Anda di halaman 1dari 42

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

EMULSI
(Re-New by: Risma)

I . PENDAHULUAN
Telah menjadi ketentuan umum bahwa yang disebut sebagai sediaan emulsi adalah menunjukkan pada
sediaan cair yang dimaksudkan untuk penggunaan oral. Emulsi untuk pengunaan eksternal biasanya
langsung disebut sebagai cream (sediaan semisolid), lotion atau liniment (sediaan liquid). (TPC, hal 82).
A. Definisi
FI IV, Hal 6: Emulsi adalah sistem dua fasa, yang salah satu cairannya terdispersi dalam cairan yang
lain, dalam bentuk tetesan kecil.

Ansel, Hal 376:


Emulsi adalah suatu dispersi dimana fasa terdispersi terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat cair yang
terdistribusi ke seluruh pembawa yang tidak bercampur. Dalam batasan emulsi, fasa terdispersi
dianggap sebagai fasa dalam dan medium pendispersi dianggap sebagai fasa luar atau fasa kontinu.

Lachman ( The Theory and Practice of Industrial Pharmacy), Hal 502:


Secara kimia fisika: emulsi adalah campuran yang secara termodinamika tidak stabil, yang terdiri
dari dua cairan yang tidak tercampurkan.
Secara teknologi farmasi: emulsi adalah campuran homogen yang terdiri dari dua cairan yang tidak
tercampurkan yang stabil pada sekitar suhu kamar.

Martin, Hal 486:


Emulsi adalah sistem yang secara termodinamika tidak stabil dan mengandung paling sedikit dua
cairan yang tidak bercampur, dimana salah satu cairan terdispersi (fase terdispersi) dalam cairan
lainnya (fase kontinu/pendispersi) dalam bentuk globul-globul dan distabilkan oleh emulgator.

RPP (Remington Pharmaceutical Practice): hlm : 242 Emulsi adalah sistem heterogen yang terdiri
dari tetesan-tetesan cairan yang terdispersi dalam cairan lain.

RPS (Remington Pharmaceutical Science), Hal 1534:


Emulsi adalah sistem 2 fase yang merupakan gabungan 2 cairan yang tidak tercampurkan, dimana
salah satunya terdispersi dalam cairan lainnya dalam bentuk globul-globul yang mempunyai ukuran
sama atau lebih besar daripada partikel koloidal terbesar.
Emulsi adalah sistem 2 fase dimana satu cairan terdispersi dalam bentuk droplet-droplet kecil dalam
cairan lainnya lainnya. Cairan yang terdispersi disebut fase internal/ diskontinu, sedang medium
pendispersinya disebut fase eksternal/ kontinu.

B. Keuntungan Sediaan
Keuntungan bentuk emulsi (Ansel, Hal 377 & Art of Compounding, Hal 314)
a. Pemakaian oral (biasanya tipe M/A). Tipe M/A bertujuan untuk:
Menutupi rasa minyak yang tidak enak.
Lebih mudah dicerna dan diabsorpsi karena ukuran minyak diperkecil.
Meningkatkan efikasi minyak mineral sebagai katalisator bila diberikan dalam emulsi (minyak
mineral sebagai katartik).
Ketersediaan hayati lebih baik karena sudah dalam bentuk terlarut. (mudah diabsorpsi ukuran
partikel minyak kecil).
b. Memperbaiki penampilan sediaan karena merupakan campuran yang homogen secara visual.
c. Meningkatkan stabilitas obat yang lebih mudah terhidrolisa dalam air.
d. Pembuatan sediaan yang depoterapi (RPS)
Penetrasi dan absorpsi dapat dikontrol
Kerja emulsi lebih lama

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

e. Tujuan khusus : Radiopaque emmuls (X Ray)


Pemakaian pada kulit sebagai obat luar. Tipe emulsi yang digunakan adalah M/A atau A/M
tergantung pada berbagai faktor:
Sifat terapeutik zat yang akan dimasukan dalam emulsi.
Keinginan untuk mendapatkan efek pelembut (emolient).
Keadaan permukaan kulit.
Catatan:
Zat obat yang mengiritasi kulit umumnya akan kurang mengiritasi kulit jika pada fasa luar yang
langsung kontak dengan kulit.
Pada kulit yang tidak luka, emulsi A/M biasanya dapat dipakai lebih rata karena kulit akan
dilapisi oleh suatu lapisan sebum.
Jika akan membuat preparat yang mudah tercuci air dipilih M/A.
Absorpsi melalui kulit (perkutan) bila ditambah dengan mengurangi ukuran partikel dari fasa
dalam.
C. Tipe Emulsi
Berdasarkan fasa terdispersinya emulsi terbagi (Art of Compounding, hal 31 5):
a. Emulsi minyak dlm air (M/A atau O/W): fasa minyak terdispersi dlm fasa air.
b. Emulsi air dlm minyak (A/M atau W/O): fasa air terdispersi dlm fasa minyak.
Multiple emultion adalah: jika sebagai emulgator digunakan surfaktan dapat terjadi emulsi dengan sistem
kompleks, dimana sistem tersebut mirip jenis emulsi A/M atau M/A/M.
Dual emulsian adalah: emulsi yang strukturnya tidak dapat dikenali karena fasa air dan fasa minyak
sangat homogen.
Mikroemulsion (emulsi miselar/micelles) adalah: umumnya dengan ukuran globul kurang dari 0,15
mikron dan berpenampilan transparan (umumnya berpenampilan seperti susu).

Ukuran Globul Emulsi


TPC, hal 82 : 0,1 mikrometer - 100 mikrometer
Martin 487
: 0,1 10 mikrometer;
meskipun demikian ukuran < 0,01 dan > 100 mikrometer juga ada untuk
sediaan tertentu.
Microemulsion
TPC, hal 82
: 0,1 mikrometer
Martin, hal 495 : 10-200 nm
Penentuan Tipe Emulsi (TPC, 89)
Ada 7 cara penentuan tipe emulsi :
1. Uji Kobal Klorida (CoCl)
Basahi kertas saring dengan larutan kobal klorida dan biarkan kering. Untuk emulsi minyak
dalam air akan terjadi perubahan dari biru ke merah muda. Uji ini tidak dapat dipakai pada
emulsi yang tidak stabil atau adanya elektrolit. (+ Lachman dysp, hal 201)
2. Uji Konduktivitas
Emulsi diuji terhadap penghantaran listrik. Emulsi M/A dapat menghantarkan arus listrik,
sedangkan emulsi A/M tidak dapat menghantarkan arus listrik. Uji ini dapat memberikan hasil
palsu pada emulsi M/A non ionik.
3. Uji Pengenceran
Hanya dapat digunakan untuk menguji emulsi cair saja. (Lachman dysp hal 201). Emulsi M/A
dapat diencerkan dengan pelarut aqueous (dapat terlarut dalam pelarut aqueous), sedangkan
emulsi A/M tidak dapat diencerkan dengan pelarut aqueous. Pengujian ini harus dilakukan
dengan hati-hati karena inversi fasa dapat terjadi.
4. Uji Arah Creaming
Uji ini dapat dilakukan apabila densiti dari fasa air dan fasa minyak telah diketahui. Emulsi
A/M akan terjadi creaming pada arah ke bawah (karena biasanya minyak mempunyai densitas

yang lebih rendah dari air). Emulsi M/A akan terjadi creaming pada arah ke atas.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

5.

6.
7.

LIKUIDA

Uji Pewarnaan
Emulsi M/A : jika dicampur dengan pewarna larut air (mis. Amaranth) lalu dilihat di bawah
mikroskop, maka akan fasa kontinunya (fasa pendispersinya) akan terlihat berwarna. Emulsi
A/M : jika dicampur dengan pewarna larut minyak (mis. Sudan III) lalu dilihat di bawah
mikroskop, maka fasa kontinu/fasa pendispersinya akan terlihat berwarna. Pengujian ini dapat
memberikan hasil palsu jika terdapat emulgator ionik. (+ Lachman dysp, hal 201)
Uji Kertas Saring
M/A : akan menyebar dengan cepat ketika setitik emulsi M/A diletakkan dalam kertas saring.
Sebaiknya tidak digunakan untuk cream yang terlalu kental .
Uji Fluoresensi
Setitik sample emulsi yang akan diuji dipaparkan pada sinar UV dan dilihat di bawah
mikroskop. Karena kebanyakan minyak berfluoresensi di bawah lampu UV, maka emulsi A/M
menunjukkan fluoresensi pada fase kontinunya dan emulsi M/A berfluoresensi hanya pada
globulnya saja.

D. Stabilitas Sediaan Emulsi


Emulsi dikatakan stabil jika: (TPC, hal 82)
Tidak ada perubahan yang berarti dalam ukuran partikel atau distribusi partikel dari globul fasa
dalam selama life time produk.
Distribusi globul yang teremulsi adalah homogen.
Memiliki aliran tiksotropik (mudah mengalir atau tersebar tetapi memiliki viskositas yang tinggi
untuk meningkatkan stabilitas fisiknya)
Emulsi dikatakan stabil jika tidak terjadi koalesen fasa internal, creaming dan perubahan penampilan,
bau, warna, serta sifat fisik yang lain.
1. Flokulasi dan creaming
Martin, Physical Pharmacy, hal 490:
Flokulasi adalah suatu peristiwa terbentuknya kelompok-kelompok globul yang posisinya tidak
beraturan.
Creaming adalah suatu peristiwa terjadinya lapisan-lapisan dengan konsentrasi yang berbeda-beda di
dalam emulsi.
Laju creaming tergantung pd parameter Hukum Stokes (Martin, 479):
2g (1 2) r2
v=
9
V = laju sedimentasi
R = jari -jari droplet
= viskositas cairan

1 = bobot jenis droplet


2 = bobot jenis cairan

:
Jika 1 < 2 maka V menjadi negatif
terjadi creaming. Pada keadaan ini fase pendispersinya
lebih berat daripada fase terdispersi, biasanya ini terjadi di emulsi minyak air.
Jika 1 > 2 terjadi creaming ke bawah pada keadaan ini fase terdispersinya lebih berat daripada fase
pendispersinya, maka globulnya akan kebawah. Biasanya terjadi diemulsi air minyak.
Tambahan :

d2 (s o) g
v=
18o
d = diameter partikel (m)

o = viskositas (poise)

g = gravitasi

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

TPC, hal 83:


Emulsi M/A: creaming terjadi ke arah atas (globul terakumulasi di atas). Emulsi A/M: creaming
terjadi ke arah bawah (globul terakumulasi di bawah). Ketidakstabilan ini dapat terdispersi merata
kembali dengan pengocokkan.
Teknik untuk mencegah creaming:
Reduksi ukuran partikel.
Pada penurunan ukuran partikel hingga di bawah 2-5 mikrometer pada suhu kamar akan terjadi
efek Gerak Brown yang cukup mempengaruhi stabilitas di mana creaming akan terjadi lebih
lambat daripada yang diprediksi sesuai dengan Hukum Stokes. (Martin, hal 491)
Peningkatan viskositas, dengan cara:
homogenisasi
meningkatkan konsentrasi fasa terdispersi
menambah emulgator
menambah thickening agent atau viscocity improver

2. Coalesence dan breaking (Martin, Physical Pharmacy, hal 491)


Coalecence merupakan proses bergabungnya droplet yang akan diikuti dengan breaking yaitu
pemisahan fasa terdispersi dari fasa kontinu. Prosesnya irreversibel karena lapisan emulgator yang
mengelilingi cairan sudah tidak ada.

