Anda di halaman 1dari 33

PEMERIKSAAN BAKTERI UDARA DENGAN IMPINGER

polusi udara baik dari polusi secara fisik, kimia dan biologi. Polutan kasat mata seperti bakteri
dan kapang dapat menjadi sumber infeksi bagi pekerja yang beraktivitas di ruangan tersebut.
Menurut Permenkes No:1405/MENKES/SK/XI/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan
Kerja Perkantoran dan Industri, jumlah kuman kurang dari 700 koloni/m3 udara serta bebas
kuman patogen.
Sumber polutan yang mempengaruhi kualitas udara ruangan diantarannya penggunaan Air
Conditioner (AC) sebagai alternative untuk mengganti ventilasi alami namun AC yang jarang
dibersihkan akan menjadi tempat nyaman bagi mikroorganisme untuk berbiak, selain itu metoda
dan frekuensi pembersihan ruangan dan jumlah karyawan di dalam ruangan juga berkontribusi
untuk menambah jumlah dan jenis mikroba di udara. Faktor lingkungan suhu dan kelembaban
ruangan juga mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.
PEMERIKSAAN BAKTERI UDARA
A. Tujuan:
Setelah melakukan pemeriksaan mahasiswa mampu untuk :
1. Mengambil sample untuk pemeriksaan bakteri udara
2. Melakukan pemeriksaan bakteri udara
3. Membaca hasil pemeriksaan
4. Menyimpulkan polusi udara berdasarkan jumlah bakteri yang ada.
B.

Materi :

Udara bukan merupakan habitat jasad renik , sel-sel jasad renik terdapat dalam udara sebagai
kontaminan atauspora jamur yang tersebar di udara, kuman pathogen tersebar di udara melalui
butiran-butiran debu atau melalui residu tetesan air ludah yang kering. Bakteri yang terdapat di
udara umumnya yang berspora , misalnya : Bacillus Sp, Clostridium Sp, M. tuberculosa.
Jasad renik pathogen terdapat di udara bersama 2 jenis partikel :
1. Residu tetesan dahak yang telah diuapkan (inti tetesan)
2. Partikel debu yang jauh lebih besar.
Sifat-sifat dari dan pengendalian infeksi melalui udara
INTI TETESAN

PARTIKEL UDARA

Sumber patikel di udara

Penguapan tetesan yang dikeluarkan dari saluran pernapasan karena

bersin, batuk dan berbicara Pergerakan yg menyebabkan terlepasnya partikel dari kulit dan
pakaian, aliran udara yang dapat menerbangkan debu yang telah mengendap sebelumnya.
Kebiasaan menetap Tetap diudara karena adanya gerakan udara (kecepatan rata-rata
pengendapan pada ruang tenang, 1,2 Cm/menit) Dengan cepat mengendap di tanah (kecepatan
rata-rata pengendapan, 46 Cm/menit) disebarkan lagi oleh pergerakan udara.
Jasad renik tiap partikel

Jarang lebih dari satu

Biasanya banyak

Dapat mencapai jaringan peka dan makna dalam penyakit Diendapkan di paru-paru mungkin
penyebab Diendapkan pada permukaan luar dan saluran pernapasan bagian atas.

Sifat-sifat epidemiologic Epidemi yang menjalar (penyakit di tularkan secara berantai dari
orang per orang) Epidemi berhubungan dengan tempat-tempat khusus sebagai sumber infeksi
Tindakan-tindakan pengendalian Ventilasi, penyinaran sinar ultra ungu dari udara, penguapan
glikol. Pencegahan penumpukan bahan penyebab infeksi (misalnya, sterilisasi pakaian dan alas
tidur) pencegahan penyebaran (misalnya meminyaki lantai dan alas tidur, dan pengaturan system
ventilasi yang baik)

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehan RI Nomor : 1335 / menkes / SK / V / 2002


Tentang standar operasional pengambilan dan pengukuran sampel kualitas udara di rumah sakit.
Titik pengambilan sampel
Jumlah titik sampel minimal sebesar 10% dari jumlah masing-masing ruangan
C. Tahap pemeriksaan
1. Alat dan bahan
a. Cawan Petri
e. Erlenmayer
b. Pipet ukur
f. PCA
c. Inkubator
g. Coloni Counter
d. Impinger + vacuum
h. Tabung reaksi
2.

Cara Kerja metode pendedahan / pengendapan

Siapkan 3 buah Petri disk steril dan isikan dengan PCA tunggu hingga beku.
Letakan Petri pada lokasi yang akan disempling di 3 tempat yang berbeda (maksud 3 tempat
agar populasi udara terambil secara rata, jumlah 3 petri tidak mengikat. Bila lokasi cukup luas
dapat dilebihkan / jumlah Petri tergantung luas lokasi yang akan disampling) Petri biarkan
dalam kondisi terbuka, jauh dari sinar matahari langsung dan biarkan selama 10 menit.
Inkubasi Petri pada suhu 30 C selama 24 jam, buat kontrol (agar yang tidak dibuka pada
praktek ini bias digunakan kontrol agar pada pemeriksaan TPC.
Hitung koloni yang tumbuh pada bagian atas media, tidak ada keterikatan antara 30 300,
seluruh koloni yang tumbuh dihitung..
Jumlah titik sangat tergantung dari luas ruangan ( 10% dari luas ruangan )
3. Cara Kerja metode pengisapan udara dengan alat impinger.
a. Persiapan
Periksa batterai melalui indicator Flow Rate (tingkat akhir) 2,0 Lpm (liter/menit) apabila
indicator kisaran naik turun 0,2 L-m perlu diganti batterai.
Isi Impinger dengan larutan fisiologis NaCl 0,9% atau media buffer pepton 1 % sebanyak 10
ml.
Tutup tabung impinger dengan rapat , jangan sampai terdapat gelembung.
Sterilisasi tabung impinger yang sudah berisi media penyerap dengan sterilisasi basah pada
suhu 121 C , selama 15 menit.
Tempatkan impinger pada badan alat.
b. Pelaksanaan.
Impinger yang telah berisi larutan media atau NaCl 0,9% dihubungkan denganFlow meter.
Hidupkan alat dan atur flow meter 1-2 Lpm (tergantung luas ruangan)
Baca dan catat flow meter pada skala indicator
Lakukan pengambilan sampel selama 15-30 menit, sesuai dengan kondisi kebersihan
ruangan.
Matikan alat dan lepaskan impinger dari badan lat.
Masukan sampel kedalam Cool Box dan bawa ke laboratorium.
c. Metode Analisis
Siapkan 5 buah cawan Petri steril
Tuangkan sampel kedalam 4 cawan Petri steril, masing-masing 1 ml.
Pada Petri ke 5 digunakan sebagai kontrol (tanpa sampel)
Pada ke 5 cawan Petri masing-masing tuangkan media agar (Plate Count Agar) sebanyak 1015 ml dalam suhu 46-50 C.
Goyangkan ke 5 cawan Petri secara perlahan agar bercampur merata.
Diamkan cawan Petri yang berisi sampel sampai membeku kemudian inkubasi dalam
incubator suhu 37 C selama 24 - 48 jam, dengan posisi cawan terbalik..
Koloni yang tumbuh di hitung.
d.

