Anda di halaman 1dari 2

EMULSIFIER PENYATU AIR DAN MINYAK

Belakangan muncul berita, bahwa ada merek dagang kopi instan yang diduga
mengandung emulsifier berkode E471. Sebelumnya juga beredar kabar, ada es krim juga
mengandung emulsifier berkode E472. Sementara, diduga kode E merupakan kode untuk produk
yang berasal dari babi.
Tentunya kita bertanya-tanya, benarkah kabar tersebut? Jika benar mengandung babi,
kenapa ada cap halal dari LPPOM MUI? Ataukah kabar ini sekedar bagian dari strategi dagang
dari pesaing produk tersebut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu
mengetahui apa itu emulsifier.
Air dan minyak adalah dua bahan yang tidak bisa bersatu. Ketika kita mencampurnya,
dalam jarak waktu yang tidak lama, kedua bahan tersebut akan berpisah. Nah, makanan yang
berbahan air dan minyak, untuk mencampur dan menstabilkan campuran tersebut dibutuhkan
suatu bahan yang dinamakan emulsifier. Emulsifier atau zat pengemulsi adalah zat untuk
membantu menjaga kestabilan emulsi minyak dan air. Emulsifier biasanya digunakan pada
produk roti, margarin, coklat, es krim, mayones dan makanan yang sejenis.
Secara umum, bahan pengemulsi ada dua. Emulsifier alami dan emulsifier buatan
(sintetis). Pengemulsi alami dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari alam. Misalnya biji
kedelai, tepung kanji, susu bubuk, kuning telur dan sebagainya. Di dalam biji kedelai terdapat
minyak yang cukup tinggi. Termasuk juga di dalamnya terkandung air. Keduanya dihubungkan
oleh suatu zat yang disebut lesitin. Bahan inilah yang kemudian diambil atau diekstrak, menjadi
bahan pengemulsi yang bisa digunakan dalam produk-produk makanan dan minuman.
Adapun bahan pengemulsi buatan atau sintetis, berasal dari rekayasa manusia untuk
menghasilkan jembatan antara minyak dan air. Meskipun disebut sintetis, tetapi tidak
sepenuhnya berasal dari bahan sintetis. Hanya proses pembuatannya saja yang dirancang buatan
manusia. Tetapi bahan-bahannya sering berasal dari bahan alami. Contohnya bahan pengemulsi
sintetis yaitu ester dari asam lemak sorbitan yang dikenal sebagai SPANS. SPANS dapat
membentuk emulsi air dan minyak. Adapun ester dari polioksietilen sorbitan dengan asam lemak,
yang dikenal sebagai TWEEN, dapat membentuk emulsi minyak dari air. Pada kue, penggunaan
SPANS akan membentuk serta memperbaiki tekstur dan volume. Sedang TWEEN membantu

mengurangi dan mencegah kekeringan, sehingga kue tetap lunak. Jenis emulsifier lain yaitu
seperti gliseral laktopalmitat, merupakan emulsifier yang banyak digunakan dalam pembuatan
cakes mixes. Juga ada CMC (carboxyl methyl cellulose) yang banyak digunakan sebagai
stabilizer dalam pembuatan salad dressing.
Bahan yang dirancang secara buatan oleh manusia itu sebenarnya berasal dari lemak yang
direkayasa. Sementara, sumber lemaknya sendiri bisa bermacam-macam. Ada yang berasal dari
minyak bumi (sintetis), ada pula yang berasal dari lemak nabati (tumbuhan) maupun hewani.
Aplikasi emulsi pada bahan makanan lebih diutamakan menggunakan lemak dari tumbuhan dan
hewan. Karena yang berasal dari minyak bumi (bentonit, magnesium hidroksida dan alumunium
hidriksida) tidak food grade (tidak sesuai untuk makanan).
Nah, sumber inilah yang perlu dikaji dengan baik. Khususnya menyangkut halal dan
tidaknya. Jika berasal dari lemak tumbuhan, maka aman. Namun, ketika dari lemak hewani,
tentunya harus dikaji. Apakah hewannya halal atau tidak. Khususnya untuk hewan halalpun
harus dilihat, apakah proses penyembelihannya sesuai dengan syariat islam atau tidak. Selain
itu, proses pemotongan salah satu atau dua asam lemak dari trigliserida tersebut juga
menggunakan enzim lipase yang perlu diteliti apakah berasal dari sumber halal ataukah tidak.
Oleh karena itu, ketika mengkonsumsi produk-produk yang mengandung emulsi, seperti
coklat, margarin, susu bubuk instan, es krim, dan sebagainya. Jangan lupa melihat bahan
pengemulsi yang dipakai. Keterangan tersebut biasanya dapat dilihat pada ingredients bahan
pada kemasan produk emulsi. Atau yang mudah, produk halal sudah tercantum logo halal
LPPOM MUI. Khusus untuk kasus kedua produk di atas, sebaiknya kita berkonsultasi kepada
LPPOM MUI. Bisa melalui telepon atau surat untuk meminta keterangan tentang bahan yang
meragukan tersebut. Kehati-hatian kita sangat diperlukan, agar makanan dan minuman yang
masuk benar-benar halal 100%. <arif indra>