Anda di halaman 1dari 21

REFRAT

Efusi Pleura

Disusun Oleh :
Nurlaily Mardiana

08700225

Amalia H.R

08700290

STATUS PASIEN
ILMU PENYAKIT DALAM
IDENTITAS PASIEN
Nama Pasien

: Tn.MH

Umur

:50 tahun

Alamat

:Jedih

Pekerjaan

: Petani

Jenis Kelamin

: Laki laki

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

No.Rekam Medis

: 113459

Ruang Rawat

: Irna I

Tanggal Masuk RS

: 2 Januari 2016

A. ANAMNESA
1. Keluhan utama :
Sesak sejak 11 hari yll
2. Keluhan tambahan :
Mual +, muntah +, diare +
3. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien pria 50 tahun datang ke IGD RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu
dengan keluhan sesak yang dirasa sejak 11 hari yang lalu SMRS. Sesak disertai
dengan mual dan muntah setiap diisi oleh makanan, diare + sejak 4 hari yag lalu,
nyeri dada +, nyeri ulu hati +, panas badan -, Sebelumnya pasien pernah MRS di
Karang Tembok sejak 2 hari yang lalu dengan keluhan yang sama.Dan kambuh
setelah 2 minggu yang lalu serta sesak lebih memberat.
4. Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat penyakit hati disangkal.
Riwayat penyakit hipertensi disangkal.
Riwayat diabetes mellitus disangkal.
Riwayat penyakit ginjal disangkal.
Riwayat penyakit asma disangkal.
Riwayat penyakit maag disangkal.
2

Riwayat penyakit jantung diakui.


Riwayat penyakit paru disangkal.
Riwayat alergi obat disangkal.

5. Riwayat penyakit keluarga


Riwayat keluarga penyakit hipertensi disangkal.
Riwayat keluarga penyakit diabetes mellitus disangkal.
Riwayat keluarga penyakit asma disangkal.
Riwayat keluarga penyakit maag disangkal.
Riwayat keluarga penyakit jantung disangkal.
Riwayat keluarga penyakit paru disangkal.
Riwayat keluarga penyakit ginjal disangkal.
Riwayat keluarga alergi obat disangkal.
B. STATUS GENERALIS
1. Kesadaran
2. Keadaan Umum
3. Tekanan darah
4. Nadi
5. Suhu
6. Pernapasan

: Compos Mentis
: Sakit Sedang
: 140/90 mmHg
: 88 x/menit
: 36,7 C
: 16 x/menit

C. PEMERIKSAAN FISIK
KULIT
1. Warna
2. Jaringan parut
3. Pertumbuhan rambut
4. Suhu raba
5. Lapisan lemak
6. Efloresensi
7. Pigmentasi
8. Pelebaran PD
9. Keringat
10. Kelembapan
11. Turgor
12. Ikterus
13. Edema

KEPALA
1. Bentuk
2. Posisi
3. Penonjolan

: Kecoklatan
: Tidak ada
: Normal
: Normal
: Kurang
::: Tidak ada
: Umum
: Biasa
: Cukup
: Tidak ada
: Tidak ada
: Normocephal
: Simetris
: Tidak ada

MATA
3

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Exophthalmus
Enoptashalmus
Edema kelopak
Konjunggtiva anemis
Sklera ikterik
Refleks

TELINGA
1. Pendengaran
2. Membran timpani
3. Darah
4. Cairan

: Baik
: Tidak dilakukan
: Tidak ada
: Tidak ada

MULUT
1. Bau pernapasan
2. Trismus
3. Faring
4. Lidah
5. Uvula
6. Tonsil

: Tercium bau pernapasan


: Tidak ada
: Dalam batas normal
: Tidak deviasi
: Tidak deviasi
: T1-T1

LEHER
1. Trakea
2. Kelenjar tiroid
3. Kelenjar limfe

: Tidak deviasi
: Tidak membesar
: Tidak membesar

PARU-PARU
1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Perkusi
4. Auskultasi

JANTUNG
1. Inspeksi
2. Palpasi
3. Perkusi
4. Auskultasi

: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: +/+
: -/: L (+/+) TL (+/+)

