Anda di halaman 1dari 14

Modul THT _ Tonsilitis

Trigger : Budi 12 tahun, siswa SD kelas 6 dibawaibunya ke dokter keluarga dengan keluhan
sakit menelan sejak 7 hari yang lalu. Budi juga mengeluhkan demmam dan batuk-batuk.
Sebelumnya Budi suadah sering mengeluhkan keluhan ini. Ibu pasien mengatakan anaknya
tidur sering mengorok. Pada pemeriksaan fisik ditemukan pasien tampak sakit, temperatur 38
derajat celcius. Pada pemeriksaan dinding posterior faring didapatkan hiperemis, granuler dan
edema. Tonsil palatina didapatkan T3-T3, hiperemis, edema, muara kripti melebar dan terisi
eksudat, detritus, permukaan tidak rata, perlengketan dengan pilar anterior/posterior.
Kemudian dokter memberikan terapi berupa antibiotik, antipiretik, analgetik, roborantia dan
obat kumur. Dokter keluarga menganjurkan setelah han=bis obat untuk datang lagi dan kalau
kondisi sudah membaik, dianjurkan konsul ke dokter spesialis THT.
Learning Objective :
1. Anatomi dan fisiologi tonsil.
2. Patofisiologi tonsilitis.
3. Klasifikasi tonsilitis (etiologi, gejala, diagnosa dan penatalaksanaa)
4. Pencegahan dan komplikasi tonsilitis.
Add 1. Anatomi dan fisiologi tonsil.

Faring dibagi menjadi nasofaring, orofaring dan laringofaring. Nasofaring merupakan bagian
dari faring yang terletak diatas pallatum molle, orofaring yaitu bagian yang terletak diantara
palatum molle dan tulang hyoid, sedangkan laringofaring bagian dari faring yang meluas dari
tulang hyoid sampai ke batas bawah kartilago krikoid.
Orofaring terbuka ke rongga mulut pada pilar anterior faring. Pallatum molle (vellum palati)
terdiri dari serat otot yang ditunjang oleh jaringan fibrosa yang dilapisi oleh mukosa.

