Anda di halaman 1dari 10

Gangguan Penglihatan Jarak Jauh

*Melisa 102012226
Pendahuluan
Miopia atau nearsightedness atau rabun jauh adalah suatu bentuk kelainan refraksi dimana sinarsinar sejajar akan dibiaskan pada suatu titik di depan retina pada mata tanpa akomodasi.
Akomodasi adalah kemampuan mata untuk mengubah daya bias lensa dengan kontraksi otot
siliar yang menyebabkan penambahan tebal dan kecembungan lensa sehingga bayangan pada
jarak yang berbeda-beda akan terfokus di retina.1,2,3
Pembahasaan
Anatomi dan Fisiologi
Bagian dari mata yang penting dalam memfokuskan bayangan adalah kornea, lensa dan retina.
Kornea adalah suatu jaringan yang transparan, jernih, di depan iris ( bagian mata yang berwarna.
Kornea merupakan struktur pertama yang dilewati cahaya dan memiliki kemampuan refraksi
kornea tetap konstan. Lensa adalah struktur bikonveks, avaskular, tidak berwarna dan hampir
transparan sempurna. Lensa memiliki kemampuan refraksi lensa dapat disesuailan untuk
keperluan melihat jauh atau dekat yang disebut sebagai akomodasi. Retina adalah selembar tipis
jaringan saraf yang semitransparan dan multilapis pada dinding posterior bola mata.1,2,3,6
Cahaya yang melewati kornea akan diteruskan melalui pupil, kemudian difokuskan oleh lensa ke
bagian belakang mata, yaitu retina. Fotoreseptor pada retina mengumpulkan informasi yang
ditangkap mata, kemudian mengirimkan sinyal informasi tersebut ke otak melalui saraf optik.
Semua bagian tersebut harus bekerja simultan untuk dapat melihat suatu objek.1,2,3,6
Berkas cahaya akan berbelok / berbias ( mengalami refraksi ) apabila berjalan dari satu medium
ke medium lain dengan kepadatan yang berbeda kecuali apabila berkas cahaya tersebut jatuh
tegak lurus permukaan.10
Bentuk-bentuk Miopia
Miopia dikenal dalam beberapa bentuk, yaitu miopia refraktif dan miopia aksial. Miopia
refraktif adalah miopia dimana bertambahnya indeks bias media penglihatan seperti yang
1

terdapat pada katarak intumesen, dimana lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih
kuat. Disebut juga dengan miopia bias atau miopia indeks, miopia yang terjadi akibat pembiasan
media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.Miopia aksial adalah miopia yang terjadi
akibat bertambah panjang sumbu bola mata, dengan kelengkungan kornea dan lensa yang
normal. 1 Menurut derajat beratnya, miopia dibagi menjadi 3 yaitu, miopia ringan, miopia
sedang dan miopia berat atau tinggi. Dikatakan miopia ringan, apabila 1-3 dioptri, miopia sedang
antara 3-6 dioptri dan miopia berat atau tinggi apabila lebih besar dari 6 dioptri.1
Menurut perjalanan miopia dikenal dalam bentuk miopia stasioner, miopia progresif dan
miopia maligna atau miopia degeneratif. Miopia stasioner adalah miopia yang menetap setelah
dewasa atau tidak ada penambahan ukuran lensa negatif seiring dengan bertambahnya usia
setelah dewasa. Miopia progresif adalah miopia yang terjadi penambahan terus-menerus ukuran
lensa negatif pada uasia dewasa, akibat bertambah panjangnya sumbu bola mata. Miopia maligna
atau miopia degeneratif 4 adalah miopia yang berjalan progresif, yang dapat mengakibatkan
ablasio retina dan kebutaan. Biasanya terjadi bila miopia lebih dari 6 dioptri disertai dengan
kelainan pada fundus okuli dan pada panjangnya bola mata sampai terbentuk stafiloma postikum
yang terletak pada bagian temporal papil disertai dengan atrofi korioretina. Atrofi retina berjalan
kemudian setelah terjadinya atrofi sklera dan kadang-kadang terjadi ruptur membran Bruch yang
dapat menimbulkan rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi subretina. Pada miopia dapat
terjadi bercak Fuch berupa hiperplasi pigmen epitel dan perdarahan, atrofi lapis sensoris retina
luar dan dewasa akan terjadi degenerasi papil saraf optik.1
Klasifikasi Miopia
1. Simple myopia
Paling sering terjadi dibandingkan tipe lainnya
Kurang dari 6 dioptri (D)
Dapat terjadi astigma
2. Nocturnal myopia
Terjadi pada penerangan yang kurang atau gelap
Disebabkan karena meningkatnya respon akomodasi karena kurangnya cahaya
3. Pseudomyopia
Merupakan respon akomodasi yang tidak sesuai
Disebabkan karena overstimulasi terhadap mekanisme akomodasi
4. Pathological myopia (Degenerative)
Berhubungan dengan perubahan degeneratif pada segmen posterior
2

