Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada

umumnya,

perusahaan

dalam

kegiatan

usahanya

melakukan

pemotongan pajak yang disebabkan karena adanya pengeluaran kas. Salah


satunya adalah jasa yang digunakan dalam kegiatan operasional yang harus
dibeli terlebih dahulu seperti gedung, mesin dan tanah. Pengeluaran kas untuk
pengeluaran tersebut memberikan manfaat lebih dari satu periode. Untuk
kepentingan pajak, perlakuan terhdap pengeluaran semacam ini dapat
menimbulkan masalah dalam penentuan pajak penghasilan.
2.1 RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu penyusutan?
2. Apa saja yang menjadi karakteristik aset yang dapat disusutkan?
3. Bagaimana penyusutan berdasarkan peraturan perpajakan?
4. Bagaimana penyusutan berdasarkan SAK?
3.1 TUJUAN
1. Memberi pengetahuan tentang apa itu penyusutan
2. Memberi pengetahuan tentang apa saja yang menjadi karakteristik aset
yang dapat disusutkan
3. Memberi pengetahuan tentang bagaimana penyusutan berdasarkan
peraturan perpajakan
4. Memberi pengetahuan tentang bagaimana penyusutan berdasarkan SAK

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN PENYUSUTAN
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan
sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan karena
manfaat yang diberikan dari aset tersebut semakin berkurang. Pengurangan nilai
aset dibebankan secara bertahap. Kebijakan pajak untuk penyusutan harus
mempertimbangkan tiga hal yaitu keadilan pajak, kebijakan ekonomi dan
administrasi.
Dimana, aktiva yang dapat disusutkan adalah aktiva yang:
a. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode
b. Memiliki suatu manfaat yang terbatas
c. Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau
memasok barang dan jasa, untuk disewakan atau untuk tujuan
administrasi.
a. Keadilan pajak (tax equity)
Untuk keadilan pajak perlu diperhatikan jenis kegiatan dari wajib pajak,
apakah termasuk perusahaan manufaktur atau perusahaan jasa. Dan juga
harus memperhatikan struktur modalnya, apakah termasuk padat modal
(capital intensive) atau padat karya (labour intensive
b. Kebijakan ekonomi (economy policy)
Dengan adanya penyusutan membawa akibat pada peningkatan
investasi (capital growth). Jika penyusutan besar maka laba setelah pajak
juga besar, pengembalian atas investasi (return on investment-ROI) besar,
sehingga pada akhirnya menyebabkam arus kas menjadi tinggi.
Menurut ketentuan perpajakan, perhitungan penyusutan dimulia pada
tahun perolehan. Secara ekonomis dapat diatur dengan peraturan tertentu
secara selektif, untuk mendorong atau menghambat suatu peningkatan
modal. Penyusutan secara selektif dapat dibedakan menjadi:

Penyusutan untuk barang baru atau barang bekas


Penyusutan berdasarkan jenis industry tertentu
Penyusutan berdasarkan jenis asset
Penyusutan berdasarkan lokasi (terpencil)

c. Administrasi (administration)

