Anda di halaman 1dari 7

HOMEOSTASIS

Konsep Keseimbangan
Lingkungan sel yang sebenarnya dalam tubuh adalah komponen interstisium CES.
W.B Cannon mengajukan istilah homeostasis untuk menjelaskan berbagai proses fisiologik
yang berfungsi memulihkan keadaan normal. Sifat penyangga dari cairan tubuh dan
penyesuaian ginjal serta saluran napas terhadap adanya kelebihan asam atau basa adalah
contoh-contoh mekanisme homeostatik. (Ganong,2015)
Kumpulan internal suatu bahan adalah jumlah bahan tersebut dalam CES (Cairan
Ekstra Seluler). Jumlah bahan dapat ditingkatkan oleh pemindahan dari lingkungan eksternal
atau dari produksi metabolik tubuh. Bahan tersebut juga dapat dihilangkan melalui eksresi
atau digunakan pada metabolisme tubuh. Jadi, jika bahan dalam tubuh harus dalam jumlah
tetap berarti antara faktor pemasukan dan pengeluaran bahan harus seimbang. Hubungan ini
yang dikenal dengan konsep keseimbangan. Apabila penambahan bahan melebihi
pengeluaran bahan berarti akan tercipta keseimbangan positif sebaliknya, jika pengeluaran
bahan melebihi penambahannya akan terjadi keseimbangan negatif. Konsep ini sangat
berperan penting dalam mempertahankan homeostasis pada tubuh manusia, sebagai contoh
peningkatan asupan garam harus diimbangi dengan pengeluaran garam melalui urine.
(Sherwood,2014)
Menurut Ganong tahun 2015 inti dari homeostasis yaitu :
Upaya mempertahankan tonisitas
Upaya mempertahankan tonisitas CES adalah fungsi sekresi vasopresin dan mekanisme haus.
Perubahan osmolalitas cairan tubuh terjadi bila ada disproporsi antara jumlah elektrolit
(natrium dan kalium) dengan jumlah pemasukan atau kehilangan air pada tubuh. Osmolalitas
plasma berkisar 280-295 mosm/kg H2O dengan sekresi vasopressin yang dihambat secara
maksimal 285 mosm/kg H2O dan dirangsang pada nilai osmolalitas yang lebih tinggi.
Upaya mempertahankan volume
Ditentukan oleh jumlah total zat terlarut yang aktif secara osmotik dalam CES. Terdapat juga
pengendalian volume melalui ekskresi air. Saat sakit, kehilangan air dari tubuh menimbulkan
penurunan volume CES yang sedang, karena air akan hilang dari cairan di kompartemen

intrasel maupun ekstrasel. Mekanisme pengendalian imbangan Na+ adalah mekanisme utama
yang berperan dalam mempertahankan volume CES.
Upaya mempertahankan susunan ion tertentu
Mekanisme pengendalian khusus akan mempertahankan kadar ion tertentu dalam CES dan
juga kadar glukosa dan zat-zat nonionik yang penting dalam metabolisme. Umpan balik CA 2+
terhadap kelenjar paratiroid dan sel yang mensekresi kalsitonin akan menyesuaikan sekresi
hormon-hormon tersebut sehingga mempertahankan kadar kalsium ion di CES.
Dapar di dalam darah
Di dalam darah, protein plasma merupakan dapar yang efektif karena baik gugus karboksil
bebasnya maupun gugus amino bebasnya. Selain itu sistem dapar penting lainnya adalah
disosiasi gugus imidazole residu histidin pada hemoglobin. Pada kisaran pH 7,0 7,7,gugus
amino serta gugus karboksil bebas pada hemoglobin hanya relative sedikit menyokong
kemampuan daparnya. Hemoglobin merupakasn asam lemah dan dengan demikian
merupakan dapar yang lebih baik dari HbO2. Kemudian yang ketiga adalah system asam
karbonat-bikarbonat.
Pendaparan in Vivo
Pendaparan in Vivo tidak hanya terbatas di darah. Dapar utama di dalam cairan serebrospinal
dan urin adalah sistem bikarbonat dan fosfat. Pada sistem asidosis metabolik, hanya 15-20%
dari beban asam akan didapar oleh system H2CO3-HCO3- di dalam cairan ekstrasel dan
sisanya didapar dalam sel. Pada alkalosis metabolik, 30-35% beban OH - didapar dalam sel.
Pada asidosis dan alkalosis respiratorik, hampir seluruh pendaparan di intrasel.
Asidosis dan Alkalosis Respiratorik
Peningkatan PCO2 arteri akibat berkurangnya ventilasi akan menyebabkan asidosis
respiratorik. Sebaliknya penurunan PCO2 akan menyebabkan alkalosis respiratorik. Perubahan
yang dihasilkan oleh ginjal akan cenderung akan cenderung mengompensasi asidosis atau
alkalosis dan menyesuaikan pH kearah normal.
Hubungan antara metabolisme kalium dan imbangan Asam-Basa
Kadar K+ dan H+ CES berjalan sejajar, sebagian disebabkan karena engaruh K + pada sekresi
H+ di ginjal dan hypokalemia hamper selalu timbul pada alkalosis metabolik. Kekurangan K +