3. Inversi fasa (TPC, hal 83)


Inversi fasa adalah proses perubahan, dimana fasa terdispersi berubah fungsi menjadi medium
pendispersi dan sebaliknya. Penyebab ketidakstabilan ini adalah:
Adanya perubahan suhu
Adanya penambahan bahan yang mengubah kelarutan emulgator
Pembuatan emulsi menggunakan peralatan yang kotor
Dibuat dengan prosedur pencampuran yang tidak sesuai
Perubahan komposisi fase terdispersi dan fase pendispersi. Fase terdispersi > 74% dapat
mengakibatkan inversi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas emulsi:
a. Ukuran partikel.
b. Perbedaan bobot jenis kedua fasa.
c. Viskositas fasa kontinu.
d. Muatan partikel (berkaitan dengan teori DLVO).
e. Sifat efektivitas dan jumlah emulgator yang digunakan.
f. Kondisi penyimpanan: suhu (dengan berubahnya suhu, emulgator rusak emulsi rusak), ada/tidaknya
agitasi dan vibrasi.
g. Penguapan atau pengenceran selama penyimpanan.
h. Adanya kontaminasi dan pertumbuhan mikroorganisme (bakteri akan menghasilkan produkproduk
yang akan bisa merusak emulsi).
Bukti-bukti ketidakstabilan emulsi:
a. Fasa internal cenderung membentuk agregat.
b. Globul yang besar (agregat) naik ke permukaan atau turun ke dasar dan membentuk lapisan yang
tebal (koalesensi).
Faktor-faktor yang sedapat mungkin dihindari dalam upaya mempertahankan kestabilan emulsi adalah:
a. Cahaya.
b. Suhu yang ekstrim menyebabkan emulsi menjadi kasar dan kadang-kadang breaking.
c. Oksidasi dan hidrolisis menyebabkan minyak menjadi tengik.
d. Pembekuan dan pengenceran emulsi menjadi kasar dan kadang-kadang breaking.
E. HLB (Hidrophyl-Lipophyl-Balance)
HLB adalah karakteristik (ukuran) surfaktan yang menunjukkan keseimbangan bagian hidrofil dan

lipofil. Harga HLB makin besar berarti surfaktan makin bersifat hidrofil. Apabila surfaktan

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

dimasukkan ke dalam sistem minyak-air, maka gugus polar (hidrofil) akan terarah ke fasa air sedangkan
gugus nonpolar (lipofil) terarah ke fasa minyak.
Perhitungan HLB surfaktan:
a. Cara griffin
Untuk surfaktan yang merupakan ester polialkohol dengan asam lemak:

S
HLB = 20

1
A

Dimana,

S = angka penyabunan ester


A = angka keasaman asam lemak
Untuk surfaktan yang esternya sukar disabunkan (S sukar ditentukan):
HLB = E + P
Dimana, E = % b/b gugus etilen oksid
P = % b/b gugus polialkohol
Untuk surfaktan yang bagian hidrofilnya hanya terdiri dari gugus etilen oksida:
E
HLB =
S
Cara Griffin tidak berlaku untuk:
Surfaktan nonionik yang mempunyai gugus propilen oksida serta unsur N dan S.
Surfaktan anionik.
b. Cara kasar
Cara: surfaktan dimasukkan ke dalam air dan dikocok. (Lachman hlm. 515 th 1986).
c. Cara Moore dan Bell
Untuk surfaktan tipe nonionik:
H

E=
L
Dimana, H/L = HLB
Eo = etilen oksida dalam molekul.
Penentuan HLB butuh minyak didapat dari percobaan. Caranya:
Dibuat satu seri emulsi (HLB 4-13) dengan formula sederhana, misal:
R/ Minyak
20%
Emulgator 3%
Air ad
100%
Emulsi yang sudah jadi dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi yang ditempeli kertas grafik.
Tinggi endapan yang terj adi diukur.
Setelah diperoleh HLB pada emulsi yang stabil, ulangi percobaan pada range yang lebih kecil,
misal HLB 9 stabil, maka dibuat range: 8 ; 8,25 ; 8,5
Pada pembuatan emulsi emulgator yang digunakan harus memiliki HLB yang sama dengan HLB
butuh minyak. Umumnya dipakai kombinasi 2 emulgator dengan harga HLB rendah dan HLB tinggi.
(HLB butuh minyak ada diantara 2 emulgator yang akan dipakai). Kombinasi 2 emulgator akan
memberikan hasil yang lebih baik karena dapat terbentuk film yang lebih rapat serta diperoleh harga
HLB yang sama dengan HLB butuh minyak.
Perhitungan: misal R/ Minyak

20%
HLB = 7 (misal)
Emulgator
3%
Air ad
100%
Emulgator yang dipakai: Tween 80
HLB = 1
Span 80
HLB = 4,3
Misal, Tween 80 = X, maka Span 80 = (3 X)
Jadi:
16 x x + 4,3 (3 x) = 7 x 3

x = 0,692

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Maka : Tween 80 = 0,692 Span 80 = 2,308Emulsi steril (Diktat Kuliah Teknologi Sediaan Steril, hal
169)
Pemakaian bentuk ini jarang, karena sangat sukar membuat sediaan emulsi parenteral stabil dengan
diameter < 1m, agar tak terjadi emboli pada aliran darah.
Umumnya sediaan parenteral berbentuk emulsi ditujukan untuk:
a. Sediaan emulsi untuk mencegah alergi, berupa emulsi A/M diberikan secara subkutan.
b. Sediaan emulsi lepas lambat, diberikan secara intramuskular, berupa emulsi M/A.
c. Sediaan emulsi untuk menambah makanan, berupa emulsi M/A, diberikan secara intravena.
Keterbatasan sediaan parenteral bentuk emulsi yaitu:
a. Pemilihan stabilisator dan zat pengemulsi sangat terbatas.
b. Lebih besar kemungkinan terjadi reaksi pirogen dan hemolisa.

I I . FORMULA
Sebelum menyusun formula harus diketahui dahulu:
a. Sifat-sifat fisika dan kimia zat berkhasiat.
b. Penggunaan emulsi (obat luar atau obat dalam).
c. Tipe emulsi (M/A atau A/M).
d. Konsistensi emulsi.
Formula umum sediaan emulsi:
a. Zat aktif
Harus memperhatikan:
Sifat fisika (kelarutan, titik leleh, sifat aktif permukaan,pH).
Sifat kimia (antaraksi kimia).
Stabilita (cahaya, panas, oksidasi-reduksi, hidrolisa).
b. Pembawa (minyak dan air)
Pemilihan fase minyak tergantung pada pertimbangan:
Jenis minyak: minyal alam/sintetik
Konsistensi minyak: encer/padat
Rasa
c. Emulgator
Formula emulsi oral/internal:
a. Zat aktif
b. Pembawa (air dan minyak)
c. Emulgator
d. Pengawet
e. Bahan pembantu: Antioksidan
Pemanis
Flavor
Pewarna
Formula emulsi parenteral:
a. Zat aktif
b. Pembawa (air dan minyak)
c. Emulgator
d. Pengawet
e. Antioksidan

Formula emulsi topikal/eksternal:


a. Zat aktif
b. Pembawa (air dan minyak)
c. Emulgator
d. Pengawet
e. Bahan pembantu: Antioksidan
Emolient
Pewangi
Pewarna

d.
e.

Zat pengawet
Bahan pembantu sesuai kebutuhan: antioksidan, pemanis, pewangi, pewarna, dapar, anticaplocking,
anti busa, dll.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

A. Bahan Pembantu
Hal yang perlu diperhatikan dalam penambahan bahan pembantu:
Elektrolit: penambahan elektrolit akan menurunkan potensial zeta sehingga emulsi tidak stabil.
Zat bersifat asam: penambahan zat bersifat asam harus diperhatikan karena dapat menyebabkan
emulsi menjadi pecah.
Penambahan zat yang menyebabkan perubahan emulgator dapat menyebabkan terjadinya inversi
fasa. Contoh: emulsi M/A yang distabilkan dengan emulgator natrium stearat akan berubah menjadi
emulsi A/M bila ditambah CaCl2.
Emulgator: konsentrasi emulgator yang tidak sesuai akan mempengaruhi kestabilan emulsi. Pilih
emulgator yang sesuai dengan tujuan pemakaian emulsi dan toksisitasnya.
Pengawet: pada pembuatan emulsi perlu ditambahkan pengawet untuk mencegah pertumbuhan
mikroba yang hidup dalam fase air dan yang dapat menyebabkan kerusakan atau penguraian
emulgator alam atau minyak alam sehingga emulsi pecah. Beberapa bahan pembantu yang akan
diuraikan lebih lanjut adalah:
1. Emulgator
2. Pengawet
3. Anti oksidan
4. Flavor atau pemanis
1.
Emulgator
Untuk mencegah penggabungan kembali globul-globul diperlukan suatu zat yang dapat membentuk
lapisan film diantara globul-globul tersebut sehingga proses penggabungan menjadi terhalang, zat
tersebut adalah zat pengemulsi (emulgator).
Emulgator yang dipilih harus memenuhi persyaratan:
a. Dapat tercampurkan dengan bahan formulatif lain.
b. Tidak mengganggu stabilitas atau efikasi dari zat terapetik.
c. Harus stabil.
d. Harus tidak toksik pada penggunaan yang dimaksud jumlahnya.
e. Harus berbau, berasa, dan berwarna lemah.
Dasar pemilihan dalam menggunakan zat pengemulsi :
(Lachman, The Theory and Practice of Industrial Pharmacy, 1970, hlm. 469)
a. Toksisitas yang mungkin timbul bila dipaparkan.
b. OTT kimia.
c. Harga
d. Tipe emulsi yang diinginkan
e. Stabilitas (shelf life yang diinginkan)
f. Tujuan penggunaan / rute pemberian.
Emulgator dapat dibedakan berdasarkan Mekanisme kerja dan sumbernya.
a. Berdasarkan mekanisme kerjanya:
i. Golongan surfaktan
Memiliki mekanisme kerja menurunkan tegangan permukaan/antar permukaan minyak-air serta
membentuk lapisan film monomolekuler ada permukaan globul fase terdispersi. Film yang
terbentuk idealnyabersifat fleksibel (lentur), sehingga tahan benturan dan mudah kembali ke
keadaan semula bila terjadi benturan. Surfaktan juga membentuk lapisan film yang bermuatan
yang dapat menimbulkan gaya tolak-menolak antara sesama globul.
Jenis-jenis surfaktan:
Berdasarkan Jenis surfaktan
Secara kimiawi surfaktan terdiri dari gugus hidrofilik dan lipofilik dengan bagian lipofilik
dari molekul menyebabkan aktivitas permukaan dari molekul tersebut. (Ansel text book, hal
243)
- Surfaktan Anionik
Gugus lipofilik
: negatif
Contoh
: Na-lauril sulfat, Na-oleat, Na-stearat.

- Surfaktan Kationik
Gugus lipofilik

: positif

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

Contoh
- Surfaktan Non Ionik
Gugus lipofilik
Contoh
- Surfaktan Amfoterik
Contoh

LIKUIDA

: Zehiran klorida, Setil trimetil amonium bromida.


: non ionik (tidak bermuatan)
: Tween-80, Span-80
: Amonium Kwaterner

Berdasarkan HLB (Hidrophyl-Lipophyl-Balance)

Klasifikasi fungsi surfaktan menurut HLB-nya (Martin, Alfred, Farmasi Fisik, ed.3, vol2,
Jakarta, UI-Press,1993, 941)
HLB
1-3
3-8
7-9
8-16
13-16
16-19

Penggunaan
Anti busa
Emulgator emulsi air dalam minyak
Zat pembasah (wetting agent)
Emulgator emulsi minyak dalam air
Detergen
Solubilizing agent (meningkatkan kelarutan zat)

Klasifikasi fungsi surfaktan menurut HLB-nya (The Pharmaceutical Codex, 12th ed,
London, The Pharmaceutical Press, 1994)
HLB
1-3
4-6
7-9
8-18
13-15
10-18

Penggunaan
Anti busa
Emulgator emulsi air dalam minyak
Zat pembasah (wetting agent)
Emulgator emulsi minyak dalam air
Detergen
Solubilizing agent (meningkatkan kelarutan zat)

Nilai HLB butuh beberapa minyak (Lachman hlm 516 tahun 1986)
Minyak
Cetyl alcohol
Stearyl alcohol
Stearic acid
Lanolin anhydrous
Mineral oil, light and heavy
Cotton seed oil
Pecidatum
Beeswax
Parafin wax
Nb: Castrol oil (Codex,87)

O/W Emulsion (Fluid)


15
14
15
10
12
10
12
12
11
14

W/O Emulsion (Fluid)


8
5
5
4
4
-

Nilai HLB butuh beberapa minyak (Martin, 1993, Physical Pharmacy, hal.372):

Minyak
Cottonseed oil
Petrolatum
Beeswax
Paraffin wax
Mineral oil
Methyl silicone
Lanolin, anhydrous
Carnauba wax
Lauryl alcohol

o/w emulsion
6-7
8
9-11
10
10-12
11
12-14
12-14
14

w/o emulsion
5
4
5-6
8
-

Castor oil
Kerosene
Cetyl alcohol
Stearyl alcohol
Carbon tetrachloride
Lauric acid
Oleic acid
Stearic acid

14
12-14
13-16
15-16
16
16
17
17

Martin, 1993, hal. 490:


In general, o/w emulsion are formed when the HLB of emulsifier is within the range about 9
to 12, and w/o emulsions are formed when the range is about 3 to 6.