Perhitungan

R [ koloni/ml ] = [ a + e ] + [ b + e ] + [ c + e ] + [ d + e ]
______________________________________________

JK = R x V x 1000/m
____________________
Qxt
Keterangan :
JK
: Jumlah Kuman
R
: Jumlah koloni rata-rata
V
: Larutan fisiologis / media [ ml ]
Q
: Debit aliran udara [ L / menit ]
t
: Lamanya waktu pengambilan sampel [ menit ]
a,b,c,d : Jumlah koloni pada cawan Petri a,b,c dan d.
e
: Jumlah koloni pada cawan Petri kontrol
(Sumber : Tim Dosen Pembimbing Praktikum PENYEHATAN UDARA, Politeknik
Kementerian Kesehatan Jakarta II Jurusan Kesehatan Lingkungan, 2011)

PEMANTAPAN MUTU
Pemantapan mutu (quality assurance) laboratorium adalah semua kegiatan yang
ditujukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium. Kegiatan ini
terdiri atas empat komponen penting, yaitu : pemantapan mutu internal (PMI), pemantapan
mutu eksternal (PME), verifikasi, validasi, audit, dan pendidikan dan pelatihan.
1. Pemantapan Mutu Internal (PMI)
Pemantapan mutu internal adalah kegiatan pencegahan dan pengawasan yang
dilaksanakan oleh setiap laboratorium secara terus-menerus agar diperoleh hasil pemeriksaan
yang tepat. Kegiatan ini mencakup tiga tahapan proses, yaitu pra-analitik, analitik dan paska
analitik.
Beberapa kegiatan pemantapan mutu internal antara lain : persiapan penderita,
pengambilan dan penanganan spesimen, kalibrasi peralatan, uji kualitas air, uji kualitas reagen,

uji kualitas media, uji kualitas antigen-antisera, pemeliharaan strain kuman, uji ketelitian dan
ketepatan, pencatatan dan pelaporan hasil.
2. Pemantapan Mutu Eksternal (PME)
PME adalah kegiatan pemantapan mutu yang diselenggaralan secara periodik oleh
pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai penampilan
suatu laboratorium di bidang pemeriksaan tertentu. Penyelenggaraan PME dilaksanakan oleh
pihak pemerintah, swasta atau internasional dan diikuti oleh semua laboratorium, baik milik
pemerintah maupun swasta dan dikaitkan dengan akreditasi laboratorium kesehatan serta
perizinan laboratorium kesehatan swasta.
PME harus dilaksanakan sebagaimana kegiatan pemeriksaan yang biasa dilakukan oleh
petugas yang biasa melakukan pemeriksaan dengan reagen/peralatan/metode yang biasa
digunakan sehingga benar-benar dapat mencerminkan penampilan laboratorium tersebut yang
sebenarnya. Setiap nilai yang diperoleh dari penyelenggara harus dicatat dan dievaluasi untuk
mempertahankan mutu pemeriksaan atau perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk
peningkatan mutu pemeriksaan.
3. Verifikasi
Verifikasi adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan dalam
melakukan kegiatan laboratorium mulai dari tahap pra-analitik, analitik sampai dengan pascaanalitik. Setiap tahapan tersebut harus dipastikan selalu berpedoman pada mutu sesuai dengan
bakuan mutu yang ditetapkan.
4. Validasi hasil

Validasi hasil pemeriksaan merupakan upaya untuk memantapkan kualitas hasil


pemeriksaan yang telah diperoleh melalui pemeriksaan ulang oleh laboratorium rujukan.
Validasi dapat mencegah keragu-raguan atas hasil laboratorium yang dikeluarkan.
5. Audit
Audit adalah proses menilai atau memeriksa kembali secara kritis berbagai kegiatan
yang dilaksanakan di laboratorium. Audit ada dua macam, yaitu audit internal dan audit
eksternal.
Audit internal dilakukan oleh tenaga laboratorium yang sudah senior. Penilaian yang
dilakukan haruslah dapat mengukur berbagai indikator penampilan laboratorium, misalnya
kecepatan pelayanan, ketelitian laporan hasil pemeriksaan laboratorium dan mengidentifikasi
titik lemah dalam kegiatan laboratorium yang menyebabkan kesalahan sering terjadi.
Audit eksternal bertujuan untuk memperoleh masukan dari pihak lain di luar laboratorium
atau pemakai jasa laboratorium terhadap pelayanan dan mutu laboratorium. Pertemuan antara
kepala-kepala laboratorium untuk membahas dan membandingkan berbagai metode, prosedur
kerja, biaya dan lain-lain merupakan salah satu bentuk dari audit eksternal.
6. Pendidikan dan Pelatihan
Pendidikan dan pelatihan bagi tanaga laboratorium sangat penting untuk meningkatkan
mutu pelayanan laboratorium melalui pendidikan formal, pelatihan teknis, seminar, workshop,
simposium, dsb. Kegiatan ini harus dilaksanakan secara berkelanjutan dan dipantau
pelaksanaannya.
PERHATIAN PADA MUTU
Laboratorium

klinik

adalah

sarana

kesehatan

yang

melaksanakan

pelayanan

pemeriksaan di bidang hematologi, kimia klinik, mikrobiologi klinik, parasitologi klinik, imunologi

klinik, atologi anatomi dan atau bidang lain yang berkaitan dengan kepentingan kesehatan
perorangan terutama untuk menunjang upaya diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan (Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 364/MENKES/SK/III/2003).
Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi
terpenting dalam diagnostik invitro. Dengan pengukuran dan pemeriksaan laboratorium akan
didapatkan data ilmiah yang tajam untuk digunakan dalam menghadapi masalah yang
diidentifikasi melalui pemeriksaan klinis dan merupakan bagian esensial dari data pokok pasien.
Indikasi permintaan laboratorium merupakan pertimbangan terpenting dalam kedokteran
laboratorium. Informasi laboratorium dapat digunakan untuk diagnosis awal yang dibuat
berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik. Analisis laboratorium juga merupakan
bagian integral dari penapisan kesehatan dan tindakan preventif kedokteran.
Prof. dr. Hardjoeno, SpPK-K dalam bukunya : Interpretasi Hasil Tes Laboratorium
Diagnostik, Bagian dari Standar Pelayanan Medik, mengemukakan tujuan dilakukannya
pemeriksaan laboratorium adalah :
1.

