Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak permulaan abad ini, metode potensiometri telah digunakan untuk
mendeteksi titik akhir titrasi. Sekarang, metode ini dapat digunakan secara langsung
untuk menentukan konsentrasi suatu ion (ion selektive electrode).
Seperti telah diketahui bahwa logam atau ion kadang-kadang mendapat
tambahan atau kehilangan elektron. Demikian pula suatu senyawa kimia dalam suatu
sistem dapat menerima dan memberikan elektron atau menerima dan memberikan
proton sehingga mereka itu bermuatan. Karena kemampuan mengikat elektron atau
mengikat proton berbeda, berarti perbedaan potensial antara dua sistem akan terjadi.
Suatu senyawa atau ion tertentu pada suhu tertentu, bila berada dalam suatu
larutan sehingga mampu melepaskan atau mengikat elektron akan mempunyai
besaran potensial tertentu, misalnya pada suhu 25C :
Na+ + e Na -2,710 v
2N+ + 2e N2 0,00 v
I2 + 2e 2I- 0,536 v
Br2 + 2e 2Br- +1,065 v
Dengan contoh di atas jelas bahwa masing-masing ion/molekul suatu senyawa
mempunyai potensial yang berbeda. Dengan demikian bila dua logam dimasukkan ke
dalam air dan masing-masing melepaskan elektronnya, akan terjadi perbedaan
potensial, yang besarnya dapat diukur dengan galvanometer.
Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran
potensial dari elektroda. Pengukuran potensial dari elektroda banyak dipergunakan
dalam ilmu kefarmasian terutama untuk pengukuran pH larutan dan titrasi
potensiometrik.
Potensiometri adalah salah satu metode dari metode elektroanalitik.
Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persamaan Nernst dengan cara
pengukuran potensial dua elektroda tidak terpolarisasi pada kondisi arus nol.
Persamaan Nernst memberikan hubungan antara potensial relatif suatu elektroda dan
konsentrasi spesies ioniknya sesuai dalam larutan, dengan pengukuran potensial

reversibel suatu elektroda, maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu


komponen dapat dilakukan.
Biasanya 2 elektroda suatu sel dipisahkan tetapi dengan memelihara kontak ini
dibuat dengan suatu pemisah berpori atau jembatan garam (Khopkar, 1995). Pada
unsur transisi sering digunakan potensial formal yang didefinisikan.
RT

E0 = EA01 nf

Ln

[ Areduk ]r
= potensial formal
[ Aoksids ] p

Rumus ini dapat dirubah menjadi (Fernando & Ryan,1997)


Esel = E0sel -

[ reduk ]
0,059
Log
[oksids ]
n

Aturan berikut akan membantu menghitung gaya gerak listrik (elektro motif
force) suatu sel elektrokimia sesuai dengan perjanjian IUPAC :
1. Emf sel ditulis seolah-olah oksidasi terjadi pada elektroda sebelah kiri dan
reduksi terjadi sebelah kanan.
2. Esel = Ekanan Ekiri , karena Emf adalah selisih antara potensial elektroda kanan
& kiri.
3. jika Esel positif maka reaksi sel berlangsung spontan pada arah;
sebagaimana tertulis, dan oksidasi terjadi pada elektroda sebelah kiri dan
reduksi pada sebelah kanan.
Potensial sel (E0sel) ini merupakan beda potensial yang terjadi antara dua
elektroda pada suatu sel elektrokimia. Berdasarkan konsep yang menyatakan bahwa
arus listrik bergerak dari kutub yang berpotensial tinggi ke kutub yang berpotensial
yang rendah, maka potensial sel merupakan selisih antara elektroda yang mempunyai
potensial elektroda tinggi (katode) dengan elektrode yang mempunyai potensial
elektroda rendah (anode).
E0sel = E0katode - E0anode
Oleh karena pada katode terjadi reaksi reduksi dan pada anode terjadi reaksi
oksidasi, maka potensial sel dapat ditentukan dengan cara:
E0sel = E0reduksi - E0oksidasi
Menurut Hendayono dkk (1994) alat-alat yang diperlukan pada potensiometri
adalah elektroda pembanding (refrence), elektroda indikator, dan alat ukur potensial.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian tersebut permasalahan dalam makalah ini adalah:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apa yang dimaksud dengan potensiometri itu ?


