Anda di halaman 1dari 14

IRRITABLE BOWEL SYNDROME (IBS)

LATAR BELAKANG
Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah gangguan fungsional gastrointestinal yang
dikarakteristik oleh nyeri abdominal dan perubahan pola kerja usus tanpa adanya
kelainan organik yang spesifik dan unik. Osler mengelompokkan batas kolitis mukosa
pada tahun 1892 ketika beliau menulis tentang gangguan mukorea dan kolik abdomen
dengan tingginya insiden pada pasien dengan psikopatologi (kelainan psikis). Sejak saat
itu, sindrom ini telah dihubungkan dengan istilah-istilah diantaranya spastik, iritasi dan
ketegangan kolon.
Secara tradisional, IBS merupakan diagnosa dari eklusi.Tidak terdapat motilitas
atau struktur tertentu yang terkait yang telah ditunjukkan secara konsisten, maka IBS
meninggalkan bekas tanda penyakit secara klinis. Manning dan perkumpulannya
menetapkan 6 kriteria untuk membedakan IBS dari Penyakit Organik Usus. Walaupun
riwayat penyakit merupakan hal yang penting, kriteria ini tidak sensitif (58%), tidak
spesifik (74%) dan kurang dapat dipercaya.
Kriteria Manning untuk membedakan IBS dari kelainan organik adalah seperti
dibawah ini:

Onset nyeri yang berhubungan dengan pergerakan usus yang lebih sering.

Onset nyeri yang berhubungan dengan berkurangnya pergerakan usus.

Nyeri yang mereda dengan defekasi

Tampak pembengkakan abdomen

Sensasi subjektif adanya pengosongan yang tidak tuntas > 25%...

Mukorea >25%..
Baru-baru ini, konsensus panel menciptakan dan kemudian memperbaharui

kriteria Roma untuk menyediakan standarisasi diagnosis bagi penelitian dan praktek
klinis.

Kriteria Roma III (2006) untuk menegakkan diagnosa IBS diperlukan diantaranya
pasien harus menderita nyeri perut atau rasa tidak nyaman pada perut yang berulang
setidaknya tiga hari dalam sebulan selama 3 bulan sebelumnya yang digabungkan dengan
2 atau lebih dari yang seperti di bawah ini:

Mereda dengan defekasi

Onset berhubungan dengan perubahan frekuensi buang air besar

Onset berhubungan dengan perubahan bentuk atau tampilan kotoran (feses).

Gejala yang mendukung antara lain:

Perubahan frekuensi buang air besar

Perubahan bentuk kotoran (BAB)

Perubahan alur kotoran (tidak dapat ditahan dan atau mendesak)

Mukorea

Pembengkakan abdomen atau keluhan subjektif pembengkakan perut.


Empat pola usus mungkin dapat ditemukan pada IBS. Pola ini antara lain IBS-D

(predominan diare), IBS-C (predominan konstipasi), IBS-M ( campuran diare dan


konstipasi), dan IBS-A (bergantian antara diare dan konstipasi). Kegunaan subtipesubtipe ini masih terbantahkan. Tercatat, dalam 1 tahun, 75% pasien mangalami
perubahan subtipe, dan 29% bergantian antara IBS predominan konstipasi dan IBS
predominan diare.

DEFINISI
Irritable Bowel Syndrome (IBS) adalah salah satu penyakit gastrointestinal
fungsional. Pengertian IBS sendiri adalah adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola
defikasi tanpa gangguan organik.

EPIDEMIOLOGI
Kejadian dari IBS mencapai 15 % dari penduduk Amerika, hal ini didasarkan
pada gejala yang sesuai dengan kriteria IBS. Kejadian IBS lebih banyak terjadi pada
perempuan dan mencapai 3 kali lebih besar dari laki-laki. Kepustakaan lain menyebutkan
bahwa angka prevalensi IBS bisa mencapai 3,6-21,8 % dari jumlah penduduk dengan
rata-rata 11 %.

