Anda di halaman 1dari 27

Lampiran 1 SAP, Materi dan Soal Pre dan Post Test Penyuluhan Hipertensi

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Disusun Oleh:
Kelompok V K3LN
Dina Mukmilah M.

115070201131024

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2016

134

A. Latar Belakang
Semakin bertambah umur seseorangsemakin banyak pula penyakit yang munculdan
sering diderita khususnya pada lansiaatau lanjut usia. Pada usia lanjut akan terjadiberbagai
kemunduran pada organ tubuh,oleh sebab itu para lansia mudah sekaliterkena penyakit seperti
hipertensi.
Hipertensi atau penyakit darah tinggimerupakan kondisi ketika seseorangmengalami
kenaikan tekanan darah baiksecara lambat atau mendadak. Diagnosishipertensi ditegakkan jika
tekanan darahsistol seseorang menetap pada 140 mmHgatau lebih. Nilai tekanan darah yang
palingideal adalah 115/75 mmHg (Agoes , 2011).
Data WHO tahun 2000 menunjukkan,di seluruh dunia sekitar 972 juta orang atau26,4%
penghuni bumi mengidap hipertensidengan perbandingan 26,6% pria dan26,1% wanita. Angka
ini kemungkinanakan meningkat menjadi 29,2% di tahun2025. Dari 972 juta pengidap
hipertensi, 333juta berada di negara maju dan 639 sisanyaberada di negara sedang
berkembang,termasuk Indonesia (Suhadak, 2010).
Angka kejadian hipertensi pada lansiadi Indonesia dari hasil survei kesehatanrumah
tangga tahun 1995 di Jakarta,menunjukkan tekanan darah tinggi cukuptinggi yaitu 83 per 1000
anggota rumahtangga. Berdasarkan pengkajian yang telah dilakukan, di wilayah Kelurahan
Kedung Kandang terdapat 28 lansia yang mengalami penyakit hipertensi
Banyak faktor yang berperan untukterjadinya hipertensi meliputi risiko yangtidak dapat
dikendalikan (mayor) dan faktorrisiko yang dapat dikendalikan (minor).Faktor risiko yang tidak
dapat dikendalikan(mayor) seperti keturunan, jenis kelamin, rasdan usia. Sedangkan faktor
risiko yang dapatdikendalikan (minor) yaitu obesitas, kurangolah raga atau aktivitas, merokok,
minumkopi, sensitivitas natrium, kadar kaliumrendah, alkoholisme, stress, pekerjaan,pendidikan
dan pola makan (Suhadak,2010).
Penyakit hipertensi akan menjadimasalah yang serius, karena jika tidakditangani sedini
mungkin akan berkembangdan menimbulkan komplikasi yangberbahaya seperti terjadinya
penyakitjantung, gagal jantung kongestif, stroke,gangguan penglihatan, dan penyakit ginjal.
Hipertensi dapat dicegah denganmenghindari faktor penyebab terjadinyahipertensi
dengan pengaturan pola makan,gaya hidup yang benar, hindari kopi,merokok dan alkohol,
mengurangi konsumsigaram yang berlebihan dan aktivitasyang cukup seperti olahraga yang
teratur(Dalimartha, 2008).
Tn.S adalah seorang lansia yang berusia 66 tahun. Saat dilakukan pengkajian, Tn.S
tidak mengetahui pengertian hipertensi serta batas tekanan darah yang sudah tergolong
135

hipertensi. Selain itu, pasien tidak mengetahui secara benar penyebab serta bagaimana cara
merawat penyakit yang ia alami saat ini. Oleh sebab itu, penulis merasa tertarik untuk
melakukan pendidikan kesehatan mengenai hipertensi. Penulis berharap setelah dilakukan
pendidikan kesehatan ini, pengetahuan dan manajemen hipertensi lansia binaan Tn.S dapat
meningkat.
B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah dilakukan penyuluhan, peserta dapat memahami dan menyebutkan pengertian,
penyebab dan penatalaksanaan hipertensi serta bersedia untuk menerapkan manajemen
hipertensi dalam kehidupan sehari-sehari.
2. Tujuan khusus
Setelah dilakukan pengajaran peserta dapat :
a. Memahami pengertian hipertensi
b. Memahami penyebab hipertensi
c. Memahami penatalaksanaan hipertensi yang meliputi: pembatasan diet garam,
mengurangi konsumsi kopi, mengurangi konsumsi lemak jenuh, memperbanyak
konsumsi buah dan sayur, mengurangi konsumsi makanan manis, mengurangi
konsumsi makanan berpengawet, olah raga teratur minimal 30 menit secara kontinyu,
mengurangi stres psikologis, rajin memeriksakan TD setiap 2 minggu sekali
d. Mempersuasi peserta penyuluhan untuk melakukan manajemen hipertensi dalam
kehidupan sehari-hari
C. Rencana Kegiatan
1. Pokok bahasan
: Pemberian informasi Hipertensi
2. Judul
: Stop Hipertensi
3. Sasaran
: Lansia Binaan Tn.S
4. Tempat
: Rumah Tn.S
5. Hari / tanggal
:
6. Pukul
: 09.00-09.20
7. Alokasi waktu
: 20 menit
8. Media
: Leaflet
9. Metode
: Ceramah dan Tanya jawab
D. Kegiatan Pembelajaran
Tahap
Pendahuluan

Waktu

Kegiatan Pendidikan

Kegiatan Peserta
Kesehatan
5 menit 1.Membuka
1. Menjawab
dengan salam
2. Mendengarkan
2.Memperkenalkan diri
3.Menjelaskan judul materi
4.Menjelaskan tujuan
136

Metode
Tanya jawab

Media
-

pendidikan kesehatan
5.Menggali pengetahuan
peserta dengan
melaksanakan pre-test
Penyajian

15 menit 1. Menjelaskan
pengertian hipertensi
2. Menjelaskan

1. Memperhatikan
2. Mendengarkan

Ceramah dan

1. Mendengarkan
2. Bertanya

Tanya jawab

leaflet

demonstrasi

penyebab hipertensi
3. Menjelaskan
penatalaksanaan
hipertensi
4. Mempersuasif peserta
untuk menerapkan
manajemen hipertensi
dalam kehidupan
sehari-hari
Penutup

5 menit

1. Memberikan
kesempatan peserta
untuk menyakan
materi yang belum
paham
2. Menyampaikan
evaluasi dengan
bertanya tentang
materi yang telah
disampaikan dan

tentang materi
yang belum
paham
3. Menjawab
pertanyaan
pemateri/
moderator
4. Menjawab
salam

menunjuk 3 peserta
untuk menjawab
pertanyaan
moderator/pemateri.
3. Penutup

E. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur

Adanya Persiapan yang matang terkait media, materi dan alat bantu yang digunakan.
137

Informasi pendidikan kesehatan untuk peserta senam lanisa sudah dilakukan dengan
baik.

