Anda di halaman 1dari 23

UJIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA

Disusun Untuk Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik Di Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa
Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul

Diajukan kepada :
dr. Vista Nurasti Pradanita, Sp.KJ., M.Kes

Disusun oleh :
Raafika Studiviani Dwi Binuko
20100310050

SMF ILMU KEDOKTERAN JIWA


RSUD PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

STATUS PSIKIATRI
1. IDENTITAS PASIEN
Nama

:M

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 38 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMA Kelas 2

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Bangsa/suku

: Indonesia/Jawa

Alamat

: Tirto Argo, Kretek, Bantul

No. RM

: 10****

Tanggal diperiksa

: 20 November 2015

2. ALLOANAMNESIS
Nama

: Ny. S

Jenis Kelamin

: Perempuan

Umur

: 70 tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: Tidak Sekolah

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Bangsa/suku

: Indonesia/Jawa

Alamat

: Tirto Argo, Kretek, Bantul

Hubungan

: Ibu

Lama kenal

: Sejak lahir

2.1. Sebab Dibawa ke Rumah Sakit (Keluhan Utama)


Pasien datang ke rumah sakit karena diantar oleh ibu kandung pasien oleh karena 1
minggu pasien kambuh sering pergi dari rumah tanpa pengetahuan ibu dan suka
berbicara sendiri.

2.2. Riwayat Perjalanan Penyakit (Riwayat Penyakit Sekarang)


Alloanamnesis
Dari alloanamnesis diketahui bahwa awal perubahan sikap anaknya terjadi
sekitar 20 tahun yang lalu sekitar tahun 1995. Saat itu pasien masih duduk di
bangku kelas 2 SMA. Pada saat itu pasien tinggal berjauhan dengan keluarga
pasien tinggal kos di dekat sekolahnya yang berada di daerah kota Yogyakarta.
Pasien mendadak suka menangis, suka berteriak-teriak sendiri, suka marah dan jika
dipanggil orang lain hanya diam saja tidak mau menjawab. Ibunya memutuskan
untuk membawa anaknya ke Puri Nirmala. Di Puri Nirmala dirawat selama 2,5
bulan. Setelah keluar dari rumah sakit, pasien tidak bersekolah kembali karena
kadang pasien masih sering kambuh. Nilai-nilai di sekolah cukup baik, pasien tidak
pernah tidak naik kelas. Masalah di rumah disangkal, pasien pernah bercerita ada
masalah dengan pacar yaitu putus dengan pacar.
Pada tahun 1996 pasien kembali menunjukkan perubahan perilaku. Sering
marah, pasien juga pernah nyemplung ke sungai. Tidak mengeluhkan adanya
suara-suara ataupun bayangan-bayangan yang tidak ada wujudnya. Lalu ibu pasien
memutuskan untuk membawa pasien ke Pakem. Setelah keluar dari rumah sakit,
ibu pasien mengaku obat yang diberikan tidak diminum rutin sehingga gejalagejala serupa kembali muncul dan kembali diopname di Pakem selama 3 bulan
dengan keluhan yang serupa. Pasien hampir setiap 3 bulan sekali mondok dengan
keluhan yang serupa karena pasien tidak pernah minum obat.
Ibu pasien mengatakan saat ini pasien sering mengatakan akan dilamar oleh
laki-laki yang pasien kenal dari acara pernikahan tetangganya. Menurut ibu pasien
laki-laki itu hanya menyapanya saja (salaman saja) tapi pasien menganggap bahwa
dia akan melamarnya dan akan mengajaknya menikah saat itu juga.
Autoanamnesis
Pasien mengatakan dapat mengingat jelas kejadian yang terjadi pada dirinya
di masa lalu. Pasien mengatakan pernah di opname di Puri Nirmala selama 2,5
bulan pada saat dia kelas 2 SMA, tetapi pasien tidak mengetahui alasan dia dibawa
ke rumah sakit. Pasien mengatakan pada saat itu dia suka marah setelah dia dan
pacarnya putus. Pasien, merasa dan percaya bahwa ada orang lain berniat jahat
yang akan menghancurkan dia. Pasien mengatakan setelah dirawat di Puri Nirmala,
pasien kembali dirawat di Pakem tapi pasien tidak mengetahui alasannya.