ETIOLOGI
Sampai saat ini tidak ada teori yang menyebutkan bahwa IBS disebabkan oleh
satu faktor saja. Penelitian-penelitian terakhir mengarah untuk membuat suatu model
terintegrasi sebagai penyebab dari IBS. Banyak faktor yang dapat menyebabkan
terjadinya IBS antara lain gangguan motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas
sensoris, abnormalitas dari interaksi aksis brain-gut, hipersensitivitas viseral dan paska
infeksi usus. (1)
Awalnya, IBS diduga sebagai penyakit psikosomatik dan melibatkan factor
biologi dan pathogen yang tidak terbukti sampai tahun 1990an, suatu proses yang umum
terjadi dalam riwayat penyakit infeksi akut.(3)
Penyakit Psikosomatik
Faktor psikososial mempunyai peranan penting pada IBS. Hanya 15-50% orang
dewasa dengan gejala IBS memerlukan perhatian medis. Dibandingkan dengan pasien
disertai gejala IBS namun tidak memerlukan perhatian medis, pasien dengan gejala IBS

yang memerlukan perhatian medis memiliki frekuensi meningkat dalam diagnosis


psikiatri termasuk kelainan kepribadian, kecemasan, depresi, histeria dan somatisasi.
Pasien dengan gejala IBS yang tidak memerlukan perhatian medis tidak berbeda secara
psikologi dengan orang yang sehat. Untuk itu, meskipun faktor psikososial tidak
menimbulkan gejala IBS, namun dapat mempengaruhi respon pasien terhadap gejala.
Ketika penderita melaporkan distres gastrointestinal yang lebih berat, hal ini tidak
jelas apakah mereka sebenarnya menderita gejala yang lebih berat karena gangguan
kejiwaan mempengaruhi sensasi nyeri atau apakah mereka pernah menderita gejala
serupa namun dikeluhkan lebih berat. Disfungsi psikososial pada pasien IBS mungkin
bervariasi. Satu hipotesis mengatakan bahwa pasien IBS yang memerlukan perhatian
medis memiliki penyakit yang sudah terbiasa diderita sejak kecil. Pada beberapa kasus,
mungkin terdapat riwayat kekerasan fisik dan seksual saat kanak-kanak.(2)

Reaksi Imun
Pada akhir tahun 1990an, dimulai penelitian untuk mengidentifikasi perubahan
biokimia spesifik yang terdapat pada biopsi jaringan dan contoh serum dari pasien IBS
yang diduga gejala disebabkan oleh organik dibandingkan psikosomatik. Pada penelitian
ini teridentifikasi sitokin dan produk sekretorik dalam jaringan yang diambil dari pasien
IBS. Sitokin ini menimbulkan reaksi inflamasi dan berkaitan dengan respon imun tubuh.
Pada beberapa referensi terdapat pernyataan bahwa ;

Suatu penelitian menunjukkan bahwa biopsi usus dari pasien dengan IBS yang
predominan konstipasi mensekresi serotonin in-vitro yang lebih tinggi. Serotonin
berperan dalam mengatur motilitas dan cairan gastrointestinal, dan dapat terganggu
oleh beberapa penyakit dan infeksi.

Suatu penelitian terhadap hasil biopsi jaringan rektum dari pasien IBS menunjukkan
peningkatan struktur selular melibatkan produksi Sitokin Interleukin 1 Beta.

Suatu penelitian contoh darah dari pasien IBS teridentifikasi kenaikan kadar sitokin,
Tumor Necrosis Factor-alpha, Interleukin-1 dan Interleukin-6.

Suatu penelitian terhadap biopsi usus dari pasien IBS menunjukkan peningkatan
enzim protease yang digunakan tubuh untuk mencerna protein dan dengan agen
infeksius untuk melawan sistem imun host.

