Anda di halaman 1dari 6

Lingkungan Kotor Penyebab Muntaber di Bandung

BANDUNG -- Lingkungan kotor serta makanan dan minuman


yang tercemar
merupakan penyebab utama wabah penyakit muntaber di
delapan desa di
Kec. Padalarang, Kab. Bandung, pekan lalu.
Petugas Puskesmas Padalarang, dr Endang menjelaskan,
pihaknya bekerja
sama dengan Dinas Kesehatan Kab. Bandung kini sedang
meneliti contoh
air, makanan, dan minuman yang dikonsumsi masyarakat.
"Sejumlah air
yang biasa dipakai warga setempat untuk mandi, mencuci, dan
minum
serta makanan sedang diteliti di laboratorium," tutur Endang
kemarin.
Jumat lalu, muntaber yang mewabah di delapan desa di Kec.
Padalarang,
telah menewaskan lima warga dan menyebabkan 156 orang
dirawat di
berbagai rumah sakit di Bandung. Mereka yang meninggal
adalah Imam
(9), Ujang Riki (4), Dani (6), Mira Cucu (1,5), dan Ny Ade
Rohayah
(40).
Menurut dr Endang, warga yang terjangkit muntaber sebagian
besar
memang anak-anak, dan ini biasanya terjadi akibat sanitasi yang
kurang
baik. "Anak saya tiba-tiba tak punya gairah makan. Badannya
terlihat
lemas, dan pada Kamis malam, ia muntah-muntah," ujar Ny
Sukarsih, ibu
salah seorang korban.
Staf kepala urusan pemerintahan Padalarang Iim Imanudin
menuturkan,
penyakit muntaber yang mewabah sekitar tiga hari lalu itu
melanda
delapan desa dari sepuluh desa di Kecamatan Padalarang -sekitar 18
kilometer dari pusat kota Bandung. Sejumlah Puskesmas di
delapan desa
itu pada hari Kamis (27) dipadati warga setempat yang terkena
diare
dan muntah-muntah. "Warga yang kelihatan parah dan tidak
bisa
ditanggulangi di Puskesmas, kami bawa ke sejumlah rumah
sakit di
Cimahi dan Bandung," katanya kemarin.
Menurutnya, dari 156 orang yang terjangkit muntaber itu, kini
sebagian
sudah diperbolehkan pulang, sedang yang masih lemas dan
agak parah
masih mendapat perawatan di Puskesmas dan rumah sakit.
Untuk mencegah meluasnya penyakit itu, lanjut Iim, kini
pihaknya
mengadakan penyuluhan kesehatan kepada warga desa
tersebut dan
membagikan oralit. "Dengan penyuluhan diharapkan tidak
terjadi lagi
kasus muntaber," ujarnya sembari menyebut peristiwa kali ini
merupakan
kasus luar biasa (KLB).
Menurut Kabag Humas Pemda Kab. Bandung, muntaber itu

sebenarnya
penyakit yang gampang menular dan gampang
pengobatannya sepanjang
tidak terlambat penanganannya. "Empat anak yang meninggal
itu mungkin
karena terlambat penanganannya," komentar Irwan.
Saat ini 91.638 orang warga Kecamatan Padalarang yang
mendiami lahan
seluas 45 kilometer persegi itu mulai tenang. Dilaporkan,
belum ada
penambahan warga yang terkena penyakit itu. &#127
pry/ant

