Anda di halaman 1dari 10

INTOKSIKASI LOGAM BERAT

yang notabene telah banyak mengalami pencemaran limbah, serta dapat menciptakan
pengolahan hasil perikanan yang aman bagi para konsumen.

BAB I
BAB II
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
Pada era perdagangan global, produk produk Indonesia termasuk produk perikanan harus
mampu bersaing dengan produk negara lain. Kualitas dan keamanan pangan produk
produk perikanan merupakan hal yang sangat penting dan perlu diperhatikan dalam
hubungannya dengan perdagangan bebas, karena menyangkut kepercayaan konsumen dalam
dan luar negeri terhadap produk yang dihasilkan. Penyebab tidak amannya suatu produk
untuk dikonsumsi adalah akibat adanya senyawa/bahan kimia, mikroorganisme dan cemaran
fisik berbahaya yang tidak dikehendaki keberadaannya atau jumlahnya melebihi ketentuan
yang telah ditetapkan (Irianto & Poernomo, 2000). Keamanan produk konsumsi ini perlu
diperhatikan untuk menjaga kepercayaan konsumen dalam dan luar negeri terhadap produk
yang dihasilkan Indonesia. Dalam bidang ekspor produk perikanan, Indonesia menempati
urutan nomor dua dari sebelas negara pengekspor dalam hal jumlah penolakan dari FDA
selama 4 bulan dari Mei s/d Agustus 1998. Sedangkan alasan penolakan adalah Salmonella,
kotoran, benda asing dan zat beracun (Raharjo, 1999).
Senyawa/bahan kimia, mikroorganisme dan cemaran fisik berbahaya yang terdapat pada
produk perikanan antara lain disebabkan oleh lingkungan tempat hidup ikan, termasuk
lokasi budidaya. Logam berat terutama merkuri merupakan bahan cemaran yang perlu
diwaspadai karena dapat menimbulkan efek akumulatif seperti halnya penyakit Minamata di
Jepang (Anon, 2000). Pada daerah perairan yang berdampingan/berdekatan dengan industri
berat diduga tingkat pencemarannya lebih tinggi dibandingkan dengan perairan yang tidak
berdekatan dengan industri berat. Hal ini disebabkan senyawa logam berat banyak
digunakan dalam industri sebagai bahan baku, katalisator, fungisida maupun bahan
tambahan lainnya. Menurut FDA di dalam Anon (1998), selain merkuri (Hg), jenis logam
berat yang membahayakan kesehatan antara lain timbal (Pb), kadmium (Cd), arsen (As),
khromiun (Cr) dan nikel (Ni). Jenis biota laut yang sangat potensial terkontaminasi logam
berat adalah kekerangan mengingat cara makannya dengan menyaring air. Di samping itu,
sifat kekerangan ini lebih banyak menetap (sessile) dan bukan termasuk migratory (Wahyuni
& Hartati, 1991), sehingga biota ini sering digunakan sebagai hewan uji dalam pemantauan
tingkat akumulasi logam berat pada organisme laut.
Oleh sebab itu kita sebagai mahasiswa perlu mengetahui dan memahami tentang bahaya dari
logam berat akibat mengonsumsi hasil perikanan khususnya komoditi kekerangan, agar
nantinya dapat lebih berhati hati dalam memilih bahan pangan dari perairan Indonesia

2.1. Deskripsi Kekerangan


Kekerangan adalah moluska jenis filter feeding lamellibranch (Keputusan Menteri Kelautan
Dan Perikanan Republik Indonesia No. KEP. 01/MEN/2007). Kekerangan adalah semua
jenis (spesies) dari kekerangan antara lain: Oyster (Pinctada sp), Kepah (Meritrix meritrix),
Tiram (Crassostrea cuculata), Simping (Common minolowpen), Remis dan Kijing, baik
hidup ataupun telah terlepas dari kulitnya, segar atau beku, utuh atau berupa bagian. Kerang
mempunyai bentuk dan ukuran cangkang yang bervariasi. Variasi bentuk cangkang ini
sangat penting dalam menentukan jenis-jenis Bivalve (Kira, 1976). Kerang masuk ke dalam
kelas Pelecypod, Lamellibranchiata dan Bivalvia dalam kelompok moluska berdasarkan
karakteristik yang dimiliki seperti kaki, insang dan dua cangkang. Kerang merupakan hewan
yang sukses hidup di lingkungan akuatik (Talman, 2001). Kerang hidup pada semua tipe
perairan yaitu air tawar, estuari dan perairan laut. Kerang laut terdistribusi dari daerah
intertidal, perairan laut dangkal dan ada yang mendiami perairan laut dalam. Kerang ini juga
merupakan salah satu komponen utama di komunitas sedimen lunak di kawasan pesisir
(Hendrickx, 2007).
Kekerangan merupakan salah satu komoditi perikanan yang telah lama dibudidayakan
sebagai salah satu usaha sampingan masyarakat pesisir. Teknik budidayanya mudah
dikerjakan, tidak memerlukan modal yang besar dan dapat dipanen setelah berumur 6 7
bulan. Keistimewaan lain dari kerang adalah perkembangbiakannya yang cepat. Di daerah
tropis seperti Indonesia, kerang dapat berkembang biak sepanjang tahun. Sekali berkembang
biak keturunannya bisa 300.000 individu (Suwignyo, 1975). Sementara itu menurut
Nasution (1975), setiap kali memijah kerang ini dapat menghasilkan telur sebanyak
369.227-458.000 butir.
Hewan ini tergolong filter feeder yaitu jenis hewan yang mendapatkan makanan dengan
jalan menyaring air yang masuk ke dalam tubuhnya. Volume air yang dapat disaring oleh
kerang adalah 2,5 liter per individu dewasa per jam. Makanan yang masuk bersama air tadi
digerakkan, diperas, lalu dicerna dengan bantuan cilia (rambut getar) pada tubuhnya. Cilia
mampu bergerak 2-20 kali per detik. Makanan kerang dapat berupa zooplankton,
fitoplankton, bakteri, flagellata, protozoa, detritus, alga, dan berbagai zat yang tersuspensi
dalam perairan tempat tinggalnya. Alat pencernaannya berturut-turut terdiri dari mulut yang

