Anda di halaman 1dari 12

- Definisi Sampah

1. Kamus Lingkungan (1994), sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai atau tidak
berharga untuk digunakan secara biasa atau khusu dalam proses produksi atau pemakaian
barang rusak atau cacat selama manufaktur atau materi berkelebihan atau buangan
2. Istilah Lingkungan untuk Manajemen, Ecolink (1996), sampah adalah suatu bahan yang
terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas manusia maupun proses alam yang belum
memiliki nilai ekonomis.
3. Tanjung, Dr. M.Sc., sampah adalah sesuatu yang tidak berguna lagi, dibuang oleh
pemiliknya, atau pemakai semula.
4. Radyastuti, W. Prof. Ir. (1996), sampah adalah sumber daya yang tidak siap dipakai
5. Basriyanta, sampah merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang
oleh pemilik atau pemakai sebelumnya, tetapi masih bias dipakai kalau dikelola dengan
prosedur yang benar

- Jenis Sampah
Pada prinsipnya sampah dibagi menjadi sampah padat, sampah cair dan sampah dalam bentuk
gas (fume, smoke). Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa jenis yaitu :
1. Berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya
a. Sampah anorganik misalnya : logam-logam, pecahan gelas, dan plastik
b. Sampah Organik misalnya : sisa makanan, sisa pembungkus dan sebagainya
2. Berdasarkan dapat tidaknya dibakar
a. Mudah terbakar misalnya : kertas, plastik, kain, kayu
b. Tidak mudah terbakar misalnya : kaleng, besi, gelas
3. Berdasarkan dapat tidaknya membusuk
a. Mudah membusuk misalnya : sisa makanan, potongan daging
b. Sukar membusuk misalnya : plastik, kaleng, kaca (Dainur, 1995)

- Kendala Pengelolaan Sampah


Menurut lembaga AMPL, kendala-kendala yang dihadapi dalam pengelolaan sampah
mencakup:
1. Timbulan sampah makin besar
a. Jumlah populasi terus bertambah (alami/urbanisasi)
b. Meningkatnya kemampuan ekonomi, produksi dan konsumtivitas
c. Peran masyarakat dan dunia usaha sangat rendah dalam upaya minimalisasi sampah
2. Kapasitas pelayanan terbatas
a. Paradigma lama pengelolaan sampah mengandalkan proses (kumpul-angkut-buang)
b. Prioritas pendanaan sangat rendah dan tidak sebanding dengan kebutuhan pelayanan
c. Kapasitas kelembagaan belum memadai (status, kewenangan, perencanaan, pengawasan,
SDM, dll)
d. Kinerja operasional pelayanan belum memenuhi standar pelayanan minimal

3. Kapasitas masyarakat dan swasta sebagai mitra belum dibangun dan dikembangkan
a. Perhatian untuk sosialisasi, pembinaan, pendidikan, masyarakat sangat rendah
b. Iklim dan birokrasi kemitraan belum kondusif dan menarik bagi swasta untuk berinvestasi

- Tujuan pengelolaan sampah (sumber BPPT: Model Pengelolaan Persampahan


Perkotaan, Deputi Pengkajian Kebijakan Teknologi, Oktober 2002 )

Pengelolaan persarnpahan mempunyai beberapa


tujuan yang sangat mendasar yang meliputi [6]:
- Meningkatkan kesehatan lingkungan dan masyarakat
- Melindungi sumber daya alam (air)
- Melindungi fasilitas sosial ekonomi
- Menunjang pembangunan sektor strategis.

BAU PADA SAMPAH


Pembusukan sampah ini dapat menghasilkan bau tidak enak, seperti ammoniak dan
asam-asam volatil lainnya. Selain itu, dihasilkan pula gas-gas hasil dekomposisi, seperti gas
metan dansejenisnya, yang dapat membahaykan keselamatan bila tidak ditangani secara baik.

