Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Selama beberapa tahun terakhir kecendrungan terjadinya kekerasan seksual pada anak
dan perempuan semakin meningkat jumlahnya. Peningkatan jumlah kasus yang terlaporkan
dan dilaporkan meningkat secra akumulatif hingga 100 kasus setiap tahunnya antara tahun
2004 ke tahun 2007.1
Kejahatan seksual, sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang menyangkut tubuh,
kesehatan, dan nyawa manusia. Ilmu kedokteran khususnya Ilmu kedokteran forensik dan
medikolegal mempunyai peranan penting dalam upaya pembuktian kejahatan seksual ini.
Didalam upaya pembuktian secara kedokeran forensik, faktor keterbatasan di dalam ilmu
kedokteran itu sendiri dapat sangat berperan, demikian hanya dengan faktor waktu.2
Anak anak dan perempuan merupakan kelompok yang paling rentan menjadi korban
tindak kejahatan ini. Menurut Ceci dan Friedman dalam penelitiannya pada tahun 2000 yang
dikutip oleh London et al, walaupun kekerasan seksual pada anak (Child sexual abuse/CSA)
merupakan masalah sosial yang besar di Amerika, namun jumlah korban kekerasan seksual
pada anak-anak tidak diketahui dengan pasti karena keterbatasan data. Keterbatasan data ini
disebabkan oleh dua hal. Pertama, estimasi insidensi kekerasan seksual pada anak ini
terutama hanya berdasarkan pada laporan yang diterima dan validasi oleh komisi
perlindungan anak. Oleh karena itu hal ini tidak dapat menggambarkan jumlah kasus yang
tidak terlapor. Alasan kedua adalah kesulitan akurasi diagnosis CSA yang disebabkan oleh
keterbatasan bukti pemeriksaan fisik atau karena banyaknya kasus-kasus yang meragukan
serta akibat ketiadaan standar baku spesifik mengenai gejala psikologi terhadap kekerasan
seksual itu sendiri.
Angka kejadian kejahatan seksual yang diantaranya adalah perkosaan, dibeberapa
kota besar di Indonesia dalam kurun waktu dua terakhir ini meningkat. Di Jakarta angka
perkosaan pada tahun 2002 naik 20,22% (tahun 2001:89 kasus dan tahun 2002: 107 kasus),
Surabaya pada tahun 2002 sebanyak 165 kasus (naik 15,5%) dan korban meninggal akibat
kejahatan seksual di Instalasi Kedokteran Forensik RSU Dr. Soetomo tahun 1998 -2002
sebanyak 3 kasus. Di Amerika Serikat angka perkosaan pada tahun 2001 (1,7%) dan tahun
2002 (2,1%) dari tindak kejahatan yang ada.2
1

Data tahun 2008 yang diperoleh dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi
Perempuan Indonesia untuk Keadilan Jakarta (LBH APIK) menunjukan adanya peningkatan
kasus kekerasan atau kejahatan seksual terhadap anak sebanyak dua kali lipat sebesar 35
kasus dari tahun sebelumnya yang mencapai 16 kasus. Hal yang memprihatinkan adalah
untuk kasus jenis perkosaan, pencabulan tersangkanya mash berusia anak-anak 10 hingga 17
tahun.
Dalam pembuktian secara kedokteran Forensik pada setiap kasus kejahatan seksual
sebenarnya terbatas didalam upaya pembuktian ada/tidak adanya tanda kekerasan tanda
pergumulan atau tanda persetubuhan, disamping itu perlu juga pembuktian terhadap perkiraan
umur serta pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau mampu untuk
dikawini atau tidak.3
Pada pembuktian tersebut batuan dokter sangat diperlukan, namun harus disadari
bahwa kemampuan dokter didalam rangka membantu mengungkap kasus kejahatan seksual
sangat terbatas sekali. Sehingga tidak mungkin dokter dapat membantu mengungkap adanya
paksaan dan ancaman kekerasan mengingat kedua hal itu tidak meninggalkan bukti-bukti
medik. Dokter hanya diminta bantuannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban,
suspek dan barang bukti medik tindak perkosaan, sehingga dalam pemeriksaan tersebut
dokter diharap bisa memperjelas kasus tindak pidana. Dokter membutuhkan suatu
pemeriksaan penunjang yang ada sangkut pautnya dengan barang bukti medik.3
2. Tujuan Penulisan
Penulisan Clinical Scientific Session ini bertujuan untuk memahami serta menambah
pengetahuan tentang kejahatan seksual, undang undang yang mengatur kejahatan seksual,
anamnesis, pemeriksaan dan teknik pengambilan barang bukti kejahatan seksual.
3. Manfaat Penulisan
Menambah pengetahuan dan informasi serta sebagai sumber referensi pembelajaran
pengetahuan tentang kejahatan seksual, undang-undang yang mengatur kejahatan seksual,
anamnesis, pemeriksaan, dan teknik pengambilan barang bukti kejahatan seksual.
4. Metode Penulisan
Penulisan Clinical Scientific Session ini menggunakan metode tinjauan pustaka
dengan mengacu pada literatur.