2. Evaluasi Proses

Peserta aktif dan antusias mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan .


Peserta memberikan respon berupa umpan balik dan pertanyaan.

3. Evaluasi Hasil

Pasien memperoleh nilai post-test mengenai materi konsep hipertensi adalah 80.
Pasien mengatakan bersedia untuk menerapkan manajemen hipertensi dalam kehidupan
sehari-hari.

F. Materi Penyuluhan
G. Daftar Pustaka
H. Soal Pre Test Post Test

138

MATERI PENYULUHAN
1. Definisi
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalamipeningkatan
tekanan darah di atas normal yang di tujukan oleh angkasistolik (bagian atas) dan
angka diastol (bagian bawah) pada pemeriksaantensi darah menggunakan alat
pengukur tekanan darah baik yang berupacuff air raksa ataupun alat digital lainnya
(Wahdah 2011).
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolikyang
menetap. Pada waktu membaca tekanan darah bagian atas adalahtekanan sistolik,
sedangkan bagian bawah adalah tekanan diastolik.Tekanan sistolik adalah tekanan
puncak yang tercapai pada waktu jantungyang berkontraksi dan memompa darah
melalui arteri, sedangkan tekanandiastolik adalah tekanan pada waktu jatuh ke titik
rendah saat jantung saatjantung mengisi darah kembali atau disebut tekanan arteri di
antara denyut jantung.
Secara sederhana seseorang disebut hipertensi apabila tekanandarah sistolik
di atas 140 mmHg dan tekanan diastol lebih besar dari 90mmHg. Tekanan darah yang
ideal adalah 120/80 mmHg (Soetardjo &Soenardi 2005).
Menurut Joint National Commite on Prevention Detection, Evaluation, and
Treatment of High pressure VII, 2003; hipertensi adalah suatu keadaan seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal, yaitu tekanan darah sistolik
140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik 90 mmHg. Hipertensi adalah tekanan
darah tinggi yang abnormal dan diukur paling tidak pada 3 kesempatan yang berbeda.
Tekanan darah normal bervariasi sesuai usia, sehingga setiap diagnosis hipertensi
harus bersifat spesifik usia. Pada umumnya, tekanan yang dianggap optimal adalah
kurang dari 120 mmHg untuk tekanan sistolik dan 80 mmHg untuk tekanan diastolik,
sementara tekanan yang dianggap hipertensif adalah lebih dari 140 mmHg untuk
sistolik dan lebih dari 90 mmHg untuk diastolik. Istilah prahipertensi adalah tekanan
darah antara 120 dan 139 mmHg untuk sistolik dan 80 dan 89 mmHg untuk diastolik
(Corwin, 2009: Price, 2005).
Hipertensi merupakan penyakit kronis yang dapat menjadi salah satu faktor risiko
langsung terhadap kejadian infark miokard atau serangan jantung dan CVA
(cerebrovascular accidents) atau yang dikenal dengan stroke. Hipertensi adalah
peningkatan tekanan sistole, yang tingginya tergantung umur individu yang terkena.
139

Tekanan darah berfluktuasi dalam batas-batas tertentu, tergantung posisi tubuh, umur,
dan tingkat stres yang dialami. Hipertensi dengan peningkatan tekanan sistole tanpa
disertai peningkatan tekanan diastole lebih sering pada lansia, sedangkan hipertensi
peningkatan tekanan diastole tanpa disertai peningkatan tekanan sistole lebih sering
pada dewasa muda.
2. Klasifikasi Hipertensi
Beberapa klasifikasi tentang hipertensi dari berbagai sudut pandang ahli
dikelompokkan menjadi bermacam-macam.
A. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Penyebabnya:
a. Hipertensi primer (esensial)
Sekitar 20% dari populasi dewasa mengalami hipertensi; lebih dari 90%
dari mereka mengalami hipertensi esensial (primer), yang tidak mempunyai
penyebab medis yang dapat dikenali. Pada suatu ketika hipertensi timbul
mendadak dan parah serta terjadi proses malignan yang menyebabkan
penyimpangan kondisi dengan cepat. Gangguan emosional, obesitas, konsumsi
alkohol berlebih, dan stimulasi berlebihan dengan kopi, tembakau, dan obatobat stimulator memegang peranan dalam munculnya hipertensi. Hipertensi
tipe ini sangat bersifat familial dan menyerang lebih banyak wanita daripada
pria, tetapi pria Afrika-Amerika kurang mampu mentoleransi penyakit ini
(Baughman, 2000).
b. Hipertensi sekunder
Hipertensi dapat terjadi akibat penyakit yang tidak diketahui. Bila faktor
penyebab dapat diatasi, tekanan darah dapat kembali normal. Pada bentuk
sekunder dari hipertensi, penyakit parenkim dan penyakit renovaskular adalah
faktor penyebab paling umum. Kontrasepsi oral telah dihubungkan dengan
hipertensi ringan yang berhubungan dengan peningkatan substrat renin dan
peningkatan kadar angiotensin II dan aldosteron. Jadi, dapat disimpulkan
bahwa hipertensi jenis ini adalah hipertensi yang diakibatkan karena gangguan
fisiologis atau penyakit dalam tubuh sebelumnya.
1. ISH (Isolated Systolic Hypertension), IDH (Isolated Diastolic Hypertension),
SDH (Systolic Diastolic Hypertension)
Dewasa dan dewasa muda (<30 tahun) dengan peningkatan tekanan
darah dapat mengalami gangguan hemodinamik yaitu peningkatan stroke
volume, dimana PVR relatif normal. Dengan menjaga kondisi fisiologis, ISH
umumnya terbentuk dari hipertensi yang diamati pada kaum muda. Sebaliknya,
140

