Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metode titrimetri merupakan salah satu cara analisis kuantitatif yang didasarkan pada
prinsip stoikiometri reaksi kimia. Dalam metode titrimetri ini suatu komponen analit akan
mengalami reaksi kimia dengan zat pendeteksi yang sering disebut titran. Banyak macam
reaksi yang terjadi pada metode titrimetri ini, salah satunya adalah reaksi asam-basa.
Metode titirimetri yang didasarkan pada reaksi asam basa ini adalah titrasi asam basa
(Asidimetri dan alkalimetri ). Titirasi ini termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion
hydrogen yang bersal dari asam dengan ion hidroksida yang bersal dari basa untuk
menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi juga di katakana sebagai reaksi antara
pemberi proton (asam) dengan penerima proton (basa). Pada titrasi ini larutan analit yang
berupa larutan basa ditirasi dengan titran yang berupa asam atau sebaliknya larutan analit
yang berupa larutan asam ditirasi dengan titran yang berupa basa.
Titrasi juga merupakan salah satu cara untuk menentukan konsentrasi larutan suatu zat
dengan

cara mereaksikan

larutan

tersebut

dengan

zat

lain

yang

diketahui

konsentrasinya. Dengan metode titrasi asam-basa ini ini kita dapat menentukan konsentrasi
larutan baku sekunder dan dapat mengetahui kadar suatu zat dalam suatu sampel.

1.2 Rumusan Masalah


a. Bagaimana prinsip dalam titrasi asam basa?
b. Apa saja jenis titrasi asam basa?
c. Bagaimana contoh percobaan dalam titrasi asam basa?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui prinsip dalam titrasi asam basa
b. Untuk mengetahui jenis titrasi asam basa
c.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Prinsip Titrasi
Titrasi adalah suatu proses atau prosedur dalam analisis volumetric di mana suatu
titran atau larutan standar (yang telah diketahui konsentrasinya) diteteskan melalui buret
kelarutan lain yang dapat bereaksi dengannya (belum diketahui konsentrasinya) hingga
tercapai titik ekuivalen atau titik akhir. Artinya, zat yang ditambahkan tepat ber eaksi
dengan zat yang ditambahi. Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai titrant
dan biasanya diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut sebagai tit`er dan biasanya diletakkan di dalam buret. Baik titer
maupun titrant biasanya berupa larutan.
Pada titrasi asam basa dalam melakukan titrasi melibatkan asam maupun basa sebagai
penitran/titer ataupun titran dan titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Untuk
menentukan kadar larutan asam dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran
ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen ( artinya secara
stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi ). Keadaan ini disebut sebagai titik
ekuivalen. Pada saat ekuivalen ini maka proses titrasi dihentikan , kemudian kita mencatat
volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaah tersebut, dengan menggunakan data
volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titran. Prinsip
dasar titrasi asam basa didasarkan pada reaksi nertalisasi asam basa. Titik equivalen pada
titrasi asam basa adalah pada saat dimana sejumlah asam tepat di netralkan oleh sejumlah
basa. Selama titrasi berlangsung terjadi perubahan pH. pH pada titik equivalen ditentukan
oleh sejumlah garam yang dihasilkan dari netralisaasi asam basa.
Untuk menegtahui titik ekivalen pada titrasi asam basa kita bisa menggunakan
indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada sampel sebelum proses titrasi
dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika mendekati titik ekuivalen terjadi yang
kita sebut titik akhir titrasi ,pada saat inilah titrasi kita hentikan.
Berdasarkan reaksi yang terjadi selama titrasi, volumetri dapat dikelompokkan
menjadi 4 jenis.

1. Reaksi asam-basa ( asidi-alkalimetri = netralisasi)


Penetapan kadar ini berdasarkan pada perpindahan protondari zat yang bersifat basa
atau asam, baik dalam linfkungan air atau bebas air.
2. Reaksi oksidasi-reduksi (redoks)
Dasar yang digunakan adalah perpindahan elektron. Penetapan kadar senyawa
berdasarkan ini digunakan secara luas seperti permanganometri, serimetri, iodi-iodometri,
iodametri serta bromatometri.
3. Reaksi pengendapan (presipitasi)
Penetapan kadar berdasarkan terjadinya endapan yang sukar larut misalnya penetapan
kadar secara argentometri.
4. Reaksi pembentukan kompleks (kompleksometri)
Dasar yang diginakan adalah terjadinya reaksi antara zat-zat pengompleks organik
dengan ion logam menghasilkan senyawa kompleks yang mantap. Penetapan kadar yang
menggunakan prinsip ini adalah metode kompleksometri.
Ada 4 daerah perhitungan pH untuk titrasi asam basa yaitu:
1.

pH mula mula : ditentukan dari konsentrasi analat.