ABDOMEN
1. Inspeksi
2. Auskultasi

: Bentuk dan ukuran normal, pergerakan nafas


dalam keadaan statis dan dinamis simetris kanan
dan kiri
: Stem fremitus kanan=kiri
: Sonor seluruh lapangan paru
: Suara vesikuler (+/+); Rhonki (-/-); Wheezing (-/-)
: Iktus cordis tidak tampak
: Iktus cordis teraba di spatium intercosta V
: Batas kanan ICS 5 Linea sternalis dextra
Batas kiri ICS 5 Linea mid clavicula sinistra
Batas pinggangICS 3 Linea parasternalis
: Bunyi jantung I-II Normal, reguler ; gallop (-);
Murmur (-)
: Datar
: Bising usus (+) normal
4

3. Perkusi
4. Palpasi

: Timpani di seluruh kuadran abdomen


: Supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba

EKSTREMITAS
Akral Hangat
Edema (+), Sianosis (-)

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
(07 Januari 2016)
Pemeriksaan Darah Lengkap
- WBC
8.4
- HGB
11.9
- HCT
40.4
- PLT
146
Pemeriksaan ADT
- Lym
16.58
- Mon
9.13
- Neu
69.41
- Eos
3.88
- Bas
1.00
Pemeriksaan Fungsi Ginjal
- Ureum 30.4
- Kreatinin 2.46
Pemeriksaan Fungsi Hati
- SGOT
39
- SGPT
37
Pemeriksaan Gula Darah
- GDP
123

Pemeriksaan Rongent
(21 Desember 2015)

Pemeriksaan Rongent
(02 Januari 2016)

G. RESUME
Pasien pria 50 tahun datang ke IGD RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu dengan
keluhan sesak yang dirasa sejak 11 hari yang lalu SMRS. Sesak disertai dengan
mual dan muntah setiap diisi oleh makanan, diare + sejak 4 hari yag lalu, nyeri
dada +, nyeri ulu hati +, panas badan -, Sebelumnya pasien pernah MRS di
Karang Tembok sejak 2 hari yang lalu dengan keluhan yang sama.Dan kambuh
setelah 2 minggu yang lalu serta sesak lebih memberat.
H. DIAGNOSIS KERJA
Efusi Pleura
ASHD
Kolesistitis Akut
I. DIAGNOSIS BANDING

J. PEMERIKSAAN ANJURAN
Pemeriksaan darah lengkap rutin
Pemeriksaan fungsi hati rutin
USG
K. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad functionam
Ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad malam
: dubia ad malam

EFUSI PLEURA
A. Definisi1,2
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum
pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan
eksudat. Pada keadaan normal rongga pleura hanya mengandung cairan sebanyak 10-20 ml,
cairan pleura komposisinya sama dengan cairan plasma, kecuali pada cairan pleura mempunyai
kadar protein lebih rendah yaitu < 1,5 gr/dl.
B. Etiologi 1,2
A. Berdasarkan Jenis Cairan
Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang mempengaruhi pembentukan
dan penyerapan cairan pleura mengalami perubahan.
7

Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang mempengaruhi pembentukan dan
penyerapan cairan pleura mengalami perubahan.
Efusi pleura tipe transudatif dibedakan dengan eksudatif melalui pengukuran kadar Laktat
Dehidrogenase (LDH) dan protein di dalam cairan, pleura. Efusi pleura eksudatif memenuhi
paling tidak salah satu dari tiga kriteria berikut ini, sementara efusi pleura transudatif tidak
memenuhi satu pun dari tiga criteria ini:

Protein cairan pleura / protein serum > 0,5


LDH cairan pleura / cairan serum > 0,6
LDH cairan pleura melebihi dua per tiga dari batas atas nilai LDH yang normal didalam
serum.

Efusi pleura berupa :3


A. Eksudat, disebabkan oleh :
1. Pleuritis karena virus dan mikoplasma: virus coxsackie, Rickettsia, Chlamydia. Cairan
efusi biasanya eksudat dan berisi leukosit antara 100-6000/cc. Gejala penyakit dapat
dengan keluhan sakit kepala, demam, malaise, mialgia, sakit dada, sakit perut, gejala
perikarditis. Diagnosa dapat dilakukan dengan cara mendeteksi antibodi terhadap virus
dalam cairan efusi.
2. Pleuritis karena bakteri piogenik: permukaan pleura dapat ditempeli oleh bakteri yang
berasal dari jaringan parenkim paru dan menjalar secara hematogen. Bakteri penyebab
8

dapat

merupakan

bakteri

aerob

maupun

anaerob

(Streptococcus

paeumonie,

Staphylococcus aureus, Pseudomonas, Hemophillus, E. Coli, Pseudomonas, Bakteriodes,