pada pertengahan usia (30-50 tahun), cardiac output normal atau mengalami
penurunan, tetapi gangguan hemodinamik terlihat menonjol yang ditandai
dengan peningkatan PVR (Peripheral Vascular Resistance). Isolated diastolic
hypertension (IDH) or mixed (systolic/ diastolic) hypertension (SDH) adalah
bentuk utama dari hipertensi yang diamati pada individu. SDH umumnya dilihat
sebagai hipertensi esensial yang menetap. Pada dewasa tua (>50 tahun), ISH
adalah bentuk utama dari hipertensi. Bagaimanapun juga, berbeda dengan
kondisi pada individu yang lebih muda, pengerasan pembuluh darah adalah
penyebab gangguan hemodinamik.
2. Isolated office (white-coat) hypertension
Isolated office (white-coat) hypertension adalah kondisi dimana pasien
dengan tekanan darah yang secara konsisten meningkat tetapi normal pada
lain waktu. Isolated office hypertension kira-kira diderita oleh 10-15% pasien
hipertensi. Tenaga kesehatan harus menentukan tujuan untuk mengidentifikasi
peningkatan tekanan darah yang terjadi dengan menggunakan pengukuran di
rumah. Ada juga dampak potensial dari fenomena ini pada biaya pengobatan
anti-hipertensi. Hal ini masih diperdebatkan apakah Isolated office (white-coat)
hypertension adalah fenomena yang murni atau apakah itu membawa
peningkatan risiko kardiovaskular. Keputusan untuk memulai pengobatan harus
berdasarkan faktor risiko keseluruhan pasien individu dan adanya kerusakan
organ target (Rahman., et. al, 2008).
B. Klasifikasi Hipertensi Menurut Tingginya Tekanan Darah:
Tabel 2.1Perbedaan Klasifikasi Hipertensi versi JNC VII dan JNC VI
JNC 6

Nilai Tekanan Darah

JNC 7

Sistolik/Diastolik (mmHg)
Optimal
Normal

<120/80
120-129/80-84
130-139/85-89

Normal
Pre - hipertensi

Borderline
Hipertensi

140/90

Hipertensi

Stage 1: hipertensi

140-159/90-99

Stage 1: hipertensi

Stage 2: hipertensi

160-179/100-109

Stage 3: hipertensi

180/110

141

Stage 2: hipertensi

C. Klasifikasi Hipertensi Menurut Kelompok Umur:


Tabel 2.2 Hipertensi Menurut Kelompok Umur
Kelompok Usia

Normal (mmHg)

Hipertensi (mmHg)

Bayi

80/40

Normal

Anak usia 7-11 tahun

100/60

120/80

Remaja 12-17 tahun

115/70

130/80

Dewasa (20-45 tahun)


(45-65 tahun)
(>65 tahun)

120-125/75-80
135-140/85
150/85

135/90
140/90-160/95
160/95

D. Klasifikasi Hipertensi Menurut Perjalanan Penyakitnya:


Penggolongan hipertensi menurut perjalanan penyakitnya ini dibagi
menjadi dua, yakni :
1. Hipertensi Benigna, bila timbulnya kenaikan tekanan darah terjadi secara
berangsur,
2. Hipertensi Maligna, bila tekanan darah naik secara progresif dan cepat dan
biasanya disertai dengan banyak komplikasi seerti GGk, CVA, hemoragi
retina, dan ensefalopati (Tambayong,2000).
E. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Kegawatan :
1. Hipertensi Emergensi, jika TD diastolik >120 mmHg, disertai dengan
kerusakan organ target dan apabila ada keterlambatan dalam penanganan
dapat berakibat pada kematian,
2. Hipertensi Urgensi, jika TD Diastolik >120 mmHg dan tidak disertai dengan
tanpa kerusakan organ namun dalam penanganannya tekanan darah harus
diturunkan dalam 24 jam sejak onset.
F. Klasifikasi Hipertensi Berdasarkan Bentuknya :
1. Hipertensi Diastolik
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan diastolik
tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya jenis hipertensi ini
ditemukan pada anak-anak dan dewasa muda.
2. Hipertensi Sistolik
Hipertensi sistolik (isolated systolic hypertension) yaitu peningkatan tekanan
sistolik tanpa diikuti peningkatan tekanan diastolik, umumnya ditemukan pada
usia lanjut.
3. Hipertensi campuran
Hipertensi campuran (sistol dan diastol yang meninggi) yaitu kombinasi dari
peningkatan tekanan darah pada sistol dan diastol. (Gunawan, 2001).
142

3. Penyebab Hipertensi
Institut Jantung, Paru dan Darah memperkirakan separuh orang yang menderita
hipertensi tidak sadar akan kondisinya. Sekitar 20% populasi dewasa mengalami
hipertensi, lebih dari 90% diantaranya menderita hipertensi esensial (primer), dimana
tidak dapat ditentukan penyebab medisnya (Smeltzer, 2002 & Rubenstein, 2007).
Etiologinya mungkin multifaktorial. Yang termasuk faktor predisposisi diantaranya
bertambahnya usia, obesitas, asupan alkohol berlebihan. Sedangkan hipertensi
sekunder bisa timbul akibat penyakit ginjal, penyakit endokrin (sindrom Cushing,
sindrom Conn, feokromoditoma, akromegali), pil kontrasepsi oral, eklampsia, dan
koaktasio aorta (Rubenstein, 2007).
A. Stenosis arteri ginjal
Stenosis arteri ginjal adalah suatu keadaan yang harus mendapat perhatian
khusus. Penyempitan arteri yang memasok darah ke ginjal (stenosis arteri ginjal)
menyebabkan tekanan darah menjadi tinggi. Keadaan ini dapat diperbaiki dengan
pembedahan atau dilatasi (melebarkan arteri).
B. Gagal ginjal
Penderita gagal ginjal biasanya juga membutuhkan perawatan tekanan darah
tinggi. Tekanan darah yang tinggi pada penderita ini terutama disebabkan oleh
kegagalan ginjal dalam mengatur jumlah garam dan air dalam tubuh. Apabila
penderita menjalankan dialisis, penderita masih tetap harus minum obat untuk
menjaga tetap normal.
C. Kelebihan noradrenalin
Penyebab tekanan darah tinggi lainnya adalah gangguan kelenjar adrenal.
Penyebab ini jarang dijumpai. Namun, bila ada kasus, termasuk gangguan yang
dapat disembuhkan. Kelenjar adrenal terdapat tepat di atas tiap-tiap ginjal. Kelenjar
adrenal mempunyai lapisan dalam dan luar yang dapat mengeluarkan berbagai
hormon ke dalam aliran darah. Bagian dalam kelenjar disebut medula yang
mengeluarkan adrenalin atau hormon yang dihasilkan sebagai rasa takut, marah,
dan latihan. Adrenalin dapat meningkatkan denyut jantung. Selain itu, medula juga
menghasilkan hormon noradrenalin yang juga menyebabkan kontraksi otot arteri
dan meningkatkan tekanan darah. Hipertensi akibat terlalu banyak noradrenalin
dapat dikendalikan dengan obat, tetapi untuk kesembuhannya diperlukan tindakan
bedah.
D. Sindroma cushing dan aldosteronisme
Sindrom ini merupakan keadaan yang sangat jarang terjadi. Keadaan ini sebagai
akibat adanya tumor atau pertumbuhan yang berlebihan dari lapisan luar kelenjar
143

