Anda di halaman 1dari 19

0

ANALISIS KESALAHAN DALAM PENGUKURAN

MAKALAH
Disusun guna memenuhi salah satu tugas matakuliah Alat Ukur

Disusun oleh :
M. Nurul Huda

(080210102075)

Dwi Bagus

(080210102007)

Binar Kurnia Prahani

(080210102016)

Anggarita Melinda Putri

(080210102029)

Selly Candra

(080210102046)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURURAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JEMBER
Semester Gasal 2009-2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam

kegiatan

laboratorim

dasar,

memperhatikan

bagaimana

menentukan ketidakpastian pengukuran baik yang sifatnya individual


pengukuran atau maupun gabungan pengukuran untuk menentukan besaran
atau hukum yang sedang dipelarai sangat penting. Untuk mencapai suatu
tujuan tertentu, di dalam fisika, kita biasanya melakukan pengamatan yang
diikuti dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidaklah
lengkap bila tidak dilengkapi dengan data kuantitatif yang didapat dari hasil
pengukuran. Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat
mengukur apa yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angkaangka, berarti kita menghetahui apa yang sedang kita bicarakan itu. misalnya
bila kita mendapat data pengukuran panjang sebesar 5 meter, artinya benda
tersebut panjangnya 5 kali panjang mistar yang memiliki panjang 1 meter.
Dalam hal ini, angka 5 menunjukkan nilai dari besaran panjang, sedangkan
meter menyatakan besaran dari satuan panjang. Verifikasi dari suatu hukum
fisika atau penentuan suatu besaran fisika biasannya melalui proses
pengukuran pengukuran. Bacaan yang diambil dari skala voltmeter,
stopwatch atau meteran, sebagai contoh, dapat meibatkan rangkaian analisa
suatu kuantitas atau hukum yang sedang di pelajari. Tujuan pengukuran
adalah menentukan nilai besaran ukur. Hasil pengukuran merupakan nilai
taksiran besaran ukur. Karena hanya merupakan taksiran maka setiap hasil
pengukuran mempunyai kesalahan. Segala ketidakpastian dalam pembacaan
akan menghasilkan suatu ketidakpastian pada hasil akhirnya.
Suatu pengukuran tanpa pernyataan kuantitas ketidakpastian akan sangat
terbatas penggunaanya. Ketidakpastian inilah yang kita sebut sebagai
kesalahan pengukuran dan analisa kesalahannya kita sebut analisa kesalahan.

Oleh karena kami menyusun makalah dengan bahasan Analisa Kesalahan


Dalam Pengukuran yang akan memberi pemahaman dengan uraian yang
efektif dan efesian agar pembaca lebih mudah dalam memahami Analisa
Kesalahan dalam pengukuran dan mengaplikasikan dalam setiap kegiatan
kehidupan sehari hari. Semoga bermanfaat.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi kesalahan pengukuran?
2. Apakah istilah penting yang terdapat dalam pengukuran?
3. Apakah jenis dari kesalahan pengukuran?
4. Bagaimanakah analisa kesalahan pengukuran tunggal dan pengukuran
5.
6.
7.
8.

berulang?
Bagaimakah penulisan hasil dan kesalahan pengukuran?
Bagaimanakah perhitungan kesalahan pengukuran besaran?
Bagaimanakah penanggulangan kesalahan dalam pengukuran ?
Bagaimakah aplikasi analisa kesalahan dalam pengukuran listrik?

