Anda di halaman 1dari 20

Tugas

Mata Kuliah : Keperawatan Anastesi


Dosen
: Muhammad Yassir, S.Kep, Ns., M.Kes.

ANASTESI KASUS BEDAH RAWAT JALAN

Disusun Oleh :
Sri Hasnita Nur
NH.01.10.411
A5

STIKES NANI HASANUDDIN


MAKASSAR
2013
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmatNya maka kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudu Anastesi Kasus
Bedah Rawat Jalan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Anastesi.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun.
Semoga makalah ini memberikan informasi yang dibutuhkan dan
bermanfaat untuk pembangunan ilmu pengetahuan kita.

Makassar, Mei 2013


Sri Hasnita Nur

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................i
KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
DAFTAR ISI.................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................1
A.
B.
C.
D.

Latar Belakang...............................................................................1
Rumusan Masalah..........................................................................1
Tujuan Umum dan Khusus.............................................................2
Manfaat Penulisan..........................................................................2

BAB II KONSEP MEDIS...............................................................................3


A. Pengertian.......................................................................................3
B. Keuntungan Operasi Rawat Jalan..................................................3
..........................................................................................................
C. Beberapa Tindakan Rawat Jalan....................................................3
D. Hasil yang Diharapkan pada Penatalaksanaan Anestesi (ValueBased Anesthesia Care)..................................................................3
E. Pemilihan Pasien............................................................................4
F. Evaluasi Prabedah..........................................................................4
G. Persiapan Pasien.............................................................................5
H. Persiapan pada Hari Operasi..........................................................6
..........................................................................................................
I. Pemeriksaan Laboratorium sebagai Skrining.................................8
..........................................................................................................
J. Pemilihan Teknik Anestesi.............................................................9
K. Konsep Fast-Track Anesthesia.....................................................10
L. Pemulihan (Recovery)..................................................................10
M. Pemulangan (Discharge)..............................................................11
N. Penundaan Pemulangan................................................................12
BAB III KONSEP KEPERAWATAN...........................................................13
Proses Keperawatan di Ruang Perawatan Pacaoperasi.............13
A.
B.
C.
D.
E.

Pengkajian....................................................................................13
Diagnosa Keperawatan.................................................................13
Perencanaan..................................................................................14
Implementasi................................................................................14
Evaluasi........................................................................................16

BAB IV KESIMPULAN..............................................................................18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................v

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teknik bedah rawat jalan dilakukan secara terpisah pertama kali tahun
1970 di Amerika Serikat. Dengan berkembangnya bidang anestesi dan
pembedahan maka bedah rawat jalan juga mengalami kemajuan yang pesat,
termasuk bedah rawat jalan pasien dewasa. Jumlah operasi yang dilakukan
dengan teknik bedah rawat jalan juga terus meningkat. Pada tahun 1994,
sekitar 66% operasi elektif di Amerika Serikat dilakukan dengan bedah rawat
jalan. Saat ini, Sekitar 70% pembedahan di Amerika Serikat telah dilakukan
dengan bedah rawat jalan.
Tujuan utama bedah rawat jalan adalah terlaksananya prosedur
pembedahan yang lebih efektif dan lebih ekonomis sehingga memberi
keuntungan terhadap pasien, rumah sakit serta pihak yang membayar (third
party payrs). Faktor utama pemilihan teknik bedah rawat jalan adalah
penekanan biaya tetapi tetap mempertahankan kualitas pengobatan, sehingga
morbiditas akibat prosedur pembedahan ataupun karena penyakit sebelumnya
tidak lebih besar dibandingkan dengan pasien rawat inap.
Keuntungan bagi pasien dengan teknik bedah rawat jalan ini adalah
mengurangi biaya, mengurangi waktu rawat sehingga waktu berpisah dengan
keluarga dan lingkungan menjadi lebih singkat, mengurangi waktu tunggu
untuk pembedahan, mengurangi resiko infeksi nosokomial rumah sakit, tidak
bergantung pada jumlah tempat tidur yang tersedia di rumah sakit sehingga
pasien lebih fleksibel dalam memilih jadwal operasi. Dibandingkan dengan
pasien rawat inap, pemeriksaan laboratorium berkurang serta mengurangi
kebutuhan obat pascabedah.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu:
1. Bagaimana konsep medis dari anastesi kasus bedah rawat jalan?
2. Bagaimana konsep keperawatan dari anastesi kasus bedah rawat jalan?
C. Tujuan Umum dan Khusus
1. Tujuan Umum