Bakteri E Colli Sebabkan Kasus Muntaber di Tangerang

Tangerang (ANTARA News) - Uji laboratorium sampel makanan


jajanan terbukti secara positif mengandung bakteri E colli yang
menyebabkan ratusan warga terserang diare (muntaber) yang
melanda di Kabupaten Tangerang, Banten, awal Juli 2007 lalu.
"Hasil pengujian lab dari sampel makanan yang diambil petugas
menunjukkan terdapat kandungan bakteri E-colli yang
menyebab warga jatuh sakit terkena muntaber," kata Kadis
Kesehatan Kabupaten Tangerang Hani Herianto di Tangerang,
Rabu.
Menurut Herianto, selain bakteri E colli, makanan jajanan
tersebut mengandung bakteri vibrio cholera dan bakteri
Salmanella typhy yang menyebabkan sakit typus.
Sebelumnya, petugas Dinkes membawa sampel makanan
jajanan, sirup (limun) dan air dari sumber mata air sumur warga
serta kotoran (feses) warga di tiga kecamatan, yakni
Kecamatan Sepatan Timur, Sepatan dan Pakuhaji.
Pengambilan sampel tersebut, setelah ratusan warga terserang
diare untuk diuji di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan
(Depkes), laboratorium Puspitek Tangerang dan Laboratorium
Kesehatan Kabupaten Serang.
Setelah menunggu lebih dari dua pekan, akhirnya Dinkes
Kabupaten Tangerang mendapatkan kepastian hasil uji lab
tentang penyebab serangan muntaber yang sempat merenggut
beberapa korban jiwa tersebut.
Herianto mengatakan, setelah hasil lab, pihaknya akan
memberikan penyuluhan kepada pedagang jajanan makanan
dan sirup agar tidak menggunakan air mentah saat
memproduksi makanan jajanannya.
Catatan Dinkes Kabupaten Tangerang, hingga status Kejadian
Luar Biasa (KLB) Muntaber dicabut pada Sabtu (21/7), wabah
diare sudah menyerang warga sebanyak 1.040 orang dan tiga
orang dinyatakan meninggal.(*)
COPYRIGHT 2007
Wabah Muntaber Menyerang Solok, Empat Meninggal
Selasa, 16 November 2004 | 23:03 WIB
TEMPO Interaktif, Padang:Empat orang meninggal dan 217
orang lainnya dirawat di rumah sakit di Kota Solok, Sumatera
Barat, akibat terserang penyakit muntaber. Keempat korban
yang meninggal adalah Kamal, 52 tahun, Upik (49), Pegi
Indriani (18), dan Atika (9).
Korban tewas pertama adalah Kamal, warga Kecamatan
Kubung, Kabupaten Solok, yang meninggal 9 November di
Rumah Sakit Tentara Kota Solok. Upik, warga Kelurahan Pasar
Tanah Airmati meninggal 11 November dalam perjalanan ke
Rumah Sakit Umum Solok. Sedangkan Pegi Indriani, warga

Kelurahan Aro Ampalu, dan Atika, warga Kelurahan Pinata Piliang,


kedunya meninggal 13 November, di Rumah Sakit Umum Solok,
dan Rumah Sakit Tentara.

To: milis-nakita List Member


Subject: [milis-nakita] Gejala muntaber {02}

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok Azwar Hijar, Selasa (16/11)


menjelaskan, keempat korban meninggal karena terlalu lama
dibawa ke rumah sakit dan mendapat pertolongan sehingga
kekurangan cairan dan tidak tertolong lagi.

Dear Pak Agus dan nakita-ers,

Sementara itu, 217 penderita muntaber lain masuk Rumah Sakit


Umum Kota Solok dan Rumah Sakit Tentara Solok sejak 9
November. Namun sebagian besar sudah sembuh dan kembali
pulang. Hingga Selasa (16/11), pasien muntaber yang dirawat di
dua rumah sakit
tersebut tinggal 30 orang. "Itu korban yang masuk Minggu
(14/11)," kata Azwar.
Ia menduga, penyebab wabah muntaber berasal dari minuman es
rumput laut yang diduga mengandung bakteri yang dikonsumsi
para korban di Pasar Bareh Solok. Beberapa korban mengaku
sakit perut, mual, kemudian muntah dan mencret, setelah
mengkonsumsi es rumput laut yang dibeli di Pasar Bareh Solok,
Kota Solok. Ia mengaku belum dapat memastikan jenis bakterinya.
Kami sudah mengumpulkan sampel muntahan dan kotoran
korban, dan sudah mengirim ke Balai Laboratorium Kesehatan
Sumatera Barat di Padang, seminggu lagi baru keluar hasilnya."
Namun, para korban muntaber tak hanya karena mengkonsumsi
minuman es rumput. Bahkan, sebagian besar tertular setelah
membawa atau menjenguk kerabat mereka yang diserang
muntaber ke rumah sakit. Mereka diduga tertular oleh bakteri dari
pasien muntaber di rumah sakit.
Untuk mengatasi wabah muntaber tersebut, Dinas Kesehatan Kota
Solok mendirikan Posko Penanggulangan Muntaber yang siaga 24
jam. Pos berfungsi sebagai pusat data, informasi, penyuluhan, dan
distribusi obat-obatan. Hingga Senin (15/11) Dinas Kesehatan
Kota Solok sudah mendistribusikan 800 botol cairan infus dan
7.000 kapsul anti muntaber, tetracycline, bantuan Dinas
Kesehatan Sumatera Barat untuk kedua rumah
sakit tersebut.

