Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kematian pada meja operasi bisa disebabkan oleh tiga hal yaitu anestesi dan cara

pelaksanaannya, kesalahan pembedahan, dan penyakit alami yang diderita oleh pasien.1
Dilaporkan bahwa kejadian kematian pada waktu atau segera setelah operasi rata-rata
0,2% -0,6 % dari operasi dan kematian disebabkan oleh anestesi hanya 0,03%-0,1% dari
seluruh anestesi yang diberikan. Pada penelitian lain, kebanyakan kematian (18 dari 27)
tampak secara langsung berkaitan dengan pembiusan, mayoritas dimana (13 dari 18) adalah
berkaitan dengan pembiusan umum. Kesalahan manusia atau inkompetensi adalah unsur
kematian yang utama, dibanding ketiadaan peralatan atau fasilitas. Kebanyakan kematian
terjadi pada tingkat 1 atau 2 rumah sakit dimana praktisi medis yang ditempatkan pada
pembiusan untuk kebidanan tidak dibekali oleh pelatihan khusus.1
Komplikasi dan kematian akibat pembedahan menjadi salah satu masalah kesehatan
global. World Health Organization (WHO) memperikirakan sedikitnya ada setengah juta
kematian akibat pembedahan yang sebenarnya bisa dicegah. Di Inggris dan Walles, National
Patient Safety Agency (NPSA) melaporkan 127.419 insiden terkait pembedahan pada tahun
2007 di negara bagian Minnesota AS yang hanya berpopulasi kurang dari 2% dari total
populasi AS dilaporkan terjadi 21 operasi pada sisi yang salah hanya dalam 1 tahun. 2
WHO menyatakan bahwa lebih dari 234 juta prosedur operasi besar dilakukan di
seluruh dunia setiap tahunnya. Penelitian membuktikan di Negara berkembang tingkat
kematian disebabkan karena operasi mayor adalah 5-10 %, dan tingkat kematian dikarenakan
obat bius dilaporkan tinggi. Infeksi dan komplikasi pada pasca operasi lainnya juga menjadi
perhatian diseluruh dunia. 3
1.2.

Batasan Masalah
Referat ini membahas tentang mekanisme kematian akibat anestesi dan pembedahan

serta aspek medikolegal terkait.


1.3.
Tujuan Penulisan
Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang berbagai
penyebab kematian akibat anestesi dan pembedahan serta aspek hukumnya..
1.4.
Metode Penulisan
Referat ini menggunakan metode tinjauan kepustakaan yang merujuk ke berbagai
literatur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Mekanisme Kematian Akibat Anestesi


Kematian yang dihubungkan dengan anestesi dijelaskan pada Health Professions Act
bagian 56 tahun 1974, dimana dinyatakan bahwa "kematian seseorang selagi berada di bawah
pengaruh suatu pembiusan umum atau bius lokal, atau dimana masuknya suatu obat anestesi
menjadi suatu penyebab, tidak seharusnya dianggap sebagai penyebab alami suatu kematian.
Kematian tersebut mungkin berlangsung pada suatu titik dalam rentang waktu berjam-jam,
berminggu-minggu atau berbulan-bulan dari hilangnya efek obat-obatan anestesi.4
Kebanyakan dokter sebelumnya menggunakan definisi 24 jam yang berarti jika
suatu kematian terjadi dalam waktu 24 jam setelah pengaruh anestesi, maka akan dianggap
sebagai kematian yang tidak wajar. Padahal, secara teknis, jika kematian terjadi dalam
beberapa jam meskipun setelah anestesi diakhiri, dan di sana tidak ada hubungan penyebab
dengan obat anestesi yang dipakai, seharusnya tidak dapat dihubungkan sebagai suatu
kematian akibat anestesi lagi.2,4
Penelitian terbaru yang diselenggarakan oleh Lunn dan Mushin dari Asosiasi
Anestesiologis menyatakan bahwa walaupun 1 dari setiap 166 pasien meninggal dalam 6 hari
dari operasi pembedahan, hanya 1 dari 10.000 yang meninggal semata-mata sebagai
konsekuensi dari anestesi. Kontribusi anestesi untuk (tapi bukan penyebab total) kematian
adalah 1 pada setiap 1700 pasien, dimana banyak kematian-kematian ini berpotensi untuk
dihindari.2
Menurut laporan dari Australian and New Zealand College of Anaesthetists tahun
2003 - 2005, faktor penyebab tersering pada kematian yang dihubungkan dengan anestesi
adalah teknik anestesi seperti pemilihan dan penerapan teknik, upaya mempertahankan jalan
napas, ventilasi, dan alat pendukung sirkulasi, kemudian disusul dengan hal hal terkait obat
obat anestesi.5
Pada penelitian lain di Bispebjerg Hospital, Denmark, ditambahkan bahwa penyebab
lain dari kematian akibat anestesi termasuk hipertermia malignant. Reaksi transfusi juga
memberikan kontribusi sebagai salah satu penyebab kematian akibat anestesi.6
2.1.1

Obat-obatan
Aksi dari anestesi umum mengakibatkan terjadinya depresi cerebral secara progresif.

