Anda di halaman 1dari 17

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI
Testis adalah organ genitalia pria yang terletak di dalam rongga skrotum. Testis
berbentuk ovoid, berat 10-14 gram. Ukuran testis orang dewasa rata-rata 4 x 3 x 2,5 cm
dengan volume 15-25 ml. Testis mempunyai kapsula yang terdiri atas tiga lembar
lapisan, dari superficial ke profunda, yakni:6 , 7 , 8 , 9
1. Tunica vaginalis, merupakan bagian dari peritoneum, terdiri dari lamina parietalis
dan lamina visceralis. di bagian dorsal dari testis terjadi peralihan dari lamina
parietalis menjadi lamina visceralis.
2. Tunica albuginea, dibentuk oleh jaringan ikat, berwarna putih. Dibungkus oleh
tunica vaginalis, kecuali permukaan testis yang ditempati oleh epididymis. Di
bagian dorsal tunica albuginea menebal, membentuk mediastinum testis (Corpus
Higmori).
3. Tunica vasculosa, dibentuk oleh anyaman pembuluh darah dan jaringan ikat,
berada pada fascies profunda dari tunica albuginea dan mengikuti permukaan
septula testis.
Dari mediastinum testis terdapat beberapa septula testis kearah tunica albuginea,
membatasi testis dalam 250 buah rongga-rongga kecil (tubuli testis). Di dalam setiap
rongga terdapat dua buah tubuli seminiferi contorti, di mediastinum tubuli tadi saling
berhubungan dan berbentuk lurus disebut tubulus seminiferi recti. Di dalam
mediastinum testis, tubuli seminiferi recti mengadakan anastomose membentuk rete
testis. Dari rete testis terdapat 6-12 buah ductuli efferente testis yang mengadakan
hubungan dengan epididimis. 7,8,9

Gambar 1. Testis dan Epididymis (Dikutip dari kepustakaan 9)

Gambar 2. A: Bagian-bagian testis. B: Vaskularisasi Testis.


(Dikutip dari kepustakaan 9)

Arteri utama yang memperdarahi testis adalah arteri testikularis yang merupakan
cabang dari aorta, keluar dari aorta di bawah arteri renalis. Terdapat dua sumber darah
lain yang memperdarahi testis, arteri vas deferens (arteri diferensial) yang merupakan
percabangan dari arteri vesikalis inferior dan arteri cremaster, yang merupakan cabang
dari arteri epigastrik profunda. Pembuluh-pembuluh vena berjalan ke posterior menuju
ke margo posterior, menembus tunica albuginea dan bergabung dengan pleksus
pampiniformis, menjadi vena testiskularis di dekat anulus inguinalis internus. Vena
testikularis dextra bermuara ke dalam vena cava inferior, dan vena testikularis sinistra
bermuara ke dalam vena renalis sinistra.7,8,9
Testis mempunyai dua fungsi dasar, memproduksi spermatozoa dan sekresi
hormone testosteron yang penting untuk fungsi reproduksi. Sekitar 80% massa testis
terdiri dari tubulus seminiferosa yang berkelak-kelok yang di dalamnya berlangsung
spermatogenesis.

Spermatogenesis terjadi akibat dari rangsangan

gonadotropin hipofise anterior,


sepanjang hidup.

oleh hormone

dimulai rata-rata pada usia 13 tahun dan berlanjut

Sel-sel endokrin yang mengeluarkan testosteron adalah sel-sel

interstitial (sel leydig), terletak di jaringan ikat (jaringan interstisiurn) antara tubulustubulus serninoferosa. Testosteron adalah suatu hormone steroid yang berasai dari
molekul prekursor kolesterol.

