Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS DOKTER INTERNSHIP

Adenotonsilitis Kronik
Ilmu Kesehatan THT
Disusun Oleh
r. Yesi Nurwidiyastuti

LAPORAN KASUS DOKTER INTERNSHIP


ADENOTONSILITIS KRONIK

Disusun Oleh :
dr. Yesi Nurwidiyastuti

RSUD SINJAI
SINJAI
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Adenotonsilitis kronik pada anak mungkin disebabkan karena anak sering menderita
ISPA atau karenaadenotonsilitis akut yang tidak diterapi adekuat atau dibiarkan. Berdasarkan
data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun 1994-1996, prevalensi
adenotonsilitis kronik tertinggi setelah nasofaringitis akut (4,6%) yaitu sebesar 3,8%.1
Insiden di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April 1997 sampai dengan Maret
1998 ditemukan 1024 pasien tonsilitis kronik atau 6,75% dari seluruh jumlah kunjungan.3
Secara klinis pada adenotonsilitis kronik didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok
atau nyeri telan ringan, mulut berbau, badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan menurun,
nyeri kepala dan badan terasa demam.4
Gejalanya dapat menyebabkan apnea obstruksi saat tidur; gejala yang umum pada
anak adalah mendengkur, sering mengantuk, gelisah, perhatian berkurang dan prestasi belajar
yang kurang baik.3,5 Kualitas hidup anak dengan apnea obstruksi saat tidur dapat dinilai dari
hasil atau prestasi belajarnya.6 Indikasi tonsilektomi adalah sebagai fokus infeksi, kualitas
hidup menurun dan menimbulkan rasa tidak nyaman.7
Belajar adalah aktivitas (usaha dengan sengaja) yang dapat menghasilkan perubahan
berupa kecakapan baru pada diri individu. Proses dan hasil belajar dipengaruhi oleh berbagai
faktor antara lain kondisi fisiologis dan psikologis diri individu. Perubahan perilaku akibat
belajar tersebut menandai keberhasilan proses belajar dan mengajar dan digunakan sebagai
indikator prestasi belajar.
Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti bahwa tonsilitis kronik dapat mengganggu
kondisi fisiologis dan psikologis anak sehingga dapat mengganggu proses belajar.8

BAB II
LAPORAN KASUS
3

1. IDENTITAS PASIEN
Nama
: AN. AA
Umur
: 9 tahun
Jenis Kelamin
: Perempuan
Pekerjaan
: Pelajar SD
Masuk RS
: 27 7 2015
Alamat
: Sinjai
2. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 27 Juli 2015, pukul 20.00 WIB
Keluhan utama : Sering nyeri menelan sejak 3 bulan SMRS
Keluhan tambahan : pilek, napas bau, tidur sering mengorok
Riwayat Penyakit Sekarang :
3 bulan SMRS, pasien mengeluh sering nyeri menelan yang hilang timbul.
Nyeri menelan dirasakan terutama saat menelan makanan. Pasien juga mengeluh
perasaan tidak enak di tenggorokan. Sebelumnya pasien juga mengeluh nyeri
menelan disertai dengan sering demam, batuk, pilek dengan lendir putih yang
kumat-kumatan dan hidung tersumbat, Keluhan nyeri menelan jika mengkonsumsi
makanan padat seperti nasi, tetapi tidak ada keluhan jika mengkonsumsi cairan.
Keluhan dirasa semakin hebat bila pasien mengkonsumsi makanan pedas dan
gorengan. Menurut orang tuanya, pasien saat tidur mengorok tetapi tidak sampai
terbangun, ada malas belajar dan lesu. Pasien tidak mengeluh nyeri pada kedua
telinga, tidak ada kurang pendengaran dan tidak ada sakit kepala. Oleh
orangtuanya, pasien diberi obat flu yang dibeli di warung, pasien merasa baikan
namun kambuh lagi.
1 bulan SMRS, pasien pergi berobat ke dokter spesialis THT. Setelah
diperiksa, pasien diberitahukan bahwa amandelnya membesar dan disarankan
untuk dilakukan operasi pengangkatan amandel. Namun pasien belum mau
dioperasi dan lebih memilih untuk diberi pengobatan mengurangi gejala.
3 hari SMRS, pasien masih sering nyeri menelan dirasakan terutama saat
menelan makanan. Pasien juga mengeluh perasaan tidak enak di tenggorokan dan
bau mulut. Tidak ada keluhan pilek dan hidung tersumbat, Tidak ada keluhan
nyeri hebat yang menyebabkan sulit membuka mulut ataupun suara yang serak.
Tidak ada keluhan telinga berdenging, terasa penuh, nyeri telinga, ataupun
pendengaran berkurang.
1 hari SMRS, direncanakan operasi pengangkatan amandel.