Menyaring berbagai penyakit dan mengarahkan tes ke penyakit tertentu misalnya dengan
urinalisis ditemukan bilirubin dan urobilin positif yang berarti ikterus, maka tes selanjutnya
adalah untuk melihat gangguan faal hati.

2. Menegakkan atau menyingkirkan diagnosis misalnya anemia, malaria, tbc, DM.


3. Memastikan diagnosis dari diagnosis dugaan, misalnya tifoid, hepatitis B, HIV.
4.

Memasukkan/mengeluarkan dari diagnosis diferensial misalnya pasien dengan panas; tifoid,


malaria, dengue hemorrhagic fever (DHF).

5. Menentukan beratnya penyakit, misalnya hepatitis, infeksi saluran kemih


6. Menentukan tahap penyakit, misalnya penyakit kronis: tbc paru, sirosis hati.

7. Menyaring penyakit dalam seleksi calon donor darah.


8. Membantu menentukan rawat inap, misalnya observasi tifoid, observasi leukemia.
9. Membantu dalam menentukan terapi atau pengelolaan dan pengendalian penyakit, misalnya
leukemia, diabetes.
10. Membantu ketepatan terapi, misalnya tes kepekaan kuman.
11. Memonitor terapi, misalnya tes HbA1c pada diabetes, widal pada tifoid.
12. Menghindari kesalahan terapi dan pemborosan obat setelah ditemukan diagnosis.
13. Membantu mengikuti perjalanan penyakit, misalnya diabetes, hepatitis.
14. Memprediksi atau menentukan ramalan (prognosis) penyakit, misalnya dislipidemia dengan
penyakit jantung, kanker dengan kematian.
15. Membantu menentukan pemulangan pasien rawat inap, misalnya bila hasil pemeriksaan
laboratorium kembali normal.
16. Membantu dalam bidang kedokteran kehakiman, misalnya tes untuk membuktikan perkosaan.
17. Mengetahui status kesehatan umum (general check up)
Oleh karena itu laboratorium klinik menempati kedudukan sentral dalam pelayanan
kesehatan. Karena kedudukan yang penting itulah maka tanggung jawab laboratorium klinik
bertambah besar, baik tanggung jawab professional (professional responsibility), tanggung
jawab teknis (technical responsibility) maupun tanggung jawab pengelolaan (management
responsibility).
Dinamika Globalisasi
Usaha pelayanan kesehatan saat ini baru dalam keadaan transformasi yang cepat untuk
memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat yang meningkat terus menerus. Selain

pentingnya peran dan kedudukan laboratorium klinik dalam upaya pelayanan kesehatan,
terdapat faktor lain yang mengharuskan setiap laboratorium berkomitmen terhadap penjaminan
mutu. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kedokteran
laboratorium serta pesatnya arus informasi, tingkat pendidikan masyarakat yang semakin maju,
dan adanya peraturan perundang-undangan dan hukum kesehatan telah mendorong tingginya
tuntutan akan mutu pelayanan laboratorium klinik.
Mutu Pemeriksaan Laboratorium Klinik
Hasil pemeriksaan laboratorium klinik yang terbaik adalah apabila tes tersebut teliti,
akurat, sensitif, spesifik, cepat, tidak mahal dan dapat membedakan orang normal dari
abnormal.
Teliti atau presisi adalah kemampuan untuk mendapatkan nilai yang hampir sama pada
pemeriksaan yang berulang-ulang dengan metode yang sama. Namun teliti belum tentu akurat.
Tepat atau akurat adalah kemampuan untuk mendapatkan nilai yang sama atau
mendekati nilai biologis yang sebenarnya (true value), tetapi untuk dapat mencapainya mungkin
membutuhkan waktu lama dan biaya yang mahal.
Sensitif adalah kemampuan menentukan substansi pada kadar terkecil yang diperiksa.
Secara teoritis tes dengan sensitifitas tinggi sangat dipilih namun karena nilai normalnya sangat
rendah misalnya enzim dan hormon, atau tinggi misalnya darah samar, dalam klinik lebih dipilih
tes yang dapat menentukan nilai abnormal.
Contoh :

Guaiac tes untuk menentukan darah samar dalam feses lebih dipilih daripada benzidin atau
orthotoluidin tes yang lebih sensitive. Dalam keadaan normal kedua tes terakhir dapat positif

karena + 3cc darah samar terdapat dalam faeses, sedangkan tes pertama positif dalam
keadaan abnormal saja.

Tes KED dan CRP sensitive untuk perubahan abnormal tetapi tidak spesifik untuk penyakit
tertentu.
Spesifik adalah kemampuan mendeteksi substansi pada penyakit yang diperiksa dan
tidak dipengaruhi oleh substansi yang lain dalam sampel tersebut, misalnya TPHA (Treponema
Palidum Haemaglutination Test). Secara teoritis spesifisitas sebaiknya 100% hingga tidak ada
positif palsu (false positive).
Contoh :
Pewarnaan Ziehl Nelson sputum, biakan Lowenstein Jensen dan PCR untuk tbc paru
spesitifitasnya 100% tetapi sensitifitasnya misalnya berturut-turut adalah 70%, 100% dan 98%.
Tes yang baik adalah bila sensitivitas dan spesitifitasnya 100% atau mendekati 100%.
Cepat berarti tidak memerlukan waktu yang lama dan lekas diketahui oleh dokter yang
merawat.
Tidak mahal dan tidak sulit, artinya dapat dimanfaatkan oleh banyak laboratorium dan
penderita/orang yang memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Pada umumnya untuk tes saring diperlukan tes yang sensitif, cepat dan tidak mahal,
sedangkan untuk diagnosis pasti diperlukan tes spesifik yang biasanya lebih mahal. Ketepatan
dalam pemanfaatan tes laboratorium untuk mendapatkan diagnosis akurat dan cepat serta
jaminan kualitas hasil pemeriksan laboratorium akan menghemat pembiayaan, baik untuk
diagnosis, terapi maupun lama rawat inap.
Nilai normal harus ditetapkan oleh masing-masing laboratorium dan dilaporkan
bersama-sama dengan hasil pemeriksan. Biasanya praktisi laboratorium melaporkan rentang