Semoga membantu
Salam,
Uttiek
HUJAN DATANG MUNTABER MENYERANG
M usim hujan, musim muntaber. Waspada jelas perlu, tapi
sebetulnya penyakit
menular ini mudah saja dicegah dan ditanggulangi.
Muntaber (muntah berak) sebenarnya merupakan bagian dari
diare. Penderita
diare ada yang mengalami gejala buang air besar saja, tetapi
ada juga yang
disertai muntah. Pada kasus penderita diare yang mengalami
muntah-muntah,
orang awam mengartikannya sebagai muntaber.
Jika ditilik definisinya, diare adalah gejala buang air besar
dengan
konsistensi feses (tinja) lembek, atau cair, bahkan dapat berupa
air saja.
Frekuensinya bisa terjadi lebih dari dua kali sehari dan
berlangsung dalam
jangka waktu lama tapi kurang dari 14 hari. Seperti diketahui,
pada kondisi
normal, orang biasanya buang besar sekali atau dua kali dalam
sehari dengan
konsistensi feses padat atau keras.
PENYEBABNYA MACAM-MACAM
Menurut Dr. Haikin Rachmat, MSc., penyebab diare dapat
diklasifikasikan
menjadi enam golongan:
1. Infeksi yang disebabkan bakteri, virus atau parasit.

Dinas Kesehatan juga menyebarkan informasi perlunya


mengkonsumsi minuman dan makanan yang bersih melalui
pamflet dan iklan layanan lewat siaran radio swasta di kota itu.
(Febrianti)

2. Adanya gangguan penyerapan makanan atau disebut


malabsorbsi.

Selamat pagi mbak uttiek & nakita-ers,

4. Keracunan bahan kimia atau racun yang terkandung dalam


makanan.

Tentang masalah anaku Faiz kemaren yang diduga DSA terkena


gejala Muntaber,
dokter memberikan obat Croracef 500mg, aspilet (keduanya dalam
bentuk
racikan). dan untuk obat diarenya syrup gabriel (diminum apabila
diare).
kemaren sore saya perhatikan anakku lebih sering muntah
(setelah minum susu
atau air putih) dan buang airnya (mencret) hanya dua kali (jam 7
malam dan
jam 4 pagi).
- apa fungsi obat racikannya?
- Mungkinkah anakku tidak cocok dengan susu formulanya?
(karena sabtu kemaren
saya ganti susu formulanya dengan rasa yang lain tapi masih satu
merek.
Mohon penjelasanya dan sharingnya, terimakasih.
Agus S
-----Original Message----From: uttiek [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, December 12, 2005 1:58 PM

3. Alergi.

5. Imunodefisiensi yaitu kekebalan tubuh yang menurun.


6. Sebab-sebab lain.
"Yang sering ditemukan di lapangan adalah diare yang
disebabkan infeksi dan
keracunan. Setelah melalui pemeriksaan laboratorium, sumber
penularannya
berasal dari makanan atau minuman yang tercemar virus," ujar
direktur
Pemberantasan Penyakit Menular Langsung (PPML), Ditjen
Pemberantasan
Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2MPL)
Depkes.
Konkretnya, kasus diare berkaitan dengan masalah lingkungan
dan perilaku.
Perubahan dari musim kemarau ke musim penghujan yang
menimbulkan banjir,
kurangnya sarana air bersih, dan kondisi lingkungan yang
kurang bersih
menyebabkan meningkatnya kasus diare. Fakta yang ada
menunjukkan sebagian
besar pasien ternyata tinggal di kawasan kurang bersih dan
tidak sehat.