RPS, 21st ed., hal. 760-761:


HLB value
1-3
7-10
13-20
13-15
8-16
3-8

Function
Antifoaming agent
Wetting agent
Solubilizers
Detergent
o/w emulsion
w/o emulsion

Nilai HLB beberapa emulgator: (Modul Praktikum Farmasi Fisika, hlm. 53-54)
Emulgator
Parsial ester asam lemak dari sorbitan:
Sorbitan mono laurat (Span 20)
Sorbitan mono palmitat (Span 40)
Sorbitan mono stearat (Span 60)
Sorbitan tri stearat (Span 65)
Sorbitan mono oleat (Span 80)
Sorbitan tri oleat (Span 85)
Parsial ester asam lemak dari polioksi etilensorbitan:
Polioksietilen sorbitan (20) mono laurat (Tween 20)
Polioksietilen sorbitan (4) mono laurat (Tween 21)
Polioksietilen sorbitan (20) mono palmitat (Tween 40)
Polioksietilen sorbitan (20) mono stearat (Tween 60)
Polioksietilen sorbitan (4) mono oleat (Tween 61)
Polioksietilen sorbitan tri stearat (Tween 65)

HLB
8,6
6,7
4,7
2,1
4,3
1,8
16,7
13,3
15,6
14,9
9,6
10,5

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

Polioksietilen sorbitan (20) mono oleat (Tween 80)


Polioksietilen sorbitan (5) mono oleat (Tween 81)
Polioksietilen sorbitan (20) tri oleat (Tween 85)
Natrium lauril sulfat
Natrium oleat
Asam oleat
Setostearil alkohol
Eter alkohol lemak dari polioksietilen:
Polioksietilen eter laurat (Brij 30)
Polioksietilen eter laurat (Brij 35)
Polioksietilen eter setil (Brij 52)
Polioksietilen eter setil (Brij 56)
Polioksietilen eter setil (Brij 58)
Polioksietilen eter stearat (Brij 72)
Polioksietilen eter stearat (Brij 76)
Polioksietilen eter stearat (Brij 78)
Polioksietilen eter oleat (Brij 92)
Polioksietilen eter oleat (Brij 96)
Polioksietilen eter oleat (Brij 98)
Sorbitan seskui oleat (Arlacel 83)
Gliseril mono stearat
Ester asam lemak dari polioksietilen:
Polioksietilen eter stearat (Myrij 45)
Polioksietilen eter stearat (Myrij 49)
Polioksietilen eter stearat (Myrij 51)
Polioksietilen eter stearat (Myrij 52)
Polioksietilen eter stearat (Myrij 53)
Polioksietilen eter stearat (Myrij 59)
Polioksietilen eter -400-mono-stearat (Cremophor AP padat)
Polioksietilen eter risinoleat (remophor EL)
Nb: Trietanol oleat (Martin,942)

LIKUIDA

15,0
10,0
11,0
40,0
18,0
1,0
1,2
9,7
16,9
5,3
12,9
15,7
4,9
12,4
15,3
4,9
12,4
15,3
3,7
3,8
11,1
15,0
16,0
16,9
17,9
18,8
11,6
13,3
12

ii. Golongan koloid hidrofil


Emulgator ini membentuk lapisan film multimolekuler disekeliling globul yang terdispersi.
Lapisan film yang dibentuk bersifat rigid dan kuat. Selain itu golongan ini juga bersifat
mengembang dalam air sehingga dapat meningkatkan viskositas sediaan yang sekaligus akan
meningkatkan kestabilan emulsi.
Contoh : acasia, tragakan, CMC, tylosa.

iii. Golongan zat terbagi halus


Emulgator ini membentuk lapisan film mono dan multimolekuler, oleh adanya partikel halus
yang teradsorpsi pada antar permukaan kedua fasa.
Contoh: bentonit, veegum.
Codex, 88: Veegum dapat mengabsorbsi air sehingga dapat membentuk gel. Pada konsentrasi 25%, veegum dapat menjadi emulgator sistem M/A. Bentonit dapat digunakan sebagai stabilisator
emulsi M/A dan A/M.
Lapisan film yang mengelilingi globul fase terdispersi membantu mencegah pengelompokkan
globul dan idealnya lapisan tersebut bersifat fleksibel sehingga dapat dibentuk kembali denagn
cepat jika terganggu atau sedikit pecah.
b. Berdasarkan sumbernya :
i. Bahan alam (Natural Product)
Polisakarida: acasia (gom arab), tragakan, Na-alginat, Starch/amilum, caragen, pektin dan
agar.
Senyawa yang mengandung sterol: Beeswax, Wool-fat.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Gom Arab
Keuntungan: Penampilan bagus, rasa enak, relatif stabil pada pH 2-11.
Kerugian : Mahal, pada penyimpanan musilago gom arab akan bersifat asam karena adanya
aktifitas enzim yaitu enzim oksidase yang akan menguraikan zat aktif yang sensitif terhadap
oksidase.
Penggunaan:
a. Bentuk serbuk
1 gr serbuk dalam 4 mL minyak biasa
1 gr serbuk dalam 2 mL minyak atsiri
Menghasilkan emulsi yang lebih stabil
b. Bentuk musilago
1 gr musilago dalam 2 mL (umum)

Tragakan
Jarang digunakan sendiri karena membentuk emulsi yang keruh karena globul minyak
akan besar.
Menyebabkan meningkatnya viskositas,sehingga menjadi lebih stabil
Digunakan perbandingan 1 : 50 dengan minyak (lebih murah dari gom arab).
Penambahan alkali, natrium borat, alkohol dan larutan garam alkali harus ditambahkan
secara hati-hati, untuk mencegah cracking.
Biasanya emulgator golongan karbohidrat membentuk emulsi minyak dalam air.
Emulsi stabil dalam asam, netral dan tidak dalam alkali.
Penggunaan utama sebagai pengental dengan akasia dengan perbandingan 0,1 gr
tragakan untuk 1 gr akasia.

Agar
Terkadang dipakai sebagai emulgator untuk minyak mineral
Sebagai pengental dan biasa digunakan bersama akasia untuk meningkatkan stabilitas
dan mencegah creaming
Agar musilago disiapkan dengan melarutkan agar pada air mendidih.
Caranya :
1. emulsi utama yang mengandung minyak mineral, akasia dibentuk dahulu
2. dengan stirring konstan, 2 % agar musilago ditambah untuk membentuk 30-50% dari
volume akhir.

Male Extract
Terutama untuk emulsi cod-liver oil
Minyak ditambah perlahan-lahan dengan triturasi konstan, untuk membentuk ekstrak
semisolid pada mortar hangat.
Akan menghasilkan emulsi bewarna coklat yang bisa terpisah menjadi lapisan tapi tidak
menjadi crack bila minyak telah diemulsikan secara baik.

ii. Polisakarida Semisintetik


Contoh: Metyl selulosa, Na-Carboxymethylselulosa (CMC).
Metyl Selulosa
Terutama digunakan dan efektif untuk penstabil emulsi minyak dalam air.
pH optimum 3-11.
Bersifat nonionik.
Larut baik dalam air dingin.
Terkoagulasi oleh elektrolit dengan konsentrasi tinggi.
CMC
Viskositas sangat tinggi sehinggga digunakan untuk penstabil emulsi.
Konsentrasi yang digunakan 0,5-1%.
pH 5-10.

Stabil pada air dingin.


iii. Emulgator sintetik : Surfaktan, sabun &alkali (kerugian : inkompatibel terhadap asam), alkohol
(cetyl alkohol, glyceril), carbowaxes (PEG), lesitin (fosfolipid)

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

2. Pengawet
Pengawet diperlukan dalam sediaan emulsi karena:
Fasa air merupakan media tumbuh yang baik bagi bakteri/mikroorganisme
Pengawet terutama diperlukan pada saat sediaan M/A, karena air merupakan fasa yang jumlahnya
lebih besar (fasa eksternal).
Semua emulsi memerlukan bahan antimikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan
mikroorganisme.(FI IV hal 7)
Penggunaan emulgator alam yang mudah terurai oleh mikroorganisme.
Kontaminasi dari mikroba selama proses, baik dari udara, peralatan, maupun dari personel.
Menghindari perubahan yang tidak diinginkan dari sediaan emulsi (seperti perubahan warna,
terbentuknya gas dan bau, perubahan sifat rheologi, pecah <Martin, 1161>) yang disebabkan oleh
organisme (stabiltas) <Martin, hal 494>
Bakteri dapat menguraikan emulgator non ionik dan anionik, gliserin, gum tumbuhan sebagai
pengental (Martin, 1161)
Persyaratan pengawet (codex,300)
Larut dalam kedua fasa (terutama dalam fasa air).
Tercampurkan dengan komponen lain dalam sediaan dan material pengemas (wadah)
Efektif dalam konsentrasi rendah, stabil pada rentang pH dan suhu yang luas.
Tidak toksik dan tidak merangsang/tidak mengiritasi.
Tidak menimbulkan rasa, warna, dan bau yang tidak enak/tidak sesuai.
Tambahan dari Martin, 1161
Pengawet terbagi lebih banyak dalam fase air
Pengawet harus dalam keadaan tidak terionisasi agar dapat berpenetrasi ke dalam membran bakteri
Tidak terikat oleh komponen lain karena pengawet efektif dalam bentuk bebas
Pemilihan pengawet tergantung (codex, 300)
Rute, dosis, dan frekuensi pemberian
Sifat fisika dan kimia pengawet, zat aktif, dan bahan pembantu lain, serta material
pengemas(wadah)
Adanya kemungkinan antaraksi antar pengawet dan komponen lain, terutama surfaktan, menyebabkan
harus dilakukan pemilihan konsentrasi yang tepat. Keefektifan pengawet lebih ditentukan dari
konsentrasi pengawet yang tidak terikat/bebas yang terdapat dalam fasa air.
Contoh pengawet:
Menurut FI IV, hal 7, pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah: metil-, etil-, propil-, dan butil
paraben, asam benzoat, dan senyawa amonium quartener.
a. Asam organik
Asam benzoat, digunakan pada pH 5, konsentrasi 0,1% digunakan CHCl 3 untuk emulsi parafin
cair.
Asam sorbat, digunakan pada pH 6,5, dapat mengiritasi kulit dan kurang efektif, konsentrasi
0,1 0,2%. (Modul Praktikum Teknologi Sediaan Likuida dan Semisolid, revisi 2003: Asam
sorbat digunakan dalam sediaan yang mengandung surfaktan non ionik)
b. Ester dari asam p-hidroksi benzoat
Stabil, inert, tidak toksik, tidak berasa, efektif pada pH 7 9, terdispersi pada kedua fasa, konsentrasi
0,1 0,2%. Contoh metil paraben, etil paraben, propil paraben, butil paraben, dan garam-garam
natriumnya.
Modul Praktikum Teknologi Sediaan Likuida dan Semisolid, revisi 2003:
Metil-p-hidroksibenzoat dengan konsentrasi 0,1-0,2% untuk tipe M/A. Untuk bentuk ester yang lebih
tinggi (propil dan butil) digunakan konsentrasi mendekati larutan jenuhnya. Aktivitas pengawet
berkurang dengan adanya surfaktan non ionik atau di dalam sediaan krim dengan konsentrasi minyak
tinggi. Dapat diatasi dengan meningkatkan konsentrasi pengawet. Kombinasi pengawet dapat
digunakan untuk meningkatkan kelarutan pengawet, konsentrasi total meningkat, dan efektif
terhadap range mikroorganisme yang lebih besar. Kombinasi metil paraben dan propil paraben yaitu

dengan rasio 2:1 (konsentrasi 0,06% dan 0,03%).