Suatu penelitian terhadap contoh darah dari pasien IBS ditemukan peningkatan
antibodi terhadap protozoa Blastocystis.(2)

Infeksi Aktif
Ada penelitian untuk membuktikan IBS yang disebabkan oleh infeksi aktif yang
belum pernah ditemukan. Baru-baru ini, suatu penelitian telah menemukan bahwa
antibiotik Rifaximin dapat menyembuhkan pasien IBS. Sementara beberapa peneliti
melihat ini sebagai bukti bahwa IBS berkaitan dengan agen yang tidak ditemui, yang lain
percaya bahwa terjadi pertumbuhan yang berlebihan dari flora usus dan antibiotik efektif
dalam menguranginya. Peneliti yang lain terfokus pada infeksi protozoa yang tidak
dikenali sebagai penyebab IBS.
Blastocystis merupakan organisme bersel tunggal yang pernah dilaporkan
menyebabkan gejala nyeri abdomen, konstipasi dan diare pada pasien bersamaan dengan
nyeri kepala dan depresi.Peneliti telah mencatat bahwa diagnostik klinik gagal untuk
mengidentifikasi infeksi dan Blastocystis mungkin tidak bereaksi terhadap obat-obat
antiprotozoa yang umum.((2)

PATOGENESIS
Kelainan fundamental mungkin berkaitan dengan gangguan fungsi sensori dan
motor traktus gastrointestinal. Kelainan fungsional dari traktus gastrointestinal yang lain
seperti nyeri dada non-kardiak, dispepsia non-ulkus dan diskinesia billier. Kemiripan
antara kelainan dan IBS ini membuktikan bahwa mereka berbagi dalam mekanisme
patofisiologi. Gangguan kolon fungsional sering dihubungkan dengan stres. Meskipun
telah dilakukan penelitian yang luas,namun tidak ada bukti bahwa stres emosional
sebagai penyebab IBS, tapi pada beberapa pasien stres dapat memacu kambuhnya IBS.(2)
IBS sering diduga disebabkan oleh gangguan motilitas kolon karena karakteristik
gejala sama dengan disfungsi kolon dan nyeri abdomen yang sering berlokasi didaerah
kolon. Penemuan yang paling banyak pada pasien IBS adalah gangguan sensasi viseral.
Distensi Baloon pada rektum, kolon sigmoid atau usus kecil menyebabkan nyeri
abdomen pada pasien IBS. Sedikit dimengerti, bagaimanapun, baik tentang mekanisme
gangguan dalam sensasi nyeri ini atau kelainan fundamental yang terdapat pada reseptor

sensori dan neuron dalam dinding kolon atau pada sistem saraf pusat dimana sensasi
nyeri diproses dan mencapai kewaspadaan.(2)

Menifestai Klinik

Riwayat meticulus merupakan kunci diagnosis. Gejala yang sesuai dengan IBS
adalah sebgai berikut:

Perubahan bowel habit

Konstipasi: keluhan BAB keras, kecil-kecil, nyeri atau defekasi yang tidak teratur
dan dengan pemberian laxan gejala tidak berkurang

Diare: biasanya ditandai denagn volume yang sedikit dan defekasi yang sering
dan tidak dapat ditahan.

BAB setelah makan


Perubahan kebiasaan sering terjadi. Gela yang dominan berbeda-beda dari setiap
pasien

Abdominal pain

Nyeri dirasakan diffuse tanpa penjalaran. Lokasinya biasanya pada abdomen


bagian bawah terutama kuadran kiri bawah

Episode akut dan nyeri tajam diantara nyeri tumpul

Makna akan mencetuskan nyeri dan defekasi akan mengurangi nyeri

Nyeri diduga berasal dari timbunan gas pada daerah flexus spenicus . jika hal ini
terjadi maka harus dibedakan denagn nyeri dda anterior atau nyeri perut kanan
atas.

Abdominal distension

Pasien sering kali mengeluh kembung dan penuh.

Pasien dengan IBS akan tampak peningkatan lingkar abdomen sepanjang hari,
dan dapat diperkiran

Mucorrhea yang jernih atau berwarna putih jika etiologinya noninflamasi

Gejala noncolon dan ekstraintestinal

Secara epidemiologi berhubungan dengan dispepsia, heart burn, mual, muntah


dan disfungsi seksual (termasuk dispareunia dan penurunan libido), dan
peninhkatan frekuensi BAK dan urgency.