Penonjolan di median membaginya menjadi dua bagian. Bentuk seperti kerucut yang terletak
disentral disebut uvula. Dua pillar tonsilar terdiri atas tonsil palatina anterior dan posterior.
Otot glossoplatina dan pharyngopalatina adalah otot terbesar yang menyusun pilar anterior
dan pilar posterior. Tonsil terletak diantara cekungan palatoglossal dan palatopharyngeal.
Plika triangularis (tonsilaris) merupakan lipatan mukosa yang tipis, yang menutupi pilar
anterior dan sebagian dan sebagian permukaan anterior tonsil. Plika semilunaris (supratonsil)
adalah lipatan sebelah atas dari mukosa yang mempersatukan kedua pilar. Fossa supratonsil
merupakan celah yang ukurannya bervariasi yang terletak diatas tonsil diantara pilar anterior
dan posterior. Tonsil terdiri dari sejumlah penonjolan yang bulat atau melingkar seperti kripte
yang mengandung jaringan limfoid dan disekelilingnya terdapat jaringan ikat. Ditengah
kripta terdapat muara kelenjar mukus.
Tonsil dan adenoid merupakan bagian terpenting cincin waldeyer dari jaringan limfoid yang
mengelilingi faring. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara pilar anterior dan posterior
faussium. Tonsil faussium terdapat satu buah pada tiap sisi orofaring adalah jaringan limfoid
yang dibungkus oleh kapsul fibrosa yang jelas. Permukaan sebelah dalam tertutup oleh
membran epitel skuamosa berlapis yang sangat melekat. Epitel ini meluas kedalam kripta
yang membuka kepermukaan tonsil. Kripta pada tonsil berjumlah 8-20, biasa tubular dan
hampir selalu memanjang dari dalam tonsil sampai kekapsul pada permukaan luarnya.Bagian
luar tonsil terikat pada m.konstriktor faringeus superior, sehingga tertekan setiap kali
menelan. m. palatoglusus dan m. palatofaring juga menekan tonsil. Selama masa embrio,
tonsil terbentuk dari kantong pharyngeal kedua sebegai tunas dari sel endodermal. Singkatnya
setelah lahir, tonsil tumbuh secara irregular dan sampai mencapai ukuran dan bentuk,
tergantung dari jumlah adanya jaringan limphoid.
Struktur di sekitar tonsil:
1. Anterior : pada bagian anterior tonsilla palatina terdapat arcus palatoglossus, dapat meluas
dibawahnya untuk jarak pendek.
2. Posterior : di posterior terdapat arcus palatopharyngeus.
3. Superior : di bagian superior terapat palatum molle. Disini tonsilla bergabung dengan
jaringan limfoid pada permukaan bawah palatum molle.
4. Inferior : di inferior merupakan sepertiga posterior lidah. Di sini, tonsilla palatina menyatu
dengan tonsilla lingualis.
5. Medial : di bagian medial merupakan ruang oropharynx.
6. Lateral : di sebelah lateral terdapat capsula yang dipisahkan dari m.constristor pharyngis
superior oleh jaringan areolar longgar. V. palatina externa berjalan turun dari palatum molle
dalam jaringan ikat longgar ini, untuk bergabung dengan pleksus venosus pharyngeus.
Lateral terhadap m.constrictor pharynges superior terdapat m. styloglossus dan lengkung
a.facialis. A. Carotis interna terletak 2,5 cm di belakang dan lateral tonsilla. Tonsilla palatina
mendapat vascularisasi dari : ramus tonsillaris yang merupakan cabang dari arteri facialis;
cabang-cabang a. Lingualis; a. Palatina ascendens; a. Pharyngea ascendens. Sedangkan
innervasinya, diperoleh dari N. Glossopharyngeus dan nervus palatinus minor. Pembuluh
limfe masuk dalam nl. Cervicales profundi. Nodus paling penting pada kelompok ini adalah
nodus jugulodigastricus, yang terletak di bawah dan belakangangulus mandibulae.
Tonsila disusun oleh jaringan limfoid yang meliputi epitel skuamosa yang berisi beberapa
kripta. Celah di atas tonsila merupakan sisa darin endodermal muara arkus bronkial kedua, di
mana fistula bronkial/ sinus internal bermuara.. Di dalam lengkung faring terdapat tonsil
(amandel) yaitu kelenjar limfa yang mengandung banyak kelenjar limfoid dan merupakan
pertahanan terhadap infeksi. Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi epitel
respiratory. Cincin waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di
faring yang terdiri dari tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual.

Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B membentuk
kira-kira 50-60 % dari limfosit tonsilar. Limfosit T pada tonsil 40 % dan 3 % lagi adalah sel
plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di pusat germinal. Imunoglobulin G, A, M, D,
komplemen-komplemen, interferon, losozim dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar.
Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk differensiasi dan proliferasi
limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi yaitu : menangkap dan
mengumpulkan bahan asing dengan efektif dan sebagai organ utama produksi antibodi dan
sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

Add 2. Patofisiologi tonsilitis


Tonsilitis adalah peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh bakteri atau kuman
streptococcus beta hemolitikus grup A, streptococcus viridans dan pyogenes dan dapat
disebabkan oleh virus. Faktor predisposisi adanya rangsangan kronik (misalnya karena
merokok atau makanan), pengaruh cuaca, pengobatan radang akut yang tidak adekuat tidak
higienis, mulut yang tidak bersih.
Patofisiologinya pada tonsilitis akut : penularannya terjadi melalui droplet dimana kuman
menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian bila epitel ini terkikis, maka jaringan limfoid
superkistal bereaksi, di mana terjadi pembendungan radang dengan infiltasi leikosit PMN.

Patofisiloginya pada tonsilitis kronik : terjadi karena proses radang berulang, maka epitel
mukosa dan jaringan limfoid terkikis sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid
diganti oleh jaringan parut. Jaringan ini akan mengerut sehingga ruang antara kelompok
melebar (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas hingga meluas menembus
kapsul dan akhirnya timbul perlengketan dengan jaringan sekitar fossa tonsilaris. Jadi, tonsil
meradang dan membengkak, terdapat bercak abu-abu/kekuningan pada permukaan dan
berkumpul membentuk membran.

