Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH FARMASI VETERINER

RINGWORM, PENCEGAHAN, DAN MANAJEMEN


TERAPINYA

Disusun oleh :
Dani Saputra / A 131 081

SEKOLAH TINGGI FARMASI INDONESIA


BANDUNG
2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sehingga
penyusunan makalah RINGWORM, pencegahan dan manajemen terapinya.
Makalah ini mengurai secara praktis dan sederhana cara pencegahan dan
pengendalian penyakit mastitis pada ternak sapi perah sehingga mudah dipahami.
Diharapkan makalah ini dapat memperbaiki produktivitas sapi perah di Indonesia
Dengan selesainya makalah ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada D. Saeful Hidayat, Drs, MS, Apt. Selaku dosen mata kuliah Farmasi
Veteriner di Kampus Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia-Bandung. Penulis
menyadari masih banyak sekali kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu,
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dalam menyusun
makalah yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua, amin.

Bandung, 18 Februari 2016

Dani Saputra

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan
suhu dan kelembaban yang tinggi dapat memudahkan tumbuhnya
jamur, sehingga infeksi oleh karena jamur pada hewan umumnya dan
khususnya sapi di Indonesia banyak ditemukan. Hal ini juga didukung
oleh data NADIS (National Animal Disease Information Servive) yang
menunjukan bahwa musim dingin terutama dalam keadaan basah dapat
meningkatkan kejadian penyakit kulit pada sapi.
Ringworm merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum
pada sapi (Laven, 2004).Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi
oleh jamur pada bagian superficial ataubagian dari jaringan lain yang
mengandung keratin (bulu, kuku, rambut dan tanduk). Penyakit kulit
ini pada ternak tidak berakibat fatal namun dapat menurunkan nilai
ekonomis ternak. Ringworm juga dapat menular antara sesama hewan,
antara manusia dengan hewan dan hewan dengan manusia. Penyakit
ini sering dijumpai pada hewan yang dipelihara secara bersama-sama
dan merupakan penyakit mikotik yang tertua di dunia (Ahmad, 2005).
Penyakit kulit ini dinamakan ringworm karena pernah diduga
penyebabnya adalah worm dan karena gejalanya dimulai dengan
adanya peradangan pada permukaan kulit yangbila dibiarkan akan
meluas secara melingkar seperti cincin maka dinamai ringworm.
Meskipun sekarang telah diketahui bahwa penyebab penyakit adalah
jamur tetapi akhirnya pemakaian istilah ringworm tetap dipakai sampai
sekarang (Ahmad, 2005).

gambar 1. Ringworm pada sapi


1.2.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk
membahas lebih lanjut dan menambah wawasan mengenai penyakit
ringworm secara umum, pencegahan, dan manajemen terapinya.

BAB II
ISI
2.1. Etiologi
Penyebab ringworm pada sapi adalah jamur dermatofit yaitu jamur
dari genus Trichophyton dan spesies Trichophyton verrucosum, T.
mentagrophytes danT. megninii. Dinegara-negara yang beriklim tropis
atau dingin, kejadian ringworm lebih sering, karena dalam bulan-bulan
musim dingin, hewan selain kurang menerima sinar matahari secara
langsung, juga sering bersama - sama di kandang, sehingga kontak
langsung di antara sesama individu lebih banyak terjadi. Penyebaran
infeksi dapat terjadi karena kontak langsung dengan hewan atau
patahan bulu yang terinfeksi (Al-Ani et al, 2002).
2.2. Patogenesis
Spora jamur penyebab ringworm dapat melekat pada bagian tubuh
tertentu melalui kontak langsung atau tak langsung maupun melalui
udara. Kemudian spora jamur penyebab ringworm tumbuh pada
jaringan yang mengandung keratin seperti kulit, rambut dan kuku.
Jamur penyebab infeksi parasit (dermatophytes) ini memakan keratin,
yaitu material yang terbentuk di lapisan terluar dari kulit, rambut dan
kuku (Wikipedia, 2010).
Jamur penyebab ringworm ini menghasilkan enzim seperti asam
proteinase, elastase, keratinase dan proteinase lain yang merupakan
penyebab keratinolisis/keratinolitik. Infeksi ringworm dapat dimulai
dari kulit kepala, selanjutnya dermatofita tumbuh ke bawah mengikuti
dinding keratin folikel rambut. Infeksi pada rambut berlangsung tepat
di atas akar rambut. Sebagian memasuki batang rambut (endotrix),
membuat rambut mudah patah di dalam atau pada permukaan folikel
rambut / black dot ringworm (Jawetz, 1996).

