Anda di halaman 1dari 8

A.

Prosedur Pemeriksaan
Semua bayi prematur dengan berat badan lahir dibawah dari 1500 gram
dan masa gestasi dibawah 32 minggu memiliki resiko untuk menderita ROP, maka
dibuat semacam screening protocol sesuai dengan usia gestasi.
Bayi yang lahir pada usia gestasi 23-24 minggu, harus menjalani
pemeriksaan mata pertama pada usia gestasi 27-28 minggu
Bayi yang lahir pada usia gestasi 25-28 minggu, harus menjalani
pemeriksaan mata pertama pada usia kehidupan 4-5 minggu
Bayi yang lahir pada usia gestasi 29 minggu, pemeriksaan mata pertama
dilakukan sebelum bayi tersebut dipulangkan
Standar baku untuk mendiagnosa ROP adalah pemeriksaan retinal dengan
menggunakan oftalmoskopi binokular indirek. Dibutuhkan pemeriksaan dengan
dilatasi fundus dan depresi skleral. Instrumen yang digunakan adalah spekulum
Sauer (untuk menjaga mata tetap dalam keadaan terbuka), depresor skleral Flynn
(untuk merotasi dan mendepresi mata), dan lensa 28 dioptri (untuk
mengidentifikasi zona dengan lebih akurat). Bagian pertama dari pemeriksaan
adalah pemeriksaan eksternal, identifikasi rubeosis retina, bila ada. Tahap
selanjutnya adalah pemeriksaan pada kutub posterior, untuk mengidentifikasi
adanya penyakit plus. Mata dirotasikan untuk mengidentifikasi ada atau tidaknya
penyakit zona 1. Apabila pembuluh nasal tidak terletak pada nasal ora serrata,
temuan ini dinyatakan masih berada pada zona 2. Apabila pembuluh nasal telah
mencapai nasal ora serrata, maka mata berada pada zona 3.
B. Diagnosis Banding

Berikut ini adalah diagnosis banding dari ROP :


1. Incontinentia pigmenti
Merupakan kelainan X-linked dominan yang bisa menstimulasi ROP.
Penyakit ini letal pada bayi laki-laki, hanya terdapat pada bayi perempuan.
Pada bulan pertama, bayi memiliki pembuluh darah retina yang berkelokkelok dengan tidak adanya perfusi pembuluh darah retina perifer. Anomali
okular lainnya seperti strabismus, katarak, myopia, nistagmus, blue sclera.
selain terjadi anomali okular, sistem nervus sentral terganggu misalnya
kejang, spastik paralisis dan retardasi mental.
2. Familial exudatif vitreoretinopathy (FEVR)
Merupakan kelainan autosomal dominan fundus. Pasien dengan FEVR
lahir normal tanpa kesulitan pernapasan atau asupan oksigen.
3. White pupillary reflek
Berkaitan dengan derajat 5 ROP yang mana member gambaran leukokoria
seperti

katarak

kongenital,

vitreus

primer

hiperplastik

persisten,

retinoblastoma, toxokariasis okular, uveitis intermediate, penyakit coat,


perdarahan vitreus.
C. Penatalaksanaan
Terapi Medis
Terapi medis untuk retinopati prematuritas (ROP) terdiri dari screening
oftalmologis terhadap bayi-bayi yang memiliki faktor risiko. Saat ini, belum ada
standar terapi medis yang baku untuk ROP. Penelitian terus dilakukan untuk
memeriksa potensi penggunaan obat antineovaskularisasi intravitreal, seperti
bevacizumab (Avastin). Obat-obatan ini sudah pernah berhasil digunakan pada
pasien dengan penyakit neovaskularisasi bentuk yang lain, seperti retinopati

diabetik. Terapi-terapi lainnya yang pernah dicoba dapat berupa mempertahankan


level insulinlike growth factor (IGF-1) dan omega-3-polyunsaturated fatty acids
(PUFAs) dalam kadar normal pada retina yang sedang berkembang, seperti
diusulkan oleh Chen and Smith.
Meskipun terapi oksigen telah dinyatakan sebagai faktor penyebab utama
ROP, banyak ahli percaya bahwa memaksimalkan saturasi oksigen pada penderita
ROP dapat merangsang regresi dari penyakit ini. Namun, sebuah studi multisenter
yang dikenal sebagai STOP-ROP (Supplemental Therapeutic Oxygen for
Prethreshold Retinopathy Of Prematurity), menemukan bahwa tidak ada
perubahan yang signifikan yang terjadi dengan mempertahankan saturasi oksigen
diatas 95%. Namun, saturasi oksigen yang lebih tinggi juga tidak memperparah
penyakit itu sendiri.
Terapi Bedah
a. Terapi bedah ablatif (Ablative surgery)
Dilakukan apabila terdapat tanda kegawatan (threshold disease), terapi
ablatif saat ini terdiri dari krioterapi atau terapi laser untuk menghancurkan
area retina yang avaskular. Terapi ini biasanya dilakukan pada usia gestasi 3740 minggu, apabila ROP terus memburuk, mungkin dibutuhkan lebih dari satu
tindakan.
b. Krioterapi
Krioterapi merupakan terapi utama ROP sejak era 1970an. Prosedur ini
dapat dilakukan dengan anestesi umum ataupun topikal. Karena tingkat stress
prosedur yang cukup tinggi, maka mungkin dibutuhkan bantuan ventilator
setelah prosedur ini selesai. Komplikasi yang paling umum terjadi adalah