BAB II
KEJAHATAN SEKSUAL
A. Definisi Kejahatan Seksual
Kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan tindakan seksual,
komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks dengan menggunakan paksaan, ancaman,
paksaan fisik oleh siapa saja tanpa memandang hubungan dengan korban, dalam situasi
apapun yang tidak terbatas baik didalam rumah maupun lingkungan lainnya. Kejahatan
seksual dapat dalam berbagai bentuk termasuk pemerkosaan, perbudaka seks, dan atau
perdagangan seks, kehamilan paksa, kekerasan seksual, ekspoitasi seksual dan atau penyalah
gunaan seks dan aborsi.1
B. Gangguan Psikoseksual
Faktor penyebab utama pada gangguan-gangguan ini adalah faktor psikologis.
Gangguan Psikoseksual antara lain :2
1. Parafilia
Suatu gangguan psikoseksual dimana orang yang bersangkutan lebih memilih
kegiatan yang tidak lazim dari pada yang lazim. Ciri utama parafilia ialah bahwa
fantasi atau tindakan yang tidak lazim diperlukan untuk mendapatkan kepuasan
seksual. Umumnya menyangkut : (1) kecenderungan menggunakan suatu obyek
bukan manusia untuk mendapatkan kepuasan seksual atau (2) kegiatan seksual
dengan manusia disertai penderitaan atau penghinaan yang sungguh-sungguh atau
simboli atau (3) kegiatan seksual dengan partner yang tidak menyetujuinya,
kegiatan ini cenderung diulangi. Bayangan fantasi parafilia atau obyek
pembangkit nafsu seksual dalam suatu parafilia sering merupakan stimulus libido
seseorang yang tidak menderita gangguan psikoseksual. Seorang parafilian dapat
dipidana, jika terjadi luka atau kematian orang lain ( pasal 359 dan 360 KUHP)
atau diharus ganti rugi jika perbuatannya telah menimbulkan kerugian pada orang
lain (pasal 1366 KUHPerdata). Penderita parafilia umumnya tidak mengganggap
dirinya sakit, biasanya baru mendapatkan perhatian dokter setelah perbuatannya
menyebabkan konflik dengan masyarakat
2. Fetisyisme
Sejenis pemujaan erotis yang khas teruju pada tubuh yang disukai, pakainanya
atau benda lainnya. Ciri utama fetysyme adalah penggunaan benda mati sebagai
caraterpilih atau ekslusif untuk mencpai kepuasan seksual. Fetisy itu dapat berupa
bagian tubuh seorang wanita seperti rambut kepala, rambut kemaluan atau pakaian
milik seorang wanita seperti BH, kaos kaki. Dan bisa berkaitan dengan seseorang
3

tertentu yang terlibat secara akrab (intim) dengan si-fetisyis dimasa kanak-kanak.
Pada fetisyise ringan yang bersangkutan merupakan pusat daya tarik tetapi tidak
menyelubungi sama sekali pemilik benda itu sedangkan pada fetisyismesejati
telah terjadi substitusi yang sempurna, fetisy menggantikan sepenuhnyawanita
pemilik benda itu. Misal fetisy pada mannikinisme dan pygmalionisme (arca).
Beda dengan transvestisme benda matihanya terbatas pakaian dan perhiasan
sebagai cross-dressing, sedang pada fetisyisme tidak terbatas pada pakaian saja.
Penggunaan benda mati seperti vibrator untuk perangsang seksual buka
merupakan fetisyisme. Penderita ini dapat dikenakan pidana sesuai pasal 362
KUHP misal mencuri BH dari jemuran, atau pasal 1366 KUHPerdata.
3. Ekshibisionisme
Memperlihatkan alat kelamin kepada seseorang yang tak dikenal atau yang tidak
menduga sebelumnya, untuk memperoleh kepuasan seksual tanpa disertai usaha
untuk melakukan kegiatan seksual lebih lanjut dengan orang tersebut. Kepuasaan
seksual didapat dari melihat reaksi takut, kagum, jijik yang berasal dari orang
yang melihatnya. Orgasme dicapai dengan melakukan masturbasi pada waktu atau
setelah kejadian itu. Gangguan ini dimonopoli kaum pria. Jika tertangkap basah
seorang ekkshibisionisme dapat dipidana menurut KUHP pasal 281.
4. Voyeurisme
Ciri utama voyeurisme/skopofilia adalah bahwa orang bersangkutan secara
berulang mengalami dorongan yang tidak terkendali untuk mengintip, seseorang
yang sedang dalam keadaan tak berbusana, sedang melepas pakaiannya, atau
sedang mengalami kegiatan seksual (Mikoskopia). Orgasme biasanya didapat
dengan masturbasi sewaktu mengintip atau kemudian sewaktu membayangkan
dalam pikirannya apa yang telah ia saksikan.
5. Transvestisme
Suatu gangguan psikoseksual dimana seorang pria heteroseksual dalam fantasinya
atau sungguh-sungguh memakai pakaian wanita untuk membangkitkan nafsu
seksual dan mendapatkan kepuasan seksual. Berbeda dengan transvestisme, pada
heteroseksual ada keinginan untuk menyingkirkan alat kelamin sendiri dan hidup
sebagai orang dari jenis kelamin lain dan tidak pernah terdapat kepuasan seksual
dengan cross-dressing, sedangkan transvestit menganggap dirinya pada dasarnya
seorang pria, sedangkan transeksual yang anatomisnya laki-laki merasakan dirinya
seorang wanita.
6. Pedofilia