Sel-sel

leydig mengandung enzim-enzim dengan

konsentrasi yang tinggi yang diperlukan untuk mengarahkan kolesterol mengikuti jalur
yang menghasilkan testosteron. Setelah dihasilkan sebagian testosteron disekresikan ke
dalam darah dan terutama terikat dengan protein plasma. 8
3.2 EMBRIOLOGI DAN PENURUNAN TESTIS
Pada minggu ke-6 umur kehamilan primordial germ cells mengalami migrasi
dari yolk sac ke-genital ridge. Dengan adanya gen SRY (sex determining region Y),
maka akan berkembang menjadi testis pada minggu ke-7. Testis yg berisi prekursor selsel Sertoli besar (yang kelak menjadi tubulus seminiferous dan sel-sel Leydig kecil)
dengan stimulasi FSH yang dihasilkan pituitary mulai aktif berfungsi sejak minggu ke-8
kehamilan

dengan

mengeluarkan

MIF

(Mullerian

Inhibiting

Factor),

yang

menyebabkan involusi ipsilateral dari duktus mullerian. MIF juga meningkatkan


reseptor androgen pada membran sel Leydig. Pada minggu ke-10-11 kehamilan, akibat
stimulasi chorionic gonadotropin yang dihasilkan plasenta dan LH dari pituitary sel-sel
10

Leydig akan mensekresi testosteron yang sangat esensial bagi diferensiasi duktus
Wolfian menjadi epididimis, vas deferens, dan vesika seminalis.11,12
Penurunan testis dimulai pada sekitar minggu ke-10. Walaupun mekanismenya
belum diketahui secara pasti, namun para ahli sepakat bahwa terdapat beberapa faktor
yang berperan penting. yakni: faktor endokrin, mekanik (anatomik), dan neural. Terjadi
dalam 2 fase yang dimulai sekitar minggu ke-10 kehamilan segera setelah terjadi
diferensiasi seksual. Fase transabdominal dan fase inguinoscrotal. Keduanya terjadi
dibawah kontrol hormonal yang berbeda. 7,11
Fase transabdominal terjadi antara minggu ke-10 dan 15 kehamilan, di mana
testis mengalami penurunan dari urogenital ridge ke regio inguinal. Hal ini terjadi
karena adanya rcgresi ligamentum suspensorium cranialis dibawah pengaruh androgen
(testosteron), disertai pemendekan gubernaculum (ligamen yang melekatkan bagian
inferior testis ke-segmen bawah skrotum) di bawah pengaruh MIF. Dengan
perkembangan yang cepat dari regio abdominopelvic maka testis akan terbawa turun ke
daerah inguinal anterior. Pada bulan ke-3 kehamilan terbentuk processus vaginalis yang
secara bertahap berkembang ke-arah skrotum. Selanjutnya fase ini akan menjadi tidak
aktif sampai bulan ke-7 kehamilan. 6,11,12
Fase inguinoscrotal terjadi mulai bulan ke-7 atau minggu ke-28 sampai dengan
minggu ke-35 kehamilan. Testis mengalami penurunan dari regio inguinal ke-dalam
skrotum dibawah pengaruh hormon androgen. Mekanismenya belum diketahui secara
pasti, namun diduga melalui mediasi pengeluaran calcitonin gene-related peptide
(CGRP). Androgen akan merangsang nervus genitofemoral untuk mengeluarkan CGRP
yang menyebabkan kontraksi ritmis dari gubernaculum.Faktor mekanik yang turut
berperan pada fase ini adalah tekanan abdominal yang meningkat yang menyebabkan
keluarnya testis dari cavum abdomen, di samping itu tekanan abdomen akan
menyebabkan terbentuknya ujung dari processus vaginalis melalui canalis inguinalis
menuju skrotum. Proses penurunan testis ini masih bisa berlangsung sampai bayi usia 912 bulan. 6,7,11

11

Gambar 3. A: Skema penurunan testis menurut Hutson. Antara minggu ke- 8-15
gubernaculum (G) berkembang pada laki-laki, mendekatkan testis (T) ke-inguinal.
Ligamentum suspensorium cranialis (CSL) mengalami regresi. Migrasi gubernaculum
ke-skrotum terjadi pada minggu ke-28-35. B: Peranan gubernaculum dan CSL pada
diferensiasi seksual rodent. Pada jantan CSL mengalami regresi dan gubernaculum
mengalami perkembangan; sebaiiknya pada betina CSL menetap, dan gubernaculum
menipis dan memanjang. (Dikutip dari kepustakaan 7)
3.3 EPIDEMIOLOGI
Dari laporan Scorer yang telah banyak dikutip penulis lain, telah diketahui bahwa
insiden undesensus testis pada bayi sangat dipengaruhi oleh umur kehamilan bayi dan
tingkat kematangan atau umur bayi. Pada bayi prematur sekitar 30,3% dan sekitar 3,4%
pada bayi cukup bulan. Bayi dengan berat lahir < 900 gram seluruhnya mengalami
undesensus testis, sedangkan dengan berat lahir < 1800 gram sekitar 68,5 % undesensus
testis. Dengan bertambahnya umur menjadi 1 tahun, insidennya menurun menjadi 0,8
%, angka ini hampir sama dengan populasi dewasa. 2,6,13
12

