Anda di halaman 1dari 3

Griseofulvin

Pada tahun 1946, Brian dkk. menemukan bahan yang menyebabkan susut dan
mengecilnya hifa yang disebut sebagai curling factor kemudian ternyata diketahui bahwa
bahan yang mereka isolasi dari penicillim janczewski adalah griseofulvin
A. aktivitas jamur
Griseofulvin in vitro efektif terhadap berbagai jenis jamur dermatofit seperti
Trichophyton, epidermohyton dan Microsporum. terhadap sel muda yang sedang
berkembang griseofulvin bersifat fungisidal. obat ini tidak efektif terhadap bakteri, jamur
lain dan ragi, Actinomyces dan nocardia.
B. Cara kerja Obat
Griseofulvin merupakan obat anti jamur yang bersifat fungistatik, berikatan
dengan protein mikrotubular dan menghambat mitosis sel jamur. Griseofulvin ditimbun
di sel-sel terbawah dari sel epidermis, sehingga keratin yang baru terbentuk akan tetap
dilindungi terhadap infeksi jamur.
Obat ini dimetabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6metilgriseofulvin. waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam, 50% dri dosis oral yang
diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari. kulit yang
sakit mempunyai afinitas yang tinggi terhadap obat ini. Obat ini akan dihimpun dalam
sel pembentuk keratin, lalu muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi, terikat kuat
dengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten terhadap serangan jamur. Keratinn
yang mengandung jamur akan terkelupas dan diganti oleh sel yang normal. Antibiotik ini
dapat ditemukan dalam lapisan tanduk 4 - 8 jam setelah pemberian per oral. Keringat dan
kehilangan cairan transepidermal memegang peranan penting dalam penyebaran obat ini
pada stratum korneum, kadar yang ditemukan dalam cairan dan jarngan tubuh lainnya
kecil sekali.
Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena
obat ini tidak larut dalam air. dosis oral 0,5 g haya akan menghasilkan kadar plasma
tertinggi kira-kira 1 ml setelah 4 jam. Preparat dalam bentuk yang lebih kecil diserap
lebih baik. Absorpsinya meningkat bila diberika bersamaan dengan makanan berlemak.
C. Efek samping

Sakit kepala merupakan keluhan utama, terjadi kira-kira pada 15 % pasien, yang
akan hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan. efek samping lainnya seperti
artralgia, neuritis perifer, demam, pandangan kabur, insomnia, berkurangnya fungsi
motorik, pusing dan sinkop. Dapat terjadi rasa kering mulut, mual, muntah, diare dan
flatulensi pada saluran cerna
D. Indikasi
Griseofulvin memberikan hasil yang baik terhadap penyakitjamur di kulit, rambut
dan kuku yang disebabkan olehjamur yang sensitive. gejala pada kulit akan berkurang
dalam 48-96 jam setelah pengobatan dengan griseofulvin sedangkan penyembuhan
sempurna baru terjadi setelah beberapa minggu. biakan jamur menjadi negative dalam 12 minggu tetapi pengobatan sebaiknya dilanjutkan sampai 3-4 minggu. infeksi pada
telapak tangan dan telapak kaki lebih lambat beraksi, biakan di sini baru negative setelah
2-4 minggu dan pengobatan membutuhkan waktu sekitar 4-8 minggu.
infeksi kuku tangan membutuhkan waktu 4-6 bulan sedangkan infeki kuku kaki
membutuhka waktu 6-12 bulan. Trichophyton rubrum dan trichophyton mentarovites
membutuhkan dosis yang lebih tinggi dari pada dosis biasa. pada keadaan yang disertai
hyperkeratosis perlu penambahan zat keratolitik. kandidiasis maupun tinea versi kolor
tidak dapat diobati dengan griseofulvin. Dosis sangat tinggi griseofulvin bersifat
karsiongenik dan teratogenik sehinga dematofitosis ringan tidak perlu diberikan
griseofulvin, cukup dengan pemberian preparat topical.
E. Posologi
Di Indonesia giseofulvin mikrokristal tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan
500 mg dan tablet yang mengandung partikel ultramikrokristal tersedia dalam takaran
330 mg. untuk anak, griseofulvin diberikan 5-15 mg/kgBB/hari sedangkan untuk dewasa
500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal. bila dosis tunggal tidak dapat toleransi, maka
dibagi dalam beberapa dosis.
Sumber:
1. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdi, Elysabeth. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5.
2.

Jakarta: Balai penerbit FKUI; 2008.hal. 579-80


Jadhav C.M.; Kate V. K., Payghan S.A. Stability Study of Griseofulvin in Non
Aqueous Microemulsion System. Asian Journal of Biomedical and Pharmaceutical
Sciences; 04 (35); 2014; 79-83.

3. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S,. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta:

Balai Penerbit FKUI;2007.hal.