adrenal. Pada keadaan ini, dihasilkan hormon stres lain yaitu kortisol atau hormon
lain yang disebut aldosteron hormon yang mengakibatkan ginjal menahan garam
(atau sodium) dan melepaskan kalium.
E. Alkohol
Hipertensi dikaitkan dengan konsumsi alkohol berlebihan dan hipertensi
cenderung turun bila konsumsi alkohol dihentikan atau dibatasi.
F. Stres
Mungkin hanya sedikit orang yang tidak segera menghubungkan hipertensi
dengan stres. Namun, peranan stres sebagai faktor penyebab hipertensi tidak
diragukan lagi. Stres dapat meningkatkan tekanan darah.
4. Faktor Resiko Hipertensi
Dengan perubahan fisiologis normal penuaan, faktor resiko hipertensi lain
meliputi diabetes ras riwayat keluarga jenis kelamin faktor gaya hidup seperti obesitas
asupan garam yang tinggi alkohol yang berlebihan.
Faktor resiko yang mempengaruhi hipertensi yang dapat atau tidak dapat
dikontrol, antara lain:
a. Faktor resiko yang tidak dapat dikontrol:
Faktor risiko yang tidak dapat diubah, seperti riwayat keluarga (genetik
kromosomal), umur (pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun), jenis kelamin pria
atau wanita pasca menopause.
a. Jenis kelamin
Prevalensi terjadinya hipertensi pada pria sama dengan wanita.Namun
wanita terlindung dari penyakit kardiovaskuler sebelum menopause. Wanita
yang belum mengalami menopause dilindungi oleh hormon estrogen yang
berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL). Kadar
kolesterol HDL yang tinggi merupakan faktor pelindung dalam mencegah
terjadinya proses aterosklerosis. Efek perlindungan estrogen dianggap
sebagai penjelasan adanya imunitas wanita pada usia premenopause. Pada
premenopause wanita mulai kehilangan sedikit demi sedikit hormon estrogen
yang selama ini melindungi pembuluh darah dari kerusakan. Proses ini terus
berlanjut dimana hormon estrogen tersebut berubah kuantitasnya sesuai
dengan umur wanita secara alami, yang umumnya mulai terjadi pada wanita
umur 45-55 tahun.
Dari hasil penelitian didapatkan hasil lebih dari setengah penderita hipertensi
berjenis kelamin wanita sekitar 56,5%.Hipertensi lebih banyak terjadi pada
pria bila terjadi pada usia dewasa muda. Tetapi lebih banyak menyerang
144

wanita setelah umur 55 tahun, sekitar 60% penderita hipertensi adalah


wanita. Hal ini sering dikaitkan dengan perubahan hormon setelah
menopause.
b. Umur
Semakin tinggi umur seseorang semakin tinggi tekanan darahnya, jadi orang
yang lebih tua cenderung mempunyai tekanan darah yang tinggi dari orang
yang berusia lebih muda. Hipertensi pada usia lanjut harus ditangani secara
khusus. Hal ini disebabkan pada usia tersebut ginjal dan hati mulai menurun,
karena itu dosis obat yang diberikan harus benar-benar tepat. Tetapi pada
kebanyakan kasus , hipertensi banyak terjadi pada usia lanjut. hipertensi
sering terjadi pada usia pria : > 55 tahun; wanita : > 65 tahun. Hal ini
disebabkan terjadinya perubahan hormon sesudah menopause. Hanns Peter
(2009) mengemukakan bahwa kondisi yang berkaitan dengan usia ini adalah
produk samping dari keausan arteriosklerosis dari arteri-arteri utama,
terutama

aorta,

dan

akibat

dari

berkurangnya

kelenturan.

Dengan

mengerasnya arteri-arteri ini dan menjadi semakin kaku, arteri dan aorta itu
kehilangan daya penyesuaian diri.
c. Keturunan (Genetik)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akanmenyebabkan keluarga itu
mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan dengan
peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potasium
terhadap sodium Individu dengan orang tua dengan hipertensi mempunyai
risiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari pada orang yang
tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi. Seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang
tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Faktor resiko yang dapat dikontrol:
1. Obesitas
Pada usia + 50 tahun dan dewasa lanjut asupan kalori mengimbangi
penurunan kebutuhan energi karena kurangnya aktivitas. Itu sebabnya berat
badan meningkat. Obesitas dapat memperburuk kondisi lansia. Kelompok
lansia dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti artritis, jantung dan
pembuluh darah, hipertensi. Indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung
dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Risiko relatif untuk
menderita hipertensi pada orang obes 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan
145

seorang yang berat badannya normal. Pada penderita hipertensi ditemukan


sekitar 20-30% memiliki berat badan lebih.
2. Kurang Olahraga.
Olahraga banyak dihubungkan dengan pengelolaan penyakit tidak menular,
karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan tahanan perifer yang
akan menurunkan tekanan darah (untuk hipertensi) dan melatih otot jantung
sehingga menjadi terbiasa apabila jantung harus melakukan pekerjaan yang
lebih berat karena adanya kondisi tertentu Kurangnya aktivitas fisik menaikan
risiko tekanan darah tinggi karena bertambahnya risiko untuk menjadi gemuk.
Orang-orang yang tidak aktif cenderung mempunyai detak jantung lebih
cepat dan otot jantung mereka harus bekerja lebih keras pada setiap
kontraksi, semakin keras dan sering jantung harus memompa semakin besar
pula kekuaan yang mendesak arteri.
3. Kebiasaan Merokok
Merokok menyebabkan peninggian tekanan darah. Perokok berat dapat
dihubungkan dengan peningkatan insiden hipertensi maligna dan risiko
terjadinya stenosis arteri renal yang mengalami ateriosklerosis.
4. Mengkonsumsi garam berlebih
Badan kesehatan dunia yaitu World Health Organization