Laporan serupa yang lain menyebutkan dari 7500 bayi baru lahir di Inggris,
terdapat 5,0 % kasus ini pada saat lahir, dan menurun menjadi 1,7% pada umur 3 bulan.
Setelah umur 3 bulan, bayi-bayi yang lahir dengan berat <2000 gram, 2000 - 2499
gram, dan >_2500 gram, insiden kasus ini berturut-turut menjadi 7,7%, 2,5%, dan
1,41%.2,5
3.4 KLASIFIKASI
Terdapat 3 tipe UDT7:
1.UDT sesungguhnya (true undescended): testis mengalami penurunan parsial melalui
jalur yang normal, tetapi terhenti. Dibedakan menjadi teraba (palpable) dan tidak teraba
(impalpable).
2.Testis ektopik: testis mengalami penurunan di luar jalur penurunan yang normal.
3.Testis retractile: testis dapat diraba/dibawa ke dasar skrotum tetapi akibat refleks
kremaster yang berlebihan dapat kembali segera ke kanalis inguinalis, bukan termasuk
UDT yang sebenarnya.
Pembagian lain membedakan true UDT menurut lokasi terhentinya testis,
menjadi: abdominal, inguinal, dan suprascrotal (gambar 2).4 Gliding testis atau sliding
testis adalah istilah yang dipakai pada keadaan UDT dimana testis dapat dimanipulasi
hingga bagian atas skrotum tetapi segera kembali begitu tarikan dilepaskan.1,4

Gambar 4. Kemungkinan lokasi testis pada true UDT dan ektopik testis.
(Dikutip dari : Gill B, Kogan S. Cryptorchidism-Current Concept. Pediatr Clin
North Am 1997;44 (5): 1211-27)

13

3.5 ETIOLOGI
Segala bentuk gangguan pada proses penurunan testis berpotensi menimbulkan
undesensus testis. Beberapa teori telah menjelaskan penyebab antara lain kelainan
gubernakulum, kelainan intrinsik testis, kelainan endokrin, atau kelainan bawaan
lainnya. Beberapa faktor penyebab tesebut antara lain : 3,4,5,14
A

Androgen deficiency/blockade
Pituitary/placental gonadotropin deficiency
Gonadal dysgenesis
Androgen synthesis defect (rare)
Androgen receptor defect (rare)
Mechanical anomalies
Prune belly syndrome (bladder block inguinal canal)
Posterior urethral valves (bladder block inguinal canal)
Abdominal wall defects (low abdominal pressure/gubernacular rupture)
Chromosomal/malformation syndrome (Connective tissue defect
migration)
Neurogical anomalies
Myelomeningocele (GNF dysplasia)
GFN/CGRP anomalies
Aquired anomalies
Cerebral palsy (cremaster spasticity)
Ascending/retractile testes (Fibrous remnant of processus vaginalis)

block

Kriptorchidism akan disebabkan oleh anomali apa saja yang mengganggu


penurunan testis normal. Mekanisme penurunan testis normal merupakan suatu interaksi
kompleks antara factor-faktor hormonal dan mekanis atau anatomis sehingga penyebab
undesensus testis merupakan multifaktorial. Meskipun penyebab umum undesensus
testis tidak diketahui, fase transabdominal jarang terkena, seperti pada kebanyakan
kasus testis telah turun atau melewati kanalis inguinalis. Sebaliknya, migrasi aktif dari
gubernakulum selama fase inguinoskrotal lebih rentan terhadap gangguan. Undesensus
testis umumnya terletak dekat leher skrotum atau di luar cincin inguinal eksternal.14
Defek sekresi androgen prenatal dipercaya merupakan penyebab paling umum
undesensus testis, baik yang disebabkan oleh defisiensi stimulasi gonadotropin pituitary