MAMFAAT (sumber H. Poerbo: Konsep Kawasan Industri Terpadu Sampah sebagai


Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu, Seminar Konsep Alternatif Pengelolaan Sampah
Mencari Jawaban untuk Kotakota di Indonesia, PPT PPLH ITB, 1991)

Semua fihak di Indonesia sepakat bahwa program 3R dinilai sangat bermanfaat, tetapi sampai
saat ini
upaya-upaya nyata belum terlihat. Perlu kemauan semua fihak, bukan hanya penghasil
sampah, tetapi
juga stakeholders lainnya, termasuk pemerintah untuk secara nyata menerapkan konsep ini.
Manfaat
dari upaya tersebut dalam jangka panjang antara lain adalah [13]:
Berkurangnya secara drastis ketergantungan terhadap tempat pemrosesan akhir.
Lebih meningkatkan efisiensi dan efektifitas penggunaan sarana dan prasarana
persampahan.
Terciptanya peluang usaha bagi masyarakat dari pengelolaan sampah (usaha daur ulang dan
pengomposan).
Terciptanya jalinan kerjasama antara pemerintah kabupaten/kota dan antara pemerintah dan
masyarakat/swasta dalam rangka menuju terlaksananya pelayanan sampah yang lebih
berkualitas.
Adanya pemisahan dan pemilahan sampah baik di sumber timbulan maupun di tempat
pembuangan
akhir dan adanya pemusatan kegiatan pengelolaan akan lebih menjamin terkendalinya dampak
lingkungan yang tidak dikehendaki.

PENGELOLAAN SAMPAH
Menurut UU-18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, terdapat 2 kelompok utama pengelolaan
sampah,
yaitu:
c. Pengurangan sampah (waste minimization), yang terdiri dari pembatasan terjadinya
sampah, gunaulang
dan daur-ulang
d. Penanganan sampah (waste handling), yang terdiri dari:

Pemilahan: pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau
sifat
sampah
Pengumpulan: pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat
penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu
Pengangkutan: membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah
sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir
Pengolahan: mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah
Pemrosesan akhir sampah: pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan
sebelumnya ke media lingkungan secara aman.

Pengelolaan sampah
1. Pemilahan yaitu memisahkan menjadi kelompok sampah organik dan non organik dan
ditempatkan dalam wadah yang berbeda.
2. Pengolahan dengan menerapkan konsep 3R yaitu:
a. Reuse (penggunaan kembali) yaitu menggunakan sampah-sampah tertentu yang
masih memungkinkan untuk dipakai [penggunaan kembali botol-botol bekas].
b. Reduce (pengurangan) yaitu berusaha mengurangi segala sesuatu yang dapat
menimbulkan sampah serta mengurangi sampah-sampah yang sudah ada.
c. Recycle (daur ulang) yaitu menggunakan sampah-sampah tertentu untuk diolah
menjadi barang yang lebih berguna [daur ulang sampah organik menjadi kompos].
3. Untuk sampah yang tidak dapat ditangani dalam lingkup sekolah, dikumpulkan ke
Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang telah disediakan untuk selanjutnya diangkut
oleh petugas kebersihan ke Tempat Pembuangan Akhir(TPA).

Komposisi Sampah
Pengelompokan berikutnya yang juga sering dilakukan adalah berdasarkan komposisinya,
misalnya dinyatakan sebagai % berat (biasanya berat basah) atau % volume (basah) dari
kertas, kayu, kulit, karet, plastik, logam, kaca, kain, makanan, dan lain-lain.

LH yang BAIK
a. Udara bersih dan segar.
b. Tanah yang subur.
c. Sumber air yang bersih.
d. Air sungai yang mengalir terlihat bersih dan jernih.
e. Sampah tidak berserakan.
f. Banyak tumbuhan hijau yang tumbuh dengan subur.