tidak berahang atau bergigi, sepasang labial palps yang bercilia, oesofagus, lambung, usus,
rektum, dan anus. Selain alat pencernaan, di dalam tubuh kerang terdapat pula hati yang
menyelubungi dinding lambung, ginjal, pembuluh darah, dan pembuluh urat saraf.
Oleh karena kerang bersifat filter feeder non selective maka kandungan logam berat yang
relatif cukup tinggi ditemukan dalam tubuhnya karena adanya akumulasi logam berat
tersebut. Kerang genus Mytilus sering disebut highly spesialized filter feeder dan digunakan
sebagai bioindikator pencemaran perairan karena biota ini bersifat menetap, penyebarannya
luas, masih mampu hidup pada daerah tercemar, dapat mengakumulasi logam berat dengan
faktor konsentrasi sebesar 105 (Hartanti, 1998). Akumulasi logam berat seperti merkuri (Hg)
dan timbal (Pb) sering terjadi pada kerang mentah dan menyebabkan keracunan bagi
masyarakat yang mengkonsumsinya karena toksisitasnya tinggi (Hutagalung, 1991; Connel
dan Miller, 1995).
Besarnya kandungan logam berat yang terakumulasi dalam jaringan tubuh hewan air yang
masih
layak
dikonsumsi
manusia
ditentukan
oleh
suatu
standar.
Berdasarkan Kep. Ditjen POM No. 03725/B/SK/VII/1989 dan FAO/WHO (1976) kadar Hg
maksimum pada biota laut yang boleh dikonsumsi sebesar 0,5 ppm dan kadar Pb sebesar 2
ppm. Menurut Inswiasri dkk. (1997), rata-rata kadar Hg dan Pb di perairan Teluk Jakarta
masing-masing adalah 0,004 ppm dan berkisar antara 0,00 1,57 ppm. Kadar logam berat
tersebut akan terakumulasi apabila limbah buangan industri di sekitar perairan Teluk Jakarta
meningkat terutama oleh pabrik penghasil peralatan listrik, pabrik baterai dan industri
penghasil tinta (Darmono, 1995).
Logam berat (Hg dan Pb) dalam air kebanyakan berbentuk ion dan logam tersebut diserap
oleh kerang secara langsung melalui air yang melewati membran insang atau melalui
makanan. Selain melalui insang, logam berat juga masuk melalui kulit (kutikula) dan lapisan
mukosa yang selanjutnya diangkut darah dan dapat tertimbun dalam jantung dan ginjal
kerang (Noviana, 1994; Laws, 1981). Menurut Hutagalung (1991), kemampuan biota laut
(ikan, udang dan moluska) dalam mengakumulasi logam berat di perairan tergantung pada
jenis logam berat, jenis biota, lama pemaparan serta kondisi lingkungan seperti pH, suhu dan
salinitas. Semakin besar ukuran biota air, maka akumulasi logam berat semakin meningkat.
Toksisitas logam berat dalam kerang yang ditimbulkan akibat akumulasi dalam jaringan
tubuh mengakibatkan keracunan dan kematian bagi biota air yang mengkonsumsinya
(Sukiyanti, 1987). Sifat toksik logam Hg dalam bentuk senyawa HgCl2 dengan konsentrasi
0,027 ppm menyebabkan kematian pada larva bivalvia (muloska) dan konsentrasi Pb sekitar
2,75 ppm mulai bersifat letal bagi biota perairan seperti krustasea (Mulyaningsih, 1998).
Batas maksimum kandungan logam Hg dalam tubuh biota air yang masih cukup aman untuk
dikonsumsi menurut FAO/WHO (1976) sebesar 0,5 ppm dan tidak boleh melebihi 0,2 mg
per 70 kg berat badan per minggu sebagai metil merkuri. Sebaliknya batas maksimum untuk

kadar logam Pb dalam tubuh biota air yang aman dikonsumsi manusia sebesar 0,7 mg atau
700 g per 70 kg berat badan
per minggu (WHO, 1989). Sifat toksik logam Hg dan Pb dikarenakan logam tersebut sangat
efektif berikatan dengan gugus sulfuhidril (SH) yang terdapat dalam sistem enzim sel
membentuk ikatan metalloenzim dan metaloprotein sehingga aktivitas enzim untuk proses
kehidupan sel tidak dapat berlangsung (Connel dan Miller, 1995).
2.2 Intoksikasi Pangan Karena Logam Berat
Manusia bukan hanya menderita sakit karena menghirup udara yang tercemar, tetapi juga
akibat
mengasup
makanan
yang
tercemar
logam
berat.
Akhir-akhir ini kasus keracunan logam berat yang berasal dari bahan pangan semakin
meningkat jumlahnya. Pencemaran lingkungan oleh logam berat dapat terjadi jika industri
yang menggunakan logam tersebut tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama
saat membuang limbahnya. Logam-logam tertentu dalam konsentrasi tinggi akan sangat
berbahaya bila ditemukan di dalam lingkungan (air, tanah, dan udara). Penyebab utama
logam berat menjadi bahan pencemar berbahaya adalah karena sifatnya yang tidak dapat
dihancurkan (nondegradable) oleh organisme hidup yang ada di lingkungan. Akibatnya,
logam-logam tersebut terakumulasi ke lingkungan, terutama mengendap di dasar perairan
membentuk senyawa kompleks bersama bahan organik dan anorganik secara adsorbsi dan
kombinasi.
2.2.1 Definisi Logam Berat
Berbeda dengan logam biasa, logam berat adalah istilah yang digunakan secara umum untuk
kelompok logam berat dan metaloid yang densitasnya lebih besar dari 5 g/cm3 (Hutagalung
et al., 1997). Namun, pada kenyataannya, unsur-unsur metaloid yang mempunyai sifat
berbahaya juga dimasukkan ke dalam kelompok tersebut. Sedikitnya terdapat 80 jenis dari
109 unsur kimia di muka bumi ini yang telah teridentifikasi sebagai jenis logam berat.
Berdasarkan sudut pandang toksikologi, logam berat ini dapat dibagi dalam dua jenis. Jenis
pertama adalah logam berat esensial, di mana keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat
dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan
efek racun. Contoh logam berat ini adalah Zn, Cu, Fe, Co, Mn dan lain sebagainya.
Sedangkan jenis kedua adalah logam berat tidak esensial atau beracun, di mana
keberadaannya dalam tubuh masih belum diketahui manfaatnya atau bahkan dapat bersifat
racun, seperti Hg, Cd, Pb, Cr dan lain-lain. Sebagian besar toksisitas yang disebabkan oleh
beberapa jenis logam berat seperti Pb, Cd, dan Hg adalah karena kemampuannya untuk
menutup sisi aktif dari enzim dalam sel. Sulit untuk menduga seberapa besar akibat yang
ditimbulkan oleh adanya logam berat dalam tubuh.