menyebabkan asidosis intrasel yang meningkatkan sekresi H+ ke urin. Kelebihan K+


meningkatkan sekresi K+ oleh tubulus ginjal.
Darah mengandung cairan ekstraselular (cairan dalam plasma) dan cairan intraselular
(cairan dalam sel darah merah). Komposisi ion plasma serupa dengan komposisi cairan
interstisial karena keduanya hanya dipisahkan oleh suatu membran kapiler yang sangat
permeabel. Perbedaan paling utama adalah kandungan protein dalam plasma lebih tinggi
karena kapiler permeabilitasnya rendah terhadap protein sehingga hanya sejumlah kecil
protein yang masuk kedalam ruang interstisial. Kandungan cairan ekstraselular yang meliputi
plasma dan cairan interstisial adalah sejumlah besar ion natrium, klorida serta ion bikarbonat
dalam jumlah yang cukup besar tetapi sedikit mengandung ion kalium, kalsium, magnesium,
fosfat, dan asam organik. Membran kapiler yang memisahkan cairan plasma dan cairan
interstisial sangat permeabel terhadap air namun tidak permeabel terhadap sejumlah besar
elektrolit dalam tubuh. Cairan intraselular hanya mengandung sejumlah kecil ion natrium dan
klorida namun mengandung sejumlah besar ion kalium dan fosfat ditambah ion magnesium
dan sulfat dalam jumlah sedang, serta protein yang lebih banyak di plasma.(Guyton,2014).
Konsep Cairan
Cairan ditambahkan kedalam tubuh dari 2 sumber utama yaitu: (1)berasal dari air atau
cairan dalam makanan yang normalnya menambah cairan tubuh sekitar 2.100 ml/hari, dan (2)
berasal dari sintesis di tubuh sebagai hasil oksidasi karbohidrat, yang menambah sekitar 200
ml/hari. semua cairan tubuh didistribusikan terutama diantara 2 kompartemen yaitu cairan
intraselular dan cairan ekstraselular. Cairan ekstraselular dibagi menjadi cairan interstisial
dan plasma darah. Ada juga kompartemen cairan lainnya yang kecil disebut cairan transelular
seperti cairan dalam rongga sinovial, peritoneum, perikardium, intrakular, serta cairan
cerebrospinal. (Guyton,2014)
Keseimbangan Cairan
Air merupakan komponen tubuh paling banyak dan setiap individu memiliki jumlah H 2O
yang berbeda. Hal ini disebabkan variabilitas jumlah jaringan lemak yang dimiliki setiap
individu. Selain itu, jenis kelamin dan usia dapat ikut serta dalam menentukan jumlah H 2O.
Oleh karena dipengaruhi oleh hormon seks wanita yaitu estrogen mendorong pengendapan
lemak pada wanita dalam porsi yang lebih banyak dari pada pria. Secara umum, plasma
mengandung > 90% H2O. Jaringan lunak seperti kulit, otot, dan organ internal mengandung

