Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Botulisme sangat jarang terjadi namun penyakit ini tergolong gawat dan sangat
darurat, terbukti dengan cukup tingginya angka kematian yang disebabkan oleh
penyakit ini, sekitar 50 70%.
Diagnosa dini dan tindakan preventif sangat dibutuhkan untuk menghindari
infeksi botulisme, pengetahuan yang kurang akan botulisme malah akan memicu
meningkatnya insiden penyakit ini. Pengobatan dan perawatan yang intensif sangat
dibutuhkan bagi penderita botulisme dalam mempertahankan hidupnya.

1.2.

Rumusan Masalah
Apa definisi dari botulisme dan insiden?
Apa saja etiologi dari botulisme?
Bagaimana patofisiologi dari botulisme?
Bagaimana gejala klinis dari botulisme?
Bagaimana diagnosis dari botulisme?
Bagaimana penatalaksanaan dari botulisme?
Apa saja komplikasi yang terjadi dan prognosisnya?

1 | Page

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Botulisme merupakan intoksikasi, seperti halnya dengan tetanus. Toksin
botulisme diproduksi oleh Closytrodium botulinum. Botulisme adalah penyakit
langka tapi sangat serius. Merupakan penyakit paralisis gawat yang disebabkan
oleh racun (toksin) yang menyerang saraf yang diproduksi bakteri Clostridium
Botulinum.
Clostridium botulinum berkembang biak melalui pembentukan spora dan
produksi toksin. Toksin tersebut dapat dihancurkan oleh suhu yang tinggi, karena
itu botulisme sangat jarang sekali dijumpai di lingkungan atau masyarakat yang
mempunyai kebiasaan memasak atau merebus sampai matang.
Ada 3 jenis utama botulisme :
o Foodborne Botulisme
Disebabkan karena makanan yang mengandung toksin botulisme.
o Wound Botulisme
Disebabkan toksin dari luka yang terinfeksi oleh Clostridum
Botulinum.
o Infant Botulisme
Disebabkan karena spora dari bakteri botulinum, yang
kemudian berkembang dalam usus dan melepaskan toksin.
Semua bentuk botulisme dapat fatal dan merupakan keadaan darurat.
Foodborne botulisme mungkin merupakan jenis botulisme yang paling berbahaya
karena banyak orang dapat tertular dengan mengkonsumsi makanan yang
tercemar.
2.2. Insiden
Di USA dilaporkan sekitar 110 kasus terjadi tiap tahunnya. Dan sekitar
25% nya foodborne botulisme, 72% infant botulisme dan sisanya adalah wound
botulisme. Foodborne botulisme biasanya karena mengkonsumsi makanan kaleng.
Wound botulisme meningkat karena penggunaan heroin terutama di california.
2.3. Etiologi
Etiologi dari botulisme adalah Clostridium botulinum. Clostridium
botulinum merupakan kuman anaerob, gram positif, mempunyai spora yang tahan
panas, dapat membentuk gas, serta menimbulkan rasa dan bau pada makanan yang
terkontaminasi.

2 | Page

2.4. Patofisiologi
Clostridium Botulinum berbiak melalui pembentukan spora dan produksi
toksin. Racun botulisme diserap di dalam lambung, duodenum dan bagian pertama
jejunum. Setelah diedarkan oleh aliran darah sistemik, maka racun tersebut
melakukan blokade terhadap penghantaran serabut saraf kolinergik tanpa
mengganggu saraf adrenegik. Karena blokade itu, pelepasan asetilkolin terhalang.
Efek ini berbeda dengan efek kurare yang menghalang-halangi efek asetil kolin
terhadap serabut otot lurik. Maka dari itu efek racun botulisme menyerupai khasiat
atropin, sehingga manifetasi klinisnya terdiri dari kelumpuhan flacid yang
menyeluruh dengan pupil yang lebar (tidak bereaksi terhadapt cahaya), lidah
kering, takikardi dan perut yang mengembung. Kemudian otot penelan dan okular
ikut terkena juga, sehingga kesukaran untuk menelan dan diplopia menjadi
keluhan penderita. Akhirnya otot pernafasan dan penghantaran impuls jantung
sangat terganggu, hingga penderita meninggal karena apnoe dan cardiac arrest.