1.3 Tujuan
1. Diharapkan mahasiswa dapat mendefinisikan kesalahan pengukuran.
2. Diharapkan mahasiswa dapat mendefinisikan istilah penting yang terdapat
dalam pengukuran.
3. Diharapkan mahasiswa dapat mendefinisikan dan memahami jenis dari
kesalahan pengukuran.
4. Diharapkan mahasiswa dapat memahami analisa dalam kesalahan
pengukuran tunggal dan pengukuran berulang.
5. Diharapkan mahasiswa dapat menuliskan hasil dan kesalahan pengukuran.
6. Diharapkan mahasiswa dapat menggunakan perhitungan kesalahan
pengukuran besaran.
7. Diharapkan mahasiswa dapat menanggulangi kesalahan dalam pengukuran
8. Diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan analisis kesalahan dalam
pengukuran listrik.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Kesalahan Pengukuran
Ketidakpastian yang kita sebut sebagai kesalahan pengukuran dan analisa
kesalahannya kita sebut analisis kesalahan. Setiap pengukuran tidak pernah
tetap dan mempunyai taksiran nilai. Mengukur adalah membandingkan suatu
besaran yang dimiliki suatu alat yang besarannya sejenis dengan cara
membaca skala. Tujuan pengukuran adalah menentukan nilai besaran ukur.
Hasil pengukuran merupakan nilai taksiran besaran ukur. Karena hanya
merupakan taksiran maka setiap hasil pengukuran mempunyai kesalahan.
Kesalahan dalam pengukuran bisa di sebabkan oleh :
1.

Alat ukur yang kurang baik.


Dalam hal ini sering terjadi karena pada alat ukur telah terdapat
penyimpangan sehingga sebaiknya alat ukur harus dikalibrasi secara
berkala. Dalam ISO kalibrasi ini Sangat penting

2.

Kesalahan dalam pemilihan alat ukur


Misalnya untuk pengukuran dengan kepresisian tinggi Misalnya: 0.001
mm kita gunakan jangka sorong padahal sebaiknya menggunakan
mikrometer agar lebih teliti.

3.

Kesalahan dalam pembacaan skala alat ukur/kurang teliti


Hal ini sering terjadi jika kita salah menentukan kepresisian alat ukur
atau salah lihat karena biasanya skala yang ada cukup kecil.

2.2 Istilah Penting dalam Pengukuran


a. Ketelitian (accuracy)
Ketelitian adalah suatu ukuran yang menyatakan tingkat pendekatan
dari nilai yang diukur terhadap nilai benar X0. Harga terdekat suatu
pembacaan instrumen dari variabel

yang diukur terhadap harga

sebenarnya sehingga tingkat kesalahan pengukuran menjadi lebih kecil.


3

Ketelitian berkaitan dengan alat ukur yang digunakan pada saat


pengukuran.
b. Kepekaan

Kepekaan adalah ukuran minimal yang masih dapat dideteksi (dikenal)


oleh instrumen, misal galvanometer memiliki kepekaan yang lebih besar
daripada Amperemeter / Voltmeter
c. Ketepatan (precision)

Ketepatan adalah suatu Tingkat kesamaan nilai pada sekelompok


pengukuran atau sejumlah nilai dimana pengukuran dilakukan secara
berulang-ulang dengan instrumen yang sama. Dalam hal ini yang harus
diperhatikan adalah cara melakukan pengukuran.
d. Presisi

Presisi berkaitan dengan perlakuan dalam proses pengukuran,


penyimpangan hasil ukuran dan jumlah angka desimal yang dicantumkan
dalam hasil pengukuran.
e. Akurasi

Akurasi yaitu seberapa dekat hasil suatu pengukuran dengan nilai yang
sesungguhnya.
f.

Sensitivitas (sensitivity)
Sensitivitas

(sensitivity)

adalah

Perbandingan

antara

sinyal

keluaran/respon instrument terhadap perubahan variabel masukan yang


diukur
g. Kalibrasi

Kegiatan yang dilakukan untuk menara ulang/ membenarkan kembali


kebenaran konvensional alat ukur.
h.

Keterlusuran
Keterlusuran adalah kemampuan alat ukur menghasilkan hasil
pengukuran sesuai kemampuannya.

i.

Repeatabilitas
Repeatabilitas adalah kemampuan alat ukur untuk menunjukan hasil
yang sama dari proses pengukuran yang dilakukan berulang.