Saat ini pasien merasakan jika dia akan shalat selalu ada suara yang
memarahi pasien jika pasien melalukan shalat tapi pasien tidak melihat wujud dari
suara tersebut. Pasien bercerita bahwa pasien sedang dekat dengan seorang lakilaki yang di kenalnya dari tetangga pasien saat tetangga pasien mempunyai acara
pernikahan. Pasien mengatakan jika laki-laki yang dikenalnya tersebut akan
melamar dan mengajaknya menikah pada saat itu juga.
2.3. Anamnesis Sistem (Keluhan Fisik dan Dampak terhadap Fungsi Sosial dan
Kemandirian) didapat secara autoanamnesis
Sistem Saraf

: demam (-) nyeri kepala (-) kejang (-) tremor (+)

Sistem Kardiovaskular : edem kaki (-) nyeri dada (-) jantung berdebar-debar (-)
Sistem Respirasi

: terlihat sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem Digestiva

: BAB normal, muntah (-), diare (-), sulit makan (-) nyeri
perut (-)

Sistem Urogenital

: BAK normal

Sistem Integumentum : warna biru pada kuku (-), gatal pada kulit (-)
Sistem Muskuloskeletal : edema (-), bengkak sendi (-), kelemahan otot (-), nyeri
sendi (-)
Secara organik tidak terdapat kelainan pada sistem-sistem organ. Pasien
mengeluhkan tremor sejak beberapa bulan yang lalu, sekarang keluhan sudah tidak
ada. Secara sosial, saat ini pasien jarang bergaul dengan lingkungan sekitar, ketika
jika kambuh pasien malah pergi ke tempat tetangganya. Pasien tidak dapat
melakukan pekerjaan rumah sehari-hari dan tidak pernah membantu ibunya bekerja
sehari-hari.

2.4. Grafik Perjalanan Penyakit


Gejala Klinis

1995

1996

1999

2001

2003

2005

2007

2009

2011

2013

2014

Mental
Health Line

Fungsi peran
2.5. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit dan Riwayat Penyakit Dahulu
2.5.1. Hal-Hal yang Mendahului Penyakit

Faktor Organik
Panas, kejang, dan trauma fisik satu tahun sebelum mengalami gangguan
disangkal oleh narasumber.
Faktor Psikososial (Stressor Psikososial)

Tidak ditemukan faktor psikososial


Faktor Predisposisi
-

Penyakit herediter diduga ada keterkaitan dengan kakek kandung


pasien karena memiliki riwayat gangguan jiwa.

Tinggal terpisah dengan orang tua sejak SMA

Faktor Presipitasi
Tidak jelas faktor presipitasinya

2.5.2. Riwayat Penyakit Dahulu autoanamnesis

Riwayat Penyakit Serupa Sebelumnya


Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

Riwayat Sakit Berat/Opname


Pernah dirawat di Puri Nirmala selama 2,5 bulan.
Pernah dirawat di RSJ Pakeme sebanyak lebih dari 3 kali masing-masing
selama 3 bulan.

2.6. Riwayat Keluarga

2.6.1.

Pola Asuh Keluarga


Alloanamnesis
Pasien merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Sejak kecil tinggal
bersama kedua orang tuanya, akan tetapi pada waktu SMA pasien tinggal
terpisah dengan orang tuanya pasien tinggal kos di dekat sekolahnya.
Keluarga memiliki pola asuh yang baik. Orangtuanya memberikan
kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu dengan pengawasan
yang cukup dari orangtuanya. Orang tua pasien mengatakan bahwa tidak ada
perilaku keras atau kasar yang diberikan oleh keluarga kepada anak-anak
termasuk pasien.

2.6.2.

Riwayat Penyakit Keluarga


Dari hasil alloanamnesis dengan ibu pasien, dikatakan bahwa kakek kandung
pasien juga mengalami keluhan serupa dengan pasien.

2.6.3.

Silsilah Keluarga

Keterangan:
: pasien
: laki-laki
: perempuan
: meninggal

: Tinggal serumah

2.7. Riwayat Pribadi


2.7.1.

Riwayat Kelahiran
Pasien lahir secara normal, cukup bulan ditolong oleh dukun yang ada di
dekat rumah pasien. Kandungan ibu pasien tidak mempunyai masalah.