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

c. Senyawa amonium quarterner


Konsentrasi 0,002 0,01%. Contoh: benzal konium klorida, setilpiriinium klorida, dll.

d. Senyawa merkuri organik


Konsentrasi 0,004 0,01%
e. Pengawet lainnya (Modul Praktikum Teknologi Sediaan Likuida dan Semisolid, revisi 2003)
Fenol 0,5% dan klorokresol 0,1%. Keduanya digunakan juga pada pembuatan krim.
Catatan:
Untuk setiap penggunaan 1% emulgator non ionik sangat menguntungkan bila dilakukan penambahan
0,01% nipagin (metil paraben) dan 0,05% nipasol (propil paraben).
3. Antioksidan
Antioksidan diperlukan terutama untuk mencegah terjadinya reaksi oksidasi bahan berkhasiat dan
oksidasi fese minyak yang menimbulkan ketengikan dari fase. minyak (konsentrasi 0,01-0,1%). Syarat
antioksidan:
Dapat segera terdispersi pada sediaan.
Syarat lain sama dengan pengawet.
Contoh: BHT (butil hidroksi toluat), BHA (butil hidroksi anisol), tokoferol/vit E, dodesil galat, alkil
galate, natrium metabisulfit.
Modul Praktikum Teknologi Sediaan Likuida dan Semisolid, revisi 2003:
Untuk ion logam berat yang dapat mengkatalisasi terjadinya reaksi oksidasi, dapat diikat dengan
sequestering agent seperti asam sitrat dan asam tartrat.
Berikut konsentrasi yang dapat digunakan untuk beberapa antioksidan (Codex, 291):
Kelarutan
Antioksidan
Antioksidan sejati
-tokoferol asetat

Air

Alko Minyak
hol

Lainnya

C
(%)
s.d 0,001

Keterangan tambahan

insol

Sol

sol

Hingga 10 ppm
sebaiknya
ditambahkan pada
parafin likuid

d- tokoferol
(natural)

insol

Sol

Sol

sol dlm aseton,


kloroform. Eter

BHA

insol

Sol

Sol

Sol dlm arakis,


minyak,
kloroform, eter
propilen glikol

0,0050,02

ADI=max 0,5mg/kg
BB. Memiliki
aktivitas antimikroba.
Cahaya dan logam
dapat merubah warna
dan mengurangi
aktivitas antioksidan.
Digunakan untuk
memperlambat dan
mencegah oksidasi
lemak dan minyak
serta mencegah
menurunnya aktivitas
vitamin larut minyak.

BHT

insol

Sol

Sol

Sol dlm
kloroform,
eter, parafin
likuid

0,0050,02

ADI=max 125g/kg
BB.Memiliki aktivitas
antimikroba.

0,05-0,05 ADI=max 2mg/kg


BB. Stabil terhadap
panas dan basa.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Propil galat

sl sol

Sol

Sl sol

Sol dlm eter,


propilen glikol

0,0010,15

Agen pereduksi
Asam askorbat

Sol

Sol

Insol

Sol dlm
gliserol,
propilan glikol

0,01-0,5

Aseton sodium
bisulfit

ADI=max 2,5 mg/kg


BB.Mencegah
ketengikan minyal
atau lemak.
Tidak stabil dalam
larutan, stabilitas
maksimum dari
larutan pada pH
5,4.Oksidasi
dipercepat dengan
cahaya, panas dan
dikatalisasi dengan
besi dan tembaga.

0,2-0,4

Potasium
metabisulfit

Sol

Insol

Sodium metabisulfit

Sol

Sl sol

Sodium thiosulphate

Sol

Insol

Thioglycerol

Sol

Sl sol

Sinergis
antioksidan
Asam sitrat

Sol

Sol

EDTA dan garam

Sl sol

Hydroquinolin sulfat

Sol

Sl sol

Asam fosfat

Sl sol

Sl sol

Natrium sitrat

Sol

Insol

Asam tartrat

sol

sol

Insol

Sol dlm
gliserol

0,01-1,0

0,1-1,0

0,0050,01

ADI=max 700 g /kg


BB.Inkompatibel
dengan komponen
simpatomimetik dan
kloramfenikol.
Stabilitas berkurang
dengan adanya
glukosa. Memiliki
aktivitas animikroba.
Terdekomposisi di
udara.
ADI=max 700 g /kg
BB.Tidak stabil dalam
larutan.

Inkompatibel dengan
potasium tartrat, basa,
asetat, dan sulfit.

0,002-0,1 Inkompatibel dengan


ion logam polivalen,
tembaga, besi, dan
mangan.

0,0050,01
0,01-0,02

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

4. Flavor/Pemanis
Pemanis perlu ditambahkan untuk menutup bau yang tidak enak, oleh karena itu dipilih bau yang tahan
lama tetapi tidak terlalu merubah fasa sediaan. Flavour ditambahklan pada fasa luar setelah sediaan jadi.
Contoh: sorbitol (pemanis fasa air), vanilin (fase air).
B. Permasalahan Yang Dihadapi Dalam Penyusunan Formula
1. Pemilihan emulgator
2. Mendapatkan konsistensi yang tepat
Konsistensi suatu sediaan emulsi kadang-kadang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Untuk meningkatkan konsistensi emulsi cair, yaitu:
Meningkatkan kekentalan fasa luar.
Meningkatkan persentase volume fasa terdispersi.
Memperkecil ukuran partikel, meningkatkan homogenitasnya.
Menambah jumlah emulgator.
Menambah pengental atau emulagator hidrofob.
3. Persiapan mengatasi kemungkinan terjadinya oksidasi atau reaksi mikrobiologi (pemilihan
antioksidan dan pengawet yang cocok)
4. Cara pembuatan, termasuk alat yang digunakan.
5. Pemilihan wadah

I I I . P E M B U A TA N S E D I A A N E M U L S I
Sebelum membuat sediaan emulsi harus diperhatikan hal-hal berikut ini:
1. Sediaan yang akan dibuat adalah emulsi oral........dengan kekuatan sediaan..
2. Sediaan emulsi akan dikemas dalam botol kaca dengan volume masing-masing botol adalah
3. Jumlah sediaan yang dibuat sebanyak....botol (untuk dikumpulkan + untuk evaluasi). Jadi jumlah
volume emulsi yang dibuat sebanyak = (....botol X volume @ botol)
4. Semua bahan yang diperlukan ditimbang sebanyak yang dibutuhkan.
5. Didihkan air yang akan digunakan sebagai pembawa, dinginkan sebelum digunakan.
6. Lanjutkan sesuai metode pembuatan emulsi yang dipilih.
A. Prosedur pembuatan sediaan diantaranya dijelaskan pada dua pustaka:
1. The art of Compounding, 1957, 9th ed., Hlm 327-329 & Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi,
Howart C. Ansel, ed. 4, 1989
2. RPS, 18th ed., Hlm. 1535-1536
1. Menurut The art of Compounding, 1957, 9th ed., Hlm 327-329 & Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi, Howart C. Ansel, ed. 4, 1989
Ada 3 cara, yaitu:
a. Metode Kontinental (Gom kering)
prosesnya cepat
Membuat emulsi primer/awal/utama terlebih dahulu dengan perbandingan minyak : air :
emulgator = 4 : 2 : 1. Cara membuatnya sbb : Masukkan emulgator/gom dalam mortir,
tambahkan minyak. Aduk hingga tercampur baik. Tambahkan sekaligus air, aduk cepat
hingga terbentuk emulsi utama yang encer, stabil dan mengeluarkan bunyi khas pada
pergerakan alu.
Tambahkan bahan formulatif lain (zat pengawet, penstabil, perasa, dll dilarutkan dahulu
dalam sedikit fase luar baru dicampur dengan emulsi utama).
Zat yang mengganggu stabilitas emulsi ditambahkan terakhir (misalnya elektrolit, garam
logam, alkohol).
Bila semua bahan sudah ditambahkan, emulsi dipindahkan ke gelas ukur dan sisa fase luar
ditambah hingga volume yang diinginkan.
b. Metode Inggris (Gom basah)
prosesnya lama
Cocok untuk membuat emulsi dari minyak-minyak yang sangat kental.

Emulgator (misal CMC, Tilosa, Veegum, Bentonit) sebanyak.... dikembangkan terlebih


dahulu sesuai dengan sifat masing-masing emulgator.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

membuat emulsi primer/awal/utama terlebih dahulu dengan perbandingan minyak : air :


emulgator = 4 : 2 : 1. Cara membuatnya sbb: 1 bagian emulgator/gom dicampur dengan 2
bagian air hingga terbentuk mucilage. Tambahkan minyak sedikit demi sedikit, aduk cepat
dan kekentalan dijaga dengan menambahkan air. Setelah terbentuk emulsi primer, teruskan
pengocokan selama 1-3 menit.
Bahan formulatif lainnya (zat pengawet, perasa, dll) ditambahkan dengan cara dilarutkan
terlebih dahulu ke dalam sedikit fasa luar baru kemudian dicampurkan dengan emulsi
utama.
Zat yang mengganggu stabilitas emulsi ditambahkan terakhir (misalnya elektrolit, garam
logam, alkohol).
Sisa air ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk cepat sampai mencapai volume
yang diinginkan.

c. Metode Botol
Cocok untuk membuat emulsi minyak yang mudah menguap (minyak atsiri) dan mempunyai
viskositas rendah (minyak yang tidak kental karena percikan/semburan dapat dicegah.
Satu bagian emulgator kering dimasukkan dalam botol dan tambahkan 2 bagian minyak
atsiri. Kocok hingga tercampur baik. Kemudian tambahkan 2 bagian air sekaligus, kocok
hingga terbentuk emulsi. Tambahkan fase luar sisa sedikit demi sedikit, kocok setiap
penambahan.
Catatan :
Pengocokan yang tidak teratur lebih baik daripada pengocokan yang teratur.
Penimbangan bahan (terutama air/minyak) harus akurat dan menggunakan wadah yang
kering, demikian juga mortir yang digunakan harus kering.
2. Menurut RPS, 18 th ed., Hlm. 1535-1536, 21 s t ed., hlm. 762

Tujuan dalam membuat emulsi adalah mengurangi ukuran fase internal menjadi droplet-droplet kecil
dan dapat terdispersi dalam fase external. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan
mortir dan stamper atau dengan emulsifier kecepatan tinggi. Penambahan emulgator tidak hanya
untuk tujuan diatas, tetapi juga untuk menstabilkan emulsi.
Emulsi dapat dipersiapkan dengan 4 metoda:
a. Penambahan fase internal kedalam fase eksternal
Jika fase internal air dan fase eksternal minyak.
Larutkan bahan larut air dalam air secukupnya
Larutkan bahan larut minyak dalam minyak
Masukkan fase minyak kedalam fase air sambil diaduk
Masukkan sisa air kedalam emulsi yang telah terbentuk

b. Penambahan fase eksternal kedalam fase internal


Misal: emulsi M/A
Penambahan fase air (fase eksternal) kedalam fase minyak (fase internal) akan membentuk
emulsi A/M, karena fase minyak lebih banyak. Setelah sisa fase air ditambahkan akan terjadi
inversi sehingga terbentuk emulsi M/A. Metoda ini terutama digunakan pada penggunaan
emulgator hidrofilik seperti akasia, tragakan, atau metilselulosa yang awalnya dicampur dengan
fase minyak. Jadi mempengaruhi dispersi tanpa pembasahan.
Teknik dry gum ini merupakan metoda yang cepat untuk pembuatan emulsi dalam jumlah kecil.
Perbandingan minyak: air: gom adalah 4:2:1. Emulsi dapat dicairkan dan ditriturasi dengan air
untuk konsentrasi yang tepat.
Contoh: pembuatan emulsi minyak mineral.

