Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

ANALISIS KASUS

RESUME
Seorang anak laki-laki, 6 tahun, dengan keluhan utama nyeri didaerah kemaluan
terutama di sekitar kantung zakar sejak 1 bulan yang lalu. Ibu pasien juga mengaku
terdapat bengkak pada kantung zakarnya. Demam tidak ada. Sejak lahir ibu pasien tidak
mengetahui. Ibu mengaku tidak merasakan benjolan di tempat lain. BAK anak masih
biasa.
Pada riwayat kehamilan dan persalinan tidak ada permasalahan, namun anak
lahir dengan BBLR. Riwayat operasi, riwayat operasi hernia disangkal
Pada pemeriksaan status generalisata dan vitalis dalam batas normal. Pada
pemeriksaan fisik regio inguinal dextra terlihat dan teraba benjolan 1 cm. Pada regio
skrotalis dextra tidak tampak hipoplasia kulit dan tidak teraba testis, sedangkan pada
skrotalis sinistra tampak bengkak, transluminasi (+) dan pada palpasi teraba testis
dikantung skrotum.
Pada pemeriksaan USG testis, ditemukan pada testis dextra terletak di canalis
inguinalis kanan bagian media dengan ukuran 1,6 cm dan testis kiri tampak adanya
gambaran hidrokel sinistra dan ukuran testis 1,2 cm. Kesan UDT dextra.
ANALISIS
Dari anamnesis diketahui bahwa keluhan utama pada penderita ini tidak adanya
testis kanan didalam skrotum kanan sejak lahir. Hal ini kita harus pastikan bahwa testis
berada ditempat lain atau testis tidak terbentuk. Jika berada ditempat lain, biasanya ibu
mengaku terdapat benjolan ditempat lain seperti di inguinal, jika tidak ada kita dapat
melakukan pemeriksaan penunjang lain seperti USG testis, flebografi selektif atau
diagnostik laparoskopi. Jika pada pemeriksaan tersebut tidak ditemukan testis, kita
dapat melakukan pemeriksaan hormonal antara lain dengan hormon testosteron,
kemudian dilakukan uji dengan pemberian hormon hCG (human chorionic
25