POLUSI/PENCEMARAN
Pencemaran adalah pengotoran lingkungan yang disebabkan oleh adanya sisa produksi atau
kegiatan manusia. Pencemaran yang terjadi dapat mengganggu kesehatan lingkungan maupun
kesehatan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya.
Menurut jenisnya, pencemaran lingkungan dapat dibedakan menjadi empat macam. Keempat
macam pencemaran tersebut adalah pencemaran udara, pencemaran air, pencemaran tanah,
dan pencemaran suara.
1. Pencemaran Udara

Pencemaran udara dapat disebabkan oleh asap pabrik, asap kendaraan bermotor, pembakaran
sampah, kebakaran hutan, dan sebagainya.
2. Pencemaran Air
Pencemaran air disebabkan oleh adanya pembuangan limbah rumah tangga dan limbah pabrik
ke dalam lingkungan. Tingkat pencemaran air yang tinggi umumnya terjadi di daerah-daerah
yang padat penduduknya.
Ikan yang mati akibat pencemaran air
3. Pencemaran Tanah
Perbuatan membuang sampah di sembarang tempat dapat mencemari lingkungan. Sampah
harus dibuang di lokasi pembuangan sampah yang semestinya. Sampah tersebut akan diolah
menjadi zat-zat yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Sampah antara lain berupa sampah
organik yang berasal dari makhluk hidup. Contoh sampah organik, antara lain, daun-daun,
sisasisa makanan, dan sebagainya.
Selain sampah organik, ada pula sampah anorganik. Sampah anorganik adalah sampah yang
berasal dari benda tak hidup. Contoh sampah anorganik, antara lain, kaleng, botol, plastik, dan
sebagainya. Sampah organik dapat membusuk dan terurai oleh bakteri atau jamur menjadi zatzat yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Zat-zat yang telah terurai ini dapat dimanfaatkan
oleh tumbuhan. Sementara itu, sampah anorganik tidak dapat terurai secara alamiah sehingga
diperlukan campur tangan manusia untuk melakukannya.
4. Pencemaran Suara
Kemajuan teknologi manusia selain menghasilkan kemakmuran juga menimbulkan
pencemaran. Selain pencemaran udara, pencemaran air, dan pencemaran tanah, pencemaran
suara pun timbul dari kemajuan teknologi ini. Pencemaran suara terutama terjadi di daerah
perkotaan maupun di daerah perindustrian.

Dampak lingkungan akibat sampah


Nilai estetika
Sampah yang menumpuk dan dibiarkan pada tempat terbuka menyebabkan rendahnya
nilai estitika disekitar tempat tersebut. Hal ini disebabkan oleh penampakaan fisik yang tidak
enak dilihat, bau busuk dan berkembangnya berbagai organisme.
Polusi udara dan air
Pembakaran sampah secara terbuka dan tidak terkendali disamping menghasilkan residu
juga menghasilkan emisi pada tamosfer dg peningkatan komponen polutan udara
Sumber penyakit
Tempat-tempat penumpukan sampah merupakan lingkungan kehidupan yang baik bagi
perkembangan tikus, nyamuk, lalat, insekta, mikroba yang dapat menimbulkan dan
menyebarkan penyakit.
Penyumbatan saluran sampah

Sampah yang dubuang ke sungai, got atau saluran air akan menyebabkan pendangkalan
dan penyumbatan saluran air

Jenis Sampah
a. Sampah berdasarkan zat kimia yang terkandung didalamnya
- Sampah anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang umumnya tidak dapat membusuk, misalnya :
logam/besi, pecahan gelas, plastik dan sebagainya.
- Sampah organik
Sampah organik adalah sampah yang pada umumnya dapat membusuk, misalnya : sisa-sisa
makanan, daun-daunan, buah-buahan dan sebagainya.
b. Sampah berdasarkan dapat dan tidaknya terbakar