Suatu parafilia dimana seorang dewasa atau adolesen memperoleh kepuasan


seksual dengan melakukan kegiatan seksual bersama seorang anak pra-remaja
(heteroseks atau homoseks). Ciri utamanya adalah bahwa berbuat atau berfantasi
tentang kegiatan seksual tersebut merupakan pilihannya atau cara yang ekslusif
untuk

memperoleh

kepuasan

seksual.

Kegiatan

seksual

dapat

berupa

memegang/mengelus alat kelamin disertai rasa cinta, felasio, kunilingus atau


pederasti (koitus per anum). Perbuatan pedofilia diancam pada pasal 290 ayat (2)
dan (3) KUHP.
7. Masokisme Seksual
Suatu kegiatan seksual pria atau wanita yang bersangkutan memilih atau
menggunakan secara ekslusif cara dihina/direndahkan, diikat, dipukuli atau
disakiti secara lain untuk mendapatkan kepuasan seksual yang dilakukan secara
sengaja. Kadang-kadang masokisme menyukai transvestisme, seorang transvestit
dengan menggunakan BH, kaos kaki dan sepatu wanita menggantungkan lehernya
pada jerat sambil memadang dirinya dikaca, untuk mendapatkan kepuasan
seksual. Baik pria atau wanita dapat menderita gangguan ini namun lebih sering
wanita. Masokis pria disebut metatropist.
8. Sadisme Seksual
Mendapat kepuasan seksual dengan cara :
a. Dengan, sengaja menimbulkan penderitaan psikis atau fisik pada seorang
partner yang tidak menyetujuinya.
b. Merendahkan martabat partner yang menyetujuinya disertai dengan seolaholah atau benar-benar menimbulkan cedera ringan yang membuat partner itu
menderita.
c. Menimbulkan luka yang ekstensif, permanen, atau dapat mematikan pada
partner yang menyetujuinya..
Sadisme biasanya terdapat pada pria. Sadisme wanita disebut metatropist.
9. Zoofilia atau Bestiality
Orang bersangkutan berulang-ulang paling menyukai penggunaan hewan untuk
mendapatkan kepuasan seksual. Hewan itu dapat dijadikan obyek persetubuhan
atau dilatih untuk merangsang secara seksual orang bersangkutan, misal dilatih
untuk menjilati alat kelamin atau untuk masturbasi. Dalam hal hewan
bersangkutan menjadi sakit atau mengalammi luka karena perbuatan tersebut,
pelakunya dapat dikenakan pidanamenurut KUHP pasal 302.
10. Koprofilia/Coprolagnia

Kepuasan seksual didapat dengan melihat atau membayangi seseorang yang


sedang buang air besar atau melihat feses. Dapt juga dilakukan anilinctus yaitu
mencium dan menjilati anus, atau memakan feses (coprographagy).
11. Urofilia
Melihat perbuatan membuang air seni, merasa hangatnya air seni yang disiramkan
pada

tubuh,

menciumi

bau

air

senidan

mencicipinya/meminumnya

membangkitkan nafsu seksual da dapat memberikat kepuasan.


