Anda di halaman 1dari 19

FISTULA

ENTEROKUTAN

DEFINISI

Fistula adalah suatu saluran abnormal yang


menghubungkan antara dua organ dalam
atau berjalan dari suatu organ dalam ke
permukaan tubuh.
Fistula enterokutaneous adalah suatu saluran
abnormal yang menghubungkan antara organ
gastrointestinal dan kulit.

FISTULA ENTEROKUTANEOUS

Berdasarkan atas hubungan dengan dunia luar,


maka fistel dibagi menjadi 2 bagian yaitu fistel
external dan fistel internal.
Fistel eksternal dimaksudkan pada fistel yang
salurannya menghubungkan antara organ dalam
tubuh dengan dunia luar, contohnya fistel
enterokutaneus, fistel umbilikalis.
Sedangkan fistel internal adalah fistel yng
menghubungkan dua bagian tubuh yang keduaduanya masih berada dalam tubuh, contohnya
fistel vesicorectal, fistel rektovaginal, fistel
vesikokolik (Brunner & Suddarth, 2002)

Berdasarkan kriteria fisiologi, fistula


enterokutaneous dibagi menjadi 3 yaitu highoutput, moderate-output dan low output.

Fistula dengan high-output apabila


pengeluaran cairan intestinal sebanyak >500ml
perhari, moderate-output sebanyak 200-500
ml per hari dan low-output sebanyak <200 ml
per hari.

ETIOLOGI
Berdasarkan atas penyebabnya, maka fistel
dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu :
Congenital ; jenis fistel ini terbentuk sejak
lahir, contohnya fistel duodenocolic.
Spontan : jenis fistel ini biasanya terbentuk
sebagai hasil perjalanan kronis suatu penyakit.
Penyakit yang bisa menimbulkan fistel yakni
Chrown disease, TB , divertikel, abses, perforasi
local, radiasi dan enteritis.
Aquaired/ didapat : fistel ini terbentuk karena
kesalahan dalam tindakan pembedahan misalnya
dalam operasi anastomosis, drainase abses.

PATOFISIOLOGI

Salah satu penyebab terbentuknya fistel enterokutaneus


adalah chrown disease.
Pada penyakit Chrown inflamasi kronis dan subakut meluas
ke seluruh lapisan dinding usus dari mukosa
usus(transmural).
Pembentukan fistula,fisura dan abses terjadi sesuai luasnya
inflamasi ke dalam peritoneum proses inflamasi terus
berlanjut saluran abnormal yang terbentuk bisa mencapai
kutan (kulit) abdomen terbentuklah fistel enterokutaneus.
Lesi (ulkus) tidak pada kontak terus-menerus satu sama lain
dan dipisahkan oleh jaringan normal. Pada kasus lanjut,
mukosa usus mengalami penebalan dan menjadi fibrotic dan
akhirnya lumen usus menyempit (Brunner & Suddarth,
2002).

PENYEBAB FEK PASCA OPERASI


a. Operasi keganasan saliran cerna,
inflammatory bowel disease dan adhesiolisis
b. Faktor predisposisi : leakage anastomosis,
abses, obstruksi pada distal
c. Pasca apendektomi jarang
d. sering akibat penyakit yang mendasarinya
Tb, IBD(inflamatory boweldiseases)
e. Sebab lain: erosi sekum atau nekrosis
sekum

FAKTOR ANATOMI YANG MENGAKIBATKAN


KEMUNGKINAN MENUTUP SPONTAN :

Abses yang besar


Defek dinding usus > 1 cm
Intestinal discontinuity
Obstruksi distal
Penyakit usus di sebelahnya
Panjang trak < 2 cm
Trak yang pendek bukan kendala untuk
menutup bila epitel usus tidaktumbuh ke
permukaan
Bila epitel tumbuh ke permukaan, seperti
enterostomy (tidak akan menutup spontan)

GEJALA/MANIFESTASI KLINIS

Gejala awal dari fistula enterokutaneous


adalah demam, leukositosis, prolonged ileus,
rasa tidak nyaman pada abdomen, dan
infeksi pada luka.Diagnosis menjadi jelas bila
didapatkan drainase material usus pada luka
di abdomen

DIAGNOSA DAN EVALUASI


RADIOLOGIS

CTscan : mengetahui underlyingdisease


Fistulogram: Tehnik ini menggunakan water soluble
kontras.Kontras disuntikkan melalui pembukaan
eksternal, kemudian melakukan foto x-ray. Dengan
menggunakan tehnik pemeriksaan ini, dapat
diketahui berbagai hal yaitu : Sumber fistula, jalur
fistula, ada-tidaknya kontinuitas usus, adatidaknya obstruksi di bagian distal, keadaan usus
yang berdekatan dengan fistula (striktur, inflamasi)
dan ada-tidaknya abses yang berhubungan dengan
fistula.