(WHO)

merekomendasikan pola konsumsi garam yang dapat mengurangi risiko


terjadinya hipertensi. Kadar sodium yang direkomendasikan adalah tidak
lebih dari 100 mmol (sekitar 2,4 gram sodium atau 6 gram garam) perhari.
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam
cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler
ditarik

ke

luar,

Meningkatnya

sehingga

volume

volume

cairan

cairan

ekstraseluler

ekstraseluler
tersebut

meningkat.

menyebabkan

meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya


hipertensi.
5. Minum alkohol
Banyak penelitian membuktikan bahwa alkohol dapat merusak jantung dan
organ-organ lain, termasuk pembuluh darah. Kebiasaan minum alkohol
berlebihan termasuk salah satu faktor resiko hipertensi.
6. Minum kopi
Faktor kebiasaan minum kopi didapatkan dari satu cangkir kopi mengandung
75 200 mg kafein, di mana dalam satu cangkir tersebut berpotensi
meningkatkan tekanan darah 5 -10 mmHg.
7. Stress

146

Hubungan antara stres dengan hipertensi diduga melalui aktivitas saraf


simpatis peningkatan saraf dapat menaikan tekanan darah secara intermiten
(tidak menentu). Stress yang berkepanjangan dapat mengakibatkan tekanan
darah menetap tinggi. Walaupun hal ini belum terbukti akan tetapi angka
kejadian di masyarakat perkotaan lebih tinggi dibandingkan dengan di
pedesaan. Hal ini dapat dihubungkan dengan pengaruh stress yang dialami
kelompok masyarakat yang tinggal di kota. Menurut Anggraini (2009)
mengatakan stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan
curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis. Adapun
stres ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan
karakteristik personal.
5. Patofisiologi Hipertensi(Terlampir)
6. Manifestasi Klinis Hipertensi
Hipertensi primer sedang atau berat sebagian besar tanpa gejala selama
bertahun-tahun sehingga sering disebut dengan silent killer. Gejala yang paling sering,
sakit kepala, juga sangat spesifik. Sakit kepala suboccipital, terjadi di awal pagi dan
mereda pada siang hari, dikatakan karakteristik, tetapi setiap jenis sakit kepala dapat
terjadi. Hipertensi dipercepat dikaitkan dengan mengantuk, kebingungan, gangguan
penglihatan, mual dan muntah (hipertensi ensefalopati). Selain gejala tersebut gejala
lainnya seperti pusing, kelelalahan atau jika hipertensi sudah berlangsung hipertensi
menahun akan muncul gejala mual, muntah, sesak nafas, gelisah, pandangan kabur.
Tidak jarang pula, pasien sering mengalami penurunan kesadaran/pingsan bahkan
koma.
Hipertensi pada pasien dengan pheochromocytomas yang mengeluarkan
dominasi norepinephrine biasanya dipertahankan tetapi mungkin episodik. Serangan
khas berlangsung dari menit sampai jam dan berhubungan dengan sakit kepala,
kecemasan, palpitasi, keringat banyak, pucat, tremor, dan mual dan muntah. Tekanan
darah meningkat, dan angina atau edema paru akut dapat terjadi. Dalam
aldosteronisme primer, pasien mungkin memiliki kelemahan otot, poliuria, dan nokturia
karena hipokalemia, hipertensi maligna jarang terjadi. Hipertensi kronis sering
menyebabkan hipertrofi ventrikel kiri, yang mungkin berhubungan dengan diastolik
atau, dalam tahap akhir, disfungsi sistolik.
Penyebab keterlibatan serebral (1) stroke akibat trombosis atau (2) perdarahan
kecil atau besar dari microaneurysms menembus arteri intrakranial. Hipertensi
147

ensefalopati mungkin disebabkan oleh kongesti kapiler akut dan eksudasi dengan
edema serebral. Temuan biasanya reversibel jika perawatan yang memadai diberikan
segera. Tidak ada hubungan yang ketat tekanan darah diastolik dengan hipertensi
ensefalopati, tetapi biasanya melebihi 130 mm Hg.
Tabel 2.3 Gambaran klinis-manifestasi organ target yang berhubungan dengan
hipertensi darurat (Torre et al., 2009)
Organ Target
Sistem Saraf Pusat

Manifestasi Klinis
Perubahan status mental
Kejang
Cerebrovascular accident
Sakit kepala
Perdarahan intrakranial
Penglihatan kabur
Diplopia
Perdarahan retina
Papilledema
GGA dan hematuria
Angina (nyeri dada)
Congestive heart failure
Pulmonary edema
Aortic dissection
Microangioplasthic hemolytic anemia

Optalmologi

Ginjal
Kardiovaskular

Hematologi

7. Pencegahan dan Penatalaksanaan Hipertensi


A. Manajemen Non Farmakologi
Managemen non farmakologi (modifikasi gaya hidup terapeutik) memainkan
peranan

penting dalam

managemen hipertensi.

Ini mungkin satu-satunya

pengobatan yang diperlukan dalam tahap satu hipertensi. Sayangnya data dari studi
cross-sectional menunjukkan bahwa pengobatan non-farmakologis untuk pasien
dengan hipertensi masih belum memadai. Beberapa manajemen non farmakologi
dalam mengontrol tekanan darah antara lain :
1. Penurunan berat badan
Penurunan berat badan adalah yang paling menguntungkan bagi pasien
yang mempunyai lebih dari 10% kelebihan berat badan. BMI yang ideal untuk
orang Asia sekitar 18,5-23,5 kg/m2. Target praktis untuk pasien kelebihan berat
badan adalah pengurangan minimum 5% berat badan. Namun penurunan berat
badan sebesar 4,5 kg secara signifikan mengurangi TD.
2. Mengurangi Konsumsi Sodium
Pengaruh pembatasan natrium dalam hipertensi dapat bervariasi. Subyek
lansia lebih sensitif terhadap asupan natrium. Rata-rata, pengurangan 4 mmHg
sistolik dan diastolik 2 mmHg dicapai dengan pembatasan natrium. Konsumsi
148