Apa saja jenis-jenis elektroda yang digunakan dalam potensiometer ini ?
Bagaimana cara kerja potensiometri tersebut ?
Bagaimana prinsip dari potensiometer tersebut ?
Bagaimana metode analisis dalam potensiometri ?
Apa saja fungsi dan manfaat potensiometer tersebut ?
Apa contoh penerapan potensiometer dalam kehidupan ?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Mengetahui apa itu potensiometri.
2. Mengetahui jenis-jenis elektroda yang digunakan dalam potensiometer
3. Mengetahui cara kerja dari potensiometri.
4. Mengetahui apa saja prinsip dari potensiometer.
5. Mengetahui metode analisis dalam potensiometri
6. Mengetahui fungsi dan manfaat dari potensiometer.
7. Mengetahui contoh penerapan potensiometer dalam kehidupan.

BAB II
POTENSIOMETER

2.1 Pengertian Potensiometri

Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran


perubahan potensial dari elektroda untuk mengetahui konsentrasi dari suatu larutan.
Potensiometri merupakan aplikasi langsung dari persamaan Nernst dengan cara
pengukuran potensial dua elektroda tidak berpolarisasi pada kondisi arus nol. Elemen
yang digunakan dalam potensiometri adalah elekroda acuan, elektroda indikator,
jembatan garam dan larutan yang dianalisis.

elektroda acuanjembatan garamlarutan yang dianalisiselektroda indikator


Gambar Sel Potensiometri
2.2 Jenis Elektroda

Gambar Jenis Elektroda dalam Sel


Alat-alat yang diperlukan dalam metode potensiometri adalah,
(1) Elektrode Pembanding / Acuan (refference electrode)
Di dalam beberapa penggunaan analisis elektrokimia, diperlukan suatu elektrode
dengan harga potensial setengah sel yang diketahui, konstan, dan sama sekali
tidak peka terhadap komposisi larutan yang sedang diselidiki. Suatu elektrode

yang memenuhi persyaratan diatas disebut elektrode pembanding (refference


electrode). Pasangan elektrode pembanding adalah elektrode indikator (disebut
juga working electrode) yang potensialnya bergantung pada konsentrasi zat yang
sedang diselidiki. Beberapa contoh elektrode pembanding akan diuraikan berikut
ini.
(a). Elektroda Kalomel (Calomel Electrode)
Elektroda kalomel jenuh (saturated calomel electrode, SCE) biasanya banyak
digunakan oleh para pakar kimia analitik karena banyak tersedia di pasaran
dan konsentrasi klorida tidak mempengaruhi harga potensial elektroda. Harga
potensial SCE adalah 0,244 V pada 25oC dibandingkan terhadap elektroda
hidrogen standart.
Elektroda kalomel terbuat dari tabung gelas atau plastik dengan panjang 5 15 cm dan garis tengah 0,5 - 1 cm. Pasta Hg/HgCI terdapat di dalam tabung
yang lebih dalam, dihubungkan dengan larutan KCI jenuh melalui lubang
kecil. Kontak elektroda ini dengan larutan dari setengah sel lainnya melalui
penyekat yang terbuat dari porselen atau asbes berpori

Gambar Elektroda Kalomel

(b). Elektroda Perak / Perak Klorida


Elektroda pembanding yang mirip dengan elektroda calomel adalah terdiri
dari suatu elektroda perak yang dicelupkan kedalam larutan KCI yang
dijenuhkan dengan AgCI.

Biasanya elektroda ini terbuat dari suatu larutan jenuh atau 3,5 M KCI yang
harga potensialnya dalah 0,199 V (jenuh) dan 0.205 V (3,5M) pada 250C.
Elektroda ini dapat digunakan pada suhu yang lebih tinggi sedangkan
elektroda kalomel tidak.