Dalam perairan, logam pada umumnya berada dalam bentuk ion-ion, baik sebagai pasangan
ion ataupun dalam bentuk ion-ion tunggal (Palar, 2004). Sedangkan logam berat dapat
ditemukan dalam bentuk terlarut dan tidak terlarut. Logam berat terlarut adalah logam yang
membentuk komplek dengan senyawa organik dan anorganik, sedangkan logam berat yang
tidak terlarut merupakan partikel-partikel yang berbentuk koloid dan senyawa kelompok
metal yang teradsorbsi pada partikelpartikel yang tersuspensi (Razak, 1980).

Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun logam berat terhadap
hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah) sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium
(Cd), seng (Zn), timah hitam (Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (Sutamihardja dkk,
1982).
Hg2+ >Cd2+ > Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+> Cr2+ >Sn2+ > Zn2+

Menurut Darmono (1995) sifat logam berat sangat unik, tidak dapat dihancurkan secara
alami dan cenderung terakumulasi dalam rantai makanan melalui proses biomagnifikasi.
Pencemaran logam berat ini menimbulkan berbagai permasalahan diantaranya:
1. Berhubungan dengan estetika (perubahan bau, warna dan rasa air)

Menurut Darmono (1995) daftar urutan toksisitas logam paling tinggi ke paling rendah
terhadap manusia yang mengkomsumsi ikan adalah sebagai berikut:

2. Berbahaya bagi kehidupan tanaman dan binatang

Sedangkan menurut Kementrian Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1990) sifat
toksisitas logam berat dapat dikelompokan ke dalam 3 kelompok, yaitu:

3. Berbahaya bagi kesehatan manusia

a. Bersifat toksik tinggi yang terdiri dari atas unsur-unsur Hg, Cd, Pb, Cu, dan Zn.

4. Menyebabkan kerusakan pada ekosistem.

b. Bersifat toksik sedang terdiri dari unsur-unsur Cr, Ni, dan Co,

Sebagian dari logam berat bersifat essensial bagi organisme air untuk pertumbuhan dan
perkembangan hidupnya, antara lain dalam pembentukan haemosianin dalam sistem darah
dan enzimatik pada biota (Darmono, 1995). Akan tetapi bila jumlah dari logam berat masuk
ke dalam tubuh dengan jumlah berlebih, maka akan berubah fungsi menjadi racun bagi
tubuh (Palar, 2004).

c. Bersifat tosik rendah terdiri atas unsur Mn dan Fe.

Adanya logam berat di perairan, berbahaya baik secara langsung terhadap kehidupan
organisme, maupun efeknya secara tidak langsung terhadap kesehatan manusia. Hal ini
berkaitan dengan sifat-sifat logam berat ( PPLH-IPB, 1997; Sutamihardja dkk, 1982) yaitu :
1.

Sulit didegradasi, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan perairan dan


keberadaannya secara alami sulit terurai (dihilangkan).

2.

Dapat terakumulasi dalam organisme termasuk kerang dan ikan, dan akan
membahayakan kesehatan manusia yang mengkomsumsi organisme tersebut.

3.

Mudah terakumulasi di sedimen, sehingga konsentrasinya selalu lebih tinggi dari


konsentrasi logam dalam air.

2.2.2 Tingkat Toksisitas Logam Berat

Unsur-unsur logam berat tersebut biasanya erat kaitannya dengan masalah pencemaran dan
toksisitas. Pencemaran yang dapat menghancurkan tatanan lingkungan hidup, biasanya
berasal dari limbah-limbah yang sangat berbahaya dalam arti memiliki daya racun
(toksisitas) yang tinggi. Limbah industri merupakan salah satu sumber pencemaran logam
berat yang potensial bagi perairan. Pembuangan limbah industri secara terus menerus tidak
hanya mencemari lingkungan perairan tetapi menyebabkan terkumpulnya logam berat dalam
sedimen dan biota perairan. Dalam lingkungan perairan ada tiga media yang dapat dipakai
sebagai indikator pencemaran logam berat, yaitu air, sedimen dan organisme hidup.
Menurut Bernhard (1981) konsentrasi logam berat tertinggi terdapat dalam sedimen yang
berupa lumpur, tanah liat, pasir berlumpur dan campuran dari ketiganya dibandingkan
dengan yang berupa pasir murni. Hal ini sebagai akibat dari adanya gaya tarik elektro kimia
partikel sedimen dengan partikel mineral, pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan
oleh sekresi lendir organisme. Darmono (2001) logam berat masuk ke dalam jaringan tubuh
makhluk hidup melalui beberapa jalan, yaitu: saluran pernafasan, pencernaan dan penetrasi
melalui kulit. Di dalam tubuh hewan logam diabsorpsi darah, berikatan dengan protein darah
yang kemudian didistribusikan ke seluruh jaringan tubuh. Akumulasi logam yang tertinggi
biasanya dalam detoksikasi (hati) dan ekskresi (ginjal). Akumulasi logam berat dalam tubuh
organisme tergantung pada konsentrasi logam berat dalam air/lingkungan, suhu, keadaan
spesies dan aktifitas fisiologis (Connel dan Miller 1995).