12. Felasio dan Kunilingus
Felasio berarti menghisap penis, kunilingus berarti menjilati vulva. Impuls erotik
oral terdapat pada setiap manusia.
13. Froteurisme
Suatu parafilia dimana orang bersangkutan lebih menyukai menggosok-gosokan
alat kelaminnya pada suatu bagian tubuh orang lain untuk mendapatkan kepuasan
seksual.
14. Parsialisme
Disini impuls seksual atau libido terpaku pada salah satu bagian tubuh wanita.
Misal, seorang parsialis payudara paling menyukai wanita dengan payudara yang
besar.
15. Troilisme
Suatu parafilia dimana tiga orang 2 wanita dengan 1 pria atau 2 pria dengan 1
wanita secara bersama melakukan serangkaian kegiatan parafilia, seperti felasio,
kunilingus, pederasti, atau koitus yang disertai dengan beberapa kegiatan seksual
lain.
16. Pluralisme
Pada pluralisme serombongan orang mengadakan pesta pora seksual, tukarmenukar istri dan hal itu mencerminkan adanya homoseksualitas laten.
17. Lustmurder / pembunuhan karena nafsu seksual
Suatu pembunuhan dimana untuk menyalurkan dan mendapatkan kepuasan
seksual seorang membunuh korbannya atau melukainya secara fatal. Pada
pembunuhan seksual sejati, mematikan korba merupakan penggati persetubuhan
sekaligus merupakan tujuan akhir. Dengan demikian pembunuhan seksual dapat
dikenali berdasarkan sifat luka-luka. Yang paling sering ditemukan adalah
membuat cacat atau memotong alat kelamin, kemudian rongga perut disayat
hingga terbuka kayu atau benda lain ditusukkan kedalam vagina atau anus,
payudara diangkat, rambut dicabut dan melakukan pencekikkan. Pembunuhan
seksual jarang dijumpai. Semua pembunuhan seksual adalah orang dengan
kelainan jiwa, psikopat, penderita epilepsi atau skizofreni.
18. Nekrofilia

Mayat dijadikan sebagi obyek seksual. Nekrofilia terdapat dalam dua bentuk
yaitu :
1. Korban dibunuh (pembunuhan seksual) dan mayat korban segera digunakan
sebagai obyek seksual.
2. Mayat yang sudah dikubur, yang terdapat dikamar mayat atau dibangsal
anatomi dicuri digunakan sebagai obyek seksual.
Perbuatan dengan mayat dapat berupa menciumi, memeluk dan meraba tubuh
mayat, melakukan masturbasi sambi memegang payudara dan alat kelamin atau
melakukan kkoitus dengan mayat. Perbuatan tersebut dapat disertai dengan
membuat cacat mayat (nekrosadisme).
19. Vampirisme
Dalam bentuk simbolis perbuatan seorang vampir pria dapat berupa pengisapan
darah menstruasi, juga pengisapan darah yang keluar dari luka iris oleh seorang
vampir wanita untuk mendapatkan kepuasan seksual.
20. Transeksualisme
Merupakan gangguan identitas kelamin, ciri utama adalah bahwa orang
bersangkutan senantiasa merasa tidak senang pada dan tidak patut dengan seks
anatomiknya. Ia senantiasa ingin membebaskan diri dari alat kelaminnya itu dan
hidup sebagai seorang dari jenis kelaim lainnya.
21. Hiperseksual
Minat/keinginan yang berlebihan atau patologist untuk koitus. Hiperseksualitas
pada pria disebut satyriasis.
22. Homoseksualisme
Umumnya homoseksual berarti hubungan seksual antara dua orang sejenis
kelamin. Istilah lain dalam kepustakaan adalah sexual inversoin, contrary sexual
feeling, urning (homoseksual pria) dan urningin (homoseksual wanita=lesbi).
Kinsley dkk telah menyusun suatu skala penderajatan heteroseksual-homoseksual
sebagai berikut :
0 : Heteroseksual semata-mata (ekslusif )
1 : Heteroseksual lebih menonjol, homoseksual hanya kdang-kadang
2 : Heteroseksual predominan, homoseksual lebih kadang-kadang
3 : Heteroseksual dan homoseksual sama banyaknya
4 : Homoseksual predominan, heteroseksual lebih kadang-kadang
5 : Homoseksual predominan, heteroseksual hanya kadang-kadang saja
6 : Homoseksual semata-mata
Kegiatan seksual yang bisa dilakukan dalam hubungan homoseksual :
- Manual (masturbasi)
- Oral ( Misal Felasio )
- Anal
7

Aksiler
Femoral
Dildo (penis buatan)