70%-80% H2O. Kandungan H2O pada tulang 22% sedangkan lemak hanya mengandung 10%
H2O. Air tersebar antara 2 kompartemen cairan utama, yaitu CIS (Cairan Intrasel) dan CES
(Cairan Ekstrasel). CIS membentuk sekitar dua pertiga H 2O tubuh total sedangkan CES
sisanya.
Semua pertukaran H2O dan konstituen lain antara CIS dan dunia luar terjadi melalui CES
sehingga CES berperan sebagai perantara antara sel dan lingkungan eksternal. Ada 2 faktor
yang mempengaruhi keseimbangan cairan, yaitu volume CES untuk mempertahankan
tekanan darah dan osmolaritas CES untuk mencegah perubahan volume sel.
Tabel 1.1 tentang Pengaturan Volume dan Osmolaritas CES
Variable

yang Keperluan

untuk Hasil

akhir

diatur

mengatur variable

Volume CES

Penting dalam kontrol Rendahnya

variabel tidak normal

jangka panjang tekanan CES


darah arteri

jika Mekanisme

untuk

mengatur variabel

volume Pemeliharaan

menyebabkan keseimbangan garam;

penurunan

tekanan garam secara osmotik

darah

*menahan*

H2O

sehingga jumlah Na+


menentukan volume
CES
Osmolaritas CES

Penting untuk mencegah Rendahnya


perpindahan

osmotik CES

menyebabkan oleh

H2O antara CES dan CIS penurunan


yang membahayakan

volume Dicapai

penyesuaian

tekanan ekskresi Na+ di urine

darah

di

osmolaritas

bawah

kontrol

aldosteron

Penurunan

CES Pemeliharaan

(hipotonisitas)
menyebabkan

terutama

keseimbangan

H2O

H2O bebas.

masuk ke dalam sel


sehingga

sel

membengkak
Peningkatan
osmolaritas

Dicapai
CES oleh

terutama
penyesuaian

(hipertonisitas)
menyebabkan
keluar

dari

ekskresi H2O di urine


H2O di

bawah

kontrol

sel vasopresin

sehingga sel menciut

.
Prinsip Dasar Osmosis
Osmosis adalah difusi neto cairan yang menyebrangi membran permeabelselektif dari
tempat yang konsentrasi airnya tinggi ke tempat yang konsentrasi airnya rendah. Oleh karena
membran sel relatif impermeabel terhadap zat-zat terlarut namun sangat permeabel terhadap
air, maka apabila satu sisi membran sel memiliki konsentrasi zat terlarut tinggi, maka air akan
berdifusi ke sisi tersebut sampai tercapainya keseimbangan. Prinsip dasar yang perlu diingat
dalam osmolaritas cairan intraselular dan ekstraselular adalah : (1) air bergerak cepat melalui
membran sel, karenanya osmolaritas cairan intraselular dan ekstraselular tetap hampir sama
satu sama lain kecuali pada beberapa menit setelah perubahan salah satu kompartemen; (2)
membran sel hampir sepenuhnya impermeabel terhadap banyak zat terlarut, oleh karenanya
jumlah osmol dalam cairan ekstraselular atau intraselular umumnya tetap konstan kecuali jika
zat terlarut ditambahkan atau dikurangi dari kompartemen ekstrasel.
Pengaturan natrium
Pengaturan osmolaritas cairan ekstraselular berhubungan erat dengan konsentrasi natrium
karena natrium merupakan ion terbanyak di dalam ruang ekstraselular. Ginjal menekan
kehilangan cairan selama kekurangan air, melalui sistem umpan balik osmoreseptor-ADH,
tetapi asupan cairan yang adekuat diperlukan. Asupan cairan diatur oleh mekanisme rasa
haus dan osmoreseptor-ADH untuk mengimbangi kehilangan cairan yang terjadi. rasa
haus dirangsang dari peningkatan osmolaritas cairan ekstraselular yang menyebabkan
dehidrasi intrasel di pusat rasa haus. Selain itu rasa haus meningkat apabila volume darah
menurun, tekanan darah menurun, angiotensin II meningkat, dan mulut kering. Bila
konsentrasi natrium meningkat sekitar 2 mEq/L diatas normal, maka mekanisme haus
diaktifkan.
Pengaturan kalium