14

atau produksi gonadotropin plasenta yang rendah. Dari hasil penelitian mengusulkan
bahwa defisiensi androgen dapat merupakan manifestasi dari fisiologi abnormal GFN,
yang mana mengganggu migrasi gubernakulum. Terlihat pada bayi yang mengalami
undesensus bilateral ternyata memiliki level gonadotropin yang rendah dalam darah dan
pada maldesensus dapat diturunkan dengan pengobatan gonadotropin. 6,14
Undesensus testis umum terjadi pada sindrom congenital dengan anomali
multiple. Mikrosefali merupakan salah satunya, yang mana selalu disertai dengan
disfungsi hipotalamik atau pituitari. Anomali mekanis perifer juga umum terjadi dan
dapat menyebabkan kompresi ekternal pada regio inguinoskrotal. Gangguan urologis
spesifik seperti, sindrom prune belly dan katup uretra posterior, sering disertai dengan
undesensus testis. Defek dinding abdomen merupakan predisposisi terhadap undesensus
testis. (15% pada gastroschisis, >30% pada exomphalos). Tidak mekanisme yang
diusulkan termasuk tekanan abdominal yang rendah, disrupsi gubernakulum traumatik,
atau defek pada hipotalamus. Defek neural tube juga memiliki frekuensi undesensus
yang tinggi. 14
Pada umumnya undesensus testis disertai hernia inguinalis akibat prosesus
vaginalis bagian proksimal tidak terjadi obliterasi. Vas deferens yang berasal dari duktus
mesonefros tetap berkembang tapi pembuluh darah biasanya pendek sesuai dengan
tingkat penurunan testis dan ini yang kadang-kadang menyulitkan penurunan testis ke
skrotum. 6
3.6 DIAGNOSIS
Anamnesis
Gejala utama ialah tak adanya testis dalam skrotum baik keduanya (bilateral)
atau salah satunya (unilateral). Mungkin juga penderita datang dengan keluhan ada
benjolan di tempat lain; perut, di atas paha dan lain-lain. Mungkin datang karena gejalagejala hernia atau torsio testis.6
Pada anamnesis harus digali adalah tentang prematuritas penderita (30% bayi
prematur mengalami undesensus testis), penggunaan obat-obatan saat ibu hamil
(estrogen), riwayat operasi inguinal. Harus dipastikan juga apakah sebelumnya testis
pernah teraba di skrotum pada saat lahir atau tahun pertama kehidupan (testis retractile
akibat refleks cremaster yang berlebihan sering terjadi pada umur 4-6 tahun). Perlu juga
15

digali riwayat perkembangan mental anak, dan pada anak yang lebih besar bisa
ditanyakan ada tidaknya gangguan penciuman (biasanya penderita tidak menyadari).
Riwayat keluarga tentang undesensus testis, infertilitas, kelainan bawaan genitalia, dan
kematian neonatal.4,5,12
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisis terlihat skrotum yang kosong, mengkerut (kempes)
dibandingkan pada yang ada testis. Dapat teraba benjolan di tempat lain. Pemeriksaan
secara umum harus dilakukan dengan mencari adanya tanda-tanda sindrom tertentu,
dismorfik, hipospadia, atau genitalia ambigua. Pemeriksaan testis sebaiknya dilakukan
pada posisi terlentang dengan "frog leg position" dan jongkok. Dengan 2 tangan yang
hangat dan akan lebih baik bila menggunakan jelly atau sabun, dimulai dari SIAS
menyusuri kanalis inguinalis ke-arah medial dan skrotum. Bila teraba testis harus dicoba
untuk diarahkan ke-skrotum, dengan kombinasi "menyapu" dan "menarik" terkadang
testis dapat didorong ke-dalam skrotum. Dengan mempertahankan posisi testis didalam
skrotum seiama 1 menit, otot-otot cremaster diharapkan akan mengalami "fatigue': bila
testis dapat bertahan di dalam skrotum, menunjukkan testis yang retractile sedangkan
pada undesensus testis akan segera kembali begitu testis dilepas. Tentukan lokasi,
ukuran dan tekstur testis.6,15,16,17