2.2.3 Gejala Intoksikasi Beberapa Logam Berat


Senyawa atau bahan kimia, mikroorganisme dan cemaran fisik berbahaya yang terdapat
pada produk perikanan antara lain disebabkan oleh lingkungan tempat hidup ikan dan
kerang kerangan termasuk lokasi budidaya. Logam berat terutama merkuri merupakan
bahan cemaran yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan efek akumulatif seperti
halnya penyakit Minamata di Jepang (Anon,2000). Apabila kita mengonsumsi kekerangan
yang telah tercemar oleh logam berat, maka logam berat tersebut dapat terakumulasi di
dalam tubuh dan dapat menimbulkan keracunan dengan berbagai gejala. Berikut beberapa
jenis logam berat yang dapat menimbulkan efek berbahaya bila terakumulasi di dalam tubuh
manusia, yaitu:
1.

Merkuri

Merkuri (Hg) atau air raksa adalah logam yang ada secara alami, dan merupakan satusatunya logam yang pada suhu kamar berwujud cair. Hg mempunyai bentuk kimiawi yang
berbeda-beda dalam menimbulkan keracunan pada mahluk hidup, sehingga menimbulkan
gejala yang berbeda pula. Toksisitas Hg dalam hal ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu
toksisitas organik dan anorganik.

Pada bentuk anorganik, Hg berikatan dengan satu atom karbon atau lebih,
sedangkan dalam bentuk organik, dengan rantai alkil yang pendek. Senyawa
tersebut sangat stabil dalam proses metabolisme dan mudah menginfiltrasi jaringan
yang sukar ditembus, misalnya otak dan plasenta. Senyawa tersebut mengakibatkan
kerusakan jaringan yang irreversible, baik pada orang dewasa maupun anak
(Darmono, 1995).

Toksisitas Hg anorganik menyebabkan penderita biasanya mengalami tremor. Jika


terus berlanjut dapat menyebabkan pengurangan pendengaran, penglihatan, atau
daya ingat. Senyawa merkuri organik yang paling populer adalah metil merkuri
yang berpotensi menyebabkan toksisitas terhadap sistem saraf pusat. Kejadian
keracunan metil merkuri paling besar pada makhluk hidup timbul di tahun 1950-an
di Teluk Minamata, Jepang yang terkenal dengan nama Minamata Disease.
kandungan merkuri memang masih di bawah batas maksimum yang ditetapkan oleh
Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 0,5 ppm, namun betapa pun kecilnya
kandungan ini, tetap akan bersifat kumulatif dalam tubuh manusia.

Untuk Janin, bayi dan anak-anak, kesehatan yang utama adalah efek methylmercury
diburukkan oleh perkembangan neurological. Eksposur Methylmercury di dalam rahim,
yang dapat diakibatkan oleh sang ibu yang mengkonsumsi ikan dan kerang yang berisi
methylmercury, adversely dapat mempengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf bayi.

Dampak berpikir kognitif, memori, perhatian, bahasa, dan motorik halus dan kemampuan
visual spasial telah terlihat pada anak-anak yang terkena methylmercury ketika di dalam
rahim. Pemantauan biologis manusia baru-baru ini oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan
pada tahun 1999 dan 2000 yang mengatakan bahwa kebanyakan orang memiliki merkuri
didalam darah mereka pada l di bawah tingkat yang memungkinkan berdampak pada
kesehatan. Data baru lainnya dari DCD juga mendukung penemuan ini.
Wabah keracunan methylmercury membuatnya jelas bahwa orang dewasa, anak-anak dan
perkembangkanan fetuses beresiko eksposur methylmercury akibat dari proses menelan.
Selama ini beberapa wabah keracunan pada ibu yang tanpa gejala, tanpa kerusakan sistem
saraf telah melahirkan bayi dengan berat cacat, menjadi jelas bahwa perkembangan sistem
saraf janin yang mungkin akan lebih rentan terhadap methylmercury daripada system saraf
orang dewasa.

Merkuri pada ikan

Ikan dan kerang berkualitas tinggi mengandung protein dan gizi penting lainnya, yang
rendah lemak jenuh dan mengandung omega-3 fatty acids. Diet seimbang yang mencakup
berbagai jenis ikan dan kerang dapat memberikan kontribusi untuk kesehatan jantung dan
pertumbuhan dan perkembangan anak anak dengan semestinya. Namun, hampir semua
ikan dan kerang mengandung sedikit methylmercury. Bagi kebanyakan orang, resiko terkena
methylmercury karena makan ikan dan kerang bukan permasalahan. Namun beberapa ikan
dan kerang berisi lebih tinggi mercury yang dapat membahayakan seorang bayi yg belum
lahir atau anak muda dalam perkembangan sistem saraf. Resiko dari methlymercury di
kerang dan ikan tergantung pada jumlah ikan dan kerang yang dimakan dan tingkat
kandungan methylmercury yang terdapat didalam ikan. Federal, negara bagian AS dan
pemerintah daerah akan mengeluarkan advisories ikan bila ikan sudah tidak aman untuk
dikonsumsi.
Sifat metil merkuri dapat terakumulasi dalam tubuh ikan, sehingga ikan mengandung metil
merkuri lebih banyak lagi. Efek yang terlihat seperti kasus penyakit Minamata tahun
1956. Metil merkuri jauh lebih berbahaya ketimbang merkuri, karena di dalam tubuh
manusia, senyawa tersebut akan mengikatkan diri dengan jaringan lemak dan mengalami
biokonsentrasi sehingga sulit diuraikan oleh tubuh. Oleh sebab itu, memakan ikan yang
tercemar metil merkuri dengan dosis di bawah ambang pun, jika dilakukan dalam jangka
waktu lama, akan meningkatkan jumlah merkuri di dalam tubuh.