2.3 Jenis dari Kesalahan Pengukuran.


Dalam pengumpulan data pengukuran suatu besaran terdapat tiga tipe
kesalahan, yaitu :

Kesalahan Sistematik (Systematic Error)


Kesalahan Acak (Random Error)
Kesalahan Umum (Gross Error)

2.3.1 Kesalahan Sistematik (Systematic Error)


Kesalahan

sistematik

berasal

dari

sebab-sebab

yang

dapat

diidentifikasi dan secara prinsip dapat dihilangkan. Kesalahan ini dapat


menghasilkan pengukuran yang secara konsisten bernilai terlalu tinggi
atau terlalu rendah. Menyebabkan kumpulan hasil pembacaan
pengukuran cukup berbeda dengan nilai yang sebenarnya tetapi hampir
sama dengan nilai yang sebenarnya.
Penyebab kesalahan sistematis antara lain :
Kesalahan kalibrasi yaitu penyesuaian penambahan pada garis skala
pada saat pembuatannya.
Kesalahan titik nol seperti titik nol skala tidak berhimpit dengan titik
nol jarum penunjuk.
Kesalahan komponen lain seperti melemahnya

pegas yang

digunakan atau terjadi gesekan antara jarum dengan bidang skala.


Kesalahan arah pandang yaitu ketika membaca nilai skala terdapat
jarak antara mata terhadap jarum penunjuk dan garis-garis skala.
Kesalahan

Sistematik

dapat

dikategorikan

menjadi

empat

kelompok.:
1. Kesalahan Alat
Kesalahan dapat terjadi akibat kalibrasi peralatan yang tidak
akurat. Kesalahan ini disebabkan oleh kekurangan-kekurangan pada
instrumen sendiri. Seperti kerusakan atau adanya bagianbagian yang
aus dan pengaruh lingkungan terhadap peralatan atau pemakai.
Kesalahan ini merupakan kesalahan yang tidak dapat dihindari dari
instrumen,karena struktur mekanisnya. Walaupun sesuatu alat

memberikan hasil yan selalu konsisten daari waktu ke waktu, jika


tidak terkalibrasi dengan baik maka semua pembacaan menjadi tidak
benar. Cara yang paling tepat untuk mengetahui instrument tersebut
mempunyai kesalahan atau tidak yaitu dengan membandingkan
dengan instrumen lain yang memiliki karakteristik yang sama atau
terhadap instrumen lain yang akurasinya lebih tinggi.
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut dengan cara:
a. memilih instrument yang tepat untuk pemakaian tertentu.
b. menggunakan faktor koreksi setelah mengetahui banyaknya
kesalahan.
c. mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap instrumen standar.
Sebagai contoh, akibat kalibrasi yang tidak bagus thermometer
membaca suhu 98

C saat digunakan untuk mengukur air yang

sedang mendidih dan menunjuk -20C saat dimasukkkan es yang


sedang mencair pada tekanan atsmosfer. Termometer tersebut secara
konsisten memberikan hasil pengukuran yang terlalu rendah.
Kesalah an ini lebih dikenal sebagai nol (zero error).

Gambar 2.1 Kesalahan Alat

2. Kesalahan Pengamat
Banyak kesalahan terjadi akibat kesalahan pengamat. Pada saat
menggunakan stopwatch biasanya kita melakukan kesalahan akibat
waktu tunda pengamatan suatu kejadian dengan dimulainya
menghitung waktu. Kesalahan pengamatan sering juga terjadi akibat
kesalahan paralaks (parallax error), misalkan pada saat membaca

skala penggaris (penggaris tidak melekat pada benda yang diukur)


atau jarum skala meter listrik (ujung jarum terlalu jauh dari skala ).