2.5. Gejala Klinis


Gejala food-bone botulism terjadi secara tiba-tiba, biasanya dalam waktu
18-36 jam setelah toksin masuk ke dalam tubuh. Gejala juga bisa muncul dalam
waktu 4 jam atau paling lambat 8 hari setelah menelan toksin. Semakin banyak
toksin yang ditelan, maka semakin cepat orang tersebut menjadi sakit. Biasanya
orang yang sakit dalam waktu 24 jam setelah makan makanan yang terkontaminsi
merupakan yang paling berat terkena
Gejala awal botulisme yang berasal dari makanan atau luka antara lain
berupa:
o Mulut terasa kering.
o Penglihatan ganda.
o Kelopak mata turun.
3 | Page

o Tidak mampu memfokuskan penglihatan pada objek-objek yang dekat


o Pupil mata tidak bisa mengecil (konstriksi) dengan normal saat
mendapat paparan cahaya.
Namun, pada botulisme karena makanan, juga terdapat gejala-gejala pada
saluran cerna, seperti mual muntah, kram perut dan diare.
Kerusakan saraf akibat toksin mempengaruhi kekuatan otot, tetapi tidak sensasi.
Oleh karena itu, pasien bisa mengalami :
o Hilangnya tonus otot pada wajah.
o Kesulitan untuk berbicara dan menelan. Akibatnya, makanan atau air liur
seringkali tersedak masuk kedalam paru-paru dan berisiko untuk terjadi
pneumonia.
Gejala-gejala botulisme yang umumnya terjadi pada bayi antara lain :
o Konstipasi.
o Kelumpuhan otot, dimulai dari wajah dan kepala, akhirnya
mengenai lengan, tungkai, dan otot-otot pernafasan. Akibatnya bayi
bisa mengalami kesulitan bernafas.
o Kelopak mata turun.
o Menangis dengan lemah.
o Air liur mengalir keluar.
o Tidak mampu untuk menghisap, sehingga menggangu makan.
o Hilangnya ekspresi wajah bayi.
o Penurunan tonus otot.

4 | Page

2.6.Diagnosa
Kecurigaan akan botulisme sudah harus dipikirkan dari riwayat pasien
dan pemeriksaan klinik. Bagaimanapun, baik anamnesa dan pemeriksaan fisik
tidak cukup untuk menegakkan diagnosa karena penyakit lain yang merupakan
diagnosa banding, seperti Guillain-Barre Syndrome, stroke dan myastenia gravis
memberikan gambaran yang serupa.
Dari anamnesa didapatkan gejala klasik dari botulisme berupa diplopia,
penglihatan kabur, mulut kering, kesulitan menelan. Dari pemeriksaan fisik
didapatkan kelemahan otot. Jika sudah lama, keluhan bertambah dengan paralise
lengan, tungkai sampai kesulitan nafas karena kelemahan otot-otot pernafasan.
Pemeriksaan tambahan yang sangat menolong untuk menegakkan
diagnosa botulisme adalah CT-Scan, pemeriksaan serebro spinalis, nerve
conduction test seperti electromyography atau EMG, dan tensilon test untuk
myastenia gravis.
Diagnosa dapat ditegakkan dengan ditemukannya toksin botulisme di
serum pasien juga dalam urin. Bakteri juga dapat diisolasi dari feses penderita
dengan foodborne atau infant botulisme.
2.7. Diagnosa Banding
Sindroma Guillain-Barre
Sebelum kelumpuhan timbul terdapat anamnesa yang khas yaitu
infeksi traktus respiratorius bagian atas. Di antara masa infeksi tersebut
sampai timbulnya kelumpuhan terdapat masa bebas gejala penyakit yang
berkisar antara beberapa hari sampai 34 minggu.
Kelumpuhan timbul pada keempat anggota gerak, pada umumnya
bermula di bagian distal tungkai kemudian menjalar ke proksimal ke
lengan, leher bahkan wajah serta otot penelan. Pada tahap permulaan
gangguan miksi dan defekasi dapat menjadi ciri penyakit tersebut.
Kelumpuhan ini bersifat flacid dan bilateral simetris. Bila radiks dorsalis
terserang terdapat parestesia pada daerah lesi, sering pada tangan dan kaki
(gloves and stocking).
Pemeriksaan cairan serebrospinalis terdapat kadar protein yang tinggi
yaitu 1000mg/100ml (normal 15-45mg/ml) sedangkan jumlah sel (limfosit
dan sel mononuclear) biasanya dalam keadaan normal 0-3/mm dan tidak
melebihi 5/mm. Keadaan ini dikenal dengan sebutan dissociation
cytoalbuminigue yang merupakan ciri khas sindroma ini.
Terjadi asidosis respiratorik bila otot-otot pernafasan terkena.
Merupakan keadaan gawat darurat yang dapat menimbulkan koma bahkan
membawa kematian.
Miastenia gravis
Kelainan mulai dari otot-otot kelopak mata, otot pengunyah parese
palatum mole/arkus faringeus/uvula/otot-otot faring dan lidah (tahap awal).
5 | Page