Gejala keracunan methylmercury

Di samping pengrusakan halus, gejala keracunan methylmercury yang dapat terjadi adalah:

kerusakan pada visi peripheral;

gangguan dalam sensations ( gelisah perasaan, biasanya di tangan, kaki, dan di


sekitar mulut);

kurangnya koordinasi gerakan;

pelemahan pembicaraan, pendengaran, berjalan dan

otot melemah.

.
Manifestasi klinis awal intoksikasi mercuri didapatkan gangguan tidur, perubahan
mood (perasaan) yang dikenal sebagai erethism, kesemutan mulai dari daerah sekitar
mulut hingga jari dan tangan, pengurangan pendengaran atau penglihatan dan pengurangan
daya ingat. pada intoksikasi berat penderita menunjukkan gejala klinis tremor, gangguan
koordinasi, gangguan keseimbangan, jalan sempoyongan (Ataxia ) yang menyebabkan orang
takut berjalan. Hal ini diakibatkan terjadi kerusakan pada jaringan otak kecil (serebellum).
Keracunan pada ibu hamil dapat menyebabkan terjadi mental retardasi pada bayi atau
kebodohan, kekakuan (spastik). (MARSH et al, 1987). Konsentrasi mercuri pada rambut bila
lebih dari 1 nmol/g menunjukkan intoksikasi mercuri .
Dalam waktu singkat pada kadar merkuri yang tinggi dapat mengakibatkan kerusakan paruparu, muntah-muntah, peningkatan tekanan darah atau denyut jantung, kerusakan kulit, dan
iritasi mata. Kadar yang berbahaya dalam darah adalah melebihi 200 nmol/ L, dalam urine
melebihi 500 nmol/L, umumnya inorganik mercuri ini merupakan limbah dari
perusahaan/pabrik produksi misalnya: kertas, kloralkali yang terbuang kesungai/danau/ laut
yang bereaksi dengan methylat menjadi organicmercuri (metil merkuri).
Pernah dilaporkan tahun 1971 di Irak, didapatkan 10.000 penderita keracunan metil merkuri
yang berasal dari fungisida, dengan tanda klinis: parestesi (kesemutan), gangguan kordinasi,
gangguan keseimbangan, gangguan lapang pandang, kesemutan dimulai sekitar mulut dan
keseluruh anggota gerak. Oleh Clarkson penderita keracunan tersebut diobati dengan
DIMERCAPROL dan PENICILLAMINE untuk mengurangi kadar metil merkuri dalam
darah .
1.

b. Cadmium (Cd)

Ambang batas kandungan logam berat Cadmium yang dianjurkan oleh ILO/WHO dalam
hewan laut dalam hal ini kerang yang dikonsumsi oleh manusia adalah sebesar 0,1 ppm.
Tingginya kandungan logam Cadmium dalam kerang ini karena sifat kerang yang

mobilitasnya rendah dan menetap dalam suatu habitat tertentu yaitu di sedimen atau dasar
laut sehingga proses biokonsentrasi dan bioakumulasi terjadi secara lebih intensif. Apabila
kerang dengan kandungan logam Cadmium tinggi dikonsumsi manusia maka dalam tubuh
manusia akan terjadi akumulasi (disebut sebagai proses biomagnifikasi) logam Cadmium
yang toksik ini pada organ-organ tubuh tertentu seperti ginjal, jaringan saraf, sistem
reproduksi, dan kemungkinan berakibat karsinogenik dan kanker prostat pada manusia
(APHA, 1985).
Kumpulan gejala keracunan terus menerus dan khronis oleh logam Cadmium dikenal
dengan nama penyakit Itai -Itai (artinya aduh-aduh) yang menggambarkan penderitaan
atau rasa nyeri di daerah persendian pasien yang disebabkan terjadinya proses osteomalacia.
Penyakit ini diidentifikasi pertama kali pada tahun 1960 di d aerah Toyama, Jepang.
Pencegahan yang dapat dilakukan oleh masyarakat untu k menghindari terjadinya keracunan
khronis oleh logam berat yang terjadi melalui rantai makanan adalah dengan cara melakukan
perendaman terlebih dahulu makanan hasil laut (ikan, cumi, kerang, dll) dengan larutan
asam cuka yang banyak dijual di pasar tradisional ataupun swalayan. Walaupun belum dapat
menurunkan kandungan logam berat Cadmium dalam Kerang Bulu sampai di bawah
ambang batas yang direkomendasikan (0,1 ppm), larutan asam cuka, sebagai chelating
agent, baik dengan konsentrasi 25 % ataupun 12,5 % dalam penelitian ini terbukti secara
efektif dapat menurunkan kandungan
logam berat Cadmium dalam Kerang Bulu.
1.

c. Timbal (Pb)

Logam timbal (Pb) merupakan logam yang sangat populer dan banyak dikenal oleh
masyarakat awam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya Pb yang digunakan di industri
nonpangan dan paling banyak menimbulkan keracunan pada makhluk hidup. Pb adalah
sejenis logam yang lunak dan berwarna cokelat kehitaman, serta mudah dimurnikan dari
pertambangan.
Menurut Darmono (1995), Pb mempunyai sifat bertitik lebur rendah, mudah dibentuk,
mempunyai sifat kimia yang aktif, sehingga dapat digunakan untuk melapisi logam untuk
mencegah perkaratan. Logam Pb banyak digunakan pada industri baterai, kabel, cat (sebagai
zat pewarna), penyepuhan, pestisida, dan yang paling banyak digunakan sebagai zat
antiletup pada bensin. Pb juga digunakan sebagai zat penyusun patri atau solder dan sebagai
formulasi penyambung pipa yang mengakibatkan air untuk rumah tangga mempunyai
banyak kemungkinan kontak drngan Pb (Saeni, 1997).
Logam Pb dapat masuk ke dalam tubuh melalui pernapasan, makanan, dan minuman.
Logam Pb tidak dibutuhkan oleh manusia, sehingga bila makanan tercemar oleh logam

