Anda di halaman 1dari 23

Program Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Puskesmas

Pendahuluan
Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) pada saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia. Oleh menteri Kesehatan Republik Indonesia, DHF telah ditetapkan
menjadi salah satu penyakit menular yang harus dilaporkan dalam waktu satu kali dua puluh
empat jam. Hal ini disebabkan karena angka kematian yang tinggi, angka kesakitan cenderung
meningkat dari tahun ke tahun, daerah yang terjangkit semakin meluas khususnya di daerah
perkotaan yang padat dan adanya beberapa Kejadian Luar Biasa (KLB) yang berdampak pada
bidang pariwisata. Penyakit DHF dalam dua puluh tahun terakhir merupakan penyakit yang
menimbulkan keresahan masyarakat karena menyerang terutama pada anak-anak dan terjadinya
kematian yang mendadak sesudah demam tinggi mendadak, serta menyerang beberapa anggota
keluarga secara bersamaan atau selang beberapa hari dan penyakit ini sulit diramalkan
kesudahannya. Pada saat wabah menyerang anak-anak dengan tanda demam tinggi disertai
perdarahan dan syok. Vektor penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti yang banyak di
perkotaan dan Aedes Albopictus (transmitan co-vector) di perdesaan. Penularan DHF berkaitan
dengan musim penghujan khususnya pada permulaan dan pada akhir musim. Adapula jika cepat
terdeteksi dan ditangani dini, maka prognosisnya akan baik.

Epidemiologi DBD
a. Agent : Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus
dengue yang termasuk dalam kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang
sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, family falvivirus, family flaviviridae dan
mempunyai 4 jenis serotype yaitu: DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Yang di tularkan melalui
gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat di
hampir seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter
diatas permukaan air laut. Infeksi salah satu serotype akan menimbulkan antibody terhadap
serotype bersangkutan, sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotype lain sangat

kurang, sehingga tidak dapat memberi perlindungan yang memadai terhadap serotype yang
lain. Serotype 3 merupakan serotype yang dominan dan diasumsikan banyak yang
menunjukan manifestasi klinis yang berat.1,2
b. Pejamu (host): virus dengue ditularkan kepada manusia lewat gigitan nyamuk Aedes aegypty.
Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat mengigit manusia yang
sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang ada dalam kelenjar liur berkembang biak
dalam waktu 8-10 hari (extrinsic ebcubation period) sebelum dapat di tularkan kepada
manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan
kepada telurnya (transovanan transmission) , namun perananya dalam penularan virus tidak
penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak dalam nyamuk, nyamuk tersebut
akan dapat menularkan virus selama hidup (infektif). Didalam tubuh manusia, virus
memerlukan waktu masa tunas 46 hari (intrinsic incubation period) sebelum menimbulkan
penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit
manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah
demem timbul. 1,2,3
c. Vector: Organisme hidup yang dapat menularkan agens penyakit dari suatu hewan ke hewan
lain atau ke manusia disbut sebagai vektor. Arthropoda merupakan vector penting didalam
penularan penyakit parasit dan virus yang spesifik. Nyamuk merupakan vector penting untuk
penularan virus yang menyebabakan ensefalitis pada manusia. Nyamuk menghisap dapar dari
reservoir yang lain atau pada manusia.4
d. Reservoir: Hewan-hewan yang menyimpan kuman pathogen sementara hewan hewan itu
sendiri tidak terkena penyakit disebut reservoir. Reservoir untuk arthropodborne disease
adalah hewan yang bisa hidup bersama pathogen. Penyakit ricketsia merupakan
arthropodborne disease yang hidup didalam reservoir alamiah.4
e. Lingkungan (environment).2,3
Lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan vektor, sehingga berpengaruh pula
terhadap penularan penyakit DBD, antara lain sebagai berikut.
1)

Lingkungan fisik, terdiri dari genangan air, khususnya genangan air yang tidak kontak
langsung dengan tanah, tempat penampungan air, air di pelepah atau batang pisang, air di
kaleng bekas atau ban bekas dan tanaman hias.

a. Letak geografis: Penyakit akibat infeksi virus dengue ditemukan tersebar luas di
berbagai negara terutama di negara tropik dan subtropik seperti Asia Tenggara, Pasifik
Barat dan Caribbean dengan tingkat kejadian sekitar 50-100 juta kasus setiap tahunnya.
Infeksi virus dengue di Indonesia telah ada sejak abad ke-18 seperti yang dilaporkan oleh
David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda.
Pada saat itu virus dengue menimbulkan penyakit yang disebut penyakit demam lima
hari kadang-kadang disebut demam sendi. Disebut demikian karena demam yang terjadi
menghilang dalam lima hari, disertai nyeri otot, nyeri pada sendi dan nyeri kepala.
Sehingga sampai saat ini penyakit tersebut masih merupakan problem kesehatan
masyarakat dan dapat muncul secara endemik maupun epidemik yang menyebar dari
suatu daerah ke daerah lain atau dari suatu negara ke negara lain
b. Musim: Secara nasional penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia setiap tahun
terjadi pada buan September s/d Februari dengan puncak pada bulan Desember atau
Januari yang bertepatan dengan waktu musim hujan.
Akan tetapi Untuk kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya musim
penularan terjadi pada bulan Maret s/d Agustus dengan puncak terjadi pada bulan Juni
atau Juli.
2) Lingkungan biologi: terdiri dari tanaman yang dapat menampung air pada pelepah, daun
maupun batangnya.
a. Populasi: Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya infeksi
virus dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan meningkatkan jumlah insiden
kasus DBD tersebut. Dengan semakin banyaknya manusia maka akan semakin besar
peluang nyamuk mengigit, sehingga penyebaran kasusu DBD dapat menyebar dengan
cepat dalam suatu wilayah.
b. Nutrisi: Teori nutrisi mempengaruhi derajat berat ringan penyakit dan ada
hubungannya dengan teori imunologi, bahwa pada gizi yang baik mempengaruhi
peningkatan antibodi dan karena ada reaksi antigen dan antibodi yang cukup baik, maka
terjadi infeksi virus dengue yang berat.
3) Lingkungan sosial-ekonomi, berupa perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan
kebersihan lingkungannya, terutama menguras bak atau tempat penampungan air dan
sampah-sampah yang dapat menampung air.3