Fusobakterium, dan lain-lain). Penatalaksanaan dilakukan dengan pemberian antibotika
ampicillin dan metronidazol serta mengalirkan cairan infus yang terinfeksi keluar dari
rongga pleura.
3. Pleuritis karena fungi penyebabnya: Aktinomikosis, Aspergillus, Kriptococcus, dll. Efusi
timbul karena reaksi hipersensitivitas lambat terhadap organisme fungi.
4. Pleuritis tuberkulosa merupakan komplikasi yang paling banyak terjadi melalui focus
subpleural yang robek atau melalui aliran getah bening, dapat juga secara hemaogen dan
menimbulkan efusi pleura bilateral. Timbulnya cairan efusi disebabkan oleh rupturnya
focus subpleural dari jaringan nekrosis perkijuan, sehingga tuberkuloprotein yang ada
didalamnya masuk ke rongga pleura, menimbukan reaksi hipersensitivitas tipe lambat.
Efusi yang disebabkan oleh TBC biasanya unilateral pada hemithoraks kiri dan jarang
yang masif. Pada pasien pleuritis tuberculosis ditemukan gejala febris, penurunan berat
badan, dyspneu, dan nyeri dada pleuritik.
5. Efusi pleura karena neoplasma misalnya pada tumor primer pada paru-paru, mammae,
kelenjar linife, gaster, ovarium. Efusi pleura terjadi bilateral dengan ukuran jantung yang
tidak membesar. Patofisiologi terjadinya efusi ini diduga karena :
Infasi tumor ke pleura, yang merangsang reaksi inflamasi dan terjadi kebocoran

kapiler.
Invasi tumor ke kelenjar limfe paru-paru dan jaringan limfe pleura,
bronkhopulmonary, hillus atau mediastinum, menyebabkan gangguan aliran balik

sirkulasi.
Obstruksi bronkus, menyebabkan peningkatan tekanan-tekanan negatif intra
pleural, sehingga menyebabkan transudasi. Cairan pleura yang ditemukan berupa
eksudat dan kadar glukosa dalam cairan pleura tersebut mungkin menurun jika
beban tumor dalam cairan pleura cukup tinggi. Diagnosis dibuat melalui
pemeriksaan sitologik cairan pleura dan tindakan blopsi pleura yang

menggunakan jarum (needle biopsy).


6. Efusi parapneumoni adalah efusi pleura yang menyertai pneumonia bakteri, abses paru
atau bronkiektasis. Khas dari penyakit ini adalah dijumpai predominan sel-sel PMN dan
pada beberapa penderita cairannya berwarna purulen (empiema). Meskipun pada
beberapa kasus efusi parapneumonik ini dapat diresorpsis oleh antibiotik, namun
9

drainage kadang diperlukan pada empiema dan efusi pleura yang terlokalisir. Menurut
Light, terdapat 4 indikasi untuk dilakukannya tube thoracostomy pada pasien dengan
efusi parapneumonik:
Adanya pus yang terlihat secara makroskopik di dalam kavum pleura
Mikroorganisme terlihat dengan pewarnaan gram pada cairan pleura
Kadar glukosa cairan pleura kurang dari 50 mg/dl
Nilai pH cairan pleura dibawah 7,00 dan 0,15 unit lebih rendah daripada nilai pH
bakteri.
Penanganan keadaan ini tidak boleh terlambat karena efusi parapneumonik yang mengalir
bebas dapat berkumpul hanya dalam waktu beberapa jam saja.
7. Efusi pleura karena penyakit kolagen: SLE, Pleuritis Rheumatoid, Skleroderma.
8. Penyakit AIDS, pada sarkoma kapoksi yang diikuti oleh efusi parapneumonik.
B. Transudat, disebabkan oleh :3,5
1. Gangguan kardiovaskular
Penyebab terbanyak adalah decompensatio cordis. Sedangkan penyebab lainnya
adalah perikarditis konstriktiva, dan sindroma vena kava superior. Patogenesisnya adalah
akibat terjadinya peningkatan tekanan vena sistemik dan tekanan kapiler dinding dada
sehingga terjadi peningkatan filtrasi pada pleura parietalis. Di samping itu peningkatan
tekanan kapiler pulmonal akan menurunkan kapasitas reabsorpsi pembuluh darah
subpleura dan aliran getah bening juga akan menurun (terhalang) sehingga filtrasi cairan
ke rongg pleura dan paru-paru meningkat.Tekanan hidrostatik yang meningkat pada
seluruh rongga dada dapat juga menyebabkan efusi pleura yang bilateral. Tapi yang agak
sulit menerangkan adalah kenapa efusi pleuranya lebih sering terjadi pada sisi kanan.
Terapi ditujukan pada payah jantungnya. Bila kelainan jantungnya teratasi dengan
istirahat, digitalis, diuretik dll, efusi pleura juga segera menghilang. Kadang-kadang
torakosentesis diperlukan juga bila penderita amat sesak.
2. Hipoalbuminemia
Efusi terjadi karena rendahnya tekanan osmotik protein cairan pleura dibandingkan
dengan tekanan osmotik darah. Efusi yang terjadi kebanyakan bilateral dan cairan bersifat
transudat. Pengobatan adalah dengan memberikan diuretik dan restriksi pemberian
garam. Tapi pengobatan yang terbaik adalah dengan memberikan infus albumin.
10

