskannya 2x sehari untuk mengkaji
keadaan kulit dibawahnya.
6. Anjurkan tirah baring dan mengangkat bagian kaki yang terkena.
7. Dapatkan nilai pembekuan darah perhari sebelum obat anti koagulan
diberikan.
8. Berikan anti koagulan, analgesik, dan anti biotik sesuai dengan resep.
9. Berikan alat pamanas seperti lampu. Atau kompres hangat basah
sesuai instruksi, pastikan bahwa berat dari kompres panas tersebut
tidak menekan kaki klien sehingga aliran darah tidak terhambat.
10. Sediakan bed cradle untuk mencegah selimut menekan kaki yang
terkena.

12

11. Ukur diameter kaki pada bagian paha dan betis dan kemudian
bandingkan pengukuran tersebut dalam beberapa hari kemudian untuk
melihat adanya peningkatan atau penurunan ukuran.
12. Kaji adanya kemungkinan tanda pendarahan lain, misalnya:
pendarahan pada gusi, bercak ekimosis, pada kulit atau darah yang
keluar dari jahitan episiotomi.
13. Yakinkan klien bahwa heparin yang diterimanya dapat dilanjutkan
pada masa menyusui karena obat ini tidak akan berada didalam air
susu.
14. Siapkan pemberian protamin sulfat sebagai antagonis heparin.
15. Jelaskan pada klien mengenai pemberian heparin yang harus
dilakukan melalui terapi subkutan. Jelaskan kepada klien bahwa untuk
kehamilan selanjutnya ia harus memberitahukan tenaga kesehatan
yang dia hadapi untuk memastikan bahwa pencegahan tromboflebitis
yang tepat telah dilakukan (Adele Pillitteri, 2007)
Jika pembuluh darah yang terkena cukup dangkal, perawatan seharusnya
tidak berlangsung lebih dari 2 minggu, tanpa rawat inap. Pasien disarankan
melakukan beberapa langkah perawatan diri, seperti mengangkat kaki,
mengompres

hangat

atau

menggunakan

obat

nonsteroidal

anti-

inflammatory drug (NSAID).


Obat
Obat yang biasa diberikan adalah obat antikoagulan, seperti dalam kasus
suntikan heparin yang mencegah penggumpalan semakin membesar.
Kemudian diikuti dengan pengobatan warfarin selama beberapa bulan
yang memerlukan penentuan dosis secara hati-hati, karena merupakan obat
kuat dan dapat mengarah pada efek samping serius jika terjadi kesalahan
dosis.
Pembalutan Daerah yang Terkena
Dalam beberapa kasus, selain dukungan resep obat yang dianjurkan, dapat
dilakukan pembalutan karena mengurangi potensi risiko DVT (deep vein
thrombosis) atau thrombophlebitis yang terjadi di jaringan otot dan
mencegah kambuhnya pembengkakan.
Filter
Dalam operasi bedah yang tidak perlu rawat inap di rumah sakit, filter
dapat dimasukkan ke dalam pembuluh darah utama dari perut (vena kava)

13

untuk mencegah bekuan yang dari vena-vena kaki yang menuju ke paruparu. Prosedur ini dilakukan pada pasien yang tidak dapat mengambil
antikoagulan.
Penghilangan Varises
Seorang dokter bedah dapat menghilangkan varises yang menyebabkan
nyeri atau trombophlebitis kambuhan dalam prosedur yang disebut
Varicose vein stripping. Prosedur ini, biasanya dilakukan secara rawat
jalan, melibatkan penghilangan vena panjang melalui sayatan kecil.
Biasanya, pasien akan dapat melanjutkan aktivitas normal dalam > 2
minggu. Menghilangkan vena tidak akan mempengaruhi sirkulasi darah
pada kaki karena pembuluh darah yang lebih dalam pada kaki mampu
meningkatkan volume darah. Prosedur ini juga biasa dilakukan untuk
alasan kosmetik.
Penghilangan Bekuan atau Bypass
Seorang dokter bedah dapat menghilangkan varises yang menyebabkan
nyeri atau trombophlebitis kambuhan dalam prosedur yang disebut
Varicose vein stripping. Prosedur ini, biasanya dilakukan secara rawat
jalan, melibatkan penghilangan vena panjang melalui sayatan kecil.
Biasanya, pasien akan dapat melanjutkan aktivitas normal dalam > 2
minggu. Menghilangkan vena tidak akan mempengaruhi sirkulasi darah
pada kaki karena pembuluh darah yang lebih dalam pada kaki mampu
meningkatkan volume darah. Prosedur ini juga biasa dilakukan untuk
alasan kosmetik.