Puskesmas
Puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan
kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat
pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,
terpadu, dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu
wilayah tertentu. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau
kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian
wilayah kecamatan.5
Tujuan dari puskesmas adalah:
Mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
puskesmas.5
Fungsi:
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
-

Berupaya menggrakkan lintas sector dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.

Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap


program pembangunan di wilayah kerjanya.

Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan


penyembuhan dan pemulihan.

b. Pusat pemberdayaan masyarakat


Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat:
-

Memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat.

Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan.

Ikut menetapkan, menyelenggarakan, dan memantau pelaksanaan program kesehatan.

c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan


berkesinambungan.
-

Pelayanan kesehatan perorangan

Pelayanan kesehatan masyarakat

Kegiatan Pokok Puskesmas


Kegiatan pokok Puskesmas dikembangkan dari Basic Health Care Services (WHO) yang dikenal
sebagai Basic Seven yang terdiri atas :6
a. Mother and Child Health Care
b. Medical Care
c. Environmental Sanitation
d. Health Education
e. Simple Laboratory
f. Communicable Disease Control
g. Simple statistic
Pada Rakernas ke 111/1970, ditetapkan 6 Usaha Kesehatan Pokok seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta keinginan program di Tingkat Pusat, maka berkembang
menjadi 18 Usaha Kesehatan Pokok.
Upaya Kesehatan
Puskesmas bertangung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan masyarakat.
Ada 2 Upaya :
a. Upaya kesehatan Wajib
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmern nasional,regional dan global serta
mempunyai daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyrakat. Upaya ini
harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di Indonesia, meliputi:
-

Upaya Promosi Kesehatan

Upaya Kesehatan Lingkungan

Upaya Kesehatan Ibu & Anak Serta Kb

Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit Menular

Upaya Pengobatan

b. Upaya Kesehatan Pengembangan


Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di
masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan ini
meliputi:
-

Upaya Kesehatan Sekolah

Upaya Kesehatan Olahraga

Upaya Kesehatan Kesehatan Masyarakat

Upaya Kesehatan Kerja

Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut

Upaya Kesehatan Jiwa

Upaya Kesehatan Mata

Upaya Kesehatan usia lanjut

Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional

Stuktur Organisasi Puskesmas


- Kepala Puskesmas
- Unit Tata Usaha
- Unit Pelaksana Teknis Fungsional

Upaya Kesehatan Masyarakat

Upaya Kesehatan perorangan

- Jaringan Pelayanan

Puskesmas pembantu

Puskesmas Keliling

Bidan di Desa/Komunitas

Peran Dokter Puskesmas


Tujuan pengaturan praktik kedokteran dalam UU No.29 tahun 2004 (UUPK) adalah memberikan
perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medik,
memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dan pelayan kesehatan.3

Mengatur praktik merupakan ruh UUPK, agar praktik dokter tidak menyimpang dari norma dan
etika yang telah disepakati. Dalam hal ini etika profesi memitiki fungsi ganda yaitu ke luar untuk
mengontrol tindak ketidak profesionalan demi kepentingan pasien/masyarakat, serta ke dalam
untuk menjaga keselarasan hubungan antar-sejawat.
Dari tujuan UUPK tersebut dapat dimengerti bahwa komunitas dokter membutuhkan pengaturan
hukum yang memberi peluang tumbuhnya self regulation dan self enforcement disamping law
enforcement bila memang diperlukan.
Bila meningkatnya tuntutan dianggap sebagai kegagalan komunitas dokter dalam memberikan
pelayanan yang terbaik, maka UUPK diharapkan menjadi solusi untuk mengeliminasi kegagalan
tersebut.
Dengan menumbuhkan self regulation dan self enforcement di kalangan profesi medik,
merupakan upaya ke arah pengembangan konsep yang applicable dan sustainable dengan
strategi: Doctors for the Future seperti yang telah digariskan oteh Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) pada tahun 1996.
Strategi WHO ini juga dikenal dengan sebutan Five Stars Doctor di mana setiap dokter
diharapkan dapat berperan :

Sebagai health care provider yang bermutu, berkesinambungan dan komprehensif


dengan mempertimbangkan keunikan individu , berdasarkan kepercayaan dalam jangka
panjang.

Sebagai decision

maker yang

mampu

memilih

teknologi

yang

tepat

dengan

pertimbangan etika dan biaya.