- Sampah yang mudah terbakar, misalnya : kertas, karet, kayu, plastik, kain bekas dan
sebagainya.
- Sampah yang tidak dapat terbakar, misalnya: kaleng-kaleng bekas, besi/logam bekas,
pecahan gelas, kaca, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
c. Sampah berdasarkan karakteristiknya - Abu (Ashes)
Merupakan sisa pembakaran dari bahan yang mudah terbakar, baik di rumah, di kantor
maupun industri.
- Sampah Jalanan (Street Sweeping)
Berasal dari pembersihan jalan dan trotoar, terdiri dari kertas-kertas, kotoran dan daundaunan.
- Bangkai Binatang (Dead Animal)
Yaitu bangkai binatang yang mati karena bencana alam, penyakit atau kecelakaan.
- Sampah pemukiman (Household refuse)
Yaitu sampah campuran yang berasal dari daerah perumahan.
- Bangkai Kendaraan (Abandoned vehicles)
Yang termasuk jenis sampah ini adalah bangkai mobil, truk, kereta api, satelit, kapal laut dan
alat transportas lainnya.
- Sampah industri
Terdiri dari sampah padat yang berasal dari industri pengolahan hasil bumi, tumbuh-tumbuhan
dan industri lainnya.
- Sampah hasil penghancuran gedung/bangunan (Demolotion waste)
Yaitu sampah yang berasal dari perombakan gedung/bangunan.
- Sampah dari daerah pembangunan
Yaitu sampah yang berasal dari sisa pembangunan gedung, perbaikan dan pembaharuan
gedung. Sampah dari daerah ini mengandung tanah batu-batuan, potongan kayu, alat perekat,
kertas dan lain-lain.
- Sampah Padat Pada Air Buangan (Sewage Solid)
Sampah yang terdiri dari benda yang umumnya zat organik hasil saringan pada pintu masuk
suatu pusat pengolahan air buangan.
- Sampah Khusus Yaitu sampah yang memerlukan penanganan khusus dalam pengelolaannya,
misalnya kaleng cat, film bekas, zat radioaktif dan zat yang toksis. (Mukono, 2006).

Komposisi Sampah
Menurut Achmadi (2004) secara umum komposisi dari sampah di setiap kota bahkan negara
hampir sama, yaitu :
Persentase
Tabel 2.1. Komposisi Sampah di Setiap Komposisi Sampah
Kota atau Negara No
1
Kertas dan Karton
35 %
2
Logam
7%
3
Gelas
5%
4
Sampah halaman dan dapur
37 %
5
Kayu
3%
6
Plastik, karet, dan kulit
7%
7
Lain-lain
6%

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kuantitas dan Kualitas Sampah

Menurut Slamet (2004) sampah baik kualitas maupun kuantitasnya sangat dipengaruhi oleh
berbagai kegiatan dan taraf hidup masyarakat. Beberapa faktor yang penting antara lain :
a. Jumlah Penduduk
Dapat dipahami dengan mudah bahwa semakin banyak penduduk semakin banyak pula
sampahnya. Pengelolaan sampah pun berpacu dengan laju pertambahan penduduk.
b. Keadaan sosial ekonomi
Semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat, semakin banyak jumlah perkapita sampah
yang dibuang. Kualitas sampahnya pun semakin banyak bersifat tidak dapat membusuk.
Perubahan kualitas sampah ini, tergantung pada bahan yang tersedia, peraturan yang berlaku serta
kesadaran masyarakat akan persoalan persampahan. Kenaikan kesejahteraan ini pun akan
meningkatkan kegiatan konstruksi dan pembaharuan bangunan-bangunan, transportasi pun
bertambah, dan produk pertanian, industri dan lain-lain akan bertambah dengan konsekuensi
bertambahnya volume dan jenis sampah.
c. Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi akan menambah jumlah maupun kualitas sampah, karena pemakaian bahan
baku yang semakin beragam, cara pengepakan dan produk manufaktur yang semakin beragam
pula.
d. Tingkat pendidikan
Menurut Hermawan (2005) Untuk meningkatkan mutu lingkungan, pendidikan mempunyai
peranan penting karena melalui pendidikan, manusia makin mengetahui dan sadar akan bahaya
limbah rumah tangga terhadap lingkungan, terutama bahaya pencemaran terhadap kesehatan
manusia dan dengan pendidikan dapat ditanamkan berpikir kritis, kreatif dan rasional. Semakin
tinggi tingkat pendidikan selayaknya semakin tinggi kesadaran dan kemampuan masyarakat
dalam pengelolaan sampah.