Gambar 2.2 Posisi pembacaan meter

Gambar 2.2 a Pembacaan yang salah

Gambar 2.2 b Pembacaan yang benar

3. Kesalahan Lingkungan

Sebagai contoh, akibat panas, suatu sumber daya listrik


memberikan arus yang terukur secar konsisten menjadi rendah.
4. Kesalahan Teoritik
Akibat penyederhanaan suatu system odel atau pendekatan pada
persamaan terkait dapat menyebabkan kesalahn teoritik. Misalnya ,
jika gaya gesekan terjadi dalam eksperimen dan hal ini diabaikan
dalam teori, maka antara teori dan hasil eksperimen akan secara
konsisten tidak terjadi kecocokan.
Secara

prinsip

seseorang

eksperimentalis

selalu

berusaha

mengidentifikasi dan menghilangkan kesalahan sistematik. Kesalahan


sistematik akibat kesalahn nol misalnya, dapat diatasi dengan
mengambil pembacaan dimana seharusnya berharga nol sebagai koreksi
dan kemudian setiap pembacaan harus ditambah atau dikurangi dengan
koreksi tersebut. Jika setelah dilakukan koreksi nol peralatan masih
memberikan kesalahn pembacaan, maka perlu dilakukan kalibrasi
ulang. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pembandingan

antara hasil pembacaan dengan peralatan standar atau peralatan yang


dapat memberikan pembacaan yang akurat. Selanjutnya perlu
dipersiapkan table kalibrasi menunjukan hubungan linier (kurva berupa
garis lurus) maka akan dapat ditentukan satu factor kalibrasi. Semua
pembacaan harus dikalikan dengan factor tersebut untuk mengoreksi
kesalahan diatas.
2.3.2 Kesalahan Acak (Random Error)
Kesalahan acak terjadi saat suatu pengukuran tidak dapat diulangi
secara persis. Kesalahn acak merupakan fluktuasi positif dan negatif
yang mengakibatkan setengah pengukuran menjadi terlalu tinggi dan
setengah pengukuran menjadi terlalu rendah.
Kemungkinan terjadi sumber kesalahan acak adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan pengamatan.
Sebagai contoh kesalahan dalam keputusan pengamatan saat
membaca skala terkecil dari suatu alat ukur atau dikenal dengan
kesalahan resolusi (resolution error).
2. Kesalahan lingkungan.
Sering terjadi besaran yang sedang diukur mengalami fluktuasi
secara acak. Sebagai contoh fluktuasi yang tidak menentu dari
tegangan sumber, temperatur atau getaran mekanik alat.

2.3.3 Kesalahan umum (Gross errors)


Penyebabnya adalah kesalahan manusia misalnya salah menafsirkan
harga pembagian skala. Kesalahan ini dapat dikurangi dengan cara
melakukan pengukuran oleh beberapa orang kemudian ditentukan harga
rata-rata dari hasil pengukuran.
Cara seperti ini perlu waktu yang lama maka dilakukan apabila
benar benar perlu. contoh loading effect, setting yang tidak tepat,
ketidaktepatan penggunaan alat ukur