Dalam

homoseksual

pria

ada

yang

menyukai

pria

remaja

(Ephebolphilic:paedophilic). Pada lesbi menyukai gadis (parthernophilic), wanita


dewasa (Gynaecophilic), wanita tua (Graphilic) dan anak perempuan (Corophilic)
Dalam KUHP melarang dan mengancap seorang dewasa yang melakukan
hubungan seksual dengan seorang yang belum sampai umur, walaupun tanpa
paksaan (KUHP pasal 292). Pasal 290 (2)(3) KUHP jika seorang dewasa
melakukan perbuatan homoseksual dengan seorag yang umurnya belum 15 tahun,
tanpa paksaan.2,4
C. Persetubuhan
Oleh kalangan hukum, persetubuhan didefinisikan sebagai perpaduan antara 2 alat
kelamin yang berlainan jenis guna memenuhi kebutuhan biologis yaitu kebutuhan seksual.
Perpaduan tersebut tidak harus sedemikian rupa sehingga seluruh penis masuk kedalam
vagina (menurut Nojor). Penetrasi yang paling ringan, yaitu masuknya ujung penis (glans
penis) diantara kedua labium mayor (bibir luar) sudah dapat dikategorikan sebagai senggama,
baik diakhiri atau tidak dengan orgasme /ejakulasi.2,4
Persetubuhan yang lengkap memang diawali dengan penetrasi penis kedalam vagina,
lalu diikuti dengan gesekan-gesekan anatar penis dengan vagina untuk menimbulkan stimulus
(rangsangan taktil) dan kemudian diakhiri dengan ejakulasi. Perlu diketahui bahwa sesudah
ejakulasi akan terjadi fase relaksasi dan penis akan menjadi lemas kembali sehingga tidak
mungkin meneruskan lagi, kecuali sudah melalui fase interval yang relatif lama.2,4
Persetubuhan yang legal adalah yang dilakukan dengan prinsip-prinsip sebgai berikut:
1. Wanita tersebut adalah istri sahdan ada izin dari wanita yang disetubuhi.
2. Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang dalam keadaan
terikat perkawinan dengan orang lain dan bukan anggota keluarga dekat.
Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undangundang, dapat dilihat pada pasal-pasal yang tertera pada BAB XIV Kitab UndangUndang
Hukum Pidana (KUHP), yaitu BAB tentang kejahatan terhadap kesusilaaan, yang meliputi
hubungan persetubuhan didalam perkawinan dan persetubuhan diluar perkawinan. 2
Persetubuhan didalam perkawinan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksud
oleh pasal 288 KUHP, ialah bia seorang suami melakukan persetubuhan dengan istrinya yang
belum mampu kawin yang melibatkan luka, luka berat atau mengakibatka kematian. 2
Dalam kasus persetubuhan diluar perkawinan yang merupakan kejahahatan dimana
persetubuhan tersebut memang disetujui oleh perempuan, seperti yang dimaksud dalam pasal
8

284 KUHP (berzina atau bersetubuh) pada kasus ini tidak dilakukan penuntutan melainkan
atas pengaduan suami/istri yang tercemar. Pada pasal 287 (persetubuhan dengan wanita
diabawah umur), kecuali jika umur wanita belum sampai 12 tahun, maka dalam hal ini harus
dibuktikan bahwa pada wanita telah terjadi kekerasan dan persetubuhan. 2
Dari petikan KUHP dapat dikelompokkan 4 macam persetubuhan diluar perkawinan
yang dilarang dan diancam pidana penjara yaitu : perzinahan, Perkosaan, Persetubuhan
dengan wanita yang pingsan atau tidak berdaya dan persetubuhan dengan wanita yang
umurnya belum cukup 15 tahun. Pada perzinahan persetubuhan dengan persetujuan wanita
yang bersalah atau turut bersalah dalam tindakan pidana itu. 2

D. Perkosaan
Perkosaan ialah tindakan menyetubuhi seorang wanita yag bukan istrinya dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan. Bertolak dari pengertian ini seorang suami tdiak dapat
dipidana karena menyetubuhi istrinya denga paksa. 2
Pasal 285 KUHP :
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan
dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua
belas tahun.