a. Untuk mengetahui konsep medis dari anastesi kasus bedah rawat jalan.
b. Untuk mengetahui konsep keperawatan dari anastesi kasus bedah
rawat jalan.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengertian anastesi rawat jalan, keuntungan operasi
rawat jalan, beberapa tindakan rawat jalan, hasil yang diharapkan pada
penatalaksanaan anastesi, pemilihan pasien, evaluasi prabedah,
persiapan

pasien,

persiapan

pada

hari

operasi,

pemeriksaan

laboratorium sebagai skrining, pemilihan teknik anestesi, konsep fasttrack anesthesia, pemulihan, pemulangan, dan penundaan pemulangan.
b. Untuk mengetahui konsep keperawatan anastesi kasus bedah rawat
jalan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi.
D. Manfaat Penulisan
Manfaat dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Melengkapi tugas disemester 6 dengan mata kuliah Keperawatan
Anastesi.
2. Memberikan informasi mengenai konsep medis dan konsep keperawatan
dari anastesi kasus bedah rawat jalan.

BAB II
KONSEP MEDIS
A. Pengertian
Suatu tindakan anestesi yang dilakukan pada pasien-pasien yang menjalani prosedur
tertentu (pembedahan, diagnostik radiologi), dimana pasien dimasukkan dan dipulangkan
dari Rumah Sakit pada hari yang sama.
B. Keuntungan Operasi Rawat Jalan
1. Mengurangi stress bagi pasien (khususnya anak2) dan keluarga.
2. Mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan.
3. Mengurangi infeksi nasokomial.
4. Bagi rumah sakit memperpendek daftar tunggu operasi dan pemakaian
tempat tidur efektif dan efisien.
C. Beberapa Tindakan Rawat Jalan
Pediatri : circumcisi, irigasi ductus lacrimalis, polip rekti, kista dermoid
Ginekologi : dilatasi dan kuretase, abortus, kauter cervix, kista bartolini
Ortopedi : reposisi, eksisi gangglion, trigger finger, dekompresi carpal tunnel,angkat

pen/plat
Bedah umum : eksisi lipoma /naevus, fibroadenoma mammae, eksisi tumor kelenjar
keringat.

D. Hasil yang Diharapkan pada Penatalaksanaan Anestesi (Value-Based


Anesthesia Care)
Meningkatnya keinginan untuk mewujudkan peningkatan outcome pasien,
efektifitas biaya, dan pembatasan sumberdaya memaksa ahli anestesi untuk
terus melakukan penilaian dan evaluasi terhadap cost-to-benefit ratio pada
setiap proses dalam tindakan anestesi. Menurut Orkin, para konsumen layanan
kesehatan mencari pelayanan yang berdasarkan nilai, dimana outcome pasien
yang terbaik dapat dicapai dengan biaya yang rasional. Evaluasi yang objektif
pada setiap proses dalam anestesi (evaluasi prabedah, skrining laboratorium,
pemilihan teknik dan agen anestesi, efek pada outcome pasien, efek pada
perawatan pascabedah, dan pengaruh secara keseluruhan terhadap pelayanan
kesehatan) harus selalu dilakukan secara terintegrasi bila penyedia jasa
kesehatan tetap ingin mempertahankan nilai ekonomis dalam pelayanannya.

E. Pemilihan Pasien
Keputusan untuk menentukan apakah pasien layak untuk menjalani bedah
rawat jalan harus berdasarkan penilaian individual masing-masing pasien,
yang ditentukan oleh kombinasi dari beberapa faktor termasuk patient
consideration, prosedur pembedahan, teknik anestesi, dan tingkat kemampuan
dan kenyamanan ahli anestesi.
Lamanya operasi bukan suatu kriteria untuk bedah rawat jalan, sebab
hanya ada sedikit hubungan antara lamanya anestesi dengan cepatnya
pemulihan. Penyelesaiannya adalah operasi yang lama harus diacarakan untuk
operasi yang paling pagi.
Penekanan pada pertimbangan biaya dalam pembedahan menyebabkan
peralihan dari bedah rawat inap menjadi bedah rawat jalan meningkat tajam.
Hal ini juga berdampak pada perubahan dalam kriteria seleksi pasien bedah
rawat jalan dan dimasukkannya pasien dengan kondisi medis yang kompleks,
dimana pada masa lalu dinyatakan tidak fit untuk bedah rawat jalan. Isu
mengenai seleksi pasien makin membesar karena hanya sedikit data dan
penelitian mengenai