2.7.2.

Latar Belakang Perkembangan Mental


Menurut pengakuan dari ibu pasien, perkembangan mental pasien sejak kecil
sama dengan teman-teman sebayanya yang berada di sekitar tempat tinggal
mereka. Sifat pasien sejak kecil adalah orang yang selalu tertutup, pendiam,
tidak pernah mau bercerita tentang masalah pribadinya.

2.7.3.

Perkembangan Awal
Menurut keterangan dari ibu pasien, tidak ada keterlambatan pada tumbuh
kembang pasien. Pasien mulai bisa tengkurap, merangkak, berjalan ataupun
berbicara sesuai dengan umurnya.

2.7.4.

Riwayat Pendidikan

SD

: lulus dengan baik

SMP

: lulus dengan baik

SMA

: pasien menempuh pendidikan di SMA sampai kelas 2, tidak

pernah tinggal kelas dan memutuskan berhenti sekolah setelah dirawat di


Puri Nirmala untuk pertama kalinya.
2.7.5.

Riwayat Pekerjaan
Semenjak SMP pasien mulai mengalami gangguan jiwa hingga saat ini,
pasien belum pernah bekerja.

2.7.6.

Riwayat Perkembangan Psikoseksual

Pasien belum pernah pacaran

2.7.7.

2.7.8.

Pasien lebih sering bergaul dengan teman perempuannya

Sikap dan Kegiatan Moral Spiritual

Agama Islam

Rajin menjalankan shalat

Riwayat Perkawinan
Pasien belum pernah menikah.
2.7.9.

Riwayat Kehidupan Emosional (Riwayat Kepribadian Premorbid)

Pendiam

Cenderung tertutup

Tidak mempunyai teman dekat

2.7.10. Hubungan Sosial


Menurut penjelasan ibu pasien, hubungan sosial pasien dengan temantemannya pada saat di bangku sekolah baik. Hubungan dengan tetangga
tempat tinggal pasien juga baik. Pasien jarang mengikuti acara dan kegiatan
di kampungnya dan memilih untuk tinggal di rumah. Pasien mengaku tidak
pernah mempunyai masalah dengan tetangga dan teman-temannya.
2.7.11. Kebiasaan
Pasien mengatakan tidak memiliki kebiasaan yang spesifik seperti merokok,
mengkonsumsi alkohol maupun obat-obatan (kecuali yang diberikan dokter).
2.7.12. Status Sosial Ekonomi
Keluarga pasien bisa dikatakan merupakan keluarga yang dikategorikan
rendah. Sumber penghidupannya didapat dari anak-anak ibu pasien. Ibu
pasien mengaku dari penghasilan tersebut masih terdapat sisa untuk ditabung.
2.7.13. Riwayat Khusus
Pengalaman militer (-)
Urusan dengan polisi (-)

2.8. Tingkat Kepercayaan Alloanamnesis


Alloanamnesis : dapat dipercaya
2.9. Kesimpulan Alloanamnesis

Perempuan 38 tahun menunjukkan perubahan perilaku sejak SMA kelas 2


Pasien tiba-tiba menjadi bingung, gelisah, mondar-mandir tanpa tujuan yang
jelas dan menjadi sangat pendiam tidak mau berbicara sama sekali.

Pasien dirawat inap di sarjito selama 40 hari. Setelah keluar pasien dapat
melanjutkan sekolah dan beraktivitas seperti biasa.

Pasien pernah dirawat inap dua kali di RSJ Puri Nirmala masing-masing selama
3 minggu dan 2 minggu.

Pasien berobat rutin mulai tahun 1990.

Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok, meminum alcohol maupun


mengkonsumsi obat diluar resep dokter.

Tidak terdapat kelainan pada sistem-sistem organ.

Pasien mengeluhkan tremor sejak bulan juli, saat ini keluhan dirasa berkurang.

Tidak terdapat stressor psikososial yang bermakna

Pasien saat ini tinggal bersama kakaknya.

Pasien bisa dikatakan memiliki ekonomi yang cukup.

Pasien memiliki pola asuh keluarga yang demokratis.

Pasien pendiam dan cenderung tertutup.