tersebut, tubuh akan mengeluarkannya sebagian. Sisanya akan terakumulasi pada bagian
tubuh tertentu seperti ginjal, hati, kuku, jaringan lemak, dan rambut. Sumber bahan pangan
lyang dilaporkan tinggi kadar timbalnya adalah makanan kaleng (50-100 mkg/kg), jeroan
terutama hati dan ginjal ternak (150 mkg/kg), ikan (170 mkg/kg). Kelompok yang paling
tinggi adalah kerang-kerangan (molusca) dan udang-udangan (crustacea), yaitu rata-rata
lebih tinggi dari 250 mkg/kg (Winarno dan Rahayu, 1994).
Accidental poisoning seperti termakannya senyawa timbal dalam konsentrasi tinggi dapat
mengakibatkan gejala keracunan timbal seperti iritasi gastrointestinal akut, rasa logam pada
mulut, muntah, sakit perut, dan diare. Menurut Darmono (1995), Pb dapat mempengaruhi
sistem saraf, inteligensia, dan pertumbuhan. Pb di dalam tubuh terikat pada gugus SH dalam
molekul protein dan hal ini menyebabkan hambatan pada aktivitas kerja sistem enzim. Efek
logam Pb pada kesehatan manusia adalah menimbulkan kerusakan otak, kejang-kejang,
gangguan tingkah laku dan bahkan kematian.
Tabel 1. Kelompok Makanan Yang Tercemar Timbel
No.
1
2
3
4
5
6

Kelompok Makanan
Makanan kaleng
Hasil ternak (hati, ginjal)
Daging
Ikan
Udang dan kerang
Susu sapi, buah dan sayuran

Kadar Timbel (mikrogram/kg)


50 100
150
50
170
>250
15 20

Sumber: http://www.fishyforum.com
Studi Toksisitas Timbal menunjukkan bahwa kandungan Timbal dalam darah sebanyak 100
mikrogram/l dianggap sebagai tingkat aktif (level action) berdampak pada gangguan
perkembangan dan penyimpangan perilaku. Sedangkan kandungan Timbal 450 mikrogram/l
membutuhkan perawatan segera dalam waktu 48 jam. Lalu, kandungan Timbal lebih dari
700 mikrogram/l menyebabkan kondisi gawat secara medis (medical emergency). Untuk
kandungan timbal di atas 1.200 mikrogram/l bersifat sangat toksik dan dapat menimbulkan
kematian pada anak. Kadar Timbal 68 mikrogram/l dapat menyebabkan anak makin agresif,
kurang konsentrasi, bahkan menyebabkan kanker.
1.

d. Tembaga (Cu)

Tidak seperti logam-logam Hg, Pb, dan Cd, logam tembaga (Cu) merupakan mikroelemen
esensial untuk semua tanaman dan hewan, termasuk manusia. Logam Cu diperlukan oleh
berbagai sistem enzim di dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, Cu harus selalu ada di
dalam makanan. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga agar kadar Cu di dalam tubuh
tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan.
Kebutuhan tubuh per hari akan Cu adalah 0,05 mg/kg berat badan. Pada kadar tersebut tidak
terjadi akumulasi Cu pada tubuh manusia normal. Konsumsi Cu dalam jumlah yang besar
dapat menyebabkan gejala-gejala yang akut
Garam Cu banyak digunakan dalam bidang pertanian, misalnya sebagai larutan Bordeaux
yang mengandung 1-3% CuSO4 untuk membasmi jamur pada sayur dan tumbuhan buah.
Senyawa CuSO4 juga sering digunakan untuk membasmi siput sebagai inang dari parasit,
cacing, dan juga mengobati penyakit kuku pada domba (Darmono, 1995).
Toksisitas logam Cu pada manusia, khususnya anak-anak, biasanya terjadi karena CuSO4.
Beberapa gejala keracunan Cu adalah sakit perut, mual, muntah, diare, dan beberapa kasus
yang parah dapat menyebabkan gagal ginjal dan kematian (Darmono, 1995).
1.

e. Arsen (As)

Arsen (As) atau sering disebut arsenik adalah suatu zat kimia yang ditemukan sekitar abad13. Sebagian besar arsen di alam merupakan bentuk senyawa dasar yang berupa substansi
inorganik. Arsen inorganik dapat larut dalam air atau berbentuk gas dan terpapar pada
manusia. Menurut National Institute for Occupational Safety and Health (1975), arsen
inorganik bertanggung jawab terhadap berbagai gangguan kesehatan kronis, terutama
kanker. Arsen juga dapat merusak ginjal dan bersifat racun yang sangat kuat.
Arsen terkandung dalam ikan dan makanan laut lainnya, seperti udang, cumi-cumi, dan
kerang. Pola konsumsi yang banyak memakan seafood dan kerang-kerangan merupakan
potensi besar untuk mengalami intoksikasi arsen karena tingginya kandungan arsen pada
makanan-makanan tersebut. Kandungan arsen dalam makanan laut mencapai angka lebih
dari 4,5 mikrogram arsen/g berat basah. Arsen juga terdapat dalam daging dan sayur-sayuran
namun jumlahnya amat kecil.
Senyawa arsen sangat sulit dideteksi karena tidak memiliki rasa yang khas atau ciri-ciri
pemaparan lain yang menonjol. Gejala keracunan senyawa arsen terutama adalah sakit di
kerongkongan, sukar menelan, menyusul rasa nyeri lambung dan muntah-muntah.
Kompensasi dari pemaparan arsen terhadap manusia adalah kanker, terutama kanker paruparu dan hati. Terpapar arsen di udara juga dapat menyebabkan pembentukan kanker kulit
pada manusia.