ukuran besarnya tonsil dinyatakan dengan : T0 : bila sudah dioperasi


T1 : ukuran yang normal ada
T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
T3 : pembesaran mencapai garis tengah
T4 : pembesaran melewati garis tengah
Add 3. Klasifikasi tonsilitis (etiologi, gejala, diagnosis, penatalaksanaan)
1. Tonsilitis akut : etiologinya yaitu streptococcus beta hemolitikus grup A, srteptococcus
viridans dan piogenes dan pneumococcus. Tonsilitis ini seringkali terjadi mendadak pada
anak-anak dengan peningkatan suhu 1 sampai 4 derajat celcius.
Patofisiologinya berupa penularan terjadi melalui droplet. Manifestasi kliniknya yaitu : suhu
tubuh naik hingga 40 derajat celcius, nyeri tenggorok, nyeri sewaktu menelan, napas yang
berbau, suara menjadi serak, demam dengan suhu tubuh yang meningkat, lesu/lemas, nyeri
dipersendian, tidak nafsu makan, nyeri ditelinga, tonsil membengkak, kripti tidak melebar,
hiperemis dan detritus, serta kelenjar submandibula bengkak dan nyeri tekan.

Diagnosis : Tes laboratorium (untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh pasien
merupakan streptococcus hemolitikus grup A, karena bakteri ini juga disertai dengan demam
reumatik. Pemeriksaan penunjang (kultur dan uji resistensi), terapi (dengan menggunakan
antibiotik spektrum luas dan sulfonamide, antipiretik dan obat kumur yang mengandung
desinfektan.
Penatalaksanaan ; untuk perwatan sendiri, jika penyebabnya virus sebaiknya biarkan virus itu
hilang dengan sendirinya. Selama 1 atau 2 minggu sebaiknya penderita banyak istirahat,
minum yang hangat dan mengkonsumsi cairan menyejukkan. Antibiotik digunakan jika
penyebabnya bakteri, misalnya dengan mengkonsumsi antibiotik oral yang dikonsumsi
setidaknya selama 10 hari. Tindakan operasi biasanya pada anak-anak. Tonsilectomy
biasanya pada orang yang mengalami tonsilitis 5 kali atau lebih dalam 2 tahun, pada orang
dewasa jika mengalami tonsilitis selama 7 kali atau lebih dalam setahun, amandel yang
membengkak dan menyebabkan sulit bernapas, adanya abses juga merupakan indikasi
operasi.
2. Tonsilitis membranosa
* Tonsilitis difteri : etiologinya adalah Corynebacterium diptheriae.
Patofisiologinya : bakteri masuk melalui mukosa, lalu melekat serta berkembang biak pada
permukaan mukosa saluran pernapasan atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes
ke limfe. Lalu selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan limfe.
Manifestasi klinik/ gejala klinik : biasanya pada anak-anak usia 2-5 tahun, suhu tubuh yang
naik, nyeri tenggorok, nyeri kepala, nadi lambat, tidak nafsu makan, badan lemah dan lesu,
tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor melekat meluas menyatu membentuk
membran semu, membran melekat erat pada dasar dan bila diangkat akan timbul perdarahan.
Jika menutupi laring akan menimbulkan sesak dan stridor infasil. Bila menghebat akan terjadi
sesak napas. Bila infeksi terbendung kelenjar limfe leher akan membengkak menyerupai
leher sapi. Gejala eksotoksin akan menimbulkan kerusakan pada jantung berupa miokarditis
sampai decompensasi cordis.
Diagnosis : Diagnosisnya harus berdasarkan pemeriksaan klinis karena penundaan pengobaan
akan membahayakan jiwa pasien. Pemeriksaan preparat langsung diidentifikasi secara
fluorescent antibody, teknik yang memerlukan seorang ahli. Diagnosis pasti dengan isolasi C.
diptheriae dengan pembiakan pada media Loffler, dilanjutkan tes toksinogenesitas secara
invitro dan invivo. PCR juga bisa dilakukan.
Pemeriksaan dengan tes laboratorium (preparat kuman), tes Schick (tes kerentanan terhadap
difteri).