Pada awalnya, dapat terjadi rangsangan (excitement), mania, atau halusinasi. Adriani
mengkategorikan stadium anestesi sebagai berikut :
a. Stadium 1

: Analgesia. Akibat dari depresi tertinggi pusat korteks.

b. Stadium 2

: Delirium atau rangsangan (excitement). Akibat dari depresi pusat

korteks motorik.
c. Stadium 3

:Anestesi Surgikal. Pusat-pusat otonom berada di bawahnya namun


dilepaskan dengan kontrol dari korteks.
Cara kerja obat anestesi menghasilkan sebagai berikut:

i. Hasil pertama : Refleks-refleks spinal menghilang.


ii. Hasil kedua

: Tonus otot menurun.

iii. Hasil ketiga

: Respirasi regular, abdominal, bola mata kembali ke tengah


dan otot perut relaksasi.

iv. Hasil keempat

: Kehilangan secara penuh tonus otot dan refleks-refleks.

4. Stadium 4 : Overdosis. Ditandai dengan paralisis otot dada, pulsus cepat dan pupil
dilatasi.
5. Kematian.
Pada otopsi, seorang pengamat yang cermat mungkin tidak akan mengalami
kesalahan dalam mengidentifikasi bau dari agen anestesi. Perubahan pada organ-organ akan
menunjukkan tanda hipoksia. Udara pada alveoli harus dikumpulkan dengan spuit dengan
pungsi pulmonari sebelum dada dibuka. Darah dikumpulkan dan dicampur dengan minyak,
kemudian paru-paru dan otak disimpan dan dibekukan dengan segera. Kromatografi dengan
tabungnya akan dapat mengukur jumlah gas anestesinya. Sebab kematiannya biasanya sangat
kompleks kecuali bila terjadi overdosis oleh satu agen anestesi.
Anestesi bertujuan untuk mendapatkan level ketidaksadaran yang ringan dengan
barbiturat dan obat hipnotik lain disertai dengan inhalasi dari nitrous oksida dan oksigen
dengan penambahan sedikit agen cair seperti halotan. Relaksasi otot didapatkan dengan
menggunakan obat anestesi relaksan dan obat ini terutama digunakan untuk relaksasi otot
selama operasi dalam pengaruh anestesi umum.
Agen ini terutama digunakan untuk relaksasi muskuler selama operasi dalam
pengaruh anestesi umum. Ia juga diberikan untuk mengatasi spasme otot oleh karena tetanus
dan untuk mengurangi resiko fraktur selama terapi elektrokonvulsif. Relaksan otot biasa
digunakan pada anestesi untuk mencapai efeknya dengan bersaing dengan asetilkolin pada
motor and plate sebagai contoh galamin, pancuroriumbromida dan tubocurarin atau dengan
depolarisasi secara persisten pada motor and plate dan membuat motor and plate tidak bisa
dieksitasi oleh acetil kolin, sebagai contoh sukinil kolin dan dekametonium iodida.
Transmisi neuromuskular yang normal tergantung pada pelepasan asetil kolin yang
mengantarkan stimulus ke otot yang selanjutnya dinetralkan oleh enzim kolinesterase yang