2.

pH sebelum Titik Ekivalen : ditentukan dari setelah penambahan titrant tetapi belum
mencapai ekivalen dgn analat.

3.

pH Titik Ekivalen : ditentukan saat titik ekivalent tercapai.

4.

pH setelah Titik Ekivalen : ditentukan setelah kelebihan titrant setelah mencapai titik
ekivalent.

2.2. Titrasi Asam Kuat dengan Basa Kuat


Perhitungan pH untuk titrasi asam kuat dengan basa kuat yaitu :
1.

pH log H 3O

pH mula mula : Konsentrasi Analat, pH < 7

2. pH sebelum Titik Ekivalen : mol asam kuat > mol basa kuat, pH < 7
3

+
H 3 O

3. pH Titik Ekivalen : mol asam kuat = mol basa kuat ; pH = 7


+
H 3 O

Atau

O H

4. pH setelah Titik Ekivalen : mol asam kuat < mol basa kuat. pH > 7

O H

Titran yang dipakai dalam jenis titrasi asam basa ini adalah asam kuat dan basa kuat.
Titik akhir titrasi mudah diketahui dengan membuat kurva titrasi yaitu plot antara pH larutan
sebagai fungsi dari volume titran yang ditambahkan. Sebagai contoh titrasi asam kuat dan
basa kuat adalah titrasi HCl dengan NaOH. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
HCl + NaOH
H+

+ OH-

NaCl + H2O
H2O

Reaksi umum yang terjadi pada titrasi asam basa dapat ditulis sesuai dengan reaksi
kedua diatas. Ion H+ bereaksi dengan OH- membentuk H2O sehingga hasil akhir titrasi pada
titik ekuivalen pH larutan adalah netral. Kurva titrasi antara 50 mL HCl 0,1 M dengan 50 mL
NaOH 0,1 M dapat ditunjukkan dengan gambar berikut ini:

Kurva Titrasi 0,1 M HCl dengan 0,1 M NaOH


2.3. Titrasi Asam Lemah dengan Basa Kuat
Perhitungan pH untuk titrasi asam lemah dengan basa kuat yaitu :

1.

H O

K a .Casamlemah

pH mula mula : ditentukan dari konsentrasi asam lemah, pH <

2. pH sebelum Titik Ekivalen : mol asam lemah > mol basa kuat, Buffer asam, pH < 7

[ H 3O ] Ka

[OH ]
3.

Casam

lemah
Cbasa konjugat

Kw
garam
Ka

pH Titik Ekivalen : mol asam lemah = mol basa kuat ; pH


> 7; hidrolisa dari asam lemah-basa kuat.

4. pH setelah Titik Ekivalen : mol asam lemah < mol basa kuat. pH>7; sisa basa kuat

O H

Asam lemah yang dicontohkan disini adalah asam asetat CH3COOH (biasanya kita
singkat menjadi HOAc) dan dititrasi dengan basa kuat NaOH. Reaksi yang terjadi dapat
ditulis sebagai berikut:
CH3COOH + NaOH

CH3COONa + H2O
5

Dan kurva titrasi antara 0,1 M HOAc 50 mL dengan 0,1 M NaOH 50 mL dapat
digambarkan sebagai berikut :

Kurva titrasi 0,1 M CH3COOH dengan 0,1 M NaOH


2.4. Titrasi Asam Kuat dengan Basa Lemah
2.5. Titrasi Campuran Asam atau Basa dengan Kekuatan Berbeda
2.6. Indikator Asam Basa
Indikator asam basa adalah suatu zat elektrolit yang sangat lemah, dapat merupakan
senyawa asam, basa, dan atau garam organik yang memiliki warna berbeda pada larutan asam
dan basa. Perbedaan warna pada larutan asam dan larutan basa merupakan karakteristik dari
indikator, yang perubahannya tiba-tiba tetapi menempati interval (range) pH kecil. Di bawah
ini diberikan tebel beberapa indikator asam basa yang umum digunakan dalam titrasi beserta
perubahan warna yang terjadi. Contoh ini pernah diberikan pada modul menyiapkan bahan
dan alat sesuai keperluan dengan judul nama dan sifat bahan.
PERUBAHAN WARNA DAN RANGE PH DARI BEBERAPA
INDIKATOR ASAM BASA

No

Nama indikator

Range pH

Perubahan Warna

1.

