Anda di halaman 1dari 4

JURNAL READING

Treatment of Severe Acne with Low-dose Isotretinoin

Disusun oleh :
Mellati Zastia Putri
1102011160

Pembimbing :
dr. Hapsari Triandriyani, M.Kes, SpKK
dr. Christilla Citra Aryani, SpKK
dr. Gayanti Germania, SpKK

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN


RSUD PASAR REBO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016

LATAR BELAKANG
Acne vulgaris adalah gangguan kulit yang paling umum dengan kemungkinan
konsekuensi sosial yang signifikan bagi mereka yang terkena dampak. Jerawat
memiliki patogenesis yang kompleks dengan multifaktor termasuk produksi sebum yg
meningkat, hiperproliferasi folikel pilosebasea, kolonisasi Propionibacterium acnes
(PA) dan proses inflamasi. Terdapat berbagai macam pilihan pengobatan yang
tersedia, salah satunya adalah isotretinoin sistemik.
TUJUAN
Untuk mengetahui apakah terapi isotretinoin dosis rendah (0,1-0,3 mg/kg/hari)
dapat efektif dalam mengobati bentuk jerawat yang berat.
METODE
Dilakukan analisis retrospektif terhadap 4 orang pasien dengan acne
conglobata atau acne fulminans yang diterapi dengan isotretinoin dosis rendah (0,10,3 mg/kg/hari). Kemudian perubahan lesi kulit selama terapi didokumentasikan
melalui foto, yang diukur menggunakan skala penilaian Cook untuk jerawat. Metode
penilaian dimulai dari skala 0 ( 3 komedo/papul) hingga 8 (bentuk lebih berat dan
acne dengan inflamasi tinggi, acne conglobata). Selain itu dinilai pula timbulnya efek
samping, durasi terapi dan dosis kumulatif isotretinoin.
Sebelum pengobatan dimulai, kehamilan pada pasien perempuan telah
disingkirkan. Pasien juga telah diinformasikan untuk menjalani kontrasepsi ketat
hingga satu bulan setelah pemakaian obat dihentikan. Pasien juga dilakukan
pemeriksaan laboratorium rutin termasuk hitung darah lengkap, tes fungsi hati, dan
profil lipid serum sebelum inisiasi pengobatan dan selama pengobatan, serta
pemeriksaan klinis rutin untuk memantau efek samping.

HASIL
Pasien terdiri dari 4 orang dengan usia antara 14-18 tahun pada awal
pengobatan. Dipermulaan semua pasien memiliki Cooks grading scale 8 dan
mendapatkan isotretinoin 10-20 mg perhari, 3 diantaranya juga mendapatkan
kortikosteroid oral selama 7-9 minggu. Pengobatan berjalan dengan rata-rata selama
10,4 bulan, dengan dosis rata-rata isotretinoin perhari 0,19 mg/kg dan dengan rata-rata
dosis kumulatif 65,8 mg/kg. Tiga dari empat pasien juga mendapatkan terapi topikal
(adapalene, clindamycin kombinasi dengan BPO atau eritromisin). Setelah
pengobatan, 1 pasien memiliki Cooks grading scale 0, 2 pasien berskala 2, dan 1
pasien berskala 4. Efek samping yang ditimbulkan tergolong ringan.

DISKUSI
Isotretinoin diindikasikan untuk acne nodular berat yang tidak responsif
terhadap terapi kombinasi oral dan terapi topikal, atau dalam keadaan klinis khusus
sebagai terapi lini pertama dalam kasus-kasus individual,

dengan dosis 0,5-1,0

mg/kg/hari, dengan dosis kumulatif 120-150 mg/kg selama lebih dari 4-6 bulan. Efek
samping berupa kulit dan mukosa kering, peningkatan enzim hati dan kadar lemak
darah, terutama trigliserida, sebagian besar efek samping tergantung dari dosis yang
diberikan.

Isotretinoin sangat teratogenik, dengan laporan kejadian cacat lahir sebanyak


40% pada anak yang terekspose isotretinoin pada trimester pertama kehamilan. Selain
itu, dengan dosis isotretinoin kurang dari 0,2 mg/kg dilaporkan dapat mengurangi
resiko jerawat setelah terapi dimulai. Penelitian ini menunjukan dengan jelas bahwa
bentuk acne yang berat dapat diterapi secara efektif dengan isotretinoin dosis rendah
(0,1-0,3 mg/kg), jika perlu dengan kombinasi prednisolon oral, keempat pasien dapat
mengalami kemajuan yang signifikan. Hasil penelitian ini didukung pula dengan
temuan Plewig dkk dan Lee dkk yang mendemonstrasikan keefektifan dosis rendah
isotretinoin dalam mengobati acne conglobata dan acne moderate. Karvonen dkk
mendemonstrasikan keefektifan kombinasi jangka panjang isotretinoin dengan
diawali prednisolon sistemik pada kasus cystic acne.
Bukti kuat secara tidak langsung mendukung mekanisme kerja isotretinoin
melalui regulasi faktor transkripsi FoxO, sehingga meredam efek promotif dalam
patogenesis jerawat. Tidak ada pasien yang mengalami kemunculan jerawat baru
setelah memulai pengobatan. Tidak ada pula pasien yang komplain mengenai mata
dan mulut kering. Demikian tidak ada pasien yang harus menghentikan terapi
isotretinoin dikarenakan efek sampingnya.
KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian ini, khasiat dan profil efek samping yang
menguntungkan sangat mendukung penggunaan pengobatan isotretinoin dosis rendah,
10-20 mg/hari, sebagai lini pertama terapi acne conglobata, acne fulminans, dan
sebagai kombinasi dengan kortikosteroid oral jangka pendek.