Sebagai communicator

yang mampu mempromosikan gaya hidup sehat melalui

komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) serta memberdayakan masyarakat untuk


mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Sebagai community

leader yang

mampu

memperoleh

kepercayaan,

membangun

kesepakatan tentang kesehatan serta berinisiatif meningkatkan kesehatan bersama

Sebagai manager yang mampu menggerakkan individu dan lingkungan demi kesehatan
bersama dengan menggunakan data yang akurat.7
Melalui pembangunan dokter dan masyarakat secara individu maupun kolektif seperti di

atas, diharapkan akan terbangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih sehat (safer system
building), lebih murah serta lebih bermanfaat di masa datang.
Teknik penemuan kasus DBD
Penyelidikan epidemiologi DBD merupakan kegiatan pelacakan penderita/tersangka lainnya dan
pemeriksaan

jentik

nyamuk

penular

penyakit

demam

berdarah

dengue

di

rumah

penderita/tersangka dan rumah-rumah sekitarnya dalam radius sekurang-kurangnya 100 meter,


serta tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penyebaran penyakit lebih lanjut.
Metode pencarian kasus penyakit menular, terutama yang disebabkan nyamuk, di Indonesia,
dengan cara active case finding, passive case finding, ataupun survey (Mass survey, Fever
survey). Active Case Finding (ACD) umumnya dilaksanakan dengan cara kunjungan dari rumah
ke rumah oleh petugas kesehatan biasanya setiap 1 dan 2 bulan. Semua rumah harus dapat
dikunjungi dan dilakukan pemeriksaan terhadap adanya kemungkinan infeksi DBD. ACD ini
umumnya dilakukan di daerah non-endemis DBD. Umumnya di Indonesia, pencarian kasus
DBD menggunakan teknik Passive Case Finding (PCD). Pada teknik PCD si penderita dengan
gejala DBD datang ke di rumah sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Poliklinik untuk
berobat, kemudian dilakukan pemeriksaan hingga didiagnosa penyakit DBD. PCD biasanya
diperuntukkan di daerah endemis.

Gejala umum DBD


1.

Hari ke-1 :

Mula-mula timbul panas mendadak (suhu badan 38 40)

Badan lemah dan lesu

2.

Hari ke-2 atau ke-3 :

Perut (ulu hati) terasa nyeri

Petechiae (bintik-bintik merah di kulit) pada muka, lengan, paha, perut atau dada.
Kadang-kadang bintik-bintik merah ini hanya sedikit sehingga sering perlu pemeriksaan
yang teliti. Bintik-bintik merah ini mirip dengan bekas gigitan nyamuk. Untuk
membedakannya ranggangkan kulit: bila hilang, bukan demam berdarah. Untuk melihat
adanya petechiae lakukan pemeriksaan dengan tourniquet (rumpel leede) test. Test
positif setelah pemeriksaan tourniquet (rumpel leede) keluar petechiae di tangan.

Kadang-kadang terjadi perdarahan hidung (mimisan), mulut atau gusi dan muntah darah
atau berak darah. Tanda-tanda dan gejala di atas disebabkan karena pecahnya pembuluh
darah kapiler yang terjadi di semua organ tubuh.

3.

Hari ke-4 s/d 7 :

Bila keadaan penyakit menjadi parah, penderita gelisah, berkeringat banyak, ujungujung tangan dan kaki dingin (pre shock).

Bila keadaan (pre-shock) ini berlanjut, maka penderita dapat mengalami shock (lemah
tak berdaya, denyut nadi cepat atau sukar diraba), atau disebut dengan Dengue Shock
Syndrome (DSS), dan bila tidak segera ditolong dapat meninggal. Keadaan pre-shock
dan shock ini disebabkan oleh adanya gangguan pada pembuluh darah kapiler yang
mengakibatkan merembesnya plasma darah keluar dari pembuluh darah. Selain itu juga
oleh karena adanya perdarahan.

Stadium DBD: (WHO, 1997)8

I : demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji
torniquet +.

II : seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.

III : didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun (
20 mmHg) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak
tampak gelisah.

IV : syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak teratur.
Catatan: Adanya trombositopenia disertai hemokonsentrasi membedakan DBD derajat I/II
dengan DD. Pembagian derajat penyakit dapat juga dipergunakan untuk kasus dewasa.

Cara Diagnosis. Adanya 2 atau 3 kriteria klinik yang pertama disertai adanya thrombocytopenia
sudah cukup untuk menegakkan diagnosa Demam Berdarah secara klinik. Bila kriteria tersebut
belum/tidak dipenuhi disebut sebagai suspect Demam Berdarah. Diagnosa pasti dilakukan
dengan pemeriksaan serologis spesimen akut dan konvalescen.

Kriteria DBD:
1. Kriteria Klinis:
a. demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, terus menerus selama 2 7 hari,
b. manifestasi perdarahan (uji torniquet positif, petekiia, akimosis, purpura,
perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau melena),
c. pembesaran hati,
d. syok,ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki
dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien tampak gelisah.
2. Kriteria Laboratoris:
a. trombositopenia 100.000/mm3, dan
b. hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih.8

Pengobatan
Penderita DBD derajat 1 dan 2 dapat dirawat puskesmas yang mempunyai fasilitas perawatan,
sedangkan DBD derajat 3 dan 4 harus segera dirujuk ke Rumah Sakit. Pada dasarnya pengobatan
DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan
permeabilitas kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan
pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi perlu
perawatan intensif.

Tirah baring selama masih demam

Obat antipiretik atau kompres panas hangat.

