Anda di halaman 1dari 17

KOMUNIKASI INFORMASI

AKUNTANSI
DISUSUN
OLEH :
Nurul aini

: 1301103010009

Raudhatul Jannah

: 1301103010037

Utari Putri Primasari

: 1301103010137

UNIVERSITAS SYIAH KUALA


FAKULTAS EKONOMI
DARUSSALAM-BANDA ACEH
2015

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Riset menunjukkan bahwa komunikasi yang buruk merupakan sumber konflik
interpersonal yang paling sering disebutkan. Karena individu menghabiskan 70
persen dari waktu aktifnya untuk berkomunikasi seperti menulis, membaca,
berbicara, mendengarkan. Tampaknya wajar untuk menyimpulkan bahwa salah satu
kekuatan yang paling menghambat keberhasilan kinerja kelompok adalah kurangnya
komunikasi yang efektif. Tidak ada kelompok yang dapat tetap ada tanpa komunikasi.
Hanya lewat komunikasi, yang merupakan transfer makna dari satu orang ke orang
lain, informasi dan gagasan dapat diantarkan.
Intisari dari proses akuntansi adalah komunikasi informasi dengan implikasi
keuangan atau manajemen. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang akuntan yang
efektif, seseorang harus menjadi komunikator yang efektif. Informasi bisnis harus
disajikan oleh para akuntan untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Informasi tersebut
harus dinyatakan dengan jelas, ringkas, dan akurat.

BAB II
PEMBAHASAN
TEORI KOMUNIKASI
Komunikasi adalah proses dimana informasi dipertukarkan antara dua atau
lebih sistem yang ada dalam lingkungan umum. Sistem ini mungkin individu,
organisasi sosial, hewan, atau mesin. Informasi secara umum didefinisikan sebagai
materi bermotif atau energi, yang mengurangi ketidakpastian dalam perilaku masa
depan sistem berinteraksi.
MODEL-MODEL KOMUNIKASI
Model Lasswell
Salah satu model paling awal dari komunikasi yang dikembangkan oleh
Harold Lasswell meliputi :
Siapa.
Mengatakan apa.
Dengan Cara Apa.
Kepada Siapa.
Dengan Dampak Apa.
Model tersebut sederhana, tetapi kurang memiliki sejumlah elemen yang
diperlukan uantuk memahami proses komunikasi. Dalam konteks akuntansi, akuntan
(siapa) menyajikan informasi keuangan (mengatakan apa), pada umumnya dalam
bentuk laporang tertulis (dengan cara apa), kepada pihak pengguna internal dan
eksternal (kepada siapa), dengan tujuan untuk menyediakan data yang andal, relevan,
dan tepat waktu untuk mengambil keputusan bisnis yang berdasarkan informasi
(dengan dampak apa).

Model Shannon-Weaver
Claude Shannon dan Warren Weaver (1949) mengembangkan model
matematis dari komunikasi yang model tersebut dikembangkan untuk menjelaskan
komunikasi melalui alat perantara, seperti telepon atau korespodensi tertulis. Model
ini merupakan suatu kemajuan dibandingkan dengan model Lasswell karena model
tersebut membedakan antara sumber informasi, pengirim informasi, penerima
informasi, dan tujuan. Dalam konteks akuntansi, sumber dapat berupa tenaga
pembukuan atau klerek; pengirim informasi, kontroler; penerima informasi, orang
yang memperoleh dokumen tersebut, akuntan; dan tujuan, pengguna akhir, yaitu
klien.
Shannon dan Weaver juga menambahkan gangguan kedalam proses
komunikasi. Gangguan (noise) adalah

stimulus yang memberikan kontribusi

terhadap distorsi dari proses transfer informasi. Hal ini tersebut dapat mengarah pada
hancurnya komunikasi. Arus statis dalam sambungan telepon adalah kegaduhan.
Bayangkan masalah yang dapat ditimbulkan akibat salah mendengar nama klien
akibat arus statis tersebut. Model Shannon dan Weaver ini tidak memiliki gagasan
mengenai umpan balik-pertukaran informasi dan bukannya transfer informasi satu
arah-dan konteks atau lingkungan di mana proses tersebut terjadi.
Model SMCR Berlo
Model komunikasi sumber, pesan, saluran, dan penerima (source, message,
channel, receiver- SMCR) yang diajukan oleh David Berlo yang mempunyai
beberapa kesalahan yang sama seperti model-model sebelumnya. Model ini
menyarankan arus informasi satu arah dari suatu sumber kepada penerima tanpa
umpan balik dan model ini juga tidak memasukkan konsep gangguan. Akan tetapi,
Berlo menspesifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi kebenaran komunikasi
dan pada tahap mana dalam proses tersebut faktor-faktor tersebut beroperasi.
Misalnya saja, ketika mempertimbangkan pesan, ia menyarankan bahwa elemenelemen