Sejak 1 tahun SMRS, pasien mengeluh nyeri menelan yang hilang timbul.
Nyeri menelan terutama dirasakan saat menelan makanan padat disertai demam,
batuk, pilek yang kumat-kumatan dan hidung tersumbat selama 1 tahun dalam
setahun lebih dari lima kali serangan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat alergi obat (-), asma (-), maag (-), hipertensi(-), diabetes mellitus(-).

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit serupa (-), alergi (-), asma(-), maag (-), hipertensi(-), diabetes
mellitus (-).

3. PEMERIKSAAN OBYEKTIF
Status Presens
Keadaan umum
: Baik
Kesadaran
: Compos mentis
Status Gizi
: Cukup
Nadi
: 80 x/menit
Tensi
: 120/80 x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 37 O C
Kepala dan Leher
Kepala
Wajah
Leher anterior
Leher posterior

: normocephal
: Simetris
: KGB tidak teraba membesar
: KGB tidak teraba membesar

Status Lokalis
1. Telinga
Dextra
Bentuk (N), Nyeri tekan (-)
Fistel (-), Abses (-),

Sinistra
Bentuk (N), Nyeri tekan (-)
Fistel (-), Abses (-),

Hiperemis (-), Nyeri tekan

Hiperemis (-), Nyeri tekan

Retroauricula

(-) Tragus pain (-)


Hiperemis (-), udema (-),

(-), Tragus pain (-)


Hiperemis (-), udema (-),

Mastoid

Nyeri tekan (-)


Hiperemis (-), udema (-),

Nyeri tekan (-)


Hiperemis (-), udema (-),

Nyeri tekan (-)

Nyeri tekan (-)

Auricula
Preauricula

CAE

Hiperemis (-), udema (-),

Hiperemis (-), udema (-),

Corpus alineum (-)

Corpus alineum (-)

Discharge (-)

Discharge (-)

Membran tympani :
Dextra
(-), MT Intak
(+)
Putih keabu-abuan
Normal, bulging(-)

Perforasi
Reflex cahaya
Warna
Bentuk
Pemeriksaan rutin khusus

Sinistra
(-), MT Intak
(+)
Putih keabu-abuan
Normal, bulging(-)

: Tidak dilakukan pemeriksaan.

2. Hidung dan sinus paranasal


a. Hidung
Hidung
Sekret
Mukosa konka media

Dextra
Bentuk normal
Mukoserous
Hiperemis(-), hipertrofi (-)

Sinistra
Bentuk normal
Mukoserous
Hiperemis(-),

Mukosa konka

hipertrofi(-)
Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-),

inferior
Meatus media

hipertrofi(-)
Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-),

Meatus inferior

hipertrofi(-)
Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-),

hipertrofi(-)
Septum
Deviasi (-)
Deviasi (-)
Massa
(-)
(-)
Pemeriksaan rutin khusus : tidak dilakukan pemeriksaan
b. Sinus Paranasal
Dextra
Infraorbita
Supraorbita
Glabella
Diafanoskopi
Lain-lain

:
:
:
:
:

3. Tenggorok
Orofaring
Mukosa bucal
Ginggiva
Gigi geligi

Sinistra

Tidak dilakukan pemeriksaan

: Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar


: Warna merah muda, sama dengan daerah sekitar
: Warna kuning gading, caries (-),
6

gangren(-)

Lidah 2/3 anterior : Dalam batas normal


Arkus faring
: Simetris (+), hiperemis (-)
Palatum
: Warna merah muda
Dinding posterior orofaring : Hiperemis (-), granulasi (-)

Tonsil :
Dextra
Ukuran
T2
Kripte
Melebar
Permukaan
Tidak rata
Warna
Hiperemis (+)
Detritus
(+)
Fixative
(-)
Peritonsil
Abses (-)
Pilar anterior
Kemerahan
Pemeriksaan rutin khusus : Tidak dilakukan