Pasien belum pernah bekerja.

Pasien belum menikah.

Pasien selalu menjalankan kegiatan moral spiritual (sholat & mengaji).

3. PEMERIKSAAN FISIK
3.1. Status Pemeriksaan Fisik
3.1.1. Status Internus
Tanggal Pemeriksaan: 2 November 2014

Keadaan Umum : Compos Mentis

Bentuk Badan

: tidak ditemukan kelainan

Berat Badan

: tidak dilakukan pengukuran

Tinggi Badan

: tidak dilakukan pengukuran

Tanda Vital
- Tekanan Darah

: 120/80 mmHg

- Nadi

: 76 x/menit

- Respirasi

: 20 x/menit

- Suhu

: Afebris

Kepala

- Inspeksi wajah : tidak ditemukan adanya kelainan


- Mata : conjunctiva anemis (-), sklera ikterik (-)
Leher

- Inspeksi : leher tampak bersih


- JVP

: tidak dilakukan pemeriksaan

Thorax

- Sistem Kardiovaskuler : S1 S2 reguler


- Sistem Respirasi : wheezing (-), RBK (-), vesikuler (+)
Abdomen
Sistem Gastrointestinal : bising usus (+)
Sistem Urogenital

: tidak dilakukan pemeriksaan

Ekstremitas

Sistem Muskuloskeletal : tidak ditemukan kelainan

Sistem Integumentum : tidak ditemukan kelainan

Kesan Status Internus

: Dalam batas normal, meskipun ada beberapa


pemeriksaan tidak dilakukan karena tidak
tersedianya
pemeriksaan.

3.1.2. Status Neurologis

Kepala dan Leher

: tidak dilakukan

Tanda Meningeal

: tidak dilakukan

tempat

dan

alat

untuk

Kekuatan Motorik

: tidak dilakukan

Sensibilitas

: tidak dilakukan

Refleks Fisiologis

: tidak dilakukan

Refleks Patologis

: tidak dilakukan

Gerakan Abnormal

: tidak dilakukan

Gangguan Keseimbangan dan Koordinasi Gerakan: tidak dilakukan

3.1.3.

Hasil Pemeriksaan Penunjang

EKG

: tidak dilakukan pemeriksaan.

EEG

: tidak dilakukan pemeriksaan.

CT Scan

: tidak dilakukan pemeriksaan.

Foto Rontgen : tidak dilakukan pemeriksaan.

LAB darah

: tidak dilakukan pemeriksaan.

3.2. Status Psikiatri


Tanggal Pemeriksaan: 2 November 2014
3.2.1.

Kesan Umum

Perempuan 34 tahun sesuai umur, tidak tampak sakit jiwa, kooperatif,


berpakaian sesuai jenis kelaminnya, dan rawat diri baik.
No
1.
2.

Status Psikiatri
Hasil
Kesadaran
Kuantitatif: GCS E4V5M6
Pembicaraan

Keterangan
Pasien sadar penuh

Kualitatif : Compos mentis


Kuantitas : bicara cukup

Pasien

Kualitas : ire

dimengerti dan menjawab sesuai


dengan

3.

Orientasi

Orang: baik

berbicara
yang

cukup,

dapat

ditanyakan

saat

wawancara
Pasien dapat mengenali siapa saja
yang tinggal dengannya

Waktu: baik

Pasien dapat mengetahui tanggal


dan jam hari itu saat diperiksa

Tempat: baik

Pasien dapat menunjukkan masjid

tempat pengajian sering diadakan


Situasi : baik

Pasien dapat mengatakan kondisi


saat itu tidak terlalu ramai.

Memori segera (immediate) Pasien

dapat

mengingat

nama

pemeriksa yg baru dikenalnya.


Memori

Memori

jangka

pendek Pasien dapat menceritakan aktivitas


apa yang tadi pagi dilakukan.

(recent)

Pasien
Memori jangka menengah
Memori

jangka

panjang

(remote)
Kooperatif

kejadian

beberapa

bulan yang lalu.


Pasien

(recent past)

ingat

ingat

berapa

hari

dia

diopname.

4.