Saat persediaan air bersih sangat terbatas, orang lantas


menggunakan air
sungai yang jelas-jelas kotor oleh limbah. Bahkan menjadi tempat
buang air
besar. Jelas airnya tak bisa digunakan. "Tapi itulah yang terjadi. Air
sungai yang kotor dan tercemar malah digunakan untuk keperluan
sehari-hari."
Jangan heran kalau kemudian penderita diare sangat banyak
karena menggunakan
air yang sudah tercemar oleh kuman maupun zat kimia yang
meracuni tubuh.
"Penularan penyakit diare misalnya karena orang buang air besar
di kali,
lalu air tersebut digunakan untuk kumur-kumur, minum dan
sebagainya."
Masalah perilaku juga bisa menyebabkan seseorang mengalami
diare. Misalnya,
mengonsumsi makanan atau minuman yang tidak bersih, sudah
tercemar, dan
mengandung bibit penyakit. Jika daya tahan tubuh ternyata lemah,
alhasil
terjadilah diare.
PERTOLONGAN PERTAMA
Up aya pertolongan pertama b agi penderita diare adalah dengan
memberikan
minum lebih banyak atau juga memberikan oralit, air tajin, air sup,
atau
kuah sayur. Berikan juga makanan dengan gizi yang cukup agar
stamina tubuh
berangsur kuat. "Sebenarnya penderita diare dalam 6-8 jam saja
bisa pulih
atau sembuh jika segera ditangani. Memberikan secara segera
cairan atau
minum yang banyak serta memberikan oralit sudah cukup
memulihkan kondisi
pasien."
Perhatikan jika gejala diare tampak parah; wajah penderita tampak
cekung,
kulit keriput, muncul kejang, dan kesadaran menurun. "Kalau
sudah begitu
harus segera dibawa ke tempat pelayanan terdekat, baik itu
puskesmas maupun
rumah sakit."
Penderita yang sudah dikategorikan mengalami diare berat
tentunya harus
menjalani perawatan intensif, seperti diinfus untuk mengatasi
dehidrasinya
dan menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Diare juga sebenarnya gejala yang muncul karena adanya
penyakit lain.
Misalnya, seseorang yang mengalami penyakit pneumonia dan
gangguan selaput
otak juga bisa mengalami gejala diare. "Jadi harus pula
diwaspadai
kemungkinan penyakit lain yang tak semata-mata murni karena
diare."
AKIBAT DIARE
Dirae yanng berlangsung terus selama berhari-hari dapat
membuat tubuh
penderita mengalami kekurangan cairan alias dehidrasi. Jika
dehidrasi yang
dialami tergolong berat, misalnya karena diarenya disertai muntahmuntah,
risiko kematian dapat mengancam. "Orang bisa meninggal dalam
beberapa jam
setelah diare dan muntah yang terus-menerus. Dehidrasi akut
terjadi akibat
penderita diare terlambat ditangani."
SEKEJAP BISA MENJADI WABAH
Pemerintah menetapkan status wabah diare yang melanda
Kabupaten Solok,
Sumatera Barat, sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena
jumlah penderitanya

melonjak tinggi. Dalam waktu hanya sekitar tiga minggu, di


Solok terjadi
peningkatan jumlah kasus diare yang cukup tajam. Pada 8
November lalu jumlah
penderitanya baru 4 orang. Namun hingga 29 November
melonjak mencapai 296
kasus. Lima di antaranya meninggal dunia. Nah, di beberapa
wilayah yang
disebut tadi, penderita memang mengalami gejala-gejala diare;
buang air
besar secara terus-menerus, mulas-mulas bahkan ada yang
disertai dengan
muntah. Ironisnya, penderita banyak yang berasal dari kalangan
anak-anak.
Menurut Haikin, berdasarkan hasil investigasi Depkes, wabah
diare di Solok
masuk kategori KLB karena menyerang penduduk dalam kurun
waktu yang relatif
pendek tetapi jumlah penderitanya meningkat tajam yang
disebabkan oleh
sumber penularan tertentu. "Sekarang jumlah kasusnya sudah
menurun. Bahkan
hari ini (1 Desember, Red.) sudah tak ditemukan lagi kasus
baru," papar
Haikin.
Selain di Solok, beberapa wilayah lain di Indonesia juga
mengalami wabah
serupa. Sebut saja Jawa Timur, Sulawesi Utara, dan Sulawesi
Selatan. "Di
wilayah tersebut memang terjadi peningkatan jumlah penderita,
tapi tidak
sampai digolongkan KLB karena jumlah kasus masih dalam
tingkatan biasa.
Artinya, dilihat dari grafik masih dalam batas-batas normal."
MENCEGAH DIARE (MUNTABER)
Sediakan sarana sanitasi dasar yang sehat di lingkungan
tempat tinggal,
seperti air bersih dan jamban/WC yang representatif.
Pembuatan jamban harus
disesuaikan dengan persyaratan sanitasi. Misalnya, jarak antara
jamban kita
(juga jamban tetangga) dengan sumur atau sumber air paling
sedikit berjarak
10 meter agar air tidak terkontaminasi. Dengan begitu, kita bisa
menggunakan
air bersih untuk keperluan sehari-hari, entah untuk memasak,
mandi, dan
sebagainya.
Hilman Hilmansyah. Ilustrator: Pugoeh
----- Original Message ----From: "Agus Syarif" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "milis-nakita List Member" <milis-nakita@news.gramediamajalah.com>
Sent: Monday, December 12, 2005 1:16 PM
Subject: [milis-nakita] Gejala muntaber {01}
> Selamat siang Mbak uttiek & nakiter's
>
> Anak saya, Faiz (14 Bln) kemarin sore tiba-tiba muntah
beberapa jam
sekali.
> makan siangnya memang susah pd hari itu. malamnya pun
tidurnya gelisah,
> nangis terus dan
> juga muntah beberapa kali. pagi harinya buang air besar
encer. siang ini
> istri saya ke DSA
> katanya kena gejala muntaber. mungkin karena ketularan
temannya. memang
> tetangga kita
> kemaren ada yg muntaber. pertanyaan saya:
> 1. Apa saja gejala2 muntaber.
> 2. Bagaimana cara penularannya.