Sinistra
T2
Melebar
Tidak rata
Hiperemis (+)
(+)
(-)
Abses (-)
Kemerahan

Nasofaring

Discharge
Mukosa
Adenoid
Massa

: Tidak dilakukan pemeriksaan


: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Tidak hipertrofi
: (-)

Laringofaring

Mukosa
Massa
Lain-lain

:
:
:

Tidak dilakukan pemeriksaan

Laring

Epiglotis
Plica vocalis
- Gerakan
- Posisi
- Tumor
Massa

:
:
:
:
:
:

Tidak dilakukan pemeriksaan

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Laboratorium
Hb : 12,9 g/dl
Leukosit : 8,9 10^3/ ul
7

Ht : 39
Trombosit 288000/ul
LED : 9 mm/jam
GDS 97 mg/dl

5. RESUME
Pemeriksaan Subjektif : Seorang anak perempuan usia 9 tahun datang dengan
keluhan hilang timbul selama 1 tahun : Odinofagia residif, frekuensi > 5 kali/tahun,
perasaan tenggorokan tidak nyaman (+), batuk dan pilek (+), febris (+). Sulit
konsentrasi (+), Nyeri menelan saat makanan padat (+), Tidak nyeri menelan saat
mengkonsumsi cairan. cephalgia (-), malaise (+), snoring (+), sleep apneu(-), halitosis
(+). Riwayat rhinorea (-), obstruksi cavum nasi (-), trismus (-), disfonia (-), tinitus low
frequence (-), otalgia (-), hearing loss(-).RPD: Riwayat alergi obat (-), asma (-), maag
(-), hipertensi(-), diabetes mellitus(-).Riwayat Penyakit Keluarga :Riwayat penyakit
serupa (-), alergi (-), asma(-), maag (-), hipertensi(-), diabetes mellitus (-).
Pemeriksaan objektif = Tonsil : T3/T3 hiperemis, kripte melebar, tidak rata,
detritus (+)
Pemeriksaan lab = Pemeriksaan darah rutin = Hb : 12,9 g/dl, Leukosit : 8,9
10^3/ ul, Ht : 39, Trombosit 288000/ul, Kimia : GDS 97 mg/dl.
6. DIAGNOSA BANDING
- Adenotonsilitis kronis
- Tonsilofaringitis kronis
7. DIAGNOSA SEMENTARA :
Adenotonsilitis kronis
Dasar diagnosis : Odinofagia residif selama 1 tahun dengan frekuensi > 6 kali/tahun,
perasaan tenggorokan tidak nyaman (+), batuk dan pilek (+), febris (+). Sulit
konsentrasi (+), Nyeri menelan saat makanan padat (+), Tidak nyeri menelan saat
mengkonsumsi cairan. malaise (+), snoring (+), sleep apneu(-), halitosis (+).
Pemeriksaan Fisik

:Tonsil : T3/T3 hiperemis, kripte melebar, tidak rata,

detritus+
8. ANJURAN
Adenotonsilektomi
9. PROGNOSIS
8

Ad Sanationam
Ad Functionam
Ad Vitam

: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam

10. PENATALAKSANAAN
Medika Mentosa pre operatif:
-

IVFR RL 12 tetes per menit


Cefotaxime 1,3 gr / 12 jam / iv

Non Medika Mentosa post operatif :


-

Kompres es pada luka


Diet bubur saring

Medikamentosa post operatif :


-

IVFD RL : D5% = 1:1 24 tetes per menit


Antibiotika Injeksi Ceftrisxone 1,3 gr/12 jam/iv
Antiinflamasi : Injeksi Dexamethasone 1 gr/12jam/iv

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

I.