c. Pencampuran 2 fase setelah masing-masing fase dipanaskan


Metoda ini digunakan untuk wax atau bahan lain yang membutuhkan peleburan/ pelelehan dalam
penggunaannya. Metoda ini sering digunakan dalam pembuatan salep, krim.
Emulgator larut minyak, minyak, dan wax dicampur dan dilelehkan bersama
Bahan larut air dilarutkan dalam air dan dipanaskan sampai dengan temperatur sedikit
diatas temperatur fase minyak

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Kemudian campur kedua fase dan stirer hingga dingin


Untuk penampilan yang lebih baik (tapi tidak selalu), fase air dapat ditambahkan ke
campuran fase minyak

d. Penambahan 2 fase secara bergantian ke emulgator


Misal: emulsi M/A
Sebagian fase minyak dimasukkan dan dicampur dalam emulgator larut minyak
Fase air (dalam jumlah yang sama dengan fase minyak) yang mengandung emulgator larut
air ditambahkan kedalam fase minyak. Stirer sampai terbentuk emulsi
Sisa air dan minyak ditambahkan secara bergantian sampai terbentuk produk akhir
Metoda ini cocok pada penggunaan emulgator sabun.
B. Permasalahan Pada Teknik Pembuatan

1. Pemanasan (suhu)
Pada saat fasa minyak dan fasa air akan dicampur, keduanya harus mempunyai suhu yang sama. Hal
ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya fluktuasi suhu yang dapat mengakibatkan terjadinya
pemisahan fasa pada emulsi.
Pada pembentukan emulsi metode dispersi dengan peningkatan suhu, sukar menentukan suhu yang
paling baik untuk proses emulsifikasi. Suhu tinggi akan menyebabkan tegangan permukaan dan
viskositas turun sehingga proses emulsifikasi menjadi lebih mudah. Tetapi kenaikan suhu akan
meningkatkan energi kinetik globul sehingga kemungkinan untuk bertumbukan. Tabrakan antar
globul ini dapat menyebabkan lapisan monolayer molekular menjadi rusak dan menyebabkan
bersatunya globul-globul dan terjadilah koalesensi menjadi lebih besar. Umumnya suhu
pencampuran yang baik 60-70oC.
Pengaruh suhu juga dapat mengakibatkan terjadinya inversi fasa, bila suhu ditingkatkan, kelarutan
surfaktan dalam air berkurang akibatnya misel-misel tersebut pecah dan ukuran-ukuran globulglobul
yang teremulsi mulai meningkat. Kelarutan surfaktan dalam air berkurang dikarenakan putusnya
ikatan hidrogen oleh panas dan adanya elektrolit. Kenaikan suhu yang lebih tinggi lagi
mengakibatkan pemisahan antara fasa minyak, surfaktan dan fasa air.

2. Waktu dan kecepatan pengadukan


Pada proses disrupsi dilakukan pemecahan fase internal sehingga lebih mudah terdispersi dalam fase
pendispersi. Proses ini dilakukan dengan cara pengocokan atau dengan pengadukan mekanik Pada
waktu mula-mula diaduk, globul akan terbentuk. Pada pengadukan selanjutnya yang terlalu lama,
kesempatan dua globul bergabung akan lebih besar dan terjadilah koalesensi karena perubahan
diameter yang semakin kecil akan menghasilkan energi bebas permukaan yang tinggi sehingga
sistem menjadi tidak stabil (W = x A). Oleh karena itu harus dicari waktu pengadukan yang
optimum.
Tambahan : Setelah proses disrupsi adalah proses stabilisasi, yang dilakukan dengan menurunkan
energi bebas permukaan dan memberikan pelindung pada globul dengan zat pengemulsi atau
emulgator.
Pengadukan yang terlalu lama dan kecepatan pengadukan yang terlalu tinggi akan menyebabkan
terjadinya turbulensi. Turbulensi ini dapat menyebabkan ukuran globul yang terdispersi menjadi
tidak rata, dan hal ini akan mempengaruhi penampilan dari emulsi yang dihasilkan. Pengadukan
yang terlalu lama juga akan meningkatakan energi kinteik akibat panas yang ditimbulkan, sehingga
tubrukan antar globul juga dapat meningkat.

3. Peralatan mekanik yang digunakan


Jenis alat yang digunakan akan mempengaruhi diameter globul yang terbentuk. Jika menggunakan
mortir, akan dihasilkan globul berdiameter besar sehingga creaming lebih cepat terjadi. Jika
menggunakan stirer, diameter globul yang dihasilkan cukup kecil, tetapi akan terbentuk busa yang
cukup banyak karena adanya emulgator. Dengan timbulnya busa, udara yang terperangkap dalam
cairan makin banyak. Udara yang terperangkap tersebut dapat menyebabkan :

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

a.
b.
c.
d.

LIKUIDA

Udara memiliki sifat non-polar sehingga cenderung melakukan kontak dengan minyak, sehingga
dapat menjadi "perantara" bagi globul-globul minyak untuk bersatu kembali dan menyebabkan
emulsi tersebut cepat memisah.
Bentuk emulsi yang tidak baik dan tidak homogen akibat adanya adanya gelembunggelembung
udara
Terjadinya reaksi oksidasi untuk zat yang mudah teroksidasi (fasa minyak) sehingga perlu
ditambahkan anti oksidan pada fasa minyak.
Dapat mengakibatkan tumbuhnya mikroorganisme karena dengan adanya air dan udara yang
terperangkap (oksigen) merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Untuk
mennghindari masalah ini dapat digunakan pengawet pada fasa air.

Pembentukan busa dapat dicegah dengan cara pengadukan yang dilakukan pada sistem tertutup atau
sistem vakum tetapi lebih efektif lagi jika dilakukan penambahan antibusa. Anti busa yang banyak
dipakai adalah golongan silikon dan alkohol berantai panjang. Penggunaan zat-zat anti busa pada
umumnya dapat menyebabkan ketidakcampuran secara kimia sehingga penggunaannya sebaiknya
dihindari.
Keuntungan pengadukan dengan menggunakan ultra turax adalah terbentuknya ukuran globul yang
lebih kecil, untuk formula emulsi dengan kadar minyak yang tinggi, dan juga dapat mengurangi
turbulensi dibandingkan stirer. Kerugian penggunaan ultra turax adalah lebih banyaknya udara yang
terperangkap dibandingkan dengan stirer.
4. Viskositas
Meningkatnya viskositas medium pensdispersi meningkatkan pula viskositas sediaan emulsi
secara signifikan, namun ini tidak berlaku untuk emulsi tipe air dalam minyak.
C. Kegagalan Emulsi
Kegagalan emulsi antara lain disebabkan oleh:
a. Pemilihan emulgator yang kurang tepat.
b. Emulgator terurai karena reaksi kimia atau rusak oleh faktor: oksigen, cahaya, elektrolit, suhu
c. Proses pengerjaan tidak tepat.
d. Apabila zat pengemulsi peka terhadap perubahan suhu, adanya perubahan suhu akan
menyebabkan pemisahan fasa, sebaliknya penurunan suhu akan merangsang pembentukan
kristal.
e. Adanya elektrolit dalam jumlah yang tidak tepat.
f. Perbandingan volume antara kedua fasa tidak tepat. Kondisi yang baik untuk fasa terdispersi
antara 40-60%.
g. Ukuran globul yang tidak seragam, sehingga globul globul kecil mengisi ruang ruang
diantara globul yang besar dan karena adanya gaya kohesi yang kuat maka globul globul akan
bergabung menjadi globul yang lebih besar.
h. Penyimpanan tidak sesuai. Kerja oksidasi air terhadap logam-logam meningkat dengan adanya
surfaktan dan ini dapat menyerang logam. Benturan mekanik juga dapat merusak film interaksi
dan akibatnya memecahkan emulsi atau membalikan fasa.
i. Ketengikan minyak.
j. Terjadinya thickening atau menjadi kristal (viskositas meningkat) setelah disimpan Penyebab:
pengembangan emulgator yang tidak maksimal, terlalu banyaknya zat-zat pada fasa eksternal,
malam atau wax, atau zat pengemulsi.
Pembuatan emulsi dengan emulsi cara basah memiliki keuntungan terutama bila yang digunakan
sebagai emulgator adalah bahan yang mengembang seperti kebanyakan koloid hidrofilik karena
pengembangannya akan maksimal (masih dipertanyakan?)

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

I V . E VAL U A S I S E D I A A N E M U L S I
Beberapa evaluasi yang perlu dilakukan terhadap sediaan emulsi adalah (modul praktikum Teknologi
Sediaan Liquid dan Semisolid, revisi 2003, hal 38) :

A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.

pemeriksaan organoleptik
penentuan efektivitas pengawet
penentuan tipe emulsi
penentuan ukuran globul
penentuan sifat aliran dan viskositas sediaan
penentuan berat jenis
penentuan volume terpindahkan
penentuan tinggi sendimentasi
pengujian stabilita dipercepat
pengujian lain yang dipersyaratkan pada monografi bahan aktif

A. Pemeriksan Organoleptik
Secara organoleptik, sediaan emulsi yang disimpan pada temperatur kamar diperiksa warna, bau, dan
rasanya. Selama disimpan pada temperatur kamar tidak boleh terjadi perubahan terhadap bentuk fisik
(warna, rasa, dan bau) sediaan emulsi, yang dapat menyebabkan berkurangnya penampilan dan
penerimaan pasien (acceptabilitas).