kriteria dalam seleksi

pasien ini. Pada awal

diperkenalkannya bedah rawat jalan hanya pasien dengan status ASA I dan
ASA II yang dipilih untuk prosedur bedah rawat jalan. Saat ini, pasien yang
digolongkan pada status ASA III dan ASA IV juga merupakan calon operasi
bedah rawat jalan asalkan penyakit sistemiknya dalam keadaan stabil.
F. Evaluasi Prabedah
Setiap fasilitas bedah rawat jalan harus mengembangkan metode skrining
prabedah sebelum hari operasi. Dalam bedah rawat jalan ahli anestesi adalah
orang yang terlibat langsung pada perawatan dan tatalaksana pasien,
meyakinkan pasien diskrining dan dievaluasi secara tepat. Juga harus
mengingatkan pasien tentang jadwal datang ke rumah sakit, restriksi makanan
(puasa), pakaian yang harus dipakai, transportasi ke rumah sakit, maupun
kebutuhan perawatan anggota keluarga lain yang ditinggalkan serta harus ada
orang dewasa yang mengantar pulang ke rumah dari rumah sakit setelah
selesai operasi.

Disamping untuk mengurangi rasa cemas pasien, evaluasi prabedah yang


dilakukan ahli anestesi juga bertujuan untuk mengidentifikasi potensi masalah
medis, mencari etiologinya, dan bila perlu melakukan koreksi yang tepat.
Dengan demikian dapat mengurangi pembatalan serta komplikasi bedah rawat
jalan.
Saat ini terdapat berbagai cara untuk melakukan evaluasi dan skrining
pasien bedah rawat jalan, seperti:
1. Pasien datang ke fasilitas bedah rawat jalan sebelum hari operasi.
2. Pasien datang ke kantor ahli anestesi sebelum hari operasi.
3. Wawancara melalui telepon.
4. Meneliti hasil pemeriksaan medis/data medis pasien.
5. Visite dan pemeriksaan prabedah pada pagi hari sebelum pembedahan.
6. Pengumpulan informasi pasien dengan bantuan komputer (computer
assisted information gathering).
Pasien yang diskrining secara adekuat serta dengan persiapan prabedah
yang baik akan lebih efisien dalam biaya pada bedah rawat jalan.
G. Persiapan Pasien
Persiapan pasien yang matang dalam bedah rawat jalan perlu dilakukan
agar tercapai kondisi yang optimal bagi pasien yang akan menjalani operasi.
Restriksi makanan dan minuman sebelum operasi bedah rawat jalan:
1. Untuk menurunkan risiko pneumonitis dan obstruksi jalan napas akibat
aspirasi isi lambung, pasien secara rutin diminta tidak makan makanan
padat 6-8 jam sebelum operasi. Atau puasa setelah tengah malam (bila
operasi dilakukan pagi hari) yang harus disampaikan secara lisan dan
tertulis.
2. Kebutuhan untuk melarang minum cairan pada periode prabedah (sampai
2 jam sebelum induksi anestesi) masih dievaluasi, karena:
a. Minum cairan jernih tidak meningkatkan volume cairan lambung
pada saat induksi anestesi.
b. Aman minum air sampai 150 ml pada saat minum obat.
c. Salah satu keuntungan mengizinkan minum kopi pada peminum kopi
adalah menurunnya kejadian sakit kepala setelah operasi.
Pemberian obat-obatan yang biasa dipakai pasien sebelum operasi:

Obat-obat anti hipertensi tetap diminum sampai hari operasi. Obat-obat


untuk merubah perasaan seperti fluoxetin, trisiklik anti depresan, monoamine oxidase inhibitor, dan lithium dapat terus diberikan tetapi harus
diwaspadai

untuk

kemungkinan

terjadinya

interaksi

obat-obatan.