ANATOMI TONSIL
Tonsilla lingualis, tonsilla palatina, tonsilla faringeal dan tonsilla tubaria
membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk saluran nafas dan saluran
pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin Waldeyer. Kumpulan jaringan ini
melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan makanan. Jaringan limfe pada
cincin Waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada masa kanak-kanak, adenoid pada
9

umur 3 tahun dan tonsil pada usia 5 tahun, dan kemudian menjadi atrofi pada masa
pubertas.8

Gambar 1 : Cincin Waldeyer


Jaringan limfoid lainnya yaitu tonsil lingual, pita lateral faring dan kelenjarkelenjar limfoid. Kelenjar ini tersebar dalam fossa Rossenmuler, dibawah mukosa
dinding faring posterior faring dan dekat orificium tuba eustachius (tonsil Gerlachs).
8,9

Tonsilla palatina adalah dua massa jaringan limfoid berbentuk ovoid yang
terletak pada dinding lateral orofaring dalam fossa tonsillaris. Tiap tonsilla ditutupi
membran mukosa dan permukaan medialnya yang bebas menonjol kedalam faring.
Permukaannya tampak berlubang-lubang kecil yang berjalan ke dalam Cryptae
Tonsillares yang berjumlah 6-20 kripta. Pada bagian atas permukaan medial tonsilla
terdapat sebuah celah intratonsil dalam. Permukaan lateral tonsilla ditutupi selapis
jaringan fibrosa yang disebut Capsula tonsilla palatina, terletak berdekatan dengan
tonsilla lingualis. 8,9

Gambar 2. Tonsil Palatina


10

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsilla palatina adalah :


Anterior : arcus palatoglossus
Posterior : arcus palatopharyngeus
Superior : palatum mole
Inferior : 1/3 posterior lidah
Medial : ruang orofaring
Lateral : kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior. A. carotis
interna terletak 2,5 cm dibelakang dan lateral tonsilla.

Gambar 3. Anatomi normal Tonsil Palatina

Adenoid atau tonsila faringeal adalah jaringan limfoepitelial berbentuk


triangular yang terletak pada aspek posterior. Adenoid berbatasan dengan kavum nasi
dan sinus paranasalis pada bagian anterior, kompleks tuba eustachius- telinga tengahkavum mastoid pada bagian lateral.9
Terbentuk sejak bulan ketiga hingga ketujuh embriogenesis. Adenoid akan
terus bertumbuh hingga usia kurang lebih 6 tahun, setelah itu akan mengalami regresi.
Adenoid telah menjadi tempat kolonisasi kuman sejak lahir. Ukuran adenoid beragam
antara anak yang satu dengan yang lain. Umumnya ukuran maximum adenoid tercapai
pada usia antara 3-7 tahun. Pembesaran yang terjadi selama usia kanak-kanak muncul
sebagai respon multi antigen seperti virus, bakteri, alergen, makanan dan iritasi
lingkungan.8

11

Gambar 4. Adenoid

Fossa tonsil atau sinus tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas
anterior adalah otot palatoglosus, batas lateral atau dinding luarnya adalah otot
konstriktor faring superior. Pada bagian atas fossa tonsil terdapat ruangan yang
disebut fossa supratonsil. Ruangan ini terjadi karena tonsil tidak mengisi penuh fossa
tonsil.9
Pada bagian permukaan lateral dari tonsil tertutup oleh suatu membran
jaringan ikat, yang disebut kapsul. Kapsul tonsil terbentuk dari fasia faringobasilar
yang kemudian membentuk septa. 9
Plika anterior dan plika posterior bersatu di atas pada palatum mole. Ke arah
bawah berpisah dan masuk ke jaringan di pangkal lidah dan dinding lateral faring.
Plika triangularis atau plika retrotonsilaris atau plika transversalis terletak diantara
pangkal lidah dengan bagian anterior kutub bawah tonsil dan merupakan serabut yang
berasal dari otot palatofaringeus. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat
pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi yang sering terjadi adalah terdapatnya
sisa tonsil atau terpotongnya pangkal lidah.9
Vaskularisasi tonsil berasal dari cabang-cabang A. karotis eksterna yaitu A.
maksilaris eksterna (A. fasialis) yang mempunyai cabang yaitu A. tonsilaris dan A.
palatina asenden, A. maksilaris interna dengan cabang A. palatina desenden, serta A.
lingualis dengan cabang A. lingualis dorsal, dan A. faringeal asenden. Arteri tonsilaris
berjalan ke atas pada bagian luar m. konstriktor superior dan memberikan cabang
untuk tonsil dan palatum mole. Arteri palatina asenden, mengirimkan cabangcabangnya melalui m. konstriktor posterior menuju tonsil. Arteri faringeal asenden
juga memberikan cabangnya ke tonsil melalui bagian luar m. konstriktor superior.
Arteri lingualis dorsal naik ke pangkal lidah dan mengirim cabangnya ke tonsil, plika
12

anterior dan plika posterior. Arteri palatina desenden atau a. palatina posterior atau
"lesser palatine artery" memberi vaskularisasi tonsil dan palatum mole dari atas dan
membentuk anastomosis dengan a. palatina asenden. Vena-vena dari tonsil
membentuk pleksus yang bergabung dengan pleksus dari faring. 9,10