Menyebabkan perubahan lapang pandang


5. Induced myopia
Dapat disebabkan oleh obat-obatan, kadar gula darah yang bervariasi
Bersifat reversibel atau sementara
Miopia Simpleks

Dimulai pada usia 7-9 tahun dan akan bertambah sampai anak berhenti tumbuh + 20

tahun.
Berat kelainan refraktif biasanya kurang dari -5 D atau -6 D.

Working Diagnosis
Dalam menegakkan diagnosis miopia, harus dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa, pasien mengeluh penglihatan kabur saat
melihat jauh, cepat lelah saat membaca atau melihat benda dari jarak dekat. Pada pemeriksaan
opthalmologis dilakukan pemeriksaan refraksi yang dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
dengan cara subjektif dan cara objektif. Cara subjektif dilakukan dengan penggunaan optotipe
dari snellen dan trial lenses; dan cara objektif dengan oftalmoskopi direk dan pemeriksaan
retinoskopi.1,2,4 Pemeriksaan dengan optotipe Snellen dilakukan dengan jarak pemeriksa dan
penderita sebesar 5-6 m, sesuai dengan jarak tak terhingga, dan pemeriksaan ini harus dilakukan
dengan tenang, baik pemeriksa maupun penderita.
Pada pemeriksaan terlebih dahulu ditentukan tajam penglihatan atau visus (VOD/VOS)
yang dinyatakan dengan bentuk pecahan : Jarak antara penderita denga huruf optotipe Snellen
Jarak yang seharusnya dilihat oleh penderita yang normal Visus yang terbaik adalah 5/5, yaitu
pada jarak pemeriksaan 5 m dapat terlihat huruf yang seharusnya terlihat pada jarak 5 m. Bila
huruf terbesar dari optotipe Snellen tidak dapat terlihat, maka pemeriksaan dilakukan dengan
cara meminta penderita menghitung jari pada dasar putih, pada bermacam-macam jarak. Hitung
jari pada penglihatan normal terlihat pada jatak 60 m, jika penderita hanya dapat melihat pada
jarak 2 m, maka visus sebesar 2/60.
Apabila pada jarak terdekat pun hitung jari tidak dapat terlihat, maka pemeriksaan
dilakukan dengan cara pemeriksa menggerakkan tangannya pada 5 bermacam-macam arah dan
meminta penderita mengatakan arah gerakan tersebut pada bermacam-macam jarak. Gerakan
tangan pada penglihatan normal terlihat pada jarak 300 m, jika penderita hanya dapat melihat
3