Timol biru(asam)

1,2

2,8

Merah

Kuning

2.

Metil jingga

3,1

4,4

Merah

Jingga

3.

Brom kresol hijau

3,8

5,4

Kuning

Biru

4.

Metil merah

4,2

6,3

Merah

Kuning

5.

Brom timol biru

6,0

7,6

Kuning

Biru
6

6.

Timol biru(basa)

8,0

9,6

7.

Fenolftalein

8,3

10,0

Kuning

Biru

Tak berwarna-Merah

Membuat Larutan Indikator


Larutan indikator asam basa sebagai larutan stok biasanya mengandung 0,5 1 gram
zat indikator dalam 1 L pelarut, jika zat indikator ini larut dalam air maka pelarut digunakan
air. Contoh zat indikator yang larut dalam air adalah garam-garam natrium dari senyawa
organik. Umumnya pelarut untuk zat indikator ini digunakan alkohol 50 %, 70 %, 90 %. Cara
membuat larutan indikator stok adalah sebagai berikut. Siapkan alat dan bahan( gelas kimia
kecil, gelas ukur, batang pengaduk, dan botol tetes)
1. Larutan indikator metil jingga
Timbang 0,5 gram metil jingga dan larutkan dalam 100 cm3 alkohol 50 %, sambil
diaduk-aduk, setelah larut masukkan dalam botol tetes(dapat dilakukan seperti membuat
larutan kerja).
2. Larutan indikator metil merah
Timbang 0,5 gram metil merah dan larutkan dalam 100 cm3 alkohol 70 %, sambil
diaduk-aduk, setelah larut masukkan dalam botol tetes.
3. Larutan indikator fenolftalein
Timbang 0,5 gram fenolftalein dan larutkan dalam 100 cm3 alkohol 90 %, sambil
diaduk-aduk, setelah larut masukkan dalam botol tetes.
2.7. Penyediaan dan Standarisasi Larutan Standar (Pentiter)
2.7.1.

Penyediaan Pentiter Basa Natrium Hidroksida

Natrium Hidroksida ( NaOH ) digunakan sebagai pentiter basa pada hampir semua
titrasi asam basa. Natrium Hidroksida bukan merupakan larutan standar primer sebab selalu
mengandung air dan natrium karbonat. Konsentrasi NaOH yang sebenarnya diketahui
melalui standarisasi dengan larutan standar primer.
7

Natrium karbonat yang terdapat di dalam natrium hidroksida harus dibuang karena
dapat bereaksi dengan asam membentuk buffer yang dapat mempengaruhi bentuk kurva
titrasi dan menggeser titik akhir titrasi. Cara terbaik untuk menghilangkan Na 2CO3 adalah
dengan menyediakan larutan NaOH hampir jenuh, sehingga kelarutan Na 2CO3 menjadi lebih
sedikit dan setelah dibiarkan beberapa saat Na 2CO3 akan mengendap. Selanjutnya NaOH
yang bening dipindahkan ke labu ukur dan diencerkan dengan air sampai batas labu ukur.
Untuk mendapat hasil yang baik, air yang digunakan merupakan air yang didihkan terlebih
dahulu untuk menghilangkan CO2 dari air. Cara ini cocok untuk membuat stok NaOH namun
tidak cocok untuk KOH. Larutan NaOH encer relatif stabil bila disimpan di wadah plastik
dan bebas dari CO2. Penyimpanan NaOH dalam botol gelas lebih dari seminggu tidak baik
karena ada reaksi lambat gelas membentuk silikat terlarut.