Ringworm hanya dapat tumbuh pada jaringan yang mengandung


keratin seperti kulit,rambut dan kuku. Hal ini disebabkan karena
ringworm

menggunakan

keratin

sebagai

sumber

makanan

(keratinophilic/keratinofilik). Ringworm menghasilkan enzim seperti


asamproteinase, elastase, keratinase dan proteinase lain yang
merupakan penyebab keratinolisis/keratinolytic. Ringworm pada sapi
lebih banyak diderita oleh hewan muda dari pada yang dewasa. Hal ini
disebabkan karena pada hewan dewasa telah terbentuk kekebalan.
Perubahan klinis dimulai dengan eritema, kemudian diikuti dengan
eksudasi,panas setempat, dan terjadinya alopecia. Karena jamur tidak
tahan dalam suasana radang, jamur berusaha meluas ke pinggir lesi,
hingga akhirnya terbentuk lesi yang berupa lesi yang bulat atau
sirkuler berwarna coklat kekuningan, dengan bagian tengahnya
mengalami kesembuhan (Chermette et al, 2008).

gambar 2. Patogenesis Dermatofitosis

2.3. Gejala Klinis


Perubahan klinis ringworm bervariasi pada berbagai jenis hewan
dan gambaran yang dihasilkan oleh satu spesies jamur mungkin
bervariasi untuk spesies ternak yang sama, hal tersebut mungkin
disebabkan oleh kemampuan hewan bereaksi secara imunologik
(Subronto, 2003).
Pada sapi di bagian permukaan kulit dan bulu yang terinfeksi akan
ditemukan adanya lesi berbentuk bulatan-bulatan seperti cincin dalam
berbagai ukuran dan berwarna keputih-putihan, yang dalam keadaan
intensif dapat disertai dengan adanya kerak-kerak peradangan dan
kerontokan bulu. Lesi ini dapat ditemukan pula di daerah kepala, leher
dan bahu. Pada sapi tidak dijumpai tanda-tanda kegatalan, hewan yang
parah tubuhnya sangat kurus dantidak ada nafsu makan (Al-Ani et al,
2002).
Gejala klinis yang teramati dari kasus ringworm pada sapi adalah
kulit bewarna kemerahan, keropeng dengan bentukan sisik - sisik dan
penebalan, lesi terdapat di kepala, leher, dekat mata atau mulut,
pangkal ekor, bahu atau di tempat lain dari tubuh serta alopesia
(Subronto, 2003). Lesi berbentuk bulatan bulatan seperti cincin
dalam berbagai ukuran dan berwarna keputih putihan yang dalam
keadaan intensif dapat disertai dengan adanya kerak kerak
peradangan. Hal ini sejalan dengan Al-Ani et. al (2002) yang
menyatakan bahwa dari 115 ekor sapi pada penelitiannya yang
menderita penyakit ringworm menunjukkan gejala klinis berupa lesi
berbentuk bulat, berbatas, berwarna putih keabuan dan lesinya kasar.
Timbulnya alopesia dapat bersifat lokal maupun meluas kebagian
tubuh yang lainnya. Secara lokal, kebanyakan rambut yang rontok
mempunyai

kaitan

dengan

penyakit

kulit,

eczema,

demodekosis maupun dermatomikosis (Subronto, 2003).