gerakan tangan pada jarak 1 m, maka visusnya 1/300. Namun apabila gerakan tangan tidak dapat
terlihat pada jarak terdekat sekalipun, maka pemeriksaan dilanjutkan dengan menggunakan
sinar/cahaya dari senter pemeriksa dan mengarahkan sinar tersebut pada mata penderita dari
segala arah, dengan salah satu mata penderita ditutup. Pada pemeriksaan ini penderita harus
dapat melihat arah sinar dengan benar, apabila penderita dapat melihat sinar dan arahnya benar,
maka fungsi retina bagian perifer masih baik dan dikatakan visusnya 1/~ dengan proyeksi baik.
Namun jika penderita hanya dapat melihat sinar dan tidak dapat menentukan arah dengan benar
atau pada beberapa tempat tidak dapat terlihat maka berarti retina tidak berfungsi dengan baik
dan dikatakan sebagai proyeksi buruk. Bila cahaya senter sama sekali tidak terlihat oleh
penderita maka berarti terjadi kerusakan dari retina secara keseluruhan dan dikatakan dengan
visus 0 (nol) atau buta total. Ketajaman penglihatan yang kurang baik dapat dikoreksi dengan
menggunakan lensa sferis + (S+), sferis (S-), silindris +/- (C+/-).
Pada kelainan refraksi miopia, ketajaman penglihatan dapat dikoreksi dengan
menggunakan Sferis negatif terkecil yang akan memberikan ketajaman penglihatan terbaik tanpa
akomodasi.1,2,4 Pemeriksaan oftalmoskopi direk bertujuan untuk melihat kelainan dan keadaan
fundus okuli, dengan dasar cahaya yang dimasukkan ke dalam fundus akan memberikan refleks
fundus dan akan terlihat gambaran fundus. Pemeriksaan oftalmoskopi pada kasus yang disertai
dengan kelainan refraksi akan memperlihatkan 6 gambaran fundus yang tidak jelas, terkecuali
jika lensa koreksi pada lubang penglihatan oftalmoskopi diputar.
Sehingga dengan terlebih dahulu memperlihatkan keadaan refraksi pemeriksa, maka pada
pemeriksaan oftalmoskopi besar lensa koreksi yang digunakan dapat menentukan macam dan
besar kelainan refraksi pada penderita secara kasar. Pada penderita miopia, pada segmen anterior
tampak bilik mata dalam dan pupil lebih lebar dan kadang ditemukan bola mata yang agak
menonjol. Pada miopia simplek, segmen posterior biasanya terdapat gambaran yang normal atau
disertai miopia kresen yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata
mipoia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat tertutupnya sklera oleh koroid. Pada
penderita miopia patologik, segmen posterior memberikan gambaran kelainan pada badan kaca,
papil saraf optik, makula dan fundus. Pada badan kaca, dapat ditemukan kekeruhan berupa
perdarahan atau degenerasi yang terlihat sebagai floaters atau benda-benda yang mengapung
dalam badan kaca. Kadang ditemukan ablasi badan kaca yang hubungannya belum jelas
4

diketahui dengan keadaan miopia. Pada papil saraf optik, terlihat pigmentasi peripapil, kresen
miopia, papil lebih pucat meluas kearah temporal. Kresen miopia dapat keseluruh lingkaran papil
sehingga seluruh lingkaran papil dikelilingi oleh daerah koroid yang atrofi dan pigmentasi yang
tidak teratur. Pada makula, berupa pigmentasi di daerah retina, kadang-kadang ditemukan
perdarahan subretina pada daerah makula. Dan seluruh lapisan fundus yang tersebar luas berupa
penipisan koroid dan retina, akibat penipisan retina ini bayangan koroid tampak lebih jelas dan
disebut sebagai fundus tigroid.3,4,11
Pemeriksaan

