Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup di bumi ini butuh air. Air merupakan pelarut yang sangat baik,
sehingga di alam umumnya berada dalam keadaan tidak murni. Air alam mengandung
berbagai jenis zat, baik yang larut maupun yang tidak larut serta mengandung
mikroorganisme. Jika kandungan bahan-bahan dalam air tersebut tidak mengganggu
kesehatan, air dianggap bersih dan layak untuk diminum, air dikatakan tercemar jika
terdapat gangguan terhadap kualitas air sehingga air tersebut tidak dapat digunakan untuk
tujuan penggunaannya. Pencemaran air dapat terjadi karena masuknya makhluk hidup, zat,
dan energi terdalam air oleh kegiatan manusia. Keadaan itu dapat menurunkan kualitas air
sampai ke tingkat tertentu dan membuat air tidak berfungsi lagi sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
Sumber-sumber air yang ada di bumi antara lain adalah air atmosfer, air permukaan, air
laun dan air tanah. Air merupakan suatu sarana utama dalam meningkatkan derajat
kesehatan. Jika kandungan bahan-bahan dalam air tersebut tidak mengganggu kesehatan, air
dianggap bersih dan layak untuk diminum, air dikatakan tercemar jika terdapat gangguan
terhadap kualitas air sehingga air tersebut tidak dapat digunakan untuk tujuan
penggunaannya. Pencemaran air dapat terjadi karena masuknya makhluk hidup, zat, dan
energi terdalam air oleh kegiatan manusia. Keadaan itu dapat menurunkan kualitas air
sampai ke tingkat tertentu dan membuat air tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya
(Mifbahuddin, 2010).
Salah satu syarat air dikatakan berkualitas, adalah mengandung garam-garam mineral
dalam jumlah yang tidak berlebihan. Garam-garam mineral dalam air tergantung pada
sumber air tersebut berasal.Misalnya kandungan garam-garam mineral pada air tanah
tergantung pada lapisan tanah yang dilewati air tersebut. Apabila air melewati lapisan tanah
kapur maka air akan menjadi sadah karena mengandung Ca(HCO3)2dan Mg(HCO3)2
Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal sebagai air
sadah, atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium
bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air.Karena
senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air, maka senyawa1

senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat
yang akhirnya menjadi kerak.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan kesadahanair?
2. Berapa tingkat kesadahan tetap dan kesdahan sementara
sampel air yang diteliti?
3. Bagaimana metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan?
4. Apakah air sampel yang diteliti layak dikonsumsi?
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui pengertian kesadahan
Mengetahui metode yang dapat digunakan untuk mengukur nilai kesadahan
mengetahui kelayakan konsumsi air yang diteliti.
b. Tujuan Khusus
Mengetahui Tingkat kesadahan tetap dan kesadahan sementara sampel air yang
di teliti

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kesadahan

Kesadahan atau hardnees adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh air. Penyebabnya air
menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+ , Mg2+. Air sadah adalah air yang memiliki kadar
mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. penyebanya
air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+ , Mg2+. Atau dapat juga di sebabkan karena
adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam bervariasi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn
dalam bentuk garam sulfat, klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil. Air sadah banyak di jumpai di
daerah pegunungan kapur atau di daerah pesisir pantai. Jenis sumber air yang banyak mengandung
sadah adalah air tanah khususnya air tanah dalam.
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya
ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau
air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak
adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium,
penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam
bikarbonat dan sulfat (Wikipedia, 2011).
Kesadahan merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila
dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk
busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air berkesadahan tinggi tidak
akan terbentuk busa. Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca 2+,
Mg2+. Atau dapat juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal
(logam bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn dalam bentuk garam sulfat,
klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil (O-fish, 2003).
Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium dikenal sebagai air
sadah, atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium dan magnesium
bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah terjadinya busa dalam air.
Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium relatif sukar larut dalam air,
maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk memisah dari larutan dalam bentuk
endapan atau presipitat yang akhirnya menjadi kerak.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan
beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang
menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di
rumah

tangga,

dan

air

sadah

yang
3

bercampur

sabun

dapat

membentuk

gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan
diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian. Untuk menghilangkan kesadahan
biasanya digunakan berbagai zat kimia (Wikipedia, 2011).
Karena penyebab dominan/utama kesadahan adalah Ca2+ dan Mg2+, khususnya Ca2+,
maka arti dari kesadahan dibatasi sebagai sifat/karakteristik air yang menggambarkan
konsentrasi jumlah dari ion Ca2+ dan Mg2+, yang dinyatakan sebagai CaCO3
(Giwangkara, 2006 dalam Ihsan, 2011)
B. Jenis Kesadahan
Terdapat dua jenis kesadahan, yakni sebagai berikut:
1. Kesadahan sementara
Kesadahan sementara merupakan kesadahan yang mengandung ion bikarbonat
(HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat
(Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2) Air yang mengandung
ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah sementara karena
kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut
terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa
tersebut akan mengendap pada dasar ketel (Wikipedia, 2011).
Reaksinya:
Ca(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + CaCO3 (endapan)
Mg(HCO3)2 dipanaskan CO2 (gas) + H2O (cair) + MgCO3
(endapan)