Pemberian aspirin dapat terus dilakukan terutama bila resiko perdarahan


pada operasi minimal. Pada operasi besar/risiko perdarahan besar aspirin
dihentikan mulai 7 hari prabedah.
Pemeriksaan EKG perlu dilakukan pada pasien umur lebih dari 40 tahun atau bila
ada indikasi.

Bila pada pemeriksaan ditemukan masalah medis, sebaiknya operasi


ditangguhkan dan pasien dievaluasi kembali.

H. Persiapan pada Hari Operasi


Pasien harus diperiksa ulang oleh ahli anestesi karena bisa terjadi
perubahan-perubahan yang mendadak misalnya infeksi saluran napas bagian
atas atau apakah pasien melaksanakan semua instruksi untuk puasa, adanya
teman

yang

mengantar

dan

menerangkan

prosedur

anestesi

serta

penandatanganan surat izin operasi. Kanula intravena dipasang untuk


pemberian obat anestesi nantinya serta pemberian cairan bila diperlukan.
Premedikasi pasien bedah rawat jalan tidak jauh berbeda dengan pasien
yang dirawat sehingga tetap diberikan obat-obat premedikasi untuk anti
cemas, nyeri pascabedah, mual muntah serta untuk menurunkan risiko
pneumonitis

bila terjadi aspirasi

isi lambung

selama

pembedahan.

Kebanyakan obat premedikasi tidak memperlambat pemulihan bila diberikan


dalam dosis yang tepat. Benzodiazepin adalah obat yang paling sering
digunakan untuk menurunkan kecemasan dan memberikan sedasi untuk pasien
bedah rawat jalan. Adanya amnesia setelah premedikasi dengan benzodiazepin
harus diperhatikan walaupun tidak ada penelitian yang melaporkan adanya
amnesia retrograd.
Opioid mungkin digunakan prabedah untuk menimbulkan efek sedasi,
mengendalikan hipertensi selama intubasi, dan untuk menurunkan nyeri
setelah operasi. Keefektifan opioid dalam menghilangkan kecemasan masih

kontroversi. Masalah yang dihubungkan dengan penggunaan opioid adalah


hipoventilasi, gatal-gatal, mual dan muntah, yang sangat tidak diinginkan pada
pasien bedah rawat jalan. Propofol kadang-kadang digunakan untuk sedasi
sebelum induksi anestesi dengan dosis 0,7 mg/kgbb intravena.
Kehilangan cairan akibat puasa 6-8 jam tidak menjadi masalah, sehingga
tidak perlu dilakukan koreksi cairan yang hilang akibat puasa. Pemasangan
kateter intravena hanya untuk pemberian obat-obatan saja. Kebutuhan untuk
pemberian cairan operasi pasien bedah rawat jalan masih kontrovesial. Untuk
operasi yang sangat singkat seperti miringotomi mungkin tidak diperlukan
pemberian cairan dengan pengecualian bila puasanya lama atau tidak mampu
minum segera setelah operasi selesai dan bangun penuh.
Pasien yang akan menjalani bedah rawat jalan mungkin mempunyai risiko
aspirasi isi lambung, walaupun risiko ini tidak lebih besar daripada pasien
yang dirawat. Bisa dipertimbangkan pemberian obat-obat profilaksis untuk
pasien-pasien tertentu misalnya dengan hiatus hernia, obesitas, atau parturien.
Obat-obat profilaksis untuk mencegah aspirasi adalah:
H2 receptor antagonist: cimetidin, ranitidin, famotidin, nizatidin
Substitusi benzimidazol: omeprazol
Antasida non partikel: sodium sitrat
Obat-obat gastrokinetik: metoclopramid
I. Pemeriksaan Laboratorium sebagai Skrining
Kepercayaan yang salah sebelumnya mengenai pemeriksaan laboratorium
untuk skrining prabedah adalah shotgun labs merupakan yang terbaik untuk
pasien dan dokter. Namun saat ini program bedah rawat jalan secara kontinyu
memperbaiki substansi pemeriksaan laboratorium untuk skrining pasien.
Kebanyakan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan tidak memberikan
kontribusi yang menguntungkan terhadap tatalaksana perioperatif pasien.
Walaupun pemeriksaan laboratorium dapat membantu optimalisasi kondisi
prabedah pasien ketika suatu penyakit terdeteksi, tetapi terdapat beberapa hal
yang yang merupakan kekurangannya, yaitu:
1. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut sering kali tidak bisa mengungkap
kondisi patologi penyakit.
2. Nilai abnormal yang kadang terungkap tidak penting dalam memperbaiki
pengelolaan serta outcome pasien.