normal berdasarkan umur dan jenis kelamin, dan dokter menginterpretasi hasil tersebut lebih
jauh dengan melihat faktor spesifik lain (mis. diet, aktivitas fisik, kehamilan, dan pengobatan)
Hasil pemeriksan laboratorium dapat mengalami variasi dan bila variasi ini besar (lebih
dari 2 SD), maka dianggap menyimpang. Penyebab variasi hasil pemeriksaan laboratorium
secara garis besar dipengaruhi oleh faktor-faktor :
1. Pengambilan spesimen, seperti : antikoagulan, variasi fisiologis pasien (puasa dan tidak puasa,
umur, jenis kelamin, latihan fisik, pengobatan, kehamilan, konsumsi tembakau, dsb), cara
pengambilan, kontaminasi, dsb.
2. Perubahan spesimen, seperti : suhu, pH, lisis, bekuan darah lama tidak dipisahkan dari serum,
dsb. Perubahan bisa terjadi di dalam laboratorium atau selama pengiriman ke laboratorium.
3. Personel. Faktor personel yang dapat menimbulkan variasi yang besar pada hasil laboratorium
misalnya :
o Kesalahan administrasi, tertukar dengan pasien lain, kesalahan menyalin pada formulir hasil
o Kesalahan pembacan, kesalahan penghitungan
o Kesalahan teknis dalam prosedur pemeriksaan

4. Prasarana dan sarana laboratorium, misalnya :


o Gangguan aliran listrik, air bersih.
o Suhu tidak sesuai dengan suhu yang dianjurkan untuk penentuan tes.
o Air suling dengan pH yang tidak netral.
o

Reagensia yang tidak baik, tidak murni, rusak atau kadaluwarsa. Bahan standard kurang baik
atau tidak ada.

o Peralatan (fotometer, pipet, dsb) tidak akurat.

5.

Kesalahan sistematis (systematic error), yaitu berkaitan dengan metode pemeriksan (alat,
reagensia, dsb)

6. Kesalahan acak (random error). Variasi hasil yang tidak dapat dihindarkan apabila dilakukan
pemeriksaan berturut-turut pada sampel yang sama walaupun prosedur pemeriksaan dilakukan
dengan cermat.
Manajemen Mutu
Laboratorium klinik bagaikan sebuah industri, dimana sampel yang diterima merupakan
bahan bakunya, sedangkan hasil pemeriksaan yang dikeluarkan merupakan produk yang
dihasilkan. Hasil pemeriksaan yang dikeluarkan harus dapat dijamin mutunya. Untuk
meningkatkan dan mempertahankan mutu pemeriksaan, maka perlu penataan faktor-faktor
sebagai berikut :
1. Sumber Daya Manusia (SDM)
o SDM yang kompeten, handal, profesional
o Penerapan Continuing Education, Profesional Development Program untuk meningkatkan mutu

SDMb. Manajemen dan kepemimpinan, pembiayaan dan komunikasi berkesinambungan


bertumpu pada Total Quality Management (TQM) dan Continous Quality Improvement (CQI)
2. Sarana-prasarana dan alat (SPA)
o Penyediaan sumber energi dan air bersih
o Pengadan peralatan dan reagensia yang berkualitas

3. Sistem, prosedur & mekanisme kerja (SPM)


o Penetapan dan penerapan Standard Operating Procedure (SOP)

o Penerapan quality control (QC), baik intralab maupun ekstralab.

Program kontrol dalam laboratorium (intralab) atau Pemantapan Mutu Internal (PMI) ialah
program pemantapan mutu, pengecekan dengan nilai baku, penggunaan metode, alat, reagen
dan prosedur yang benar untuk melihat ketelitian, keakuratan, sensitifitas dan spesitifitas
pemeriksaan hingga menghasilkan hasil yang secara klinis dapat dipercaya.
Program kontrol kualitas ekstralab atau Pemantapan Mutu Eksternal (PME) ialah program
pemantapan mutu yang dikoordinasikan oleh Depkes atau perkumpulan profesi misalnya PDSPATKLIN sehingga hasil-hasil laboratorium tersebut dapat dipercaya kebenarannya.
Hasil yang baik juga menunjukkan mutu laboratorium tersebut baik, termasuk semua yang
berkaitan dengan tes yaitu dokter, teknisi, metode, reagensia, peralatan dan sarana lainnya. Di
pihak lain, mutu laboratorium klinik yang baik menunjukkan kepercayaan dokter terhadap hasil
tes laboratorium tersebut.
o

Penerapan manajemen mutu pelayanan laboratorium, seperti akreditasi, ISO 9001 (Quality
Management System), ISO 15189 yang merupakan perpaduan ISO 9001 dengan ISO/IEC
17025 (International Electrotechnical Commission)

o Implementasi TQM, CQI, service satisfaction, customer satisfaction, dsb.


o Penerapan Standar Keselamatan Kerja

Upaya mencapai tujuan laboratorium klinik yakni tercapainya pemeriksaan yang


bermutu diperlukan strategi dan perencanaan manajemen mutu yang didasari Quality
Management Science (QMS) dengan suatu model FiveQ, yaitu :
1. Quality Planning (QP)

Pada saat akan menentukan jenis pemeriksaan yang akan dilakukan di laboratorium,
perlu merencanakan dan memilih jenis metode, reagen, bahan, alat, sumber daya manusia dan
kemampuan yang dimiliki laboratorium.
2. Quality Laboratory Practice (QLP)
Membuat pedoman, petunjuk dan prosedur tetap yang merupakan acuan setiap pemeriksaan
laboratorium. Standar acuan ini digunakan untuk menghindari atau mengurangi terjadinya
variasi yang akan mempengaruhi mutu pemeriksaan.
3. Quality Control (QC)
Pengawasan sistematis periodik terhadap : alat, metode, dan reagen. QC lebih berfungsi untuk
identifikasi ketika sebuah kesalahan terjadi
4. Quality Assurance (QA)
Mengukur kinerja pada tiap tahap siklus tes laboratorium: pra analitik, analitik dan pasca
analitik. Jadi, QA merupakan pengamatan keseluruhan input-proses-output/outcome, dan
menjamin pelayanan dalam kualitas tinggi dan memenuhi kepuasan pelanggan. Tujuan QA
adalah untuk mengembangkan produksi hasil yang dapat diterima secara konsisten, jadi lebih
berfungsi untuk mencegah kesalahan terjadi (antisipasi error).
Indikator kinerja QA adalah :
o Manajemen sampel : phlebotomy, preparasi spesimen
o

Manajemen proses : turn around time (waktu tunggu), STAT atau cyto, pelaporan hasil,
pemeliharaan alat

o Manajemen SDM : kompetensi, Continuing Education, Profesional Development Programm.


o Keselamatan kerja : kecelakaan jarum suntik (needle stick injury), kimiawi & biologis.