USG: USG dapat digunakan untuk mengetahui


ada-tidaknya abses dan penimbunan cairan pada
saluran fistula
Barium enema: Pemeriksaan ini menggunakan
kontras, untuk mengevaluasi lambung, usus halus,
dan kolon. Tujuannya untuk mengetahui
penyebab timbulnya fistula seperti penyakit
divertikula, penyakit Crohn's, dan neoplasma
Test methylen blue: mengkonfirmasi keberadaan
fistula enterokutaneous dan kebocoran segmen
usus. Tehnik ini kurang mampu untuk mengetahui
fungsi anatomi dan jarang digunakan pada
praktek.

PENATALAKSANAAN
A. Stabilization
Identification: mengidentifikasi pasien dengan fistula
enterokutaneous. Pada minggu pertama postoperasi, pasien
menunjukkan tanda-tanda demam dan prolonged ileus serta
terbentuk erythema pada luka. Luka akan terbuka dan terdapat
drainase cairan purulen yang terdiri dari cairan usus. Pasien
dapat mengalami malnutrisi yang disebabkan karena sedikit atau
tidak diberikan nutrisi dalam waktu lama. Pasien dapat menjadi
dehidrasi, anemis, dan kadar albumin yang rendah.
Resuscitation: pemulihan volume sirkulasi.Pada tahap ini,
pemberian kristaloid dibutuhkan untuk memperbaiki volume
sirkulasi. Transfusi sel darah merah dapat meningkatkan
kapasitas pengangkutan oksigen dan pemberian infuse albumin
dapat mengembalikan tekanan onkotik plasma.
Control of sepsis: Pada tahap ini, melakukan pencegahan
terhadap timbulnya sepsis dengan pemberian obat antibiotik.

Nutritional support: Pemberian nutrisi pada


pasien dengan fistula enterokutaneous
merupakan komponen kunci penatalaksanaan
pada fase stabilization. Fistula enterokutaneous
dapat menimbulkan malnutrisi pada pasien
karena intake nutrisi kurang, hiperkatabolisme
akibat sepsis dan banyaknya komponen usus kaya
protein yang keluar melalui fistula.
Control of fistula drainage: Terdapat berbagai
tehnik yang digunakan untuk managemen
drainase fistula yaitu simple gauze dressing, skin
barriers, pauches, dan suction catheter.
Selain itu, untuk mencegah terjadinya maserasi
pada kulit akibat cairan fistula, dapat diberikan
karaya powder, stomahesive atau

Nonoperativemanagement
Surgical

a. Non operativemanagement:
Terutamauntuklowoutputfistula
Kontrol infeksi danpencegahan malnutrisi
Sebagian besar fistula enterokutan akanmenutup
secara spontan, kecuali jika ada faktor-faktor
yang mengganggu proses penutupan
Balance cairandan elektrolit (terutama
untukfistula di daerah proksimal)
Obat-obatan untuk meminimalkan produksi fistula
Perawatan stoma untuk mencegah iritasi kulit
Jika > 6 minggu, perku dipikirkan tindakan bedah

TERAPI BEDAH :

Lukalamadibukalagi
Ususharusbisadimobilisasi
Fistula diangkat bersamaandengan
jaringanususyangsakit
Jika didapatkan abses atau lesi terlalu luas,
lakukan enterostomi proksimal

KOMPLIKASI :

Sepsis
Gangguancairandanelektrolit
Nekrosispadakulit
Malnutrisi

PROGNOSIS

Fistula enterokutaneous dapat menyebabkan


mortalitas sebesar 10-15%, lebih banyak disebabkan
karena sepsis.
sebanyak 50% kasus fistula dapat menutup secara
spontan. Faktor-faktor yang dapat menghambat
penutupan spontan fistula yaitu FRIEND (Foreign
body didalam traktus fistula, Radiasi enteritis,
Infeksi/inflamasi pada sumber fistula, Epithelisasi
pada traktus fistula, Neoplasma pada sumber
fistula, Distal obstruction pada usus).
Tindakan pembedahan dapat menyebabkan lebih
dari 50% morbiditas pada pasien dan 10% dapat
kambuh kembali.