Gambar 5. Pendarahan Tonsil

Infeksi dapat menuju ke semua bagian tubuh melalui perjalanan aliran getah
bening. Aliran limfa dari daerah tonsil akan mengalir ke rangkaian getah bening
servikal profunda atau disebut juga deep jugular node. Aliran getah bening
selanjutnya menuju ke kelenjar toraks dan pada akhirnya ke duktus torasikus.
Innervasi tonsil bagian atas mendapat persarafan dari serabut saraf V melalui
ganglion sphenopalatina dan bagian bawah tonsil berasal dari saraf glossofaringeus
(N. IX). 9,10

13

Gambar 6. Sistem Limfatik kepala dan leher

Lokasi tonsil sangat memungkinkan mendapat paparan benda asing dan


patogen, selanjutnya membawa mentranspor ke sel limfoid. Aktivitas imunologi
terbesar dari tonsil ditemukan pada usia 3 10 tahun. Pada usia lebih dari 60 tahun Igpositif sel B dan sel T berkurang banyak sekali pada semua kompartemen tonsil.
Secara sistematik proses imunologis di tonsil terbagi menjadi 3 kejadian yaitu
respon imun tahap I, respon imun tahap II, dan migrasi limfosit. Pada respon imun
tahap I terjadi ketika antigen memasuki orofaring mengenai epitel kripte yang
merupakan kompartemen tonsil pertama sebagai barier imunologis. Sel M tidak hanya
berperan mentranspor antigen melalui barier epitel tapi juga membentuk komparten
mikro intraepitel spesifik yang membawa bersamaan dalam konsentrasi tinggi
material asing, limfosit dan APC seperti makrofag dan sel dendritik
Respon imun tonsila palatina tahap kedua terjadi setelah antigen melalui epitel
kripte dan mencapai daerah ekstrafolikular atau folikel limfoid. Adapun respon imun
berikutnya berupa migrasi limfosit. Perjalanan limfosit dari penelitian didapat bahwa
migrasi limfosit berlangsung terus menerus dari darah ke tonsil melalui HEV( high
endothelial venules) dan kembali ke sirkulasi melalui limfe.

II.

HISTOLOGI TONSIL
Secara histologis tonsil mengandung 3 unsur utama yaitu jaringan ikat atau
trabekula (sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf dan limfa), folikel
germinativum (sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda) serta jaringan
interfolikel (jaringan limfoid dari berbagai stadium).9
14

Gambar 7. Gambaran Histologi Tonsil

III.

DEFINISI TONSILITIS KRONIS


Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis tonsil setelah serangan akut yang
terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada
anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang
keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan
yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus. 10

Gambar 8. Tonsilitis

IV.

ETIOLOGI TONSILITIS KRONIS


Etiologi berdasarkan Morrison yang mengutip hasil penyelidikan dari
Commission on Acute Respiration Disease bekerja sama dengan Surgeon General of the
Army America dimana dari 169 kasus didapatkan data sebagai berikut :

25%

disebabkan

oleh

Streptokokus

hemolitikus

yang

pada

masa penyembuhan tampak adanya kenaikan titer Streptokokus antibodi


dalam serum penderita.

15

25%

disebabkan

oleh

Streptokokus

golongan

lain

yang

tidak

menunjukkan kenaikan titer Streptokokus antibodi dalam serum penderita.


Sisanya adalah Pneumokokus, Stafilokokus, Hemofilus influenza.
V.

FAKTOR PREDISPOSISI
Beberapa faktor predisposisi timbulnya kejadian Tonsilitis Kronis, yaitu : 10
Rangsangan kronis (rokok, makanan)
Higiene mulut yang buruk
Pengaruh cuaca (udara dingin, lembab, suhu yang berubah- ubah)
Alergi (iritasi kronis dari allergen)
Keadaan umum (kurang gizi, kelelahan fisik)
Pengobatan Tonsilitis Akut yang tidak adekuat.