B. Penentuan Efektivitas Pengawet


Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan
mikroorganisme. Kesulitan muncul pada pengawetan sistem emulsi, sebagai akibat dari memisahnya
bahan anti mikroba dari fasa air yang sangat memerlukannya, atau terjadinya kompleksasi dengan bahan
pengemulsi yang akan mengurangi efektivitas. Oleh karena itu, efektivitas sistem pengawetan harus
selalu diuji pada sediaan akhir. (FI IV, hal 7)
Efektivitas pengawet pada sediaan emulsi dilakukan sesuai dengan ketentuan pada Uji Efektivitas
Pengawet Antimikroba <61> pada FI IV, hal 854-855.
Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba (FI IV, hal 854-855)
Pengawet antimikroba adalah zat yang ditambahkan pada sediaan obat untuk melindungi sediaan
terhadap kontaminasi mikroba.
Pengawet digunakan terutama pada wadah dosis ganda untuk menghambat pertumbuhan mikroba yang
dapat masuk secara tidak sengaja selama atau setelah proses produksi. Zat antimikroba tidak boleh
digunakan semata-mata untuk menurunkan jumlah mikroba viabel sebagai pengganti cara produksi yang
baik. Bagaimanapun juga dapat timbul keadaan yang memerlukan penggunaan pengawet untuk menekan
perkembangbiakan mikroba. Harus diakui bahwa adanya mikroba yang telah mati atau hasil metabolisme
mikroba yang hidup dapat menimbulkan efek negatif pada orang yang peka.
Setiap zat antimikroba dapat bersifat pengawet, meskipun demikian semua zat atimikroba adalah zat
yang beracun. Untuk melindungi konsumen secara maksimum, pada penggunaan harus diusahakan agar
pada kemasan akhir kadar pengawet yang masih efektif lebih rendah dari kadar yabg dapat menimbulkan
keracunan pada manusia.
Pengujian berikut dimaksudkan untuk menunjukkan efektivitas pengawet antimikroba yang ditambahkan
pada sediaan dosis ganda yang dibuat dengan dasar atau bahan pembawa berair seperti produk-produk
parenteral, telinga, hidung dan mata yang dicantumkan pada etiket produk yang bersangkutan. Pengujian
dan persyaratan hanya berlaku pada produk di dalam wadah asli belum dibuka yang didistribusikan oleh
produsen.
Mikroba uji
Gunakan biakan mikroba berikut: Candida albicaus (ATCC No. 10231), Aspergillus niger (ATCC No.
16404), Escherichia coli (ATCC No. 8739), Pseudomonas aeruginosa (ATCC No. 9027) dan
Staphylococcus aureus (ATCC No. 6538). Selain mikroba yang disebut di atas, dapat digunakan mikroba
lain sebagai tambahan terutama jika dianggap mikroba bersagkutan dapat merupakan kontaminan selama
penggunaan sediaan tersebut.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Media
Untuk biakan awal mikroba uji, pilih media agar yang sesuai untuk pertumbuhan yang subur mikroba uji,
seperti Soybean-Casein Digest Agar Medium yang tertera pada Uji Batas Mikroba <51>.
Pembuatan Inokula
Sebelum pengujian dilakukan, inokulasi permukaan media agar bervolume yang sesuai, dengan biakan
persediaan segar mikroba yang akan digunakan. Inkubasi biakan bakteri pada suhu 30 0-350 selama 18
jam-24 jam, biakan Candida albicans pada suhu 200-250 selama 48 jam dan biakan Aspergillus niger
pada suhu 200-250 selama 1 minggu.
Gunakan larutan natrium klorida P 0,9% steril untuk memanen biakan bakteri dan Candida albicans,
dengan mencuci permukaan pertumbuhan dan hasil cucian dimasukkan ke dalam wadah yang sesuai dan
tambahkan larutan NaCl P 0,9% steril secukupnya untuk mengurangi angka mikroba hingga lebih kurang
100 juta per mL. Untuk memanen Aspergiillus niger, lakukan hal yang sama menggunakan larutan NaCl
P 0,9% steril yang mengandung polisorbat 80 P 0,05% dan atur angka spora hingga lebih kurang 100
juta per mL dengan penambahan larutan NaCl P 0,9% steril.
Sebagai alternatif,mikroba dapat ditumbuhkan di dalam media cair yang sesuai, dan panenan sel
dilakukan dengan cara sentrifugasi, dicuci dan diuspensikan kembali dalam larutan NaCL P 0,9% steril
sedemikian rupa hingga dicapai angka mikroba atau spora yang dikehendaki.
Tetapkan jumlah satuan pembentuk kolini tiap mL dari setiap suspensi dan angka ini digunakan untuk
menetapkan banyaknya inokula yang digunakan pada pengujian. Jika suspensi yang telah dibakukan
tidak segera digunakan, suspensi dipantau secara berkala dengan metode lempeng Angka Mikroba Aerob
Total seperti yang tertera pada Uji Batas Mikroba <51> untuk memetapkan penurunan viabilitas.
Untuk memantau angka lempeng sediaan uji yang telah diinokulasi, gunakan media agar yang sama
seperti media untuk biakan awal mikroba yang bersangkutan. Jika tersedia inaktivator pengawet yang
khas, tambahkan sejumlah yang sesuai ke dalam media lempeng agar.
Prosedur
Jika wadah sediaan dapat ditembus secara aseptik menggunakan jarum suntik melalui sumbat karet,
lakukan pengujian pada 5 wadah asli sediaan. Jika wadah sediaan tidak dapat ditembus secara aseptik,
pindahkan 20 mL sampel ke dalam masing-masing 5 tabung bakteriologik bertutup, berukuran sesuai dan
steril. Inokulasi masing-masing wadah atau tabung denagn salah satu suspensi mikroba baku,
menggunakan perbandingan 0,10 mL inokula setara dengan 20 mL sediaan, dan campur. Mikroba uji
dengan jumlah yang sesuai harus ditambahkan sedemikian rupa sehingga jumlah mikroba di dalam
sediaan uji segera setelah inokulasi adalah antara 100.000 dan 1.000.000 per mL. Tetapkan jumlah
mikroba viabel di dalam tiap suspensi inokula, dan hitung angka awal mikroba tiap mL sediaan yang
diuji dengan metode lempeng. Inkubasi wadah atau tabung yang telah diinokulasi pada suhu 20 0-250.
Amati wadah atau tabung pada hari ke 7, 14, 21, dan ke 28 sesudah inokulasi. Catat tiap perubahan yang
terlihat dan tetapkan jumlah mikroba viabel pada tiap selang waktu tersebut dengan metode lempeng.
Dengan menggunakan bilangan teoritis mikroba pada awal pengujian, hitung perubahan kadar dalam
persen tiap mikroba selama pengujian.
Penafsiran Hasil
Suatu pengawet dinyatakan efektif di dalam contoh yang diuji, jika:
a. Jumlah bakteri viabel pada hari ke 14 berkurang hingga tidak lebih dari 0,1% dari jumlah awal.
b. Jumlah kapang dan khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari jumlah awal.
c. Jumlah mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang dari bilangan
yang disebut pada a dan b.

C. Penentuan Tipe Emulsi


Dilakukan dengan salah satu prosedur pada point I.C. Penentuan Tipe Emulsi.

D. Penetapan pH (FI IV <1071>, hal 1039)


Harga pH adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (pH meter) yang sesuai, yang telah
dibakukan, yang mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektrode indikator

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

yang peka terhadap aktivitas ion hidrogen, elektrode kaca, dan elektrode pembanding yang sesuai seperti
elektrode kalomel atau elektroda perak klorida.
Alat harus mampu menunjukkan potensial dari pasangan elektroda dan untuk pembakuan pH
menggunakan potensial dari pasangan elektroda dan untuk pembakuan pH menggunakan potensial yang
dapat diatur ke sirkuit dengan menggunakan pembakuan, nol, asimetri, atau kalibrasi dan harus
mampu mengontrol perubahan dalam milivolt per perubahan unit pada pembacaan pH melalui kendali
suhu dan/atau kemiringan. Pengukuran dilakukan pada suhu 25 0 20, kecuali dinyatakan lain dalam
masing-masing monografi.
Skala pH ditetapkan dengan persamaan sebagai berikut:
(E Es)
pH = pHs +
k
E dan Es berturut-turut adalah potensial terukur dengan sel galvanik berisi larutan uji, dinyatakan sebagai
pH dan Larutan dapar untuk pembakuan yang tepat, dinyatakan sebagi pHs; harga k adalah perubahan
dalam potensial per perubahan unit dalam pH dan secara teoritis sebesar {0,05916+0,000198 (t-25 0)}
volt pada suhu t.

E. Penentuan Ukuran Globul (Martin hal 430431; Lachman Practice ed III, hal 531)
Metode ini cukup banyak digunakan untuk evaluasi emulsi. Yang ditetapkan adalah ukuran droplet ratarata berikut distribusinya pada selang waktu waktu tertentu. Diasumsikan terjadi pembesaran ukuran
droplet. Analisis ukuran droplet ini dapat dilakukan dengan mikroskop (mengukur diameter) atau
penghitung elektronik (electronic counter), yang mengukur volume droplet.
Caranya: untuk mempermudah penentuan ukuran droplet, sediaannya diencerkan dulu dengan gliserin.
Dari sediaan yang telah diencerkan tadi, diambil 1-2 tetes, disimpan di atas kaca objek, lalu diberi
beberapa tetes larutan Sudan III, diaduk sampai rata. Setelah diberi kaca penutup, dilihat di bawah
mikroskop bermikrometer. Partikel yang diukur paling sedikit berjumlah 300.
Studi menggunakan emulsi yang stabil menunjukkan bahwa pada awalnya akan terjadi perubahan ukuran
droplet yang sangat cepat, yang menunjukkan kekurangsempurnaan pelapisan permukaan droplet oleh
emulgator selama proses emulsifikasi. Selanjutnya perubahan ukuran droplet yang lambat menunjukkan
adanya koalesensi droplet sampai tercapai kondisi yang relatif lebih stabil.

F.

Penentuan Sifat Aliran dan Viskositas Sediaan


Pendekatan untuk mengetahui stabilitas sediaan yang banyak digunakan adalah penetapan sifat aliran
(rheologi) dan viskositas sediaan. Hal ini bermanfaat karena salah satu faktor yang mempengaruhi
stabilitas fisik sediaan emulsi adalah viskositas (sesuai hukum Stokes). Emulsi yang baik memiliki aliran
tiksotropik (mudah mengalir atau tersebar, tetapi memiliki viskositas cukup tinggi untuk meningkatkan
stabilitas fisiknya). Emulsi harus mempunyai viskositas yang tinggi pada shear yang dapat diabaikan
yakni selama penyimpanan dan mempunyai viskositas yang rendah pada laju shearing yang tinggi yakni
harus bebas mengalir selama pengocokan, penuangan, dan penyebaran.
Hampir seluruh sistem dispersi (termasuk sediaan-sediaan farmasi yang berbentuk emulsi, suspensi, dan
sediaan semi solid) mempunyai sifat aliran yang tidak mengikuti hukum newton (non-newtonion)
(Modul praktikum Farmasi Fisika 2002, hal 6).
Shelf-life produk emulsi dapat diprediksi dengan cara mengukur viskositasnya pada selang waktu
tertentu (0,04-400 hari). Berkurangnya viskositas merupakan indikator bertambahnya diameter partikel
(terjadi koalesensi). Makin cepat terjadi perubahan viskositas berarti makin pendek shelf-life produk
tersebut.
Untuk mengetahui sifat aliran emulsi dapat dilakukan dengan pengukuran viskositas pada berbagai rate
of shear. Aspek flokulasi diamati pada rate of shear yang rendah, sedangkan kehilangan viskositas dapat
diamati pada rate of shear yang tinggi.
Metode yang dianjurkan untuk dipilih:
a. Viskometer Stormer. (Modul Praktikum Farmasi Fisika, 2002, hal 6)
b. Viskometer Brookefield. (Modul Praktikum Teknologi Sediaan Liquid dan Semi Solid, revisi
2003, hal 38)

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Viskometer Stormer (Modul Praktikum Farmasi Fisika, 2002, hal16)

Cara kerja :

1. Isi mangkuk dengan cairan yang akan diukur viskositasnya.


2. Naikkan alas sedemikian rupa sehingga silinder berada tepat di tengah-tengah
mangkuk.

3. atur skala sehingga menunjukkan angka nol.


4. berikan beban tertentu dan lepaskan kunci sehingga bandul turun dan mengakibatkan
silinder berputar sampai mencapai skala tertentu.

5. catat waktu yang diperlukan oleh bandul untuk mencapai skala tersebut. Hitung RPM.
6. dengan menaikkan dan menurunkan beban maka di dapat pengukuran pada berbagai
RPM.
Perhatian : setiap kali pengukuran harus dimulai dari skala nol.
Untuk menghitung viskositas digunakan persamaan sebagai berikut :
Aliran Newton:

= Kv x

W
RPM

Aliran Plastik:

= Kv x

W - Wf
RPM

Kv
= konstanta
W
= beban yang diberikan
Wf
= beban pada yield value
RPM
= jumlah putaran per menit
Untuk menghitung K biasanya digunakan cairan pembanding yang telah diketahui
viskositasnya. Untuk mengetahui sifat alirannya, digambarkan kurva antara RPM vs beban
yang diberikan.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Viskometer Brookfield (Modul Praktikum Farmasi Fisika, 2002, hal 17)


Cara kerja :

1.
2.

Pasang spindel pada gantungan spindel.