pesan-

isi,

struktur,

kode,dan

perlakuannya-

akan

memengaruhi

pemahamannya oleh penerima. Lebih lanjut lagi, sementara tidak secara eksplisit
memasukkan konteks proses tersebut terjadi, model tersebut mengindikasikan bahwa
sistem sosial dan budaya dari sumber dan penerima, seta sistem kode dimana pesan
tersebut disusun, memengaruhi kebenaran dari proses komunikasi. Gagasan-gagasan
ini terutama penting untuk perusahaan-perusahaan multinasional yang harus
mempertimbangkan budaya dan sistem sosial dari klien dan pelanggan.

Model Westley-MacLean
Bruce Westley dan Malcolm MacLean (1957) mengembangkan satu model
untuk riset komunikasi. Model tersebut memiliki sejumlah implikasi penting. Model
tersebut menjelaskan cara-cara individu dan organisasi memutuskan pesan apa yang
akan dikomunikasikan dan bagaimana pesan tersebut dimodifikasi atau dihapus
dalam proses tersebut.
Model Pemusatan Komunikasi
Rogers dan Kincaid (1981) telah mengkritik model-model terdahulu karena
model-model tersebut mengarah pada tujuh bias dalam komunikasi. Ketujuh bias
tersebut meliputi :
1

Suatu pandangan bahwa komunikasi adalah tindakan satu arah yang linier dan
bukannya proses dua arah yang memiliki siklus dimana informasi dipertukarkan
sejalan dengan berlalunya waktu.

Sumber bias yang diakibatkan oleh penekanan pada ketergantungan dan


bukannya pada hubungan dari mereka yang melakukan komunikasi dan saling
ketergantungannya yang mendasar. Dalam model tradisional, penerima
biasannya bergantung pada informasi yang ditransfer dari sumber. Tidak ada
kebutuhan untuk berinteraksi.

Kecenderungan untuk berfokus pada objek komunikasi dengan mengorbankan


konteks objek tersebut berada. Dalam hal akuntansi, focus tersebut pada laporan
itu sendiri dan bukan pada interaksi yang menghasilkannya.

Kecenderungan untuk berfokus pada pesan itu sendiri dengan mengorbankan


aspek waktu dari pesan itu.

Kecenderungan untuk menganggap bahwa fungsi utama dari komunikasi adalah


persuasi dan bukannya pemahaman, konsesus, dan tindakan kolektif yang
menguntungkan. Dalam konteks bisnis, focus tersebut ada pada penerapan
kebijakan dan bukan pada pengambilan keputusan secara partisipasif.

Kecenderungan untuk berkosentrasi pada dampak-dampak psikologis dari


komunikasi terhadap individu-individu yang terpisah dan bukan pada dampak
sosial dan hubungan antar individu dalam suatu komunitas.

Suatu keyakinan dalam hubungan sebab akibat mekanistis satu arah dan
bukannya hubungan sebab akibat dua arah yang merupakan karakteristik dari
sistem informasi manusia yang pada dasarnya bersifat sibernetik.
Sebagai alternatif dari model-model yang bias tersebut, Rogers dan Kincaid

mengajukan Model Pemusatan Komunikasi. Mereka menekankan pada kesatuan


informasi dan tindakan. Semua informasi merupakan konsekuensi dari tindakan;
melalui pemrosesan informasi, tindakan mungkin menghasilkan informasi tambahan.
Model tersebut tidak mempunyai awal dan akhir. Hanya hubungan yang saling
mendefinisikan diantara para partisipan yang memberikan makna kepada
keseluruhan. Ketika informasi dibagi oleh dua atau lebih partisipan, pemrosesan
informasi dapat mengarah pada saling memahami, saling menyetujui, dan tindakan
kolektif, seperti pemecahan masalah bisnis.
Salah satu konsekuensi dari model ini adalah bahwa komunikasi selalu
mengimplikasikan suatu hubungan- suatu proses saling membagi informasi diantara
dua atau lebih orang. Akibatnyam analisis komunikasi harus mempertimbangkan
perbedaan dan persamaan partisipan dan untuk tujuan, perubahan dalam hubungan
antara akuntan dan pengguna informasi- baik satu sama lain maupun perubahan