Penatalaksanaan : Anti difteri serum dosisnya 20.000-100.000 unit, antitoksin (serum


antidiptheria/ADS), antimikrobial (penisilin prokain 50.000-100.000 KI/BB/hari selama 7-10
hari, bila alergi beri eritromisin 40 mg/kg BB/ hari, kortikosteroid khusus pada pasien
tonsilitis dengan obstruksi saluran napas.
* Tonsilitis Septik : penyebabnya adalah S. hemolitikus yang terdapat dala susu sapi. *
Angina Plaut Vincent : etiologinya adalah berkurangnya higienis mulut, def. vit C serta
kuman Spirilium dan basil fusiform.
Gejalanya yaitu ; suhu 39 derajat celcius, nyeri kepala, badan lemah, gangguan pencernaan,
hipersalivasi, nyeri di mulut, gigi dan gusi berdarah.
Diagnosis : pemeriksaan mulut, terdapat mukosa dan faring yang hiperemis, membran putih
keabuan di atas tonsil, uvula, dinding faring, gusi dan procc. alveolaris, mulut berbau dan
kelenjar submandibula membesar.
Penatalaksanaannya : memperbaiki higienis gigi dan mulut, antibiotik spektrum luas selama 1
minggu, pemberian vit. C dan B kompleks.
3. Tonsilitis kronik
etiologinya : sama dengan tonsilitis akut (streptococcus beta hemolitikus grup A,
srteptococcus viridans dan piogenes dan pneumococcus), namun terkadang bakteri berubah
menjadi bakteri golongan gram negatif. Faktor predisposisinya adalah mulut yang tidak
higienis, pengobatan radang akut yang tidak adekuat.
Manifestasi klinik/gejala klinik : adanya keluhan di tenggorokan seperti ada penghalang,
tenggorokan terasa kering, pernapasan berbau. Saat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar
dengan permukaan tidak rata, kriptus melebar dan terisi detritus.
Diagnosis : dilakukan terapi mulut (terapi lokal) ditujukan pada higienis mulut dengan
berkumur/obat hirup. Dilakukan juga kultur dan uji resistensi kuman dari sediaan hapus
tonsil. Pada pemeriksaan fisik menggunakan instrumen lampu untuk melihat kondisi
tenggorokan termasuk kondisi tonsil, meraba leher untuk memeriksan kelenjar getah bening
apakah ada pembengkakakn atau tidak, usap tenggorokan, pemeriksaan jumlah sel darah
lengkap.

Penatalaksanaan : menjaga higienis mulut, menggunakan obat kumur, obat hisap dan
dilakukan tonsilektomi.
Indikasi tonsilektomi : adanya sumbatan (hiperplasia tonsil dengan sumbatan jalan napas,
gangguan menelan dan berbicara, sleep apnea, cor pulmonale), infeksi (infeksi telinga tengan
berulang, rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsiler abses dan abses kelenjar limfe
berulang, tonsilits kronis dengan gejala nyeri tenggorok yang menetap dan napas berbau),
indikasi lainnya yaitu tonsilitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih, tonsilits terjadi sebanyak 5
kali atau lebih dalam kurun waktu 2 tahun, tonsilitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih dalam
kurun waktu 3 tahun, tonsilitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibiotik.
Menurut The American Academy of Otolaryngology Head and Neck Surgery Clinical
Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan indikasi tonsilektomi :
1. Serangan tonsilitis lebih dari 3 kali pertahun walaupun telah mendapatkan terapi yang
adekuat.
2. Tonsil hipertropi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan
pertumbuhan orofasial.
3. Sumbatan jalan napas yang berupa hipertropi tonsil dengan sumbatan jalan napas, sleep
apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara dan cor pulmonale.
4. Rinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilar/peritonsilitis, abses peritonsil yang tidak
berhasil hilang dengan pengobatan.
5. Napau berbau yang tidak berhasil dengan pengobatan.
6. Tonsilitis berulang yang disebabkan oleh bakteri S. Beta Hemolitikus grup A.
7. Hipertropi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.
8. Otitis media efusi/ otitis media supuratif.
Add. 4 Komplikasi dan pencegahan tonsilitis
* Komplikasi tonsilitis : abses peritonsil,OMA (Otitis Media Akut), Mastoiditis akut,
Laringitis, Sinusitis, Rhinitis, Miokarditis, Artritis.
* Pencegahan : diusahakan untuk banyak minum air terutama seperti sari buah misalnya pada
waktu demam, jangan minum es/es krim dan makanan serta minuman yang dingin, jangan
banyak makan gorengan dan makanan awetan/ yang berpengawet misalnya yang diasinkan
atau manisan, berkumur dengan air garam hangat setiap hari, menaruh kompres hangat pada
leher setiap hari, diberikan terapi antibiotik apabila ada infeksi bakteri dan untuk mencegah
komplikasi. Cuci tangan sesering mungkin untuk mencegah penyebaran mikro-organisme
yang dapat menimbulkan tonsilitis, menghindari kontak dengan penderita infeksi radang
tenggorokan, setidaknya hingga 24 jam setelah penderita infeksi tenggorokan, hindari banyak
bicara dan istirahat yang cukup.