Turunkan spindel sedemikian rupa sehingga batas spindel tercelup ke dalam cairan yang
akan diukur viskositasnya.
3. pasang stop kontak.
4. nyalakan motor sambil menekan tombol.
5. biarkan spindel berputar dan lilatlah jarum merah pada skala.
6. bacalah angka yang ditunjukkan oleh jarum tersebut. Untuk menghitung viskositas,
maka angka pembacaan tersebut dikalikan dengan suatu faktor yang dapat dilihat pada
tabel yang terdapat pada brosur alat.
7. dengan mengubah-ubah RPM, maka didapat viskositas pada berbagai RPM. Untuk
mengetahui sifat aliran, dibuat kurva antara RPM dan usaha yang dibutuhkan untuk memutar spindel.
Usaha dapat dihitung dengan mengalikan angka yang terbaca pada skala dengan 7,187 dyne cm (untuk
viskometer Brookfield tipe RV)

G. Penentuan Berat Jenis Dilakukan sesuai dengan prosedur Penetapan Bobot


Jenis <981>, FI IV, hal 1030.
Penetapan Bobot Jenis (FI IV hal 1030)
Kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi, penetapan bobot jenis digunakan hanya untuk
cairan dan kecuali dinyatakan lain, didasakran pada perbandingan bobot zat di udara pada suhu 25 0
terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama. Bila pada suhu 25 0 zat berbentuk padat, tetapkan
bobot jenis pada suhu yang telah tertera pada masing-masing monografi dan mengacu pada air pada suhu
250.
Prosedur
Gunakan piknometer bersih, kering dan telah dikalibrasi dengan menetapkan bobot piknometer dan bobot
air yang baru dididihkan, pada suhu 250. Atur hingga suhu zat uji lebih kurang 20 0, masukkan ke dalam
piknometer. Atur suhu piknometer yang telah diisi hingga suhu 25 0, buang kelebihan zat uji dan timbang.
Kurangkan bobot piknometer kosong dari bobot piknometer yang telah diisi.
Bobot jenis suatu zat adalah hasil yang diperoleh dengan membagi bobot zat dengan bobot air, dalam
piknometer. Kecuali dinyatakan lain alam monografi, keduanya ditetapkan pada suhu 25 0.

H. Penentuan Volume Terpindahkan Dilakukan sesuai dengan prosedur Volume


Terpindahkan <1261>, FI IV, hal 1089.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Volume terpindahkan penting untuk sediaan emulsi oral. Emulsi yang kental volumenya dilebihkan
sebesar 3 % (Farmakope Indonesia edisi III). Penentuan volume terpindahkan bertujuan untuk menjamin
bahwa sediaan yang dikemas dalam wadah jika dipindahkan dari wadah asli akan memberikan volume
sediaan seperti yang tertera pada etiket.
Untuk penetapan volume terpindahkan, pilih tidak kurang dari 30 wadah, dan selanjutnya ikuti prosedur
berikut untuk bentuk sediaan tersebut.
Larutan oral, suspensi oral, dan sirup dalam wadah dosis ganda, kocok isi 10 wadah satu persatu.
Serbuk dalam wadah dosis ganda yang mencantumkan penandaan volume untuk lautan oral atau
suspensi oral yang dihasilkan bila serbuk dikonstitusi dengan jumlah pembawa seperti tertera pada etiket,
konstitusi 10 wadah dengan volume pembawa seperti tertera pada etiket diukur secara seksama dan
campur.
Prosedur
Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering terpisah dengan kapasitas gelas ukur
tidak lebih dari dua setengah kali volume yang diukur dan telah dikalibrasi, secara hati-hati untuk
menghindarkan pembentukan gelembung udara pada waktu penuangan dan diamkan selama tidak lebih
dari 30 menit. Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap campuran: volume rata-rata
larutan, suspensi atau sirup yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100% dan tidak satupun
volume wadah yang kurang dari 95% dari volume yang dinyatakan pada etiket.
Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100% dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak ada satu
wadahpun volumenya kurang dari 95% dari volume yang tertera pada etiket, atau B tidak lebih dari satu
wadah volume kurang dari 95%, tetapi tidak kurang dari 90% volume dari volume yang tertera pada
etiket, lakukan pengujian terhadap 20 wadah tambahan. Volume rata-rata larutan, suspensi, atau sirup
yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100% dari volume yang tertera pada etiket dan tidak
lebih dari satu dari 30 wadah volume kurang dari 95% tetapi tidak kurang dari 90% seperti yang tertera
pada etiket.
I. Penentuan Tinggi Sendimentasi

Pengamatan terhadap emulsi akibat pengaruh waktu dan temperatur merupakan hal yang rutin dilakukan
untuk memprediksi shelf life produk emulsi.
Caranya:
Sediaan emulsi yang diuji disimpan dalam tabung sedimentasi selama beberapa waktu pada temperatur
kamar dan temperatur di atas temperatur kamar. Selang waktu tertentu dilakukan pengamatan terhadap
sediaan emulsi yang diuji dengan melihat terjadinya pembentukan lapisan seperti susu. Stabilitas fisik
emulsi ditentukan dengan berdasarkan perbandingan harga Hu dan Ho selama penyimpanan.
Hu = tinggi lapisan seperti susu
Ho = tinggi seluruh sediaan

Ho
Emulsi dikatakan stabil jika harga

= 1 atau mendekati 1

Hu
Efek penyimpanan pada temperatur tinggi adalah percepatan laju koalesensi atau creaming, yang
lazimnya juga diikuti dengan berkurangnya viskositas. Kebanyakan emulsi akan menjadi encer jika
disimpan pada temperatur tinggi dan akan menjadi keras jika dikembalikan pada temperatur kamar.
Pengerasan ini akan lebih intensif jika pendinginan tersebut tidak disertai dengan pengadukan.
Umumnya pendinginan akan lebih cepat merusak emulsi dibandingkan dengan pemanasan, karena
lazimnya kelarutan emulsi lebih sensitif terhadap pendinginan.
Beberapa emulsi diketahui sangat stabil pada temperatur 40-45 oC, tetapi tidak dapat mentoleransi
temperatur di atas 50 oC atau di atas 60 oC selama beberapa jam.
Perubahan temperatur dapat menimbulkan efek terhadap: viskositas, partisi emulgator, inversi fasa dan
kristalisasi jenis lipid tertentu. (Catatan kuliah Farfis bu Jessie)

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

J. Pengujian Stabilita Dipercepat


Stabilitas sediaan emulsi dapat dilihat setelah penyimpanan sediaan selama waktu simpannya (shelf life);
namun cara ini membutuhkan waktu yang lama. Sehingga digunakan pengujian stabilita dipercepat untuk
memperoleh data stabilitas jangka panjang. Pengujian stabilita dipercepat dilakukan dengan cara
memberikan tekanan tertentu pada sediaan; dengan agitasi, sentrifugasi, atau teknik manipulasi suhu.
(The Pharmaceutical Codex, 12th ed, hal 83)
Agitasi dapat meningkatkan kecepatan dimana globul bertemu sehingga menurunkan skala waktu
stabilitasnya. Sentrifugasi dapat menginduksi creaming atau koalesensi pada sistem yang tidak stabil.
Kondisinya harus dipertimbangkan baik-baik untuk mencegah distorsi globul atau kerusakan lapisan
film. Manipulasi suhu, seperti merubah suhu tinggi ke suhu rendah dan sebaliknya terus menerus, adalah
metode yang paling sering digunakan. Suhu yang ekstrim harus dihindari. Beberapa parameter fisika
termasuk fase pemisahan, viskositas, electrophoretic, ukuran partikel, dan jumlah partikel biasanya
digunakan untuk memantau stabilitas emulsi selama uji ini dilakukan. (The Pharmaceutical Codex, 12th
ed, 83)
Metode yang dianjurkan : dengan sentrifugasi (Modul Praktikum Teknologi Sediaan Liquid dan Semi
Solid, revisi 2003, hal 38). Sentrifugasi pada 3750 RPM dalam tabung sentrifuga setinggi 10 cm selama 5
jam dapat dikatakan ekivalen dengan pengaruh gravitasi selama + 1 tahun. Sedangkan sentrifugasi pada
kecepatan yang sangat tinggi (25.000 RPM) dapat memprediksi penyebab ketidakstabilan emulsi, yang
tidak terlihat pada penyimpanan normal.
.
V . CONTOH SEDIAAN EMULSI
1. Formula Standar Fornas 78
a. Emulsi minyak ikan (Hal: 217)
R/ Oleum lecoris Aselli
Glycerolum
Gummi Arabicum
Oleum Cinnamomi
Aqua destillata hingga

b.

c.

Emulsi parafin (Hal: 227)


R/ Tiap 100 ml mengandung :
Paraffinum liquidum
Gummi Aabicum
Sirupus simplex Vanillinum
Aethanolum 90 %
Aqua destilata hingga
Emulsi Parafin Fenolftalein
(Emulsi pencahar) (Hal: 228)
R/ Tiap 100 ml mengandung :
Phenolphthaleinum
Paraffinum liquidum
Gummi Aabicum
Saccharinum Natricum
Acidi Benzoici solutio
Vanillinum
Aqua destilata hingga

2. USP XXII th 90, Hal: 155


R/ Benzyl Benzoat
TEA
Oleic acid
Purified water
To make about

D I PU STAK A

100g
10 g
30 g
gtt VI
21 g

50 ml
12,5 mg
10 ml
4 mg 6
ml
1 ml

300 mg
50 ml
12,5 mg
5 mg
2,5 ml
4 mg
100 ml
200 ml
5g
20g
750 ml
1000 ml

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

3. Lachman
Emulsi Oral (Hal: 203)
R/ Cottonseed oil winterrized
Sulfadiazin
Sorbitan monostearat
Polyoxyetylene (20) sorbitan
Monostearat
Sweetener
Water potebel
Flavour oil

460,0 g
200,0 g
84,0 g
2,0 g
qs
1000g
qs

4. Art of Compounding, Hal: 233-237


Ada di lampiran

5.

BP 2001 Liquid paraffin (2298) Liquid paraffin and


Magnesium hidroksida (22999)
Emulsi Peruvian II (balsam buah dada) (Hal: 234)
R/ Tiap 100 g mengandung :
Balsamun Peruvianum
Oleum Arachidis
Gummi Arabicum
Acidum boricum
Aq. Rosarum hingga

2g
8g
6g
2g
100g

Lotio Benzil Benzoat


R/ Tiap 100 ml mengandung :
Benzylis benzoas
Triethanolaminum
Acidum oleinicum
Aquades hingga

25 ml
500 mg
2g
100 ml

Emulsi Parenteral
R/ Cotton seed oil
PEG 200 monopalmitat
Ester asam tartrat
Polyoxyetylene polyoxypropyllen
blok polimer
Isotonis glukosa

15,0 g
1,2 g
0,3 g
0,3 g
83,2 g

TAMBAHAN dari MODUL PRAKTIKUM : Praktikum Teknologi Sediaan Liquida dan


Semisolid
Pada prinsipnya pembuatan sediaan emulsi terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:
1. Tahap destruksi : Dalam tahap ini dilakukan pemecahan fasa minyak menjadi globul-globul
kecil,sehingga fase terdispersi tersebut dapat lebih mudah terdispersi dalam fase
pendispersi.
2. Tahap stabilitas : Dalam tahap ini dilakukan stabilisasi globul2 yang terdispersi dalam medium
pendispersi dengan menggunakan emulgator dan bahan pengental.
Pembuatan korpus emulsi cara kering (hal:32)
Didihkan air yang akan digunakan sebagai pembawa,dinginkan sebelum dipakai.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Dibuat korpus emulsi dengan perbandingan Minyak:Emulgator:Air = 4:2:1


Aduk cepat dengan menggunakan stirer selama 2 menit hingga terbentuk masa opaque
yang menandakan bahwa korpus telah terbentuk.
Tambahkan sisa air sedikit demi sedikit diaduk cepat hingga volume yangdiminta.