Pengaturan imbangan antara asupan dan keluaran kalium terutama bergantung pada
eksresi ginjal karena jumlah kalium yang diekskresikan dalam feses hanya sekitar 5%10% dari asupan kalium. Faktor-faktor yang mengatur sekresi kalium adalah konsentrasi
plasma, aldosteron, laju aliran tubulus, dan konsentrasi hidrogen
Pengaturan kalsium
Pengaturan eksresi kalsium oleh ginjal dan konsentrasi ion kalsium ekstraselula, hampir
semua kalsium (99%) disimpan dalam tulang, dan hanya 0,1% dalam cairan ekstraselular,
serta 1% cairan intraselular dan organel sel. Apabila kalsium turun, hormon paratiroid
akan meningkat. Hormon ini mengatur konsentrasi kalsium plasma melalui 3 efek utama
yaitu merangsang resorbsi tulang, merangsang aktifitas vitamin D yang kemudian
meningkatkan reabsorpsi kalsium intestinal, dan dengan meningkatkan secara langsung
reabsorpsi kalsium oleh tubulus ginjal.
Pengaturan fosfat
Di tubulus proksimal, reabsorpsi fosfar terjadi terutama melalui jalur transelular. Fosfat
memasuki sel dari lumen melalui mekanisme ko-transpor natrium-fosfat dan keluaran sel
melintasi membran basolateral dengan proses yang tidak dipahami dengan baik namun
mungkin melibatkan mekanisme transpor yang menukar fosfat dengan anion.
Pengaturan asam-basa
Pendapatan H+ dalam cairan tubuh diperlukan untuk membuat asan lemah yang dapat tetap
sebagai molekul yang tidak berdisosiasi ataupun berdisosiasi kembali menjadi dapar dan
H+. Dapar merupakan zat apapun yang secara reversibel dapat mengikat H+, contohnya
HCO2- + H+ H2CO3 begitupun sebaliknya. Untuk cairan ekstraselular, sistem dapar yang
dibutuhkan adalah sistem dapar bikarbonat, sedangkan untuk cairan intraselular, sistem
dpar yang diperlukan adalah dapar fosfat dan protein. Keseimbangan asam-basa dapat
diperoleh dari beberapa pengaturan yang terjadi di dalam tubuh seperti (1) pengaturan
pernapasan yaitu dengan cara ekspirasi karbondioksida oleh paru-paru untuk mengimbangi
pembuangan karbondioksida metabolik, peningkatan ventilitas alveolus dapat menurunkan
konsentrasi H+ cairan ekstraselular dan meningkatkan pH, serta peningkatan konsentrasi
H+ merangsang ventilasi alveolus; dan (2) pengaturan oleh ginjal dengan mengekresikan
urin yang asam atau yang basa. (Guyton,2014)
Keseimbangan Asam-Basa
Keseimbangan asam-basa merujuk kepada regulasi konsentrasi ion hidrogen bebas (tidak
terikat) dalam cairan tubuh. Asam adalah bahan yang mengandung hidrogen yang terurai
dalam larutan. Asam kuat memiliki lebih banyak hidrogen yang terurai dalam larutan

dibanding asam lemah karena presentase molekul asam kuat yang terurai menjadi H + bebas
dan anion lebih besar. Basa adalah bahan yang berikatan dengan H+ bebas dan basa kuat lebih
mudah mengikat H+ dari pada basa lemah. Dalam keadaan normal, H + secara terus menerus
ditambahkan ke dalam cairan tubuh dari 3 sumber berikut ini, yaitu pembentukan asam
karbonat, asam inorganik yang diproduksi selama penguraian nutrien, asam organik yang
berasal dari metabolisme antara.
Sistem dapar kimiawi adalah campuran larutan dua senyawa kimia yang meminimalkan
perubahan pH ketika asam atau basa ditambahkan ke atau dikeluarkan dari larutan tersebut.
Tabel 1.2 Dapar Kimiawi dan Peran Utamanya
Sistem Dapar
Sistem Dapar

Fungsi Utama
Dapar CES utama terhadap perubahan non-asam karbonat

H2CO3:HCO3Sistem Dapar

Dapar CIS utama; juga menyangga CES

Protein
Sistem Dapar

Dapar utama terhadap perubahan asam

Hemoglobin
Sistem Dapar
Fosfat

Dapar urine yang penting; juga menyangga CIS