normalnya terdapat dalam jumlah yang banyak. Jika netralisasi tidak terjadi menyebabkan
akumulasi asetil kolin secara permanen menyebabkan depolarisasi pada motor dan plate.
Sehingga mencegah akses impuls dan menyebabkan paralisis.
Agen yang bekerja secara kompetitif memblok asetil kolin, galamin dan tubocurarin,
secara antagonis terhadap aksi dari asetil kolin, sedangkan suksinil kolin bekerja dengan cara
yang sama, seperti akumulasi asetil kolin dan hidrolisisnya bergantung pada adanya
kolinesterase walaupun hidrolisisnya lebih lambat.
Walaupun kedua tipe relaksan tersebut secara farmakologi berbeda tetapi efeknya
pada otot volunter sama. Pada dosis kecil dua agen itu menghasilkan reduksi pada tonus otot
dan pada dosis yang besar dapat menyebabkan paralisis total termasuk paralysis pada otot
pernapasan. Pada anestesi kombinasi antara barbiturat dengan relaksan otot secara bersamasama dengan ventilasi tekanan positif memiliki durasi yang pendek dengan suksinil kolin,
agen ini biasa digunakan untuk memfasilitasi intubasi endotrakea selanjutnya diberikan
tubocurarin untuk dosis pemeliharaan selama prosedur pembedahan.
Ganglion blocking agent bekerja dengan cara bersaing dengan asetil kolin. Overdosis
bisa diterapi dengan neostigmin yang membiarkan akumulasi asetil kolin pada neuro
muscular junction. Tapi tidak ada antagonis untuk relaksan yang bekerja dengan depolarisasi
dan over dosis dengan agen ini dan perlu terapi respiratori artifisal dalam jangka waktu yang
lama. Paralisis yang lama lebih sering terjadi pada penggunaan dua tipe relaksan secara
berturut-turut terutama jika agen yang bekerja dengan memblok diberikan pertama
dibandingkan dengan penggunaan satu tipe relaksan. Paralisis yang lama lebih sering terjadi
jika diberikn dosis suksinil kolin yang berulang dalam periode waktu tertentu atau jika subjek
memiliki kadar kolinesterase dalam darah memang rendah secara natural.7
Peledakan alami dari gas-gas anestesi sering terjadi. Suatu sumber memperlihatkan
daftar tentang peledakan yang menimbulkan kebakaran, listrik, elektrik statik dan bermacammacam. Kegagalan peralatan atau kesalahan label oksigen dan gas-gas anestesi mungkin
tidak terdeteksi untuk berbulan-bulan dan mungkin tidak teridentifikasi sebagai penyebab
kematian. Beberapa agen-agen anestesi, meliputi cyclopropane, diethyl ether, divinyl ether,
dan ethylene akan terbakar jika bercampur dengan udara, dan secara general akan meledak
dengan hebat jika bercampur dengan oksigen. Oleh karena itu, api dan masalah-masalah
keamanan elektrik adalah hal terpenting dalam keamanan ruang operasi.7,8
Kematian karena komplikasi anestesi lokal juga akibat reaksi alergi dari agen atau
overdosis obat anestesi. Reaksi-reaksi alergi sangat jarang terjadi. Pada umumnya terjadi
overdosis langsung atau tanpa sengaja terjadi injeksi intravaskuler atau intrathecal agen
4

anestesi. Kebanyakan anestesi lokal merupakan kardiotoksik dan hal seperti itu dapat
menyebabkan aritmia jantung yang fatal. Epinefrin biasanya ditambahkan pada anestesi lokal.
Jika anestesi lokal diinjeksi secara intravaskuler, epinefrin dapat berpotensi menyebabkan
efek toksik dari agen anestesi pada miokardium.9
Penggunaan obat-obatan dalam bidang anestesi yang modern dapat memerankan arti
penting untuk sebuah insidens, contohnya overdosis barbiturat secara intravena atau kolaps
setelah menggunakan obat tersebut. Sampai awal 1970-an, barbiturat merupakan obat yang
sering menyebabkan overdosis. Kecuali untuk fenobarbital yang digunakan dalam
pengobatan epilepsi, obat ini jarang dihadapi oleh ahli patologi forensik. Barbiturat tentu saja
salah satu obat yang menyebabkan depresi SSP.10
Gagal jantung telah dihubungkan dengan penggunaan trichloroethylen. Penggunaan
halotan yang aman telah menjadi subjek pada beberapa laporan dan terbukti bahwa obat ini
dapat menyebabkan nekrosis hati dan akhir-akhir ini, halotan dilaporkan dapat menyebabkan
hiperpireksia malignan/ ganas. Tygstrup menemukan hubungan antara halotan dan nekrosis
hati, tetapi berdasarkan pengalaman Muschin dkk menunjukkan bahwa setelah penggunaan
halotan dapat menyebabkan hepatitis, biasanya setelah berulang kali terpapar dengan obat
anestesi ini.
Penggunaan halotan sendiri atau bersama dengan suxamethonium saat ini diketahui
dapat menimbulkan komplikasi anestesi seperti hiperpireksia malignan. Karakteristik
hiperpereksia malignan ini tidak hanya berupa kenaikan suhu ke level yang berbahaya,
meskipun mencapai 110 derajat farenheit tapi juga takikardi, hiperpnoea, sianosis dan kaku
pada otot. Kondisi ini yang menyebabkan tingginya angka kematian pada kebanyakan pasien.
Yang harus dipikirkan pertama kali adalah reaksi dari suxamethonium tapi ternyata hanya
mengobservasi penggunaan halotan. Hal ini tampaknya terjadi secara genetik dan terjadi pada
keluarga yang mempunyai subklinis penyakit miopati dan nilai serum kreatinin fosfokinase
yang tinggi.7
Anestesi dengan nitrat oksida jarang yang fatal dan bila terjadi kematian
kemungkinan berhubungan dengan penggunaan yang tidak berpengalaman atau tidak efisien.
Penggunaan atropin dapat menyebabkan hiperpireksia oleh karena mekanisme regulasi panas.
Menurut penelitian Makintosh dkk., kesalahan penggunaan adrenalin untuk kokain
menyebabkan 2 kematian mendadak. Makintosh mempertimbangkan kematian ini terhadap
penggunaan kokain pada lokal anestesi bukan langkah penting untuk produksi vasokostriksi
dan kombinasi kedunya ini meningkatkan toksisitas adrenalin dan kokain. Makintosh juga
memusatkan perhatiannya untuk membedakan antara 2 % kokain dalam adrenalin dan 2 %
5