16

Gambar 5. Teknik pemeriksaan testis A : Menyusuri kanalis inguinalis dimulai dari


SIAS. B&C : Bila teraba testis, menggiring testis dengan ujung-ujung jari
D: Memanipulasi ke-dalam skrotum. (Dikutip dari kepustakaan 17).

Lokasi undesensus testis tersering terdapat pada kanalis inguinalis (72%), diikuti
supraskrotal (20%), dan intra-abdomen (8%). Sehingga pemeriksaan fisik yang baik
akan dapat menentukan lokasi tersebut. 5,6,17,18
Adanya undesensus testis bilateral yang tidak teraba gonad/testis apalagi disertai
hipospadia dan virilisasi, harus dipikirkan kemungkinan intersex, individu dengan
kromosom XX yang mengalami female pseudo-hermaphroditism yang berat; atau
Anorchia kongenital sebagai akibat torsi testis in utero. Sedangkan simple undesensus
testis merupakan hal yang seringkali dijumpai terutama pada bayi yang prematur, akan
tetapi masih dapat terjadi penurunan testis dalam tahun pertama kehidupannya. 5,19,20
17

Pemeriksaan Laboratorium
Pada anak dengan undesensus testis unilateral tidak memerlukan pemeriksaan
laboratorium lebih lanjut. Sedangkan pada undesensus testis bilateral tidak teraba testis
dengan disertai hipospadia dan virilisasi, diperlukan pemeriksaan analisis kromosom
dan hormonal (yang terpenting adalah17-hydroxyprogesterone) untuk menyingkirkan
kemungkinan intersex. 5,12,17
Setelah menyingkirkan kemungkinan intersex, pada penderita UDT bilateral
dengan usia 3 bulan dan tidak teraba testis pemeriksaan LH, FSH, dan testosteron
akan dapat membantu menentukan apakah terdapat testis atau tidak. Bila umur telah
mencapai di atas 3 bulan pemeriksaan hormonal tersebut harus dilakukan dengan
melakukan stimulasi test menggunakan hCG (human chorionic gonadotropin
hormone). Ketiadaan peningkatan kadar testosteron disertai peningkatan LH/FSH
setelah dilakukan stimulasi mengindikasikan anorchia.5,21
Prinsip stimulasi test dengan hCG atau hCG test adalah mengukur kadar hormon
testosteron pada keadaan basal dan 24-48 jam setelah stimulasi. Respon testosteron
normal pada hCG test sangat tergantung umur penderita. Pada bayi, respon normal
setelah hCHG test bervariasi antara 2-10x bahkan 20x. Pada masa kanak-kanak,
peningkatannya sekitar 5 -10x. Sedangkan pada masa pubertas, dengan meningkatnya
kadar testosteron basal, maka peningkatan setelah stimulasi hCG hanya sekitar 2-3x. 5,17
Pemeriksaan Radiologi
USG hanya dapat membantu menentukan lokasi testis terutama di daerah
inguinal, di mana hal ini akan mudah sekali dilakukan perabaan dengan tangan. Pada
penelitian terhadap 66 kasus rujukan dengan undesensus testis tidak teraba testis, USG
hanya dapat mendeteksi 37,5% (12 dari 32) testis inguinal; dan sulit mendeteksi testis
intra-abdomen. CT scan dan MRI mempunyai ketepatan yang lebih tinggi dibandingkan
USG terutama diperuntukkan testis intra-abdomen (tak teraba testis). MRI mempunyai
sensitifitas yang lebih baik untuk digunakan pada anak-anak yang lebih besar (belasan
tahun). MRI juga dapat mendeteksi kecurigaan keganasan testis.3,4
18