Untuk menurunkan suhu dianjurkan pemberian parasetamol. Asetosal/salisilat


tidak dianjurkan oleh karena dapat menyebabkan gastritis, perdarahan atau
asidosis.

Dianjurkan pemberian cairan elektrolit (mencegah dehidrasi sebagai akibat


demam, anoreksia dan muntah) per oral, jus buah, sirup, susu. Di samping air
putih, dianjurkan diberikan selama 2 hari.

Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok. Periode kritis adalah pada saat
suhu turun pada umumnya hari ke-3 -5 fase demam.

Pemeriksaan kadar hematokrit berkala untuk pengawasan hasil pemberian cairan


yaitu menggambarkan derajat kebocoran plasma dan pedoman kebutuhan cairan
vena.

Untuk resusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA

Surveilans
Surveilans kasus DBD dilakukan setiap hari kerja oleh petugas administrasi pada pukul 08.0014.00 berdasarkan laporan kasus setiap klinik, dokter praktek umum, Puskesmas serta Rumah
sakit. Secara khusus tujuan surveilans DBD adalah :8
a. Memantau kecenderungan penyakit DBD
b. Mendeteksi dan memprediksi terjadinya KLB DBD serta penanggulangannya
c. Menindaklanjuti laporan kasus DBD dengan melakukan PE, serta
melakukan penanggulangan seperlunya
d. Memantau kemajuan program pengendalian DBD
e. Menyediakan informasi untuk perencanaan pengendalian DBD
f. Pembuatan kebijakan pengendalian DBD.

Pemberdayaan Masyarakat (jumantik)


DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sampai saat ini masih menjadi
permaslahan yang sangat sulit untuk diberantas. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit
DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas
program dan masyarakat termasuk sektor swasta.
Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain
membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD, mengembangkan
teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan, memberikan pelatihan dan
bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.

Salah satu bentuk langsung peran serta masyarakat adalah kegiatan Pemantauan Jentik Berkala
(PJB) yang dilakukan oleh masyarakat melalui Juru Pemantau jentik (Jumantik).
Kegiatan Jumantik sangat perlu dilakukan untuk mendorong masyarakat agar dapat secara
mandiri dan sadar untuk selalu peduli dan membersihkan sarang nyamuk dan membasmi jentik
nyamuk Aedes Aegypti. Tujuan Umum rekrutmen Jumantik adalah menurunkan kepadatan
(populasi) nyamuk penular demam berdarah dengue (Aedes Aegypti) dan jentiknya dengan
meningkatkan peran serta masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah
Dengue (PSN DBD), melalui penyuluhan yang dilakukan secara terus menerus. Tugas pokok
seorang Jumantik adalah melakukan pemantauan jentik, penyuluhan kesehatan, menggerakkan
pemberantasan sarang nyamuk secara serentak dan periodik serta melaporkan hasil kegiatan
tersebut kepada Supervisor dan Petugas Puskesmas sehingga akan dapat dihasilkan sistem
pemantauan jentik berkala yang berjalan dengan baik. Untuk itu peran Jumantik akan dapat
maksimal apabila masyarakat dapat membantu kelangsungan kegiatan dengan kesadaran untuk
memberikan kesempatan kepada Jumantik memantau jentik dan sarang nyamuk di rumahnya.
Jumantik adalah petugas yang berasal dari masyarakat setempat atau petugas yang ditunjuk oleh
unit kerja (pemerintah atau swasta) yang secara sukarela mau bertanggung jawab melakukan
pemantauan jentik secara rutim, maksimal seminggu sekali di wilayah kerja serta melaporkan
hasil kegiatan secara berkesinambungan ke kelurahan setempat. Jumantik tidak hanya terdiri dari
petugas pusat kesehatan masyarakat tetapi juga dari masyarakat sekitar dan anak-anak sekolah.
Memantau jentik tidaklah terlalu sulit jika kita sudah mengenal ciri-ciri jentik nyamuk Aedes
aegypti. Jentik nyamuk ini memiliki ciri yang khas yaitu selalu bergerak aktif di dalam air.
Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun
kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya
hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada disekitar dinding tempat
penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong.
Bentuk kepompong adalah seperti koma, gerakannya lamban dan sering berada di permukaan air.
Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk baru.
Pemeriksaan jentik dilakukan dengan memeriksa tempat penampungan air di sekitar rumah. Jika
tidak ditemukan jentik di permukaan, tunggu selama kurang lebih 1 menit karena untuk bernafas
jentik akan muncul ke permukaan. Cocokkan ciri jentik dengan ciri-ciri jentik aedes aegypti.

Jika sudah dipastikan jentik tersebut adalah jentik aedes aegypti, maka dilakukan abatisasi dan
pencatatan.
Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut :
(1) Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
(2) Untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar, seperti : bak mandi,
tempayan, drum, dan bak penampungan air lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan)
pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 (satu) menit untuk memastikan
keberadaan jentik.
(3) Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas bunga/pot,
tanaman air/botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain.
(4) Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh, biasanya digunakan
senter.
Adapun metode kurvey jentik kecara visual dapat dilakukan kubagai berikut :
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air
tanpa mengambil jentiknya. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes
aegypti biasanya menggunakan persamaan house index kubagai berikut :

Angka Bebas Jentik (ABJ):