<100 mmol natrium atau 6g natrium klorida sehari dianjurkan (setara dengan
<1/4 sendok teh garam atau 3 sendok teh monosodium glutamat).
3. Menghindari konsumsi alkohol berlebihan
Alkohol memiliki efek akut dalam meningkatkan TD. Saran standar untuk
membatasi asupan tidak lebih dari 21 unit untuk pria dan 14 unit untuk wanita
per minggu (1 unit setara dengan 1/2 gelas bir atau 100 ml anggur atau 20ml
wiski). Pasien hipertensi yang menjadi peminum berat lebih cenderung memiliki
hipertensi resisten terhadap obat. Satu-satunya cara untuk mengurangi TD
pasien efektifnya adalah dengan mengurangi atau menghentikan konsumsi
alkohol. Mengurangi alkohol dapat menurunkan tekanan sistolik 10 mmhg dan
diastolik 7 mmhg.
4. Olahraga secara teratur
Jenis latihan aerobik lebih efektif daripada latihan yang melibatkan
pelatihan resistensi, (misalnya angkat besi). Saran umum kesehatan jantung
olahraga ringan, seperti jalan cepat selama 30-60 menit setidaknya 3 kali
seminggu.
5. Pengaturan diet
Diet yang kaya buah-buahan, sayuran dan produk susu dengan
penurunan lemak jenuh dan jumlah lemak dapat menurunkan TD (11/6 mmHg
pada penderita hipertensi dan 4/2 mmHg pada pasien dengan TD normal).
Jenis diet ini juga memiliki efek menguntungkan pada keseluruhan kesehatan
jantung. Modifikasi diet atau pengaturan diet sangat penting pada klien
hipertensi, tujuan utama dari pengaturan diet hipertensi adalah mengatur
tentang makanan sehat yang dapat mengontrol tekanan darah tinggi dan
mengurangi penyakiit kardiovaskuler. Secara garis besar, ada empat macam
diet untuk menanggulangi atau minimal mempertahankan keadaan tekana
darah, yakni : diet rendah garam, diet rendah kolestrol, lemak terbatas serta
tinggi serat, dan rendah kalori bila kelebihan berat baadan (Astawan, 2002).
Diet rendah garam diberikan kepada pasien dengan edema atau asites
serta hipertensi. Tujuan diet rendah garam adalah untuk menurunkan tekanan
darah dan untuk mencegah edema dan penyakit jantung (lemah jantung).
Adapun yang disebut rendah garam bukan hanya membatasi konsumsi garam
dapur tetapi mengkonsumsi makanan rendah sodium atau natrium (Na).Oleh
karena itu yang sangat penting untuk diperhatikan dalam melakukan diet
rendah garam adalah komposisi makanan yang harus mengandung cukup zat

149

zat gizi, baik kalori, protein, mineral maupun vitamin dan rendah sodium dan
natrium (Gunawan, 2001).
Sumber sodium antara lain makanan yang mengandung soda kue,
baking powder, MSG (Mono Sodium Glutamat), pengawet makanan atau
natrium benzoat (Biasanya terdapat didalam saos, kecap, selai, jelly), makanan
yang dibuat dari mentega serta obat yang mengandung natrium (obat sakit
kepala). Bagi penderita hipertensi, biasakan penggunaan obat dikonsultasikan
dengan dokter terlebih dahulu. ( Hayens, 2003 ).
Diet rendah kolestrol dan lemak terbatas. Di dalam tubuh terdapat tiga
bagian lemak yaitu: kolestrol, trigeserida, dan fospolipid. Tubuh memperoleh
kolestrol dari makanan sehari hari dan dari hasil sintesis dalam hati. Kolestrol
dapat berbahaya jika dikonsumsi lebih banyak dari pada yang dibutuhkan oleh
tubuh, peningkatan kolestrol dapat terjadi karena terlalu banyak mengkonsumsi
makanan yang mengandung kolestrol tinggi dan tubuh akan mengkonsumsi
sekitar 25 50 % dari setiap makanan (Amir, 2002 ).
Diet tinggi serat sangat penting pada penderita hipertensi, serat terdiri
dari dua jenis yaitu serat kasar (Crude fiber) dan serat kasar banyak terdapat
pada sayuran dan buahbuahan, sedangkan serat makanan terdapat pada
makanan karbohidrat yaitu : kentang, beras, singkong dan kacang hijau. Serat
kasar dapat berfungsi mencegah penyakit tekanan darah tinggi karena serat
kasar mampu mengikat kolestrol maupun asam empedu dan selanjutnya
membuang bersama kotoran. Keadaan ini dapat dicapai jika makanan yang
dikonsumsi mengandung serat kasar yang cukup tinggi ( Mayo, 2005 ).

Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan:


Bahan

Dianjurkan

Tidak dianjurkan

makanan
Sumber

Beras, kentang, singkong,

Makanan yang diolah dari

karbohidrat

trigu, tapioka, hankwe,

sumber hidrat penambahan

gula,makanan yang diolah

garam dapur, baking powder

dari bahan makanan tersebut

atau soda kue seperti roti,

tanpa garam dapur dan soda.

biscuit, mi, bihun, makaroni,

Sumber

Daging, ayam dan ikan

kue kering.
Otak, ginjal, lidah, sardin,

protein hewani

maksimal 100 gram sehari,

daging berlemak, ikan asin,

150

telur maksimal 1 butir sehari,

makanan kalengan, telur

susu maksimal 200 gram

asin, daging asap, sosis,

sehari

ham, bacon, dendeng, abon,


keju, kornet, ebi, dan udang

Sumber

Semua kacang kacang dan

kering
Keju, kacang tanah, dan

protein nabati

dan hasilnya diolah dan

semua kacang kacangan,

dimasak tanpa garam dapur

yang dimasak dengan garam

Semua sayuran segar,

atau bahan natrium lainnya.


Sayuran yang dimasak dan

sayuran yang diawetkan

diawetkan dengan garam

tanpa garam dapur dan

dapur dan ikatan natrium

natrium benzoat.

lainnya, seperti sayuran

Sayuran

dalam kaleng, sawi asin,


Buah

Semua buah buahan segar,

asinan dan acar.


Buah buahan yang

buahan

buah yang diawetkan tanpa

diawetkan dengan garam

garam dapur dan natrium

dapur dengan garam dapur

benzoate

dan lain ikatan natrium,

Minyak goring, margarin, dan

seperti buah dalam kaleng.


Margarin dan mentega biasa

Lemak

mentega tanpa
Minuman

garam/unslated
Teh, jus buah, jus sayuran,

Minuman ringan, coklat,

Bumbu

air putih.
Semua bumbu bumbu

cafein, alcohol
Garam dapur untuk diet

bumbu

kering yang tidak

rendah garam 1, baking

mengandung garam dapur

powder, soda kue, vetsinm

dan sumber natrium lain.

dan bumbu bumbu yang


mengandung garam dapur
seperti kecap, terasi, kaldu
balok, kaldu bubuk, saus
tomat, petis, dan tauco.