Didalam kejahatan seksual yang disebut perkosaan, maka tindakan membuat pingsan
atau tidak berdaya termsuk didalam proses untuk melakukan kejahatan, sednagkan kejahatan
seksual menurut pasal 286 KUHP si pelaku tidak melakukan upaya apapun. Pingsan dan
tidak berdayanya wanita bukan akibat oleh perbuatan sipelaku kejahatan. 2
E. Pebuatan Cabul
Perbuatan Cabul adalah semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan
kenikmatan seksual sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan. Menurut kamus besar
Bahasa Indonesia berarti keji dan kotor, tidak senonoh (melanggar kesopanan,kesusilaan).
Noyon mengatakan perbuatan cabul merupakan suatu genus. Di dalamnya terdapat
persetubuhan diluar pernikahan sebagai suatu spesies, yang dalam keadaan tertentu dipidana
lebih berat dari spesies lainnya. Menurut pasal 289 KUHP, yaitu dengan kekerasan atau
ancaman kekerasan untuk melakukan atau membiarkan melakukan perbuatan cabul. Disini
jenis kelamin orang memaksa atau dipaksa tidak menjadi soal, dan dengan melakukan
melakukan, dimaksudkan melakukan perbuatan cabul pada orang lain, atau pada dirinya
sendiri. 2
Pasal 290 KUHP, menyatakan melakukan perbuatan cabul itu dilakukan dengan
seseorang yang diketahuinya pingsan atau tidak berdaya. Kata pigsan sinonim dengan kata9

kata tidak sadar, tidak ingat, sedang kata tidak berdaya berarti tidak bertenaga atau sangat
lemah, kata diketahuinya adalah rumusan dolus atau sengaja. Dari beberapa petikan undangundang diatas dapat dikelompokkan empat macam persetubuhan diluar pernikahan yang
dilarang dan diancam pidana penjara yaitu perzinahan (pasal 284 KUHP), perkosaan (pasal
285 KUHP), persetubuhan dengan wanita yang pingsan (pasal 286 KUHP), dan persetubuhan
dengan wanita yang umurnya kurang dari lima belas tahun (pasal 287 KUHP). 2
Pada perzinahan persetubuhan dilakukan dengan persetujuan si wanita yang bersalah
atau turut bersalah dalam tindak pidana itu. Sedang pada tiga yang lainnya dilakukan tanpa
persetujuan wanita. Wanita yang pingsan tidak dapat memberikan persetujuan. Persetujuan
dari wanita yang tidak berdaya dan wanita yang umurnya kurang dari lima belas tahun
dianggap tidak sah, sehingga dianggap tidak ada.
F. Pemeriksaan
Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan Visum et Repertum delik
kesusilaan adalah :1
Instansi polisi yang meminta pemeriksaan, nama dan pangkat polisi yang mengantar
korban, nama, alamat, dan pekerjaan korban seperti tertulis dalam surat permintaan, nama
dokter yang memeriksa, tempat, tanggal, dan jam pemeriksaan dilakukan serta nama perawat
yang menyaksikan pemeriksaan.
Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya,
sebaliknya anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. 1
Terdorong oleh berbagai maksud atau perasaan, misalnya maksud untuk memeras,
rasa dendam, menyesal, atau karena takut pada ayah/ibu, korban mungkin mengemukakan
hal-hal yang tidak benar. 1
Anamnesis perupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter
sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang objektif, sehingga seharusnya tidak
dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada
Visum et Repertum dengan judul Keterangan yang diperoleh dari korban.

Dalam

mengambil anamnesis, dokter meminta pada korban untuk menceritakan segala sesuatu
tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang
bersifat umum dan khusus. 1
Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tangal dan tempat lahir,
status perkawinan, siklus haid, untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin,
10

dan penyakit kandungan serta adanya penyakit lain : epilepsi, katalepsi, syncope. Cari tahu
pula apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir> apakah menggunakan kondom?
Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian; tanggal dan jam. Bila waktu antara
kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat
diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, tetapi persetubuhan yang pada
dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. 1
Karena berbagai alasan, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi
hamil atau selang beberapa hari baru diketahui oleh ayah/ibu dan karena ketakutan mengaku
bahwa ia telah disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan
segera melapor. Tetapi saat pelaporan yang terlambat mungkin juga disebabkan karena
korban diancam untuk tidak melapor kepada polisi. Dari data ini dokter dapat mengerti
mengapa ia tidak dapat menemukan lagi spermatozoa, atau tanda-tanda lain dari
persetubuhan.1
Tanyakan pula dimana tempat terjadinya. Sebagai petunjuk dalam pencarian trace
evidence yang berasal dari tempatkejadian, misalnya rumput, tanah, dan sebagainya yang
mungkin melekat pada pakaiaan atau tubuh korban. Sebaliknya petugas pun dapat
mengetahui di mana harus mencari trace evidence yang ditinggalkan oleh korban/pelaku.1
Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian
mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda bekas
kekerasan dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku
mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari
pemerkosa/penyerang.1
Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena
ketakutan tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh laki-laki pelaku dengan pemberian
obat tidur atau obat bius. Dalam hal ini jangan lupa mengambil urin dan darah untuk
pemeriksaan toksikologik.1
Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian, korban
mencuci, mandi dan mengganti pakaian.1
Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti. Pakaian diteliti helai demi helai,
apakah terdapat : robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian,