Gejala memburuk pada saat menstruasi

Fibromyalgia

Gejala yang tidak tetap harus diwaspadai karena kemungkinan terdapat kelainan
organik. Gejala yang tidak berhubungan berkaitan denagn IBS adalah sebagai
berikut:

Onset terjadi pada usia pertengahan atau lebih tua

Gejala yang akut: IBS merupakan sindroma yang bersifat kronik

Gejalanya progressif

Nocturnal symptom

Anorexia atau penurunan berat badan

Demam

Perdarahan perrectal

Diare degan nyeri perut

Steatorrhea

Lactose intolerance

Gluten intolerance

Gejala yang berhubungan dengan sterss psikologik:

Gejala ini akan tampak denag pertanyaan yang terliti

Tekankan untuk menghindari faktor pencetus stress

Kriteria diagnosis
Diagnosis IBS sendiri didasarkan pada consensus atau kesepakatan yang
tervalidasi dan tidak ada pemeriksaan penunjang khusus untuk menentukan diagnosis dari
IBS tersebut. Saat ini kriteria diagnosis yang digunakan adalah kriteria Rome III, kriteria
ini didasarkan pada adanya keluhan berupa rasa tidak nyaman atau nyeri yang
berlangsung sedikitnya 3 hari dalam sebulan selama 3 bulan terakhir, dan terdapat
sedikitnya 2 dari 3 hal berikut ini yaitu nyeri hilang dengan defekasi, perubahan
frekwensi defekasi, perubahan dari bentuk feses. (Tabel 1)
The Official 'Rome III' Diagnostic Criteria for IBS1
Recurrent abdominal pain or discomfort** at least 3 days per month in the last 3
months associated with 2 or more of the following:
1. It is relieved with defecation, and/or
2. Onset is associated with a change in frequency of stool, and/or
3. Onset is associated with a change in form (appearance) of stool.
*Discomfort means an uncomfortable sensation not described as pain.

Other symptoms that are not essential but support the diagnosis of IBS:

Abnormal stool frequency (greater than 3 bowel movements/day or less than 3


bowel movements/week)

Abnormal stool form (lumpy/hard or loose/watery stool)

Abnormal stool passage (straining, urgency, or feeling of incomplete


evacuation)

Passage of mucus
Bloating or feeling of abdominal distension
Nyeri atau rasa tidak nyaman pada abdomen yang dirasakan oleh pasien dengan

IBS biasanya selalu membawa pasien tersebut untuk mencari pertolongan dan tentunya
hal ini akan mengurangi kulitas hidup pasien tersebut, dan cenderung menjadi kurang
produktif. Diare juga gejala utama IBS yang selalu membawa pasien untuk datang ke
dokter, keluhan diare itu tentunya tidak menyenangkan. Keluhan konstipasi yang juga
menjadi keluhan utama pasien IBS tipe konstipasi biasanya disertai disertai kembung
serta rasa tidak nyaman di ulu hati.
Setelah melakukan anamnesis yang lengkap dan mencocokan dengan kriteria
yang ada, dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan
meliputi darah perifer lengkap. Biokimia darah serta pemeriksaan fungsi hati dan
pemeriksaan hormon tiroid pada pasien dengan gejala diare kronis yang menonjol.
Diagnosis IBS ditegakan jika keluhan sesuai Kriteria Rome III dan jika tidak ditemukan
kelainan organik lain. Sebagian besar kasus yang telah memenuhi Kriteria Rome III tanpa
gejala alarm seperti yang disebutkan diatas biasanya tidak ditemukan kelainan struktural.
Pada pasien IBS dengan dominasi keluhan diare, pemeriksaan kolonoskopi diikuti biopsy
mukosa kolon perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya colitis mikroskopik.
Selain criteria Rome III, secara praktis sering juga digunakan kriteria manning
yang lebih sederhana dan menitik beratkan pada keadaan onset nyeri antara lain adanya
buang air besar yang cair dan peningkatan frekuensi buang air besar saat timbulnya nyeri.
(Tabel 2). Dari masing-masing gejala yang terdapat pada Kriteria manning sebenarnya
mempunyai interpretasi masing-masing. Adanya feses cair serta frekuensi defekasi yang
meningkat pada saat nyeri menginterpretasikan bahwa terjadi perubahan fungsi intestinal.
Sedang adanya nyeri yang berkurang setelah defekasi menunjukan bahwa nyeri berasal
dari gastrointestinal bawah. Adanya kembung menunjukan bahwa kondisi sakit ini

