Anda di halaman 1dari 43

REAKSI TERHADAP STRES

BERAT
DAN
GANGGUAN PENYESUAIAN

Karakteristik dari kategori ini adalah tidak hanya di atas identifikasi

dasar simtomatologi dan perjalanan penyakit, akan tetapi juga atas


dasar salah satu dari dua faktor pencetus :
a. Suatu stres kehidupan yang luar biasa, yang menyebabkan
reaksi stres akut, atau
b. Suatu perubahan penting dalam kehidupan, yang
menimbulkan situasi yang tidak nyaman yang berkelanjutan
dengan akibat terjadi suatu gangguan penyesuaian

.Gangguan dalam kategori ini selalu merupakan konsekuensi

langsung dari stres akut yang berat atau trauma yang berkelanjutan
.Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respon maladaptif
terhadap stres berat atau stres berkelanjutan, di mana mekanisme
penyesuaian (coping mechanism) tidak berhasil mengatasi sehingga
menimbulkan masalah dalam fungsi sosialnya

EPIDEMIOLOGI
Insidensi seumur hidup dari PTSD diperkirakan 9-15 %
Prevalensi seumur hidup dari PTSD adalah 8 % dari populasi umum 10 %

wanita dan 4 % pria, akan tetapi sebanyak 5-15 % (tambahan) dapat mengalami
gangguan dalam bentuk subklinis .

KOMORBIDITAS
Gangguan depresif
Gangguan penyalahgunaan zat
Gangguan cemas
Gangguan bipolar

ETIOLOGI
Stressor
Faktor risiko
Faktor psikodinamika
Faktor perilaku kognitif
Faktor biologis

FAKTOR KERENTANAN YANG MEMPENGARUHI PTSD


Adanya trauma masa kecil
Ciri gangguan kepribadian borderline, paranoid,

dependen, atau antisosial

Sistem dukungan keluarga atau pertemanan yang

kurang baik

Perempuan
Secara genetik rentan dengan penyakit psikiatrik
Perubahan besar dalam kehidupan yang baru saja

terjadi

Persepsi kontrol lokus eksternal (penyebab dali alam)

dibadningkan internal (manusia)

PSIKODINAMIKA
Pemahaman subjektif dari stresor yang dialami dapat menentukan traumatogenicity
Kejadian traumatik dapat berkaitan dengan trauma masa kanak-kanak
Ketidakmampuan dalam mengontrol dampak dari trauma
Somatisasi dan alexithymia dapat terjadi setelah trauma
Mekanisme pertahanan yang sering digunakan adalah denial, minimisasi, splitting,

projective disavowal (penyangkalan proyeksi), disosiasi, rasa bersalah (sebagai


pertahanan dalam melawan ketidakberdayaan)
Cara dalam keterkaitan objek termasuk proyeksi dan introyeksi dari peran-peran :

penyelamat yang maha kuasa (omnipotent rescuer), penyalahguna, dan korban

Menurut Freud spilitting kesadaran yang terjadi pada pasien


yang memiliki riwayat trauma seksual pada masa kanak-kanak.
Konflik yang telah ada sebelumnya dapat muncul secara
simbolik oleh kejadian traumatik yang baru. Ego relives dan
berusaha untuk mengatasi dan mengurangi kecemasan
Individu yang menderita alexythymia, tidak mampu
mengidentifikasi atau mengungkapkan perasaannya, tidak
dapat menenangkan dirinya sendiri saat mengalami stres