11

kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpur, dan lain-lain yang berasal
dari tempat kejadian.
Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak, benda-benda yang melekat dan
pakaian yang mengandung trace evidence dikirim ke laboratorium kriminologi untuk
pemeriksaan lebih lanjut.1
Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum: lukiskan penampilannya
(rambut dan wajah), rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang atau gelisah dsb. Adakah
tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius, apakah ada needle
marks. Bila ada indikasi jangan lupa untuk mengambil urin dan darah.1
Adakah tanda-tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher,
pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang.1
Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint,
tinggi dan berat badan, tekanan darah. Keadaan jantung, paru, dan abdomen.1
Adakah trace evidence yang melekat pada tubuh korban.
Pemeriksaan bagian khusus (daerah genitalia) meliputi ada idaknya rambut kemaluan
yang saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering, gunting untuk
pemeriksaan laboratorium. Cari pula bercak air mani di sekitar alat kelamin, kerok dengan
sisi tumpul skalpel atau swab dengan kapas lidi yang dibasahi dengan larutan garam
fisiologis.1
Pada vulva , teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema,
memar, dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi/edema? Dengan
kapas lidi diambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.1
Periksa jenis selaput dara, adakah ruptur atau tidak. Bila ada, tentukan ruptur,
tentukan ruptur baru atau lama dan catat lokasi ruptur tersebut, teliti apakah sampai ke
insertio atau tidak. Tentukan besar orificium, sebesar jari kelingking, jari telunjuk, atau 2 jari.
Sebagai gantinya boleh juga ditentukan ukuran lingkaran orifisium, dengan cara ujung
kelingking atau telunjuk, dimasukkan dengan hati-hati ke dalam orifisium sampai terasa tepi
selaput dara menjepit ujung jari, beri tanda pada sarung tangan dan lingkaran pada titik itu
diukur. Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5 cm. Lingkaran yang memungkinkan
persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah minimal 9 cm.1

12

Harus diingat bahwa persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi. Pada ruptur
lama, robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan di bawahnya.
Ruptur yang tidak sampai ke insertio, bila sudah sembuh tidak dapat dikenal lagi.1
Periksa pula apakah frenulum laboratorium pudendi dan commisura labiorum
posterior utuh atau tidak. Periksa vagina dan serviks dengan spekulum, bila keadaan alat
genital mengijinkan. Adakah tanda penyakit kelamin.1
Lakukan pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium. Untuk pemeriksaan
cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina, lakukan dengan mengambil lendir vagina
menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. Bahan diambil
dari forniks posterior, bila mungkin dengan spekulum.1
Pada anak-anak atau bila selaput dara utuh, pengambilan bahan sebaiknya dibatasi
dari vestibulum saja. Pemeriksaan terhadap kuman N. gonorrhoea: dari sekret urether (urut
dari jari) dan dipulas dengan pewarnaan gram.1
Pemeriksaan dilakukan pada hari ke-I, III, V, dan VII. Jika pada pemeriksaan
didapatkan N. gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita,
bila pada pria tertuduh juga ditemukan N. gonorrhoea, ini merupakan petunjuk yang cukup
kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik atau
bakteriologik.1
Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologik terhadap urin dan darah juga
dilakukan bila ada indikasi.
Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakukan terhadap pakaian, catat adanya bercak
semen, darah dsb. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak
perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi.
Di sini penentuan golongan darah penting untuk dilakukan. Mungkin dapat ditemukan tanda
bekas kekerasan: akibat perlawanan oleh korban. Untuk mengetahui apakah seorang pria baru
melakukan persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada
glans penis.1
Pemeriksaan terjadap sel epitel vagina pada glans penis dapat dilakukan dengan
menekankan kaca obyek pada glans penis, daerah korona atau frenulum, kemudian diletakkan
terbalik di atas cawan yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada
kaca obyek tersebut. Sitoplasma sel epitel vagina akan berwarna coklat tua karena
13