Laparoskopi
Metode ini sebaiknya dilakukan pada anak yang lebih besar dan setelah
pemeriksaan lain tidak dapat mendeteksi adanya testis di inguinal. Beberapa hal yang
dapat dievaluasi selama laparoskopi adalah: kondisi cincin inguinalis interna, processus
vaginalis (patent atau nonpatent), testis dan vaskularisasinya serta struktur wolfiannya. Tiga hal yang sering dijumpai saat laparoskopi adalah: blind-ending pembuluh
darah testis yang mengindikasikan anorchia (44%), testis intra-abdomen (36%), dan
struktur cord (vasa dan vas deferens) yang keluar ke-dalam cincin inguinalis interna. 4,17
3.7 DIAGNOSIS BANDING 17,22
1. Testis ektopik : penurunan testis terjadi sepanjang canalis inguinalis dan melewati
anulus inguinalis externus, namun testis dapat terletak pada posisis ektopik sehingga
tampak superfisial dari oblik eksterna, pangkal penis, perineum atau pada bagian
atas dan medial paha.
2. Testis retraktil : penurunan testis secara normal dan aktivitas cremaster berlebihan
menarik testis ke atas melalui canalis inguinalis. Tarikan halus dapat
mengembalikan testis pada skrotum.
3.8 KOMPLIKASI 5,6,23
Komplikasi utama yang dapat terjadi pada undesensus testis adalah keganasan
testis dan infertilitas akibat degenerasi testis, torsi testis, dan hernia inguinalis.
a) Risiko keganasan.
Risiko terjadinya keganasan testis pada anak dengan undesensus testis dilaporkan
berkisar 10-20 kali dibandingkan pada anak dengan testis normal. Makin tinggi
lokasinya makin tinggi risiko keganasannya, testis abdominal mempunyai risiko
menjadi ganas 4x lebih besar dibanding testis inguinal.
b) Infertilitas.
Perbedaan suhu yang leibh tinggi intra abdominal dan intra scrotal (beda 1 o C)
mempengaruhi proses spermatogenesis. Penderita undesensus testis bilateral
mengalami penurunan fertilitas yang lebih berat dibandingkan undesensus testis
unilateral, dan apalagi dibandingkan dengan populasi normal. Penderita undesensus

19

testis bilateral mempunyai risiko infertilitas 6x lebih besar dibandingkan populasi


normal, sedangkan pada undesensus testis unilateral berisiko 2x lebih besar.
c) Torsio testis.
Testis yang terlalu mobile dalam kantong hernia memudahkan testis terpuntir
terjadilah torsio testis.
d) Hernia inguinalis.
Terjadi pada 25% pasien. Tak jarang penderita datang dengan hernia inkarserata
yang memerlukan tindakan segera yang tentunya kalau mungkin ditanggulangi
sekaligus orkidopeksi atau orkidektomi.
3.9 PENATALAKSANAAN
Tujuan terapi undesensus testis yang utama dan dianut hingga saat ini adalah
memperkecil risiko terjadinya infertilitas dan keganasan dengan melakukan reposisi
testis kedalam skrotum baik dengan menggunakan terapi hormonal ataupun dengan cara
pembedahan orkidopeksi (orchidopexy).4,5,17,22

Gambar 6. Alogritma penatalaksanaan UDT pada anak. Anak yang lebih besar
sebaiknya segera dirujuk saat diagnosis ditegakkan. LH = luteinizing hormone;
FSH=follicle-stimulating hormone;MIS ; Mullerian inhibiting substance; hCG = human
chronic gonadotropin. (dikutip dari kepustakaan 17).
20