kokain dengan adrenalin. Makintosh meragukan eksistensi sensitivitas kokain, menurut


percobaannya kecelakaan-kecelakaan tersebut berhubungan dengan overdosis atau kombinasi
dengan adrenalin.10.11
2.1.2 Malignant Hyperthermia
Istilah Malignant hyperthermia pertama kali diperkenalkan oleh Denborough &
Lovell dalam sebuah artikel Anaesthetic Deaths in a family (Lancet, 1960). Hipertermi
maligna adalah suatu kondisi hipermetabolik akut otot skelet yang abnormal akibat terpapar
anestesi inhalasi

seperti volatil dan atau pelumpuh otot golongan depolarisasi

(succinilcholine). Pada gangguan ini, agen pencetus meningkatkan jumlah mioplasmik Ca2+
sehingga meningkatkan suhu tubuh dan rigiditas otot.
Pada seseorang dengan hipertermi maligna, terdapat abnormalitas pada reseptor
ryanodine otot skeletal, dan abnormalitas ini mengganggu regulasi kalsium di otot. Suatu
reseptor ryanodine abnormal yang mengontrol pengeluraran kalsium mengakibatkan
tingginya jumlah kalsium di otot rangka sehingga menghasilkan reaksi metabolik yang masif.
Manifestasi klinisnya berupa hiperkarbi, takikardi, takipneu, peningkatan suhu tubuh,
rigiditas otot skelet, aritmi, asidosis metabolik, hirpertensi, hipoksemi, dan hiperkalemi.
Hipertermi maligna jarang terjadi namun berakibat fatal.
2.1.3

Kecelakaan Teknik
Pemberian darah yang tidak cocok sekarang jarang terjadi. Abduksi abnormal dari

lengan selama transfusi dapat menimbulkan paralisis brachial, seakan-akan hanya normal
sementara. Kecelakaan ini berhubungan dengan tindakan pengadilan pemerintah pada tahun
1953. Infus cairan yang salah juga sering terjadi. Pasien meninggal ketika ia salah menerima
sodium sitrat padahal seharusnya mendapatkan normal saline. Kesalahan ini sebagian besar
dikarenakan warna dari kedua cairan, terisi dalam botol yang mirip, dengan label yang sama,
juga dalam lemari penyimpanan yang sama. Kesalahan terjadi setelah gagal memeriksa label,
dan salah menyuntikan untuk keperluan anestesi lokal.
Dokter anestesi sendiri seharusnya memeriksa udara yang keluar atau swab yang
digunakan apakah berlebihan dan kurang hati-hati dalam pernafasan. Mereka seharusnya
merancang dan mengontrol selang atau alat-alat dengan benar. Dahulu, jarang terjadi ledakan
diruang operasi selama anestesi.
2.1.3.1 Ventilasi