2. Kesadahan Tetap
Kesadahan tetap adalah kesadahan yang mengadung anion selain ion bikarbonat,
misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh
jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat
(CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan
magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut
disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan
cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan, harus dilakukan

dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia
tertentu.
Kesadahan tetap dapat dikurangi dengan penambahan larutan soda- kapur
(terdiri dari larutan natrium karbonat dan magnesium hidroksida) sehingga
terbentuk endapan kaslium karbonat (padatan/endapan) dan magnesium hidroksida
(padatan/endapan) dalam air.
Reaksinya:
CaCl2 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + 2NaCl (larut)
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 (padatan/endapan) + Na2SO4 (larut)
MgCl2 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaCl2 (larut)
MgSO4 + Ca(OH)2 Mg(OH)2 (padatan/endapan) + CaSO4 (larut)
Ketika kesadahan kadarnya adalah lebih besar dibandingkan penjumlahan dari
kadar alkali karbonat dan bikarbonat, yang kadar kesadahannya eqivalen dengan
total kadar alkali disebut kesadahan karbonat; apabila kadar kesadahan lebih dari
ini disebut kesadahan non-karbonat. Ketika kesadahan kadarnya sama atau kurang
dari penjumlahan dari kadar alkali karbonat dan bikarbonat, semua kesadahan
adalah kesadahan karbonat dan kesadahan nonkarbonat tidak ada. Kesadahan
mungkin terbentang dari nol ke ratusan miligram per liter, bergantung kepada
sumber dan perlakuan dimana air telah subjeknya (Wikipedia, 2011).
C. Metode Penentuan Kesadahan
Metode yang dapat dilakukan untuk penentuan kesadahan adalah metode Titrasi
EDTA ( Ethylene Diamene Tetra Asetat). EDTA berupa senyawa kompleks khelat
dengan rumus molekul (HO2CCH2)2NCH2CH2N(CH2CO2H)2. Merupakan suatu
senyawa asam amino yang secara luas dipergunakan untuk mengikat ion logam
logam bervalensi dua dan tiga. EDTA mengikat logam melalui empat karboksilat
dan dua gugus amina. EDTA membentuk kompleks kuat terutama dengan Mn (II),
Cu (II), Fe (III), dan Co (III) (Anonim, 2008 dalam Ginoest, 2010).
EDTA merupakan senyawa yang mudah larut dalam air, serta dapat diperoleh
dalam keadaan murni. Tetapi dalam penggunaannya, karena adanya sejumlah tidak
tertentu dalam air, sebaiknya distandardisasi terlebih dahulu.
Kesadahan total yaitu ion Ca2+ dan Mg2+ dapat ditentukan melalui titrasi dengan
EDTA sebagai titran dan menggunakan indikator yang peka terhadap semua kation
tersebut. Titrasi kompleks meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun

pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan yang


mendasari terbentuknya kompleks adalah tingkat kelarutan yang tinggi.
Penentuan Ca dan Mg dalam air sudah dilakukan dengan titrasi EDTA. pH untuk
titrasi adalah 10 dengan indikator Eriochrom Black T (EBT). Pada pH lebih tinggi,
12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca 2+
dengan indikator murexide. Adanya gangguan Cu bebas dari pipa-pipa saluran air
dapat di masking dengan H2S. EBT yang dihaluskan bersama NaCl padat
kadangkala juga digunakan sebagai indikator untuk penentuan Ca ataupun
hidroksinaftol. Seharusnya Ca tidak ikut terkopresitasi dengan Mg, oleh karena itu
EDTA direkomendasikan (Ginoest, 2010).
D. Standar Jenis Kesadahan
Kandungan kapur yang terdapat dalam air, agar tidak kurang dan tidak juga
berlebih maka perlu diterapkan standar suatu air dikatakan sadah atau berlebih
kesadahannya. Standar kualitas menetapkan kesadahan total adalah 5-10 derajat
Jerman. Apabila kurang dari 5 derajat Jerman maka air akan terasa lunak dan
sebaliknya. Jika dalam air mengandung lebih dari 10 derajat Jerman maka akan
merugikan bagi manusia.
Di kalangan masyarakat yang awam, sangat sulit untuk membedakan mana air
yang tingkat kesadahannya tinggi. Mereka hanya bisa memperkirakan saja
berdasarkan apa yang ditimbulkan dari air, misalnya mereka mengamati kerak yang
ditimbulkan air pada dasar panci memberikan sedikit pemahaman pada masyarakat
bahwa air yang dikonsumsinya itu tingkat kesadahannya tinggi, dan sebaliknya jika
tidak terlihat kerak yang ditimbulkan artinya bahwa air yang dikonsumsinya tingkat
kesadahannya masih tergolong rendah (Sanropie dkk, 1984 dalam Resthy, 2011).
Standar kesadahan air meliputi (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy 2011) :
1. Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa :
a. Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3;
b. Lunak mengandung 0-60 ppm CaCO3;
c. Agak sudah mengandung 60-120 ppm CaCO3;
d. Sadah mengandung 120-180 ppm CaCO3;
e. Sangat sadah 180 ppm ke atas.
2. Standar kesadahan menurut E. Merck, 1974, bahwa :
a. Sangat lunak antara 0-4 OD atau 0-71 ppm CaCO3;
6

b. Lunak antara 4-8 OD atau 71-142 ppm CaCO3;


c. Agak sadah antara 8-18 OD atau 142-320 ppm CaCO3;
d. Sadah 18-30 OD atau 320-534 ppm CaCO3;
e. Sangat sudah 30 OD keatas atau sekitar 534 ppm ke
atas.
3. Standar kesadahan menurut EPA, 1974, bahwa :
a. Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3;
b. Lunak, antara 0-75 ppm CaCO3;
c. Agak sadah, antara 75-150 ppm CaCO3;
d. Sadah, 150-300 ppm CaCO3;
e. Sangat sadah 300 ppm ke atas CaCO3.
4. Berdasarkan Standar kesadahan menurut PERMENKES RI, 2010 batas
maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3.
Bila melewati batas maksimum maka harus diturunkan (pelunakan).
Dari data tersebut dapat dilihat jelas bahwa air yang dikatakan sadah adalah
air yang mengandung garam mineral khususnya CaCO 3 sekitar 120-180 ppm
menurut WHO, sedangkan menurut Merck air dikatakan sadah jika
mengandung 320-534 ppm atau sekitar 18-30 OD, menurut EPA air yag
dikatakan sadah jika mengandung CaCO3 sekitar 150-300 ppm, dan menurut
PERMENKES RI, 2010 batas maksimum kesadahan air minum yang
dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO3. Bila melewati batas maksimum maka
harus diturunkan (pelunakan) (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy, 2011).
E. Dampak dari Kesadahan Air yang Kurang dan yang Berlebih
Air jika tidak mengandung kapur atau tidak sadah akan terasa lunak atau hambar
karena tidak mengandung garam-garam mineral sehingga akan mengurangi selera
dalam mengkonsumsinya. Akan tetapi, jika di dalam air kandungan kapurnya sangat
tinggi atau dengan kata lain terlalu banyak mengandung garam-garam mineral
justru akan memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan. Oleh karena itu,
dirasa perlu untuk mengetahui dampak apa saja yang dapat ditimbulkan jika
kandungan kapur dalam air berlebih atau kesadahannya tinggi (Sanropie dkk, 1984
dalam Resthy, 2011).
Air lunak atau air yang tidak mengadung kapur mempunyai kecenderungan
menyebabkan korosi pada pipa. Sedangkan jika air memiliki kandungan kapur yang
banyak atau tingkat kesadahannya tinggi, maka mengakibatkan terbentuknya kerak7

kerak pada dinding pipa yang menyebabkan penyempitan pipa, sehingga


memperkecil debit aliran air. Dalam rumah tangga hal tersebut menyebabkan
terbentuknya kerak pada dinding peralatan memasak sehingga menyebabkan
pemakaian bahan bakar yang lebih banyak dan menyebabkan pemakaian sabun
yang semakin tinggi (Bakti Husada, 1995 dalam Resthy, 2011).
Apabila kandungan CaCO3 atan MgCO3 dalam air itu melewati batas 10 derajat
Jerman maka akan menyebabkan, antara lain (Sanropie dkk, 1984 dalam Resthy,
2011):
a.

Menyababkan lapisan kerak pada alat dapur yang terbuat dari logam;

b.