5. Quality Improvement (QI)


Dengan melakukan QI, penyimpangan yang mungkin terjadi akan dapat dicegah dan diperbaiki
selama proses pemeriksaan berlangsung.
Langkah-langkah Five Q merupakan implementasi manajemen mutu laboratorium yang
berujung pada Continous Quality Improvement (CQI), menjamin pelayanan berstandar tinggi
dan terwujudnya kepuasan pelanggan. Hal ini membutuhkan komitmen pimpinan (Top
Management).

PEMANTAPAN MUTU PRA-ANALITIK PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Laboratorium klinik sebagai subsistem pelayanan kesehatan menempati posisi penting
dalam diagnosis invitro. Setidaknya terdapat 5 alasan penting mengapa pemeriksaan

laboratorium diperlukan, yaitu : skrining, diagnosis, pemantauan progresifitas penyakit, monitor


pengobatan dan prognosis penyakit. Oleh karena itu setiap laboratorium harus dapat
memberikan data hasil tes yang teliti, cepat dan tepat.
Dalam proses pengendalian mutu laboratorium dikenal ada tiga tahapan penting, yaitu
tahap pra analitik, analitik dan pasca analitik. Pada umumnya yang sering sering diawasi dalam
pengendalian mutu hanya tahap analitik dan pasca analitik yang lebih cenderung kepada
urusan administrasi, sedangkan proses pra analitik kurang mendapat perhatian.
Kesalahan pada proses pra-analitik dapat memberikan kontribusi sekitar 61% dari total
kesalahan laboratorium, sementara kesalahan analitik 25%, dan kesalahan pasca analitik 14%.
Proses pra-analitik dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : pra-analitik ekstra laboratorium dan
pra-analitik intra laboratorium. Proses-proses tersebut meliputi persiapan pasien, pengambilan
spesimen, pengiriman spesimen ke laboratorium, penanganan spesimen, dan penyimpanan
spesimen.
PERSIAPAN PASIEN
Persiapan pasien dimulai saat seorang dokter merencanakan pemeriksaan laboratorium
bagi pasien. Dokter dibantu oleh paramedis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai
tindakan apa yang akan dilakukan, manfaat dari tindakan itu, dan persyaratan apa yang harus
dilakukan oleh pasien. Informasi yang diberikan harus jelas agar tidak menimbulkan ketakutan
atau persepsi yang keliru bagi pasien. Pemilihan jenis tes yang kurang tepat atau tidak sesuai
dengan kondisi klinis pasien akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ketaatan pasien
akan instruksi yang diberikan oleh dokter atau paramedis sangat berpengaruh terhadap hasil
laboratorium; tidak diikutinya instruksi yang diberikan akan memberikan penilaian hasil
laboratorium yang tidak tepat. Hal yang sama juga dapat terjadi bila keluarga pasien yang
merawat tidak mengikuti instruksi tersebut dengan baik.

Ada beberapa sumber kesalahan yang kurang terkontrol dari proses pra-analitik yang
dapat mempengaruhi keandalan pengujian laboratorium, tapi yang hampir tidak dapat
diidentifikasi oleh staf laboratorium. Ini terutama mencakup variabel fisik pasien, seperti latihan
fisik, puasa, diet, stres, efek posisi, menstruasi, kehamilan, gaya hidup (konsumsi alkohol,
rokok, kopi, obat adiktif), usia, jenis kelamin, variasi diurnal, pasca transfusi, pasca donasi,
pasca operasi, ketinggian. Karena variabel tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap
beberapa variabel biokimia dan hematologi, maka gaya hidup individu dan ritme biologis pasien
harus selalu dipertimbangkan sebelum pengambilan sampel.

PERSIAPAN PENGUMPULAN SPESIMEN


Spesimen yang akan diperiksa laboratorium haruslah memenuhi persyaratan sebagai
berikut :

Jenisnya sesuai jenis pemeriksaan

Volume mencukupi

Kondisi baik : tidak lisis, segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, tidak berubah bentuk,
steril (untuk kultur kuman)

Pemakaian antikoagulan atau pengawet tepat

Ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat

Identitas benar sesuai dengan data pasien


Sebelum pengambilan spesimen, periksa form permintaan laboratorium. Identitas pasien
harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medis, dsb) disertai

diagnosis atau keterangan klinis. Periksa apakah identitas telah ditulis dengan benar sesuai
dengan pasien yang akan diambil spesimen.
Tanyakan persiapan yang telah dilakukan oleh pasien, misalnya diet, puasa. Tanyakan
juga mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, minum alkohol, merokok, dsb. Catat apabila
pasien telah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, minum alkohol, pasca transfusi,
dsb. Catatan ini nantinya harus disertakan pada lembar hasil laboratorium.

1. Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

bersih, kering

tidak mengandung deterjen atau bahan kimia

terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen

sekali pakai buang (disposable)

steril (terutama untuk kultur kuman)

tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan volume
spesimen

2. Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah.
Jenis antikoagulan yang dipergunakan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang
diminta. Volume darah yang ditambahkan juga harus tepat.

3. Pemilihan Lokasi Pengambilan Spesimen


Tentukan lokasi pengambilan spesimen sesuai dengan jenis spesimen yang diperlukan,
seperti :

Darah vena umumnya diambil dari vena lengan (median cubiti, vena cephalic, atau vena
basilic). Tempat pengambilan tidak boleh pada jalur infus atau transfusi, bekas luka,
hematoma, oedema, canula, fistula

Darah arteri umumnya diambil dari arteri radialis (pergelangan tangan), arteri brachialis
(lengan), atau arteri femoralis (lipat paha).

Darah kapiler umumnya diambil dari ujung jari tengah atau jari manis tangan bagian tepi
atau pada daerah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki pada bayi. Tempat yang dipilih untuk
pengambilan tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti sianosis
atau pucat.

Spesimen untuk pemeriksaan biakan kuman diambil dari tempat yang sedang
mengalami infeksi, kecuali darah dan cairan otak.