Kesalahan ventilasi merupakan salah satu penyebab dari kematian terkait anestesi.
Ventilasi mekanik adalah suatu terapi penting yang bersifat life saving terutama untuk pasien
pasien dengan kondisi kritis. Beberapa penelitian memperkirakan bahwa lebih dari 300.000
pasien mendapatkan bantuan ventilator di AS setiap tahun.12,13
Pada bulan Januari 2002, Joint Comission di AS melaporkan 23 kasus kematian atau
perlukaan yang dihubungkan dengan penggunaan ventilator jangka panjang. Dari 23 kasus,
sebanyak 65% berkaitan dengan malfungsi atau kesalahan dalam penggunaan alarm atau
tidak adekuatnya alarm tersebut, 52% berhubungan dengan tidak terhubungnya selang, dan
26% berhubungan dengan pencabutan endotrakeal tube (ETT).14
Persentase kecil dilaporkan pada beberapa kasus yang berhubungan dengan kesalahan
dalam penyambungan selang atau pengaturan ventilator. Tidak ada satupun kasus dari laporan
Join Comission tersebut yang berhubungan dengan malfungsi dari ventilator. Berdasarkan
laporan tersebut diketahui bahwa kematian ataupun perlukaan yang berhubungan dengan
ventilator sering kali dikaitkan dengan kegagalan multiple yang berjung pada outcome
negatif.14
Intubasi esophagus bukannya tidak sering terjadi, tetapi kegagalan untuk mengenali
situasi dan mengganti selang sering terjadi. Ahli anestesi menyatakan bahwa mereka yakin
ETT telah terpasang dengan benar karena mereka telah melihatnya masuk melalui pita suara.
Intubasi esophageal adalah penyebab utama dari morbiditas dan mortalitas, bahkan untuk
anestesi yang sudah berpengalaman pun pernah gagal dalam mendeteksi intubasi esophageal.
Akan tetapi, kegagalan tersebut dapat dihindari dengan memperhatikan detail secara
seksama.15
2.1.3.2 Reaksi Transfusi
Seorang dokter anestesi bertanggung jawab untuk menentukan apakah seseorang
membutuhkan transfusi darah selama oerasi berlangsung. Setiap tahun, minimal 1.500
kematian yang disebabkan oleh transfuse darah terjadi di AS. Di 195 rumah sakit di Inggris
diketahui 480 kejadian, dengan mayoritas 75% pasien mengalami transfuse dengan
komponen darah yang tidak sesuai, atau bahkan tertukar dengan pasien lainnya. Dokter
anestesi sudah seharusnya mengetahui riwayat alergi dari pasien untuk mencegah munculnya
reaksi transfusi tersebut.17
Reaksi transfusi adalah semua kejadian ikutan yang terjadi karena transfusi darah.
Reaksi transfuse terbagi dua, cepat (early) dan lambat (late).
a. Reaksi akut

Reaksi akut biasanya terjadi pada 1-2 jam setelah transfuse selesai. Pasien harus
diawasi dengan ketat selama dan sesudah transfuse untuk menilai dan mengidentifikasi tanda
dan gejala reaksi yang segera terjadi. Kebanyakan reaksi transfuse tipe ini bisa dicegah dan
disebabkan oleh pemberian yang kurang tepat, kegagalan mengikuti standar operasi, atau
kurangnya pengetahuan tentang prosedur atau dampak terapi.
Reaksi akut mencakup komplikasi yang mengancam nyawa seperti :
i.
Reaksi transfusi hemolitik akut
ii.
Unit transfusi yang terkontaminasi bakteri
iii.
Reaksi alergi berat atau anafilaksis
b.
Reaksi lambat
Komplikasi ini terjadi setelah lebih dari 24 jam transfusi. Reaksi ini mencakup reaksi
graft-vs-host disease, kelebihan zat besi (setelah transfuse kronik), transmisi infeksi, dan
sebagainya.
Suatu transfusi masif didefinisikan sebagai penggantian volume total darah pasien
dalam waktu kurang dari 24 jam. Transfusi masif sel darah merah dapat mengakibatkan
koagulopati delusional, karena plasma yang direduksi pada sel darah merah tersebut tidak
mengandung faktor koagulasi ataupun trombosit. Kemudian, perdarahan sebagai konsekuensi
dari perfusi lambat atau inadekuat, dapat mengakibatkan koagulasi intravascular diseminata.18
2.2. Kematian Akibat Pembedahan
Sebuah kematian yang disebabkan oleh kecelakaan terapi didefinisikan sebagai
kematian yang timbul dari sebuah cedera medis terkait perawatan atau efek samping selama
atau segera mengikuti prosedur medis atau pengobatan dan yang bukan merupakan
konsekuensi dari kecacatan atau kondisi medis sebelumnya, efek samping, atau komplikasi
alami dari prosedur atau pengobatan. Kecelakaan terapi termasuk manipulasi mekanik untuk
diagnosis atau perawatan di bawah standar prosedur medis, ketidaksesuaian dosis obat atau
administrasi, penggunaan peralatan medis yang salah, dan penggunaan yang tidak sesuai,
peralatan medis yang rusak. Penyakit iatrogenik didefinisikan sebagai setiap penyakit yang
dihasilkan dari prosedur medis atau pengobatan.
Untuk seorang ahli patologi berbasis rumah sakit yang berhadapan dengan kematian
yang disebabkan oleh kecelakaan terapi, berpotensi menimbulkan konflik kematian yang
terjadi di rumah sakit patologis. Sebuah otopsi mungkin perlu dilakukan dalam fasilitas lain.
Jika hal ini tidak memungkinkan, keluarga harus setuju bahwa investigasi independen
menyeluruh akan diawasi oleh pemeriksa medis. Sebuah otopsi lengkap, termasuk
pemeriksaan mikroskopis dan penelitian tambahan lainnya yang dibutuhkan.