Kemungkinan terjadinya ledakan pada boiler;

c.

Pipa air menjadi terumbat;

d. Sayur-sayuran menjadi keras apabila dicuci dengan air bersih.


Air sadah tidak terlalu berbahaya untuk diminum, akan tetapi dapat
menyebabkan beberapa masalah jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hal tersebut
dapat menimbulkan osteoporosis atau pengapuran pada tulang manusia. Air sadah
dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat pipa dan keran. Air
sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, selain itu air sadah
dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri,
kesadahan air yang digunakan diawasi ketat untuk mencegah kerugian. Untuk
menghilangkan kesadahan biasanya digunakan beberapa zat kimia ataupun dengan
menggunakan resin pertukaran ion (Kris, 2006 dalam Resthy, 2011).
Air sadah membawa dampak negatif, yaitu (Anoymous, 2009 dalam Resthy, 2011) :
1.

Menyebabkan sabun tidak berbusa karena adanya hubungan kimiawi antara


kesadahan dengan molekul sabun sehingga sifat detergen sabun hilang dan
pemakaian sabun menjadi lebih boros;

2.

Menimbulkan kerak pada ketel yang dapat menyumbat katup-katup ketel karena
terbentuknya endapan kalsium karbonat pada dinding atau katup ketel. Akibatnya
hantaran panas pada ketel air berkurang sehingga memboroskan bahan bakar.

F. Kerangka Konseptual

Kebutuhan air

Air Sumur di kos-kosan

Syarat Fisika

Syarat
Mikrobiologis

Syarat
Kimiawi

Syarat Radio
aktif

Kesadahan

Memenuhi syarat Permenkes


( < 500 mg CaCO3/L )

Tidak Memenuhi syarat Permenkes


( > 500 mg CaCO3/L )
9

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

A. Metode
Metode yang di gunakan yaitu Kompleksometri
B. Alat Dan Bahan
1. Alat :
a.
Batang Pengaduk
b.
Bulp
c.
Buret
d.
Erlenmeyer
e.
Gelas Beaker
f.
Gelas Ukur
g.
Pipet Tetes
h.
Pipet Ukur
i.
klem dan Statif.
2. Bahan:
a.
Sampel Air
b.
Aquades
c.
Buffer pH 10
d.
Eriochrom Black Tea (EBT)
e.
Larutan Etylene Diamine Tetra Asestat (EDTA) 0,01 M
C. Prosedur Kerja
1. Ambil 200 ml sampel air
2. Didihkan di atas pemanas
3. Dinginkan dan saring ke dalam labu takar 200 ml
4. Pipet 25 ml sampel dalam labu takar ke beaker glass
5. Tambahkan 100 ml aquadest
10

6.
7.
8.
9.

Pipet 25 ml sampel dalam beaker ke Erlenmeyer


tambahkan 1-3 ml buffer pH 10
Tambahkan indicator EBT 2 tetes
Titrasi dengan EDTA

D. Hasil
Alamat Pengambilan
: Jln. Manguni 20, perkamil
Waktu pengambilan
: 10:30 WITA.
Ini merupakan tempat kost dari mahasiswa Analis Kesehatan yaitu Siti fatiah asrah.
Rumah ini menggunakan air pam sebagai sumber airnya.

No
1
2
3
4
5

Perlakuan
200 ml sampel air + aquadest 25 ml
+ 1-3 ml larutan buffer pH 10
+ 2 tetes indicator EBT
Titrasi dengan EDTA
Volume titer

Hasil Pengamatan
Bening
Bening
Ungu
Biru
1,4 ml

Perhitungan
Rumus = Na-EDTA =

n
= massa/mr
v
v
ppm = massa
106
massa = N EDTA . v. mr

Kesadahan sementara = kesadahan tetap kesadahan total

Kesadahan tetap = M = 0,01 x 1,4 x 313


11

= 4,382 gr
ppm = 4, 382 x 10-6
kesadahan sementara = 4, 382 x 10-6 10, 96 x 10-6
= -6, 578 x 10-6 ppm