3. Tidak efisien untuk skrining suatu penyakit yang tidak terdeteksi pada
anamnesa dan pemeriksaan fisik yang telah dilakukan baik dan tepat.
4. Nilai abnormal yang didapatkan melalui pemeriksaan laboratorium sering
tidak di follow up dengan tepat.
5. Nilai false positif pemeriksaan laboratorium akan meningkatkan
kecemasan pasien, meningkatkan penundaan operasi serta biaya,
dilakukannya pemeriksaan-pemeriksaan serta terapi yang lebih invasiv
yang bersifat traumatik pada pasien.
Blue Cross/Blue Shield memperkirakan sekitar 30 triliun dolar telah
dikeluarkan untuk pemeriksaan prabedah di Amerika Serikat tahun 1984,
mereka yakin sekitar 12-18 triliun dolar tiap tahun dapat disimpan bila hanya
pemeriksaan prabedah yang tepat yang dilakukan.
Banyak fasilitas saat ini membatasi pemeriksaan-pemeriksaan prabedah
berdasarkan tindakan operasi dan usia pasien, terdapatnya penyakit penyerta,
serta riwayat pengobatan. Roizen menyarankan untuk dilakukan seminimal
mungkin pemeriksaan laboratorium skrining prabedah pada pasien sehat,
tetapi pada pasien dengan baseline disease yang signifikan (hipertensi, CAD,
diabetes) memerlukan pemeriksaan lanjutan (EKG, elektrolit, rontgen torak).
Pertimbangan usia tidak mengharuskan dilakukan pemeriksaan tambahan
lanjutan. Hasil penelitian Schein dan kawan-kawan pada pasien geriatri yang
akan dilakukan operasi katarak dengan lokal anestesi dan sedasi tidak
didapatkan perbedaan yang signifikan terhadap safety pembedahan antara
kelompok yang dilakukan pemeriksaan prabedah rutin geriatri (EKG,
elektrolit, BUN, kreatinin, glukosa) dan kelompok yang tidak dilakukan
pemeriksaan-pemeriksaan tersebut.
Sampai saat ini, Illinois Ambulatory Surgical Treatment Act menyarankan
pemeriksaan standar hemoglobin atau hematokrit dan urinalisis pada semua
pasien yang akan dilakukan bedah rawat jalan.
J. Pemilihan Teknik Anestesi
Pemilihan suatu teknik anestesi didasarkan pada kondisi kesehatan pasien,
prosedur pembedahan serta keinginan dan permintaan pasien, bila

memungkinkan. Dalam bedah rawat jalan terdapat beberapa teknik anestesi


yang dapat dipilih:
1. Anestesi umum
2. Anestesi regional, dengan atau tanpa sedasi
3. Monitored Anestesi Care (MAC), anestesi lokal yang disertai dengan
sedasi, ahli anestesi memonitor tanda vital serta fungsi tubuh pasien
4. Anestesi lokal, mungkin tidak disertai oleh ahli anestesi dalam tim
pembedahan
Ahli anestesi akan mendiskusikan resiko dan keuntungan masing-masing
teknik dengan pasien, dan berdasarkan informasi yang dikumpulkan ahli
anestesi pada waktu skrining dan evaluasi prabedah pilihan anestesi yang
terbaik akan didiskusikan dengan pasien. Teknik anestesi yang optimal pada
bedah rawat jalan harus memenuhi kriteria:
1.
2.
3.
4.

