Anda di halaman 1dari 7

PERENCANAAN PAJAK MELALUI PENYUSUTAN

April 12, 2013

BY KHO YUNITA'S PUBLISH

LATAR BELAKANG PENYUSUTAN


Pada umumnya, perusahaan dalam kegiatan usahanya melakukan pemotongan
pajak yang disebabkan karena adanya pengeluaran kas. Salah satunya adalah jasa
yang digunakan dalam kegiatan operasional yang harus dibeli terlebih dahulu seperti
gedung, mesin dan tanah. Pengeluaran kas untuk pengeluaran tersebut memberikan
manfaat lebih dari satu periode. Untuk kepentingan pajak, perlakuan terhdap
pengeluaran semacam ini dapat menimbulkan masalah dalam penentuan pajak
penghasilan.
PENGERTIAN PENYUSUTAN
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa
manfaat yang diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan karena manfaat yang diberikan
dari aset tersebut semakin berkurang. Pengurangan nilai aset dibebankan secara
bertahap. Kebijakan pajak untuk penyusutan harus mempertimbangkan tiga hal
yaitu keadilan pajak, kebijakan ekonomi dan administrasi.
KARAKTERISTIK DARI ASET YANG DAPAT DISUSUTKAN
1.

Digunakan dalam kegiatan usaha.

2.

Nilainya menurun secara bertahap.

3.

Aset berwujud dan tidak berwujud yang mempunyai manfaat lebih dari satu
periode.

4.

Pihak yang berhak melakukan penyusutan adalah pihak yang menggunakan


aset tersebut dan pemilik.

5.

Saat dilakukan penyusutan adalah saat digunakan.

6.

Dasar melakukan penyusutan adalah harga perolehan, harga penggantian dan


revaluasi.

PENYUSUTAN BERDASARKAN PERATURAN PERPAJAKAN


Saat Mulainya Penyusutan Fiskal
Undang-undang pajak penghasilan secara khusus dan eksplisit menetapkan saat
dimulainya penyusutan fiskal adalah pada bulan perolehan.
Harta/Aset dalam Pengerjaan

Untuk harta/aset tetap dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai pada tahun
selesainya pekerjaan tersebut.
Harta/Aset dalam Usaha Sewa Guna Usaha
Penyusutan terhadap harta dalam usaha sewa guna usaha khususnya sewa guna
usaha tanpa hak opsi dimulai pada bulan harta tersebut disewagunausahakan.
Persetujuan Dirjen Pajak
Wajib pajak dapat mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak, apabila tidak
mengikuti prinsip umum penyusutan. Misalnya penyusutan baru dilakukan pada
tahun harta/aset tersebut menghasilkan.
Pengelompokan Harta Berwujud
Dua pengelompokan harta berwujud :
1.

2.

Harta berwujud kelompok bukan bangunan


Kelompok Bukan Bangunan

Masa Manfaat

Kelompok 1

4 tahun

Kelompok 2

8 tahun

Kelompok 3

16 tahun

Kelompok 4

20 tahun

Harta berwujud kelompok berupa bangunan


Kelompok Bangunan

Masa Manfaat

Bangunan permanen

20 tahun

Bangunan tidak permanen

10 tahun

Metode dan Tarif Penyusutan Fiskal


Mulai tahun 1995, wajib pajak diperkenankan untuk memilih metode penyusutan
fiskal untuk aset tetap berwujud bukan bangunan, yaitu metode saldo menurun
ganda atau metode garis lurus.
Tarif Penyusutan untuk Aset Tetap Bukan Bangunan
Tarif Penyusutan
Kelompok Bukan
Bangunan

Metode Garis Lurus

Metode Saldo Menurun

Kelompok 1

25,00%

50,00%

Kelompok 2

12,50%

25,00%

Kelompok 3

6,25%

12,50%

Kelompok 4

5,00%

10,00%

Tarif Penyusutan untuk Aset Tetap Berupa Bangunan


Kelompok Bangunan

Tarif Penyusutan (Metode Garis Lurus)

Bangunan permanen

Bangunan tidak permanen

5%

10%

PENYUSUTAN BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN


Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan sepanjang masa
manfaat yang diestimasi. Jumlah yang dapat disusutkan adalah jumlah perolehan
suatu aset atau jumlah lain yang disubtitusikan untuk biaya perolehan dalam laporan
keuangan dikurangi nilai sisanya. Nilai sisa atau nilai residu adalah jumlah neto yang
diharapkan dapat diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangu
taksiran biaya pelepasan. Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan
suatu aset setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan.