3. Hidrothoraks hepatik
Mekanisme yang utama adalah gerakan langsung cairan pleura melalui lubang kecil
yang ada pada diafragma ke dalam rongga pleura. Efusi biasanya di sisi kanan dan
biasanya cukup besar untuk menimbulkan dyspneu berat. Apabila penatalaksanaan medis
tidak dapat mengontrol asites dan efusi, tidak ada alternatif yang baik. Pertimbangan
tindakan yang dapat dilakukan adalah pemasangan pintas peritoneum-venosa (peritoneal
venous shunt, torakotomi) dengan perbaikan terhadap kebocoran melalui bedah, atau
torakotomi pipa dengan suntikan agen yang menyebakan skelorasis.
4. Meigs Syndrom
Sindrom ini ditandai oleh ascites dan efusi pleura pada penderita-penderita dengan
tumor ovarium jinak dan solid. Tumor lain yang dapat menimbulkan sindrom serupa :
tumor ovarium kistik, fibromyomatoma dari uterus, tumor ovarium ganas yang berderajat
rendah tanpa adanya metastasis. Asites timbul karena sekresi cairan yang banyak oleh
tumornya dimana efusi pleuranya terjadi karena cairan asites yang masuk ke pleura
melalui porus di diafragma. Klinisnya merupakan penyakit kronis.
5. Dialisis Peritoneal
Efusi dapat terjadi selama dan sesudah dialisis peritoneal. Efusi terjadi unilateral
ataupun bilateral. Perpindahan cairan dialisat dari rongga peritoneal ke rongga pleura
terjadi melalui celah diafragma. Hal ini terbukti dengan samanya komposisi antara cairan
pleura dengan cairan dialisat.
C. Darah
Adanya darah dalam cairan rongga pleura disebut hemothoraks. Kadar Hb pada
hemothoraks selalu lebih besar 25% kadar Hb dalam darah. Darah hemothorak yang baru
diaspirasi tidak membeku beberapa menit. Hal ini mungkin karena faktor koagulasi sudah
terpakai sedangkan fibrinnya diambil oleh permukaan pleura. Bila darah aspirasi segera
membeku, maka biasanya darah tersebut berasal dari trauma dinding dada.
Patofisiologi
Dalam keadaan normal hanya terdapat 10-20 ml cairan dalam rongga pleura berfungsi untuk
melicinkan kedua pleura viseralis dan pleura parietalis yang saling bergerak karena pernapasan.
Dalam keadaan normal juga selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga pleura melalui kapiler
11

pleura parietalis dan diabsorpsi oleh kapiler dan saluran limfe pleura viseralis dengan kecepatan
yang seimbang dengan kecepatan pembentukannya.3
Gangguan yang menyangkut proses penyerapan dan bertambahnya kecepatan proses
pembentukan cairan pleura akan menimbulkan penimbunan cairan secara patologik di dalam
rongga pleura. Mekanisme yang berhubungan dengan terjadinya efusi pleura yaitu;
1). Kenaikan tekanan hidrostatik dan penurunan tekan onkotik pada sirkulasi kapiler
2). Penurunan tekanan kavum pleura
3). Kenaikan permeabilitas kapiler dan penurunan aliran limfe dari rongga pleura.