dalam individu lain dengan mana mereka berinteraksi mengenai topik-topik


keuangan.
VARIABLE-VARIABEL YANG BERPENGARUH PADA KOMUNIKASI
AKUNTANSI
Sumber
Ada dua aspek sumber yang dapat memengaruhi proses komunikasi. Dua
aspek tersebut adalah kredibilitas sumber dan kesamaan antara penerima dan sumber.
1

Kredibilitas Sumber
Secara umum diakui bahwa semakin kredibel sumber dari suatu pesan,

semakin besar efektivitasnya. Efektivitas biasanya dipahami sebagai perubahan sikap


kearah yang disarankan oleh sumber. Akan tetapi, kredibilitas sumber merupakan
suatu karakteristik dari sumber sebagaimana dipandang oleh penerima. Hal ini adalah
bagian dari citra sumber dan dapat bervariasi diantara situasi komunikasi yang
berbeda. Biasanya, hal ini dibentuk sebelum sumber dan penerima memasuki
kejadian komunikasi.
Kredibilitas sumber merupakan suatu bangunan yang multidimensional. Risetriset empiris mengindikasikan bahwa kredibilitas sumber terdiri atas tiga faktor.
Ketiga faktor tersebut adalah :
1

Kewenangan- seberapa andal, terinformasi, memenuhi kualifikasi (melalui


gelar atau profesi), cerdas, atau ahli sumber itu dipandang.

Kejujuran- seberapa aman, jujur, ramah, menyenangkan, dan menariknya


sumber itu dipandang.

Kedinamisan- seberapa agresif, kuat, berani, dan energiknya sumber itu


dipandang.

Kesamaan antara Penerima dan Sumber


Komunikasi yang efektif akan lebih mudah terjadi ketika sumber dan

penerima adalah serupa. Tingkat kesamaan atau perbedaan tersebut ditentukan oleh
dua faktor, yaitu : kesamaan demografi (misalnya usia, pendidikan, jenis kelamin,
Negara, dan lain-lain) serta kesamaan kognitif (misalnya kesamaan dalam sikap, nilai,
budaya, keyakinan, dan lain-lain).
Komunikasi yang efektif dihasilkan dari kesamaan antara sumber dan
penerima. Akan tetapi, yang sebaliknya dapat juga benar. Pada awalnya, sumber dan
penerima mungkin memiliki sedikit kesamaan. Dengan berinteraksi, sumber dan
penerima menyatu kerangka kognitif bersama atas saling memahami. Misalnya saja,
penerima laporan keuangan mungkin saja hanya mengetahui sedikit atau tidak sama
sekali mengenai masalah tersebut sebelum mereka mulai membacanya. Lebih lanjut
lagi, sementara ideal untuk membuat akuntan serupa mungkin dengan pengguna dari
suatu dokumen, kesamaan mungkin saja adalah mustahil. Perbedaan yang signifikan
pada umumnya ada, paling tidak dalam hal pengetahuan akuntan yang ekstensif
mengenai apa yang sedang dikomunikasikan sementara pengguna tidak memiliknya.
Pesan
Barlo

mengidentifikasikan

lima

elemen

pesan

yang

sebaiknya

dipertimbangkan ketika menganalisis komunikasi, yaitu: 1) isi, 2) organisasi atau


struktur, 3) kode, 4) perlakuan, dan 5) elemen-elemen pesan. Diasumsikan bahwa isi
adalah informasi atau materi keuangan yang berkaitan dengan kebijakan manajemen
dan bahwa sistem kode adalah bahasa dari sumber dan penerima. Elemen-elemen dari
pesan adalah kata-kata, kalimat, paragraph, angka, statistik, tabel, dan grafiknya. Halhal tersebut tentu saja bervariasi dengan saluran yang berbeda.
1