Sikap/tingkah

5.

laku
Perilaku

6.

aktivitas
Penampilan/rawa Baik

Pasien terlihat rapi dan cukup

7.

t diri
Mood

Eutimik

bersih.
Suasana perasaan dalam rentang

Appropriate

normal
Ekspresi

8.

Afek

9.

Pikiran

Pasien dapat diajak berbicara ketika


diwawancarai
Perilaku dan aktivitas normal

dan Normoaktif

Bentuk pikir: Realistik

wajah

pasien

sesuai

dengan apa yang diungkapkannya.


Apa yang disampaikan oleh pasien
sesuai dengan kenyataan.

Isi pikir:
Waham (-)

Kecenderungan atau pemusatan isi

Preokupasi terhadap

pikiran

masalah pendidikannya

pasien merasa menyesal dulu tidak

terhadap

melanjutkan

pendidikannya,

sekolahnya

padahal

dulu sempat diberi kesempatan


untuk mengulang tetapi ditolak.
10.
11.

Perhatian
Persepsi

Mudah

ditarik,

mudah Pasien memperhatikan pemeriksa

dicantum
Halusinasi auditorik (-)

saat ditanya dan tetap fokus


Pasien menyangkal mendengar

12.

Halusinasi visual (-)

bisikan-bisikan tanpa ada wujudnya

Ilusi (-)

dan menyangkal melihat bayang-

Insight

Derajat 1

bayang.
Pasien

mengatakan

tidak

mengetahui tentang penyakitnya,


jika tidak minum obat merasa tidak
apa-apa.
3.2.2.

Gangguan Intelegensi Sesuai Umur / Pendidikan

Tidak ada.
3.3. Hasil Pemeriksaan Psikologis
3.3.1.

Kepribadian

Tidak dilakukan
3.3.2.

IQ

Tidak dapat dilakukan tes


3.3.3.

Lain-Lain

Tidak ada
4. RANGKUMAN DATA YANG DIDAPATKAN PADA PENDERITA
4.1.

Tanda-Tanda (Sign)

a. Penampilan
Pasien tampak tidak sakit jiwa, kooperatif, pakaian terlihat bersih dan rawat diri
baik.
b. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Cara berjalan biasa, gerakan tubuh biasa, semua dalam batas normal.
c. Pembicaraan (kuantitas, kecepatan produksi bicara, kualitas)
Dalam batas normal.
4.2.

Gejala (Simtom)
a. Halusinasi dan ilusi tidak ada.
b. Mudah ditarik, mudah dicantum.
c. Orientasi orang, waktu, tempat dan situasi baik.
d. Mood eutimik.

e. Afek appropriate.

4.3.

Kumpulan Gejala (Sindrom)

Pada saat anamnesis, pasien terlihat lebih tenang dan dapat bercerita tentang
dirinya, berikut ini kumpulan gejala yang diperoleh dari anamnesis dengan pasien
dan ibunya :
-

Arus pikiran yang terputus yang berakibat inkoherensi (pembicaraan kacau)


atau pembicaraan yang tidak relevan.

Adanya gejala-gejala negative seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang
bahkan tidak mau berbicara, respon emosional yang menumpul yang
mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja
sosial.

Suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan dari
berbagai aspek perilaku pribadi, bermanifestasi sebagai hilangnya minat, tak
bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri dan penarikan diri dari sosial.

Kumpulan gejala ini merupakan syarat seseorang menderita skizofrenia menurut


PPDGJ III.
5. DIAGNOSIS BANDING
-

F 20. 3 Skizofrenia tak terinci

F20.6 Skizofrenia simpleks

F20.1 Skizofrenia hebefrenik

6. PEMBAHASAN
Pedoman menurut DSM IV
DSM-IV mempunyai kriteria diagnosis resmi dari American Psychiatric Association
untuk skizofrenia. Kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM-IV adalah:
a) Gejala karakteristik: dua (atau lebih) berikut, masing-masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan
berhasil):
1. Waham

2.
3.
4.
5.