Standarisasi Basa
Larutan NaOH merupakan larutan standar sekunder (larutan yang belum diketahui

konsentrasinya), maka sebelum digunakan terlebih dahulu larutan NaOH tersebut harus
distandarisasi dengan larutan asam yang merupakan larutan standar primer agar NaOH
diketahui konsentrasinya. Larutan standar primer asam yang dapat digunakan untuk untuk
standarisasi NaOH yaitu, Kalium Hidrogen Phatalat (KHP), asam Benzoat dan asam Oksalat.
Standarisasi merupakan penentuan konsentrasi dari larutan standar sekunder yang
menggunakan bantuan larutan standar primer. Misalnya standarisasi NaOH dengan larutan
asam oksalat dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pembuatan larutan asam oksalat ini menggunakan metode analisis titrimetri yang
mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu
larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepat yang diperlukan untuk bereaksi secara
kuantitatif dengan larutan dari zat yang akan ditetapkan. Analisis titrimetri ini dianggap lebih
baik menyatakan proses titrasi, sedangkan yang terdahulu dikacaukan dengan pengukuranpengukuran volume seperti yang melibatkan gas-gas.
Konsentrasi larutan asam oksalat yaitu 0,1 M. Sedangkan normalitasnya adalah 0,2
ek/L. Dengan begitu, dapat ditentukan konsentrasi NaOH melalui analisis kuantitatif
konvensional yang biasanya dilakukan yaitu dengan titrasi. Sebelum dititrasi dengan asam
oksalat, larutan NaOH ditambahkan indikator fenoftalein.

Penambahan indikator tersebut maka terjadi perubahan warna menjadi merah muda.
Indikator fenoftalein akan memberikan kenampakan warna merah muda apabila berada pada
larutan basa. Fungsi indikator fenolftalein adalah sebagai penunjuk akhir titrasi dalam
pencapaian titik ekivalen. Titrasi dilakukan duplo atau sebanyak dua kali, asam oksalat
ditimbang sebanyak 1,26 gram lalu ditambahkan akuades 25-30 ml aduk dalam gelas beker,
lalu pindahkan ke labu takar dengan ditambahkan akuades sampai tanda batas dan dikocok
hingga homogen. Larutan asam oksalat tersebut di masukkan dalam buret 50 ml sebagai
penitran.
Larutan NaOH yang ingin dititrasi diambil 10ml dalam erlenmeyer dilakukan lah
titrasi NaOH dengan penitran larutan encer asam oksalat. Lakukan titrasi dengan teliti dan
hati-hati pada akhir titrasi (titik ekuivalen titrasi) ditunjukkan dengan terjadi perubahan warna
yaitu dari merah muda menjadi tidak berwarna (bening). Sehingga diperoleh konsentrasi
larutan NaOH adalah 0,096 N.
Reaksi titrasi NaOH oleh asam oksalat:
H2C2O4 + 2 NaOH
2.7.2.

Na2C2O4 + 2H2O

Penyediaan Pentiter Asam Klorida

Larutan standar asam klorida sangat baik digunakan dalam titrasi asam basa,
merupakan asam kuat, larutan stabil, sifat pengoksida atau pereduksi relatif rendah dan kation
tidak membentuk endapan kompleks dengan kebanyakan kation.

Standarisasi Asam
Karena HCl bukan merupakan larutan standar primer maka konsentrasi yang benar

untuk HCl diketahui dengan menstandarisasi dengan larutan standar primer. Larutan standar
primer berupa Natrium tetraboraks atau sering disebut borat, karena Natrium tetraboraks itu
sendiri memiliki massa ekivalen relatif tinggi (190,69) yang berarti potensi kesalahan dalam
standarisasi lebih kecil daripada dalam kasus bahan lain. Sehingga terjadi reaksi yang positif
yakni terjadi perubahan warna dari kuning menjadi merah konstan.
Reaksi yang berlangsung selama netralisasi adalah:
Na2B4O7.10H 2 O + 2HCl

H3BO3 + 2NaCl

Asam borat begitu lemah, sehingga keberadaannya tidak mengganggu dengan deteksi
titik akhir.
Borat asam yang terbentuk adalah seperti asam lemah yang pH larutan yang
decimolar sekitar 6. Maka dibebaskan ion hidroksida dapat dititrasi terhadap asam yang kuat
secara kuantitatif dengan menggunakan indikator yang berubah warna pada pH kurang dari 5.
Senyawa borat bersifat higroskopis harus dilakukan dalam pembuatan larutan standar
dan tidak dapat dipanaskan untuk menghilangkan air.
2.7.3.