Hubungan Sampah Terhadap Masyarakat dan Lingkungan


Menurut Chandra, Budiman (2006) pengelolaan sampah di suatu daerah akan membawa pengaruh
bagi masyarakat maupun lingkungan daerah itu sendiri. Pengaruhnya tentu saja ada yang positif
dan juga ada yang negatif.
Pengaruh positif dari pengelolaan sampah ini terhadap masyarakat dan lingkungan, antara lain :
a. Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah
b. Sampah dapat dimanfaatkan untuk pupuk
c. Sampah dapat diberikan untuk makanan ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah
ditentukan terlebih dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah terhadap ternak
d. Pengelolaan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembang biak serangga atau
binatang pengerat
e. Menurunkan insidensi kasus penyakit menular yang erat hubungannya dengan sampah
f. Keadaan estetika lingkungan yang bersih menimbulkan kegairahan hidup masyarakat
g. Keadaan lingkungan yang baik mencerminkan kemajuan budaya masyarakat
h. Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan suatu Negara
sehingga dana itu dapat digunakan untuk keperluan lain
Sedangkan pengaruh negatif dari sampah terhadap kesehatan, lingkungan maupun sosial ekonomi
dan budaya masyarakat, antara lain :
a. Pengaruh terhadap kesehatan
- Pengolahan sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai tempat
perkembangbiakan sektor penyakit seperti lalat atau tikus
- Insidensi penyakit Demam Berdarah dengue akan meningkat karena vector penyakit hidup dan
berkembang biak dalam sampah kaleng maupun ban bekas yang berisi air hujan
- Terjadinya kecelakaan akibat pembuangan sampah secara sembarangan misalnya luka akibat