Gambar 1. Patofisiologi efusi pleura5


Proses penumpukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila
proses radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah, sehingga empiema/piotoraks. Bila
proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemothoraks. Proses
terjadinya pneumothoraks karena pecahnya alveoli dekat parietalis sehingga udara akan masuk
12

ke dalam rongga pleura. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau alveoli pada daerah
tersebut yang kurang elastik lagi seperti pada pasien emfisema paru3.
Efusi cairan dapat berbentuk transudat, terjadinya karena penyakit lain bukan primer paru
seperti gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindrom nefrotik, dialisis peritoneum.
Hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan. Perikarditis konstriktiva, keganasan, atelektasis paru
dan pneumothoraks.
Efusi eksudat terjadi bila ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas kapiler
pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal
dan terjadi pengeluaran cairan ke dalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang
paling sering adalah karena mikobakterium tuberculosis dan dikenal sebagai pleuritis eksudativa
tuberkulosa. Penting untuk menggolongkan efusi pleura sebagai transudatif atau eksudatif.3
Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis baik dan pemeriksaan fisik yang teliti,
diagnosis pasti ditegakkan melalui pungsi percobaan, biopsi dan analisa cairan pleura.
Manifestasi Klinis
a. Gejala Utama.
Gejala-gejala timbul jika cairan bersifat inflamatoris atau jika mekanika paru
terganggu.Gejala yang paling sering timbul adalah sesak, berupa rasa penuh dalam dada
atau dispneu. Nyeri bisa timbul akibat efusi yang banyak, berupa nyeri dada pleuritik atau
nyeri tumpul. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan
nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak
keringat, batuk, banyak riak.5
Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan
cairan pleural yang signifikan
b. Pemeriksaan Fisik.
Inspeksi. Pengembangan paru menurun, tampak sakit, tampak lebih cembung
Palpasi. Penurunan fremitus vocal atau taktil
Perkusi. Pekak pada perkusi,
Auskultasi. Penurunan bunyi napas

13

Jika terjadi inflamasi, maka dapat terjadi friction rub. Apabila terjadi atelektasis
kompresif (kolaps paru parsial) dapat menyebabkan bunyi napas bronkus.5
Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan
akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan,
fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan
duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu). Didapati
segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis
Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong
mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan
ronki. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.5
c. Pemeriksaan Penunjang.
Foto thoraks
. Sinar tembus dada
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan membentuk bayangan
seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial.
Cairan dalam pleura kadang-kadang menumpuk menggelilingi lobus paru (biasanya lobus
bawah) dan terlihat dalam foto sebagai bayangan konsolidasi parenkim lobus. Dapat juga
menggumpul di daerah para-mediastinal dan terlihat dalam foto sebagai figura
interlobaris. Bisa juga terdapat secara parallel dengan sisi jantung, sehingga terlihat
sebagai kardiomegali.
Hal lain yang dapat juga terlihat dalam foto dada pada efusi pleura adalah
terdorongnya mediastenum pada sisi yang berlawanan dengan cairan. Tapi bila terdapat
atelektasis pada sisi yang berlawanan dengan cairan, mediastenum akan tetap pada
tempatnya.
Di samping itu gambaran foto dada dapat juga menerangkan asal mula terjadinya
efusi pleura yaitu bila terdapat jantung yang membesar, adanya masa tumor, adanya lesi
tulang yang destruktif pada keganasan, adanya densitas parenkimynag lebih kerang dpada
pneumonia atau abses paru.

14

Pemeriksaan dengan ultrasonografi pada pleura dapat menentukan adanya cairan


dalam rongga pleura. Pemeriksaan ini sangat membantu sebagai penentuan waktu
melakukan aspirasi cairan tersebut, terutama pada efusi yang terlokalisasi. Demikian juga
dengan pemeriksaan CT Scan dada. Adanya perbedaan densitas cairan dengan jaringan
sekitarnya, sangat memudahkan dalam menentukan adanya efusi pleura. Hanya saja
pemeriksaan ini tidak banyak dilakukan karena biayanya masih mahal.