Organisasi Pesan
Cara terbaik untuk mengorganisasikan suatu pesan bergantung pada budaya

tempat informasi tersebut digunakan. Di masyarakat Barat, pola pemikiran bersifat

linier atau berurutan. Pemrosesan linier merupakan karakteristik dari semua


pemrosesan bahasa (membaca dan mendengarkan) dan juga banyak aktivitas
pemecahan masalah dan berpikir. Karena bahasa Inggris menjadi bahasa utama dari
bisnis internasional, dapat di asumsikan bahwa laporan-laporan bisnis akan
diorganisasi secara linier dengan pendahuluan, bagian tengah, dan bagian akhir.
Cara optimal untuk menyusun suatu pesan juga bergantung pada latar
belakang pendengar. Faktor, seperti sikap sebelumnya, pendidikan, komitmen,
keterampilan, harapan, perhatian, dan tingkat ketertarikan mereka terhadap materi
tersebut seluruhnya membantu menentukan cara terbaik untuk mengorganisasi suatu
pesan.
Riset terhadap dampak dari urutan juga memiliki implikasi terhadap
komunikasi keuangan. Asumsi teoretis yang mendasari riset ini adalah bahwa
efektivitas pesan bergantung pada penempatan argumentasi atau materi dalam suatu
penyajian. Terdapat tiga strategi urutan pesan yang telah diinvestigasi, yaitu: 1)
klimaks, informasi yang paling penting disajikan terlebih dahulu, 2) antiklimaks,
informasi terpenting ditempatkan ditengah.
Para peneliti menyimpulkan bahwa urutan penyajian memengaruhi faktorfaktor, seperti perhatian, minat, pemahaman, dan ingatan. Urutan yang paling efektif
dalam menghasilkan perubahan sikap adalah: 1) pendahuluan, 2) transisi, 3)
kesimpulan. Skema yang menggunakan urutan deduktif secara logis lebih efektif
dalam memastikan retensi dibandingkan dengan urutan di mana kalimat inti
ditempatkan di bagian tengah, tetapi tidak ada perbedaaan dalam minat pembaca.
Pada umumnya riset mengenai pembelajaran dan proses ingatan mengindikasikan
bahwa pemahaman dan retensi bertanggung pada organisasi. Yaitu materi yang
terstruktur dengan baik selalu dipahami dan di ingat dengan lebih baik dibandingkan
dengan materi yang tidak terstruktur.
Riset mengindikasikan bahwa terdapat kesepakatan yang semakin besar
mengenai seluruh topic jika topic-topik yang diinginkan disajikan terlebih dahulu.
Penjelasan tersebut bergantung pada teori pembelajaran stimulus respons. Kandungan

awal dari pesan memberikan penghargaan dan membiasakan seseorang untuk


memberikan perhatian pada materi tersebut. Ketika informasi negatif disajikan
terlebih dahulu, informasi tersebut cenderung menghukum penerima untuk
memberikan perhatian sejak awal. Hal ini dapat menyebabkan penerima untuk
berhenti memerhatikan materi selanjutnya. Komunikator sebaiknya menetukan sikap
penerima dan menyajikan materi yang disetujui atau disenangi oleh penerima
sebelum meyajikan informasi yang dianggap ofensif. Informasi bisnis yang positif
sebaiknya mendahului yang negatif. Misalnya saja, letakkan materi yang sulit setelah
materi yang mudah atau letakkan berita keuangan yang positif sebelum yang negatif.
Mungkin adalah ide yang bagus untuk memulai suatu laporan atau presentasi dengan
sedikit humor. Di pihak lain, terdapat sedikit riset empiris yang mengaitkan humor
dengan eefektivitas. Walaupun humor meningkatkan perhatian terhadap situasi
komunikasi, dapat saja humor tersebut menghambat pemahaman.
2

Perlakuan Pesan
Informasi

akuntansi

sebaiknya

berulang.