VI.

MANIFESTASI KLINIS
Umumnya penderita sering mengeluh karena serangan tonsilitis akut yang
berulang ulang, nyeri yang terus-menerus pada tenggorokan (odinofagi), nyeri
menelan atau ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan bila menelan, terasa
kering dan pernafasan berbau.
Pada pemeriksaan, terdapat dua macam gambaran tonsil dari Tonsilitis Kronis
yang mungkin tampak, yakni :
1. Tampak pembesaran tonsil oleh karena hipertrofi dan perlengketan ke jaringan
sekitar, kripta yang melebar, tonsil ditutupi oleh eksudat yang purulen atau seperti
keju.
2. Tonsil tetap kecil, mengeriput, kadang-kadang seperti terpendam di dalam tonsil
bed dengan tepi yang hiperemis, kripta yang melebar dan ditutupi eksudat yang
purulen.
Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur
jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua
tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi : 10
T0 : Tonsil masuk di dalam fossa
T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T2: 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring
T4 : >75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

VII.

DIAGNOSIS
Adapun tahapan menuju diagnosis tonsilitis kronis adalah sebagai berikut
1. Anamnesa
16

Keluhan rasa sakit pada tenggorok yang terus menerus, sakit waktu menelan,
nafas bau busuk, malaise, sakit pada sendi, kadang-kadang ada demam dan nyeri
pada leher.
2. Pemeriksaan Fisik
Tampak tonsil membesar dengan adanya hipertrofi dan jaringan parut. Sebagian
kripta mengalami stenosis, tapi eksudat (purulen) dapat diperlihatkan dari kriptakripta tersebut. Pada beberapa kasus, kripta membesar, dan suatu bahan seperti
keju atau dempul amat banyak terlihat pada kripta.
3. Pemeriksaan Penunjang
Kultur dan uji resistensi (sensitifitas) kuman dari sediaan apus tonsil. Biakan swab
sering menghasilkan beberapa macam kuman dengan derajat keganasan yang
rendah, seperti Streptokokus hemolitikus, Streptokokus viridans, Stafilokokus,
atau Pneumokokus. 10
VIII.

KOMPLIKASI
Komplikasi dari tonsilitis kronis dapat terjadi secara perkontinuitatum ke
daerah sekitar atau secara hematogen atau limfogen ke organ yang jauh dari tonsil.
Adapun berbagai komplikasi yang kerap ditemui adalah sebagai berikut : 10
1) Komplikasi sekitar tonsil
Peritonsilitis : Peradangan berat pada tonsil dan daerah sekitarnya tanpa

adanya trismus dan abses.


Abses Peritonsilar (Quinsy) : Kumpulan nanah yang terbentuk di dalam ruang
peritonsil. Sumber infeksi berasal dari penjalaran tonsilitis akut yang

mengalami supurasi, menembus kapsul tonsil dan penjalaran dari infeksi gigi.
Abses Parafaringeal : Infeksi dalam ruang parafaring dapat terjadi melalui

aliran getah bening atau pembuluh darah.


Abses Retrofaring : Merupakan pengumpulan pus dalam ruang retrofaring.
Biasanya terjadi pada anak usia 3 bulan sampai 5 tahun karena ruang

retrofaring masih berisi kelenjar limfe.


Kista Tonsil : Sisa makanan terkumpul dalam kripta mungkin tertutup oleh
jaringan fibrosa dan ini menimbulkan kista berupa tonjolan pada tonsil

berwarna putih dan berupa cekungan, biasanya kecil dan multipel.


Tonsilolith (Kalkulus dari tonsil) : Terjadinya deposit kalsium fosfat dan
kalsium karbonat dalam jaringan tonsil yang membentuk bahan keras seperti

kapur.
2) Komplikasi Organ jauh
Demam rematik dan penyakit jantung rematik
17

IX.