Merupakan salah satu indicator keberhasilan program pemberantasan vector penular DBD.
Angka Bubas Jentik kubagai tolak ukur upaya pemberantasan vector melalui gerakan PSN-3M
menunjukan tingkat partisipaki masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata ABJ yang dibawah
95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD di lingkungannya
masing-masing belum optimal.
Penanggulangan Fokus
a) Pemberantasan vector
Abatisasi selektif

Abatisasi yaitu memberikan abate pada tempat penampungan air di mana jentik
ditemukan untuk membunuh jentik yang ada. Sedangkan pencatatan yang
dilakukan meliputi tanggal pemeriksaan, kelurahan tempat dilakukan pemantauan
jentik, nama dan alamat keluarga, jumlah semua penampungan air yang
diperiksa, serta jumlah container yang di temukan jentik. Data tersebut akan
digunakan untuk menghitung angka bebas jentik. Hasil pencatatan ini dilaporkan
ke Puskesmas setempat dan kemudian diserahkan ke Dinas Kesehatan.

Kegiatan 3 M plus
o Menguras dan menyikat TPA
o Menutup TPA
o Memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menjadi TPA
PLUS :
- Menaburkan bubuk larvasida
- Memelihara ikan pemakan jentik
- Menanam pohon pengusir nyamuk (sereh, zodia, lavender, geranium)
- Memakai obat anti nyamuk(semprot, bakar maupun oles),
- Menggunakan kelambu, pasang kawat kasa, dll.
- Menggunakan cara lain disesuaikan dengan kearifan lokal.
Fogging
Nyamuk Aedes aegypti dapat diberantas dengan fogging (pengasapan)
racun serangga, termasuk racun serangga yang dipergunakan sehari-hari di rumah
tangga. Melakukan pengasapan saja tidak cukup, karena dengan pengasapan itu
yang mati hanya nyamuk (dewasa) saja. Selama jentiknya tidak dibasmi, setiap
hari akan muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembang biakannya
Karena itu cara yang tepat adalah memberantas jentiknya yang dikenal dengan
istilah PSN DBD yaitu singkatan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam
Berdarah Dengue.
Fogging tertutup adlah pada saat fogging dilakukan semua pintu dan
jendela ditutup rapat rapat. Dilakukan sekitar jam 7.00 10.00 dan jam 15.00
18.00. Fogging terbuka adalah pada saat fogging / pengasapan dilakukan semua
pintu dan jendeladibuka lebar lebar. Dilakukan sekitar jam 7.00 10.00 dan jam
15.00 18.00. Fogging fokus adalah fogging yang dilakukan dititik fokus dan
sekitarnya dengan jarak radius 100 m atau 20 rumah sekitarnya. Dilakukan dua
siklus dengan jarak seminggu, diikuti abatisasi. Fogging fokus dilakukan setelah
penyelidikan epidemiologi positif.

b) Penyuluhan kesehatan
Perorangan: setiap hari kerja
Kelompok: 4x/ tahun dilakukan dengan mengadakan ceramah di tempat umum
dan di sekolah.

Indikator KLB
KLB adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan / kematian dan atau meningkatnya suatu
kejadian atau kesakitan / kematian yang bermakna secara epidemiologi pada sutu kelompok
penduduk dalam kurun waktu tertentu. Termasuk kejadian kesakitan/kematian yang disebabkan
oleh penyakit menular maupun yang tidak menular dan kejadian bencana alam yang disertai
wabah penyakit.
Kriteria Penetapan KLB Demam Berdarah Dengue
1.

Timbulnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang sebelumnya tidak ada
di suatu daerah Tingkat II.

2.

Adanya peningkatan kejadian kesakitan DBD dua kali atau lebih dibandingkan
jumlah kesakitan yang biasa terjadi pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.
Indikator KLB Demam Berdarah Dengue

Untuk menentukan KLB, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai klasifikasi daerah
(kelurahan) endemis DBD :, 3,9
-

Desa rawan I (endemis) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD

Desa rawan II (sporadic) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD

Desa rawan III (potensial) yaitu dalam 3 tahun tidak ada kasus, tetapi berpenduduk padat,
transportasi rawan, dan ditemukan jentik >5%

Desa bebas yaitu desa yang tidak pernah ada kasus

Bila terjadi KLB/wabah, dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval I


minggu), PSN DBD. Iarvasidasi, penyuluhan di seluruh wilayah terjangkit, dan kegiatan
penaggulangan lainnya yang diperlukan, seperti: pembentukan posko pengobatan dan posko
penanggulangan, penyelidikan KLB. pengumpulan dan pemeriksaan spesimen serta peningkatan
kegiatan surveilans kasus dan vektor, dan lain-lain.9

Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan :3


a. Sesuai dengan ketentuan/sistim pelaporan yang berlaku, pelaporan penderita demam
berdarah dengue menggunakan formulir :
W1/laporan KLB (wabah)
W2/laporan mingguan wabah
SP2TP: LB 1/laporan bulanan data kesakitan, LB 2/laporan bulanan data kematian.
Sedangkan untuk pelaporan kegiatan menggunakan formulir LB3/laporan bulanan
kegiatan Puskesmas (SP2TP).
b. Penderita demam berdarah/suspect demam berdarah perlu diambil specimen darahnya
(akut dan konvalesens) untuk pemeriksaan serologis. Specimen dikirim bersama-sama ke
Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) melalui Dinas Kesehatan Dati II setempat.