BAB IV

12

PEMBAHASAN

Kesadahan merupakan salah satu sifat kimia yang dimiliki air. Kesadahan air disebabkan
adanya ion ion Ca2+ dan Mg2+. Berdasarkan Standar kesadahan menurut PERMENKES RI,
2010 batas maksimum kesadahan air minum yang dianjurkan yaitu 500 mg/L CaCO 3 serta air
dikatakan sadah adalah air yang mengandung garam mineral khususnya CaCO 3 sekitar 120-180
ppm menurut WHO.
Dari hasil yang diperoleh pada pemeriksaan kesadahan air pada air sumur diperoleh hasil
-6,578 10-6. yang menunjukkan tingkat kesadahan air yang masih normal. Kesadahan air yang
tinggi dapat mengakibatkan terjadinya berbagai macam penyakit.
Dampak kesadahan air yang tinggi, antara lain :
Dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa dank ran air
menyebabkan pemborosan sabun dirumah tangga karena jika kesadahan air tinggi maka
akan sulit sekali berbusa
Air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar
dihilangkan.
Prosedur umum untuk awal percobaan ini dengan satu contoh air mengandung mineral
yang berisi kalsium dan magnesium. Untuk mengasuransikan bahwa semua kation tinggal di
dalam solusi dan itu pekerjaan indikator dengan baik, satu penyangga biasanya menyesuaikan
pH ke 9.9 10.1. Setelah pH disesuaikan dan indikator ditambahkan, EDTA Titrant ditambahkan
melalui satu buret.
EDTA adalah satu agen chelating itu dapat mendonorkan elektron (Aturan Lewis) yang
kemudian akan membentuk satu kompleks dengan ion logam (Asam Lewis). EDTA pertama
kali akan membentuk kompleks dengan Ca2+ dan kemudian dengan Mg2+. Seperti pada titrasi
apapun kita akan perlu satu indikator untuk menentukan ketika semua Ca 2+ dan Mg2+ telah
membentuk kompleks dengan EDTA (titik akhir titrasi). Indikator yang dipergunakan di
percobaan ini adalah Eriochrome Hitam T. Di pH 10 indikator akan berada di dalam bentuk
HInd2- (Ind mewakili indikator), dan menghasilkan kompleks berwarna biru. Selanjutnya pada
saat indicator bereaksi dengan Mg2+ akan memberikan satu kompleks merah.

13

BAB V
PENUTUP

14

A. Kesimpulan
Kesadahan

air

adalah

kandungan mineral-mineral tertentu

di

dalam

air,

umumnya ion kalsium dan magnesium dalam bentuk garam karbonat. Selain ion kalsium
dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garamgaram bikarbonat dan sulfat.
Metode yang digunakan yaitu kompleksometri. Titrasi kompleksometri yaitu titrasi
berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar
mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks.
Dari hasil yang diperoleh pada pemeriksaan kesadahan air diperoleh hasil -6,578
10-6. ppm yang menunjukkan tingkat kesadahan air yang masih normal.
B. Saran
Masyarakat hendaknya mengetahui tingkat kesadahan air yang digunakan. Untuk
mencegah segala penyakit yang dapat ditimbulkan oleh kesadahan air tersebut, Serta
tenaga kesehatan hendaknya mengsosialisasikan ataupun memberikan penyuluhan tentang
penentuan kesadahan air.

DAFTAR PUSTAKA

Ginoest. 2010. Penentuan Kadar Kesadahan Air dengan Metode Titrasi EDT. Online :
http://ginoest.wordpress.com/2010/03/23/17/. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2014
15

Mifbahuddin, 2010. Pengaruh Ketebalan Karbon Aktif Sebagai Media Filter Terhadap Penurunan
Kesadahan Air Sumur Artetis. Online : http://www.google.co.id/ Pengaruh Ketebalan Karbon Aktif
Sebagai Media Filter Terhadap Penurunan Kesadahan Air Sumur Artetis.html. Diakses pada tanggal 19
Oktober 2014
Resthy, 2011. Laporan Akhir Kesadahan. Online :
http://perutbuncitmeletus.blogspot.com/2011/10/laporan-akhir-kesadahan.html. Diakses pada tanggal 19
Oktober 2014
Wikipedia. 2011. Kesadahan Air. Online : http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air. Diakses pada
tanggal 19 Oktober 2014
http://randanpasiga.blogspot.com/2013/04/makalah-kimia-amami.html. Di akses pada tanggal 19 oktober
2014
Muliantotheman.blogspot.com/2013/05/makalah-kesadahan.html. Di akses pada tanggal 19 oktober 2014
O-fish. 2003. Parameter Air. Online : http://www.o-fish.com/parameter_air.htm. Diakses pada tanggal 19
Oktober 2014
Ihsan. 2011. Analisa Kimia Sampel Air Sungai : Penentuan Kesadahan Total dan Sementara dalam Air .
Online : http://chemistryismyworld.blogspot.com/2011/05/analisa-kimia-sampel-air-sungai.html. Diakses
pada tanggal 19 Oktober 2014

16