gonadotropin) untuk mengetahui bahwa testis memang tidak pernah terbentuk. Pada
kasus, ibu mengaku terdapat benjolan ditempat lain dibagian inguinal sehingga
dilakukan USG testis untuk mengetahui letak pasti testis, hasilnya testis kanan terletak
di canalis inguinalis kanan bagian medial.
Pasien datang juga dengan keluhan nyeri dan bengkak seperti benjolan didaerah
skrotum. Nyeri pada skrotum dapat dipikirkan beberapa penyebab yakni hidrokel yang
terinfeksi, tumor testis atau terjadi torsio testis. Pada tumor testis biasanya berbentuk
benjolan yang tidak nyeri kecuali terjadi perdarahan dalam testis. Pada torsio testis,
pasien akan mengeluh nyeri hebat didaerah skrotum, yang sifatnya mendadak dan
diikuti pembengkakan pada testis. Biasanya nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal
atau perut sebelah bawah dan torsio testis merupakan salah satu kegawatdaruratan
urologi. Pada hidrokel terinfeksi, biasanya pada anamnesis sebelumnya sudah terdapat
benjolan di dalam skrotum. Pada kasus, kemungkinan penyebab nyeri dan bengkak di
atas belum dapat disingkirkan, masih diperlukan pemeriksaan penunjang lainnya.
Pada tatalaksana, testis yang tidak berada di skrotum harus diturunkan ke
tempatnya, baik dengan cara medikamentosa maupun pembedahan. Dengan asumsi
bahwa jika dibiarkan, testis tidak dapat turun sendiri setelah usia 1 tahun. Pada kasus,
anak dipertimbangkan untuk orchidopeksi. Hal ini dikarenakan dari segi usia anak
datang pada usia lebih dari 1 tahun, maka patut dipertimbangkan komplikasi yang akan
timbul akibat UDT.
Dari segi prognosis, pada penderita UDT memiliki risiko kanker testis sekitar 35 %. Orkidopeksi sendiri tidak akan mencegah risiko terjadinya keganasan, tetapi akan
lebih mudah melakukan deteksi dini keganasan setelah operasi. Risiko karsinoma in situ
sekitar 0,4% pada pasien riwayat orkidopeksi. Pasien dengan undesensus testis memiliki
resiko mengalami infertilitas. Spermatogram ditemukan normal pada 20% pasien
undesensus bilateral dan 75% pasien undesensus unilateral. Sekitar 6% laki-laki infertil
memiliki riwayat orkidopeksi.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Disorders and anomalies of the scrotal
contens. In : Nelson textbook of pediatrics. 17!h ed. Philadelphia : Saunders; 2004. p.
1817
2. Leung AK, Robson WL. Current status of cryptorchidism. In : Kappy MS, editor
Advances in pediatrics. Vol. 51. Philadephia : Mosby ; 2004. p. 351-69
3. Kolon TF. Cryptorchidism. Urolojy. Common Problems of the Testicle [online].
2006 Mar 8 [cited 2008 Nov 30]; [12 screen]. Available from : URL:
http://www.emedicine.com
4. Perez MR. Cryptorchidism. Pediatrics: Surgery. Urology, [online]. 2007 Nov 1
[cited 2008 Nov 30]; [10 screen]. Available from : URL: http://www.emedicine.com
5. Faizi M. Penatalaksanaan undescensus testis pada anak. Divisi Endokrinologi
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UNAIR [online]. 2000 November [cited 2008
November 28]; [13 screen] Available from : URL : http://www.google.com
6. Palinrungi, Achmad M, Prof, Dr. Kriptorkismus dalam Diktat Kuliah Ilmu Bedah II
Urologi. Sub Bagian Urologi Bagian Ilmu Bedah FK-UH. Makassar; 2002. p. 30-8
7. Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urology. 17th ed. New York :
McGrawHill Medical ; 2008. P. 13-41
8. Colby FH. The testis an epididymis. Embryology, anatomy and physiology. In :
Essential urology 4th ed. Baltimore : The Williams & Wilkins; 1961. p. 87-95.
9. Purnomo BB. Kelainan skrotum dan isinya. Dalam: Dasar-dasar urologi. Edisi 2.
Jakarta : Sagung Seto; 2003. p. 137-40
10. Putz R, Pabst R. Atlas Anatomi Manusia Sobotta. Jilid 2. Edisi 21. Jakarta : EGC ;
2001. p. 90
11. Skandalakis, Gray. The ovary and testis. In: Embriology for surgeons. Skandalakis
& Gray. 2nd ed. Philadelphia : Mosby ; 2000. p. 740-5
12. Wilson ED, Koyle MA, Furness PD. Cryptorchidism. In : Teichman JM, editor.
Common problems in urology. New York : McGraw Hill ; 2001. p. 29 -37
13. Osborn LM, DeWitt TG, First LR, et al. Disorders of the genitourinary system in the
newborn. in: Pediatrics. Philadelphia: Mosby ; 2005. p. 1360-1
14. Hutson JM, Hasthorpe S, Heys CF. Anatomical and Functional of Testicular Descent
and Cryptorchidism. Endocrine Reviews 1997; 18 (2): 259-75)
15. Ross JH. Pediatric potpourri. In: Potts JM, editor. Esential urology : a guide to
clinical practice. New Jersey: Humana Press; 2004. p. 22-5
27

16. Way LW. Doherty GM. Pediatric surgery. In: Current surgical diagnose & treatment.
11th ed. New York : McGraw Hill; 2003. p. 1336-9
17. Docimo S, Silver R, Cromie W. The undescended testicle: diagnosis and
management. Am Fam Physician [serial online]. 2000 November [cited 2008
November 28]: 62: 2037-44. Available from : URL: h ttp: //www.aafg.org
18. Gardjito W. Saluran kemih dan alat kelamin lelaki. Dalam: Sjamsuhidajat R, Wim
de Jong, editor. Buku ajar ilmu bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC ; 2005. p. 747-8
19. Budd C, Gardiner M. Genitalia. In : Paediatrics. London : Mosby ; 1999. p. 137
20. Nur Mantu F. Kriptokidisme. Dalam: Catatan Kuliah Bedah Anak. Jakarta : EGC;
1997. h. 38-9.
21. Hutson JM. Undescended testis, torsion, and varicocele. In: Grosfeld JL, O'Neill JA,
Coran AG. et al. editors. Pediatric surgery. 6 th ed. Vol. 2. Philadelphia : Mosby ;
2006 p. 1 193-205
22. Fonkalsrud EW, Mengel W. Type of undescended testes. In : The undescended testis.
London : Year Book Medical : 1981. p. 159-62
23. Scwartz SI Shires GT. Spencer FC et al. Pediatric surgery. In: Principles of surgery
Jth ed. Vol.2. New York : McGraw Hill; 1999. p. 1744-5
24. Frey R. Orchiopexy. Encyclopedia of Surgery: A Guide for Patients and Caregivers,
[online]. 2007 [cited 2008 November 30]; [6 screen]. Available from : URL:
http://www.surgeryencyclopedia.com

28