Menciptakan kondisi pembedahan yang prima


Pemulihan yang cepat (rapid recovery)
Tidak ada efek samping pascabedah
Kepuasan pasien

K. Konsep Fast-Track Anesthesia


Konsep fast-track dalam pembedahan pertama kali diperkenalkan pada
awal tahun 1990. Dengan konsep ini maka pasien dapat pulang lebih cepat
dari rumah sakit dan melakukan aktifitas normalnya setelah menjalani operasi.
Prinsip utama pada fast-track anesthesia adalah pasien tidak melewati PACU
(fase I recovery), pasien langsung dipindahkan dari kamar operasi menuju
ruang pemulihan fase 2 (fase II recovery). Fast-track anesthesia tumbuh
karena kebutuhan untuk pengendalian biaya kesehatan, tetapi keuntungan
paradigma ini lebih besar daripada hanya pengurangan biaya perawatan,
termasuk juga outcome dan kepuasan pasien. Meningkatnya penggunaan
teknik bedah minimally invasive, perkembangan obat-obat baru termasuk yang
mula kerjanya cepat, durasi kerja lebih cepat, obat-obatan analgesik dan
pelemas otot merupakan bagian dalam perkembangan fast-track anesthesia.
L. Pemulihan (Recovery)
Pemulihan adalah suatu proses yang secara tradisional dibagi atas 3 bagian
yang saling tumpang tindih yaitu early recovery, intermediate recovery, dan

late recovery. Early recovery dimulai dari dihentikannya obat anestesi supaya
pasien bangun, kembalinya refleks proteksi jalan napas, dan dimulainya
aktifitas motorik. Intermediate recovery bila sudah mencapai kriteria untuk
dapat dipulangkan ke rumah. Late recovery mulai dari dipulangkan sampai
pulihnya fungsi fisiologis ke keadaan seperti sebelum pembedahan.
Aldrete merancang suatu sistem skoring untuk menentukan kapan pasien
fit untuk keluar dari PACU. Nilai skoring 0, 1, atau 2 ditujukan untuk aktifitas
motorik, respirasi, sirkulasi, kesadaran, dan warna kulit. Total skor
maksimalnya 10. Penggunaan pulse oksimetri dapat menolong lebih akuratnya
indikator oksigenasi, dan diusulkanlah suatu modifikasi skoring aldrete yang
mengganti kriteria warna pada Aldrete skor dengan SpO2 pada modifikasi
sistem skoring Aldrete.
M. Pemulangan (Discharge)
Program bedah rawat jalan yang sukses tergantung pada pemulangan
pasien yang tepat waktu setelah anestesi. Beberapa kriteria yang telah dibuat
untuk menentukan kesiapan pasien untuk dipulangkan seperti Guidelines for
Safe Discharge After Ambulatory Surgery dan PADSS (Post Anesthesia
Disharge Scoring System). PADSS merupakan suatu sistem skoring yang
secara objektif menilai kondisi pasien untuk dipulangkan. Modifikasi PADSS
dibuat karena dalam kriteria PADSS terdapat ketentuan mampu minum
pascabedah, dimana ketentuan minum pascabedah tidak lagi dimasukkan
kedalam protokol kriteria pemulangan pasien dan hanya diperlukan pada
pasien tertentu. Modifikasi PADSS berdasarkan 5 kriteria, yaitu:
1. Tanda vital (tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, temperature)
2 : sekitar 20% dari nilai prabedah
1 : 20%-40% dari nilai prabedah
0 : 40% dari nilai prabedah
2. Ambulasi
2 : mampu berdiri/tidak ada pusing
1 : dengan bantuan
0 : tidak ada pergerakan/pusing
3. Mual/muntah
2 : minimal
1 : sedang
0 : berat
4. Nyeri

2 : minimal
1 : sedang
0 : berat
5. Perdarahan akibat pembedahan
2 : minimal
1 : sedang
0 : berat
Total nilai = 10. Bila skor mencapai 9, pasien cukup aman untuk
dipulangkan ke rumah.
N. Penundaan Pemulangan
1. Terjadi penyulit selama operasi : perdarahan, operasi berkepanjangan.
2. Terjadi penyulit selama anestesinya : mual, muntah, pusing, hipotensi
berat, laring edema pasca intubasi