> 3. Bagaimana pengobatannya.


Muntaber di Tangerang Dinyatakan KLB

Kepala Desa Kampung Kelor, Madrudin, menyebutkan, dia


cukup kesulitan memantau warganya yang terserang muntaber
karena ada yang tidak melapor. "Kami sudah minta setiap
kepala dusun untuk melaporkan setiap kematian yang dicurigai
sebagai korban muntaber," ujar Madrudin. Perintah itu baru
disampaikan Selasa setelah diketahui korban terus berjatuhan
dan mendapat perhatian banyak pihak.
Madrudin menyebutkan, warga kampung Kelor berjumlah 1.800
orang.
Diakuinya kondisi tempat tinggal korban umumnya tidak
memiliki sanitasi baik karena mereka sebagian adalah warga
miskin yang mengandalkan penghidupannya sebagai petani
dan buruh.

Pembaruan/Alex Suban
PENDERITA MUNTABER - Sekitar 24 anak yang menderita
penyakit muntaber dirawat di Puskesmas Kecamatan Sepatan,
Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (22/6). Hingga saat ini,
penyakit tersebut telah merenggut sedikitnya 17 nyawa di tiga
kecamatan, yakni Kecamatan Sepatan, Kecamatan Pakuhaji dan
Kecamatan Sukadiri.
TANGERANG - Jumlah penderita muntah berak (muntaber) di
Kabupaten Tangerang, Banten, bertambah. Hingga Rabu (22/6)
tenaga kesehatan di Puskesmas Sepatan, Pakuhaji, dan Kedaung
Barat, Tangerang, masih sibuk menerima pasien baru.
Berdasarkan data dari Depkes, kasus muntaber di Tangerang 362.
Serangan muntaber ini sudah dinyatakan sebagai kejadian luar
biasa (KLB). Menko Kesra Alwi Shihab Rabu pagi mengunjungi
penderita muntaber di Puskesmas Sepatan dan Pakuhaji. Alwi
meminta pemda setempat mengantisipasi penyakit ini, sehingga
jumlah korban bisa ditekan.
Alwi Shihab berkali-kali meminta wabah muntaber ini dijadikan
pelajaran dan pemda introspeksi untuk lebih meningkatkan
pelayanan terutama mencegah muntaber. Ia juga meminta aparat
setempat lebih waspada serta memperbanyak penyuluhan akan
arti pentingnya kebersihan.
Jumlah korban meninggal akibat muntaber di Kecamatan Sepatan
tercatat 17 orang. Sedang menurut sumber lain jumlah yang
meninggal 20 orang, umumnya anak-anak berusia di bawah lima
tahun (balita).
Lamban
Beberapa warga yang dihubungi berpendapat Pemerintah
Kabupaten Tangerang dinilai lamban dalam menangani muntaber
yang menyerang sejumlah kecamatan ini. Penyakit ini sudah
menyerang sejak 8 Juni lalu, namun hingga kini data yang
diperoleh masih simpang-siur. Dinkes setempat hanya
menyebutkan jumlah korban meninggal 13 orang, tetapi temuan di
lapangan menunjukkan angkanya lebih besar.
Wartawan Pembaruan yang menyusuri sejumlah desa di
Kecamatan Sepatan menemukan nama-nama korban meninggal
yang tidak tercantum dalam data yang dikeluarkan Dinkes
setempat seperti Musfi (4), warga Rawa Gempol, Desa
Gempolsari, Hayadi dan Arif, keduanya warga Kramat Pakuhaji.
Nama Musfi diberikan neneknya di kampung Kelor. Dia
menyebutkan cucunya itu meninggal hari Senin tanpa sempat
dibawa ke rumah sakit karena kedua orangtuanya tengah bekerja.
Cucunya meninggal hanya beberapa jam setelah terserang
muntaber.
Masih terdapat sejumlah korban yang belum diketahui namanya,
namun dipastikan alamatnya juga tidak tercantum seperti dari
Kampung Buaran Jatimulya.