Halusinasi
Bicara terdisorganisasi (misalnya, sering menyimpang atau inkoheren)
Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas
Gejala negatif, yaitu, pendataran afektif, alogia, atau tidak ada kemauan
(avolition)

Catatan: hanya satu gejala kriteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau atau
halusinasi terdiri dari suara yang terus-menerus mengkomentari perilaku atau pikiran
pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama lainnya.
b) Disfungsi sosial atau pekerjaan: untuk bagian waktu yang bermakna sejak onset
gangguan, satu atau lebih fungsi utama, seperti pekerjaan, hubungan interpersonal,
atau perawatan diri, adalah jelas di bawah tingkat yang dicapai sebelum onset (atau
jika onset pada masa anak-anak atau remaja, kegagalan untuk mencapai tingkat
pencapaian interpersonal, akademik, atau pekerjaan yang diharapkan).
c) Durasi: tanda gangguan menetap terus-menerus menetap selama sekurangnya 6 bulan.
Periode 6 bulan ini harus termasuk sekurangnya 1 bulan gejala (atau kurang jika
diobati dengan berhasil) yang memenuhi kriteria A (yaitu, gejala fase aktif) dan
mungkin termasuk periode gejala prodormal atau residual. Selama periode prodormal
atau residual, tanda gangguan mungkin dimanifestasikan hanya oleh gejala negatif
atau dua atau lebih gejala yang dituliskan dalam kriteria A dalam bentuk yang
diperlemah (misalnya, keyakinan yang aneh, pengalaman persepsi yang tidak lazim).
d) Penyingkiran gangguan skizoafektif dan gangguan mood: Gangguan skizoafektif dan
gangguan mood dengan ciri psikotik telah disingkirkan karena:
1. Tidak ada episode depresif berat, manik, atau campuran yang telah terjadi
bersama-sama dengan gejala fase aktif; atau
2. Jika episode mood telah terjadi selama gejala fase aktif, durasi totalnya adalah
relatif singkat dibanhdingkan durasi periode aktif dan residual.
e) Penyingkiran zat/kondisi medis umum: Gangguan tidak disebabkan oleh efek
fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang salah digunakan, suatu
medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
f) Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif: jika terdapat riwayat adanya
gangguan autistik atau gangguan perkembangan pervasif lainnya, diagnosis tambahan
skizofrenia dibuat hanya jika waham atau halusinasi yang menonjol juga ditemukan
untuk sekurangnya 1 bulan (atau kurang jika diobati secara berhasil).
Pedoman menurut PPDGJ III

Dalam PPDGJ III dijelaskan bahwa untuk menegakkan diagnosis skizofrenia harus ada
sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau lebih bila
gejala-gejala itu kurang tajam atau jelas).

1. Salah satu dari:


- thought echo : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
-

kualitasnya berbeda; atau


thought insertion or withdrawal : isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar

dirinya (withdrawal); dan


thought broadcasting : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau

umum mengetahuinya;
2. Salah satu dari:
- delusion of control : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
-

tertentu dari luar; atau


delusion of influence : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan

tertentu dari luar; atau


delusion of passivity : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang dirinya : secara jelas merujuk ke pergerakan

tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);


delusional perception : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna
sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

3. Halusinasi auditorik:
Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien,

atau
Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai suara

yang berbicara), atau


Jenis suara halusinasi lain yang berasala dari salah satu bagian tubuh
4. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap tidak
-

wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu
mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikit dua gejala ini yang harus selalu ada secara jelas:
5. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh waham
yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang
jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap, atau
apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terusmenerus;
6. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation), yang
berakibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;

7. Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu


(posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;
8. Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua
hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu

bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodormal);
Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan
(overall

quality)

dari

beberapa

aspek

perilaku

pribadi

(personal

behaviour),

bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatau, sikap
larut dalam diri sendiri (self absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Menurut saya pasien ini menderita skizofrenia tak terinci (F 20.3),
Skizofrenia tak terinci merupakan suatu tipe yang seringkali dijumpai pada
skizofrenia. Pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah dimasukkan ke dalam
salah satu tipe dimasukkan dalam tipe ini.
PPDGJ III mengklasifikasikan pasien tersebut sebagai tipe tidak terinci.
Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau


katatonik.

Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca skizofrenia.

