Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Rafika Astarini
NIM
: 1311015083
Mata kuliah : Program Promosi Kesehatan
STANDPOINT THEORY
Teori ini menjelaskan bahwa pengalaman individu, pengetahuan, dan perilakukomunikasi
sebagian besar dibentuk oleh kelompok sosial dimana mereka aktif (Wood,J. T.,1982 dalam West, R.,
& Turner, L. H., 2000).
Peneliti-peneliti teori Standpoint banyak yang menganjurkan menggunakan teori ini untuk
menyelidiki pengalaman individu-individu yang terpinggirkan, tidak ada cara yang berbeda posisi
masyarakat memberikan titik pandang yang subjektif dari orang-orang berinteraksi dengan diri
sendiridan dunia. Teori Standpoint berpendapat bahw, meskipun terdapat beberapa persamaan dalam
sudut pandang di antara anggota kelompok social tertentu, perbedaan masih keluar. Dengan
demikian, teori ini memiliki gagasan bahwa tidak ada titik yang secara objektif dalam sudut pandang
lain; pada intinya, semua kebenaran adalah sudut pandang.
KUNCI KONSEP STANDPOINT THEORY

Sudut
pandang
(Standpoint)

Hubunga
n
dengan
Komunik
asi

Konsep
Standpo
int
Theory

Pengeta
huan
Tersituas
i

Pembagian
Pekerjaan
berdasar
Jenis
Kelamin

Konsep-konsep utama dari teori Standpoint adalah: standpoint, situated knowledges, dan sexual
division of labor (West dan Turner, 2010: 508-511):
1. Sudut Pandang (Standpoint)
Standpoint yang merupakan konsep utama dari teori ini adalah lokasi, yang dimiliki bersama
oleh kelompok yang mengalami status sebagai orang luar, di dalam struktur sosial, yang
memberikan sejenis pemahaman bagi pengalaman orang yang telah dijalani. Lebih jauh lagi
dari perspektif Nancy Harsock terungkap bahwa Standpoint itu tidak sekedar dipahami secara
sederhana sebagai posisi yang diinginkan (dalam pengertian bias), tetapi diinginkan dalam arti

diikutsertakan. Konsep keikutsertaan (engagement) tersebut diperjelas oleh para peneliti dengan
membedakan antara Standpoint dan perspektif.
Menurut OBrien Hallstein (2000) dalam (West dan Turner, 2010: 508) mengatakan bahwa
perspektif dibentuk oleh pengalaman yang dibentuk oleh lokasi seseorang dalam sebuah
hierarki sosial, sedangkan Standpoint hanya diraih setelah ada pemikiran, interaksi, dan
perjuangan. Namun menurut Sandra Harding (1991) dalam (West dan Turner, 2010: 509)
berpendapat bahwa Standpoint dimediasikan secara sosial karena Standpoint didefinisikan oleh
lokasi sosial tertentu dengan kategori kebutuhan parsial atau tidak lengkap. Lokasi tersebutlah
yang menentukan sebagian posisi dalam kehidupan sosial terlihat oleh grup parsial
manapun.
Oleh karena itu, posisi atau lokasi terendah dalam hierarki masyarakat memiliki tingkat
akurasi yang besar dengan mengacu pada kemampuan untuk melampaui batas visi parsial dan
melihat keseluruhan sebagai bagian dari lokasi sosial secara spesifik.
2. Situated Knowledges
Konsep Situated Knowledge atau pengetahuan tersituasi adalah kontribusi dari Donna
Haraway (1998). Istilah ini berarti pengetahuan setiap orang didasarkan pada konteks dan
keadaan.Dengan begitu pengetahuan bersifat ganda dan tersituasi di dalam pengalaman.
Sehingga apa yang dipelajari seseorang dari posisinya sebagai perawat orang tuanya yang sakit
berbeda dengan pengetahuan yang dikembangkan orang lain dari posisinya sebagai jurnalis.
Pengetahuan tersituasi menegaskan pada kita bahwa apa yang kita ketahui dan lakukan
tidak berasal dari dalam melainkan merupakan hasil pembelajaran dari pengalamanpengalaman kita. Jadi ketika akan merawat anggota keluarganya yang lanjut usia, jurnalis itu
akan belajar mengenai pengetahuan merawat juga. Komunitas lokal yang berbeda mungkin
akan mendefinisikan sikap secara berbeda tergantung dari pengalaman mereka.
3. Pembagian Pekerjaan berdasar Jenis Kelamin (Sexual Division of Labor)
Pada umumnya, posisi peran sosial antara laki laki dan perempuan dibedakan atas peran
sosial disektor publik dan peran sosial disektor domestik, maka jika demikian, peran sosial lakilaki biasanya lebih dominan disektor publik yang bersifat produktif dimana hasil dari aktifitas
disektor ini selalu dihargai dengan sejumlah material tertentu seperti finansial, sedangkan
perempuan pada umumnya ditempatkan pada peran sosial disektor domestik dengan fungsifungsi reproduksinya, yang dalam kenyataan tidak pernah dihargai dengan sejumlah
material tertentu, karena seolah olah peran sosial domestik ini merupakan peran yang memang
seharusnya dilakukan oleh perempuan.
Feminist Standpoint Theory Harstock yang terinspirasi oleh Marxisme berpijak pada
pemikiran bahwa perempuan dan laki-laki terlibat dalam pekerjaan yang berbeda berdasarkan
jenis kelamin mereka, yang berakibat pada pembagian pekerjaan berdasarkan jenis kelamin
(sexual division of labor). Pembagian ini tidak hanya menempatkan orang untuk mengerjakan
tugas-tugas yang berbeda berdasarkan jenis kelamin, tetapi hal ini juga mengeksploitasi
perempuan dengan menuntut kerja tanpa memberikan upah sekaligus memberikan perempuan
tanggungjawab dalam pemeliharaan yang tidak digaji dan dalam reproduksi dari tenaga kerja di
masa kini dan masa depan (Chafetz, 1997: 104).
Selain itu, ketidaksetaraan yang diderita perempuan di tempat kerja ketika mereka terlibat
dalam kerja keras untuk mendapatkan upah juga dihubungkan dengan kewajiban mereka atas