Evaluasi Program DBD dengan Pendekatan Sistem


Sistem Kesehatan10
Pengertian sistem kesehatan adalah gabungan pengertian sistem dengan pengertian kesehatan.
Untuk ini banyak rumusan pernah disusun. Salah satu diantaranya ialah yang dikemukakan oleh
WHO (1984). Sistem kesehatan adalah kumpulan dari berbagai faktor yang komplek dan saling
berhubungan yang terdapat dalam suatu negara, yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan
tuntutan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun masyarakat pada setiap saat
yang dibutuhkan.
Untuk Indonesia, pengertian tentang sistem kesehatan yang dikenal dengan nama Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) telah ditetapkan melalui SK Menteri Kesehatan RI No.
99a/Men.Kes/SK/III/1982.
Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia
untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan
kesejahteraan umum seperti yang dimaksud dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Unsur Sistem. Telah disebutkan bahwa sistem terbentuk dari bagian atau elemen yang saling
berhubungan dan mempengaruhi. Adapun yang dimaksud dengan bagian atau elemen tersebut

ialah sesuatu yang mutlak harus ditemukan, yang jika tidak demikian, maka tidak ada yang
disebut dengan sistem tersebut. Bagian atau eleman tersebut banyak macamnya, yang jika
disederhanakan dapat dikelompokkan dalam enam unsur saja yakni:
1. Masukan.
Yang dimaksud dengan masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang
terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.
2. Proses.
Yang dimaksud dengan proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang
terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran
yang direncanakan.
3. Keluaran.
Yang dimaksud dengan keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang
dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Umpan balik.
Yang dimaksud dengan umpan badik (feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen
yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem
tersebut.
5. Dampak.
Yang dimaksud dengan dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran
suatu sistem.
6. Lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan (environment) adalah dunia di luar
sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap
sistem.
Problem Solving Cycle10
Menetapkan Prioritas Masalah
Telah disebutkan bahwa yang terpenting dalam perencanaan adalah yang menyangkut proses
perencanaan (process of planning). Adapun yang dimaksud dengan proses perencanaan di sini
ialah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyusun suatu rencana. Untuk bidang
kesehatan, langkah- langkah yang sering dipergunakan adalah mengikuti prinsip lingkaran
pemecahan masalah (problem solving cycle). Sebagai langkah pertama dilakukan upaya

menetapkan prioritas masalah (problem priority). Adapun yang dimaksudkan dengan masalah di
sini ialah kesenjangan antara apa yang ditemukan (what is) dengan apa yang semestinya (what
should be).
Ditinjau dari sudut pelaksanaan program kesehatan, penetapan prioritas masalah ini dipandang
amat penting. Paling tidak ada dua alasan yang ditemukan. Pertama, karena terbatasnya sumber
daya yang tersedia, dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua masalah. Kedua, karena
adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya, dan karena itu tidak perlu semua
masalah diselesaikan.
Cara menetapkan prioritas masalah banyak macamnya. Sebagian lebih mengutamakan institusi,
sebagai lainnya lebih mengandalkan ilham atau petunjuk atasan. Ketiga cara menetapkan
masalah ini, meskipun hasilnya sering tepat, tetapi tidak dianjurkan. Cara menetapkan prioritas
masalah yang dianjurkan adalah memakai teknik kajian data. Untuk dapat menetapkan prioritas
masalah dengan teknik kajian data, ada beberapa kegiatan yang harus dilakukan. Kegiatan yang
dimaksud adalah:
1. Melakukan pengumpulan data
Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data. Adapun yang dimaksud dengan
data di sini ialah hasil dari suatu pengukuran dan ataupun pengamatan. Agar data yang
dikumpulkan tersebut dapat menghasilkan kesimpulan tentang prioritas masalah, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan yakni:
a. Jenis data
Jenis data yang harus dikumpulkan banyak macamnya. Sekedar pegangan dapat dipergunakan
pendapat Blum (1976) yang membedakan data kesehatan atas empat macam yakni data tentang
perilaku (behaviour), lingkungan (environment), pelayanan kesehatan (health services) dan
keturunan (heredity). Kumpulkan keempat macam data tersebut.
b. Sumber data
Apabila jenis data yang akan dikumpulkan telah ditetapkan, lanjutkanlah dengan menetapkan
sumber data yang akan dipergunakan. Untuk ini ada tiga sumber data yang dikenal yakni sumber
primer, sumber sekunder dan sumber tertier. Contoh sumber data primer adalah hasil
pemeriksaan atau wawancara langsung dengan masyarakat. Contoh sumber data sekunder adalah
laporan bulanan PUSKESMAS dan Kantor Kecamatan. Sedangkan contoh sumber data tersier