skabies,

2.4. Diagnosa
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan lesi yang diperlihatkan
seperti infeksi bakteri dan dermatitis lainnya, namun dengan adanya
bentuk cincin pada derah yang terinfeksi dan tidak adanya tanda-tanda
kegatalan dapat memastikan bahwa hewan tersebut menderita
penyakit ringworm (Scott, 1988).
Untuk mendiagnosa melalui pemeriksaan laboratorium diperlukan
sampel kerokan kulit, serpihan kuku, rambut. Kemudian dapat
diperiksa dengan pemeriksaan langsung dengan mikroskop atau
dengan membuat biakan pada media. Pemeriksaan langsung
mikroskop dengan cara membuat preparat native yang diberikan
potasium hydroxide (KOH) 10% kemudian diamati dengan mikroskop
cahaya dengan pembesaran 100x dan 400x. Pada biakan/kultur media,
sampel yang diambil dari hewan suspect ringworm diberikan KOH
20% dan ditumbuhkan pada media Sabouraud GlucoseAgar (SGA)
yang

ditambah

chloramphenicol

dan

cycloheximide

untuk

menghambat kontaminasi bakteri dan jamur saprofic. Media di


inkubasi selama 4 minggu dengan temperatur 28 sampai 30C
(Ozkanlar et al, 2009).
2.5. Pengobatan
Meski secara alamiah dapat sembuh sendiri namun pengobatan
pada hewan penderita harus dilakukan. Mekanisme secara alamiah
untuk

menghilangkan

infeksi

ringworm

dapat

terjadi

akibat

berhentinya produksi keratin sebagai akibat dari reaksi peradangan.


Terdapat beberapa kelompok obat dengan berbagi cara dapat dipakai
untuk menghilangkan ringworm, yaitu obat Iritan bekerja untuk
membuat reaksi radang sehingga tidak terjadi infeksi dermatofit, obat
keratolitik bekerja untuk menghilangkan ringworm yang hidup pada

stratum korneum dan obat fungisidal yang secara langsung merusak


dan membunuh ringworm. Pengobatan dapat dilakukan secara
sistemik dan topikal (Ahmad, 2005).
Mekanisme secara alamiah tersebut terjadi akibat berhentinya
produksi keratin pada kulit sebagai akibat dari reaksi peradangan yang
timbul pada infeksi ringworm. Meski secara alamiah dapat sembuh
sendiri namun pengobatan pada hewan penderita harus dilakukan.
Pengobatan dapat dilakukan secara sistemik dan topikal (Ahmad,
2005).
Menurut Subronto (2003), menyatakan bahwa secara farmakologik
obat obat ringworm dibedakan ke dalam 5 golongan yaitu :
1. Iritansia, yang menghebatkan proses radang
2. Keratolitikum, yang meluruhkan dan menghilangkan keratin
3. Fungistatikum, yang menahan pertumbuhan jamur lebih lanjut
4. Fungisid, yang membunuh jamur secara langsung
5. Obat yang menghentikan pertumbuhan rambut, hingga keratin
juga tidak terbentuk.
Penggunaan ketoconazole sebagai pengobatan secara topikal dapat
juga digunakan untuk memberantas jamur penyebab ringwom ini.
Ketoconazole ini memiliki persamaan struktur dengan imidazole dan
bekerja dengan menghambat sintesis ergosterol yang merupakan
penyusun membran sel jamur (Wikepedia, 2010).
Pengobatan dapat dilakukan sistemik dan topikal :
1. Secara sistemik dapat diberikan preparat griseofulvin dengan
dosis 7,5 10 mg/kg secara PO satu kali sehari.

2. Secara topikal menggunakan mikonazol 2 % atau salep yang


mengandung Asam benzoat 6 g, asam salisilat 3 g, sulfur 5 g,
iodine 4 g and vaseline 100 g.