2.4 Analisa Kesalahan Pengukuran Tunggal dan Pengukuran Berulang


2.4.1 Resolusi Kesalahan
Semua alat ukur memiliki keterbatasan resolusi sejauh mana suatu
besaran

dapat diukur. Untuk mengukur panjang misalnya, hasil

pengukuran dengan mengunakan penggaris dan dengan menggunakan


jangka sorong akan berbeda karena kedua alat tersebut mempunyai
resolusi yang berbeda. Pada penggaris, tanda skala terkecil biasanya
menunjukkan jarak 1 mm. jika kita melakukan pengukuran dengan hatihati kita dapat mengukur panjang sampai 0,5 mm. namun tidak
mungkin diperoleh hasil yang lebih baik lagi kecuali dengan
menggunakan peralatan dengan resolusi yang lebih baik. Secara umum
kita dapat menyatakan kesalahan pengukuran tunggal adalah sebesar
batas resolusi alat yang digunakan.
2.4.2 Analisa Kesalahan Acak Pengukuran Tunggal
Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan 1 kali saja.
Pasti ada suatu ketidakpastian suatu pengukuran tunggal, yang dapat
ditentukan dengan rumus:
x=1/2 nst
Keterangan:
x = ketidakpastian pengukuran tunggal
Pengukuran tunggal kadang terpaksa dilakukan karena terdapat suatu
peristiwa yang tidak dapat diulang, misalnya pengukuran kecepatan
komet.
Cara menyatakan hasil pengukuran, yaitu :
Misalkan hasil pengukuran suatu benda dengan menggunakan mistar
adalah 3,0cm. Karena x suatu mistar adalah 0,05 cm dengan 2
desimal, maka x pun harus dilaporkan dalam 2 desimal atau 3 angka
penting.
Jadi pengukuran panjang buku tersebut adalah:
L= x x

10

L=3,000,05cm
Apakah arti pengukuran panjang di atas?
Yaitu hasil pengukuran berada di sekitar 3,00 cm yaitu 3,05 cm (3,00
+ 0,05) cm dan 2,95 cm (3,00 0,05) cm.
2.4.3 Analisa Kesalahan Acak Pengukuran Berulang
Pengukuran berulang dapat dilakukan untuk mengukur suatu besaran
yang panjangnya hampir tidak berubah, misalnya mengukur diameter
kelereng. Ini karena untuk mengukur sisi kelereng yang berbeda, hasil
pengukurannya juga berbeda.
Jadi apabila kita melakukan suatu percobaan, sebaiknya kita
melakukan pengukuran berulang dan akan menghasilkan suatu rata-rata
yang diperoleh dengan rumus:

Keterangan:
x

= rata-rata hasil pengukuran

x1

= pengukuran ke-1

x2

= pengukuran ke-2

xN

= pengukuran ke-N

= banyaknya pengukuran

Harga rata-rata dari sekumpulan data merupakan taksiran terbaik dari


true value dari besaran yang diukur. Namun perlu diperhatikan besarnya
sebaran data, yang memberikan gambaran seberapa jauh letak masingmasing nilai pengukuran dari harga rata-rata. Selisih antara nilai
pengukuran ke- dengan harga rata-rata disebut simpangan (deviation),
ditulis dengan symbol
i
1
2
.
N

xi

.
Ni

=xi-x

Ni i

i2

Ni i2

11

Jumlah
Rata -rata

x =
=

Deviasi Standar (s) dirumuskan :

Maka dapat dihitung:

Ternyata nilai terbaik sebagai pengganti nilai benar adalah nilai ratarata. Banyak angka yang dapat dilaporkan pada pengukuran berulang
dapat menggunakan aturan sebagai berikut:

Ketidakpastian relatif sekitar 10% berhak atas 2 angka

Ketidakpastian relatif sekitar 1% berhak atas 3 angka

Ketidakpastian relatif sekitar 0.1% berhak atas 4 angka

Ketidakpastian relatif dapat dihitung dengan rumus:


Ketidakpastian relatif =
Keterangan :
x = ketidakpastian dalam pengukuran
= rata-rata hasil pengukuran
Sehingga hasil pengukuran dapat kita lihat : x =

2.5 Penulisan Hasil dan Kesalahan Pengukuran


Ketidakpastian/kesalahan pada hasil suatu eksperimen seringkali sulit
untuk diinterpretasikan. Misalnya hasil eksperimen penentuan kecepatan
suara dituliskan sebagai (341 0,9) ms. Apakah ini berarti bahwa kecepatan
suara berada pada interfal 340,9 ms dan 342,7 ms? Bagaimana ketidakpastian
sebesar 0,9 ms dihitung? Untuk itu pada penulisan hasil eksperimen perlu
diperjelas metoda yang digunakan untuk menghitung besarnya ketidakpastian
hasil eksperimen. Interpretasi hasil akan sangat mudah jika metoda
perhitungan ketidakpastian dinyatakan dengan jelas, apakah besaran diukur

12

secara langsung atau secara tidak langsung dan apakah ketidakpastian didapat
dari pengukuran tunggal atau pengukuran berulang.
Selanjutnya untuk besaran x misalnya digunakan simbul x untuk
menyatakan kesalahan pengukuran. Kesalahan yang terjadi dari hasil
pengukuran besaran x dapat dinyatakan dengan 2 cara yaitu:
1.