Menurut dia, saat ini warganya sangat membutuhkan air bersih


karena sumur mereka telah tercemar dan sedang dalam proses
kaporitisasi oleh Dinas Kesehatan setempat. Selain air bersih
warga juga membutuhkan obat-obatan.
Camat Sepatan Eddy Sumarna mengatakan, dia tidak
mengetahui jika daerahnya terserang wabah muntaber. "Saya
kurang paham masalah kesehatan dan saya pikir masih bisa
ditanggulangi," ujarnya.
Dia juga mengaku belum mengetahui apakah jumlah korban
meninggal yang cukup banyak di daerahnya dapat disebut
sebagai kejadian luar biasa. "Yang berobat ke Sepatan itu
bukan hanya warga sini, tapi dari kecamatan lain," katanya.
Kesan tidak mengetahui persis keadaan daerahnya sangat
disesalkan oleh kalangan DPRD Kabupaten Tangerang. Mereka
meminta agar pemerintah setempat tanggap dan segera
menangani kasus muntaber ini.
'' Masa sudah 12 hari baru diketahui," ujar Ahmad Zaini, Ketua
Fraksi Partai Golkar, kepada wartawan, Selasa, saat
mengunjungi Puskesmas Sepatan.
Menurut Zaini, dia merasa kecolongan dengan musibah yang
kini menimpa ratusan warga yang merupakan daerah
pemilihannya itu.
"Semestinya Dinkes proaktif, sehingga penanganan dan
pencegahan bisa dilakukan lebih dini sebelum jatuh banyak
korban," katanya.
Wakil Ketua Komisi A Ozi Saeroji mengatakan akan meminta
kepada pemerintah daerah untuk mengeluarkan dana
tambahan atau dana taktis bagi korban muntaber. "Semua
korban harus mendapat pengobatan gratis baik di Puskesmas
maupun rumah sakit," kata Ozi.
Pemerintah Kabupaten Tangerang sendiri sudah menyatakan
wabah muntaber di tiga kecamatan, Sepatan, Pakuhaji, dan
Sukadiri, sebagai kejadian luar biasa. "Ini kejadian luar biasa
karena hanya dalam waktu singkat menelan banyak korban dan
terjadi di banyak desa," ujar Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Tangerang Dr Bachtiar Oesman, Selasa.
362 Kasus
Jumlah kumulatif kasus muntaber di Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten, sejak 8 Juni lalu sebanyak 362. Penyebab
muntaber belum bisa dipastikan karena masih diperiksa.
Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan Departemen Kesehatan dr I Nyoman Kandun MPH
mengatakan di Jakarta, Rabu, penyebab muntaber itu akan
diketahui dua hari lagi. Sejak Selasa tenaga kesehatan dari
Balai Teknis Kesehatan Lingkungan (BTKL) sudah mengambil

spesimen. Rabu pagi tenaga kesehatan dari Rumah Sakit


Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso juga turun ke lokasi untuk
mengambil spesimen dari penderita baru.

Waspadai dan Cegah Muntaber


Muntaber mengganas di Karawang, Kec. Telukjambe, Desa

Dikatakan, berdasarkan gejala klinis di antaranya penderita yang


tidak demam dan diare terus-menerus maka kasus diare di
Kabupaten Tangerang merupakan wabah muntaber.

menderita dan telah merenggut nyawa anak-anak. Di daerah

Menurut Nyoman, kematian karena muntaber disebabkan


penanganannya terlambat sehingga terjadi kekurangan cairan
(dehidrasi). Bila ditangani dengan baik di lapangan angka
kematian karena muntaber kurang dari satu persen. Kecuali bila
penderita muntaber juga mengalami komplikasi. Dikatakan,
keterlambatan penanganan bisa berawal dari pihak keluarga yang
tidak segera membawa penderita ke Puskesmas. Sekarang di
lokasi kejadian dibuka posko.

koran PR (16/8). Selama kemarau ini sangat boleh jadi terjadi

Karangligar, Dusun Pangasinan. Sudah 84 orang yang


lain, yaitu di Sukabumi Kec. Cisolok, muntaber menyerang 28
orang, dari anak-anak hingga orang dewasa. Demikian tulis
juga hal serupa di daerah-daerah lain yang krisis air minum.
Setiap hari di berbagai media massa selalu saja ada berita
kekeringan yang umumnya terjadi di Pantura Jawa Barat dan
Jawa Tengah Utara ke Selatan.
Wabah yang disebabkan oleh mikroba seperti bakteri E. coli itu

"Belum bisa dipastikan apakah penyebab muntaber itu bakteri


kolera. Masih harus menunggu hasil laboratorium," katanya.