Kriteria diagnostic menurut DSM-IV yaitu:


Suatu tipe skizofrenia di mana ditemukan gejala yang memenuhi kriteria A tetapi tidak
memenuhi kriteria untuk tipe paranoid, terdisorganisasi atau katatonik.
Kriteria Diagnostik A:

Gejala karakteristik: dua atau lebih berikut, masing masing ditemukan untuk bagian
waktu yang bermakna selama periode 1 bulan (atau kurang jika diobati dengan
berhasil):
1) Waham
2) Halusinasi
3) Bicara terdisorganisasi (misalnya sering menyimpang atau inkoheren)

4) Perilaku terdisorganisasi atau katatonik yang jelas


5) Gejala negative yaitu, pendataran afektif, alogia atau tidak ada
kemauan(avolition)
Catatan: hanya satu gejala criteria A yang diperlukan jika waham adalah kacau
atau halusinasi terdiri dari suara yang terus menerus mengkomentari perilaku
atau pikiran pasien, atau dua atau lebih suara yang saling bercakap satu sama
lainnya.
Pada pasien ini memenuhi kriteria untuk skizofrenia tetapi tidak memenuhi untuk diagnosis
skizofrenia paranoid, hebefrenik, atau katatonik. Sehingga pasien ini digolongkan dalam
skizofrenia tak terinci.
Diagnosis Banding
Skizofrenia simpleks (F 20.6)
Skizofrenia simpleks merupakan salah satu jenis dari Skizofrenia. Gangguan jiwa
jenis ini timbul pertama kali pada masa pubertas dengan gejala utama kedangkalan emosi dan
kemunduran kemauan. Diagnosis Skizofrenia simpleks sulit secara meyakinkan karena
tergantung kepada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan-lahan dan progresif
dari gejala negatif yang khas dari skizofrenia, tanpa didahului oleh riwayat halusinasi, waham
atau manifestasi lain dari episode psikotik. Disertai dengan perubahan- perubahan perilaku
pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai kehilangan minatyang mencolok, tidak
berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup dan penarikan diri secarasosial.
Prevalensinya antara laki-laki dan perempuan sama, namun menunjukkan perbedaan
dalam onset dan perjalanan penyakit. Laki-laki mempunyai onset yang lebih awal
daripada perempuan. Usia puncak onset untuk laki-laki adalah 15 sampai 25 tahun,
sedangkan perempuan 25 sampai 35 tahun.

Skizofrenia simpleks (F 20.6)

Skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena tergantung pada


pemantapan perkembangan yang berjalan berlahan dan progresif dari:
-

gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat
halusinasi waham, atau manifestasi lain dari episode psikotik dan

disertai

dengan

perubahan-perubahan

perilaku

pribadi

yang

bermakna,

bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu


tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.

Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibanding dengan sub tipe skizofrenia
lainnya.

Skizofrenia simpleks sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada
jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses
berpikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. Jenis ini
timbulnya perlahan-lahan sekali. Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang
memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin
mundur dalam pekerjaan atau pelajaran.
Skizofrenia hebefrenik / hebefrenia (F 20.1)
- Perlahan- lahan, timbul pada masa remaja (15-25 tahun)
- Gejala utama : gangguan proses berpikir, gangguan kemauan, depersonalisasi /
double personality (identifikasikan dirinya sebagai meja, dan anggap dirinya sudah
-

tidak ada lagi)


Tambahan : mannerism, neologisme, perilaku kekanaka-kanakan, waham dan
halusinasi banyak

Pada tipe ini terjadi disintegrasi emosi, dimana emosinya bersifat kekanak-kanakan,
ketolol-tololan, seringkali tertawa sendiri kemudian secara tiba-tiba menangis tersedusedu. Terjadi regresi total, dimana individu menjadi kekanak-kanakan. Individu mudah
tersinggung atau sangat irritable. Seringkali dihinggapi sarkasme (sindiran tajam) dan
menjadi marah meledak-ledak atau explosive tanpa sebab.
Pembicaraannya kacau, suka berbicara berjam-jam. Pada awal gangguan seringkali
komunikatif, tetapi lama-kelamaan komunikasinya menjadi tidak karuan (inkoheren),
yang bahkan sampai akhirnya individu tidak komunikatif. Terjadi halusinasi dan delusi
yang biasanya sifatnya fantastis, misalnya : ada vampire yang menyedot darahnya, dan
sebagainya. Cara berpikirnya kacau. Hal tersebut terlihat dari cara berbicaranya yang
tidak karuan. Tulisan/Graphis yang dibuatnya bersifat kacau, dimana terjadi regresi, yaitu
bersifat kekanak-kanakan.
Pedoman Diagnostik
-

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia.