TONSILITIS ( INFEKSI AMANDEL)

Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari jaringan
limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ tubuh yang
berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil
yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil faringal yang membentuk lingkaran
yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara kedua pilar
fausium dan berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini. Tonsillitis sendiri adalah inflamasi
pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus
masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring
menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan
memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan
datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus tersebut
maka akan timbul tonsillitis. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu
tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis.1,2,3,7
1. TONSILITIS AKUT
ETIOLOGI
Tonsillitis akut ini lebih disebabkan oleh kuman grup A Streptokokus beta hemolitikus,
pneumokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes. Virus terkadang juga
menjadi penyebab penyakit ini. Tonsillitis ini seringkali terjadi mendadak pada anak-anak
dengan peningkatan suhu 1-4 derajat celcius.5,6
PATOFISIOLOGI

Penularan penyakit ini terjadi melalui droplet. Kuman menginfiltrasi lapisan epitel, kemudian
bila kuman ini terkikis maka jaringan limfoid superficial bereaksi, terjadi pembendunagn
radang dengan infiltrasi leukosit polimorfonuklear.6
MANIFESTASI KLINIK
Tonsillitis Streotokokus grup A harus dibedakan dri difteri, faringitis non bacterial, faringitis
bakteri bentuk lain dan mononucleosis infeksiosa. Gejala dan tanda-tanda yang ditemukan
dalam tonsillitis akut ini meliputi suhu tubuh naik hingga 40o celcius, nyeri tenggorok dan
nyeri sewaktu menelan, nafas yang berbau, suara akan menjadi serak, demam dengan suhu
tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di persendian, tidak nafsu makan, dan rasa nyeri di
telinga. Pada pemeriksaan juga akan nampak tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat
detritus berbentuk folikel, lacuna akan tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula
membengkak dan nyeri tekan. 4,5,6
KOMPLIKASI
Otitis media akut (pada anak-anak), abses peritonsil, abses parafaring, toksemia, septicemia,
bronchitis, nefritis akut, miokarditis, dan arthritis.6
PEMERIKSAAN
1) Tes Laboratorium
Tes laboratorium ini digunakan untuk menentukan apakah bakteri yang ada dalam tubuh
pasien merupkan akteri gru A, karena grup ini disertai dengan demam renmatik,
glomerulnefritis, dan demam jengkering.4
2) Pemeriksaan penunjang
Kultur dan uji resistensi bila diperlukan.6
3) Terapi
Dengan menggunakan antibiotic spectrum lebar dan sulfonamide, antipiretik, dan obat
kumur yang mengandung desinfektan.5
PERAWATAN
Perawatan yang dilakukan pada penderita tonsillitis biasanya dengan perawatan sendiri dan
dengan menggunakan antibiotic. Tindakan operasi hanya dilakukan jika sudah mencapai
tonsillitis yang tidak dapat ditangani sendiri.
1) Perawatan sendiri
Apabila penderita tonsillitis diserang karena virus sebaiknya biarkan virus itu hilang dengan
sendirinya. Selma satu atau dua minggu sebaiknya penderita banyak istirahat, minum
minuman hangat juga mengkonsumsi cairan menyejukkan.1
2) Antibiotik
Jika tonsillitis disebabkan oleh bakteri maka antibiotic yang akan berperan dalam proses
penyembuhan. Antibiotic oral perlu dimakan selama setidaknya 10 hari. 1
3) Tindakan operasi