4. Waktu Pengambilan
Penentuan waktu pengambilan spesimen penting untuk diperhatikan.

Umumnya pengambilan dilakukan pada waktu pagi (ideal)

Spesimen untuk kultur kuman diambil sebelum pemberian antibiotik

Spesimen untuk pemeriksaan GO diambil 2 jam setelah buang air yang terakhir

Spesimen untuk malaria diambil pada waktu demam

Spesimen untuk mikrofilaria diambil pada tengah malam

Spesimen dahak untuk pemeriksaan BTA diambil pagi hari setelah bangun tidur

Spesimen darah untuk pemeriksaan profil besi diambil pada pagi hari dan setelah puasa
10-12 jam

PENGAMBILAN SPESIMEN
Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :
1. Tehnik atau cara pengambilan. Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan benar sesuai
dengan standard operating procedure (SOP) yang ada.
2. Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
o Seluruh sampel harus masuk ke dalam wadah (sesuai kapasitas), jangan ada yang menempel

pada bagian luar tabung untuk menghindari bahaya infeksi.


o Wadah harus dapat ditutup rapat dan diletakkan dalam posisi berdiri untuk mencegah spesimen

tumpah.
o Memindahkan spesimen darah dari syringe harus memperhatikan hal-hal seperti berikut :
Darah harus segera dimasukkan dalam tabung setelah sampling.
Lepaskan jarum, alirkan darah lewat dinding tabung perlahan-lahan agar tidak terjadi hemolisis.
Untuk pemeriksaan kultur kuman dan sensitivitas, pemindahan sampel ke dalam media

dilakukan dengan cara aseptik


Pastikan jenis antikoagulan dan volume darah yang ditambahkan tidak keliru.

Homogenisasi segera darah yang menggunakan antikoagulan dengan lembut perlahan-lahan.

Jangan mengkocok tabung keras-keras agar tidak hemolisis.


o Menampung spesimen urin
Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka,

mudah ditutup, dan bermulut lebar

Sebaiknya pasien diinstruksikan membuang urine yang mula-mula keluar sebelum


mengumpulkan urine untuk diperiksa.

Untuk mendapatkan specimen clean catch diperlukan cara pembersihan lebih sempurna :
Mulut uretra dibersihkan dengan sabun dan kemudian membilasnya sampai bersih.
Penderita wanita harus lebih dulu membersihkan labia minora, lalu harus merenggangkannya

pada waktu kencing.


Perempuan yang sedang menstruasi atau yang mengeluarkan banyak secret vagina, sebaiknya

memasukkan tampon sebelum mengumpulkan specimen.


Bagian luar wadah urine harus dibilas dan dikeringkan setelah spesimen didapat dan keterangan

tentang pemeriksaan harus jelas dicantumkan.


o Menampung spesimen tinja
Sampel tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Jika sangat diperlukan, sampel tinja juga

dapat diperoleh dari pemeriksaan colok dubur.


Masukkan sampel ke dalam wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan

apapun, dapat ditutup rapat, dapat dibuka dengan mudah dan bermulut lebar.
o Menampung spesimen dahakPenting untuk mendapatkan sekret bronkial dan bukan ludah atau

sekret hidung.

Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka,

mudah ditutup, dan bermulut lebar. Untuk pewarnaan BTA, jangan gunakan wadah yang
mengandung bercak lilin atau minyak, sebab zat ini dapat dilihat sebagai bintik-bintik tahan
asam dan dapat menyulitkan penafsiran.
Sebelum pengambilan spesimen, penderita diminta berkumur dengan air, bila mungkin gosok

gigi terlebih dulu. Bila memakai gigi palsu, sebaiknya dilepas dulu.
Pada saat pengambilan spesimen, penderita berdiri tegak atau duduk tegak
Penderita diminta untuk menarik nafas dalam 2 3 kali kemudian keluarkan nafas bersamaan

dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai dahak keluar.
Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan cara mendekatkan wadah

ke mulut.
Amati keadaan dahak. Dahak yang memenuhi syarat pemeriksaan akan tampak kental purulen

dengan volume cukup ( 3 5 ml )


Tutup wadah dengan rapat untuk menghindari kontaminasi dari udara dan secepatnya dikirim ke

laboratorium.
Sumber-sumber kesalahan pada pengambilan spesimen darah :
1. Pemasangan turniquet terlalu lama dapat menyebabkan :
o Protein (termasuk enzim) , Ca2+, laktat , fosfat, dan Mg2+ meningkat
o pH menurun, hemokonsentrasi
o PPT dan APTT mungkin memendek karena pelepasan tromboplastin jaringan ke dalam sirkulasi

darah

2.

Pemompaan menyebabkan kalium, laktat, glukosa, dan Mg2+ meningkat, sedangkan pH


menurun

3. Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk kena) dapat menyebabkan :
o trombosit dan fibrinogen menurun; PPT dan APTT memanjang
o kalium, LDH dan SGPT/ALT meningkat

4. Pengambilan darah pada jalur infus dapat menyebabkan :


o natrium meningkat pada infus saline
o kalium meningkat pada infus KCl
o glukosa meningkat pada infus dextrose
o PPT, APTT memanjang pada infus heparine.
o kreatinin, fosfat, LDH, SGOT, SGPT, Hb, Hmt, lekosit, trombosit, eritrosit menurun pada semua

jenis infus
5.

Homogenisasi darah dengan antikoagulan yang tidak sempurna atau keterlambatan


homogenisasi menyebabkan terbentuknya bekuan darah.

6. Hemolisis dapat menyebabkan peningkatan K+, Mg2+, fosfat, aminotransferase, LDH, fosfatase
asam total
IDENTIFIKASI SPESIMEN
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus dilakukan
karena merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi pengisian formulir
permintaan pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya
harus cocok sama. Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau

nomor rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas dapat
merugikan.
Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus pada
label dan formulir permintaan laboratorium.

PENGIRIMAN SPESIMEN KE LABORATORIUM


Spesimen yang telah dikumpulkan harus segera dikirim ke laboratorium.
1.

Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen telah memenuhi


persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masing-masing pemeriksaan.

2. Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.


3. Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang lengkap. Pastikan bahwa
identitas pasien pada label dan formulir permintaan sudah sama.
4.

Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium. Penundaan pengiriman spesimen ke


laboratorium dapat dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan spesimen.
Penundaan terlalu lama akan menyebabkan perubahan fisik dan kimiawi yang dapat menjadi
sumber kesalahan dalam pemeriksaan, seperti :

o Penurunan kadar natrium ( Na+ ), glukosa darah, angka lekosit, angka trombosit.
o Perubahan morfologi sel darah pada pemeriksaan mikroskopik

o PPT / APTT memanjang.


o Peningkatan kadar kalium ( K+ ), phosphate, LDH, SGPT.
o Lisisnya sel pada sample LCS, transudat, eksudat.
o Perkembangbiakan bakteri
o Penundaan pengiriman sampel urine :
Unsur-unsur yang berbentuk dalam urine (sediment), terutama sel-sel eritrosit, lekosit, sel epitel

dan silinder mulai rusak dalam waktu 2 jam.