FAKTOR PERILAKU KOGNITIF


1. Trauma (stimulus yang tidak direncanakan) yang menimbulkan respon takut ,

melalui pengondisian klasik, dengan stimulus yang dikondisikan ( ingatan


mental dan fisik akan trauma, seperti penglihatan, penciuman, atau
pendengaran).
2. Melalui instrumental learning, stimuli yang dikondisikan memunculkan respon

takut yang bukan berasal dari stimulus yang tidak terkondisikan, dan individu
mengembangkan pola penghindaran kedua stimulus, stimuus yang
terkondisikan dan tidak terkondisikan.
3. Beberapa orang mendapatkan keuntungan sekunder dari lingkungan

eksternal, biasanya berupa kompensasi moneter, peningkatan perhatian atau


simpati, dan terpenuhinya keinginan untuk begantung pada orang lain.
keuntungan ini dapat memperberat gangguan dan persistensi gangguan

FAKTOR BIOLOGIS
Sistem Noradrenergik (Norepinephrine, Dopamin)
Peningkatan epinephrine, katekolamin
Penurunan reseptor platelet 2 dan limfosit -adrenergik kemungkinan sebagai peningkatan
konsentrasi katekolamin yang meningkat secara kronis.
Sistem Opioid endogen
Konsentrasi plasma -endorphin rendah
Pemberian naloxon regulasi berlebihan sistem opioid
Pemberian nalmefene, antagonis reseptor opioid, meringankan gejala PTSD
Corticropin-Releasing Factor dan HPA aksis
Penurunan konsentrasi kortisol (urine dan plasma)
Peningkatan reseptor glukokortikoid di limfosit, dan bila challenge dengan

Corticotropin Releasing Factor (CRF) menumpulkan respon kortikotropin (ACTH)

3 DOMAIN GAMBARAN
KLINIS
1. Gejala yang muncul tiba-tiba setelah trauma
.Flash back
.Ingatan-ingatan yang tiadk menyenangkan
.Mimpi
.Reaksi stres fisiologis atau psikologis terhadap

paparan stimuli yang berkaitan dengan trauma


.Sekurang-kurangnya 1 gejala

GEJALA KLINIS
2. Menghindari stmulus yang berkaitan dengan trauma
Usaha untuk menghindari pikiran atau aktivitas yang terkait trauma
Anhedonia
Afek tumpul
Berkurangnya kapasitas untuk mengingat kejadian yang terkait trauma
Merasa detachment atau derealiasi
Perasaan bahwa masa depan singkat

GEJALA KLINIS
3. Mengalami gejala peningkatan otonom seperti sering merasa
takut
Insomnia
Iritabilitas
Hipervigilans
Sering merasa terkejut

GANGGUAN STRES PASCA TRAUMA (PPDGJ III)


Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul dalam kurun

waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik berat (masa laten yang berkisar
antara beberapa minggu sampai beberapa bulan, jarang sampai
melampaui 6 bulan)
Kemungkinan diagnosis masih dapat ditegakkan apabila tertundanya
waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan melebihi waktu 6 bulan,
asal saja manifestasi klinisnya adalah khas dan tidak didapat alternatif
kategori gangguan lainnya.

Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didapatkan bayang-bayang

atau mimpi mimpi dari kejadian traumatik tersebut secara berulang-ulang


kembali (flashback)

Gangguan otonomik, gangguan afek, dan kelainan tingkah laku semuanya

dapat mewarnai diagnosis tetapi tidak khas

Suatu sequele menahun yang terjadi lambat setelah stres yang

luar biasa, misalnya saja beberapa puluh tahun setelah trauma,


diklasifikasikan dalam kategori F62.0 (perubahan kepribadian yang
berlangsung lama setelah mengalami katastrofa)

GANGGUAN STRES PASCA


TRAUMA (DSM V)

A. Paparan terhadap kematian atau ancaman kematian, kecelakaan serius,

kekerasan seksual dalam satu atau lebih cara :


1.

Secara langsung mengalami kejadian traumatik

2.

Menyaksikan sendiri kejadian yang terjadi pada orang lain

3.

Pembelajaran bahwa kejadian traumatik terjadi pada anggota keluarga


dekat atau teman karib. Pada kasus kematian atau ancaman kematian
pada anggota keluarga atau teman, kejadian harus berupa kekerasan atau
kecelakaan

4.