Tabel 2. Toksisitas beberapa logam berat


Logam berat
Ar / Arsen
Pb / Timah hitam (anorganik)
Pb / Timah hitan (organik)
Zn / Seng
Cu / Tembaga
Cd / Kadmium
Hg / Air raksa (anorganik)
Hg / Air raksa (organik)

Kisaran lingkat racun (ppb)


3.000 60.000
1.000 100.000
0,02 300
200 20.000
20 100.000
0,1 50
5 4.000
0,2 8.000

Sumber : Wilson, 1988


2.3 Sistem Sanitasi Kekerangan
Secara umum kekerangan setelah ditangkap dari perairan Indonesia belum ditangani dengan
baik. Mutu produk kekerangan sangat dipengaruhi oleh perairan dimana kekerangan tersebut
ditangkap. Apalagi perairan di indonesia yang tingkat pencemarannya tinggi. Beberapa
negara maju seperti Amerika serikat, uni Eropa dan Kanada sudah mengembangkan sistem
Sanitasi Kekerangan. Oleh karena itu, agar produk kekerangan Indonesia dapat diterima di
pasar internasional dan memberikan jaminan bahwa produk aman dikonsumsi maka
diperlukannya Sistem Sanitasi Kekerangan.

Untuk melindungi populasi kekerangan dari polusi yang dihasilkan dari kotoran bahan
bahan polutan ke dalam laut, pemerintah membuat dan melaksanakan program untuk
menurunkan serendah mungkin dampak polusi agar didapatkan mutu produk kekerangan
yang memenuhi syarat mutu dan dapat dikonsumsi secara langsung oleh manusia.
Kualitas daerah pertumbuhan harus memenuhi persyaratan yang ditentukan . Frekuensi dan
parameter pemeriksaan mutu sanitasi perairan harus dilaksanakan secara teratur dan
pengambilan contoh dapat dikurangi atau tidak dilanjutkan apabila hasil pengujian contoh
cukup memuaskan.
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan daftar kuisioner yang telah disiapkan
sebelumnya. Jika laporan pengamatan menunjukkan adanya bukti bukti pencemaran
bakteri coliform fecal, air raksa atau racun hayati, maka pengambilan contoh air dan produk
kekerangan harus dilakukan untuk pengujian laboratorium.
Data atau temuan hasil pemeriksaan dapat mengubah status daerah tersebut. Jika data atau
temuan menunjukkan bahwa kondisi daerah yang diijinkan telah berubah atau tidak sesuai
lagi dengan persyaratan sanitasi, evaluasi ulang akan dilakukan dan daerah tersebut akan
diklasifikasikan sebgai daerah yang terlarang.
Tabel 3. Mutu Sanitasi Perairan Kekerangan
No
1.

Semua perairan pertumbuhan kekerangan

2.

Pembudidaya kerang/ nelayan

3.

Perorangan dan/atau badan usaha yang menangani dan mengolah kekerangan

4.

Instansi terkait yang melakukan pengendalian dan pemantauan daerah pertumbuhan


kekerangan. (Keputusan menteri Kelautan dan Perikanan, No :
KEP.17/MEN/2004).

Pedoman

Persyaratan Minimal
7-9

pH unit

Penerapan Sistem Sanitasi Kekerangan Indonesia, meliputi :


1.

Parameter
pH

2.

Suhu oC

3.

Pewarnaan
(setelah
penyaringan) mg Pt/l

4.

Padatan terlarut mg/l

2.3.1 Mutu Sanitasi Perairan Kekerangan

Limbah yang mempengaruhi


perairan
tidak
boleh
menyebabkan
suhu
air
meningkat lebih dari 2 oC dari
suhu
air
yang
tidak
terpengaruh

Limbah yang mempengaruhi perairan


kekerangan tidak boleh menyebabkan
warna air setelah penyaringan
menyimpang lebih dari 10 mg Pt/l
dari
warna
perairan
daerah
penangkapan
Limbah yang mempengaruhi perairan

tidak boleh menyebabkan kandungan 5.


padatan terlarut dalam air melebihi
30% dari kandungan pada air yang
tidak terpengaruh

6.

Salinitas o/oo

12 to 38 o/oo

- 40 o/oo

- limbah yang mempengaruhi perairan


tidak boleh menyebabkan salinitas air
melebihi 10 % dari salinitas air yang
tidak terpengaruh.
Oksigen terlarut jenuh 80%
%

- 70% ( nilai rata rata)

- Pengukuran secara individu yang


menunjukkan nilai lebih rendah dari
70% harus diulang

Pengukuran secara individu


mungkin tidak memberikan indikasi
suatu nilai kurang dari 60% asalkan
tidak ada resiko bahaya bagi
kelangsungan hidup kekerangan.
7.

Petroleum
Hydrocarbons

Hydrocarbons tidak boleh ada di


perairan dalam jumlah tertentu
sehingga :

- membentuk lapisan yang terlihat


pada
permukaan
air
dan/atau
kumpulan pada kekerangan

- mempunyai efek yang berbahaya


pada kekerangan
8.

9.

Bahan bahan yang Konsentrasi setiap bahan Konsentrasi setiap bahan dalam
mengalami
dalam daging kekerangan perairan atau daging kekerangan tidak
organohalogensi
harus
terbatas
sehingga boleh mencapai atau melebihi suatu
memberikan
kontribusi tingkat yang memiliki pengaruh yang
terhadap mutu kekerangan merugikan kekerangan dan larvanya
yang tinggi
Logam berat
Konsentrasi setiap bahan Konsentrasi setiap bahan dalam
dalam daging kekerangan perairan atau daging kekerangan tidak
harus
terbatas
yang boleh mencapai atau melebihi tingkat

memberikan
Ag, As, Cd, Cr, Cu, terhadap mutu
Hg, Ni, Pb, Zn dalam yang tinggi
mg/l

kontribusi yang membahayakan kekerangan dan


kekerangan larvanya.