Gambar 1.2 Gambaran Toraks dengan Efusi Pleura


Pada foto dada posterior anterior (PA) permukaan cairan yang terdapat dalam rongga
pleura akan membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih
tinggi dari pada bagian medial, tampak sudut kostrofrenikus menumpul.3 Pada
pemeriksaan foto dada posisi lateral dekubitus, cairan bebas akan mengikuti posisi
gravitasi.3
Torakosentesis.
Aspirasi cairan pleura (torakosentesis) sebagai sarana diagnostik maupun terapeutik.
Pelaksanaannya sebaiknya dengan posisi duduk. Aspirasi dilakukan pada bagian bawah
paru sela iga garis aksilaris posterior dengan jarum abbocath nomor 14 atau 16.

15

Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc pada setiap aspirasi.
Untuk diagnosis cairan pleura dilakukan pemeriksaan 3:
a. Warna cairan.
Cairan pleura bewarna agak kekuning-kuningan (serous-santrokom).
b. Biokimia.
Terbagi atas efusi pleura transudat dan eksudat. Perbedaannya dapat dilihat pada
tabel dibawah:

a. Sitologi.
Digunakan untuk diagnostik penyakit pleura, terutama bila ditemukan sel-sel
patologis atau dominasi sel-sel tertentu.
Sel neutrofil: pada infeksi akut
Sel limfosit: pada infeksi kronik (pleuritis tuberkulosa atau limfoma
maligna).
Sel mesotel: bila meningkat pada infark paru
Sel mesotel maligna: pada mesotelioma
Sel giant: pada arthritis rheumatoid
Sel L.E: pada lupus eritematous sistemik
Sel maligna: pada paru/metastase.
b. Bakteriologi.
Cairan pleura umumnya steril, bila cairan purulen dapat mengandung
mikroorganisme

berupa

kuman

aerob

atau

anaerob.

Paling

sering

pneumokokus, E.coli, klebsiela, pseudomonas, enterobacter.3


Biopsi Pleura.
Dapat menunjukkan 50%-75% diagnosis kasus pleuritis tuberkulosis dan tumor pleura.
Komplikasi biopsi adalah pneumotoraks, hemotoraks, penyebaran infeksi atau tumor
pada dinding dada.3
D. Penatalaksanaan
Terapi penyakit dasarnya (Antibiotika).
Terapi Paliatif (Efusi pleura haemorhagic).
16

Torakosentesis.
Aspirasi cairan pleura selain bermanfaat untuk memastikan diagnosis, aspirasi
juga dapat dikerjakan dengan tujuan terapetik. Torakosentesis dapat dilakukan sebagai
berikut:6
1

penderita dalam posisi duduk dengan kedua lengan merangkul atau diletakkan
diatas bantal; jika tidak mungkin duduk, aspirasi dapat dilakukan pada

penderita dalam posisi tidur terlentang.


Lokasi penusukan jarum dapat didasarkan pada hasil foto toraks, atau di daerah
sedikit medial dari ujung scapula, atau pada linea aksilaris media di bawah

batas suara sonor dan redup.


Setelah dilakukan anastesi secara memadai, dilakukan penusukan dengan
jarum berukuran besar, misalnya nomor 18. Kegagalan aspirasi biasanya
disebabkan karena penusukan jarum terlampaui rendah sehingga mengenai
diahfrahma atau terlalu dalam sehingga mengenai jaringan paru, atau jarum
tidak mencapai rongga pleura oleh karena jaringan subkutis atau pleura
parietalis tebal.

Gambar 2. Metode torakosentesis


Pengeluaran cairan pleura sebaiknya tidak melebihi 1000-1500 cc pada setiap
aspirasi. Untuk mencegah terjadinya edema paru akibat pengembangan paru
secara mendadak. Selain itu pengambilan cairan dalam jumlah besar secara
mendadak menimbulkan reflex vagal, berupa batuk, bradikardi, aritmi yang

berat, dan hipotensi.


Pemasangan WSD.
17

Jika jumlah cairan cukup banyak, sebaiknya dipasang selang toraks dihubungkan
dengan WSD, sehingga cairan dapat dikeluarkan secara lambat dan aman.
Pemasangan WSD dilakukan sebagai berikut:6
1 Tempat untuk memasukkan selang toraks biasanya di sela iga 7, 8, 9 linea
2

aksilaris media atau ruang sela iga 2 atau 3 linea medioklavikuralis.