benda tajam seperti besi, kaca dan sebagainya


- Gangguan psikosomatis, misalnya sesak nafas, insomnia, stress dan lain-lain.
b. Pengaruh terhadap lingkungan - Estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang mata
- Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas tertentu yang
menimbulkan bau busuk
- Pembakaran sampah dapat menimbulkan pencemaran udara dan bahaya kebakaran yang lebih
luas
- Pembuangan sampah ke dalam saluran pembuangan air akan menyebabkan aliran air terganggu
dan saluran air akan menjadi dangkal
- Apabila musim hujan datang, sampah yang menumpuk dapat menyebabkan banjir dan
mengakibatkan pencemaran pada sumber air permukaan atau sumur dangkal
- Air banjir dapat mengakibatkan kerusakan pada fasilitas masyarakat seperti jalan, jembatan dan
saluran air.
c. Pengaruh terhadap sosial ekonomi dan budaya masyarakat - Pengelolaan sampah yang kurang
baik mencerminkan keadaan sosial budaya masyarakat setempat
- Keadaan lingkungan yang kurang baik dan jorok, akan menurunkan minat dan hasrat orang lain
(turis) untuk datang berkunjung ke daerah tersebut
- Dapat menyebabkan terjadinya perselisihan antara penduduk setempat dan pihak pengelola
(misalnya kasus TPA Bantar Gebang, Bekasi)
- Angka kasus kesakitan meningkat dan mengurangi hari kerja dan produktifitas masyarakat
menurun
- Kegiatan perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana yang besar sehingga dana untuk
sektor lain berkurang
- Penurunan pemasukan daerah (devisa) akibat penurunan jumlah wisatawan yang diikuti dengan
penurunan penghasilan masyarakat setempat
- Penurunan mutu dan sumber daya alam sehingga mutu produksi menurun dan tidak memiliki
nilai ekonomis
- Penumpukan sampah di pinggir jalan menyebabkan kemacetan lalu lintas yang dapat
menghambat kegiatan transportasi barang dan jasa.
Pengelolaan Sampah
Menurut Reksosoebroto (1985) dalam Efrianof (2001) pengelolaan sampah sangat penting untuk
mencapai kualitas lingkungan yang bersih dan sehat, dengan demikian sampah harus dikelola
dengan sebaik-baiknya sedemikian rupa sehingga hal-hal yang negatif bagi kehidupan tidak
sampai terjadi. Dalam ilmu kesehatan lingkungan, suatu pengelolaan sampah dianggap baik jika
sampah tersebut tidak menjadi tempat berkembangbiaknya bibit penyakit serta sampah tersebut
tidak menjadi media perantara menyebar luasnya suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus
terpenuhi dalam pengelolaan sampah ialah tidak mencemari udara, air, dan tanah, tidak
menimbulkan bau (segi estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan lain sebagainya.
Techobanoglous (1977) dalam Maulana (1998) mengatakan pengelolaan sampah adalah suatu
bidang yang berhubungan dengan pengaturan terhadap penimbunan, penyimpanan (sementara),
pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan, pemrosesan danpembuangan sampah dengan suatu
cara yang sesuai dengan prinsip-prinsip terbaik dari kesehatan masyarakat, ekonomi, teknik
(engineering), perlindungan alam (conservation), keindahan dan pertimbangan lingkungan
lainnya dan juga mempertimbangkan sikap masyarakat.
Menurut Cunningham (2004) tahap pengelolaan sampah modern terdiri dari 3R (Reduce, Reuse,
Recycle) sebelum akhirnya dimusnahkan atau dihancurkan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengelolaan Sampah


Kenyataan yang ada saat ini, sampah menjadi sulit dikelola oleh karena berbagai hal :
1. Pesatnya perkembangan teknologi, lebih cepat dari kemampuan masyarakat untuk mengelola
dan memahami masalah persampahan
2. Meningkatnya tingkat hidup masyarakat yang tidak disertai dengan keselarasan pengetahuan
tentang persampahan
3. Meningkatnya biaya operasi, pengelolaan dan konstruksi di segala bidang termasuk bidang
persampahan
4. Kebiasaan pengelolaan sampah yang tidak efisien, tidak benar, menimbulkan pencemaran air,
udara dan tanah, sehingga juga memperbanyak populasi vector pembawa penyakit seperti lalat
dan tikus
5. Kegagalan dalam daur ulang maupun pemanfaatan kembali barang bekas juga ketidakmampuan
masyarakat dalam memelihara barangnya sehingga cepat rusak, Ataupun produk manufaktur yang
sangat rendah mutunya, sehingga cepat menjadi sampah
6. Semakin sulitnya mendapatkan lahan sebagai Tempat Tembuangan Akhir (TPA) sampah, selain
tanah serta formasi tanah yang tidak cocok bagi pembuangan sampah juga terjadi kompetisi yang
semakin rumit akan penggunaan tanah
7. Semakin banyaknya masyarakat yang berkeberatan bahwa daerahnya dipakai sebagai tempat
pembuangan sampah
8. Kurangnya pengawasan dan pelaksanaan peraturan
9. Sulitnya menyimpan sampah sementara yang cepat busuk, karena cuaca yang semakin panas.
10. Sulitnya mencari partisipasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan
memelihara kebersihan
11. Pembiayaan yang tidak memadai, mengingat bahwa sampai saat ini kebanyakan sampah
dikelola oleh pemerintah
12. Pengelolaan sampah di masa lalu dan saat sekarang kurang memperhatikan faktor non
teknis dan non teknis seperti partisipasi masyarakat dan penyuluhan tentang hidup sehat dan
bersih.
Penerapan prinsip 3-R, 4-R atau 5-R
Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan dalam penanganan sampah misalnya dengan menerapkan
prinsip 3-R, 4-R atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan
cara Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur ulang sampah),
sedangkan 4-R ditambah Replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Prinsip 5-R selain 4 prinsip
tersebut di atas ditambah lagi dengan Replant (menanam kembali). Penanganan sampah 4-R
sangat penting untuk dilaksanakan dalamrangka pengelolaan sampah padat perkotaan yang efisien
dan efektif, sehingga diharapkan dapat mengurangi biaya pengelolaan sampah.
a. Reduce

Prinsip Reduce dilakukan dengan cara sebisa mungkin melakukan minimalisasi barang atau
material yang digunakan. Semakin banyak kita menggunakan material, semakin banyak sampah
yang dihasilkan.
Menurut Suyoto (2008) tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program reduce:
- Hindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar
- Gunakan kembali wadah/kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lain
- Gunakan baterai yang dapat di charge kembali
- Jual atau berikan sampah yang terpilah kepada pihak yang memerlukan
- Ubah pola makan (pola makan sehat : mengkonsumsi makanan segar, kurangi makanan
kaleng/instan)
- Membeli barang dalam kemasan besar (versus kemasan sachet)
- Membeli barang dengan kemasan yang dapat di daur ulang (kertas, daun dan lain-lain)
- Bawa kantong/tas belanja sendiri ketika berbelanja
- Tolak penggunaan kantong plastik
- Gunakan rantang untuk tempat membeli makanan
- Pakai serbet/saputangan kain pengganti tisu
- Kembali kepemakaian popok kain bagi para ibu

b. Reuse
Prinsip reuse dilakukan dengan cara sebisa mungkin memilih barang-barang yang bisa dipakai
kembali. Dan juga menghindari pemakaian barang-barang yang hanya sekali pakai. Hal ini dapat
memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum ia menjadi sampah.
Menurut Suyoto (2008) tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program reuse:
- Pilih produk dengan pengemas yang dapat didaur ulang
- Gunakan produk yang dapat diisi ulang (refill)
- Kurangi penggunaan bahan sekali pakai
- Plastik kresek digunakan untuk tempat sampah
- Kaleng/baskom besar digunakan untuk pot bunga atau tempat sampah
- Gelas atau botol plastik untuk pot bibit, dan macam-macam kerajinan
- Bekas kemasan plastik tebal isi ulang digunakan sebagai tas
- Styrofoam digunakan untuk alas pot atau lem
- Potongan kain/baju bekas untuk lap, keset, dan lain-lain
- Majalah atau buku untuk perpustakaan

c. Recycle
Prinsip recycle dilakukan dengan cara sebisa mungkin, barang-barang yang sudah tidak berguna
lagi, bisa didaur ulang. Tidak semua barang bisa didaur ulang, namun saat ini sudah banyak
industri non-formal dan industri rumah tangga yang memanfaatkan sampah menjadi barang lain.
Menurut Suyoto (2008) tindakan yang dapat dilakukan berkaitan dengan program recycle:
- Mengubah sampah plastik menjadi souvenir
- Lakukan pengolahan sampah organik menjadi kompos
- Mengubah sampah kertas menjadi lukisan atau mainan miniatur
d. Replace
Prinsip replace dilakukan dengan cara lebih memperhatikan barang yang digunakan sehari-hari.
Dan juga mengganti barang-barang yang hanya bisa dipakai sekali dengan barang yang lebih
tahan lama. Prinsip ini mengedepankan penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan seperti
mengganti kantong plastik dengan keranjang saat berbelanja, atau hindari penggunaan styrofoam
karena banyak mengandung zat kimia berbahaya.
e. Replant
Prinsip replant dapat dilakukan dengan cara membuat hijau lingkungan sekitar baik lingkungan
rumah, perkantoran, pertokoan, lahan kosong dan lain-lain. Penanaman kembali ini sebagian
menggunakan barang atau bahan yang diolah dari sampah.