Terapi Konservatif/Hormonal
Testis dapat turun spontan dalam 3 bulan sampai 1 tahun. Bahkan sampai 2
tahun terutama yang prepubik atau pada anulus inguinalis eksternus. Lebih dari 2 tahun
biasanya tidak akan turun lagi.6
Hormon hCG mempunyai kerja mirip LH yang dihasilkan pituitary, yang akan
merangsang sel Leydig menghasilkan androgen. Cara kerja peningkatan androgen pada
penurunan testis belum diketahui pasti. tapi diduga mempunyai efek pada cord testis
atau otot cremaster. Berbagai regimen pemberian hCG telah direkomendasikan.
Rekomendasi yang sering digunakan adalah dari International Health Foundation dan
WHO yang merekomendasikan pemberian 250 IU untuk bayi < 12 bulan, 500 1U untuk
umur 1-6 tahun, dan 1.000 IU untuk umur > 6 tahun, masing masing kelompok umur
diberikan 2x seminggu selama 5 minggu.Angka keberhasilan terapi hCG berkisar 25-55
% pada penelitian tanpa kontrol, dan sekitar 6-21% pada penelitian buta acak. Faktor
yang mempengaruhi keberhasilan terapi adalah: makin distal lokasi testis makin tinggi
keberhasilannya, makin tua usia anak makin respon terhadap terapi hormonal, UDT
bilateral lebih responsif terhadap terapi hormonal daripada unilateral. 4,5,17,21
Terapi Pembedahan
Apabila hormonal telah gagal, terapi standar pembedahan untuk kasus
undesensus testis dengan orkidopeksi yaitu meletakkan testis ke dalam skrotum denagan
melakukan fiksasi pada kantong sub dartos. Mengingat 75 % kasus undesensus testis
akan mengalami penurunan testis spontan sampai umur 1 tahun, maka pembedahan
dapat dilakukan setelah umur 1 tahun (biasanya umur 2-3 tahun). Orkidopeksi
seharusnya dilakukan oleh ahli urologi yang telah terbiasa menangani prosedur
pembedahan tersebut serta manajemen komplikasinya. 15,19
Keputusan melakukan orkidopeksi didasarkan oleh pertimbangan berbagai faktor, antara
lain: 4,21,24
a) Untuk meminimalisir resiko infertil.
b) Untuk menurunkan resiko kanker testis.
c) Untuk menurunkan resiko trauma pada testis.
d) Untuk mencegah terjadinya hernia inguinal.

21

e) Untuk mencegah torsio testis pada saat remaja.


f) Secara psikologis mencegah rasa rendah diri karena tidak mempunyai testis.
Orkidopeksi inguinal diatas yang dilakukan umumnya menggunakan prosedur
yang relatif sederhana, namun adapula prosedur yang lain pada undesensus testis
dengan lokasi testis yang rumit. Secara umum, orkidopeksi pada undesensus testis yang
terletak di depan skrotum atau inguinal dan suprainguinal adalah operasi yang tidak
terlalu sulit dibandingkan dengan tindakan pada testis intraabdomen. 17,24
Operasi dilakukan dengan cara insisi di atas canalis inguinalis. Testis, funikulus
spermatikus,

pembuluh-pembuluh

darah

dibebaskan

kemudian

pole

caudal

testis/gubernakulum difiksasi pada dasar bagian dari skrotum. Bila perlu jahitan dapat
ditembuskan keluar dari skrotum dan difiksasi di bagian medial pangkal paha dan
dipertahankan 2-3 minggu. 6,17,24
Bila kemudian funikulus spermatikus yang telah dibebaskan atau arteri
spermatikus masih pendek, yang menyebabkan testis belum sampai ke skrotum, maka
dapat dilakukan: 6,17,24
1. Pembuluh-pembuluh darah testis dibebaskan dari peritoneum.
2. Testis, vas deferens dan pembuluh-pembuluh darah dibebaskan dan melalui di
bawah dinding ke lubang canalis inguinalis di bawah pembuluh darah epigastrika
inferior keluar melalui anulus inguinalis eksternus untuk memperpendek jarak ke
dalam rongga skrotum.
3. Untuk mengetahui adanya pembuluh darah kolateral dari cabang arteri lainnya,
arteri spermatica interna yang pendek dapat diklem, bila testis tetap baik/tidak
menjadi biru, dapat dipotong sehingga testis dapat diturunkan.
4. Bila usaha sudah dilakukan dan testis belum dapat diturunkan ke dalam skrotum
maka dilakukan orkidektomi.
Bila didapatkan undesensus testis yang bilateral, maka operasi dapat dilakukan
dua kali, yaitu testis yang satu dioperasi terlebih dahulu, kemudian dilihat hasilnya
apakah testis yang telah dioperasi dapat bertahan. Setalah itu dapat dilakukan operasi
kedua untuk testis yang satunya. Bila ternyata tidak berhasil masih ada testis satunya
yang masih memproduksi spermatozoa.6,17,24