Urat dan fosfat yang semula larut akan mengendap, sehingga menyulitkan pemeriksaan

mikroskopik atas unsur-unsur lain.


Bilirubin dan urobilinogen teroksidasi bila berkepanjangan terkena sinar matahari.
Bakteri-bakteri akan berkembang biak yang akan menyebabkan terganggunya pemeriksaan

bakteriologis dan pH.


Jamur akan berkembang biak

Kadar

glukosa

mungkin

menurun

dan

kalau

semula

ada,

zat-zat

keton

dapat

menghilang.Apabila akan ditunda pengirimannya dalam waktu yang lama spesimen harus
disimpan dalam refrigerator/almari es pada suhu 2 8 oC paling lama 8 jam.
5. Pengiriman sample sebaiknya menggunakan wadah khusus, misalnya berupa kotak atau tas
khusus yang tebuat dari bahan plastik, gabus (styro-foam) yang dapat ditutup rapat dan mudah
dibawa.
PENANGANAN SPESIMEN

Identifikasi dan registrasi spesimen

Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius

Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar

Gunakan sentrifus yang terkalibrasi

Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain, tempeli label

Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan


PENYIMPANAN SPESIMEN

Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan dikirim ke
laboratorium lain

Lama penyimpanan harus memperhatikan, jenis pemeriksaan, wadah dan stabilitasnya

Hindari penyimpanan whole blood di refrigerator

Sampel yang dicairkan (setelah dibekukan) harus dibolak-balik beberapa kali dan terlarut
sempurna. Hindari terjadinya busa.

Simpan sampel untuk keperluan pemeriksaan konfirmasi / pengulangan

Menyimpan spesimen dalam lemari es dengan suhu 2-8C, suhu kamar, suhu -20C, -70C
atau -120C jangan sampai terjadi beku ulang.

Untuk jenis pemeriksaan yang menggunakan spesimen plasma atau serum, maka plasma
atau serum dipisahkan dulu baru kemudian disimpan.

Memberi bahan pengawet pada spesimen

Menyimpan formulir permintaan lab di tempat tersendiri

Waktu penyimpanan spesimen dan suhu yang disarankan :

Kimia klinik : 1 minggu dalam referigerator

Imunologi : 1 minggu dalam referigerator

Hematologi : 2 hari pada suhu kamar

Koagulasi : 1 hari dalam referigerator

Toksikologi : 6 minggu dalam referigerator

Blood grouping : 1 minggu dalam referigerator


Siapa yang Terlibat Dalam Proses Pra-Analitik?
Selalu ada beberapa orang yang terlibat dalam proses pra-analitik, yaitu pasien, dokter,
paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan dokter laboratorium; mereka
semua berbagi tanggung jawab terhadap mutu bahan spesimen dan harus memahami
pentingnya tahap pra-analtik, serta mengenali kemungkinan penyebab kesalahan dan
konsekuensi mereka untuk hasil pemeriksaan.
Komunikasi antara dokter, paramedis/perawat, petugas layanan transportasi, analis dan
dokter laboratorium harus selalu ditingkatkan dalam bentuk komunikasi langsung, telepon, atau
media lainnya. Lebih baik kalau laboratorium dapat membuat pedoman atau semacam SOP
mengenai pengumpulan spesimen untuk penggunaan oleh bagian lain. Pedoman tersebut
harus ditinjau ulang oleh supervisor laboratorium. Laboratorium juga perlu menetapkan
prosedur untuk penanganan spesimen dan prosedur untuk manajemen spesimen (penerimaan
atau penolakan spesimen).

MUTU PELAYANAN LABORATORIUM KLINIK RUMAH SAKIT

Pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan bagian integral yang tidak dapat
dipisahkan dari pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Pada saat ini perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan semakin meningkat dan sudah mengarah pada
spesialisasi dan subspesialisasi. Semakin pesat lajunya pembangunan, semakin besar pula
tuntutan masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Perlu disadari bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan kesejahteraan masyarakat,
tuntutan akan pelayanan kesehatan yang bermutu pun semakin meningkat. Di lain pihak
pelayanan Rumah Sakit yang memadai, baik di bidang diagnostik maupun pengobatan semakin
dibutuhkan. Sejalan dengan itu maka pelayanan diagnostik yang diselenggarakan oleh
laboratorium klinik Rumah Sakit sangat perlu untuk menerapkan sebuah standar mutu untuk
menjamin kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
UU No. 23 / 1992 tentang kesehatan menjadi landasan hukum yang kuat untuk
pelaksanaan peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Sebagai penjabaran dari undang-undang
tersebut salah satunya adalah Surat Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik Nomor HK
006.06.3.5.00788 tahun 1995 tentang pelaksanaan akreditasi Rumah Sakit (termasuk di
dalamnya adalah pelayanan laboratorium klinik) untuk mengukur mutu pelayanan kesehatan di
Rumah Sakit.
Berkaitan

dengan

pengukuran

mutu

pelayanan

kesehatan

tersebut,

menurut

Donabedian ada 3 variabel yang dapat digunakan untuk mengukur mutu, yaitu :
1.

Input (struktur), ialah segala sumber daya yang diperlukan untuk melakukan pelayanan
kesehatan, seperti SDM, dana, obat, fasilitas, peralatan , bahan, teknologi, organisasi, informasi
dan lain-lain. Pelayanan kesehatan yang bermutu memerlukan dukungan input yang bermutu
pula. Hubungan input dengan mutu adalah dalam perencanaan dan penggerakan pelaksanaan
pelayanan kesehatan.

2.

Proses, ialah interaksi professional antara pemberi layanan dengan konsumen (pasien /
masyarakat ). Proses ini merupakan variable penilaian mutu yang penting.

3.