151

Jenis bahan makanan

Frekuensi penyajian

Ukuran setiap

Contoh bahan makanan

penyajian
Gandum utuh

1 lembar roti tawar

Roti gandum, pasta gandum,

1 ons sereal kering

sereal, bubur jagung, oatmeal,

gelas nasi, pasta,

beras merah, popcorn tanpa

atau sereal
1 gelas sayur dun hijau

garam.
Brokoli, wortel, sawi kacang

mentah

hijau, kacang polong, oyong,

gelas sayuran

bayam, labu kuning, ubi jalar,

dimasak

tomat, kentang, jamur, bunga

gelas jus sayur segar


1 buah ukuran medium

kol, mentimun.
Apel, pisang, kurma, anggur,

gelas buag kering

jeruk, jeruk bali, manga,

gelas buah segar dan

melon, peach, nanas kismis,

beku

stroberi, jeruk keprok,

gelas jus buah segar


1 gelas susu susu atau

semnagka, avokad, bit, pir.


Susu skim (bebas lemak),

susu rendah lemak,

yoghurt

buttermilk (rendah lemak),

atau susu bebas lemak

ons keju

keju bebas atau rendah

1 ons daging dimasak,

lemak, yoghurt.
Pilih daging ayam tanpa

lemak, unggas dan

daging ayam atau ikan

lemak, ikan, telur

ikan.

1 butir telur

Sayuran

Buah buahan

Produk olahan susu,

Daging ayam tanpa

6 8 kali perhari

4- 5 kali perhari

4 -5 kali perhari

2 3 kali perhari

6 kali per hari

Hilangkan kulit dari unggad


152

atau masak melalui proses


pemanggangan, pengukusan,
1/3 gelas atau 1 ons

atau perebusan.
Kacang almond, kacang

kacangan dan biji

kacang

hazelnut, kacang tanah, biji

bijian.

2 sdm selai kacang

bungu matahari, selai kacang,

2 sdm atau onsbiji

kacang merah, kacang

bijian

polong, kacang hijau, biji

gelas kacang

bunga matahari

Kacang, kacang

4 -5 per minggu

kacangan dimasak
(kacang hijau dan
Minyak dan lemak

2 3 kali perminggu

kacang polong)
1 sdt margarin

Mirgarin, minyak sayur

1 sdt minyak sayur

(minyak canola, minyak

1 sdm mayones

jagung, minyak zaitun),


mayones rendah lemak, dan

2 sdm dressing salad

153

dressing salad.

6. Berhenti merokok
Hal ini penting dalam manajemen keseluruhan dari pasien dengan
hipertensi dalam mengurangi risiko kardiovaskular. Dengan berhenti
merokok tekanan darah akan turun secara perlahan , disamping itu jika
masih merokok maka obat yang dikonsumsi tidak akan bekerja secar
optimal dan dengan berhenti merokok efektifitas obat akan meningkat
( Santoso, 2001 ).
7. Lainnya
Ini termasuk managemen stres, perubahan mikronutrien dan suplemen
makanan dengan minyak ikan, kalium, kalsium, magnesium dan serat
(Rahman et al., 2008).
Tabel 2.4 Modifikasi gaya hidup untuk mencegah dan managemen hipertensi
(JNC VII, 2003)
Modifikasi

Rekomendasi

Penurunan TD

Penurunan berat badan

Mempertahankan berat badan

Sistolik
5-20 mmHg/10 kg

Diet DASH

normal (BMI 18.5-24.9 kg/m2


Mengkonsumsi banyak buah,

8-14 mmHg

sayur, dan produk rendah


lemak dengan penurunan
Penurunan konsumsi

lemak jenuh dan lemak total


Penurunan konsumsi sodium

sodium/natrium

tidak lebih dari 100 mmol per

2-8 mmHg

hari (2.4 g sodium atau 6 g


Olahraga

sodium chloride)
Aktivitas aerobik biasa seperti

4-9 mmHg

jalan cepat (kurang lebih 30


Alkohol

menit per hari)


Batasi konsumsi tidak lebih
dari 2 minuman (24 oz beer,
10 oz wine, atau 3 oz 80
whiskey) per hari pada lakilaki, dan tidak lebih dari 1
minuman per hari pada wanita
dan seseorang yang
mempunyai berat badan lebih
ringan

B. Manajemen Farmakologi
Menurut Muttaqin (2009), pengobatan farmakologi hipertensi terdiri dari:

1. Diuretik
Hidroklorotiazid adalah diuretik yang paling sering diresepkan untuk
mengobati hipertensi ringan. Dapat diberikan sendiri pada klien dengan
hipertensi ringan atau klien yang baru. Banyak obat antihipertensi dapat
menyebabkan retensi cairan; karena itu, sering kali diuretik diberi bersama
antihipertensi.
2. Simpatolitik (menekan simpatetik)
Penghambat (adrenergik bekerja di sentral simpatolitik), penghambat
adrenergik alfa, dan penghambat adrenergik beta, juga dianggap sebagai
simpatolitik dan menghambat reseptor beta.
3. Vasodilator arteriol yang berkerja langsung
Vasodilator yang bekerja langsung adalah obat tahap III yang bekerja
merelaksasikan otot-otot polos pembuluh darah, terutama arteri, sehingga
menyebabkan vasodilatasi. Dengan terjadinya vasodilatasi, tekanan darah
akan turun dan natrium serta air tertahan sehingga terjadi edema perifer.
4. Antagonis angiotensin (ACE inhibitor)
Angiotensin converting enzyme inhibitor (ACEi) menghambat secara
kompetitif pembentukan angiotensin II dari prekursor angiotensin I yang
inaktif, yang terdapat pada darah, pembuluh darah, ginjal, jantung, kelenjar
adrenal dan otak. Angiotensin II merupakan vasokonstriktor kuat yang
memacu penglepasan aldosteron dan aktivitas simpatis sentral dan perifer.
Penghambatan pembentukan angiotensin II ini akan menurunkan tekanan
darah. Jika sistem angiotensinreninaldosteron teraktivasi (misalnya pada
keadaan penurunan sodium, atau pada terapi diuretik) efek antihipertensi
ACEi akan lebih besar.
5. Penghambat saluran kalsium (blocker calcium antagonis)
Blokir jalur kalsium akan memperlambat gerakan kalsium ke dalam
sel-sel pembuluh darah jantung dan darah, karena kalsium menyebabkan
kontraksi jantung kuat, maka obat ini mudah membuat kontraksi jantung dan
mengendurkan pembuluh darah.