Gambar Elektroda Perak / Perak Klorida


(2) Elektroda Indikator (indicator electrode)
Elektroda indikator dibagi menjadi dua kategori, yaitu : elektroda logam dan
elektroda membran.
Elektroda logam
Elektroda logam dapat dikelompokkan ke dalam elektroda jenis pertama (first
kind), elektroda jenis kedua (second kind), elektroda jenis ketiga (third kind),
elektroda redoks.
Elektroda jenis pertama adalah elektroda yang langsung berkeseimbangan dengan
kation yang berasal dari logam tersebut. Contoh, elektroda tembaga.
Cu2+ + 2e

Cu (s)

sehingga,
E = E0Cu - (0,059/2) log [1/Cu2+]
E = E0Cu - (0,059/2) pCu

dengan pCu adalah - log [Cu2+], jadi elektroda tembaga mengukur langsung pCu.
Logam lain yang mempunyai sifat dapat balik (reversibel) meliputi, perak, raksa,
kadmium, seng dan timbal.
Elektroda jenis kedua adalah elektroda yang harga potensialnya bergantung pada
konsentrasi suatu anion yang dengan ion yang berasal dari elektroda membentuk
endapan atau ion kompleks yang stabil. Contoh, elektroda perak untuk halida,
reaksinya dapat ditulis,
AgCl (s) + e

Ag (s) + Cl-

sehingga,
E = E0 - (0,059/1) log [Cl- ]
E = E0 - 0,059 pCl
Elektroda jenis ketiga adalah elektroda logam yang harga potensialnya
bergantung pada konsentrasi ion logam lain. Contoh, elektroda Hg dapat
digunakan untuk menentukan konsentrasi Ca2+, Zn2+, atau Cd2+ yang terdapat
dalam larutan. Untuk elektroda Hg dengan kompleks EDTA potensial
elektrodanya dapat ditulis,
E = K - (0,059/2) log [Y4- ]
Bila ditambahkan sedikit kompleks Ca(II)-EDTA, maka kesetimbangan baru
akan terbentuk,
CaY2-

Ca2+ + Y4-

Kf = [Ca2+] [Y4-] / [CaY2- ]


Dengan menggabungkan harga konstanta pembentukan kompleks CaY2- dengan
persamaan sebelumnya didapat,
E = K - (0,059/2) log { Kf [CaY2-] / [Ca2+] }
Elektroda Redoks
Logam mulia seperti platina, emas, dan paladium bertindak sebagai elektroda
indikator pada reaksi redoks. Contoh potensial elektroda platina di dalam larutan
yang mengandung ion-ion Ce3+ dan Ce4+ adalah,
E = E0 - 0,059 log [Ce3+]/[Ce4+]
Dengan demikian elektroda platina dapat bertindak sebagai elektroda indikator di
dalam titrasi cerimetri. Fungsi logam Pt adalah untuk membangkitkan

kecenderungan sistem tersebut dalam mengambil atau melepaskan elektron,


sedangkan logam itu tidak ikut secara nyata dalam reaksi redoks.
Elektroda Indikator Membran
Pada elektroda membran, tidak ada elektron yang diberikan oleh atau kepada
membran tersebut. Sebagai gantinya, suatu membran membiarkan ion-ion jenis
tertentu menembusnya, namun melarang ion-ion lain sehingga elektroda ini
sering disebut sebagai elektroda ion selektif (ISE). Setiap ISE terdiri dari
elektroda referensi yang dicelupkan dalam larutan referensi yang terdapat materi
tidak reaktif seperti kaca atau plastik. Membran dalam suatu ISE membran dapat
berupa cairan ataupun kristal. Elektroda membran cair dalam bidang biologi
terapan, biasanya elektroda ion selektif (ISE) etidium (Eth+).
Klasifikasi elektroda indikator membran ada dua jenis, yaitu elektroda selektif
ion dan elektroda selektif molekul.
1. Elektroda selektif ion
a. Membran kristal
- Kristal tunggal, contoh LiF3 untuk F- Polikristalin atau kristal campuran contoh Ag2S untuk S2- dan Ag+
b. Nonkristalin membran
- Gelas, contoh gelas silikat untuk Na+ dan H+
- Cairan, contoh cairan penukar ion untuk Ca2+ dan pembawa netral untuk
K+
- Cairan polimer contoh polivinil klorida untuk Ca2+ dan NO2. Elektroda selektif molekul
a. Pendeteksi gas, contoh membran hidrofob untuk CO2 dan NH3
b. Elektroda bersubstrat enzim, contoh membran urease untuk urea darah