mengandung glikogen. Warna coklat tadi cepat hilang namun dengan meletakkan kembali
sediaan di atas cairan lugol maka warna coklat akan kembali lagi. Pada sediaan ini dapat pula
ditemukan adanya spematozoa tetapi tidak mempunyai arti apa-apa.1
Perlu dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk menentukan adanya penyakit
kelamin.
Trace evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa.
Bila fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensik di Kepolisian atau
bagian ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel serta membuat berita acara
pembungkusan dan penyegelan.1
Rambut dan barang bukti lain yang ditemukan diperlakukan serupa. Jika dokter
menemukan rabut kemaluan yang lepas pada badan wanita ia harus mengambil beberapa
helai rambut kemaluan dari wanita dan laki-laki sebagai bahan pembanding (matching).1
Beberapa Catatan Penting :1
a) Ruptur selaput Dara
Bedakan celah bawaan dari ruptur dengan memperlihatkan sampai ke insertio
(pangkal) selaput dara.
Celah bawaan tidak mencapai insertio sedangkan rupturdapat sampai ke dinding
vagina. Pada vagina akan ditemukan perut bila ruptur sudah sembuh, sedangkan
ruptur yang tidak mencapai basis tidak akan menimbulkan jaringan parut.
Ruptur akibat persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri
dengan asumsi bahwa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan.
b) Formulir Visum et Repertum perkosaan
Formulir visum et repertum luka tidak sesuai untuk kasus perkosaan. Visum et
repertum luka digunakan pada pemeriksaan terhadap korban peristiwa penganiayaan,
kecelakaan lalu lintas dan sebagainya. Pada bagian kesimpulan, dokter diminta
pendapatnya tentang jenis luka, jenis kekerasan penyebab dan kualifikasi luka.
Pada peristiwa persetubuhan yang merupakan tindak kejahatan, dokter diminta
untuk mengemukakan pendapatnya apakah persetubuhan telah terjadi. Misalnya, pada
perempuan bukan perawan, persetubuhan mungkin tidak menimbulkan luka dan tidak
ada kualifikasi luka yang akan dikemukakan.
c) Anamnesa
Anamnesis dipisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum, tetapi masih perlu
dipikirkan apakah hal ini dapat diterima dengan gembira oleh pihak yang
bersangkutan, karena mungkin keterangan yang diberikan kepada dokter berbeda
dengan yang diberikan kepada polisi. Sebagai jalan tengah mungkin catatan
14

anamnesis ini baru akan diberikan bila diminta oleh penyidik, tidak secara otomatis
dilampirkan dalam Visum et Repertum.
BAB III
KESIMPULAN
Kejahatan seksual (sexual offences), sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang
menyangkut tubuh kesehatan, dan nyawa manusia, mempunyai kaitan yag erat dengan ilmu
kedokteran forensik, yaitu dalam upaya pembuktian bahwasannya kejahatan tersebut memang
telah terjadi. Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh
undang-undang, tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP, tentang
kejahatan terhadap Kesusilaan, meliputi persetubuhan didalam perkawinan (pasal 288
KUHP) maupun di luar perkawinan yang mencakup persetubuhan dengan persetujuan (pasal
284 dan 287 KUHP) serta persetubuhan tanpa persetujuan (pasal 285 dan 286). 1
Homoseksual juga termasuk bentuk kejahatan seksual bila dilakukan pada orang dengan jenis
kelain sama namun belum dewasa seperti yang tertera dalam pasal 292 KUHP.4
Upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus kejahatan seksual
sebenarnya terbatas didalam pembuktian ada tidaknya tanda-tanda persetubuhan, ada
tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta pebuktian apakah seseorang itu
memang sudah pantas atau sudah mampu untuk dikawin atau tidak. Berbagai pemeriksaan
laboratorium dapat dilakukan untuk mendukung adanya persetubuhan.3
- Persetubuhan yang legal adalah yang dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
1. Ada izin dari wanita yang disetubuhi
2. Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang terikat perkawinan
-

dengan orang lain dan bukan anggota keluarganya.


Tugas dokter di TKP pada kejahatan seksual :
1. Mencari tanda-tanda pergumulan
2. Mencari tanda-tanda kekerasan
3. Mencari tanda-tanda persetubuhan
4. Mencari tanda-tanda milik korban/tersangka
Pemeriksaan korban kejahatan seksual :
1. Harus ada surat permintaan Visum et Repertum
2. Persetujuan tertulis dari korban / orang tua korban
3. Harus ada perawat wanita

DAFTAR PUSTAKA :
1. Budiyanto A, Widiatmaka W, et al, 1997, Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian
Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

15

2. Hoediyanto. Hariadi, A. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Ed 7.


Surabaya : Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas
Kedokteran Universitas Airlangga. 2010.
3. Dahlan, Sofwan. 2008. Ilmu Kedokteran Forensik : Pedoman bagi dokter dan penegak
Hukum. Semarang : BP, UNDIP, 2008
4. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedoketran Forensik. Edisi I. Jakarta : Binarupa
Aksara.

16