Pengulangan

meningkatkan

pemahaman atas materi. Retensi meningkat dengan adanya pengulangan atas fakta
dan ide penting. Ringkasan yang menunjukkan, menyoroti, atau mengorientasikan
pembaca terhadap fakta penting juga meningkatkan pemahaman dan retensi pembaca.
Pengulangan lintas saluran juga meningkatkan retensi. Retensi pembaca semakin
meningkat ketika fakta-fakta dalam penyajian verbal disoroti dengan penarik
perhatian, seperti garis bawah, huruf besar, bagan, dan warna.
Terdapat cukup banyak riset mengenai bagaimana menyajikan materi secara
efektif. G. R. Klare (1977) menguraikan bagaimana cara untuk membuat materi ini
lebih mudah dibaca mudah dimengerti. Kemudahan membaca materi merupakan
fungsi dari karakteristik kata-kata dan kalimat, tetapi Klare lebih lanjut menetapkan
aturan untuk menghasilkan dokumen yang mudah dibaca, yaitu:
1

Kata-kata yang sering muncul dan akrab meningkatkan kemudahan membaca


suatu materi.

Kata-kata lebih pendek membuat membaca menjadi lebih cepat dan mudah.

Kata-kata yang mempunyai nilai asosiatif (secara psikologis) yang berkaitan


dengan kata-kata lain yang muncul di bagian selanjutnhya dari teks sebaiknya
digunakan.

Kata-kata yang konkret, dan bukannya kata-kata yang abstrak, membuat


dokumen menjadi lebih mudah dibaca.

Kata-kata kerja aktif, dan bukannya bentuk nominalis, meningkatkan


kemudahan membaca.

Penggunaan kata ganti dan anafora (kata-kata atau ungkapan yang mengacu
kembali pada kata atay bagian teks sebelumnya) harus dibatasi.

Kalimat harus singkat. Jika penulis akan menggunakan kata penghubung, ia


sebaiknya menggunakan kata dan dibandingkan dengan tetapi atau kata
karena.

Anak kalimat sebaiknya singkat dan struktur kalimat sederhana.

Kalimat aktif lebih menarik dibandingkan dengan bentuk kalimat pasif.


Anderson (1971) menyarankan bahwa faktor-faktor, seperti rantai ide,

struktur, dan konsep dalam teks tersebut sebaiknya digunakan untuk menentukan
seberapa sulit untuk memahami materi itu. Riset masa depan berdasarkan pada
pengukuran

empiris

dibutuhkan

untuk

menentukan

faktor-faktor

yang

memprediksikan pemahaman terhadap materi-materi teknis seperti laporan keuangan.


Parameter-paramater berikut ini sebaiknya diinvestigasikan secara khusus untuk
materi-materi keuangan:
1

Kompleksitas struktur dan materi.

Keabstrakan.

Konsep baru.

Kebutuhan akan pengetahuan yang melatarbelakangi.

Beban kerja selama membaca.

Penggunaan waktu.

Sensitivitas terhadap gangguan dari luar.

Isi ingatan jangka panjang.


Sejumlah materi mengenai variabel-variabel pesan dan dampaknya terhadap

efektivitas komunikasi telah disajikan. Kesimpulannya sering kali berlawanan karena


komunikasi adalah proses kompleks yang melibatkan interaksi dari semua komponen
yang dijelaskan dalam model-model tersebut. Ketika riset dilakukan mengenai satu
komponen tunggal mana pun, seperti pesan, faktor-faktor lainnya mungkin tidak
konklusif, sehingga usulan apa pun sebaiknya dipandang secara skeptis.
3

Saluran
Jalur komunikasi merupakan alat untuk menyebarkan informasi. Schramm

(1973) mengelompokkan atau membedakan saluran berdasarkan enam dimensi:


1

Pancaindra yand dipengaruhi; komunikasi tatap muka membuatnya mungkin


untuk menggunakan seluruh pancaindra, sementara media yang berbeda
menggunakan subkelompok dari pancaindra ini dalam kombinasi untuk
menghasilkan dampak diferensial terhadap penerima.

Peluang untuk umpan balik; peluang pertukaran informasi dua arah maksimal
dalam komunikasi tatap muka. Pada umumnya, umpan balik dibutuhkan
untuk memastikan komunikasi yang efektif dan untuk memahami informasi
yang disampaikan. Dengan demikian, dalam penyajian laporan keuangan
harus terkandung di dalamnya metode umpan balik.

Besarnya kendali penerima; terdapat sejumlah besar kendali dalam interaksi


interpersonal. Ketika menggunakan media cetak, penerima dapat membaca
dengan kecepatan mereka sendiri dan membaca kembali bagian-bagian yang
penting atau terperinci. Penerima memiliki sedikit kendali terhadap media
siaran, kecuali mereka merekam program tersebut, semakin besar kendali
pengguna, semakin besar pembelajaran.