streak

retinoskopi

merupakan

metode

pemeriksaan

yang

dalam

pelaksanaannya tidak memerlukan kerja sama dari penderita, sehingga dapat dilakukan pada
anak-anak ataupun pada orang yang tidak dapat membaca. Retinoskopi dilakukan dalam kamar
gelap, dengan jarak pemeriksa dan penderita sejauh 1 m. Sumber cahaya terletak di atas
penderita, agak ke belakang sehingga wajah penderita dalam keadaan gelap, dan cahaya
ditujukan kepada pemeriksa yang memegang cermin, dimana cermin kemudian memantulkan
cahaya tersebut ke arah pupil penderita, sehingga pemeriksa dapat melihat refleks fundus pada
pupil penderita melalui lubang pada bagian tengah cermin. Kemudian cermin tersebut
digerakgerakkan dan pemeriksa memperhatikan gerakan dari refleks fundus pada mata penderita.
Pada penderita miopia akan didapatkan arah gerak refleks fundus yang berlawanan dengan arah
gerak cermin, maka perlu ditambahkan dengan lensa konkaf (minus), sampai refleks pupil
mengisi seluruh apertura pupil dan tidak lagi terdeteksi adanya gerakan (titik netralisasi). Selain
itu, pemeriksa juga perlu memperhatikan terang, bentuk dan kecepatangerak fundus. Refleks
yang terang, pinggirnya tegas dan gerak yang cepat menunjukkan kelainan refraksi yang ringan,
sedangkan refleks yang 8 suram, pinggir tidak tegas dan gerak lamban menunjukkan adanya
kelainan refraksi yang tinggi.2,4
Tanda dan Gejala
Gejala subyektif miopia antara lain, mata kabur bila melihat jauh, sering sakit kepala,
menyipitkan mata bila melihat jauh (squinting / narrowing lids), lebih menyukai pekerjaan yang
membutuhkan penglihatan dekat dibanding pekerjaan yang memerlukan penglihatan jauh dan
lekas leleha bila membaca.
Etiologi
5

Genetika (Herediter)
Penelitian genetika menunjukkan bahwa miopia ringan dan sedang biasanya bersifat
poligenik, sedangkan miopia berat bersifat monogenik. Penelitian pada pasangan kembar
monozigot menunjukkan bahwa jika salah satu dari pasangan kembar ini menderita miopia,
terdapat risiko sebesar 74% pada pasangannya untuk menderita miopia juga dengan perbedaan
kekuatan lensa di bawah 0,5 D.
Nutrisi
Nutrisi diduga terlibat pada perkembangan kelainan-kelainan refraksi. Penelitian di
Afrika menunjukkan bahwa pada anak-anak dengan malnutrisi yang berat terdapat prevalensi
kelainan refraksi (ametropia, astigmatisma, anisometropia) yang tinggi.
Tekanan Intraokuler
Peningkatan tekanan intraokuler atau peningkatan tekanan vena diduga dapat
menyebabkan jaringan sklera teregang. Hal ini ditunjang oleh penelitian pada monyet, yang
mana ekornya digantung sehingga kepalanya terletak di bawah. Pada monyet-monyet tersebut
ternyata timbul miopia.
Epidemologi
Kelainan ini banyak ditemukan pada anak-anak sekolah.5 Prevalensi penderita miopia di negara
Amerika Serikat dan Eropa adalah sekitar 40-60% tetapi di asia prevalensinya mencapai 70 90
%, dan angka rata-ratanya meningkat di seluruh kelompok etnik. Penelitian yang pernah
dilakukan oleh dr Vidyapati Mangunkusomo SpM, Kepala Subbagian Refraksi Bagian Mata
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan, dari 300 anak-anak sekolah di
perkotaan, 15 % di antaranya mengalami kelainan refraksi. Padahal, di pedesaan hanya 11 %.
Hanya 6-15 % dari anak-anak yang menderita miopia berasal dari orang tua yang tidak menderita
miopia. Dalam suatu keluarga dengan salah satu orang tua yang menderita miopia, 23- 40 %
anak-anaknya menjadi miopia. Jika kedua orang tuanya menderita miopia, angka ini meningkat
rata-rata menjadi 33 60 % dimana anak-anak mereka menderita miopia. Pada suatu penelitian
di Amerika didapatkan bila pada kedua orang tua menderita miopia memiliki kemungkinan 6 kali
lebih anak-anak mereka akan menderita miopia dibandingkan dengan salah satu orang tua yang
menderita atau tidak sama sekali orang tuanya menderita miopia.5,6
Patofisiologi
6