Kesalahan absolut atau kesalahan nyata

2.

Kesalahan relatif dinyatakan sebagai x atau dalam bentuk prosentase


kesalahan

2.6 Perhitungan Kesalahan Pengukuran Besaran.


Seperti telah dibahas di atas besarnya kesalahan pengukuran suatu besaran
harus dinyatakan dengan jelas sehingga mudah untuk di interpretasikan. Pada
dasarnya kesalahan pengukuran suatu besaran dapat dikelompokan menjadi
dua yaitu, kesalahan pengukuran langsung dan kesalahan pengukuran tak
langsung.
Kesalahan pengukuran langsung dapat diperoleh dari pembacaan
langsung pada saat pengukuran (pengukuran tunggal) atau pengukuran
dangan pengulangan. Pada pengukuran tunggal, kesalahan pengukuran dapat
diambildari setengah skala terkecil dari alat ukur yang digunakan. Untuk
pengukuran berulang, kesalahan pengukuran berupa kesalahan baku dan
dapat dihitung dengan simpangan baku (untuk harga pengulangan yang kecil)
dan dengan kesalahan baku atau standart error (untuk harga pengulangan
yang relatif besar).
Pengukuran suatu besaran sering kali diperoleh secara tidak langsung atau
melalui perhitungan dengan melibatkan dua atau lebih hasil pengukuran
dengan menggunakan suatu rumus. Seberapa besar kontribusi masing-masing
hasil pengukuran terhadap kesalahan besaran yang sedang diukur disebut
propagasi kesalahan (error propagation). Misalkan besaran yang akan
ditentukan

kesalahan

pengukurannya

disimbulkan

dengan

x.

Ketidakpastiaaan/kesalahan pengukuran biasa dinyatakan dengan berbagai


simbul misalnya

13

Besarnya kesalahan dari suatu besaran w dapat dihitung dari hasil


pengukuran x, y,dan z yang masing-masing mengalami perubahan sebesar.
Prosedur untuk menghitung perubahan pada besaran w dari dan tergantung
bagaimana w dihitung dari x, y, dan z. Dalam hal ini kita dapat menuliskan
secara matematika sebagai.
w = w (x, y, z)
atau dikatakan w sabagai fungsi sebagai x, y dan z. Jika dan merupakan
taksiran kesalahan yang diperoleh dari pembacaan tunggal (misalnya
diperoleh dari skala terkecil dari alat ukur yang digunakan).Dimana dan
berturut-turut adalah turunan parsial dari w terhadap x, y dan z. Jika taksiran
kesalahan dan merupakan kesalahan acak maka secara teori statistik
kesalahan pada w adalah berupa akar dari jumlah kuadrat dituliskan sebagai.

Tentu saja jika besaran yang diukur merupakan kesalahan pengukuran


tidak langsung dengan melibatkan kesalahan pengukuran tunggal dan
kesalahan pengukuran acak, maka perhitungan kesalahan besaran tersebut
harus memperhatikan semua komponen kesalahan yang ada. Kesalahan
pengukuran tidak langsung dapat juga diperoleh secara grafik.
2.7 Penanggulangan kesalahan dalam pengukuran
Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut dengan cara:
a.
b.
c.
d.

Memilih instrument yang tepat untuk pemakaian tertentu.


Menggunakan faktor koreksi setelah mengetahui banyaknya kesalahan.
Mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap instrumen standar.
Pada Kesalahan sistematik akibat kesalahan nol misalnya, dapat diatasi
dengan mengambil pembacaan dimana seharusnya berharga nol sebagai
koreksi dan kemudian setiap pembacaan harus ditambah atau dikurangi
dengan koreksi tersebut. Jika setelah dilakukan koreksi nol peralatan masih
memberikan kesalahn pembacaan, maka perlu dilakukan kalibrasi ulang.