Mengalami paparan berulang atau ekstrim terhadap detail kejadian


traumatik yang tidak disukai. (misal, orang yang mengambil sisa jenazah,
petugas polisi yang secara berulang terpapar dengan kasus kekerasan
anak)

Catatan : Kriteria A4 tidak termasuk paparan dari media elektronik, televisi,


film, atau gambar, kecuali juka paparan tersebut terkait.

CONT
B. Terdapat satu (atau lebih) gejala yang muncul secara tiba-tiba
yang terkait dengan kejadian traumatik, dimulai setelah kejadian
traumatik :
1. Memori tidak menyenangkan akan kejadian traumatik yang
berulang, asadar, dan muncul secara tiba-tiba
2. Mimpi tidak menyenangkan yang muncul berulang di mana
muatan dan/ atau mimpi yang terkait dengan kejadian traumatik
3. Reaksi disosiatif (misal flashback) di mana individu merasa atau
bertingkah laku seolah-olah kejadian traumatik tersebut berulang
4. Gangguan psikologis yang berkepanjangan atau berat terhadap
paparan sinyal internal atau eksternal
5. Reaksi fisiologis yang nyata terhadap paparan internal atau
eksternal yang merupakan simbolisasi atau menyerupai aspek
dari kejadian traumatik

CONT
C. Penghindaran stimuli yang berkaitan dengan kejadian

traumatik secara persisten, dimulai setelah kejadian


traumatik, seperti dibuktikan oleh salah satu :
1. Penghindaran atau usaha untuk menghindari dari memori,

pikiran, atau perasaan yang tidak menyenangkan


mengenai atau yang berkaitan erat dengan kejadian
traumatik
2. Penghindaran atau usaha untuk menghindari ingatan

eksternal ( orang, tempat, pembicaraan, aktivitas, objek,


situasi) yang membangkitkan memori, pikiran, atau
perasaan yang tidak menyenangkan mengenai atau hal
yang menyerupai kejadian traumatik

CONT
D. Perubahan negatif dalam kognisi dan mood yang berhubungan dnegan kejadian
traumatik, dimulai atau memburuk setelah terjadinya kejadian traumatik,
dibuktikan dengan dua (atau lebih) :
1.

Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari kejadian traumatik (secara


tipikal karena amnesia disosiatif, dan bukan karena faktor lain seperti
traumakepala, alkohol, atau obat-obatan)

2.

Keyakinan atau ekspektasi negatif yang menetap dan diperberat mengenai diri
sendiri, orang lain ,atau dunia (misal saya buruk, tidak ada orang yang dapat
dipercayai, dunia ini berbahaya)

3.

Perubahan kognisi yang persisten mengenai penyebab atau konsekuensi dari


kejadian yang traumatik yang menyebabkan individu menyelahkan diri sendiri
atau orang lain

4.

Keadaan emosional negatif yang menetap (misal ketakutan, kemarahan, rasa


bersalah, atau rasa malu)

5.

Berkurangnya minat atau partisipasi dalam kegiatan signifikan secara bermakna

6.

Perasaan detachment atau diasingkan dari orang lain

CONT
E. Perubahan bermakna dalam reaktivitas dan arousal yang berkaitan dengan kejadian
traumatik, dimulai atau memburuk setelah kejadian traumatik, yang dibuktikan oleh
dua(atau lebih) :
1.

Perilaku iritabel dan ledakan kemarahan ( dengan sedikit atau tanpa provokasi)
yang diekspresikan dengan agresivitas verbal atau fisikal terhadap orang atau
objek

2.

Perilaku serampangan atau merusak diri sendiri

3.

Hipervigilans

4.

Perburukan respon terkejut

5.

Konsentrasi yang bermasalah

6.

Gangguan tidur

F. Durasi gangguan ( B,C,D,E ) berlangsung lebih dari 1 bulan


G.