pekerjaan domestik yang tidak digaji. Sebagaimana diungkapkan oleh Nancy


Hirschmann (1997), sikap feminis membuat perempuan dapat mengidentifikasi aktivitasaktivitas yang mereka lakukan di rumah sebagai kerja dan kerja keras produktif akan nilai
dibandingkan hanya merupakan hasil akhir yang penting dan esensial dari alam atau fungsi
biologis yang dialami oleh perempuan secara pasif. Karena itu Standpoint Theory
menggarisbawahi eksploitasi dan distorsi yang muncul ketika pekerjaan dipisahkan
berdasarkan jenis kelamin.
Teori Standpoint menunjukkan kepada kita cara lain dalam memandang posisi, pengalaman,
dan komunikasi yang relatif dari berbagai kelompok sosial. Teori ini memiliki kecondongan
politis dan kritis yang jelas dan teori ini menunjukkan kekuasaan dalam kehidupan sosial. Teori
ini menghasilkan banyak kontroversi karena orang menemukan teori ini baik menyinggung
atau sesuai dengan pandangan mereka sendiri mengenai kehidupan sosial. Teori Standpoint
bersifat heuristik dan provokatif. Teori ini juga kompatibel dengan teori-teori komunikasi yang
lain, memungkinkan kita mengkombinasikan teori itu untuk mendapatkan penjelasan yang
lebih berguna bagi perilaku komunikasi manusia. Teori Standpoint sangat menjanjikan untuk
menunjukkan perbedaan dalam perilaku komunikasi dari kelompok-kelompok sosial yang
berbeda (West dan Turner, 2010: 512).
4. Hubungan Standpoint Theory dengan Komunikasi
Standpoint Theory dapat meningkatkan hubungan timbal balik dengan perilaku komunikasi
dari sudut pandang. Komunikasi dapat membentuk sudut pandang yang dipelajari dari apa yang
telah dialami di lingkungan melalui interaksi dengan orang lain. Melalui komunikasi maka dapat
membentuk dan menyampaikan standpoint tersebut. Lebih jauh lagi, komunikasi dapat menjadi
sarana bagi perubahan ke arah yang lebih baik lagi.
Wether womens own voice are granted legitimacy seems especially pertinent to
communicationss scholars assessment of the value of alternative theoretical positions.
(Wood, 1992 : 13)
Pernyataan yang diungkapkan oleh Wood jelas menggambarkan bahwa komunikasi menjadi
penting untuk menyuarakan sudut pandang kaum wanita. Komunikasi menjadi akar dari semua
konsep yang ada dalam Standpoint Theory.
Dapat disimpulkan bahwa Standpoint Theory dapat memberikan gambaran untuk melihat
posisi yang relative, pengalaman, dan komunikasi pada berbagai kelompok social. Standpoint
Theory memeiliki politik yang jelas , kritik yang jelas, dan meletakkan kekuasaan pada
kehidupan social. Dapat dipastikan bahwa Standpoint Theory adalah heuristic dan provokatif.
Sumber :
Rahardjo, Turnomo & Adi Nugroho. Memahami Eksistensi Buruh ( Perspektif Komunikasi Antarbudaya.
Jurnal Ilmu Sosial (JIS). 2010.
West, Richard & Lynn H. Turner. Introducing Communication Theory, Analysis and Application
, New York, TheMcGraw-Hill Companies, Inc., 2007.