14

e. Apabila kita melakukan suatu percobaan, sebaiknya kita melakukan


pengukuran berulang dan akan menghasilkan suatu rata-rata yang
diperoleh dengan rumus:

Keterangan:
x

= rata-rata hasil pengukuran

x1

= pengukuran ke-1

x2

= pengukuran ke-2

xN

= pengukuran ke-N

= banyaknya pengukuran

2.8 Aplikasi Analisis Kesalahan dalam Pengukuran Listrik


Kebaikan Kerja Dan Cara Pemakaian Alat Ukur Volt Dan Ampere
2.8.1 Batas Kesalahan dari Alat Ukur.
Dalam pemilihan alat ukur untuk kepentingan pengkuran, atau
peralatan, ataupun perencanaan dalam penggunaan peralatan, maka
diklasifikasikan

menjadi

golongan

sesuai

dengan

daerah

pemakaiannya yang lazim diperuntukkannya. Alat-alat ukur dari kelas


0,05; 0,1;0,2: alat ukur tersebut termasuk dalam golongan alat ukur
dengan ketelitian atau presisi yang tertinggi dari alat ukur penunjuk.
Alat ukur tersebut biasanya ditempatkan secara stationer didalam
laboratorium, dan dipergunakan dalam pengukuran sub-standart pada
eksperimen-eksperimen yang memerlukan presisi yang tinggi, atau pada
pengujian alat ukur lainnya.
Alat ukur dari kelas 0,5: alat ukur ini mempunyai ketelitian dan
presisi pada tingkat berikutnya dari kelas 0,2, dan dipergunakan untuk
pengukuran-pengukuran presisi. Pada umumnya alat ukur yang portable
termasuk dalam kelas ini.
Alat ukur dari kelas 1,0: alat ukur dari kelas ini mempunyai presisi
dan ketelitian pada tingkat yang lebih rendah dari alat ukur kelas 0,5,

15

dan dipergunakan pada alat ukur portable yang kecil atau alat ukur yang
ditempatkkan pada panel yang besar.
Alat ukur dari kelas1,5, 2,5 atau kelas 5: alat ukur ini dipergunakan
pada panel-panel dimana presisi serta ketelitiannya dari alat ukur ini
tidak begitu penting.
2.8.2 Penyebab Kesalahan dari Alat Ukur
Adapun yang menjadi penyebab kesalahan dari alat ukur adalah:

Medan magnet luar. Bila suatu alat ukur dipergunakan di sekitar


suatu pengantar yang dialiri arus besar, atau di sekitar suatu magnet
yang sangat kuat maka medan magnet yang terdapat dalam celah
udara pada sirkit magnet dari alat ukur bisa terpengaruh.

Temperatur keliling. Seperti telah dinyatakan, suatu alat ukur telah


dibuat untuk tidak terpengaruh oleh keadaan temperatur keliling,
akan tetapi bila kedaan temperatur keliling tersebut adalah jauh
berbeda pada saat temperatur 20 o C, maka kesalahan-kesalahannya
mungkin tidak dapat diabaikan.

Pemanasan sendiri. Bila satu arus mengalir ke dalam alat ukur,


maka pada permulaan temperatur dari komponen alat ukur tersebut
akan naik dan menyebabkan penunjukkannya berubah. Jadi
penunjukkan tidak akan menjadi stabil sebelum temperatur dari alat
ukur tersebut menjadi konstan.

Pergeseran dari titik nol. Posisi alat penunjuk pada alat ukur tanpa
kebesaran arus listrik yang masuk, disebut titik nol. Setelah
digunakan untuk beberapa lamanya, kemungkinan titik nol tersebut
berubah dan bergerak, yang disebabkan oleh fatique (kelelahan)
dari pegas pengontrol. Pergeseran dari titik nol ini dapat dikoreksi
dengan pergeseran secara mekanis, dengan cara pengaturan titik nol
dari luar.