Dalam kasus kematian akibat anestesi/bedah, penentuan penyebab kematian harus


mempertimbangkan tidak hanya sifat operasi dan komplikasi potensial, tetapi juga penyakit
yang mendasari yang bisa berkontribusi pada kematian pasien. Kontribusi dari komplikasi
iatrogenik yang timbul selama operasi untuk menyebabkan kematian ditafsirkan dalam
konteks apakah operasi itu elektif atau dilakukan untuk kondisi yang mengancam jiwa.
Sebuah studi dari pasien rawat inap di negara bagian New York menunjukkan bahwa 3,7 %
rawat inap mengalami peristiwa yang merugikan. Sekitar seperempat disebabkan oleh
kelalaian. Dari 815 pasien yang dirawat di pelayanan kesehatan di rumah sakit pendidikan, 36
% memiliki penyakit iatrogenik. Pada 9% insiden, mengancam nyawa atau menyebabkan
cacat. Dalam 2% kasus, pasien meninggal. Kategori terbesar adalah terkait masalah
pengobatan. Namun, persentase tertinggi dari komplikasi serius disebabkan oleh diagnostik
dan prosedur terapi. Kateterisasi jantung adalah yang paling umum.
Serangkaian kematian di Pennsylvania, diklasifikasikan sebagai kesalahan terapi,
menunjukkan bahwa sekitar tiga-perempat dihasilkan dari perawatan dan sisanya muncul dari
prosedur diagnostik. Sekitar setengah dari traumatis yang terjadi secara alami (paling sering
mengakibatkan perdarahan dari insersi kateter), 17,5% dari keracunan obat, sekitar 13%
karena anafilaksis (antibiotik, bahan kontras radiografi), dan persentase yang sama dari
obstruksi jalan napas (masalah trakeostomi). Lebih dari 90% terjadi di rumah sakit, dan
rumah sakit universitas yang berafiliasi memiliki hampir dua kali lipat tingkat komplikasi
dibanding lembaga lainnya. Pemberitahuan mengenai penyelidikan medikolegal diprakarsai
oleh ahli patologi dalam beberapa kasus. Empat puluh empat kasus diklasifikasikan sebagai
kecelakaan terapi, yang terdiri dari 0,46% kematian dilaporkan ke Kantor Pemeriksa di
Dayton, OH, memiliki laporan sebagai berikut :
1. Operasi, 36% (paling umum: intraoperatif vaskular atau trauma visceral dengan

perdarahan yang fatal, penyebab lain: penghentian kardiorespirasi, komplikasi


trakeostomi, emboli udara, resiko pembedahan pada penyakit alami yang berat,
koagulopati, aspirasi darah)
2. Komplikasi anestesi, 30% (paling umum: reaksi akut dengan henti kardiorespirasi

selama induksi; penyebab lainnya : aspirasi selama induksi, henti napas selama
prosedur atau periode pasca operasi, kegagalan hati, overdosis)
3. Prosedur terapi, 18% (kebanyakan perforasi viskus, serangan jantung setelah terapi

electroconvulsive, penyebab lainnya : cairan dialisis yang tidak benar, terapi vaskular
overload aspirasi darah, laserasi pembuluh darah)

4. Prosedur diagnostik, 14% (paling umum: laserasi pembuluh darah atau jantung atau

penyebab lain: reaksi akut media kontras intravena, intraesophageal instalasi bahan
kaustik, kecelakaan pembuluh darah otak, emboli udara)
5. Reaksi obat (alergi penisilin), 2%.
2.2.1 Komplikasi Pembedahan yang Mengakibatkan Kematian
1. Emboli udara
Emboli udara adalah risiko di mana jalur utama dimasukkannya alat di leher dan dada
pada prosedur bedah saraf atau pada kasus pneumotoraks. Alat disisipkan dengan posisi
horisontal atau dalam posisi kepala miring ke bawah. Perkiraan jumlah udara yang cukup
untuk menyebabkan kematian dari emboli udara vena bervariasi 10-480 mL. Volume besar
ditoleransi, jika terjadi secara perlahan-lahan ke dalam sirkulasi. Udara di ventrikel kanan
menghalangi aliran darah ke paru-paru, sehingga berakibat menjadi gagal jantung. Udara
dapat masuk kedalam pembuluh darah selama penyisipan alat. Udara dalam sirkulasi vena
dapat mencapai sirkulasi sistemik dengan baik melalui interatrial/interventriculare shunt atau
melalui dasar kapiler transpulmonal.
Ciri-ciri eksternal emboli udara postmortem :
a. Sianosis wajah dan leher.
b. Cairan bercampur darah yang mengalir dari hidung dan mulut karena meningkatnya
c.
d.
e.
f.

tekanan pembuluh vena


Kelopak mata melepuh
Penonjolan lidah
teraba emfisema subkutan
Petechiae menyeluruh

Ciri-ciri internal emboli udara postmortem meliputi :


a.
b.
c.
d.