Setelah dibersihkan dan dianastesi, dilakukan sayatan transversal selebar

3
4

kurang lebih 2 cm sampai subkutis.


Dibuat satu jahitan matras untuk mengikat selang.
Jaringan subkutis dibebaskan secara tumpul

mendapatkan pleura parietalis.


Selang dan trokar dimasukkan ke dalam rongga pleura dan kemudian trokar

ditarik. Pancaran cairan diperlukan untuk memastikan posisi selang toraks.


Setelah posisi benar, selang dijepit dan luka kulit dijahit serta dibebat dengan

kasa dan plester.


Selang dihubungkan dengan botol penampung cairan pleura. Ujung selang

dengan

klem

sampai

dihubungkan dengan botol penampung cairan pleura. Ujung selang diletakkan


dibawah permukaan air sedalam sekitar 2 cm, agar udara dari luar tidak dapat
masuk ke dalam rongga pleura.

Gambar 3. Pemasangan jarum WSD


WSD perlu diawasi tiap hari dan jika sudah tidak terlihat undulasi pada
selang, kemungkinan cairan sudah habis dan jaringan paru mengembang.

Untuk memastikan dilakukan foto toraks.


Selang torak dapat dicabut jika produksi cairan/hari <100ml dan jaringan paru

telah mengembang. Selang dicabut pada saat ekspirasi maksimum.


Pleurodesis.
18

Bertujuan melekatkan pleura viseralis dengan pleura parietalis, merupakan


penanganan terpilih

pada efusi pleura keganasan. Bahan yang digunakan adalah

sitostatika seperti tiotepa, bleomisin, nitrogen mustard, 5-fluorourasil, adramisin, dan


doksorubisin. Setelah cairan efusi dapat dikeluarkan sbanyak-banyaknya, obat
sitostatika (misal; tiotepa 45 mg) diberikan selang waktu 710 hari; pemberian obat
tidak perlu pemasangan WSD. Setelah 13 hari, jika berhasil, akan terjadi pleuritis
obliteratif yang menghilangkan rongga pleura, sehingga mencegah penimbunan
kembali cairan dalam rongga tersebut.6
Obat lain adalah tetrasiklin.
Pada pemberian obat ini WSD harus dipasang dan paru dalam keadaan
mengembang. Tetrasiklin 500 mg dilarutkan dalam 3050 ml larutan garram faal,
kemudian dimasukkan ke dalam rongga pleura melalui selang toraks, ditambah
dengan larutan garam faal 1030 ml larutan garam faal untuk membilas selang serta 10
ml lidokain 2% untuk mengurangi rasa nyeri yang ditimbulkan obat ini. Analgetik
narkotik diberikan 11,5 jam sebelum pemberian tetrasiklin juga berguna mengurangi
rasa nyeri tersebut. Selang toraks diklem selama 6 jam dan posisi penderita diubahubah agar penyebaran tetrasiklin merata di seluruh bagian rongga pleura. Apabila
dalam waktu 24 jam -48 jam cairan tidak keluar, selang toreaks dapat dicabut.5
E. Diagnosa Banding
o Konsolidasi paru akibat pneumoni
o Keganasan paru dengan disertai kolaps paru
o Pneumotoraks
o Fibrosis paru
F. Prognosa
Tergantung penyakit yang mendasari, pada kasus tertentu, dapat sembuh sendiri
setelah diberi pengobatan adekuat terhadap penyakit dasarnya.

19

DAFTAR PUSTAKA
1

Jeremy, et al. Efusi Pleura. At a Glance Medicine Edisi kedua. EMS. Jakarta : 2008.

Jeremy, et al. Penyakit Pleura. At a Glance Sistem respirasi Edisi kedua. EMS. Jakarta
: 2008.

Halim, Hadi. Penyakit Penyakit Pleura. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.
2007. Balai Penerbit FK UI Jakarta.

Prasenohadi. The Pleura. Universitas Indonesia. 2009

Maryani.

2008.

Efusi

Pleura.

Diakses

dari

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/pleura.pdf pada tanggal 03 Januari 2013


20

Ewingsa.

2009.

Efusi

Pleura.

Diakses

dari

http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/11/efusipleura.pdf pada tanggal 03 Januari


2013

21