terjadi lantaran buruknya sanitasi dan masyarakat terbiasa

Lebih jauh dikatakan, bila kasus muntaber tersebut adalah kolera


maka hal itu harus dilaporkan ke Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO). Penyakit ini berdampak besar bagi dunia pariwisata. Turis
tidak akan datang ke daerah yang terkena wabah kolera. Kolera
merupakan penyakit lama yang tidak bisa dieradikasi. Namun,
kasus penyakit ini bisa ditekan sehingga tidak menjadi wabah.

selokan. Seperti biasa, kemarau adalah saat-saat sulit air,

Dikatakan, selama warga buang air besar tidak di jamban dan di


sembarang tempat maka kasus kolera akan muncul. Pasalnya,
bakteri penyebab penyakit ini, Vibrio cholera, ada pada feses
sehingga ketika seseorang buang air besar, tapi tidak mencuci
tangan dengan sabun maka bakteri tersebut mencemari makanan.
Penularan kolera bisa juga melalui air dan tanah. Bakteri ini juga
bisa disebarkan lalat.

berbau busuk sehingga tak layak lagi dijadikan air pencuci

Masa inkubasi penyakit ini dalam hitungan jam sampai lima hari.
Biasanya dua sampai tiga hari. Pada kasus kolera yang tidak
diobati kematian bisa terjadi dalam beberapa jam dan tingkat
kematian bisa mencapai 50 persen. (132/N-4)

rute amul (anus-mulut), yakni dari tinja penderita lalu lewat

membuang tinjanya di tanah terbuka, di air sungai, kolam, atau


khususnya air untuk minum dan memasak. Debit air sumur
menurun bahkan sampai kering, mata air berkurang sehingga
tak mampu lagi memenuhi seluruh penduduk setempat. Pada
saat yang sama air sungai pun surut dan bahkan menghitam
pring, sendok, dll apalagi digunakan sebagai sumber air minum.

Sebagai penyakit perut (gastro enteritis), muntaber selalu


ditransmisikan lewat feses (tinja) dan rute penularannya disebut
makanan dan minuman (air minum) atau air untuk menyikat
gigi, masuk ke mulut lalu ke perut. Selain itu, penularannya bisa
juga melalui jari tangan penderita lalu langsung ke orang sehat.

Petugas Puskesmas Neglasari melakukan penyuluhan Muntaber


kepada warga di perbatasan kota yaitu pada warga di lingkungan
RT 05/06 Mekarsari yang berbatasan dengan desa di Kabupaten
Tangerang. Penyuluhan yang dipusatkan di rumah pesta itu
mendapatkan antusias warga mengikuti. Mereka pun banyak
bertanya seputar pencegahan Muntaber dan juga penyakit lainnya.
Muntaber penyebabnya karena kebersihan pribadi kurang
terjaga, kata dr. Yusuf dari Puskesmas Neglasari yang
didampingi Siti Khodijah. Lalu dia mencontohkan, semisal warga
menyepelekan cuci tangan ketika hendak makan, makan-makanan
sembarangan serta buang hajat sembarangan. Sementara
penularannya bias melalui binatang lalat dan air. Prosesnya
binatang lalat membawa kuman si penyebab Muntaber, sementara
air tercemar bakteri menyebarkan melalui limpahan air hujan atau
banjir yang biasanya masuk sumur atau ke sumber-sumber air
lainnya.
Pencegahannya, kata Yusuf, lakukanlah hidup bersih. Dimulai dari
mencuci tangan setiap akan makan, memakan makanan yang
bersih dan tidak buang hajat sembarangan. Petugas, selain
memberikan pemahaman Hidup Bersih dan Sehat (HBS), juga
memberi obat oralit dan memberitahu cara pembuatannya yang
untuk diminum.
Diinformasikan KLB Muntaber yang terjadi di Kabupaten
Tangerang belum lama ini membuat Pemerintah Kota Tangerang
melalui Dinas Kesehatan dan jajarannya melakukan pencegahan.
Salah satunya pencegahan berupa penyuluhan Muntaber
dilakukan wilayah kerja Puskesmas Neglasari yang berbatasan
langsung dengan desa-desa di Kabupaten Tangerang.