2.9 Pemeriksaan penunjang


2.9.1 Ultrasonograf Doppler
Tehnik dopler memungkinkan penilaian kualitatif terhadap kemampuan
katub pada vena profunda,vena penghubung dan vena yang mengalami
pervorasi. Ultrasonografi Doopler dilakukan dengan cara meletakkan
probe Doppler di atas vena yang tersumbat. Bacaan aliran doopler tampak

14

lebih kecil di banding tungkai sebelahnya atau tidak sama sekali. Metode
ini relative murah, mudah dilakukan, praktis, cepat dan non infasif.
Pemeriksaan ultrasonograf doppler dilakukan untuk menunjukkan
2.9.2

peningkatan lingkar ekstremitas.


Pemeriksaan hematokrit
Untuk mengidentifikasi Hemokonsentrasi,

terjadinya

peningkatan

hematokrit. Jika terjadi peningkatan hematokrit maka akan berpotensial


2.9.3

terjadinya pembentukan trombus


Pemeriksaan Koagulasi
Untuk menunjukkan hiperkoagulabilitas. Pemeriksaan koagulasi ini
menilai aktifitas faktor pembekuan seperti uji masa protrombin, uji
activated partial thromboplastin time (APTT), thrombin time dan kadar

2.9.4

fibrinogen.
Biakan darah
Pemeriksaan baik aerob maupun anaerob dapat membantu. Organisme
yang penting untuk di antisipasi meliputi Streptokokus aerob dan anaerob.
Staphilokokus aureus ,Eschercia coli dan Bakteriodes. Pemeriksaan ini

2.9.5

dilakukan untuk mengetahui atau mendeteksi kuman didalam darah


Pemindai ultrasuond dupleks
Dengan tehnik ini obstruksi vena dan refleks katub dapat dideteksi dan
dilokalisasi dan dapat dilihat diagram vena-vena penghubung yang tidak

2.9.6

kompeten
Venografi
Bahan kontras disuntikkan

kedalam sistem vena untuk memberikan

gambaran pada vena-vena di ekstrimitas bawah dan pelvis. Pemeriksaan


venografi berguna untuk mendiagnosis trombosis vena renalis.

15

BAB 3. PATHWAY

Varises Vena

Perluasan
infeksi
Itrauterus

Stasis darah
dalam vena

Merangsang
trombosis
primer

Trombus
meradang

Mikroorganisme
meningkat
didalam darah

Banyak pus
dan trombus
dalam darah

Trauma pada
tungkai

Mengenai vena
ditungkai

Peradangan
pada vena

Banyak Vena yang


terhambat trombus
Peradangan
pada vena
Peradangan
pada vena

TROMBOFLEBITIS

Gangguan
kardiovaskuler

Peningkatan
osmolaritas
darah

Peningkatan
resiko
trombosis

Peradangan
pada vena

16

TROMBOFLEBITIS

Perubahan persepsi
terhadap penyakit

Ansietas
Respon
peradangan

Penyempitan pembuluh darah vena

Adanya mediator peradangan


bradikinin, prostaglandin dll

nyeri

Peningkatan
suhu tubuh

Hipertermi

Aliran darah vena


terganggu

Terjadi stasis darah

Penggumpalan darah pada


ekstremitas

edema

Kurang informasi
mengenai penyakit

Kurang
pengetahua

Ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer

17