(3) Elektroda Kaca

Elektroda kaca atau elektroda gelas adalah sensor potensiometrik yang terbuat
dari selaput kaca dengan komposisi tertentu. Gelas/kaca ini bertindak sebagai
suatu tempat pertukaran kation. Kelebihan dari elektroda ini:
Larutan uji tidak terkontaminasi
Zat-zat yang tidak mudah teroksidasi & tereduksi tidak berinteferensi
Elektroda ini bisa dibuat cukup kecil untuk disisipkan dalam volume larutan
yang sangat kecil.
Tidak ada permukaan katalitis yang kehilangan aktivitasnya oleh kontaminasi
seperti platina pada elektroda hidrogen.
Adapun keterbatasan elektroda ini:
Pada kondisi pH yang sangat tinggi (misal NaOH 0,1M dengan pH = 13)
berakibat

spesifisitas untuk H+ hilang

Ketergatungan tegangan pH berkurang

Potensial menjadi tergantung pada aNa+

Gambar Elektroda Kaca

2.3 Cara Kerja Potensiometri


Gambar berikut menunjukkan diagram suatu sel galvanik.

Cara keja dapat dilihat atau diamati dari gambar diagram diatas. Konsentrasi
Ag+ pada bejana sebelah kiri ingin ditentukan. Bejana yang ditengah menghubungkan
larutan KCl yang terdapat pada elektroda kalomel jenuh dengan bejana yang berisi
larutan perak melalui jembatan garam yang berisi agar dan NH 4NO3. Jika alat
pengukur potensial dihubungkan dengan dua elektroda, Ag menjadi elektroda positif,
sedangkan elektroda kalomel jenuh, SCE adalah elektroda negatif.
Jika dua elektroda yang sama diletakkan pada silinder berisi larutan yang sama,
(tetapi berbeda konsentrasinya) serta dihubungkan dengan suatu jembatan garam,
maka potensial di antara dua elektroda sesuai dengan perbandingan kedua
konsentrasinya tersebut. Ini dikenal sebagai sel konsentrasi.
Dengan menggunakan hubungan pH = -log H+, maka pengukuran H+ dapat
lebih disederhanakan. Atau untuk pengukuran pH, diperlukan suatu elektroda yang
mempunyai respon reversibel terhadap konsentrasi ion hidrogen. Misal suatu
elektroda hidrogen.
Campuran ekimolar larutan kuinon dan hidrokuinon menimbulkan suatu
kesetimbangan yang melibatkan baik elektron maupun ion hidrogen:
C6H4O2 + 2H+ + 2e C6H4O2H2 (gambar dibawah ini)

10

OH

+ 2H+ + 2e
OH

Gambar: Kuinon (QH) dan Hidrokuinon (HQ)


Elektroda kuinhidron tidak bisa digunakan untuk larutan dengan pH > 9,0,
karena hidrokuinon dapat ternetralisisr oleh suatu basa. Demikian juga harus
dihindarkan dari reduktor maupun oksidator kuat. Elektroda lain yang dapat
digunakan untuk menetukan pH adalah elektroda antimon. Elektoda ini bila
dicelupkan dalam larutan air dapat terselubungi oleh oksidanya dan memberikan
respon terhadap H+. Elektroda yang paling sensitif adalah elektroda gelas, yang
sebenarnya suatu membran sensitif terhadap ion [H+]. Suatu diagram elektroda gelas
terlihat pada gambar berikut:

Suatu elektroda gelas jika dipasangkan dengan elektroda pembanding


mempunyai hubungan dengan pH. Elektroda gelas adalah elektroda pengukur pH
yang paling sering digunakan, tetapi tidak efektif untuk pengukuran pH pada daerah
di atas 10. Elektroda kombinasi adalah suatu elektroda yang menggabungkan
elektroda gelas dan elektroda pembanding dalam satu elektroda. Elektroda gelas
merupakan elektroda membran. Umumnya pada 250C, SCE adalah + 0,285 V untuk
KCl 1M dan SCE = + 0,246 untuk KCl jenuh.