Tonsillectomy biasanya dilakukan pada anak-anak jika ank mengalami tonsillitis selama tujuh
kali atau lebih dalam setahun, anak mengalami tonsillitis lima kali atau lebih dalam dua
tahun, amandel membengkak dan berakibat sulit bernafas, adanya abses. 1,8
2. TONSILITIS MEMBRANOSA
Ada beberapa macam penyakit yang termasuk dalam tonsillitis membranosa beberapa
diantaranya yaitu Tonsilitis difteri, Tonsilitis septic, serta Angina Plaut Vincent. 5
TONSILITIS DIFTERI
ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah Corynebacterium diphteriae yaitu suatu bakteri gram positis
pleomorfik5penghuni saluran pernapasan atas yang dapat menimbulkan abnormalitas toksik
yang dapat mematikan bila terinfeksi bakteriofag.
PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk melalui mukosa lalu melekat serta berkembang biak pada permukaan mukosa
saluran pernapasan atas dan mulai memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling lalu
selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalu pembuluh darah dan limfe. Toksin ini
merupakan suatu protein yang mempunyai 2 fragmen yaitu aminoterminal sebagai fragmen A
dan fragmen B, carboxyterminal yang disatukan melalui ikatan disulfide.3
MANIFESTASI KLINIS
Tonsillitis difteri ini lebih sering terjadi pada anak-anak pada usia 2-5 tahun. Penularan
melalui udara, benda atau makanan uang terkontaminasai dengan masa in kubasi 2-7 hari.
Gejala umum dari penyaki ini adalah terjadi kenaikan suhu subfebril, nyeri tnggorok, nyeri
kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, dan nadi lambat. Gejala local berupa nyeri
tenggorok, tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor makin lama makin meluas dan
menyatu membentuk membran semu. Membran ini melekat erat pada dasar dan bila diangkat
akan timbul pendarahan. Jika menutupi laring akan menimbulkan serak dan stridor inspirasi,
bila menghebat akan terjadi sesak nafas. Bila infeksi tidak terbendung kelenjar limfa leher
akan membengkak menyerupai leher sapi. Gejala eksotoksin akan menimbulkan kerusakan
pada jantung berupa miokarditis sampai decompensation cordis . 5,6
KOMPLIKASI
Laryngitis difteri, miokarditis, kelumpuhan otot palatum mole, kelumpuhan otot mata, otot
faring laring sehingga suara parau, kelumpuhan otot pernapasan, dan albuminuria. 6
DIAGNOSIS
Diagnosis tonsillitis difteri harus dibuat berdasarkan pemeriksaan klinis karena penundaan
pengobatan akan membahayakan jiwa penderita. Pemeriksaan preparat langsung

diidentifikasi secara fluorescent antibody technique yang memerlukan seorang ahli.


Diagnosis pasti dengan isolasi C, diphteriae dengan pembiakan pada media Loffler
dilanjutkan tes toksinogenesitas secara vivo dan vitro. Cara PCR (Polymerase Chain
Reaction) dapat membantu menegakkan diagnosis tapi pemeriksaan ini mahal dan masih
memerlukan penjagn lebih lanjut untuk menggunakan secara luas. 3
PEMERIKSAAN
1) Tes Laboratorium
Dilakukan dengan cara preparat langsung kuman(dari permukaan bawah membrane semu).
Medium transport yang dapat dipaki adalah agar Mac conkey atauLoffler. 3
2) Tes Schick (tes kerentnan terhapad dihteria) 3
3) Terapi
Anti difteri serum diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur dengan dosis 20.000100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit itu. 6
PENGOBATAN
Tujuan dari pengobatan penderita diphtheria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat
secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi
C.diphteria untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit
diphtheria. Secara umum dapat dilakukan dengan cara istirahat selama kurang lebih 2 minggu
serta pemberian cairan.
Secara khusus dapat dilakukakan dengan pemberian 3:
1) Antitoksin : serum anti diphtheria (ADS)
2) Anti microbial : untuk menghentikan produksi toksin, yaitu penisilin prokain 50.000-100.000
KI/BB/hariselama 7-10 hari, bila alergi diberikan eritromisin 40 mg/kg/hari.
3) Kortikosteroid : diberikan kepada penderita dengan gejala obstruksi saluran nafas bagian atas
dan bila terdapat penyulit miokardiopati toksik.
4) Pengobatan penyulit : untuk menjaga agar hemodinamika penderita tetap baik oleh karena
penyulit yang disebabkan oleh toksin umumnya reversible.
5) Pengobatan carrier : ditujukan bagi penderita yang tidak mempunyai keluhan.
PENCEGAHAN
Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan pada diri anak
serta memberikan penyuluhan tentang penyakit ini pada anak-anak. Selain itu juga diberikan
imunisasi yang terdiri dari imunisasi DPT dan pengobatan carrier. 3
TES KEKEBALAN
1)