8.

Kandungan timbal (Pb) maksimum 1,5 mg/kg berat bersih

9. Kandungan cadmium (Cd) maksimum 1,0 mg/kg berat bersih


Efek sinergi dari logam berat ini harus
BAB III
dipertimbangkan.

PENUTUP
Faecal Coliforms/ 100 < atau = 300 dalam daging
ml
kerang
dan
cairan
3.1 Kesimpulan
intervalvular
11.
Bahan bahan yang
Konsentrasi lebih rendah dari
mempengaruhi
rasa
konsentrasi
yang
dapat Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut:
daging kerang
mempengaruhi rasa daging kerang
1. Mengkonsumsi kerang yang berasal dari perairan tercemar limbah berbahaya dapat
menimbulkan keracunan logam berat yang dapat menimbulkan dampak yang buruk
Sumber: Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor : KEP.17/MEN/2004 Tentang
bagi kesehatan.
Sistem Sanitasi Kekerangan.
10.

2.3.2 Standar Mutu Kekerangan

2.

Logam berat sebagai pencemar berbahaya seperti Hg, Cd, Pb, Cr , As, dan Cu,
keberadaannya dalam tubuh dapat berakibat karsinogenik dan menimbulkan kanker
prostat, sakit perut, mual, muntah, diare, dan beberapa kasus yang parah dapat
menyebabkan gagal ginjal dan kematian pada manusia.

3.

Bahwa produk perikanan harus berasal dari lingkungan yang bersih/sehat dan
tidak berdampak negatif terhadap jaminan mutu dan keamanan konsumen.

4.

Bahwa kekerangan secara alamiah dapat mengakumulasi toksin hayati serta logam
berat yang dapat membahayakan kesehatan manusia, maka pemerintah menetapkan
Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor : Kep.17/Men/2004 Tentang
Sistem Sanitasi Kekerangan Indonesia, agar produk kekerangan indonesia dapat
diterima di pasar internasional dan memberikan jaminan bahwa produk aman
dikonsumsi.

Kekerangan hidup dan produk olahannya yang digunakan untuk konsumsi langsung harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1.

Memenuhi karakteristik secara visual yang berhubungan dengan kesegaran dan


kelangsungan hidup, termasuk cangkang bersih dari kotoran, memberikan reaksi
terhadap ketukan dan mengandung cairan intravalvular yang normal

2.

Kandungan faecal coliform kurang dari 300 atau E. coli kurang dari 230 per 100 gr
daging kerang berdasarkan 5 tabung, 3 pengenceran uji MPN

3.

Tidak boleh mengandung Salmonella dalam 25 gram daging kerang

4.

Kandungan total PSP dalam daging kerang tidak boleh lebih dari 80 g/100 g
daging kerang dengan menggunakan metode uji bioassay

5.

Metode uji bioassay untuk DSP harus memberikan hasil yang negatif

6.

Kandungan Amnestic Shellfish Poison (ASP) dalam daging kerang tidak boleh lebih
dari 20 g asam domoic per gram dengan menggunakan metode HPLC

7.

Kandungan merkuri (Hg) tidak lebih dari 0,5 mg/kg berat bersih

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous.www.terraNet.com. 02 Dec 2001.Mangrove Jenis Api-Api (Avicennia marina)
Alternatif Pengendalian Pencemaran Logam Berat Pesisir. Lembaga Kajian Ekologi Dan
Konservasi Lahan Basah.Diakses pada 04 Maret 2009.

Anonimous. 21 September 2008.http://www.republika.co.id. Bahaya Logam Berat Dalam


Makanan. Forum Kesehatan Dan Pendidikan

Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor : KEP.17/MEN/2004 Tentang Sistem


Sanitasi Kekerangan.

Chrisna.2008.Bahaya
Logam
Berat
Bagi
Http://Www.Tabloidnova.Com/Articles.Asp?Id=5720. Diakses 12 Maret 2009.

Sibuea, Posman. Bahaya Kontaminasi Logam


www.Fishyforum.com .Diakses Pada 12 Maret 2009.

Kesehatan.

Berat

Timbel

Pada

Makanan.

Dea,Hasim.2008.http://www.kompas.com.Kerang sebagai Biofilter Logam Berat.

Soetjipto, Patricia. 2002.http://www.indokado.com.Kerang vs Logam Berat.

Gunawan,Sinshe. 7 Januari 2009.Keracunan Merkuri. US Environmental Protection


Agency.

Suherman, Henhen. Upaya Penurunan Kandungan Logam Hg (Merkuri) Dan Pb (Timbal)


Pada Kerang Hijau (Mytilus Viridis Linn.) Dengan Konsentrasi Dan Waktu Perendaman
Na2caedta Yang Berbeda. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran
Jatinangor, Bandung.

I.S. Fitri, Soedjajadi K. Efektifitas Larutan Asam Cuka Untuk Menurunan Kandungan
Logam Berat Cadmium Dalam Daging Kerang Bulu.Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol.1,
No.2, Januari 2005.
Nasution, Fuadi Arif.http://www.Fishyforum.com. Bahaya Timbal ( Timah Hitam ). ITB.
Diakses Pada 12 Maret 2009.
Nurdin,Jabang. Jatna Supriatna. Kepadatan Dan Keanekaragaman Kerang Intertidal
(Mollusca: Bivalve) Di Perairan Pantai Sumatera Barat. Prosiding Seminar Nasional Sains
Dan Teknologi-II 2008 Universitas Lampung, 17-18 November 2008.

T.M, Jovita. Ariyani,Farida.2005.Kandungan Logam Berat Kerang Darah (Anadara


granosa) Dan Kualitas Perairan Di Tanjung Pasir,Jawa Barat. Jurnal Penelitian Perikanan
Indonesia Vol.11 No.9.
Zaenabku.
2008.Kasus
Keracunan Makanan.
Bernas/072001/Utama.Diakses 04 Maret 2009.

Http://Www.Indomedia

Com/