adalaii hasil publikasi badan-badan resmi, seperti Kantor Dinas Statistik, Dinas Kesehatan dan
Kantor Kabupaten. Pilihlah sumber data yang sesuai.
c. Jumlah responden
Jika kemampuan tersedia dengan cukup, kumpulkan data dengan lengkap dalam arti mencakup
seluruh penduduk. Dalam praktek sehari-hari, pengumpulan data secara total ini sulit dilakukan.
Lazimnya diambil data dari sebagian penduduk saja, yang besarnya, karena hanya merupakan
suatu survei diskriptif.
d. Cara mengambil sampel
Jika jumlah sampel telah ditentukan, lanjutkan dengan menetapkan cara pengambilan sampel.
Untuk ini ada empat cara pengambilan sampel yang dikenal, yakni cara simple random sampling,
sistematic random sampling, stratified random sampling dan cluster random sampling. Pilihlah
yang sesuai.
e. Cara mengumpulkan data
Cara mengumpulkan data ada empat macam yakni wawancara, pemeriksaan, pengamatan
(observasi) serta peranserta (partisipasi). Pilihlah cara pengumpulan data yang sesuai.
2. Melakukan pengolahan data
Kegiatan kedua yang harus dilakukan ialah mengolah data yang telah dikumpulkan. Adapun
yang dimaksud dengan pengolahan data di sini ialah menyusun data yang tersedia sedemikian
rupa sehingga jelas sifat- sifat yang dimilikinya. Cara pengolahan data secara umum dapat
dibedakan atas tiga macam yakni secara manual, mekanikal serta elektrikal. Pilihlah cara
pengolahan data yang paling dikuasai.
3. Melakukan penyajian data
Kegiatan ketiga yang harus dilakukan menyajikan data yang telah diolah. Ada tiga macam cara
penyajian data yang lazim dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal. Pilihlah cara
penyajian data yang paling tepat.
4. Memilih prioritas masalah
Hasil penyajian data akan menampilkan berbagai masalah. Apakah berbagai masalah ini perlu
diselesaikan? Tidak perlu. Pertama, karena antar masalah mungkin terdapat keterkaitan. Yang
perlu dilakukan hanya menyelesaikan masalah pokok saja. Masalah lainnya akan selesai dengan
sendirinya. Kedua, karena kemampuan yang dimiliki oleh organisasi selalu bersifat terbatas.
Dalam keadaan yang seperti ini, lanjutkan kegiatan dengan memilih prioritas masalah. Untuk ini

banyak cara pemilihan yang dapat dipergunakan. Cara yang dianjurkan adalah memakai kriteria
yang dituangkan dalam bentuk matriks. Dikenal dengan nama teknik kriteria matrik (criteria
matrix tecnique.)
Kriteria yang dapat dipergunakan banyak macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga
macam:

Pentingnya masalah Makin penting (importancy) masalah tersebut, makin diprioritaskan


penyelesaiannya. Ukuran pentingnya masalah banyak macamnya. Beberapa diantaranya
yang terpenting adalah:
o besarnya masalah (prevalence)
o akibat yang ditimbulkan oleh masalah (severity)
o kenaikan besarnya masalah (rate o f increase)
o derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (degree o f un- meet rteed)
o keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit)
o rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern)
o suasana politik (political elimate)

Kelayakan teknologi Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah (technical feasibility), makin diprioritaskan masaiah tersebut.
Kelayakan teknologi yang dimaksudkan disini adalah menunjuk pada pengasaan ilmu dan
teknologi yang sesuai.

Sumber daya yang tersedia Makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah (resources availability) makin diprioritaskan masalah tersebut.
Sumber daya yang dimaksudkan di sini adalah yang menunjuk pada tenaga (man), dana
(money) dan sarana (material).

Menetapkan Prioritas Jalan Keluar


Apabila prioritas masalah telah berhasil ditetapkan, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah
menetapkan prioritas jalan keluar (solution priority). Untuk ini ada beberapa kegiatan pokok
yang harus dilakukan sebagai berikut:
1. Menyusun alternatif jalan keluar

Kegiatan pertama yang harus dilakukan isilah menyusun alternatif jalan keluar untuk mengatasi
prioritas masalah yang telah ditetapkan. Menyusun alternatif jalan keluar dipandang penting,
karena terkait dengan upaya memperluas wawasan, yang apabila berhasil diwujudkan akan besar
peranannya dalam membantu kelancaran pelaksanan jalan keluar.
Untuk dapat menyusun alternatif jalan keluar, cobalah berpikir kreatif (creative thinking). Teknik
berpikir kreatif banyak macamnya. Salah satu diantaranya dikenal dengan teknik analogi atau
populer pula dengan sebutan synectic technique. Jika dengan teknik berpikir kreatif masih belum
dapat dihasilkan alternatif jalan keluar, cobalah tempuh langkah-langkah sebagai berikut:

Menentukan berbagai penyebab masalah lakukan curah pendapat (brain storming)


dengan membahas data yang telah dikumpulkan. Gunakanlah alat bantu diagram
hubungan sebab-akibat (cause-effect diagram) atau populer pula dengan sebutan diagram
tulang ikan {fish bone diagram). Dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman
yang ada, serta dibantu oleh data yang tersedia, dapat disusun berbagai penyebab masalah
secara teoritis.

Memeriksa kebenaran penyebab masalah jika perlu, lakukanlah pengumpulan data


tambahan. Cobalah lakukan uji statistik untuk mengidentifikasi penyebab masalah yang
sebenarnya. Sisihkah daftar penyebab masalah yang hasil uji statistiknya tidak bermakna.

Mengubah penyebab masalah ke dalam bentuk kegiatan Apabila daftar penyebab


masalah yang hasil uji statistiknya telah berhasil disusun, lanjutkan dengan mengubah
daftar penyebab masalah tersebut ke dalam bentuk kegiatan. Usahakan untuk satu
penyebab masalah tersusun satu kegiatan penyelesaian masalah. Hasil yang diperoleh
dari pekerjaan ini ialah tersusunnya alternatif cara penyelesaian masalah.