Aspirasi udara pada sisi kanan jantung


Udara terdapat di ventrikel kiri
Gelembung udara jelas dalam pembuluh darah (misalnya : pada vena koroner)
Pemeriksaan mikroskopis dari paru-paru dapat menunjukkan ruang intravaskular jelas

dikelilingi oleh leukosit dan trombosit.


2. Hidrotoraks, hidroperikardium, hydromediastinum, chylothorax, hemothoraks (penetrasi
jantung atau pembuluh darah utama), pneumotoraks (penusukan pada subklavia).
a. Pencapainan vena sentral kiri dikaitkan dengan kerusakan pada saluran toraks
b. Penyisipan alat dapat menembus pembuluh darah besar, hati, atau cabang arteri
pulmonalis, yang menyebabkan kebocoran cairan dan darah ke dalam mediastinum,
pleura, atau rongga perikardial. Arteri besar pada leher mungkin secara tidak sengaja
dapat tertusuk ketika alat dimasukkan.

10

c. Pneumotoraks adalah komplikasi yang paling umum karena kedekatan puncak paruparu ke vena subklavia.
3.
Retensi fragmen kateter.
Penyebab paling umum adalah pergeseran pipa oleh jarum yang tajam (iatrogenik yang
disebabkan oleh pasien). Hal ini kemudian dapat menyebabkan perforasi miokard, emboli
4.

paru. dan trombosis dengan infark.


Komplikasi akibat kuretase yang meliputi31 :
a. Perdarahan karena :
i. Evakuasi tidak lengkap hasil konsepsi dan akibat atonia uteri
ii. Involusi uterus atau tempat plasenta tidak lengkap
iii. Laserasi atau perforasi uterus
b. Infeksi : endometritis, parametritis, peritonitis dan abses pelvis dikarenakan alat yang
tidak steril
c. Perforasi uterus : sebagian besar cedera disebabkan oleh dilatator serviks dan
biasanya mengenai isthmus. Kadang-kadang cedera fundus dapat terjadi, meskipun
banyak perforasi bersifat asimptomatik, namun kemungkinan perdarahan
intraabdomen, laserasi arteri uterina dengan hematoma ligamentum latum, atau
kerusakan omentum atau usus halus dipertimbangkan

5.

Perforasi kandung kemih


Perforasi kandung kemih menyebabkan ekstravasasi cairan irigasi bersama urin yang
menyebabkan sepsis. Perforasi bisa terjadi pada saat32:
a. Akhir reseksi yang dalam dari kapsul prostat
b. Selama fulgurasi tumor kandung kemih
c. Insersi rectoscope ke dalam trabekulae yang berdinding tipis
d. Stimulasi nervus obturatorius atau spasme muskulus obturatorius

2.3 Aspek Medikolegal


Health Professions Act (1974) membuat ketetapan untuk "kematian akibat anestesi"
pada Bagian 56 yang menjelaskan: "Kematian seseorang selagi di bawah pengaruh suatu
pembiusan umum atau obat anestesi lokal, atau dimana administratif dari suatu obat anestesi
menjadi suatu penyebab, tidak akan dianggap sebagai penyebab alamiah kematian
sebagaimana tertera pada Inquests Act (1959) atau Registration of Births and Deaths Act
(1992).2
"Kematian akibat anestesi" digambarkan seperti pada paragraf di atas. Catatan bahwa
kematian seperti itu mungkin berlangsung pada suatu titik dalam rentang waktu berjam-jam,
11

berminggu-minggu atau berbulan-bulan dari hilangnya administratif obat-obatan anestesi.