11

2.4 Prinsip potensiometer


a. Potensiometer dengan sel weston
Prinsip potensimeter dapat dilihat dalam diagram dari gambar dibawah ini.

Dari suatu sumber baterai Z dialirkan arus sepanjang kawat XY dan tahanan
variabel R. Nilai R dapat diatur sehingga potensial pada terminal XY sekitar 2V.
Dengan mengatur letak W, potensial XW dan WY akan menunjukkan
proporsi yang sebanding dengan masing-masing segmen panjang garisnya. Untuk
mengukur potensial sel yang tidak diketahui (c), sel tersebut dihubungkan secara
seri dengan galvanometer (G) antara X dan titik W (yang bervariasi posisinya).
Titik W digeser sedemikian rupa sehingga galvanometer menunjukkan
penyimpangan nol. Maka jarak XW menyatakan potensial sel (c). Pada perangkat
peralatannya garis XW tersebut terdiri atas beberapa resistor yag dipasang secara
seri, masing-asing resistor mempunyai nilai tahanan yang sama. Resistor yang
pertama dihubungkan dengan knop berganda yang mempunyai 10 posisi (lihat
gambar dibawah ini).

12

R11 yang terdapat pada diagram rangkaian potensiometer adalah kawat


penghantar homogen yang terikat pada silinder sehingga menjamin adanya
kontak yang mudah digeser secara kontinu. Nilai R 1 dan R11 dikalibrasi terhadap
tegangan. R diatur sampai arus mengalir sekitar 1,2 mA, kemudian sel yang akan
diukur dihubungkan melalui K1; kemudian K2 dihubungkan, dan pada saat yang
bersamaan knop berganda dan R11 diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada
penyimpangan yang teramati pada galvanometer. Skala pada tombol pengatur
inilah yang akan menunjukkan potensial sel. Sel standar yang biasa digunakan
untuk mengkalibrasi potensiometer adalah sel Weston jenuh dengan potensial
1,01864 V pada 200C yang berkurang sebanyak 4x10-5 V tiap kenaikan temperatur
10C.
b. Potensiometer tanpa sel weston
Gambar dibawah ini menunjukkan diagram suatu potensiometer yang
digunakan untuk titrasi tanpa sel weston. Baterai B menghasilkan arus yang dapat
dikendalikan oleh R, tahanan geser, sedang V adalah voltmeter sedangkan G
adalah galvanometer yang dilengkapi dengan damper, RD yang memungkinkan
switching bolak-balik antara elektroda referens dan elektroda penunjuk. Larutan
sampel ditempatkan pada X, kemudian rangkaian dihubungkan dengan K1,
sambil mengatur tahanan R agar galvanometer menunjuk nol. Jika kesetimbangan
nol sulit dicapai maka switch K2 dibalik. Karena tahanannya sangat tinggi
elektroda gelas tidak dapat digunakan dalam sistem ini. Jika kurva E terhadap
volume ingin direkam dengan suatu pencatat (rekorder). Maka volume larutan
dari buret harus ditambahkan dengan kecepatan konstan. Kurva dE/dV atau
d2E/dV2 dapat diperoleh dengan titrasi derivatif dengan pasangan elektroda
bimetalik yang berupa tanjakkan atau tetap datar setelah titik ekivalen.