Pembuatan korpus emulsi cara basah


Didihkan air yang akan digunakan sebagai pembawa, dinginkan sebelum dipakai.
Emulgator seperti CMC, Tilosa, Veegum, Bentonit sebelum digunakan sebagai emulgator
terlebih dahulu
Emulsi dapat dibuat dengan membuat korpus emulsi terlebih dahulu seperti cara kering
hanya dengan menggunakan emulgator yang telah dikembangkan
Atau langsung dibuat emulsi dengan cara mencampurkan minyak, air dan emulgator yang telah
dikembangkan dan dikocok dengan menggunakan stirer pada kecepatan tinggi selama 2
menit
Cara pembuatan emulsi dengan menggunakan emulgator surfaktan (hal:37)
Dihitung jumlah surfaktan dengan perhitungan aligasi sesuai dengan HLB butuh minyak
yang dipakai
Bahan yang larut minyak dicampurkan dengan fase minyak dalam bahan yang larut air
dicampurkan dengan fase air
Panaskan masing2 fase pada suhu 60-70C, kemudian dicampurkan kedua fasa sambil
distirer dengan kecepatan tinggi selama waktu tertentu
Masukkan ke dalam tabung sedimentasi
Prosedur pengembangan pengental (Skripsi bu Heni Rachmawati, 1993) :
1. CMC Na
Ditaburkan pada air mendidih (100C) digoyangkan perlan-lahan & dibiarkan semalaman,
aduk ad homogen.
2. Metolosa
Ditaburkan pada air bersuhu 70C (sebanyak dari jumlah total yang digunakan) aduk ad
homogen. Diamkan sampai dingin sampai larutan kelihatan bening. Tambahkan air biasa
sebanyak kekurangannya.
3. Alginat Na
Taburkan pada air biasa dalam mortir, goyang perlan-lahan dan diamkan ad mengembang
kemudian diaduk (triturasi) ad homogen dan diperoleh larutan bening.

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Metode

Kering

Basah

Didihkan air
Dinginkan
Emulgator
M:E:A = 4:2:1

Kembangkan
Lebih dulu
Campur dan
gerus

Minyak
Air
Emulgator
Korpus Emulsi

+ air sedikitSedikit, Kocok


(alat Homodispers)

Campur dan
gerus

Kocok (alat
homodispers)
Emulsi
Emulsi

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Emulsi Sistem HLB

Tipe

M/A

BLA

Inversi fase

A/M

BLM

M/A

Fase air

A/M

Fase minyak

Masing2 Dipanaskan
Fase Minyak

Fase Minyak

Fase air

Fase air

Fase minyak

Emulsi

Emulsi

A/M

+ air>>>

A/M/A

BLA = Bahan Larut Air


BLM = Bahan Larut Minyak

Fase air

M/A

+ minyak>>>

M/A/M

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

EMULGATOR UNTUK EMULSI


Codex h.84: Jenis Jenis Surfaktan Untuk Emulsi
1. Surfaktan anionik
Surfaktan jenis ini sebaiknya tidak digunakan untuk emulsi untuk pemakaian internal karena
rasanya yang tidak enak dan dapat mengiritasi mukosa.
a. Asam lemak, co: asam stearat
Digunakan setelah netralisasi sebagian dengan basa organik/inorganik
b. Logam alkali dan sabun amonium, co: natrium stearat
Bagus untuk emulsi M/A (khususnya dengan sabun alkali), tapi tidak stabil pada pH>10.
Inkompatibel dengan asam dan inorganik polivalen dan kation organik rantai panj ang.
c. Sabun divalen dan logam trivalen, co:kalsium stearat
Surfaktan jenis ini yang mengandung Ca, Mg, Zn, dan Al tidak larut dalam air dan baik
untuk membuat emulsi A/M
d. Sabun amin
Akan menghasilkan emulsi M/A (pH sekitar 8). Tahan terhadap perubahan pH dan
adanya ion Ca.
e. Alkil sulfat, co: sodium lauril sulfat, sodium cetostearyl sulfat, trietanol amin lauril
sulfat
Akan menghasilkan emulsi M/A (pH sekuer 7). Dipakai sebagai pembasah.Biasanya
membutuhkan emulgator sekunder agar mencapai stabilitas yang cukup baik. Sedikit
terpengaruh oleh pH dan cenderung terhidrolisis sehingga memerlukan kontrol pH.
f. Alkil fosfat
Idem alkil sulfat.
g. Alkil sulfonat, co: docusate sodium
Digunakan sebagai pembasah. Akan menghasilkan emulsi M/A jika dikombinasi dengan
emulgator sekunder.
h. Carbomer
Baik untuk emulsi M/A untuk penggunaan internal maupun eksternal tetapi sebaiknya
dikombinasi dengan emulgator sekunder.
2. Surfaktan kationik, co: gol. Amonium kuartener : cetrimide, benzalkonium klorida, domiphen
bromide
Agar efektif perlu diionisasi terlebih dahulu
Digunakan dalam pembuatan emulsi M/A (pH 3-7), untuk penggunaan eksternal
Kompatibel dengan anion inorganik divalen
Inkompatibel dengan anion inorganik dengan valensi >2 dan dengan anion organik rantai
panj ang.
3. Surfaktan non-ionik
Bisa untuk emulsi A/M ataupun M/A tergantung harga HLB dan emulsi yang dihasilkan
dapat digunakan baik internal maupun eksternal. Keuntungan penggunaan surfaktan
non-ionik : resisten terhadap efek elektrolit, kompatibel dengan surfaktan lain, stabil
pada pH 4-9, emulsi yang terbentuk tidak terlalu iritan jika dibandingkan dengan
surfaktan ionik. Kekurangan surfaktan non ionik : jika jumlah yang digunakan berlebih,
akan mengikat/menginaktivasi pengawet yang memiliki gugus fenol dan asam
karboksilat. Surfaktan non-ionik yang memiliki gugus ester dapat menghidrolisis dengan
cepat pada pH.9. Surfaktan polisorbat dan ester sorbitan cocok untuk emulsi oral.
a. Ester alkohol polihidrik
Meliputi :
Glikol ester, co: propylene glycol (PG) monostearat,PG alginate, PG diacetate
Gliserol ester, co: gliseril monostearat

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Lebih dominan lipofilik dan tidak larut air. Merupakan emulgator yang lemah tetapi
efektif sebagai stabilisator emulsi.
b. Macrogol ester, co: polyoxyl 8 stearat, polyoxyl 40 stearat, polyoxyl 50 stearat
Angka 8,40,50 menunjuk pada banyaknya subunit oxyethylene yang membentuk
polimer. Biasa dikombinasi dengan cetostearyl alkohol sebagai stabilisator sistem emulsi
yang menggunakan makrogol.
c. Sorbitan ester, co: span
Predominan lipofilik. Menghasilkan emulsi A/M. Sering dikombinasi dengan
polysorbate untuk menstabilisasi sistem A/M atau M/A.
d. Polysorbat, co: Polysorbate 20 = polioksietilen 20 sorbitan monolaurat = tween 20
Menghasilkan emulsi M/A dengan stabilitas yang bail dan tidak banyak terpengaruh
perubahan pH.
e. Macrogol eter (polyoxyethylene alkyl ethers), co: cetomacrogol 1000 polyoxyl 20
cetostearyl ether
Menghasilkan emulsi stabil, tahan asam dan basa. Sering dikombinasi dengan alkohol
rantai panjang.
f. Alkohol rantai panjang, co: cetostearyl alkohol, etil alkohol, stearyl alkohol
Merupakan emulgator A/M yang lemah. Fungsi utamanya adalah menstabilisasi sistem
emulsi M/A.
g. Poloxamer (macrogol-polyoxypropylene-macrogol copolymers)
h. Polyvinyl alcohols
Berfungsi menstabilisasi emulsi.
4. Surfaktan amphoterik
Tidak untuk emulgator. Berfungsi sebagai bakterisidal dalam detergen ataupun sampo
yang tidak iritan terhadap mata.
Codex h.87-88 : Emulgator Alam untuk Emulsi
Emulgator alam lebih bekerja sebagai peningkat viskositas daripada sebagai surfaktan.
Keterbatasan : kontaminasi mikroba (harus ditambah cukup pengawet)
1. Polisakarida (Gom)
a. Tragakan, akasia, agar, starch, pektin
Baik untuk emulsi internal. Akasia stabil pada viskositas tidak terlalu tinggi dan biasanya
dikombinasi dengan gom lain seperti tragakan atau agar. Emulsi tragakan kurang stabil
dan memiliki tekstur yang lebih kasar daripada emulsi akasia. Agar merupakan
emulgator lemah tapi dapat menghasilkan mucilago ataupun gel yang kental jika
dikombinasi dengan emulsi akasia 1%. Starch merupakan emulgator lemah tapi bekerja
sebagai stabilisator emulsi dengan membentuk fase dengan kekentalan tinggi. Pektin
memiliki sifat yang sama dengan starch.
b. Karagenan
Lebih efektif sebagai peningkat viskositas daripada sebagai emulgator primer.
Karagenan dengan konsentrasi 1% digunakan sebagai pengental dan stabilisator emulsi
tetapi akan terpresipitasi pada pH<5 jika ada ion logam berat.
c. Hidroksipropilselulosa (HPC) (nonionik), metilselulosa (nonionik), carmellose sodium
(anionik)
Digunakan sebagai emulgator dan peningkat viskositas.
2. Material steroid, co: lanolin alkohol, wool fat, wool alkohol, beeswax, sodium
glycocholate, sodium taurocholate
a. Wool fat dan wool alkohol
Digunakan untuk emulsi topikal. Akan mengabsorbsi air dalam emulsi A/M dengan
minyal/lemak lain.
b. Minyak mineral dan lanolin alkohol

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB - OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Campuran untuk emulgator (dengan melarutkan parafin cair). Menghasilkan emulsi A/M
tetapi bisa digunakan juga sebagai stabilisator emulsi M/A.
c. Kolesterol
Bersama asam empedu dan cairan pankreatik akan mengemulsi substansi lemak
2. Gliserid, co: monogliserid, digliserid
Digunakan sebagai emulgator.

3.

Fosfolipid
Bekerja aktif pada permukaan (memiliki sifat surfaktan), memiliki aktivitas antioksidan,
mudah rusak jika pada emulsi tidak terdapat pengawet.
Protein, co: gelatin, kasein
Memiliki keterbatasan sebagai emulgator. Gelatin tipe A digunakan untuk emulsi dengan
pH 3, gelatin tipe B digunakan untuk emulsi pH>8.
5. Saponin
Memiliki keterbatasan: iritan dan hemolitik.
Kombinasi emulgator
Codex h.89
Untuk mendapatkan lapisan film yang lebih kompak dikombinasi antara :
1. Surfaktan ionik dan surfaktan non ionik
Surfaktan non ionik digunakan sebagai emulgator sekunder atau sebagai stabilisator. Surfaktan
non ionik yang biasa digunakan :
Alkohol rantai panjang
Material steroid
Surfaktan non ionik HLB rendah
Jenis surfaktan tersebut merupakan emulgator A/M. Contoh surfaktan yang termasuk jenis ini
yaitu cetostearyl alkohol, beeswax, dan gliseril monostearat.
2. Surfaktan non ionik HLB tinggi dengan surfaktan non ionik HLB rendah
Hasil terbaik dapat dicapai jika keduanya memiliki panjang rantai karbon yang sama.
Contoh kombinasi :
a. Emulsifying wax BP (anionic emulsifying wax)
Cetostearyl alkohol90 g
Natrium lauryl sulfat
10 g
Purified water
4 mL

b.

Cetomacrogol emulsifying wax BP (non ionic emulsifying wax)


Cetostearyl alkohol
800 g
Cetomacrogol 1000
200 g

Farfis, h. 1149-1151
Kombinasi setil sufat dan kolesterol: membentuk lapisan kompleks sehinga emulsi baik. Kombinasi setil
sulfat dan oleik alkohol : membentuk lapisan tidak kompak sehingga emulsi jelek. Kombinasi setil
alkohol dan natrium oleat : membentuk lapisan yang tertutup rapat tapi tidak kompleks sehingga emulsi
jelek.
Emulsi yang baik dapat dicapai dengan mengkombinasikan emulgator hidrofilik dengan emulgator
lipofilik agar lapisan antar muka diperkuat dan kestabilan emulsi M/A dapat ditingkatkan melawan
pengelompokkan partikel terdispersi. Contoh kombinasi :
span 80 dan tween 40
natrium stearat dan kolesterol
natrium lauril sulfat dan gliseril monostearat

tragakan dan

span