Diagnosis heberfrenia untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja atau
dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).

Kepribadian premorbid menunjukkan ciri khas: pemalu dan sering menyendiri

Diagnosis hebefrenia perlu pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk
memastikan bahwa gambaran berikut memang benar bertahan:
-

Perilaku yang tidak bertanggung jawab, kecenderungan selalu menyendiri, dan

perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa perasaan;


Afek pasien dangkal dan tidak wajar/disertai cekikikan/perasaan puas diri/ senyum
sendiri/sikap tinggi hati/tertawa menyeringai/keluhan hipokondrikal, ungkapan

diulang-ulang
Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta inkoheren.
Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir umumnya
menonojol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya tidak menonjol
(fleeting and fragmentary delusions and hallucinations). Dorongan kehendak (drive)
dan yang bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan, sehingga
perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless)
dan tanpa maksud (empty of purpose).
Pada pasien ini memenuhi kriteria onset remaja atau dewasa muda, adanya gejala-

gejala negatif yang menonjol, pasien menyangkal adanya halusinasi maupun ilusi, waham
tidak ditemukan sehingga lebih memenuhi kriteria skizofrenia simpleks.
7. RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium, EKG, EEG, CT Scan)
Tidak perlu dilakukan karena pasien tidak menunjukkan gejala-gejala patologik pada
organ.

8. DIAGNOSIS
AKSIS I (Gangguan jiwa, kondisi yang menjadi fokus perhatian)
F20.3 Skizofrenia Tak Terinci dengan gejala ekstrapiramidal
AKSIS II (Gangguan kepribadian, retardasi mental)
F60.1 Gangguan Kepribadian Skizoid
AKSIS III (Kondisi Medik Umum)

Tidak ada
AKSIS IV (Stressor Psikososial)
Masalah Pendidikan
AKSIS V (Fungsi Sosial)
GAF 70-61 Beberapa gejala ringan dan menetap, diabilitas ringan dalam fungsi,
secara umum masih baik
9. RENCANA TERAPI/PENATALAKSANAAN
Farmakoterapi
Risperidone 2 x 2 mg
THP 2 x 2 mg
Psikoterapi
o Terapi keluarga
Peran keluarga dalam perawatan pasien skizofrenia, memberikan pendidikan dan
informasi tentang skizofrenia pada keluarga pasien (misalkan tanda-tanda awal dari
kekambuhan, peran pengobatan, dan efek samping obat yang diberikan). Terapi ini
juga untuk mencegah munculnya ekspresi emosi yang meningkat dari pasien.
o Terapi kelompok
Terapi kelompok biasanya memusatkan pada rencana, masalah, dan hubungan dalam
kehidupan nyata. Terapi kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial dan
meningkatkan rasa persatuan. Pasien dengan gejala negative, meskipun mereka
tampak tidak berpartisipasi aktif tapi biasanya mereka tetap mendengarkan.
10. PROGNOSIS
Indikator

Pada Pasien

Prognosis

FAKTOR PREMORBID

1.

Introvert

Jelek

Faktor kepribadian

Ada

Jelek

2.

Demokratis

Baik

Faktor genetik

Tidak ada

Baik

3.

Ada

Baik

Pola asuh

Ekonomi cukup

Baik

4.

Ada

Baik

Faktor organik

Belum menikah

Jelek

5.

Rutin

Baik

10.

Remaja

Jelek

Onset usia

Kronik

Jelek

Dukungan keluarga
6.
Sosioekonomi
7.
Faktor pencetus
8.
Status perkawinan
9.
Kegiatan spiritual

FAKTOR

11.
Skizofrenia
Kesimpulan prognosis: Dubia ad malam

Jelek

11. RENCANA FOLLOW UP


Memantau keadaan umum pasien dan perkembangan penyakitnya serta efektivitas obat,
dan kemungkinan munculnya efek samping dari terapi yang diberikan.
Memastikan pasien mendapat psikoterapi keluarga dan kelompok.