Gangguan menyebabkan gangguan atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan


atau fungsi penting lainnya

H.

Gangguan ini tidak disebabkan kondisi medis umum atau penyalahgunaan zat

REAKSI STRES AKUT (PPDGJ III)


Harus ada kaitan waktu kejadian yang jelas antara terjadinya pengalaman stressor luar biasa (fisik

atau mental) dengan onset dari gejala, biasanya beberapa menit atau segera setelah kejadian.

Selain itu ditemukan gejala-gejala :


a.

Terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya berubah-ubah; selain gejala permulaan
berupa keadaan terpaku (daze) semua hal berikut dapat terlihat : depresi, ,anxietas kemarahan,
kecewa, overaktif, dan penarikan diri
Akan tetapi tidak satupun dari gejala tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk waktu
yang lama

b.

Pada kasus-kasus yang dapat dialihkan dari lingkup stressornya, gejala-gejala dapat menghilang
dengan cepat (dalam beberapa jam); dalam hal di mana stres menjadi berkelanjutan atau tidak
dapt dialihkan, gejala-gejala biasanya baru mereda setelah 24-48 jam dan biasanya
menghilang setelah 3 hari

. Diagnosis ini tidak boleh digunakan untuk keadaan kambuhan mendadak dari gejala-gejala pada individu

yang sudah memiliki gangguan psikiatrik lainnya


. Kerentanan individual dan kemampuan menyesuaikan diri memegang peranan dalam terjadinya atau

beratnya suatu reaksi akut.

REAKSI STRES AKUT (DSM


V)

A. Paparan terhadap kematian atau ancaman kematian, kecelakaan serius,

kekerasan seksual dalam satu atau lebih cara :


1.

Secara langsung mengalami kejadian traumatik

2.

Menyaksikan sendiri kejadian yang terjadi pada orang lain

3.

Pembelajaran bahwa kejadian traumatik terjadi pada anggota keluarga


dekat atau teman karib. Pada kasus kematian atau ancaman kematian
pada anggota keluarga atau teman, kejadian harus berupa kekerasan atau
kecelakaan

4.

Mengalami paparan berulang atau ekstrim terhadap detail kejadian


traumatik yang tidak disukai. (misal, orang yang mengambil sisa jenazah,
petugas polisi yang secara berulang terpapar dengan kasus kekerasan
anak)

Catatan : Kriteria A4 tidak termasuk paparan dari media elektronik, televisi,


film, atau gambar, kecuali juka paparan tersebut terkait.

CONT
B. Terdapat sembilan (atau lebih) gejala dari lima kategori : gejala yang

muncul secara tiba-tiba, mood negatif, disosiasi, penghindaran, dan


arousal yang yang dimulai atau memburuk setelah kejadian traumatik :
Gejala yang muncul secara tiba-tiba (intrusion)
1. Memori tidak menyenangkan akan kejadian traumatik yang berulang, asadar,
dan muncul secara tiba-tiba
2. Mimpi tidak menyenangkan yang muncul berulang di mana muatan dan/ atau
mimpi yang terkait dengan kejadian traumatik
3. Reaksi disosiatif (misal flashback) di mana individu merasa atau bertingkah
laku seolah-olah kejadian traumatik tersebut berulang
4. Gangguan psikologis yang berkepanjangan atau berat terhadap paparan
sinyal internal atau eksternal
Mood Negatif
5. Ketidakmampuan menetap untuk merasakan emosi positif (misal
ketidakmampuan merasakan kebahagiaan, kepuasan, atau merasa dicintai)

CONT
Gejala disosiatif
6.

Perubahan perasaan akan realitas di sekitar seseorang atau realitas


diri (misal melihat diri sendiri dari perspektif orang lain, merasa tidak
sadar, waktu melambat)

7.

Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari kejadian traumatik


(secara tipikal karena amnesia disosiatif, dan bukan karena faktor lain
seperti trauma kepala, alkohol, atau obat-obatan)

Gejala penghindaran
8.

Usaha untuk menghindari dari memori, pikiran, atau perasaan yang


tidak menyenangkan mengenai atau hal yang berhubungan erat
dengan kejadian traumatik

9.

Usaha untuk menghindari ingatan eksternal ( orang, tempat,


pembicaraan, aktivitas, objek, situasi) yang membangkitkan memori,
pikiran, atau perasaan yang tidak menyenangkan mengenai atau hal
yang menyerupai kejadian traumatik

Gejala arousal

CONT

10. Gangguan tidur


11. Perilaku iritabel dan ledakan kemarahan ( dengan sedikit atau

tanpa provokasi) yang diekspresikan dengan agresivitas verbal


atau fisikal terhadap orang atau objek Keadaan emosional negatif
yang menetap (misal ketakutan, kemarahan, rasa bersalah, atau
rasa malu)
12. Hipervigilans
13. Masalah dengan konsentrasi
14. Perburukan respon terkejut

C. Durasi gangguan ( gejala dalam kriteria B ) terjadi 3 hari hingga 1 bulan setelah
paparan trauma
Catatan : Gejala biasanya segera muncul setelah trauma, untuk memenuhi
kriteria diagnosis,gejala menetap sekurang-kurangnya 3 hari hinnga 1 bulan.
D. Gangguan menyebabkan gangguan atau hendaya dalam fungsi sosial,

PERJALANAN PENYAKIT DAN


PROGNOSIS
Bila tidak diterapi :

30 % pasien membaik secara sempurna


40 % memiliki gejala ringan
20 % memiliki gejala sedang
10 % tidak mengalami perbaikan, bahkan memburuk
Setelah 1 tahun, sekitar 50 % akan membaik
Prognosis baik bila :
Awitan gejala cepat
Durasi gejala singkat (kurang dari 6 bulan)
Fungsi premorbid baik
Dukungan sosial baik
Tidak ada gangguan psikiatrik, medis, atau gangguan penyalahgunaan zat atau

faktor risiko lainnya


Secara umum, terhadap kejadian traumatik lebih menyulitkan pada pasien yang
sangat muda tau sangat tua.

TERAPI
Dukungan untuk pasien dan keluarga
Dorongan untuk mendiskusikan kejadian traumatik
Edukasi mengenai ragam mekanisme pertahanan

(contoh relaksasi)

Edukasi mengenai gangguan dan terapinya, baik

farmakologis maupun psikoterapis

Destigmatisasi ganggua mental dan PTSD

FARMAKOTERAPI
SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) First Line

treatment
Sertraline
Paroxetine
Buspirone
Trisiklik
Imipramine
Amitriptyline
Durasi penyakit terlalu pendek
Dosis sama dengan terapi depresi, dipertahankan dosis
adekuat sekurang-kurangnya 8 minggu dipertahankan 1
tahun sebelum dipertimbangkan untuk menghentikan obat

FARMAKOTERAPI
MAOI (Monoamine oxidase inhibitor)
Phenelzine
Trazodone
Anti konvulsan
Carbamazepine
Valproate
RIMA (Reversible Monomaine Oxidase Inhibitor)
Anti adrenergic agents
Clonidine
Propanolol
Antipsikotika untuk agresivitas berat dan agitasi (waktu singkat)
Haloperidol

PSIKOTERAPI
Psikodinamika psikoterapi
Rekonstruksi kejadian traumatik dengan abreaction dan katarsis
Terapi perilaku
Terapi kognitif
Hipnosis

Menghadapi penyangkalan yang dilakukan klien


Menganjurkan relaksasi, tidur, menggunakan obat bila diperlukan
Menghilangkan sumber stres
Dianjurkan untuk mengamati dan abreact amosi yang terkait dengan

kejadian traumatik dan merencanakan perbaikan


Biasanya dilakukan dalam waktu singkat untuk menghindari

ketergantungan dan kronisitas perhatikan gejala curiga, paranoid.