2. Memilih prioritas jalan keluar


Apakah semua alternatif jalan keluar yang telah disusun tersebut perlu dilaksanakan? Jika
kemampuan memang dimiliki, apa salahnya. Di- sinilah letak masalahnya. Karena kemampuan
yang dimiliki oleh suatu organisasi selalu bersifat terbatas. Untuk mengatasinya, pilihlah salah
satu dari alternatif jalan keluar yang paling menjanjikan. Pekerjaan ini disebut dengan nama
memilih prioritas jalan keluar. Untuk dapat memiilih prioritas jalan keluar, pelajarilah dengan
seksama berbagai alternatif yang tersedia. Sebelum melakukan pilihan, ada baiknya jika dicoba
padukan dahulu. Siapa tahu berbagai alternatif tersebut sebenarnya hanya merupakan bagian dari
satu paket kegiatan yang sulit dipisahkan.

Apabila keterpaduan tersebut sulit dilakukan, antara lain karena adanya perbedaan antar
alternatif yang terlalu tajam, atau karena keterbatasan sumber daya dalam melaksanakan program
yang telah dipadukan, barulah dilakukan pilihan. Cara melakukan pilihan prioritas jalan keluar
banyak macamnya. Cara yang dianjurkan adalah memakai teknik kriteria matriks Untuk ini ada
dua kriteria yang lazim dipergunakan Kriteria yang dimaksud adalah.
a. Efektivitas jalan keluar
Tetapkanlah nilai efektivitas (effectivity) untuk setiap alternatif jalan keluar, yakni dengan
membelikan angka 1 (paling tidak efektif) sampai dengan angka 5 (paling efektif) Prioritas jalan
keluar adalah yang nilai efektivitasnya paing tinggi.
b. Efisiensi jalan keluar
Tetapkanlah nilai efisiensi (efficiency) untuk setiap alternatif jalan keluar, yakni dengan
memberikan angka 1 (paling tidak efisien) sampai dengan angka 5 (paling efisien). Nilai efisiensi
ini biasanya dikaitkan dengan biaya (cost) yang diperlukan untuk melaksanakan jalan keluar.
Makin besar biaya yang diperlukan, makin tidak efisien jalan keluar tersebut
3. Melakukan uji lapangan
Kegiatan ketiga yang harus dilakukan pada penetapan prioritas jalan keluar ialah melakukan uji
lapangan untuk prioritas jalan keluar terpilih. Uji lapangan ini dipandang penting, karena sering
ditemukan jalan keluar yang diatas kertas baik, ternyata sulit dilaksanakan.
4. Memperbaiki prioritas jalan keluar
Selesai melakukan uji lapangan, lanjutkan dengan memperbaiki prioritas jalan keluar, yakni
dengan memanfaatkan berbagai faktor penopang, dan bersamaan dengan itu meniadakan
berbagai faktor penghambat yang ditemukan pada uji lapangan.
5. Menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar
Kegiatan terakhir yang harus dilaksanakan pada penetapan prioritas jalan keluar adalah
menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar selengkapnya. Untuk ini uraikanlah semua unsur
rencana sebagaimana telah dikemukakan, sehingga dapat dihasilkan suatu rencana yang lengkap.
Kesimpulan
Penyakit Demam Berdarah Dengue(DHF) merupakan penyakit endemis di Indonesia.
Tingginya angka mortalitas dan morbiditas DHF disebabkan oleh karena rendahnya tingkat
pengetahuan masyarakat mengenai cara mengenali tanda-tanda DHF serta cara-cara pencegahan

DHF. Puskesmas merupakan lembaga yang sangat berperan penting dalam menurunkan angka
morbiditas dan mortalitas DHF. Hal ini dikarenakan tugas utama dari puskesmas adalah
melaksanakan upaya kesehatan preventif dan promotif di masyarakat. Oleh karena itu perlu
revitalisasi program pemberantasan DHF secara terus menerus dengan penekanan pada upaya
pencegahan dan promosi kesehatan DHF.

Daftar Pustaka
1. Nasruddin. Faktor-Faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Kejadian DBD di
Kabupaten Sukoharjo. Laporan Penelitian Analitik. Yogyakarta: Program Pascasarjana,
Universitas Gadjah Mada.2000.
2. Kadar, A.

Epidemiologi

dan

Penyakit

Menular.

Magelang:

Balai

Pelatihan

Kesehatan.2003.
3. Widoyono. Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam: Penyakit Tropis Epidemiologi,
Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Jakarta. Erlangga.2008.
4. Chandra B. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC; 2007.h.6-18.
5. Kebijakan

Dasar

Puskesmas.

Diunduh

dari

http://dinkes-

sulsel.go.id/new/images/pdf/buku/kebijakan%20dasar%20puskesmas.pdf. 4 July 2015


6. Thomas S. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Edisi
3. Jakarta; Departemen Kesehatan 2007.
7. 2.Efendi F,Makhfudli.Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan Praktik dalam
Keperawatan.Jakarta: Salemba Medika; 2009.

8. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan


Lingkungan. Pengendalian demam berdarah. Jakarta : Depkes RI, 2011.h. 16-23.
9. Sungkar S. Widodo AD, Suartanu N. Evaluasi program pemberantasan demam berdarah
dengue di Kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Majelis Kedokteran Indonesia:
2006;56:108-12.
10. Azwar A. Pengantar administrasi kesehatan. Edisi ke-3. Jakarta: Binarupa Aksara

1996:hal17-34,123-5,200-10.