Gesekan-gesekan. Pada alat ukur yang dibuat dengan konstruksi


sumbu dan bantalan, maka pengukuran yang berulang kai mungkin
menyebabkan harga yang berbeda, meskipun arus yang diukurnya

16

adalah tetap. Hal ini mungkin terjadi bila gesekan antara sumbu
dan bantalan besar.

Umur. Setelah jangka waktu dari mulai alat ukur ini dibuat, maka
berbagai komponen dan elemen dari alat ukur ini mungkin berubah
didalam kebaikan kerjanya, dan akan menghasilkan kesalah
penunjukkan dari alat ukur. Agar alat ukur tatap dalam kedaan baik
dan menghasilkan pengukuran yang teliti maka dilakukan kalibrasi
secara berkala.

Letak dari alat ukur. Bagian-bagian yang bergerak dari alat ukur
telah dibuat sedemikian rupa, sehingga memungkinkan pengaturan
yang terbatas, dan dengan demikian, bila alat ukur tersebut dipakai
dengan letak yang tidak ditentukan, maka posisi dari bagian yang
bergerak dan alat penunjukknya, mungkin akan berbeda dan
menghasilkan kesalahan.

17

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN
1. Ketidakpastian yang kita sebut sebagai kesalahan pengukuran dan
2.

analisa kesalahannya kita sebut analisa kesalahan pengukuran.


Istilah penting yang terdapat dalam Pengukuran : Ketelitian,

3.

Kepekaan, Ketepatan, Presisi, Akurasi.


Jenis dari Kesalahan Pengukuran : kesalahan Sistematik (systematic

4.

error) dan kesalahan Acak ( random error).


Kesalahan Pengukuran Tunggal dan Pengukuran Berulang.
Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan 1 kali

5.

saja.
Pengukuran berulang dapat dilakukan untuk mengukur suatu

besaran yang panjangnya hampir tidak berubah.


Penulisan hasil dan kesalahan Pengukuran yang terjadi dari hasil
pengukuran besaran x dapat dinyatakan dengan 2 cara yaitu ;
Kesalahan absolut atau kesalahan nyata dinyatakan dengan x, atau
Kesalahan relatif dinyatakan sebagai x atau dalam bentuk

6.

prosentase kesalahan dinyatakan sebagai x x 100%


Untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut dengan cara:
Memilih instrument yang tepat, Menggunakan faktor koreksi,

7.

Mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap instrumen standar.


Perhitungan kesalahan pengukuran besaran kesalahan besaran harus
memperhatikan semua komponen kesalahan yang ada. Kesalahan
pengukuran tidak langsung dapat juga diperoleh secara grafik.

3.2

SARAN
Diharapkan mahasiswa lebih aktif dalam mencari refrensi dan tidak
berasal dari internet karena kuantitas dan kualitas dari data tidak semua
valid.

DAFTAR PUSTAKA
17

18

Iqmal.staff.2009.Kesalahan Pengukuran.ugm.ac.id [diakses tanggal 09


November 2009].
R-panuturi. 2009.Blogspot.com [diakses tanggal 10 November 2009].
Sapiie Soedjana. 2000.Pengkuran dan Alat Ukur Listrik.Jakarta: PT Pradnya
Paramita.
Subekti Agus.2002.Pengantar Eksperimen.Jember : Universitas Jember.
Subekti Agus.1993.Alat Alat Ukur Listrik.Jember : Universitas Jember.
Team Fisika Dasar.2008.Petunjuk Pratikum Fisika Dasar I. Jember.
Veethaadiyani.2009.Pengukuran.www.scribd.com [diakses tanggal 09 November
2009].
William D. Cooper. 1994.Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran.
Jakarta :Erlangga.