Jenis pengodean pesan; interaksi tatap muka memungkinkan penggunaan


petunjuk-petunjuk non verbal. Hal ini tidak terlalu berlaku untuk media video,
film, dan terutama media cetak. Akan tetapi, media cetak lebih baik dalam

menyampaikan ide-ide abstrak seperti kebijakan manajemen. Media


audiovisual adalah media yang lebih kuat untuk menyajikan informasi
konkret.
5

Kekuatan multiplikatif; system komunikasi massa dapat dengan efesien dan


cepat mencapai banyak penerima yang tersebar. Saluran-saluran interpersonal
dapat mencapai peneriima ini hanya dengan usaha yang besar dan periode
waktu yang relatip lama.

Pelestarian pesan; keunggulan dari media massa adalah catatan permanen


yang tidak ada dalam interaksi tatap muka. Secara tradisional, keunggulan ini
hanya terbatas pada media cetak. Tetapi, dengan pita dan pirinngan audio dan
video serta system manajemen informasi yang berbasis komputer, kapasitas
ini telah diperluas ke media elektronik.
Pemahaman materi tertentu dapat diperbaiki dengan penggunaan jaringan

selain media cetak. Lebih lanjut lagi, cara untuk meningkatkan pemahaman adalah
melalui penyajian materi secara serempak menggunakan saluran yang berbeda. Hal
ini disebabkan adanya kebutuhan penerima untuk menggunakan lebih dari satu
pancaindra pada waktu yang bersamaan.
Secara ringkas, akuntansi membangun mekanisme untuk umpan balik ke
dalam proses dan menggunakan saluran yang lebih sesuai untuk menyampaikan
pesan dan dampak yang diinginkan kepada penerima melalui laporan secara teknis.
Dengan pesan, saluran yang optimal bergantung pada situasi komunikasi yang unik di
mana laporan disajikan.
4

Penerima
Ketika

menganalisis

suatu

situasi

komunikasi,

seseorang

perlu

mempertimbangkan faktor-faktor mengenai penerima, seperti latar belakang


demografis dan budaya, sikap sebelumnya, pengetahuan, pola perilaku, dan system
atau lingkungan sosial dimana mereka akan menggunakan informasi tersebut. Pada

umumnya, semakin serupa penerima dan sumber mengenai faktor-faktor ini, maka
semakin mudah dan semakin efektif komunikasi tersebut.
Analisis Penerima
Pengetahuan mengenai penerima dapat digunakan untuk mendesain pesan
yang lebih efektif dan menyampaikannya melalui saluran yang paling sesuai.
Komunikasi yang efektif dihasilkan ketika informasi didesain secara spesifik untuk
penerima. Akuntan sebaiknya menyelidiki penerima yang dimaksudkan, penerima
actual, dan penerima yang potensial sebelum menghasilkan dokumen. Para akuntan
keprilakuan sebaiknya juga menyelidiki pola pencarian informasi oleh klien mereka
dan pengguna lainnya dari laporan bisnis. Riset tersebut menyimpulkan bahwa orang
hanya memberikan sedikit usaha untuk pencarian informasi dan akan menggunakan
sumber yang paling dapat diakses. Informasi dicari karena secara sosial informasi
merupakan suatu keuntungan dan dapat dibahas dalam jaringan interpersonal
pengguna.
Analisis Jaringan
Pada dasarnya, penjelasan struktur komunikasi dari suatu organisasi
dihasilkan dengan menggunakan dengan memeriksa arus informasi antar-komponen
dari system tersebut. Komponen-komponen itu dapat berupa individu, kelompok
tugas kecil, atau organisasi formal secara keseluruhan. Struktur jaringan yang optimal
bervariasi dengan fungsi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terlibat
dengan manifestasi tugas produktif akan dilaksanakan fungsi mereka paling baik
ketika mereka sangat terintegrasi. Mereka yang berkepentingan dengan inovasi
memerlukan sejumlah besar perluasan batasan dan demikian mereka dapat melakukan
fungsinya dengan paling baik ketika terhubung secara longgar.
Peran dari komunikator berbeda ketika materi dikembangkan untuk konsumsi
pihak internal dibandingkan jika materi tersebut akan disebarkan kepada lingkungan.
Bidang terakhir berkaitan dengan penggunaan teknologi komunikasi baru, seperti