perdarahan intraokuler, hematom konjunctiva, laserasi konjunctiva, dan


bradikardia. Pada studi prospektif random ditemukan bahwa dengan krioterapi
menghasilkan reduksi retinal detachment hingga 50% dibandingkan dengan
mata yang tidak diterapi dengan krioterapi.
c. Terapi Bedah Laser
Saat ini, terapi laser lebih disukai

daripada

krioterapi karena

dipertimbangkan lebih efektif untuk mengobati penyakit pada zona 1 dan juga
menghasilkan reaksi inflamasi yang lebih ringan. Fotokoagulasi dengan laser
tampaknya menghasilkan outcome yang kurang-lebih sama dengan krioterapi
dalam masa 7 tahun setelah terapi. Sebagai tambahan, dalam data-data
mengenai ketajaman visus dan kelainan refraksi, terapi laser tampaknya lebih
menguntungkan dibandingkan krioterapi, dan juga telah dibuktikan bahwa
terapi laser lebih mudah dilakukan

dan lebih bisa ditoleransi oleh bayi.

Namun, krioterapi masih merupakan terapi pilihan apabila penglihatan retina


terbatas oleh opasitas medianya.
d. Early Treatment for Retinopathy of Prematurity (ET-ROP)
Studi ET-ROP menunjukkan bahwa dengan penanganan dini (early
treatment) dapat mengurangi prognosis yang buruk pada usia kehidupan 9
bulan dan 2 tahun. Berdasarkan studi ini, para oftalmologis membagi ROP
menjadi dua bagian besar, yaitu :
Tipe 1 (membutuhkan terapi)
1.

Mata dengan zona 1, stadium 3 ROP tanpa penyakit plus

2.

Mata dengan zona 2, stadium 2 atau 3 dengan penyakit plus

Tipe 2 (membutuhkan observasi)

1.

Mata dengan zona 1, stadium 1 atau 2 tanpa penyakit plus

2.

Mata dengan zona 2, stadium 3 ROP tanpa penyakit plus

Dasar pemeriksaan untuk menindaklanjuti pasien dengan retinopati


prematuritas (ROP) adalah dari hasil pemeriksaan awal. Semakin immatur
vaskularisasi retina atau semakin serius kondisi penyakitnya, semakin pendek
masa interval follow-up lanjutan yang harus dijalani oleh pasien tersebut sehingga
perkembangan sekecil apapun mengenai progresi penyakit dapat segera diketahui.

Setelah intervensi bedah, oftalmologis harus melakukan pemeriksaan


setiap 1-2 minggu untuk menentukan apakah diperlukan terapi tambahan. Pasien
yang dimonitor ini harus menjalani pemeriksaan sampai vaskularisasi retina
matur. Banyak pasien yang kehilangan penglihatannya akibat monitor yang tidak
tepat waktu dan tidak sesuai. Pada pasien yang tidak ditatalaksana, ablasio retina
biasanya terjadi pada usia postmenstrual 38-42 minggu.

Selain itu, 20% dari bayi-bayi prematur menderita strabismus dan kelainan
refraksi, karena itu penting untuk melakukan pemeriksaan oftalmologis setiap 6
bulan hingga bayi berusia 3 tahun. Sebanyak 10% bayi-bayi prematur juga dapat
menderita glaukoma dikemudian hari, maka pemeriksaan oftalmologis harus
dilakukan setiap tahun.

D. Prevensi
Pencegahan yang paling bermakna adalah pencegahan kelahiran bayi
prematur. Pencegahan ini dapat dialkukan dengan cara melakukan perawatan
antenatal yang baik. Semakin matur bayi yang lahir, semakin kecil kemungkinan
bayi tersebut menderita ROP. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian
kortikosteroid dalam masa antenatal memiliki efek protektif terhadap tingkat
keparahan ROP. Selain itu, penelitian lain juga menyatakan bahwa terapi
suplemental oksigen dengan target saturasi 83-93% dapat menurunkan insidensi
ROP yang mencapai threshold.

E. Komplikasi
Komplikasi jangka panjang dari ROP antara lain adalah miopia, ambliopia,
strabismus, nistagmus, katarak, ruptur retina, dan ablasio retina. Pada penelitian
yang dilakukan Vanderveen dkk, strabismus pada penyakit ini dapat membaik
pada usia 9 bulan.

F. Prognosis
Prognosis ROP ditentukan berdasarkan zona penyakit dan stadiumnya.
Pada pasien yang tidak mengalami perburukan dari stadium I atau II memiliki
prognosis yang baik dibandingkan pasien dengan penyakit pada zona 1 posterior
atau stadium III, IV, dan V. Faktor yang penting adalah deteksi awal dan
penangganan yang tepat.