Penularan seperti ini biasanya lewat makanan-minuman yang


sanitasinya buruk atau bahkan sama sekali tidak mengindahkan
sanitasi akibat kurang ilmu dan ingin untung besar dalam
berdagang. Tak jarang air yang digunakan tidak memenuhi
syarat baku mutu air minum dan tanpa dimasak terlebih dulu.
Lantaran kondisi sosial ekonomi masyarakat banyak yang
demikian, maka ini menjadi tugas besar Dinas Kesehatan untuk
mengintensifkan program sanitasi dan memonitoring proses
pembuatan makanan-minuman. Jika tidak bisa karena kesulitan
dana atau kekurangan tenaga sanitarian, bisa saja dilakukan
pengawasan di sekolah-sekolah, terutama di SD. Memang tidak
boleh mengambil generalisasi di sini, tetapi ada banyak kasus
bahwa pedagang makanan minuman kurang peduli pada aspek
sanitasi. Tak sedikit yang menggelar dagangannya terbuka
begitu saja sehingga dikerubuti lalat dan debu. Mangkok dan
gelas pun dicuci hanya dengan air seember kecil dan tak
diganti-ganti selama sehari penuh lantaran sulit air bersih.
Upaya preventif
Selain upaya kuratif yang menjadi tugas Puskemas dan rumah
sakit, tindakan preventif hendaklah mulai ditempuh. Malah
seharusnya sudah berjalan secara rutin karena penyakit ini
selalu saja melonjak kejadiannya pada musim kemarau.

Berbagai penyuluhan lewat Puskesmas bisa dilakukan secara


terjadwal atau lakukan saja jemput bola, yaitu tenaga sanitarian
datang ke rumah penduduk dan memberikan penyuluhan kepada,
misalnya, lima kepala keluarga yang berdekatan. Jika ini
dilaksanakan, dan biasanya cara ini tepat diterapkan di desa-desa,
bukan di kota, maka insidensi muntaber dan penyakit menular
lewat air lainnya bisa dicegah atau minimal dikurangi.
Untuk mengurangi insidensinya itu, masyarakat harus dipahamkan
dulu cara mengolah air secara sederhana agar mati bakteri
patogennya. Penyuluhan ini mesti rutin dilaksanakan, seminim
apapun anggarannya. Sebab, masalah penyehatan lingkungan
dan sanitasi dasar ini sangat menentukan kondisi kesehatan
masyarakat pada masa depan. Bagaimana mungkin mencapai
Jawa Barat Sehat jika terus saja terjadi muntaber, tifus, apalagi
kolera, penyakit yang sangat berbahaya karena penderitanya bisa
dehidrasi hanya dalam tempo sejam dua jam, lalu segera
meninggal. Apalagi tolokukur mutu kesehatan suatu negara adalah
pada aspek sanitasi dasarnya, yaitu pada penyakit menular, dan
bukan pada penyakit degeneratif yang banyak diderita orang kota.
Jika pemerintah daerah setempat, dalam hal ini Dinas Kesehatan
tak jua mau bergerak karena kehabisan tenaga dan dana, cara
sederhana bisa ditempuh seperti membuat poster yang
komunikatif, bukan yang banyak berisi istilah asing, penjelasannya
tidak menarik dan bertele-tele. Pada dasarnya masyarakat desa di
Indonesia, terutama yang di Pulau Jawa, akan dengan mudah
diajak dan dipengaruhi untuk turut serta dalam pelatihan hidup
saniter jika dipahamkan bahwa kegiatan itu untuk kepentingan
dirinya dan tanpa dipungut bayaran, sekecil apapun itu. Karakter
sosiologi paternalistik ini terbukti membantu dalam penyebaran
dan perluasan pendidikan masyarakat desa dan warga pedalaman
dengan melibatkan pengaruh wibawa tetua adat dan tetua
desanya.
Sebagai upaya preventif karena kasusnya telah meluas, upaya
pembasmian bakteri bisa dilaksanakan dengan cara sederhana
dan murah, yaitu membubuhkan kaporit dalam air baku untuk
keperluan mencuci sayur, beras, piring, sendok, dan air untuk
berkumur-kumur sikat gigi. Cara tertua, yaitu pendidihan air
selama sepuluh menit sudah pula dipahami masyarakat. Hanya
saja, agar lebih efektif, selain dididihkan air baku itu pun diolah
dengan cara sederhana menggunakan filter pasir dan biji kelor.
Sebelum dialirkan ke filter, air sungai atau air kolam itu diberi
tawas dulu lantas airnya dialirkan ke filter dan hasilnya ditampung
di ember atau gentong bersih. Air di gentong ini lalu diberi kaporit
dan diaduk-aduk. Sejam kemudian air tersebut sudah bisa
digunakan untuk mencuci sayur, nasi, dll. Tanpa dididihkan pun air
tersebut sudah layak diminum karena kaporitnya mampu
membunuh bakteri. Namun demikian, demi upaya preventif, air itu
sebaiknya dididihkan lagi selama sepuluh menit.