Glomerulonefritis
Episkleritis, konjungtivitis berulang dan koroiditis
Psoriasiseritema multiforme, kronik urtikaria dan purpura
Artritis dan fibrositis.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan
tonsil (Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana
penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan gejalagejala.
Penatalaksanaan medis termasuk pemberian antibiotika penisilin yang lama,
irigasi tenggorokan sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripta tonsilaris
dengan alat irigasi gigi (oral). Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan
dengan infeksi kronis atau berulang-ulang.
Tonsilektomi merupakan suatu prosedur pembedahan yang diusulkan oleh
Celsus dalam buku De Medicina (tahun 10 Masehi). Jenis tindakan ini juga
merupakan tindakan pembedahan yang pertama kali didokumentasikan secara ilmiah
oleh Lague dari Rheims (1757).
KESIMPULAN
Tonsilitis kronik pada anak mungkin disebabkan karena anak sering menderita
ISPA atau karena tonsilitis akut yang tidak diterapi adekuat atau dibiarkan.
Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam
fosa tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot
palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Bagian tonsil antara lain: fosa
tonsil, kapsul tonsil, plika triangularis.
Tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring menyelimuti organisme yang
berbahaya. Bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus
tersebut maka akan timbul tonsilitis.Tonsilitis adalah suatu proses inflamasi atau
peradangan pada tonsil yang disebabkan oleh virus ataupun bakteri.
Tonsilitis Kronis adalah peradangan kronis Tonsil setelah serangan akut yang
terjadi berulang-ulang atau infeksi subklinis. Tonsilitis berulang terutama terjadi pada
anak-anak dan diantara serangan tidak jarang tonsil tampak sehat. Tetapi tidak jarang
keadaan tonsil diluar serangan terlihat membesar disertai dengan hiperemi ringan
yang mengenai pilar anterior dan apabila tonsil ditekan keluar detritus.

18

Secara klinis pada tonsilitis kronik didapatkan gejala berupa nyeri tenggorok
atau nyeri telan ringan, mulut berbau, badan lesu, sering mengantuk, nafsu makan
menurun, nyeri kepala dan badan terasa meriang.
Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan
tonsil (Adenotonsilektomi). Tindakan ini dilakukan pada kasus-kasus dimana
penatalaksanaan medis atau terapi konservatif yang gagal untuk meringankan gejalagejala. Indikasi tonsilektomi pada tonsilitis kronik adalah jika sebagai fokus infeksi,
kualitas hidup menurun dan menimbulkan rasa tidak nyaman.

DAFTAR PUSTAKA
1. Vetri RW, Sprinkle PM., Ballenger JJ. Etiologi Peradangan saluran Nafas Bagian
Atas Dalam : Ballenger JJ. Ed. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher.
Edisi 13. Bahasa Indonesia, jilid I. Jakarta: Binarupa Aksara; 1994 : 194-224.
2. Suwento R. Epidemiologi Penyakit THT di 7 Propinsi. Kumpulan makalah dan
pedoman kesehatan telinga. Lokakarya THT Komunitas. PIT PERHATI-KL,
Palembang, 2001: 8-12.
3. Aritomoyo D. Insiden tonsilitis akuta dan kronika pada klinik THT RSUP Dr. Kariadi
Semarang, Kumpulan naskah ilmiah KONAS VI PERHATI, Medan, 1980: 249-55.
4. Udaya R, Sabini TB. Pola kuman aerob dan uji kepekaannya pada apus tonsil dan
jaringan tonsil pada tonsilitis kronis yang mengalami tonsilektomi. Kumpulan naskah
ilmiah KONAS XII PERHATI, Semarang:BP Undip;1999: 193-205.
5. Jackson C, Jackson CL. Disease of the Nose, Throat and Ear, 2 Nd ed.. Philadelphia:
WB Saunders Co; 1959: 239-57.
6. Lipton AJ. Obstructive sleep apnea syndrome :http://www.emedicine.com/ped/topic
1630.htm.2002.
7. Franco RA, Rosenfeld RM. Quality of life for children with obstructive sleep apnea.
Otolaryngol. Head and Neck Surgery. 2000; 123:9-16
8. Adams LG, Boies RL, Higler AP, BOIES Fundamentals of Otolaryngology. 6 th Ed.
Edisi Bahasa Indonesia, EGC, Jakarta, 2001; 263-368
9. Snell,Richard S, . 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran; alih bahasa
Liliana Sugiharto; Ed 6. EGC : Jakarta.
19

10. Soepardi AE.dr, Iskandar N.Dr.Prof, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher, FKUI, Jakarta, 2001; 180-183

20