agaknya bukan kelainan organik. Adanya rasa tidak lampias mengiterpretasikan bahwa
rectum irritable. Sedang adanya lendir pada saat defekasi menunjukan bahwa rektum
teriritasi.
Tabel 2. Kriteria manning2
Gejala yang sering didapat pada penderita IBS yaitu :

Feses cair pada saat nyeri

Frekuensi buang air besar yang bertambah pada saat nyeri

Nyeri berkurang setelah buang air besar

Tampak abdomen distensi

Dua gejala tambahan yang sering muncul pada pasien IBS :

Lendir pada saat buang air besar

Perasaan tidak lampias saat buang air besar

Pada beberapa keadaan IBS dibagi dalam beberapa subgrup sesuai dengan
keluhan dominan yang ada pada seseorang, pada subgrup IBS yang sering digunakan
membagi IBS menjadi 4 yaitu IBS predominant nyeri, IBS predominant diare, IBS
predominant konstipasi dan IBS alternating pattern ( table 3)
Table 3. subgroup IBS3
IBS predominant nyeri

Nyeri di fosa iliaka, tidak dapat dengan tegas menunjukan lokasi sakitnya

Nyeri dirasakan lebih dari 6 bulan

Nyeri hilang setelah defekasi

Nyeri meningkat jika stress dan selama menstruasi

Nyeri dirasakan persisten, jika kambuh terasa lebih sakit

IBS predominant diare

Diare pada pagi hari sering dengan urgensi

Biasanya disertai rasa sakit dan hilang setelah defekasi

IBS predominant konstipasi

Terutama wanita

Defekasi tidak lampias

Biasanya feses disertai lendir tanpa darah

IBS alternating pattern

Pola defekasi yang berubah-ubah; diare dan konstipasi

Sering feses keras dipagi hari diikuti dengan beberapa kali defekasi dan feses
menjadi cair pada sore hari.

Diffrential diagnosa
o
o

Infammatory bowel disease


Lactose intolerance

Pemeriksaan Fisik

Pasien tampak sehat

Pasien kemungkinan tampak tegang dan cemas

Pasien mungkin datang dengan nyeri daerah sigmoid atao cord sigmoid
dapat teraba

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pasien dengan IBS meliputi modifikasi diet, intervensi psikologi
dan farmakoterapi. Ketiga bentuk pengobatan ini harus berjalan bersamaan.
a. Diet
Modifikasi diet terutama untuk peningkatan konsumsi serat ditujukan pada IBS
dengan konstipasi. Di sisi lain pada pasien dengan IBS tipe diare konsumsi serat
dikurangi. Pada IBS tipe konstipasi peningkatan konsumsi serat juga disertai konsumsi
air yang meningkat dan aktivitas olah raga rutin.