Biaya Perolehan
Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar
imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada saat perolehan atau
konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam kondisi dan tempat yang siap untuk
digunakan. Biaya perolehan aset tetap terdiri atas harga beli termasuk biaya impor
dan PPN masukan tidak boleh direstitusikan dan biaya yang dapat diatribusikan
secara langsung dalam aset tersebut. Misalnya :
1.

Biaya persiapan tenpat

2.

Biaya pengiriman awal, biaya simpan dan biaya bongkar muat

3.

Biaya pemasangan

4.

Biaya professional seperti arsitek dan insinyur

Kriteria Aset yang Dapat Disusutkan


1.

Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi.

2.

Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas.

3.

Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau


memasok barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi.

Masa Manfaat
Masa manfaat adalah :
1.

Periode suatu aset diharapkan digunakan oleh perusahaan.

2.

Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset oleh
perusahaan.

Metode Penyusutan
1.

Berdasarkan Waktu

1.

Metode garis lurus

2.

Metode pembebanan yang menurun

1)

Metode jumlah angka tahun

2)

Metode saldo menurun/saldo menurun ganda

2.

Berdasarkan Penggunaan

1.

Metode jam jasa

2.

Metode jumlah unit produksi

3.

Metode berdasarkan jenis dan kelompok

4.

Metode anuitas

5.

Sistem persediaan

3.

Berdasarkan Kriteria Lainnya

PERENCANAAN PAJAK UNTUK PENYUSUTAN


Contoh Soal Perencanaan Pajak Atas Penyusutan
PT. Abadi membeli aset tetap berupa mesin, dengan harga perolehan Rp
1.000.000.000,00. Mesin tersebut dalam aset tetap kelompok 1. Besarnya beban
penyusutan dapat dilihat pada tabel berikut :
Metode Penyusutan

Tahun

Garis Lurus

Saldo Menurun

250.000.000

500.000.000

250.000.000

250.000.000

250.000.000

125.000.000

250.000.000

125.000.000

1.000.000.000

1.000.000.000

Akum. Penyusutan

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa besarnya beban penyusutan per tahun berbedabeda tetapi pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) jumlah akumulasi penyusutan
adalah sama. Sehingga dalam perpajakan perbedaan besarnya beban penyusutan ini
dikenal dengan istilah beda waktu/beda sementara (timing difference/temporary
difference). Walaupun berdasarkan nilai nominal pada akhir masa manfaat besarnya
akumulasi beban penyusutan sama, namun jika ditinjau dari nilai tunai (present
value) jumlahnya akan menjadi berbeda.
Dalam contoh ini, untuk mengetahui nilai tunai (present value) tingkat diskon yang
digunakan adalah 20%. (Lihat tabel).
Tahun

Metode Penyusutan

Garis Lurus

Saldo Menurun

Tingkat
Diskon

(20%)

Nominal PV

PV

Nominal PV

PV

250.000.000

208.333.333,30

500.000.000,00

416.666.667

0,833333

250.000.000

173.611.111,10

250.000.000,00

173.611.111

0,694444

250.000.000

144.675.925,90

125.000.000,00

72.337.963

0,578703

250.000.000

120.563.271,60

125.000.000,00

60.281.636

0,482253

1.000.000.00
0

647.183.642

1.000.000.000,
00

722.897.37
7

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mesin yang pada saat perolehannya sebesar
Rp 1.000.000.000,00 dan pada akhir masa manfaat (tahun ke-4) dengan discount
factor 20% jumlah nilai tunai (present value) dari akumulasi beban penyusutan
mesin dengan menggunakan metode garis lurus sebesar Rp 647.183.642,00 dan
menggunakan metode saldo menurun sebesar Rp 722.897.76,50
Tabel (Perbandingan besar penghematan pajak antara metode garis lurus dan
metode saldo menurun dengan tingkat diskonto 20%).
Garis Lurus

Keterangan

Harga Perolehan

Biaya
Penyusutan

PPh 30%

Nominal PV

Saldo Menurun

PV

Nominal PV

1.000.000.000,00 1.000.000.000,00 500.000.000

1.000.000.000,00 647.183.641,98

PV

416.666.666,70

1.000.000.000 722.897.376,54

300.000.000,00

194.115.092,59

300.000.000

216.869.212,96

Penghematan Pajak = 216.869.212,96 194.155.092,59 = 22.714.120,37

Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh besarnya penghematan pajak yang dapat


dilakukan jika perusahaan memilih metode saldo menurun dalam menghitung
besarnya beban peyusutan. Tarif pajak yang digunakan adalah tarif pajak tertinggi
yaitu 30% karena diasumsikan bahwa perusahaan telah mencapai laba di atas Rp
100.000.000. Dengan tingkat diskon 20% besar penghematan pajak adalah Rp
216.869.212,96 Rp 194.115.092,59 = Rp 22.714.120,37.