2.6. Pencegahan
Salah

satu

cara

yang

efektif

untuk

pencegahan

adalah

meningkatkan kebersihan meliputi kebersihan hewan dan kebersihan


kandang, perbaikan gizi dan tata laksana pemeliharaan. Kandang sapi
harus sering dijaga kebersihannya dengan membersihkan secara
teratur, sapi diberikan konsentrat, rumput dan vitamin seperlunya
(Ahmad, 2005).
Pencegahan terjadinya penyebaran penyakit ringworm dapat juga
dilakukan dengan cara mengisolasi hewan yang terinfeksi ringworm
agar tidak terjadi kontak dengan hewan sehat dan vaksinasi. Upaya
pengembangan vaksin ini untuk vaksinasi dalam mencegah jamur
dermatofitosis pada spesies hewan yang berbeda telah dimulai lebih
dari tiga puluh tahun yang lalu. Pengenalan sebuah vaksin hidup berisi
LTF-130 strain T. verrucosum terhadap dermatofitosis bovine
(Ringvac) digunakan dalam pemberantasan penyakit di negara di
mana vaksinasi bisa diterapkan dengan skala yang luas dan sistematis
(Carmette et al., 2008).

BAB III
PENUTUP
Ringworm atau dermatofitosis adalah infeksi oleh jamur pada bagian
superficial ataubagian dari jaringan lain yang mengandung keratin (bulu, kuku,
rambut dan tanduk). Pencegahan terjadinya ringworm dapat dilakukan dengan
bebeapa cara yakni meningkatkan kebersihan kandang,Perbaikan gizi hewan
ternak, dan tata laksana pemeliharaan. Terapi ringworm dapat dilakukan dengan
beberapa golongan obat diantaranya :
1. Iritansia, yang menghebatkan proses radang
2. Keratolitikum, yang meluruhkan dan menghilangkan keratin
3. Fungistatikum, yang menahan pertumbuhan jamur lebih lanjut
4. Fungisid, yang membunuh jamur secara langsung
5. Obat yang menghentikan pertumbuhan rambut, hingga keratin
juga tidak terbentuk.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, R. Z. 2005. Permasalahan dan Penanggulangan Ringworm Pada
Hewan. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.
http ://peternakan.litbang.deptan.go.id/publikasi/lokakarya/lkzo05-47.pdf.
Al-Ani, F.K., F.A. Younes and O.F. Al-Rawashdeh. 2002. Ringworm Infection in
Cattle and Horses in Jordan. Acta Vet. Brno :71 : 55-60. http: //vfu
www.vfu.cz/acta-vet/vol71/pdf/71_055.pdf.
Carmette. R., L. Ferreiro., and J. G. 2008. Dermatophytoses in Animals.
Mycopathologia.

Springer

Science

and

Business

Media

B.V.

http

://www.springerlink.com/content/y43610543658764u/fulltext.pdf.
Dharmojono, H. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Veteriner 1. Pustaka Populer
Obor. Jakarta.
Jawetz, E., J.L. Melnick., dan E.A. Adelberg., 1996. Mikrobiologi Kedokteran
Edisi 20. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Laven, R. 2004. National Animal Disease Information Service Bulletins. http:
//www.nadis.org.uk/DiseaseCattle/Ringworm/RINGO_1.html.
Scott, D.W. 1988.Large Animal Dermatology. In: Fungal Disease. W.B. Sauders.
http: //www.scrib.com/doc/3273436/Fungal-Skin-Disease-large-animal.
Soeharsono. 2002. Zoonosis Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia vol 1.
Kanisius. Yogyakarta.

Stevenson, W.J. dan Hughes, K.L. 1988. Ringworm, dalam : Synopsis of Zoonoses
in Australia. Edisi ke-2. Australia Goverment Publishing Service, Canberra.
Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak (Mamalia) I. Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Gadjah Mada. Jogyakarta.
Wikepedia. 2010. Ringworm. http : //www.wikepedia.com.