Beberapa makanan dan minuman yang sering mencetuskan IBS antara lain
gandum, susu, kafein, bawang, coklat dan beberapa sayuran. Biasanya jika keluhan
menghilang setelah menghindari makanan dan minuman yang dicurigai sebagai pencetus
bisa dicoba untuk dikonsumsi lagi setelah 3 bulan dengan jumlah diberikan secara
bertahap.
b. Psikoterapi
Pasien dengan IBS biasanya mempunyai rasa cemas yang tinggi atas penyakitnya.
Karena biasanya rasa sakit di perut, BAB cair atau susah BAB itu datangnya tiba-tiba.
Penjelasan atas penyakit IBS dan meyakinkan bahwa IBS yang dialami pasien adalah
penyakit yang dapat diobati dan tidak membahayakan kehidupan merupakan kunci utama
keberhasilan pengobatan pasien.
Pasien-pasien dengan IBS harus selalu diingatkan untuk dapat mengendalikan
stresnya. Pasien diminta untuk tidak bekerja secara berlebihan dan mengenyampingkan
waktu istirahatnya, menyediakan waktu yang cukup untuk dapat melakukan BAB secara
teratur diluar waktu sibuk bekerja dan juga yang terpenting selama makan disediakan
waktu yang cukup agar makan tidak dalam ketegangan dan tidak terburu-buru. Olah raga
teratur merupakan kunci penting yang harus diperhatikan agar pasien dengan IBS dapat
menyesuaikan diri dengan keluhan-keluhan yang ada.

c. Obat-obatan
Obat yang diberikan terutama untuk menghilangkan gejala yang timbul antara lain
untuk mengatasi nyeri abdomen, mengatasi konstipasi, mengatasi diare dan obat ansietas.
Obat-obat ini biasanya diberikan secara kombinasi.
Untuk mengatasi nyeri abdomen sering digunakan antispasmodik yang
mempunyai efek antikolinergik dan lebih bermanfaat pada nyeri perut setelah makan,
tetapi umumnya kurang bermanfaat pada nyerimkronik disertai gejala konstipasi. Obatobatan yang sering dan sudah beredar di Indonesia antara lain mebeverine 3x135 mg,
hiosin N-butilbromida 3x10 mg, Chlordiazepoksid 5 mg/klidinium 2,5 mg 3x1 tab,

alverine 3x30 mg dan antispasmodik terbaru dan juga sudah digunakan di Indonesia
otolium bromida.
Untuk IBS konstipasi, laksatif osmotik seperti laktulosa, magnesiun hidroksida
terutama pada kasus-kasus dimana konsumsi tinggi serat tidak membantu mengatasi
konstipasi. Obat-obatan laksatif stimulan biasanya tidak digunakan karena akan
memperburuk rasa nyeri abdomen pasien. Tegaserod suatu 5-HT4 reseptor agonis, obat
IBS tipe konstipasi yang relatif baru, bekerja untuk meningkatkan akselerasi usus halus
dan meningkatkan sekresi cairan usus. Biasanya diberikan dengan dosis 2x6 mg selama
10-12 minggu.
Untuk IBS tipe diare beberapa obat juga dapat digunakan antara lain loperamid
dengan dosis 2-16 mg per hari.

Prognosis

Sebagian besar penderita yang aktif, menunjukkan respons yang baik dengan
pemberian obat.

Pada penderita yang harus tirah baring lama, konstipasi akan menjadi masalah,
juga yang ?debilated? (cacat).

Secara medik salama 6 bulan, dengan keadaan umum yang baik. Kolektomi.
biasanya hanya dicadangkan pada penderita dengan ? slow transit constipation ?
yang gagal diobati.

Daftar Pustaka
http://u Sudoyo W.Aru,Setiyohadi B., Alwi Irus, Simadibrata K.M., Setiati Siti,
(2006).Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam , jilid 1, edisi IV. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta . Irritabel Bowel Syndrome, hal. 383-4.
Fauci, Braunwald, Isselbacher, Wilson, Martin, Kasper, Hauser, Longo (1998).
Harrisons Principles of Internal Medicine ,14th edition,The McGraw-Hill
Companies,USA. Irritabel Bowel Syndrome, page 1646-7.
http://en.wikipedia.org/wiki/irritable_bowel_syndrome
mmusalma.wordpress.com/2007/01/24/irritable-bowel-syndrome/

prognosis
1. http://www.emedicine.com/med/topic1190.htm#section~Clinical
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Irritable_bowel_syndrome#Diagnosis
3. Buku Ilmu Penyakit Dalam