22

Teknik Fowler-Stephens sering digunakan ketika undesensus testis terletak


tinggi di atas skrotum atau di dalam abdomen dengan pembuluh darah testis yang
pendek. Hal itu dapat dilakukan dalam dua tahap dijadwalkan dalam beberapa bulan.
Pada tahap pertama. ahli bedah meletakkan testis ke bawah untuk sementara bagian
dalam paha. Pada tahap kedua, testis akan dipindahkan ke dalam skrotum dan terjahit
sesuai tempatnya. Tahap ini biasanya dilakukan 3-6 bulan setelah prosedur tahap
pertama.3,4
Orkidopeksi tipe lainnya yaitu auto-transplantasi testis (mikrovaskular
transplantasi). Ahli bedah mengangkal undesensus testis sepenuhnya dari lokasi dan
kembali meletakkan dalam skrotum dengan anastomosis mikrovaskular dari testis ke
arteri dan vena epigastrik inferior ipsilateral yang masih dapat digunakan. Teknik ini
rnengurangi risiko terjadinya suplai darah yang tidak adekuat pada testis. 3,4
Pemeriksaan post operatif (1-2 minggu setelah orkidopeksi) ditujukan untuk
menilai pertumbuhan luka operasi dan membuka jahitan. Untuk mencegah keluarnya
testis dan skrotum. Penggunaan permainan seperti sepeda sebaiknya dilarang selama
kurang lebih 2 minggu. Aktivitas olahraga juga sebaiknya dibatasi pada anak yang lebih
tua. Pemeriksaan selanjutnya sebaiknya dilaksanakan 6 - 12 bulan setelah operasi untuk
menilai posisi testis apakah mengalami malposisi sekunder dan menilai ukuran testis
apakah mengalami atrofi. 21,24
Orkidopeksi sebagian besar berhasil pada anak dengan undesensus testis yang
letaknya relatif dekat dengan skrotum. Tingkat kegagalan pada orkidopeksi berdasarkan
letak testis sekitar 8% jika testis berada tepat diatas skrotum; 10-20% jika testis
ditemukan berada pada kanalis inguinal; serta 25% jika testis ditemukan di abdomen.
Tingkat keberhasilan orkidopeksi pada testis (skrotum, inguinal dan suprainguinal)
sekitar 80-90 %. Prosedur Fowler-Stephens sekitar 77-95 %. Tehnik mikrovaskular
transplantasi sekitar 83-96%. Orkidopeksi sendiri tidak akan mengurangi resiko
terjadinya keganasan, tetapi akan lebih mudah melakukan deteksi dini keganasan pada
penderita yang telah dilakukan orkidopeksi.4,5,24

23

Komplikasi 3,4,6,21,24
Beberapa risiko komplikasi setelah operasi orkidopeksi antara lain :
1. Kegagalan testis berada dalam skrotum (posisi anatomi abnormal)
2. Atrofi testis
3. Oklusi vas deferens
4. Pembengkakan pada skrotum akibat perdarahan
5. Epididymoorchitis.
3.10 PROGNOSIS 3,4,5,6
Sebagian besar undesensus testis akan turun ke dalam skrotum secara spontan
pada 3 bulan pertama setelah lahir, dan pada 6 bulan pertama insidensnya menurun
menjadi 0,8%.
Pada penderita kriptokidisme memiliki risiko kanker testis sekitar 3-5 %.
Orkidopeksi sendiri tidak akan mencegah risiko terjadinya keganasan, tetapi akan lebih
mudah melakukan deteksi dini keganasan setelah operasi. Risiko karsinoma in situ
sekitar 0,4% pada pasien riwayat orkidopeksi.
Pasien dengan undesensus testis memiliki resiko mengalami infertilitas.
Spermatogram ditemukan normal pada 20% pasien undesensus bilateral dan 75% pasien
undesensus unilateral. Sekitar 6% laki-laki infertil memiliki riwayat orkidopeksi.

24