Output/outcome, ialah hasil pelayanan kesehatan, merupakan perubahan yang terjadi pada
konsumen (pasien/masyarakat), termasuk kepuasan dari konsumen tersebut.
Untuk meningkatkan mutu pelayanan, laboratorium klinik yang terdapat dalam seluruh
Rumah Sakit perlu dikelola dengan menggunakan prinsip-prinsip manajemen yang tepat. Salah
satu pendekatan mutu yang digunakan adalah Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Magement, TQM).
Menurut Sulistiyani & Rosidah (2003) konsep TQM pada mulanya dipelopori oleh W.
Edward Deming, seorang doktor di bidang statistik yang diilhami oleh manajemen Jepang yang
selalu konsisten terhadap kualitas terhadap produk-produk dan layananannya. TQM adalah
suatu pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh organisasi masa kini untuk memperbaiki
otputnya, menekan biaya produksi serta meningkatkan produksi. Total mempunyai konotasi
seluruh sistem, yaitu seluruh proses, seluruh pegawai, termasuk pemakai produk dan jasa juga
supplier. Quality berarti karakteristik yang memenuhi kebutuhan pemakai, sedangkan
management berarti proses komunikasi vertikal dan horizontal, top-down dan bottom-up, guna
mencapai mutu dan produktivitas.
Pendekatan Manajemen Mutu Terpadu dalam pelayanan laboratorium menurut Sianipar
(1997) adalah menggunakan konsep dari Creech, yaitu suatu pendekatan manajemen yang
merupakan suatu sistem yang mempunyai struktur yang mampu menciptakan partisipasi
menyeluruh dari seluruh jajaran organisasi dalam merencanakan dan menerapkan proses
peningkatan yang berkesinambungan untuk memenuhi bahkan melebihi harapan pelanggan.
Terdapat lima pilar Manajemen Mutu Terpadu, yaitu kepemimpinan, proses, organisasi,
komitmen, produk dan service. Manajemen mutu terpadu berfokus pada peningkatan proses.

Proses adalah transformasi dari input, dengan menggunakan mesin peralatan, perlengkapan
metoda dan SDM untuk menghasilkan produk atau jasa bagi pelanggan.
PENINGKATAN MUTU PELAYANAN LABORATORIUM KLINIK
Menurut Pusorowati (2004), mutu pada hakekatnya adalah tingkat kesempurnaan suatu
produk atau jasa. Sedangkan mutu pelayanan laboratorium klinik Rumah Sakit diartikan
sebagai derajat kesempurnaan pelayanan laboratorium klinik untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan dengan menggunakan potensi sumber daya
yang tersedia secara wajar, efisien dan efektif serta diberikan secara aman dan memuaskan
sesuai dengan norma, etika, hukum, dan sosial budaya dengan memperhatikan keterbatasan
dan kemampuan pemerintah dan masyarakat konsumen.
Upaya peningkatan mutu pelayanan laboratorium klinik merupakan serangkaian
kegiatan yang komprehensif dan integral yang menyangkut struktur, proses dan outcome
secara obyektif, sistematik dan berlanjut, memantau dan menilai mutu dan kewajaran
pelayanan terhadap pasien, dan memecahkan maslah-masalah yang terungkapkan sehingga
pelayanan laboratorium yang diberikan berdaya guna dan berhasil guna.
Sasaran upaya meningkatkan mutu pelayanan laboratorium di rumah sakit adalah :
meningkatkan kepuasan pelanggan (pasien, dokter dan pemakai jasa laboratorium lainnya),
meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelayanan laboratorium, dan efisiensi penggunaan
sumber daya yang dimiliki.
Cakupan kegiatan peningkatan mutu meliputi seluruh kegiatan teknis laboratorium dan
kegiatan-kegiatan yang bersifat administrasi, serta manajemen laboratorium. Kegiatan teknis
laboratorium meliputi seluruh kegiatan pra-analitik, analitik dan pasca-analitik. Kegiatan yang
berkaitan dengan administrasi meliputi pendaftaran pasien / spesimen, pelayanan administrasi
keuangan, dan pelayanan hasil pemeriksaan. Sedangkan kegiatan yang bersifat manajerial

meliputi pemberdayaan sumber daya yang ada, termasuk di dalamnya adalah penatalaksanaan
logistic dan pemberdayaan SDM.
Pendekatan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan laboratorium di
Instalasi Patologi Klinik adalah :
1. Pendekatan tidak langsung
o

Program menjaga mutu (quality assurance/quality improvement), seperti pemeriksaan kontrol


kualitas (quality control), Pemantapan Mutu Internal (PMI), Pemantapan Mutu Eksternal (PME)

o Quality Assesment, seperti akreditasi, ISO 9001:2000


o Total Quality Managemen (TQM)
o

Pengembangan standar profesi, seperti seminar / kursus / workshop / pelatihan, pendidikan


berkelanjutan. Program ini dilakukan baik untuk Pranata Laboratorium maupun tenaga
administrasi.

o Risk management, misalnya penanganan komplain dari pelanggan.


o

Program-program khusus, misalnya mengukur kepuasan pelanggan melalui pemberian


kuesioner.

2. Pendekatan pemecahan masalah


Pemecahan masalah merupakan suatu proses siklus (daur) yang berkesinambungan.
Langkah pertama dalam siklus ini adalah identifikasi masalah. Identifikasi masalah merupakan
bagian sangat penting dari seluruh proses siklus karena akan menentukan kegiatan-kegiatan
selanjutnya dari pendekatan masalah. Masalah akan timbul apabila :
o Terdapat penyimpangan antara hasil yang dicapai (output) dengan standar yang adab.
o Terdapat ketidakpuasan akan penyimpangan tersebut.

Pendekatan pemecahan masalah ini dapat dilakukan melalui kegiatan Gugus Kendali
Mutu (GKM) atau dengan program Problem Solving for a Better Hospital (PSBH) yang tengah
digalakkan oleh Manajemen Rumah Sakit. Pendekatan kegiatan PSBH mirip dengan GKM.

Bahan Bacaan :
1.

Kuncoro, T., et. al., 1997, Manajemen Proses di Laboratorium Klinik Menuju Produk yang
Bermutu, Dalam : Sianipar, O. (ed), 1997, Prinsip-prinsip Manajemen Untuk Peningkatan Mutu
Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit, Magister Manajemen Rumah Sakit,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

2.

Lewandrovsky, Kent, 2002, Clinical Chemistry : Laboratory Management and Clinical


Corellations, Lippincot William & Wilkins, Philadelphia, USA.

3. Mulyadi, Bagus, et. al., 2001, Petunjuk Pelaksanaan Indikator Mutu Pelayanan Rumah Sakit,
Worl Health Organization Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.
4.

Nawawi, H. Hadari, 2000, Manajemen Sumber Daya Manusia, cetakan ke-3, Gama Press,
Yogyakarta.

5. Pusorowati, Nunuk, 2004, Konsep Dasar Upaya Peningkatan Mutu Pelayanan Rumah Sakit,
Clinical Epidemiology and Biostatistics Unit, RS Dr. Sardjito/FK-UGM, Yogyakarta.
6. Sulistiyani, Ambar T. dan Rosidah, 2003, Manajemen Sumber Daya Manusia : Konsep, Teori
dan Pengembangan Dalam Konteks Organisasi Publik, Graha Ilmu, Yogyakarta.