Secara klinik berdasarkan perkembangan patologi yang timbul pada mata, maka miopia dapat
dibagi dalam dua bentuk, yaitu miopia simplek dan miopia patologik.3
Pada miopia simplek tidak diketemukan kelainan patologik fundus, akan tetapi dapat disertai
kelainan fundus yang ringan. Biasanya tidak terjadi perubahan organik, tajam penglihatan
dengan koreksi yang sesuai dapart menjadi normal. Berat kelainan refraktif kurang dari 6 D,
dapat juga disebut miopia fisiologi.
Miopia patologik dapat juga disebut miopia degeneratif, miopia maligna atau miopia progresif.
Tanda-tanda miopia ini adalah adanya progresifitas kelainan fundus yang khas pada pemeriksaan
oftalmoskopik. Pada anak-anak diagnosis ini sudah dapat dibuat jika terdapat peningkatan
beratnya miopia dengan waktu yang relatif pendek, kelainan refraktif yang terdapat biasanya
melebihi 6 D. 3 Tipe miopia patologik atau degeneratif terdapat 2 persen warga Amerika yang
mengalami penambahan panjang diameter bola mata pada pertumbuhan usia 12 tahun.7
Penatalaksanaan
Penderita miopia dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata, kontak lensa atau
melalui operasi. Terapi terbaik pada miopia adalah dengan penggunaan kacamata atau kontak
lensa yang akan mengkompensasi panjangnya bola mata dan akan memfokuskan sinar yang
masuk jatuh tepat di retina.1,2,6 Menggunakan kacamata merupakan cara terapi yang sering
digunakan untuk mengkoreksi miopia. Lensa konkaf yang terbuat dari kaca atau lensa plastik
ditempatkan pada frame dan dipakai didepan mata. Pengobatan pasien dengan miopia adalah
dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan
maksimal tanpa akomodasi. Sebagai contoh bila pasien dikoreksi dengan 3,0 memberikan tajam
penglihatan 5/5, dan demikian juga bila diberi S 3,25, maka sebaiknya diberikan lensa koreksi
3,0 agar untuk memberikan istirahat mata dengan baik sesudah dikoreksi.6,7,8,9 Penggunaan
kontak lensa merupakan pilihan kedua pada terapi miopia. Kontak lensa merupakan lengkungan
yang sangat tipis terbuat dari plastik yang dipakai langsung di mata di depan kornea.
Meski terkadang ada rasa tidak nyaman pada awal pemakaian tetapi kebanyakan orang
akan cepat membiasakan diri terhadap pemakaian kontak lensa. 6 Bagi orang-orang yang tidak
nyaman pada penggunaan kacamata atau kontak lensa dan memenuhi kriteria umur, derajat
miopia dan kesehatan secara umum dapat melakukan operasi refraksi mata sebagai alternatif atau
7