2.2 KARAKTERISTIK DARI ASET YANG DAPAT DISUSUTKAN


Karakteristik dari asset yang dapat disusutkan adalah:
1. Digunakan dalam kegiatan usaha
Aset yang boleh disusutkan adalah asset yang dipakai dalam usaha
atau menjalankan usaha. Aset ini dapat dibedakan menjadi asset bisnis,
asset campuran, dan asset pribadi.
Untuk asset bisnis dapat disustkan semuanya, sedangkan untuk aset
campuran boleh disusutkan sebagian sesuai dengan yang digunakan
dalam kegiatan usaha.
2. Nilainya menurun secara bertahap
Nilai asset yang dapat disusutkan harus menurun secara bertahap,
baik karena semakin buruk fisiknya atau karena faktor kualitas.
Kalau nilainya tidak menurun secara bertahap makan tidak dapat
disusutkan tetapi langsung dibiayakan, sedangkan untuk aset yang tidak
dapat disusutkan adalah tanah, asset pendanaan, barang dagangan dan
persediaan.
3. Aset berwujud dan asset tidak berwujud
Aset berwujud maupun asset tidak berwujud yang mempunyai manfaat
lebih dari satu periode yang disusutkan.
Untuk asset yang tidak berwujud penyusutannya disebut dengan
amortisasi.
4. Pihak yang berhak melakukan penyusutan
Pihak yang berhak melakukan pemyusutan adalah:
Pihak yang menggunakan asset tersebut untuk kegiatan usaha
Pemilik, dapat dibagi menjadi legal owner dan beneficial owner
5. Saat dilakukan penyusutan
Secara umum dapat dilakukan adalah saat digunakan, tetapi adakalanya
pada tahun perolehan.
6. Dasar untuk melakukan penyusutan
Pada umumnya dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
Harga perolehan (historical cost)
Harga pergantian (replacement cost)
Revaluasi (revaluation)
7. Penyusutan yang Dipercepat
Penyusutan dapat dipercepat untuk dapat meningkatkan arus kas.
Karena penyusutannya besar, maka pajak yang akan dibayar lebih kecil
dan pengembalian atas investasi menjadi tinggi.
Metode yang dapat digunakan adalah:
Dipercepat (accelerated)
Memperpendek umur (shorted life)
Bebas (Arbitrary deduction)

2.3 PENYUSUTAN BERDASARKAN PERATURAN PERPAJAKAN


Sebagaimana telah diatur dalam pasal 9 ayat (2) UU PPh bahwa
pengeluaran untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara
penghasilanyang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh
dibebankan sekaligus, melainkan melalui penyusutan. Hal ini sesuai dengan
kelaziman dunia usaha dan selaras dengan prinsip penandingan antara
pengeluaran dan penerimaan ( matching cost againsts revenue ).
a. Saat Mulainya Penyusutan
Undang-undang Pajak Penghasilan secara khusus dan

eksplisit

menetapkan saat dimulainya penyusutan fiskal adalah pada bulan


perolehan.

Penyusutan

fiskal

harus

dilakukan

sebulan

penuh.

Pengecualian dari ketentuan ini hanya dapat terjadi karena hal-hal


berikut:
Harta / aset yang masih dalam proses pengerjaan
Harta / aset dalam usaha sewa guna usaha
Wajib Pajak yang mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak
b. Harta/Aset dalam Pengerjaan
Untuk harta/aset tetap dalam proses pengerjaan, penyusutannya dimulai
pada tahun selesainya pekerjaan tersebut.
c. Harta/Aset dalam Usaha Sewa Guna Usaha
Penyusutan terhadap harta dalam usaha sewa guna usaha khususnya
sewa guna usaha tanpa hak opsi dimulai pada bulan harta tersebut
disewagunausahakan.
d. Persetujuan Dirjen Pajak
Wajib pajak dapat mengajukan permohonan kepada Dirjen Pajak, apabila
tidak mengikuti prinsip umum penyusutan. Misalnya penyusutan baru
dilakukan pada tahun harta/aset tersebut menghasilkan.
e. Pengelompokan Harta berwujud
Dalam sistem penyusutan menurut UU PPh, semua aset tetap berwujud
yang memenuhi syarat penyusutan fiskal harus dikelompokkan terlebih
dahulu menjadi dua golongan :
Harta berwujud kelompok bukan bangunan
Harta berwujud kelompok bangunan
Harta berwujud bukan bangunan dikelompokkan menurut masa manfaatnya
sebagai berikut :
Kelompok Bukan Bangunan

Masa manfaat

Kelompok 1

4 Tahun

Kelompok 2

8 Tahun

Kelompok 3

16 Tahun

Kelompok 4

20 Tahun

Harta berwujud bangunan dikelompokkan menurut masa manfaatnya sebagai


berikut :

f.

Kelompok Bangunan

Masa manfaat

Bangunan Permanen

20 tahun

Bangunan Tidak Permanen

10 tahun

Metode dan Tarif Penyusutan Fiskal


Mulai tahun 1995 Wajib Pajak diperkenankan untuk memilih metode
penyusutan fiskal untuk aset tetap berwujud bukan bangunan, yaitu
metode saldo menurun ganda atau metode garis lurus. Metode mana
yang akan dipakai bergantung pada Wajib Pajak, sepanjang dilaksanakan
dengan taat asas. Satu yang perlu dicatat adalah bahwa metode yang
dipilih harus diterapkan terhadap seluruh kelompok harta.