13

2.5 Metode Analisis Potensiometri


1. Potensiometri langsung
Teknik ini hanya memerlukan pengukuran potensial sebuah indikator elektron
ketika dicelupkan dalam larutan yang mengandung konsentrasi yang tidak
diketahui & diketahui dari sebuah analit. Elektroda indikator selalu dianggap
sebagai katoda dan elektroda referensi sebagai anoda. Untuk pengukuran
potensiometri langsung, potensial sel dapat diekspresikan sebagai perkembangan
potensial oleh elektroda indikator, elektroda referensi, dan potensial jungsi.
2. Adisi standar
Teknik ini biasanya digunakan pada instrumentasi analisis seperti dalam atomic
absorption spectroscopy and gas chromatography untuk mencari nilai konsentrasi
substansi (analit) dalam sampel yang tidak diketahui dengan perbandingan untuk
susunan sampel yang diketahui konsentrasinya.
3. Adisi sampel
Hampir sama dengan metoda adisi standar kecuali pada sejumlah kecil volume
sampel. Pengukuran dibuat pada kekuatan ion standar dan slop elektroda yang
dihasilkan lebih sesuai dibanding adisi standar. Baik digunakan pada saat jumlah
sampel hanya sedikit, atau untuk sampel dengan konsentrasi yang besar, atau juga
yang memiliki matriks kompleks.
4. Titrasi Potensiometri
Pada metoda ini dilakukan proses titrasi terhadap larutan asam oleh larutan
bersifat basa atau sebaliknya. Bermacam reaksi titrasi dapat diikuti dengan
pengukuran potensiometri.

Reaksinya

harus meliputi penambahan

atau

pengurangan beberapa ion yang sesuai dengan jenis elektrodenya. Potensial


diukur setelah penambahan sejumlah kecil volume titran secara kontinu dengan
perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan el konsentrasi.

14

Reaksi dalam titrasi potensiometri meliputi penambahan atau pengurangan


beberapa ion yang sesuai dengan jenis elektrodanya. Potensial diukur sesudah
penambahan sejumlah kecil volume titran secara berturut-turut atau secara
kontinu dengan perangkat automatik. Presisi dapat dipertinggi dengan sel
konsentrasi.
a. Reaksi netralisasi: titrasi asam-basa dapat diikuti dengan elektroda
indikatornya elektroda gelas. Gambar di bawah ini menunjukkan kurva titrasi
khas titrasi asam-basa. Tetapan ionisasi harus kurang dari 10-8.
b. Reaksi pembentukan kompleks dan pengendapan: pembentukan endapan atau
kompleks akan membebaskan ion terhidrasi dari larutan. Biasanya digunakan
elektroda Ag dan Hg. Berbagai logam dapat dititrasi dengan EDTA.
c. Reaksi redoks: elektroda Pt atau inert dapat digunakan pada titrasi redoks.
Oksidator kuat (KmnO4, K2Cr2O7, Co(NO3)3) membentuk lapisan logamoksida yang harus dibebaskan dengan reduksi secara katoda dalam larutan
encer.

2.6 Fungsi dan Manfaat Potensiometer


1. Persamaan Nernst dalam potensiometri memberikan hubungan antara potensial
relatif suatu elektroda dan konsentrasi spesies ioniknya yang sesuai dalam
larutan.
2. Dengan pengukuran potensial reversibel suatu elektrode dalam potensiometri,
maka perhitungan aktivitas atau konsentrasi suatu komponen dapat dilakukan.
3. Model-model yang cocok untuk potensiometri langsung dilapangan yang jauh
dari laboratorium sehingga harganya tidak mahal, kompak, kuat, dan
pemakaiannya mudah.