jaringan komputer, kabel interaktif dua arah, system pengiriman lewat satelit, dan
teks video. Sejumlah perusahaan pialang saham saat ini memiliki system pendukung
pengambilan keputusan (decision support system) berbasis komputer untuk
membantu para pialang menyimpan dan mengakses catatan klien, menganalisis
portofolionya, dan memperoleh berita tentang harga dan keuangan terkini.
Umpan Balik
Umpan balik merupakan pesan yang dikirim oleh penerima kepada sumber
dalam menanggapi pesan awal. Umpan balik memungkinkan terjadinya pertukaran
ide. Dengan demikian, tujuan komunikasi adalah pemahaman dan bukannya arus
penyebaran informasi satu arah dari sumber kepada penerima. Umpan balik
memastikan komunikasi yang efektif- yaitu, pemahaman ide di antara individu dalam
jaringan sosial atau organisasi formal.
Barnett (1979) menyarankan bahwa pendekatan sibernetik digunakan untuk
komunikasi teknis. Hal itu membangun banyak mekanisme umpan balik kedalam
proses komunikasi dan mengubah peran pengguna dari pembaca pasif menjadi
individu yang terlibat secara aktif dalam penyusunan dokumen yang akan memenuhi
kebutuhan mereka. Umpan balik dari pengguna pada tahap perencanaan akan
membantu menentukan fungsi, isi, dan perlakuan dari laporan tertentu. Ketika
menyebarkan laporan tersebut, penerima sebaiknya dimintai umpan balik. Umpan
balik

terhadap

pertanyaan-pertanyaan

berikut

ini

dapat

digunakan

untuk

memodifikasi draf dokumen untuk meningkatkan efektivitasnya:


1

Seberapa efektif laporan tersebut memenuhi kebutuhan pengguna? Apakah


laporan dimengerti?

Apakah laporan tersebut memenuhi harapan penggung?

Seberapa sering laporan itu digunakan dan untuk tujuan apa laporan itu
dibutuhkan?

Apakah pemakai melengkapi laporan tersebut dengan mencari sumber-sumber


lain?

Sumber-sumber lain manakah- dokumen dan orang- yang dicari oleh pengguna
untuk memperoleh informasi yang sama?

Informasi tambahan manakah yang sebaiknya juga dikandung oleh laporan


tersebut?

Umpan balik seperti apa dapat ditawarkan pengguna laporan terhadap bagian
tertentu dari laporan tersebut?

Umpan balik seperti apa yang belum diantisipasi yang dapat diberikan oleh
pengguna dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan terbuka?

Apakah karakteristik-karakteristik demografi dan sosial dari pengguna actual?


Siapakah yang menggunakan laporan tersebut?
Jika penyimpangan antara tujuan laporan dan penggunaannya signifikan,

maka modifikasi sebaiknya dibuat untuk mengoreksi masalah-masalah ini. Proses ini
dapat dimurnikan dan diulang dengan berjalannya waktu sampai laporan tersebut
memenuhi kebutuhan pengguna. Dengan cara ini, focus komunikasi bergeser dari
arus satu arah yang berkosentrasi pada penghasilan pesan ke pertukaran ide antara
akuntan dan pengguna laporan. Dengan perubahan fokus ini akan terjadi perubahan
dalam dokumen tersebut.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Diantara fungsi-fungsi akuntan, seperti pengumpulan, pengorganisasian, analisis, dan
pengomunikasian data, keberadaan komunikasi merupakan hal yang paling penting untuk
memunculkan tanggung jawab akuntansi. Hal ini berarti bahwa tahapan komunikasi yang
diawali oleh komunikasi hingga umpan balik bagi komunikator menjadi serangkaian tahapan
yang perlu dijadikan focus. Hal ini disebabkan karena pemahaman yang terkait dengan
perilaku yang tepat merupakan hasil dari proses komunikasi. Selain dari tahapan komunikasi,
berbagai jenis variabel komunikasi juga menjadi hal yang penting bagi saluran, penerima,
umpan balik, dan lingkungan. Masing-masing variabel membawa pengaruhnya kedalam
setiap tahapan komunikasi.