Membuat Larutan Standar Primer

Larutan Standar ( baku ) primer untuk reaksi netralisasi pada umumnya berupa larutan
basa atau larutan asam baik senyawa organik maupun senyawa anorganik. Larutan ini dapat
dibuat dengan cara menimbang basa/asam dengan akurat (teliti) lalu dilarutkan dalam wadah
yang ukurannya akurat juga. Wadah untuk melarutkan larutan baku primer ini adalah labu
ukur. Zat yang dipakai untuk larutan baku primer haruslah zat yang stabil terhadap
lingkungan (udara, cahaya), zatnya murni.
Cara membuat larutan baku primer adalah sebagai berikut.
1.

Tentukan dahulu berapa banyak larutan yang akan dibuat, zat apa yang akan dibuat
menjadi larutan baku primer, dan berapa besar konsentrasinya. Misalnya 100 mL larutan
asam oksalat 0,1 M.

2.

Setelah itu hitung berapa massa yang harus ditimbang dan siapkan peralatan sesuai yang
diperlukan( gelas kimia kecil atau botol timbang, corong pendek, batang pengaduk ,
botol semprot, labu ukur sesuai dengan volume yang akan dibuat). Keadaan alat harus
bersih dan siap untuk segera dipakai.

3. Timbang zat sesuai dengan perhitungan dan timbang dengan teliti(sampai 4 desimal)
dalam gelas kimia kecil atau botol timbang, lalu catat hasil penimbangan tersebut dengan
baik untuk menentukan konsentrasi secara akurat.
4. Siapkan wadah (labu ukur) untuk melarutkan dan pada ujung (mulut labu ukur)
diletakkan corong pendek.

10

5.

Larutkan zat dengan sedikit air dan aduk sampai sebanyak mungkin zat padat tersebut
larut, jika sudah tidak dapat larut lagi tuangkan larutan ini ke dalam labu ukur yang
sudah siap(di atas) dan lanjutkan pelarutan sampai semua zat padat terlarut.

6. Setelah semua zat padat terlarut bilas gelas kimia kecil atau botol timbang tersebut dan air
dan air bilasannya dimasukan dalam labu ukur. Setelah itu lakukan pembilasan dengan
cara gelas kimia kecil atau botol timbang dan batang pengaduk dipegang dengan tangan
kiri dan letakkan di atas corong pendek yang di bawahnya terdapat labu ukur, lalu
semprotkan air dari botol semprot pada gelas kimia tersebut. Hati-hati penyemprotan air
ini jangan sampai airnya terpercik ke luar. Lakukan ini minimal 3 kali, lalu letakkan
gelas kimia kecil dan semprot batang pengaduknya lalu angkat batang pengaduk dan
simpan. Bilas juga corongnya 3 kali baru corong diangkat perlahan-lahan sambil
tangkainya dibilas.
7.

Isikan air sampai mendekati tanda batas lalu keringkan bagian dalam di atas larutan
dengan kertas isap(hati-hati jangan sampai kertas isap masuk dalam larutan).

8. Tanda bataskan labu dengan cara meneteskan air dari pipet tetes yang bagian luarnya
kering ke atas larutan. Tutup labu dan aduk-aduk campuran dengan cara pegang tutup
labu dengan jari tangan dan ujung labu yang lain diletakan pada tangan. Gerak-gerakkan
tangan turun naik sebanyak 10 kali maka larutahn baku primer siap untuk digunakan.
9. Lakukan juga pembuatan larutan baku primer untuk larutan boraks. Setelah ditimbang,
boraks ini ditambahkan air lalu dipanaskan dengan sedikit air sampai boraks larut , lalu
tambahkan lagi sedikit air dan biarkan mendingin baru dilarutkan seperti di atas.
2.7.4.

Membuat Larutan Standar Sekunder

Larutan baku sekunder untuk reaksi netralisasi pada umumnya berupa larutan basa
atau larutan asam dari senyawa anorganik. Larutan ini dapat dibuat dengan cara menimbang
basa atau mengencerkan larutan asam yang pekat, lalu larutan ini distandarkan dengan larutan
baku primer. Larutan basa yang umum digunakan sebagai larutan baku sekunder adalah
larutan NaOH 0,1 M, sedangkan larutan asamnya adalah larutan asam klorida HCl atau asam
sulfat (H2SO4) 0,1 M. Konsentrasi larutan asam pekat dari HCl adalah 10,5 12 M,
sedangkan untuk asam sulfat (H2SO4) adalah 18 M.

11

HCl adalah suatu gas yang kelarutannya dalam air sangat dipengaruhi oleh suhu.
Larutan basa yang digunakan sebagai larutan baku sekunder harus larutan basa yang bebas
karbonat. Cara membuat larutan ini sama seperti membuat larutan kerja hanya konsentrasi
yang digunakan antara 0,1 0,25 M(molar) atau N(normal). Cara membuat larutan baku
sekunder adalah sebagai berikut.

1. Pembuatan larutan baku sekunder asam


Larutan baku asam yang dibuat adalah larutan asam klorida 0,1 M. Larutan ini dibuat
dengan cara pengenceran larutan asam klorida pekat. Dari perhitungan pengenceran dapat
dihitung banyaknya HCL 36 % dengan massa jenisnya ()nya 1,09 gram/cm3 yang
digunakan untuk membuat 1 L larutan baku sekunder HCl 0,1 M adalah sebanyak: 9,3 mL .
a.

Siapkan alat dan bahan ( gelas ukur besar, gelas ukur kecil, batang pengaduk,
dan botol reagen, botol semprot).

b.

Sembilan koma tiga cm3 HCl pekat ini dituangkan dan diukur dalam gelas
ukur kecil(10 cm3), kemudiandituangkan dalam gelas ukur yang lebih besar (1 L) yang
telah berisi sedikit air( 200 cm3+).

c.

Bilas gelas ukur kecil bekas HCl pekat tadi, lalu tuangkan air bilasan ini ke
dalam gelas ukur besar dan isi kembali gelas ukur besar ini sampai batas 1 L.

d.

Lalu tuangkan larutan dalam gelas ukur ini ke dalam botol reagen 1 L. Adukaduk larutan dalam botol agar tercampur sempurna.

e.

2.

Lakukan juga pembuatan larutan bakyu sekunder untuk larutan asam sulfat.

Pembuatan larutan baku sekunder basa


Larutan baku basa yang dibuat adalah larutan NaOH 0,1 M. Larutan ini dibuat dengan

cara penimbangan padatan NaOH lalu dilarutkan dalam air. Dari per-hitungan konsentrasi
12

dapat dihitung banyaknya NaOH padat yang diperlukan untuk membuat 1 L larutan baku
sekunder NaOH 0,1 M adalah sebanyak empat gram .
a. Siapkan alat dan bahan ( gelas ukur besar, gelas kimia kecil, batang pengaduk, dan
botol reagen, botol semprot, corong pendek).
b. Empat gram NaOH ini ditimbang dengan neraca biasa dan air sebagai pelarut diukur
dalam gelas ukur (1 L). Air yang digunakan sebagai pelarut adalah air yang bebas CO2.
Air ini dibuat dengan cara memanaskan aquades dalam Erlenmeyer besar sampai
mendidih, lalu dibiarkan terus mendidih selama 10 menit. Setelah itu air yang sudah
mendidih ini didinginkan dengan cara ditutup.
c. NaOH yang telah ditimbang ini dilarutkan dengan sedikit air, sambil diaduk sampai
padatan terlarut, jika padatan sudah tidak dapat larut lagi, tuangkan larutan NaOH dari
gelas kimia ke dalam botol reagen dan lanjutkan pelarutan dengan cara yang sama
seperti di atas.
d. Setelah semua padatan larut bilas gelas kimia ini dengan sedikit air, lalu tuangkan air
bilasan ini ke dalam botol reagen. Setelah itu jika air dalam gelas ukur masih tersisa
tuangkan air ini langsung ke dalam botol reagen. Aduk-aduk larutan dalam botol agar
tercampur sempurna.

13

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan

14

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Jilid 2. Erlangga : Jakarta.
Day dan Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Ke-6. Erlangga : Jakarta.
E. Brady, James. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid 1. edisi ke-5. Binarupa
Aksara : Jakarta.
Ibnu, M. Shodiq, dkk. 2004. Kimia Analitik 1 Edisi Revisi. Universitas Negeri Malang :
Malang.
Oxtoby, D.W. 2001. Kimia Modern. Erlangga. Jakarta.
Situmorang, Manihar. 2012. Kimia Analitik 1. FMIPA UNIMED : Medan.

15