Tarif penyusutan untuk aset tetap bukan bangunan


Tarif Penyusutan
Kelompok Bukan

Metode

Garis Metode

Bangunan

Lurus

Menurun

Kelompok 1

25,00 %

50,00%

Kelompok 2

12,50 %

25,00%

Kelompok 3

6,25 %

12,50%

Kelompok 4

5,00 %

10,00%

Saldo

Tarif penyusutan untuk aset tetap berupa bangunan


Kelompok Bangunan
Bangunan Permanen

Tarif

Penyusutan

(Metode

Garis Lurus )
5%

Bangunan Tidak Permanen

10%

2.4 PENYUSUTAN BERDASARKAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN


Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan
sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Jumlah yang dapat disusutkan
adalah jumlah perolehan suatu aset atau jumlah lain yang disubtitusikan untuk
biaya perolehan dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya. Nilai sisa
atau nilai residu adalah jumlah neto yang diharapkan dapat diperoleh pada
akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangu taksiran biaya pelepasan.
Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan suatu aset setelah
dikurangi dengan akumulasi penyusutan.
a. Biaya Perolehan
Biaya perolehan adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau
nilai wajar imbalan lain yang diberikan untuk memperoleh suatu aset pada
saat perolehan atau konstruksi sampai dengan aset tersebut dalam
kondisi dan tempat yang siap untuk digunakan. Biaya perolehan aset
tetap terdiri atas harga beli termasuk biaya impor dan PPN masukan tidak
boleh direstitusikan dan biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
dalam aset tersebut. Misalnya :

b.

Biaya persiapan tenpat

Biaya pengiriman awal, biaya simpan dan biaya bongkar muat

Biaya pemasangan

Biaya professional seperti arsitek dan insinyur

Kriteria Aset yang Dapat Disusutkan


1

Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode


akuntansi.

Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas.

Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau


memasok barang dan jasa, untuk disewakan, atau untuk tujuan
administrasi.

c. Masa Manfaat
Masa manfaat adalah :
6

1
2

Periode suatu aset diharapkan digunakan oleh perusahaan.


Jumlah produksi atau unit serupa yang diharapkan diperoleh dari aset

oleh perusahaan.
d. Metode Penyusutan
Penyusutan dapat dilakukan dengan berbagai metode yang dapat
dikelompokkan menurut kriteria berikut :
1. Berdasarkan waktu
2. Berdasarkan penggunaan
3. Berdasarkan kriteria lainnya
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan
sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan perlu dilakukan
karena manfaat yang diberikan dari aset tersebut semakin berkurang.
Pengurangan nilai aset dibebankan secara bertahap. Kebijakan pajak
untuk penyusutan harus mempertimbangkan tiga hal yaitu keadilan
pajak, kebijakan ekonomi dan administrasi.
Karakteristik dari asset yang dapat disusutkan adalah:

Digunakan dalam kegiatan usaha

Nilainya menurun secara bertahap

Aset berwujud dan asset tidak berwujud

Pihak yang berhak melakukan penyusutan

Saat dilakukan penyusutan.

Dasar untuk melakukan penyusutan


Penyusutan Berdasarkan Peraturan Perpajakan
Sebagaimana telah diatur dalam pasal 9 ayat (2) UU PPh bahwa
pengeluaran untuk mendapatkan manfaat, menagih, dan memelihara
penghasilanyang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun tidak
boleh dibebankan sekaligus, melainkan melalui penyusutan. Hal ini
sesuai dengan kelaziman dunia usaha dan selaras dengan prinsip
penandingan antara pengeluaran dan penerimaan ( matching cost

againsts revenue ).
Penyusutan berdasarkan standar akuntansi keuangan
Penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset yang dapat disusutkan
sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Jumlah yang dapat disusutkan
adalah jumlah perolehan suatu aset atau jumlah lain yang disubtitusikan
untuk biaya perolehan dalam laporan keuangan dikurangi nilai sisanya.
Nilai sisa atau nilai residu adalah jumlah neto yang diharapkan dapat
7

diperoleh pada akhir masa manfaat suatu aset setelah dikurangu taksiran
biaya pelepasan. Jumlah tercatat adalah nilai buku, yaitu biaya perolehan
suatu aset setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan.