Anda di halaman 1dari 19

Terapi Inhalasi

PEMBIMBING :
DISUSUN OLEH : NATASHA AMALDA EDIWAN

Pendahuluan
Terapi inhalasi adalah cara pemberian obat dalam
bentuk partikel aerosol melalui saluran napas.
Aerosol : gas yang dihasilkan melalui proses dispersi
(pemecahan) atau suspensi partikel padat atau cair
Sasaran: saluran napas atas dan bawah

Mekanisme Kerja
Mencapai sasaran di saluran napas bersama dengan
proses respirasi, sesuai ukuran partikel yang terbentuk
Mekanisme yang digunakan sesuai dgn hukum Brown:
impaksi, sedimentasi dan difusi.

C
Mechanisms of deposition within the respiratory tract.
A, Impaction. B, Sedimentation. C, Diffusion
Everard ML, et al. Pediatr Respir Med 1999; 286

PARTICLE SIZE

IMPACTION

SEDIMENTATION

> 10

5-10

Nasal cavity

Trachea
Primary bronchus

2-5
SEDIMENTATION
+
DIFFUSION
DIFFUSION

Secondary bronchus

Terminal bronchus

<2

<2

Respiratory
bronchiole
Alveoli

Alveolar
Ducts & Sacs

Particles penetrate the respiratory tract to different degrees according to their size.
This diagram also depicts the mechanisms that operate to clear particles from
the Respiratory tract according to size

Bentuk Obat dan Alat


Bantu
Metered dose inhaler (MDI)
Dengan spacer
Tanpa spacer
Dry powder inhaler (DPI)
Spinhaler, Rotahaler, Diskhaler, Diskus, Turbuhaler
Nebulizer
Jet
Ultrasonic

Metered Dose Inhaler (MDI)


Berbentuk tabung kecil
Cara penggunaan: disemprotkan
bersamaan dengan insipirasi dalam
Diperlukan koordinasi antara semprot
dan sedot
Sulit digunakan oleh anak-anak,
lansia, pasien dengan gangguan
neurologis
Bisa menggunakan alat bantu:
nebuhaler/spacer

Dry Powder Inhalation


Lebih mudah digunakan
Tidak memerlukan koordinasi cepat

Nebuliser
Terdiri atas beberapa bagian:
Generator aerosol: kompresor,
ultrasound, oksigen
Nebuliser
Tempat obat cair
Alat hisap: masker, mouthpiece, atau
kanul

Beberapa hal yang perlu diperhatikan


agar nebuliser dapat memberikan hasil
yang maksimal :
o kekuatan kompresor 6-8 l/menit
o volume obat 2-5 ml
o partikel yang dihasilkan sebagian besar
2-5 mikron
o persentase partikel yang optimal > 50 %
okekuatan inspirasi ( bila menggunakan
ventilator harus disesuaikan )
olama pemberian 5-10 menit

Macam Alat Bantu Nebuliser


Masker Digunakan pada pasien dengan kesadaran menurun. Tidak memerlukan
koordinasi inspirasi atau ekspirasi dari pasien. Hati hati pada penggunaan
kortikosteroid atau antikolinergik.
Mouthpiece Obat yang terhirup akan lebih efektif. Diperlukan koordinasi inspirasi
dan ekspirasi yang baik. Berikan sambungan konek- tor di sisi ekspirasi untuk
mengurangi obat yang terbuang melalui ekspirasi. Mouthpiece terbaru
menggunakan klep untuk mengurangi obat yang terbawa keluar saat ekspirasi.
Konektor ventilator Beberapa konektor telah mempunyai saluran langsung; bila
tidak ada, dapat digunakan T konektor pada pipa inspirasi.

Keuntungan terapi inhalasi:


Obat bekerja langsung pada saluran napas efek lebih
cepat
Dosis yang lebih rendah untuk mendapatkan efek yang
sama
Harga untuk setiap dosis lebih murah
Efek samping obat minimal karena konsentrasi obat didalam
darah rendah

Pemakaian Terapi Inhalasi


- diagnostik
- terapi.
Sebagai alat diagnostik inhalasi digunakan pada :
- uji bronkodilator dengan beta2 agonis
- uji provokasi bronkus dengan metakolin - induksi sputum dengan NaCl 3 %.

Penggunaan terapi inhalasi dalam masalah respirasi biasanya ditujukan untuk


:
-

bronkodilatasi
mukolitik
antiinflamasi mukosa bronkus
antibiotik mukosa bronkus dan alveolus
anastesi lokal bronkus untuk tindakan bronkoskopi.

Pemilihan Bentuk Obat dan Alat


Bantu
Pemilihan bentuk obat dan alat bantu (MDI, DPI atau nebuliser) harus
disesuaikan dengan kemampuan koordinasi gerakan pasien. Penggunaan di
ruang gawat darurat lebih mudah dengan nebuliser. Dalam penggunaan
jangka panjang bentuk MDI atau DPI lebih mudah. Nebuliser jet dapat
digunakan untuk suspensi maupun solutio. Nebuliser ultrasound hanya dapat
digunakan untuk solutio.
Masker untuk wajah (facemask) sebaiknya tidak digunakan untuk
kortikosteroid atau antikolinergik untuk mencegah efek samping akibat
partikel obat yang tertinggal di kulit sekitar muka/wajah atau daerah mata.

Obat obatan yang telah tersedia dalam kemasan terapi inhalasi antara lain :
- beta2agonis misal salbutamol, terbutalin, fenoterol, formoterol, salmeterol
- antikolinergik misal ipratroprium bromide, tiotropium - kortikosteroid misal
budesonide, fluticasone
- antibiotik misal tobramycin
- prostacyclin

EFEK SAMPING
- Palpitasi, karena kelebihan dosis [ bronkodilator beta2agonis ] - Retensi CO2, bila
menggunakan oksigen sebagai sumber tenaga nebuliser pada terapi inhalasi pasien PPOK dalam
waktu yang lama
- Depresi SSP bila menggunakan morfin
- Bronkospasme pada beberapa obat
- Glaukoma, pada penggunaan antikolinergik dengan masker - Mikosis kulit wajah bila
menggunakan steroid inhalasi
dengan masker
- Kontaminasi mikroorganisme bila desinfeksi kurang
- Kerusakan partikel obat bila menggunakan jenis nebuliser
yang tidak sesuai
- Batuk bertambah karena iritasi laring bila terdapat laringitis
atau faringitis

DAFTAR PUSTAKA
1. ERS Workshop Medical Aerosol. Budapest 2005
2. ERS guideline on the use of nebulizer. Eur Respir J 2001;18:228-242
3. Device Selection and Outcome of Aerosol Therapy: Evidence Based
Guidelines: American College of Chest Physicians/American College of
Asthma, Allergy and Immunology. Chest 2005; 127;335-371