Kekebalan aktif diperoleh dengan cara inapparent infection dan imunisasi dengan toksoid
diphtheria. 3

2)

Kekebalan pasif diperoleh secara transplasental dari ibu yang kebal terhadap diphtheria
(sampai 6 bulan) dan suntikan antitoksin (2-3 minggu). 3
TONSILITIS SEPTIK
Penyebab dari tonsillitis ini adalah Streptokokus hemolitiku yang terdapat dala susu sapi
sehingga dapat timbul epidemic. Oleh karena itu perlu adanya pasteurisasi sebelum
mengkonsumsi susu sapi tersebut. 5
ANGINA PLAUT VINCENT
ETIOLOGI
Penyakit ini disebabkan karena kurangnya hygiene mulut, defisiensi vitamin C serta kuman
spirilum dan basil fusi form. 5

MANIFSTASI KLINIS
Penyakit ini biasanya ditandai dengan demam sampai 39o celcius, nuyeri kepala, badan
lemah, dan terkadang terdapat gangguan pencernaan. Rasa nyeri di mulut, hipersalivasi, gigi,
dan gusi berdarah. 5,6
PEMERIKSAAN
Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula,
dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau dan kelenjar submanibula
membesar. 5
PENGOBATAN
Memperbaiki hygiene mulut, antibiotika spectrum lebar selama 1 minggu, juga pemberian
vitamin C dan B kompleks. 5
3. TONSILITIS KRONIS
ETIOLOGI
bakteri penyebab tonsillitis kronis sama halnya dengan tonsillitis akut , namun terkadang
bakteri berubah menjadi bakteri golongan Gram negatif. 6
FAKTOR PREDISPOSISI

Mulut yang tidak hygiene, pengobatan rdang akut yang tidak adekuat, rangsangan kronik
karena rokok maupun makanan. 6
PATOFISIOLOGI
Karena proses rang berulang maka epitel mukosa dan jarinagn limfoid terkikis, sehingga pada
proses penyembuhan jaringan limfoid diganti dengan jaringan parut. Jaringan ini akan
mengerut sehingga ruang antara kelompok melebar yang akan diisi oleh detritus, proses ini
meluas hingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlekatan dengan jaringan sekitar fosa
tonsilaris. 6
MANIFESTASI KLINIS
Adanya keluhan pasien di tenggookan seperti ada penghalang, tenggorokan terasa kering,
pernapasan berbau. Sat pemeriksaan ditemukan tonsil membesar dengan permukaan tidak
rata, kriptus membesar dan terisi detritus. 6
KOMPLIKASI
Timbul rhinitis kronis, sinusitis atau optitis media secara perkontinuitatum, endokarditis,
arthritis, miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitus, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan
furunkulosis. 6
PEMERIKSAAN
1) Terapi 6
Terapi mulut (terapi lokal) ditujukan kepada hygiene mulut dengan berkumur atau obat isap.
Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa tidak berhasil.
2)

Faktor penunjang 6
Kultur dan uji resistensi kuman dari sedian apus tonsil.
INDIKASI TONSILEKTOMI 5,8

1) Sumbatan
1.1)

Hiperplasia tonsil dengan sumbatan jalan nafas

1.2)

Gangguan menelan

1.3)

Gangguan berbicara

2) Infeksi
2.1)

Infeksi telinga tengah berulang

2.2)

Rinitis dan sinusitis yang kronis

2.3)

Peritonsiler abses

2.4)

Tonsilitis kronis dengan gejala nyeri tenggorok yang menetap

3) Kecurigaan adanya tumor jinak atau ganas