PSIKOTERAPI
Setelah kejadian traumatik Intervensi krisis
Dukungan
Edukasi
Pengembangan mekanisme pertahanan
Penerimaan terhadap kejadian traumatik

Terapi Paparan

Manajemen Stres

EMDR ( Eye Movement Desensitization and Reprocessing)


Gejala dapat berkurang saat pasien menjalani kejadiana traumatik pada fase

relaksasi dalam
Teknik terapi individual
Terapi kelompok
Terapi keluarga

GANGGUAN
PENYESUAIAN

PENDAHULUAN
Berdasarkan definisi, gejala yang muncul biasanya

dimulai dalam 3 bulan setelah stressor

Termasuk gangguan penyesuaian dengan mood

depresi, gangguan cemas baur depresi, gangguan


campuran emosi dan perilaku

EPIDEMIOLOGI
Prevelensi 2-8 % populasi
Wanita : Pria 2: 1
Dapat terjadi pada semua umur terutama remaja
Remaja : seks, masalah sekolah, penolakan dari orang tua,

perceraian orang tua, PGZ


Dewasa : masalah pernikahan, perceraian, pindah ke
lingkungan baru, masalah ekonomi
Masalah psikiatri yang paling sering dijumpai pada pasien
rawat inap karena masalah medis atau bedah
5 % pasien riwayat rawat inap berulang lebih dari 3 tahun
50 % pasien dengan masalah medis atau stressor spesifik
10-30% pasien gangguan jiwa rawat jalan
50 % pasien rawat inap umum

ETIOLOGI
Satu atau lebih stressor
Tingkat keparahan tergantung pada tingkat

fungsi, kuantitas, durasi, reversibility,


lingkungan, dan makna personal.
Tahap perkembangan spesifik

PSIKODINAMIKA
3 faktor yang perlu diperhatikan :
Sifat alamiah dari stressor
Makna stressor terhadap alam sadar dan alam bawah sadar
Kerentanan klien yang telah ada sebelumnya (gangguan

kepribadaian, hendaya organik, kehilangan figur orang tua pada


masa kecil atau menjadi orang yang paling belakang pada
keluarga yang disfungsi)
Freud Fiksasi pada masa pekembangan
Donal d Winnicott konsep good-enough mother, seseorang
yang beradaptasi dengan kebutuhan anak pada masa kanakkanak dan menyediakan dukungan sehingga anak mampu
berkembang dan menoleransi rasa frustasi dalam kehidupan

PSIKODINA
MIKAstressor.
Klinisi harus mengeksplorasi pengalaman pasien terhadap
Beberapa kejadian mungkin dapat membangkitkan trauma masa lalu
atau kekecewaan pada masa kanak-kanak

Pada masa perkembangan, terjadi perkembangan mekanisme

pertahanan untuk menghadapi kejadian yang membuat stres.

Karena jumlah trauma yang besar atau kerentanan yang mendasari,

beberapa anak-anak memiliki mekanisme pertahanan yang kurang


matur dibandingkan anak lain. dapat menyebabkan saat dewasa
mereka bereaksi dengan hendaya fungsi yang menonjol ketika mereka
berhadapan dengan kehilangan, perceraian, atau masalah finansial
seseorang yang mengembangkan mekanisme pertahanan matur kurang
rentan dan dapat bangkit lebih cepat saat menghdapi stressor

Kebahagiaan adalah faktor penting yang ditentukan oleh hubungan awal

seorang anak dengan orang tuanya trauma berulang menyebabkan


kerusakan psikologis

GANGGUAN PENYESUAIAN
(PPDGJ III)

Daignosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara :


a. Bentuk, isi, dan beratnya gejala
b. Riwayat sebelumnya dan corak kepribadian; dan
c. Kejadian, situasi yang stressful atau krisis kehidupan

Adanya faktor ketiga dia atas (c) harus jelas dan bukti yang kuat bahwa

gangguan tersebut tidak akan terjadi seandainya tidak mengalmai hal


tersebut

Manifestasi dari gangguan bervariasi, dan mencakup afek depresif,

anxietas, campuran anxietas-depresif, gangguan tingkah laku, disertai


adanya disabilitas dalam kegiatan rutin sehari-hari. Tidak ada satupun dari
gejala tersebut yang spesifik untuk mendukung diagnosis

Onset biasanya terjadi dalam 1 bulan setelah terjadinya kejadian yang

stressful dan gejala-gejala biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan


kecuali dalam hal reaksi depresif berkepanjangan

GANGGUAN PENYESUAIAN (DSM V)


A. Perkembangan gejala emosional atau perilaku sebagai respon terhadap

stressor yang teridentifikasi terjadi dalam 3 bulan setelah awitan stressor


B. Gejala tersebut atau perilaku yang tampak secara klinis signifikan, seperti

dibuktikan oleh hal-hal :


1. Penderitaan yang nyata yang tidak sesuai dengan ringkat keparahan atau
intensitas stressor, perhatikan konteks eksternal dan faktor budaya yang
dapat mempengaruhi keparahan gejala dan tampilan gejala
2. Hendaya yang signifikan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau area lainnya
C. Gangguan yang terkait dengan stress tidak memenuhi kriteria lain dari
gangguan mental lainnya dan bukan merupakan eksaserbasi dari gangguan
mental yang telah ada sebelumnya
D. Gejala tersebut tidak menampilkan rasa berduka yang normal
E. Ketika stressor atau konsekuensinya telah tidak ada, gejala-gejala tersebut
tidak bertahan

DIAGNOSIS BANDING
Episode depresi berat
Gangguan psikotik akut dan sementara
Gangguan cemas menyeluruh
Gangguan gejala somatik
Gangguan penyalahgunaan zat
Gangguan perilaku
PTSD

GEJALA KLINIS
Gejala tidak harus berhenti setelah stressor hilang, bila stressor berlanjut,

gangguan dapat terjadi kronis


Perilaku merusak diri sendiri
Reckless driving
Minum alkohol berlebihan
Mengabaikan tanggung jawab
Menarik diri
Gejala vegetatif (somatik)
Insomnia
Perilaku bunuh diri

PERJALANAN PENYAKIT DAN


PROGNOSIS
Risiko untuk melakukan bunuh diri, terutama pada
remaja
Komorbid dengan penyalahgunaan zat dan gangguan
kepribadian

TATA LAKSANA
Psikoterapi
. Terapi kelompok dilakukan bila memiliki kesamaan stres
. Terapi individu mengeksplor arti stressor
. Membantu individu beradaptasi dengan stressor
. Hati hati dengan keuntungan sekunder

INTERVENSI KRISIS
Intervensi dan manajemen kasus adalah terapi jangka

pendek yang dapat membantu klien dengan gangguan


penyesuaian
untuk
mengatasi
keadaan
tidak
menyenangkan yang dialaminya secara cepat dengan
menggunakan teknik suportif, saran / anjuran, modifikasi
lingkungan, dan mungkin rawat inap bila diperlukan.
Frekuensi

dan lamanya dukungan


tergantung kebutuhan pasien.

krisis

bervariasi

FARMAKOTERAPI
Diberikan untuk waktu singkat
Dapat berupa anti depresan dan anti cemas.
SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)

Pasien dengan gangguan cemas yang berat, yang

menyerupai panik, dapat mendapat keuntungan dari


pemberian anxiolytic seperti diazepam

Antipsikotik dapat digunakan bila terdapat

dekompensasi atau risiko psikosis

Anda mungkin juga menyukai