pilhan ketiga untuk mengkoreksi miopia yang dideritanya. Ada tiga type dalam melakukan
operasi mata tersebut : 1) radial keratotomi, 2) photorefraktive keratectomi dan 3) laser-assisted
insitu keratomileusis ( LASIK ).6 LASIK merupakan metode terbaru didalam operasi mata,
LASIK direkomendasikan untuk miopia dengan derajat sedang sampai berat. Pada LASIK
digunakan laser dan alat pemotong yang dinamakan mikrokeratome untuk memotong flap secara
sirkular pada kornea. Flap yang telah dibuat dibuka sehingga terlihat lapisan dalam dari kornea.
Kornea diperbaiki dengan sinar laser untuk mengubah bentuk dan fokusnya, setelah itu flap
ditutup kembali.
Prognosis
Kacamata dan kontak lensa dapat mengkoreksi ( tetapi tidak selalu ) penglihatan pasien
menjadi 5/5. operasi mata dapat memperbaiki kelainan mata pada orang yang memenuhi syarat.
Faktor genetik yang mempengaruhi perkembangan dan derajat keparahan miopi tidak dapat
diubah, tetapi kita dapat mempengaruhi faktor lingkungan sebagai sebab timbulnya miopi. Cara
pencegahan yang dapat kita lakukan adalah dengan membaca di tempat yang terang,
menghindari membaca pada jarak dekat, beristirahat sejenak ketika bekerja di depan komputer
atau mikroskop, nutrisi yang baik dan terapi penglihatan. Tidak ada angka kejadian berdasarkan
penelitian yang menjelaskan bahwa kontak lensa atau latihan mata dapat menghentikan
progresifitas dari miopi. Ketegangan mata dapat dicegah dengan menggunakan cahaya yang
cukup pada saat membaca dan bekerja, dan menggunakan kacamata atau lensa yang disarankan.
Pemeriksaan secara teratur sangat penting untuk penderita degeneratif miopi karena mereka
mempunyai faktor resiko untuk terjadinya ablasi retina, degenerasi retina atau masalah lainnya.6
Pencegahan

Pemeriksaan mata sedini mungkin jika didalam keluarga ada riwayat pemakaian
kacamata

Bagi ibu hamil disarankan untuk mengkonsumsi vitamin A

Jika ada kelainan mata, kenali dan perbaiki sejak awal.

Komplikasi

Pada penderita miopia yang tidak dikoreksi dapat timbul komplikasi. Komplikasi tersebut
antara lain, ablasi retina dan strabismus esotropia. Ablasi retina terjadi karena pada miopia tinggi
terbentuk stafiloma sklera posterior yang terletak dipolus posterior, maka retina harus meliputi
permukaan yang lebih luas sehingga teregang dan menimbulkan fundus tigroid. Akibat regangan
mungkin dapat menyebabkan ruptura dari pembuluh darah retina dan mengakibatkan perdarahan
yang dapat masuk kedalam badan kaca, mungkin juga terjadi ablasi retina akibat timbulnya
robekan karena tarikan.Strabismus esotropia terjadi karena pada pasien miopia memiliki
pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau kedudukan konvergensi yang
akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila kedudukan mata ini menetap, maka
penderita akan terlihat juling kedalam atau esotropia. Bila terdapat juling keluar mungkin fungsi
satu mata telah berkurang atau terdapat ambliopia.1,2,6

Daftar Pustaka
1. Ilyas, Sidarta,Prof.dr.H. SpM. Ilmu penyakit Mata, FKUI, hal: 76-78, 2002
2. Vaughan, Daniel G dkk. Oftalmologi umum. Penerbit EGC.edisi 14, 2000
3. Ilyas, Sidarta,Prof.dr.Ht. SpM dkk. Sari Ilmu Penyakit Mata. FK UI. hal 5-6. 2000

4. Ilyas, Sidarta,Prof.dr.Ht. SpM. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata. FK
UI.hal 4-5, 75. 2000
5. Makanan dan Cara Membaca Memengaruhi Kesehatan Mata. Kompas, Sabtu, 30 April
2005.hal 10
6. Myopia. http://www.emedicine.com/OPH/topik255.htm,
7. Lee, Judith dan Bailey, Gretchyn. Myopia. http://www.yahoo.com/ AllAboutVision_com.htm.
8. Myopia. Canadian Ophtalmological Society.www.eyesite.ca
9. Walling, Anne D, Fredrick,M.D.DR. Shortsightedness: a review of causes and interventionsTips from Other Journals-Myopia treatment. www.goglee.com/myopia.htm.
10. Ganong, William F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit EGC.edisi 17. hal 142.1999
11. Handbook of Ocular Disease Management- Pathological Myopia and Stafiloma Myopia.
http://www.eyeworld.com.

10