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
Proses Keperawatan di Ruang Perawatan Pacaoperasi
A. Pengkajian
Perawat memeriksa kondisi klien yang meliputi tanda-tanda vital, tingkat
kesadaran, kondisi balutan dan drain, status infuse cairan, tingkat rasa
nyaman, dan integritas kulit.
Perawat mengkaji klien secara rutin minimal setiap 15menit pada 1 jam
pertama, setiap 30 menit selama 1 sampai 2 jaam berikutnya, setiap 1 jam
selama 4 jam berikutnya, dan selanjutnya setiap 4 jam. Seringnya pemeriksaan
tergantung kondisi klien. Perawat yang tidak mengikuti jadwal pengkajian
tersebut diangap lalai.
Setelah seluruh pemeriksaan awal lengkap dan segala kebutuhan klien
terpenuhi, keluarga diizinkan mengujungi klien. Perawat dapat menjelaskan
tujuan prosedur atau peralatan pascaoperatif dan menjelaskan kondisi klien.
Keluarga harus tahu bahwa klien akan mengantuk dan tertidur pada sisa waktu
hari itu akibat anestesi umum. Apabila klien mendapat anestesi spinal,
keluarga harus diingatkan bahwa klien akan diperiksa rutin dan ia akan
kehilangan sensasi dan pergerakan ekstreminalitasnya beberapa jam.
B. Diagnosa Keperawatan
Perawat menentukan status masalah yang diidentifikasi dari diagnosa
keperawatan preoperatif dan mengelompokkan data baru yang relevan untuk
mengidentifikasi diagnosa baru. Diaognosa sebelumnya dapat berlanjut
menjadi masalah pascaoperatif. Perawat juga dapat mengidentifikasi factor
risiko yang mengarah pada identifikasi diagnosa keperawatan baru antara lain:
ketakutan yang berhubungan dengan pengalaman bedah, kehilangan kontrol,
hasil operasi yang tidak dapat diprediksi, ketidakmampuan koping keluarga
menghadapi kondisi klien yang membutuhkan intervensi keperawatan,
ansietas yang berhubungan dengan prosedur praoperasi dan prosedur
pascaoperasi, duka cita yang berhubungan dengan dampak operasi dan
diagnose lain yang bersifat spesifik bergantung jenis operasi yang dilakukan.

C. Perecanaan
Adanya data pengkajian terbaru dan analisa riwayat keperawatan
preoperatif memungkinkan perawat membuat rencana intervensi keperawatan
yang spesifik. Instruksi pascaoperatif dari dokter bedah juga dapat dijadikan
pedoman. Beberapa jenis tujuan perawatan pascaoperatif antara lain:
1. Menunjukkan kembalinya fungsi fisiologis normal
2. Tidak memperlihatkan adanya infeksi luka bedah
3. Dapat beristirahat dan merasa nyaman
4. Mempertahankan konsep diri
5. Kembali kepada status kesehatan fungsional dengan keterbatasan yang ada
akibat pembedahan.
D. Implementasi
1. Mendapatkan kembali fungsi fisiologis normal
Luka bedah, pengaruh immobilisasi yang lama selama pembedahan
berlangsung dan pada masa penyembuhan serta pengaruh anestesi dan
analgesic merupakan penyebab utama timbulnya komplikasi pascaoperatif.
Kegagalan klien berpartisipasi menambah risiko komplikasi. Perawat harus
memperhatikan hubungan antara seluruh sistem dengan terapi yang diberikan.
2. Mempertahankan fungsi pernafasan
Untuk mencegah komplikasi pernafasan ,perawat harus membersihkan
paru-paru klien. Tindakan berikut ini dapat meningkatkan ekspansi paru:
a. Perawat menganjurkan klien melakukan latihan pernafasan diafragma
minimal setiap 2 jam sekali saat klien sudah sadar
b. Perawat menginstruksikan klien menggunakan spirometer stimulatif
agar mendapat inspirasi yang maksimal
c. Perawat menganjurkan klien melakukan ambulasi lebih awal.
d. Perawat membantu klien bepindah posisi miring setiap 1 sampai 2 jam
saat bangun dan duduk jika mungkin
3. Pertahankan kenyamanan klien.
Mencegah statis sirkulasi
Beberapa klien berisiko tinggi mengalami statis vena akibat sifat
pembedahan yang dijalani. Beberapa tindakan dapat meningkatkan aliran
balik vena dan aliran sirkulasi darah normal :
a. Perawat menganjurkan klien untuk latihan kaki minimal setiap jam
saat klien terjaga.
b. Perawat memasang stoking antiemboli elastis sesuai instruksi dokter

c. Perawat memasang stoking antiemboli pneumatic.