15

4. Potensimetri pada dasarnya bersifat nondestruktif terhadap sampel dalam artian


bahwa penyisipan elektroda tidak mengubah komposisi larutan uji (kecuali untuk
sedikit kebocoran elektrolit dari elektroda acuan).
5. Potensiometri sangat bermanfaat untuk menetapkan tetapan kesetimbangan; juga
bermanfaat untuk pemantauan yang kontinu dan tidak diawasi untuk sampelsampel seperti sumber air umum, aliran proses industri, limbah cair yang
mengalir untuk pH dan ion-ion lain seperti fluorida, nitrat, sulfida, dan sianida.
6. Pada saat potensial sel dibaca, tidak ada arus yang mengalir dalam larutan (arus
residual akibat tatanan sel dan efek polarisasi dapat diabaikan). Sel standar yang
biasanya digunakan untuk mengkalibrasi potensiometer adalah sel Weston jenuh,
dengan potensial 1,01864V pada 20oC yang berkurang sebanyak 4x10-5V tiap
kenaikan temperatur 1oC.
7. Cara potensiometri ini bermanfaat bila tidak ada indikator yang cocok untuk
menentukan titik akhir titrasi, misalnya dalam hal larutan keruh atau bila daerah
kesetaran sangat pendek dan tidak cocok untuk penetapan titik akhir titrasi
dengan indikator.
2.7 Penerapan Potensiometer Dalam Kehidupan
pH meter merupakan contoh aplikasi elektroda membran yang berguna untuk
mengukur pH larutan. pH meter dapat juga digunakan untuk menentukan titik akhir
titrasi asam basa pengganti indikator. Alat ini dilengkapi dengan elektroda gelas dan
elektroda kalomel (SCE) atau gabungan dari keduanya (elektroda kombinasi). Suatu
pH-meter adalah contoh aplikasi potensiometer merupakan seperangkat alat
pengukur potensial elektroda tanpa aliran arus dan sekaligus menguatkan sinyal yang
ditimbulkan pada elektroda gelas dengan suatu tabung vakum elektrik.
Misalkan logam perak yang dicelupkan ke dalam larutan HCl 0,1 M bertindak
sebagai elektroda pembanding 2. Sedangkan elektroda kalomel sebagai elektroda
pembanding 1. Elektroda perak/perak klorida merupakan bagian dari elektroda gelas,
tetapi tidak peka terhadap pH. Hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan
elektroda-elektroda adalah cairan dalam elektroda harus selalu dijaga lebih tinggi
dari larutan yang diukur. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah kontaminasi larutan

16

elektroda atau penyumbatan penghubung karena reaksi ion-ion analit dengan ion
raksa (I) atau ion perak.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Potensiometri adalah cabang ilmu kimia yang mempelajari pengukuran
perubahan potensial dari elektroda untuk mengetahui konsentrasi dari suatu
larutan.
2. Alat-alat yang diperlukan dalam metode potensiometri adalah Elektrode
Pembanding / Acuan (refference electrode), Elektroda Indikator (indicator
electrode) dan Elektroda kaca. Elektrode Pembanding / Acuan (refference
electrode) meliputi Elektroda Kalomel (Calomel Electrode) dan Elektroda

17

Perak / Perak Klorida, sedangkan Elektroda Indikator (indicator electrode)


3.

meliputi elektroda logam dan elektroda membran.


Adapun cara keja potensiometri misalkan konsentrasi Ag+ pada bejana sebelah
kiri ingin ditentukan. Bejana yang ditengah menghubungkan larutan KCl yang
terdapat pada elektroda kalomel jenuh dengan bejana yang berisi larutan perak
melalui jembatan garam yang berisi agar dan NH4NO3. Jika alat pengukur
potensial dihubungkan dengan dua elektroda, Ag menjadi elektroda positif,

sedangkan elektroda kalomel jenuh, SCE adalah elektroda negatif.


4. Prinsip potensiometerbagi dua yaitu potensiometer dengan sel weston dan
potensiometer tanpa sel weston.
5. Metode Analisis Potensiometri terdiri dari potensiometri langsung, adisi
standar, adisi sampel, dan titrasi potensiometri.
6. Ada banyak sekali fungsi dan manfaat potensiometri antara lain potensiometri
sangat bermanfaat untuk menetapkan tetapan kesetimbangan; juga bermanfaat
untuk pemantauan yang kontinu dan tidak diawasi untuk sampel-sampel
seperti sumber air umum, dan sebagainya.
7. pH meter merupakan contoh aplikasi elektroda membran yang berguna untuk
mengukur pH larutan.

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan adalah: Hendaknya pendalaman materi
mengenai potensiometri ini dapat benar-benar dipahami dan dapat memudahkan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam menghitung suatu
konsentrasi ion atau molekul dalam suatu larutan.

18

DAFTAR PUSTAKA
Bard, A.J. & Faulker, L.R. 1980. Electrochemical Methods. New York: John Willey
& Sons.
Day, R. A.. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.
Khopkar, S. M.. 2007. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI Press.

19

20