Satu-satunya faktor penentu mengenai hal ini adalah hubungan penyebab antara administratif
obat-obat anestesi dan kematian tersebut. Secara teknis, jika kematian terjadi dalam beberapa
jam meskipun setelah anestesi diakhiri, dan di sana tidak ada hubungan penyebab dengan
obat anestesi yang dipakai, seharusnya tidak dapat dihubungkan sebagai suatu kematian
akibat anestesi lagi.2
Dasar hukum kelalaian medik dinyatakan dalam hukum sebagai berikut :
1. Pasal 1365 KUH Perdata : tiap perbuatan melanggar hukum, yang membawa kerugian
kepada seorang lain, mewajibkan orang yang karena salahnya menerbitkan kerugian itu,
mengganti kerugian tersebut.
2. Pasal 1366 KUH Perdata : setiap orang bertanggung-jawab tidak saja untuk kerugian
yang disebabkan perbuatannya, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan kelalaian atau
kurang hati-hatiannya
3. Pasal 1367 KUH Perdata : seorang tidak saja bertanggungjawab untuk kerugian yang
disebabkan perbuatannya sendiri, tetapi juga untuk kerugian yang disebabkan perbuatan
orang-orang yang menjadi tanggungannya atau disebabkan oleh barang-barang yang
berada di bawah pengawasannya.
4. Pasal 1370 KUH Perdata : Dalam halnya suatu kematian dengan sengaja atau karena
kurang hati-hatinya seorang, maka suami atau isteri yang ditinggalkan, anak atau orang
tua si korban yang lazimnya mendapat nafkah dari pekerjaan si korban mempunyai hak
menuntut suatu ganti rugi, yang harus dinilai menurut kedudukan dan kekayaan kedua
belah pihak, serta menurut keadaan.
5. Pasal 1371 KUH Perdata : Penyebab luka atau cacatnya sesuatu anggota badan dengan
sengaja atau karena kurang hati-hati memberikan hak kepada si korban untuk selain
penggantian biaya-biaya penyembuhan, menuntut penggantian kerugian yang disebabkan
oleh luka atau cacat tersebut. Juga penggantian kerugian ini dinilai menurut kedudukan
dan kemampuan kedua belah pihak, dan menurut keadaan.
Di bidang pidana juga ditemukan pasal-pasal yang menyangkut kelalaian, yaitu :
1. Pasal 359 KUHP : Barangsiapa karena kesalahannya (kelalaiannya) menyebabkan orang
lainmati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan
paling lama satu tahun.

12

2. Pasal 360 KUHP : (1) Barangsiapa karena kesalahannya (kelalaiannya) menyebabkan


orang lain mendapat luka-luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun. (2) Barangsiapa karena kesalahannya
(kelalaiannya) menyebabkan orang lain luka-luka sedemikian rupa sehingga timbul
penyakit atau halangan menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian selama waktu
tertentu, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana
kurungan paling lama enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus
rupiah.
3. Pasal 361 KUHP : Jika kejahatan yang diterangkan dalam bab ini dilakukan dalam
menjalankan suatu jabatan atau pencarian, maka pidana ditambah dengan sepertiga dan
yang bersalah dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian dalam mana dilakukan
kejahatan, dan hakim dapat memerintahkan supaya putusannya diumumkan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kematian yang dinyatakan akibat dari anestesi ialah bila kematian seseorang selagi di
bawah pengaruh suatu pembiusan umum atau bius lokal, dimana kematian tersebut mungkin
berlangsung pada suatu titik dalam rentang waktu berjam-jam, berminggu-minggu atau
berbulan-bulan dari hilangnya efek obat-obatan anestesi.
Tingkatan kerja obat anestesi meliputi lima tahap, dimana tahap pertama obat akan
menyebabkan analgesia, dan pada tahap akhir dimana obat anestesi menyebabkan kematian.

13

Salah satu kecelakaan teknik yang juga bisa menyebabkan kematian ialah ketika
seseorang mendapatkan infuse yang salah. Selain itu kesalahan ventilasi juga bisa berujung
dengan kematian terutama pada pasien yang kritis.
Dalam kasus kematian akibat anestesi/bedah, penentuan penyebab kematian harus
mempertimbangkan tidak hanya sifat operasi dan kompilkasi potensial, tetapi juga penyakit
yang mendasari yang berkontribusi pada kematian pasien. Beberapa komplikasi pembedahan
yang mengakibatkan kematian seperti emboli paru, perforasi, hidrotoraks, thrombosis dan
lain-lain.
Pada kasus kelalaian medis yang merugikan orang lain sangat jelas di atur dalam pasal
KUHP.
3.2 Saran
Berdasarkan dengan kesimpulan di atas maka penulis member saran agar:
1. Mengingat setiap perbuatan bisa saja berakibat fatal, walaupun itu sebuah kesalahan
kecil maka Dokter serta seluruh tenaga medis haruslah bekerja dengan sangat hati-hati.
2. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh tenaga medis selain bisa berakibat fatal untuk
pasien, ini juga bisa merugikan dirinya karena bisa menjadi suatu tindak pidana yang
tentu akan diadili.
3. Sebaiknya sebelum melakukan tindakan medis, para medis sebaiknya memastikan segala
tindakan yang akan dilakukan telah dijelaskan terhadap keluarga baik itu komplikasi
yang akan muncul dari tindakan tersebut dan tindakan telah mendapatkan persetujuan
dari pihak keluarga.

14