8. Komplikasi Hipertensi
A. CVA (Cerebrovascular Attack)
Stroke dapat timbul akibat perdarahan tekanan tinggi di otak, atau
akibat embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan
tinggi. Stroke dapat terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang
memperdarahi otak mengalami hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah
ke daerah-daerah yang diperdarahinya berkurang. Arteri-arteri otak yang
mengalami

arterosklerosis

dapat

melemah

sehingga

meningkatkan

kemungkinan terbentuknya aneurisma (Corwin, 2000). Gejala terkena stroke

adalah sakit kepala secara tiba-tiba, seperti, orang bingung, limbung atau
bertingkah laku seperti orang mabuk, salah satu bagian tubuh terasa lemah
atau sulit digerakan (misalnya wajah, mulut, atau lengan terasa kaku, tidak
dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara mendadak
(Santoso, 2006).
B. IMA (Infark Miokard Akut)
Infark Miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerosis
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk
trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh darah tersebut.
Karena hipertensi kronik dan hipertensi ventrikel, maka kebutuhan oksigen
miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat terjadi iskemia jantung
yang

menyebabkan

infark.

Demikian

juga

hipertropi

ventrikel

dapat

menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel


sehingga

terjadi

disritmia,

hipoksia

jantung,

dan

peningkatan

resiko

pembentukan bekuan (Corwin, 2000).


C. Gagal Ginjal
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan
tinggi pada kapiler-kepiler ginjal, glomerolus. Dengan rusaknya glomerolus,
darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan
dapat berlanjut menjadi hipoksia dan kematian. Dengan rusaknya membran
glomerolus, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik koloid
plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada hipertensi
kronik (Corwin, 2000).

D. Gagal Jantung
Gagal jantung atau ketidakmampuan jantung dalam memompa darah
yang kembalinya kejantung dengan cepat mengakibatkan cairan terkumpul di
paru,kaki dan jaringan lain sering disebut edma.Cairan didalam paru paru
menyebabkan sesak napas,timbunan cairan ditungkai menyebabkan kaki
bengkak atau sering dikatakan edema (Amir, 2002)
E. Ensefalopati
Ensefalopati dapat terjadi terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan
peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium
diseluruh susunan saraf pusat. Neron-neron disekitarnya kolap dan terjadi
koma serta kematian (Corwin, 2000).

DAFTAR PUSTAKA
Agoes, H. A, 2011. Penyakit Diusia Tua.EGC: Jakarta
Amir. N, 2002. Diagnosis Dan Pelaksanaan Depresi Pasca Stroke. Http:/Www.A:/%20
20 News% 20% Energi% 20 Chi% 20%20 Defenisi% Document?E?. Diakses tanggal 30
Desember 2015. Pukul 17.49.
Ariani, D., 2000. Hubungan AntaraReligiusitas Dengan Tingkat StressPada Penyandang
Cacat Fisik. Skripsi.Program Sarjana Fakultas PsikologiUniversitas Airlangga.
Barnad . C, 2002. Kiat Jantung Sehat. Kaifa.Bandung. 44218.
Dalimartha. S, 2008. Care Your SelfHipertensi. Jakarta : Penebar Plus.
Harianto. I, 2010. Hubungan RiwayatOlahraga (Aktivitas) Dengan KejadianHipertensi Pada
Lanjut Usia Di PantiSosial Lanjut Usia Majapahit Mojokerto.Jombang. BPPM STIKE
SPEMKABJombang.
Indriyani, W. N., 2009. Deteksi DiniKolesterol, Hipertensi Dan Stroke.Millestone. Jakarta
Sheps, S. G., 2005. Mayo Clinic Hipertensi.Jakarta: PT Intisari Mediatama
Suhadak, 2010. Pengaruh Pemberian TehRosella Terhadap Penurunan TekananDarah
Tinggi Pada Lansia Di Desa WinduKecamatan

Karangbinangun

Kabupaten

Lamongan. Lamongan. BPPM StikesMuhammadiyah Lamongan.


Wijayakusuma, H.M., 2000. RamuanTradisional Untuk Pengobatan DarahTinggi. Jakarta:
Swadaya.
Wiryowidagdo. S,

2002.

Obat

TradisionalUntuk

DanKolestrol. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Penyakit

Jantung,

Darah

Tinggi

SOAL PRE DAN POST TEST


MATERI HIPERTENSI
Berikan tanda contreng () pada kolom benar atau salah sesuai dengan ketepatan
pernyataan berikut!
1. Definisi
NO

PERNYATAAN

BENAR

SALA
H

1.

Hipertensi dapat juga disebut sebagai darah rendah

2.

Seseorang dinyatakan mengalami hipertensi atau darah


tinggi jika batas atas (sistole) menunjukkan angka di atas
140 dan batas bawah (diastole) menunjukkan angka di

3.

atas 90
Semakin tua, maka tensinya juga akan makin tinggi

4.

Hipertensi dapat dibagi menjadi 2 yaitu stadium 1, dan

5.

stadium 2
Komplikasi paling sering dari penyakit hipertensi adalah
stroke
2. Penyebab

NO

PERNYATAAN

BENAR

SALA
H

1.

Hipertensi dapat disebabkan karena keturunan

2.

Merokok dapat menurunkan tekanan darah

3.

Kurang olahraga dapat menyebabkan hipertensi

4.

Kopi dapat menurunkan tekanan darah

5.

Banyak pikiran/ stress dapat meningkatkan tekanan darah

3. Penatalaksanaan
NO

PERNYATAAN

BENAR

SALA
H

1.

Pasien hipertensi sebaiknya membatasi penggunaan

2.

garam sebanyak 1 sendok makan sehari


Pasien hipertensi tidak apa-apa untuk makan makanan

3.

berlemak
Pasien hipertensi dapat mengkonsumsi ikan asin atau
ikan pindang setiap hari

4.

Pasien hipertensi sebaiknya melakukan aktivitas fisik

5.

seperti jalan-jalan rutin selama 30 menit setiap hari


Pasien hipertensi seharusnya membatasi penggunaan

6.

penyedap rasa
Makanan tinggi buah, tinggi sayuran dan produk susu
yang rendah lemak merupakan makanan yang dianjurkan

7.

pada penderita hipertensi


Obat Hipertensi hanya diminum saat merasa pusing dan

8.

tengkuk sakit
Mengurangi Konsumsi alcohol dan kopi dapat membantu

9.

menurunkan tekanan darah


Pasien hipertensi sebaiknya rutin melakukan kontrol ke
puskesmas, dokter atau pelayanan kesehatan lainnya

10.

setiap 2 minggu sekali


Pasien hipertensi sebaiknya tetap merokok