Pada tahap lanjut otot-otot leher dapat terkena sehingga kepala harus
ditegakkan dengan tangan. Kemudian menyusul otot anggota gerak dan
interkostal.
Gejala yang khas yaitu pada pagi hari pasien merasa tidak terdapat
gangguan, makin siang kelainan mulai dari kelopak mata yang setengah
menutup (ptosis) dan badan terasa lemah. Bicara mulai parau, kesukaran
menelan, merupakan keluhan bila sudah lama.
2.8. Penatalaksanaan
Para penderita botulisme dapat mengalami kesulitan bernafas (pada
stadium lanjut) karena itu membutuhkan alat bantuan nafas atau ventilator selama
berminggu-minggu (biasanya 4 minggu) atau sampai efek toksin habis, ditambah
perawatan dan pengobatan yang intensif. Setelah beberapa minggu, paralisis
secara bertahap muncul dan semakin jelas. Jika diagnosa bisa ditegakkan secara
awal, foodborne dan wound botulisme dapat diobati dengan anti toksin yang dapat
memblok aksi toksin dalam peredaran darah. Hal ini dapat membantu agar
keadaan pasien tidak memburuk, tapi proses pemulihan masih membutuhkan
waktu selama berminggu-minggu. Mungkin diperlukan enema atau memancing
agar penderita muntah untuk mengeluarkan makanan yang mengandung toksin
yang masih ada di dalam usus. Luka harus segera diobati, biasanya dengan
operasi, untuk menyingkirkan sumber produksi dari toksin botulisme. Penggunaan
anti toksin tidak untuk mengobati infant botulisme perlu dipikirkan lagi,
sedangkan antibiotika tidak dibutuhkan, kecuali pada wound botulisme.
2.9. Komplikasi
Botulisme dapat menyebabkan kematian karena kegagalan nafas. Dalam
50 tahun terakhir, banyak pasien dengan botulisme yang meninggal menurun dari
50% menjadi 8%. Pasien dengan botulisme yang parah membutuhkan alat bantu
pernafasan sebagai bentuk pengobatan dan perawatan yang intensif selama
beberapa bulan. Pasien yang selamat dari racun botulisme dapat menjadi lemah
dan nafas yang pendek selama beberapa tahun dan terapi jangka panjang
dibutuhkan untuk proses pemulihan.
2.10.Prognosis
prognosis dari botulisme bervariasi, tergantung dari jenis botulisme yang
menginfeksi dan kecepatan diagnosis dan pemberian obat. Makin awal diagnosis
dapat ditegakkan atau makin cepat penderita berobat, makin baik prognosisnya.

6 | Page

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Botulisme adalah penyakit paralisis gawat yang disebabkan oleh racun
(toksin) yang menyerang saraf yang diproduksi bakteri Clostridium Botulinum.
Ada 3 jenis botulisme, yaitu :
o Foodborne botulisme
o Wound botulisme
o Infant botulisme
Gejala dari botulisme adalah diplopia, penglihatan kabur, mulut kering,
kesulitan menelan, kelumpuhan flacid yang menyeluruh dengan pupil yang lebar (tidak
bereaksi terhadap cahaya), lidah kering, takikardi dan perut yang mengembung. Otot
pernafasan dan penghantaran impuls jantung sangat terganggu, hingga penderita
meninggal karena apnoe dan cardiac arrest.
Diagnosa dari botulisme dibuat berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan berupa CT-Scan, pemeriksaan serebro spinalis, nerve
conduction test seperti electromyography atau EMG, dan tensilon test untuk myastenia
gravis. Pengobatan dan perawatan botulisme antara lain:
o
o
o
o
o

7 | Page

Anti toksin pada diagnosa dini.


Perawatan luka untuk Wound Botulisme.
Antibiotika untuk Wound Botulisme.
Enema atau untuk memancing penderita muntah pada foodborne botulisme.
Ventilator sebagai alat bantu napas pasien pada stadium lanjut.

Daftar Pustaka
Sidharta P & Mardjono M. 2003. Neurologi klinis dasar. Jakarta: Dian
Rakyat.
Harsono (Ed). 2003. Kapita Selekta Neurologi Edisi 2. Gajah Mada
University press.
Natalia,Lily & Priadi A, April 2012. Botulismus: Patogenesis, Diagnosis
dan Pencegahan. Volume 22, No.3. 27 Desember 2015

8 | Page