d. Perawat menganjurkan klien melakukan ambulasi lebih awal
e. Perawat menghindari posisi yang dapat mengganggu aliran darah ke
bagian ekstremitas klien.
f. Perawat memberikan obat-obatan antikoagulan sesuai instruksi dokter
g. Perawat meningkatkan asupan cairan yang adekuat melalui oral atau
intravena.
4. Mempertahankan konsep diri
Tindakan berikut dapat mempertahankan konsep diri klien:
Perawat member privasi selama mengganti balutan atau menginspeksi

luka.
Perawat mempertahankan kebersihan klien
Perawat mencegah agar set drainase tidak mengalir terlalu deras.
Perawat mempertahankan lingkungan yang menyenangkan
Perawat member kesempatan klien mendiskusikan penampilannya

bersama-sama.
Perawat member kesempatan keluarga mendiskusikan cara menjaga

konsep diri klien.


5. Meningkatkan eliminasi urine
Tindakan berikut dapat meningkatkan eliminasi normal urine :
Perawat membantu klien pada posisi normal selama berkemih
Perawat memeriksa klien secara sering untuk mengetahui adanya

kebutuhan klien untuk berkemih


Perawat mengkaji adanya distensi kandung kemih
Perawat memantau asupan dan haluaran cairan.
Meningkatkan eliminasi normal dan nutrisi yang adekuat

Tindakan berikut mempercepat kembalinya eliminasi normal:

Perawat mengkaji peristaltic usus setiap 4 sampai 8 jam.


Perawat mempertahankan asupan nutrisi dan meningkatkannya

secara bertahap.
Perawat meningkatkan ambulasi dan latihan.
Perawat mempertahankan asupan cairan yang adekuat.
Perawat memberikan enema, supositori, reektal, dan selang rectal
sesuai instruksi.

Tindakan yang dapat mempertahankan asupan makanan yang adekuat:

Perawat menghilangkan sumber bau yang menyengat


Perawat membantu klien pada posisi nyaman saat makan
Perawat memberikan makanan yang diinginkan klien

Perawat melakukan perawatan mulut secara teratur


Perawata memberikan mekanan saat klien beristirahat dan bebas
dari rasa nyeri.

E. Evaluasi
Perawat mengevaluasi efektifitas perawatan yang diberikan pada klien
bedah berdasarkan hasil yang diharapkan setelah melakukan interfensi
keperawatan dengan cara bertanya pada klien dan keluarga untuk memperoleh
data.

Yakinkan

klien

bahwa

perawat

memperhatikannya

sehingga

memungkinkan perawat mengevaluasi kemajuan pemulihan. Apabila klien


tidak mengalami kemajuan seperti yng diharapkan perawat memperbaiki
kembali rencana keperawatan berdasarkan pada prioritas kebutuhan klien.
Bagian dari evaluasi perawat adalah menentukan banyaknya pelajaran
yang diterima klien dan keluarga tentang cara perawatan diri. Kehadirn
perawat yang member perawatan dirumah saat klien pulang berguna untuk
mengetahui apakah klien dapat melakukan perawatan secara efektif.

BAB IV
KESIMPULAN
Kemajuan dalam bidang anestesi dan teknik pembedahan menyebabkan
teknik bedah rawat jalan berkembang pesat, jumlah pasien bedah rawat jalan
juga terus mengalami peningkatan.
Anastesi pada kasus rawat jalan adalah suatu tindakan anestesi yang dilakukan pada
pasien-pasien yang menjalani prosedur tertentu (pembedahan, diagnostik radiologi), dimana
pasien dimasukkan dan dipulangkan dari Rumah Sakit pada hari yang sama.
Peranan ahli anestesi dalam pengelolaan perioperatif sangat penting dalam
tim bedah rawat jalan dalam mencapai keberhasilan teknik bedah rawat jalan.

DAFAR PUSTAKA
Sumber Jurnal:
Yendi. 2011. Kontroversi Terkini dalam Anestesi pada Bedah Rawat Jalan
Dewasa/ Current Controversies in Adult Outpatient Anesthesia.

Sumber Internet:
http://www.academia.edu/2245412/Anestesi_Rawat_Jalan
http://ayapye.blogspot.com/2012/01/anestesi-pada-pasien-rawat-jalan.html
http://kuatkitabersama.wordpress.com/2012/05/11/askep-pasien-perioperatifpascaoperasi/